SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
    1785 research outputs found

    Pengembangan Instrumen Tes Diagnostik Three Tier Untuk Identifikasi Kesulitan Siswa Kelas X pada Materi Ikatan Kimia

    No full text
    RINGKASAN Andansari, Peggy Rahma. 2019. Pengembangan Instrumen Tes Diagnostik Three Tier Untuk Identifikasi Kesulitan Siswa Kelas X pada Materi Ikatan Kimia. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. Ida Bagus Suryadharma M.S., (2) Dr. H. Parlan, M.Si Kata kunci: kesulitan, instrumen tes diagnostik three tier, ikatan kimia Mata pelajaran kimia mempunyai banyak konsep dari paling sederhana sampai paling abstrak dan kompleks, sehingga pembelajaran kimia menuntut siswa untuk mampu memahami konsep-konsep kimia. Ikatan kimia merupakan salah satu materi kimia yang mengandung banyak konsep-konsep abstrak dalam pembelajaran akibatnya masih banyak siswa yang mengalami kesulitan disebabkan oleh rendahnya pemahaman konsep siswa. Instrumen pembelajaran yang digunakan selama ini hanya mampu mengetahui siswa yang menjawab benar dan salah tetapi tidak dapat digunakan untuk mengetahui seberapa kuat pemahaman konsep siswa. Instrumen yang baik mampu digunakan untuk mengetahui kesulitan siswa pada materi yang dipelajarinya sehingga dapat digunakan untuk evaluasi guru dalam memberikan pembelajaran yang lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan instrumen yang dapat digunakan untuk mengidentifikasi kesulitan siswa pada materi ikatan kimia untuk siswa kelas X dan untuk mengetahui tingkat kelayakan produk hasil pengembangan. Pengembangan instrumen pada penelitian ini menggunakan model Treagust (1988). Model penelitian dan pengembangan tersebut terdiri dari 5 tahap yaitu (1) mengembangkan peta konsep, (2) tes terbuka, (3) mengembangkan tes diagnostik, (4) validasi isi dan (5) melakukan revisi. Validasi instrumen produk hasil pengembangan dilakukan oleh satu dosen kimia dan dua guru kimia SMA. Instrumen pengumpulan data validasi berupa angket penilaian dan lembar soal tes diagnostik three tier. Uji coba produk dilakukan kepada 32 siswa kelas X SMAN 1 Singosari. Analisis data dilakukan dengan bantuan SPSS 16.0 for windows sedangkan saran dan komentar validator di analisis secara kualitatif. Produk hasil pengembangan berupa instrumen tes diagnostik three tier untuk siswa kelas X SMA. Berdasarkan hasil validasi berdasarkan isi menunjukkan bahwa instrumen pada kriteria layak untuk digunakan dengan memenuhi persentase sebesar 78,55% sedangkan hasil validasi berdasarkan tampilan menunjukkan bahwa instrumen pada kriteria sangat layak untuk digunakan dengan memenuhi persentase sebesar 91,67%. sehingga berdasarkan penilaian tersebut instrumen layak digunakan guru sebagai instrumen untuk mengukur pemahaman konsep siswa dalam proses pembelajaran di kelas. Berdasarkan hasil uji coba, dari 36 butir soal yang dikembangkan sebagai instrumen tes diagnostik three tier sebanyak 19 butir soal yang memenuhi kriteria valid, daya beda dan tingkat kesukaran baik dengan reliabilitas sebesar 0,850

    PENGARUH POLARITAS MEDIA REAKSI TERHADAP NILAI DERAJAT SUBSTITUSI (DS) DALAM SINTESIS CARBOXYMETHYL KAPPA CARRAGEENAN (CMKC)

    No full text
     RANGKUMAN Astutik, Rini Puji. 2019. Pengaruh Polaritas Media Reaksi terhadap Nilai Derajat Substitusi (DS) dalam Sintesis Carboxymethyl Kappa Carrageenan (CMKC), Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Irma Kartika Kusumaningrum, S.Si, M.Si. (II) Drs. M. Sodiq Ibnu, M.Si. Kata kunci: karboksimetil kappa karagenan, media reaksi, polaritas, derajat substitusi Carboxymethyl kappa carrageenan (CMKC) merupakan polimer hasil karboksimetilasi kappa karagenan. Karboksimetilasi k-karagenan dilakukan untuk mengkonversi gugus hidroksil pada kappa karagenan menjadi gugus karboksil. Reaksi karboksimetilasi berlangsung dalam dua tahap, alkalisasi dengan NaOH dan eterifikasi dengan asam trikloro asetat (TCA). Rerata banyaknya gugus hidroksil yang terkonversi menjadi gugus karboksil setiap monomer, dinyatakan dengan nilai derajat substitusi (DS), semakin tinggi nilai DS interaksi CMKC dengan lingkungan polar semakin baik. Nilai DS dipengaruhi oleh media reaksi yang digunakan saat sintesis CMKC. Sintesis CMKC pada penelitian ini bertujuan untuk mensintesis kappa karagenan menjadi karboksimetil kappa karagenan dengan variasi media reaksi dan mengetahui pengaruh media reaksi terhadap nilai DS CMKC. Penelitian ini menggunakan media reaksi isopropanol-etanol, isopropanol-etanol-aseton, dan isopropanol-etanol-etil asetat. Penambahan aseton dan etil asetat sebagai media reaksi berfungsi untuk menurunkan kepolaran media reaksi. Penelitian ini dilakukan dalam dua tahap, pada tahap pertama dilakukan  sintesis karboksimetil kappa karagenan (CMKC)  dalam media reaksi isopropanol dan kombinasi etanol dan aseton  serta etanol dan etil asetat pada perbandingan  volume  1:4; 2:3; 3:2; 4:1, sedangkan pada tahap kedua dilakukan karakterisasi CMKC, yang telah disintesis. Karakterisasi CMKC yang dilakukan antara lain, analisis spektrum FTIR, uji kelarutan, uji kemampuan swelling, penentuan viskositas larutan CMKC 0,04 mg/L, serta penentuan nilai derajat substitusi (DS). Karboksimetilasi k-karagenan dalam semua variasi media pereaksi menghasilkan CMKC, terbentuknya CMKC  yang dikonfirmasi dari spektrum FTIR hasil sintesis, terdapat perbedaan antara  profil spektrum hasil karboksimetilasi k-karagenan dengan karagenan sebelum proses karboksimetilasi. Keterdapatan gugus karboksil ditandai dengan adanya serapan di daerah bilangan gelombang 1774,51 cm-1 yang menunjukkan serapan  C=O vibrasi simetrik dan 1417 cm-1 untuk C=O asimetrik. Kepolaran media reaksi mempengaruhi nilai DS CMKC, semakin rendah polaritas media pereaksi nilai DS cenderung semakin besar, karena kecenderungan pemakaian TCA sebagai pereaksi eterifikasi, untuk digunakan oleh sisa NaOH bereaksi menghasilkan produk samping berkurang dengan menurunnya kelarutan NaOH dalam polaritas media yang lebih rendah. Polaritas yang terlalu rendah menurunkan nilai DS karena keberhasilan proses sintesis menurun akibat kelarutan pereaksi yang terlalu rendah dalam media pereaksi yang kurang polar.  Nilai DS CMKC yang tertinggi, sebesar 4,3 diperoleh pada sintesis dalam media reaksi isopropanol dan etanol dengan penambahan media reaksi lain yaitu aseton-etanol dengan perbandingan volume 3:2. Nilai DS berpengaruh pada kelarutan dan kemampuan swelling CMKC.

    Adsorpsi Ion Tembaga(II) dan Kobalt(II) oleh Nanomagnetit terlapis Karboksimetil kappa-Karagenan pada Variasi Derajat Keasaman (pH) dan Waktu Kontak Adsorpsi

    No full text
    RINGKASAN Agustin, Lutfiyah Findiani. 2019. Adsorpsi Ion Tembaga(II) dan Kobalt(II) oleh Nanomagnetit terlapis Karboksimetil kappa-Karagenan pada Variasi Derajat Keasaman (pH) dan Waktu Kontak Adsorpsi, Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Irma Kartika Kusumaningrum, S.Si., M.Si. (II) Dr. Hj. Endang Budiasih, M.S. Kata Kunci: Adsorpsi-desorpsi, prekonsentrasi, nanomagnetit terlapis CMKC Adsorpsi ion logam dapat dilakukan dengan berbagai macam adsorben, salah satunya yaitu nanomagnetit. Magnetisasi nanomagnetit dapat digunakan untuk menarik ion logam, namun sayangnya nanomagnetit memiliki permukaan hidrofobik, sehinggga interaksinya dengan lingkungan polar rendah dan mudah teraglomerasi. Salah satu metode untuk mengatasi hal ini yaitu melapisi nanomagnetit dengan pelapis karboksimetil kappa-karagenan (CMKC). CMKC adalah polimer hasil karboksimetilasi kappa-karagenan dengan gugus hidroksil kappa-karagenan yang terkonversi menjadi gugus karboksil, sehingga meningkatkan interaksi kappa-karagenan dengan lingkungan polar. Pelapisan nanomagnetit dengan CMKC meningkatkan interaksi nanomagnetit dengan air, menurunkan potensi aglomerasi dan gugus karboksil pada permukaannya dapat mengikat ion logam. Adsorpsi ion logam dengan nanomagnetit terlapis CMKC dikembangkan untuk metode prekonsentrasi larutan yang mengandung ion logam. Prekonsentrasi sampel ion logam dalam air sering diperlukan untuk melakukan pemantauan kualitas air yang akurat dengan instrumen yang kepekaannya rendah, diantaranya untuk penentuan kadar ion Co(II) dan Cu(II). Penelitian ini berfokus pada eksplorasi proses adsorpsi pada metode prekonsentrasi larutan Co(II) dan Cu(II) dengan nanomagnetit terlapis karboksimetil kappa-karagenan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mensintesis nanomagnetit, CMKC, nanomagnetit terlapis CMKC dan menggunakannya sebagai media prekonsentrasi larutan Co(II) dan Cu(II) untuk mempelajari pengaruh variasi pH dan waktu kontak terhadap kemampuan nanomagnetit terlapis karboksimetil kappa-karagenan dalam mengadsorpsi ion Co(II) dan Cu(II). Tahapan penelitian yang dilakukan terdiri dari, sintesis karboksimetil kappa-karagenan, sintesis magnetit, sintesis nanomagnetit terlapis karboksimetil kappa-karagenan, proses adsorpsi dan desorpsi ion Co(II) dan Cu(II) pada pH 3, 5, 7, waktu kontak 40 menit, serta adsorpsi-desorpsi pada variasi waktu kontak adsorpsi 20, 40 dan 60 menit pada pH optimal. Hasil penelitian menunjukkan bukti  terbentuknya nanomagnetit dan CMKC, serta nanomagnetit terlapis CMKC, dikonfirmasi dengan data analisis FTIR, yang membuktikan kemunculan puncak 1774,51 cm-1 dan 1417 cm-1 pada CMKC yang terkait dengan terbentuknya gugus C=O setelah sintesis. Tentuknya nanomagnetit dibuktikan dengan nampaknya puncak XRD pada30⁰, 35⁰, 42⁰, 57⁰, 63⁰ dan 74⁰. Ukuran partikel diamati dengan SEM, rata-rata partikel berukuran dibawah 100 nm. Penggambaran SEM menunjukkan perbedaan morfologi nanomagnetit dan nanomagnetit-CMKC, nanomagnetit terlapis CMKC berukuran lebih besar dan kurang teraglomerasi dibandingkan nanomagnetit. Nanomagnetit-CMKC digunakan untuk prekonsentrasi larutan Co(II) dan Cu (II)  dalam air, nanomagnetite-CMKC mampu mengikat ion Co(II) dan Cu(II) dalam sampel, pH dan waktu kontak berpengaruh terhadap proses adsorpsi, pH optimal pada waktu kontak adsorpsi untuk Co(II) dan Cu(II) adalah 7, serta waktu kontak adsorpsi pada pH optimal untuk Co(II) adalah 60 menit, dan Cu(II) 40 menit. Persentase adsorpsi mencapai 99,25% untuk Co(II) dan 99,96% untuk Cu(II), ion yang terikat pada permukaan pelapis dapat terdesorpsi dengan pelarut pendesorpsi HNO3 1 M, persentase desorpsi mencapai 48,65% untuk Co(II) dan 67,14% untuk Cu(II), kenaikan konsentrasi larutan sampel setelah proses adsorpsi-desorpsi mencapai 2,41 kali untuk Co(II) dan 3,36 kali untuk Cu(II).   SUMMARY Agustin, Lutfiyah Findiani. 2019. The Adsorption of Ion Copper(II) and Cobalt(II) by Nanomagnetite Coated Carboxymethyl of kappa-Caragenan on Various Degree of Acidity (pH) and Adsorption Contact Time, Thesis. Department of Chemistry,Faculty of Mathematics and Natural Sciences, State University of Malang. Advisers: (1) Dr. Irma Kartika Kusumaningrum, S.Si., M.Si. (II) Dr. Hj. Endang Budiasih, M.S. Keywords: adsorption-desorption, preconcentration, nanomagnetite coated CMKC Metal ion adsorption can be done with various kinds of adsorbents, one of which is nanomagnetite. Nanomagnetite magnetization can be used to attract metal ions, but unfortunately nanomagnetite has a hydrophobic surface, so the interaction with the polar environment is low and easily agglomerated. One method to overcome this deficiency is to coat nanomagnetite with Carboxymethyl Kappa-Caragenan (CMKC). Carboxymethyl Kappa-Caragenan (CMKC). CMKC is a polymer produced by the carboxymethylation process of kappa-caragenan which the hydroxyl group has been converted into a carboxyl group on the kappa-caragenan, thereby enhancing kappa-caragenan interactions with polar environments. Nanomagnetite coating with CMKC enhances the interaction of nanomagnetite with water, lowering the potential of agglomeration and carboxyl group on its surface can bind to metal ions. A metal ion adsorption with a nanomagnetite coated CMKC was developed for a method of the preconcentration of a solution containing metal ions. The preconcentration of a metal ion sample in water is often required to perform accurate water quality monitoring with low-sensitivity instruments, including for determination of ion levels of Co (II) and Cu (II). The study focuses on exploration of the adsorption process in the preconcentration method of solution Co(II) and Cu(II) with nanomagnetite coated carboxymethyl kappa-caragenan. The purpose of this research is to synthesize nanomagnetite, CMKC, nanomagnetite coated CMKC and use it as a media preconcentration solution Co(II) and Cu(II) to study the influence of pH variations and the time of contact to the ability nanomagnetite coated carboxymethyl kappa-caragenan in the adsorption of Ion Co(II) and Cu(II). The stages of research conducted consist of, the synthesis of kappa-caragenized carboxymethyl, magnetite synthesis, the synthesis of coated nanomagnetite carboxymethyl kappa-caragenan, adsorption and desorption process of ions Co(II) and Cu(II) at pH 3, 5, 7, contact time 40 minutes, as well as adsorption-desorption on variations of contact time adsorption 20, 40 and 60 minutes at optimal pH. The results showed the evidence of the formation of nanomagnetite and CMKC, as well as nanomagnetite coated CMKC, confirmed with FTIR analysis data, which proved the peak emergence of 1774.51 cm-1 and 1417 cm-1 on CMKC associated with cluster formation C=O after synthesis. The establishment of nanomagnetite is evidenced by the apex of XRD on 30⁰, 35⁰, 42⁰, 57⁰, 63⁰ and 74⁰. The particle size is observed with SEM, the average particle measuring below 100 nm. The depiction of SEM shows the morphological differences of nanomagnetite and nanomagnetite-CMKC, the nanomagnetite coated CMKC is larger and less agglomerated than nanomagnetite. Nanomagnetite-CMKC is used for the preconcentration of solution Co(II) and Cu(II) in water, Nanomagnetite-CMKC capable of binding ion Co(II) and Cu(II) in the sample, pH and contact time affect the adsorption process, the pH is optimal at the time of contact adsorption to Co(II) and Cu(II) are 7, as well as the contact time adsorption at the optimal pH for Co(II) is 60 minutes, and Cu(II) 40 minutes. The percentage of adsorption reaches 99.25% for Co (II) and 99.96% for Cu (II), the ions bound to the coating surface may be desorated with the desorption solvent HNO3 1 M, the percentage of desorption reaching 48.65% for Co(II) and 67.14% for Cu(II), the concentration increase of the sample solution after the adsorption-desorption process reached 2.41 times for Co (II) and 3.36 times for Cu (II)

    Optimasi Suhu, Waktu dan pH Ekstraksi Kolagen Sisik Ikan Bandeng Menggunakan Protease Isolat HTcUM7.1

    No full text
    RINGKASAN Sari, Nurmalia Dinita. 2019. Optimasi Suhu, Waktu dan pH Ekstraksi Kolagen Sisik Ikan Bandeng Menggunakan Protease dari Isolat HTcUM7.1. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Evi Susanti, M.Si., (II) Dr. Suharti, M.Si. Kata Kunci : Kolagen, Protease, HTcUM7.1 Kolagen dapat diekstraksi dari sisik ikan Bandeng secara enzimatis menggunakan protease dari isolat HTcUM7.1. Walaupun  demikian, belum diketahui kondisi optimum untuk proses tersebut sehingga belum menghasilkan kolagen yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu, waktu dan pH optimum ekstraksi kolagen dari sisik ikan Bandeng secara enzimatis menggunakan protease dari isolat HTcUM7.1. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktorial atau one-factor-at-a-time (OFAT). Tahap-tahap penelitian yang dilakukan adalah (1) persiapan sisik ikan Bandeng; (2) peremajaan isolat dan produksi ekstrak kasar enzim protease; (3) optimasi suhu reaksi enzimatis dengan variasi 4, 25, 30 dan 40 ºC; (4) optimasi waktu reaksi enzimatis dengan variasi 6, 12, 18, 24, 30, 36, 42 dan 48 jam; dan (5) optimasi pH reaksi enzimatis dengan variasi 2, 4, 6, 8 dan 10. Kondisi optimum ditentukan berdasarkan kadar Protease Soluble Collagen (PSC) tertinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum untuk ekstraksi sebanyak 5 gram sisik ikan Bandeng dengan ekstrak kasar protease dari isolat HTcUM7.1 antara 1,0-5,93 U/mg adalah pada sekitar suhu 25 ºC selama ± 42 jam pada sekitar pH 4

    Optimasi Suhu, Waktu dan pH Ekstraksi Kolagen Sisik Ikan Bandeng Menggunakan Protease Isolat HTcUM7.1

    No full text
    RINGKASAN Sari, Nurmalia Dinita. 2019. Optimasi Suhu, Waktu dan pH Ekstraksi Kolagen Sisik Ikan Bandeng Menggunakan Protease dari Isolat HTcUM7.1. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Evi Susanti, M.Si., (II) Dr. Suharti, M.Si. Kata Kunci : Kolagen, Protease, HTcUM7.1 Kolagen dapat diekstraksi dari sisik ikan Bandeng secara enzimatis menggunakan protease dari isolat HTcUM7.1. Walaupun  demikian, belum diketahui kondisi optimum untuk proses tersebut sehingga belum menghasilkan kolagen yang optimal. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan suhu, waktu dan pH optimum ekstraksi kolagen dari sisik ikan Bandeng secara enzimatis menggunakan protease dari isolat HTcUM7.1. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) satu faktorial atau one-factor-at-a-time (OFAT). Tahap-tahap penelitian yang dilakukan adalah (1) persiapan sisik ikan Bandeng; (2) peremajaan isolat dan produksi ekstrak kasar enzim protease; (3) optimasi suhu reaksi enzimatis dengan variasi 4, 25, 30 dan 40 ºC; (4) optimasi waktu reaksi enzimatis dengan variasi 6, 12, 18, 24, 30, 36, 42 dan 48 jam; dan (5) optimasi pH reaksi enzimatis dengan variasi 2, 4, 6, 8 dan 10. Kondisi optimum ditentukan berdasarkan kadar Protease Soluble Collagen (PSC) tertinggi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi optimum untuk ekstraksi sebanyak 5 gram sisik ikan Bandeng dengan ekstrak kasar protease dari isolat HTcUM7.1 antara 1,0-5,93 U/mg adalah pada sekitar suhu 25 ºC selama ± 42 jam pada sekitar pH 4

    Sintesis dan Karakterisasi Nanopartikel Seng Oksida menggunakan Ekstrak Kulit Pisang Raja, Pisang Candi, dan Pisang Hijau, serta Aplikasinya sebagai Antibakteri

    No full text
    Sintesis dan Karakterisasi Nanopartikel Seng Oksida  Menggunakan  Ekstrak Kulit  Pisang Raja, Pisang Candi, dan Pisang Hijau serta Aplikasinya sebagai Antibakteri Tasha Febriya Putri1, Fauziatul Fajaroh1,*, Siti Marfu’ah1 1Jurusan Kimia, Universitas Negeri Malang, email: [email protected] *E-mail corresponding author: [email protected]   Abstrak Nanopartikel dengan berbagai macam bentuk telah diaplikasikan pada bidang kesehatan, pangan, dan teknologi karena kemudahannya berinteraksi dengan zat lain. Salah satu jenis nanopartikel  yang diminati peneliti ialah nanopartikel oksida logam. Nanopartikel oksida logam banyak digunakan karena daya tahan tinggi, stabilitas dan selektivitas tinggi, serta penggunaannya yang efektif. Hal ini menyebabkan berkembangnya metode – metode sintesis nanopartikel yang memiliki karakteristik diharapkan, seperti ukuran, bentuk, morfologi, dan cacat pada struktur kristal. Karakterisasi tersebut memengaruhi efek antibakteri. Salah satu fungsi dari nanopartikel seng oksida ialah sebagai antibakteri karena dapat menyebabkan kerusakan dinding sel, bahkan kematian sel bakteri. Pada awal tahun 1900, ekstrak tumbuhan dan jaringan tumbuhan mulai  digunakan dalam pengembangan nanopartikel. Salah satu jenis tanaman yang ekstraknya dapat dimanfaatkan dalam proses biosintesis nanopartikel adalah pisang. Kulit pisang (Musa sapientum) merupakan salah satu limbah yang mengandung senyawa fitokimia melimpah di alam. Kulit pisang mengandung senyawa fenolik dengan kadar tinggi yang dapat bertindak sebagai reducing agent dan capping agent. Capping agent  berfungsi untuk mencegah bertambahnya ukuran nanopartikel karena kemampuannya yang dapat mengikat nanopartikel, sehingga aglomerasi nanopartikel tidak terjadi. Penelitian ini dilakukan dengan tujuan yaitu (1) Mengetahui kandungan senyawa yang terdapat dalam kulit pisang raja, pisang candi, dan pisang hijau (2) Mensintesis nanopartikel seng oksida menggunakan ekstrak kulit pisang raja, pisang candi, dan pisang hijau, (3) Mengetahui karakteristik nanopartikel seng oksida hasil sintesis menggunakan kulit pisang raja, pisang candi, dan pisang hijau, (4) Mengetahui efektivitas nanopartikel seng oksida sebagai antibakteri. Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap sebagai berikut: (1) ekstraksi kulit pisang, (2) uji fitokimia pada ekstrak kulit pisang, (3) sintesis nanopartikel seng oksida menggunakan ekstrak kulit pisang, (4) karakterisasi nanopartikel ZnO menggunakan XRD, (5) uji antibakteri. Hasil yang diperoleh yaitu terdapat kesamaan difraktogram XRD dengan difraktogram standar JCPDS nanopartikel ZnO menggunakan ekstrak kulit pisang raja, pisang candi dan pisang hijau , ukuran kristal ZnO menggunakan ekstrak kulit pisang raja sebesar 33,2425 nm, dan ukuran nanopartikel ZnO menggunakan ekstrak kulit pisang candi adalah 23,5627 nm dan pisang hijau ialah 30,6059 nm, kulit pisang raja mengandung senyawa alkaloid, saponin, sedangkan kulit pisang candi mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, dan polifenol, kulit pisang hijau mengandung senyawa alkaloid, saponin, dan polifenol, dan adanya zona bening dengan diameter nanopartikel ZnO dengan ekstrak kulit pisang raja ialah 2,3256 cm, dengan kulit pisang candi adalah 1,495 cm dan kulit pisang hijau adalah 1,8589 cm. Kata kunci: nanopartikel seng oksida, kulit pisang raja, kulit pisang candi, kulit pisang hijau, antibakteri.   1. Pengantar Nanoteknologi merupakan suatu bidang yang sedang berkembang. Material yang terkait dengan nanoteknologi antar lain adalah nanopartikel. Nanopartikel merupakan partikel berukuran 1 – 100 nm yang memiliki sifat unik seperti luas permukaan besar. Sifat unik nanopartikel ini menjadi daya tarik para peneliti. Nanopartikel dengan berbagai macam bentuk antara lain telah diaplikasikan pada bidang kesehatan, pangan, dan teknologi karena kemudahannya berinteraksi dengan zat lain (Kumar, 2018). Nanopartikel  yang diminati peneliti ialah nanopartikel oksida logam, salah satunya yaitu nanopartikel seng oksida. Nanopartikel seng oksida merupakan nanopartikel yang digunakan dalam bidang kosmetik, cat, obat, sebagai agen antibakteri dan katalis. Seng oksida (ZnO) ialah senyawa anorganik dengan energi celah pita yang akan meningkat jika ukuran seng oksida dalam skala nano. Energi celah pita yang meningkat menyebabkan nanopartikel seng oksida dapat diaplikasikan untuk optik dan elektronik (Mirzaei et al., 2017). Seng oksida (ZnO) ditemukan di kerak bumi dalam bentuk campuran yaitu mineral zincite. Sintesis ZnO yang dilakukan untuk mendapatkan seng oksida murni dapat diproduksi dalam skala besar menggunakan metode kimia (Mirzaei et al., 2017). Pisang adalah tanaman dari keluarga Musaceae yang banyak ditemukan di daerah tropis di Asia Selatan.  Pisang merupakan tanaman yang dapat menghasilkan zat antioksidan untuk melindungi diri dari tekanan oksidatif oleh sinar matahari. Pisang memiliki berbagai bagian tanaman seperti bunga, batang, akar dan daun yang dapat diaplikasikan pada berbagai bidang.  Berdasarkan Badan Pusat Statistik (2017), pada tahun 2017 provinsi jawa timur merupakan provinsi penghasil pisang terbesar sejumlah 7.162.685 ton. Pada tahun 2017, pisang juga marupakan buah yang diekspor terbesar di Indonesia sejumlah 14.521.530 ton . Limbah kulit pisang memiliki jumlah sama dengan jumlah pisang yang diproduksi dan diekspor yang menyebabkan pemanfaaatan kulit pisang penting untuk dilakukan.   Kulit pisang mengandung senyawa fitokimia seperti flavonoid, tanin, phlobatannins, alkaloid.  Senyawa ini berfungsi sebagai antioksidan, antidiabetik, anti inflamasi, dan antibiotik.  Senyawa fitokimia, seperti flavonoid dapat bertindak sebagai Capping agent . Capping agent  adalah spesies ionik atau molekul yang mengikat nanopartikel. Capping agent  berfungsi untuk membantu menghambat perkembangan ukuran nanopartikel serta dapat mencegah terjadinya aglomerasi. Capping agent dapat mengikat nanopartikel karena adanya pembentukan ikatan kovalen yang kuat antara rantai polimer dan permukaan nanopartikel (Inthekhab et al., 2016). X – Ray Diffraction (XRD) merupakan suatu instrumen yang berfungsi untuk mengidentifikasi keberadaan suatu senyawa melalui pembiasan berkas cahaya yang memiliki susunan atom pada kisi kristalnya karena setiap senyawa memiliki kekhasan pola difraksi. Kekhasan pola difraksi ini merupakan dampak dari pola pembiasan berkas cahaya yang berbeda – beda. Setiap senyawa terdiri dari susunan atom - atom yang membentuk  bidang tertentu, sehingga menyebabkan  partikel cahaya atau foton datang dengan sudut tertentu menghasilkan pola pantulan maupun pembiasan yang khas. Proses difraksi dapat dihitung melalui hukum Bragg sebagai hasil interaksi antara sinar X yang dipantulkan oleh suatu senyawa. Pantulan tersebut terjadi tanpa terjadinya kehilangan energi sehingga dihasilkan pantulan elastis atau elastic scattering. Bragg menunjukan bahwa bidang yang berisi atom-atom dalam kristal akan memantulkan radiasi dengan alur sama dengan peristiwa pemantulan cahaya di bidang cermin Bakteri merupakan suatu mikroorganisme bersel tunggal yang memiliki ukuran dan bentuk berbeda. Berdasarkan bentuknya, bakteri memiliki beberapa macam yaitu bakteri berbentuk bulat, batang, spiral, dan lain – lain. Bakteri berkembang biak melalui pembelahan biner. Pembelahan biner  ini terjadi dengan tahap yaitu pembentukan, penggabungan sel anak bakteri dengan dinding melintang pusat, dan selanjutnya pemisahan sel anak dengan dinding melintang pusat. Jika sel anak tidak terpisah, maka filamen – filamen dapat terbentuk. Bakteri memiliki dua jenis yaitu bakteri gram positif dan bakteri gram negatif. Bakteri gram positif merupakan suatu bakteri yang memberikan hasil positif berwarna violet pada uji gram. Kedua bakteri gram tersebut memiliki beberapa perbedaan yaitu bakteri gram positif memiliki lapisan peptidoglikan lebih tebal daripada bakteri gram negatif. Bakteri gram negatif memiliki membran luar, sedangkan bakteri gram positif tidak memiliki membran luar, dan lain – lain. Salah satu agen antimikroba ialah nanopartikel logam. Nanopartikel logam bermuatan positif memiliki dampak besar pada bakteri karena muatan positif dari nanopartikel logam menarik muatan negatif dinding sel bakteri yang menyebabkan dinding sel bakteri menjadi rusak dan dapat mengubah fungsi rantai transpor elektron bakteri. Hal ini menyebabkan muatan nanopartikel merupakan faktor utama dalam mekanisme antibakteri. Nanopartikel logam dapat bertindak sebagai agen antibakteri karena nanopartikel logam dapat menghasilkan ROS (Reactive Oxygen Speciess) yang dapat merusak dinding sel dan membunuh sel bakteri. Kelebihan elektron pada molekul oksigen menghasilkan anion radikal superoksida. Anion radikal superoksida akan bereaksi dengan 2H+ menghasilkan H2O2 . Hidrogen peroksida akan merusak dinding sel bakteri, namun hidrogen peroksida tidak dapat masuk ke dalam sel bakteri karena muatan negatif pada dinding sel bakteri menolak H2O2 . Nanopartikel logam akan masuk ke dalam antibakteri dan menghambat metabolisme sel bakteri.   2. Metode 2.1 Rancangan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental laboratoris. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Penelitian Organik Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Penelitian ini terdiri dari beberapa tahap sebagai berikut: (1) ekstraksi kulit pisang, (2) uji fitokimia pada ekstrak kulit pisang, (3) sintesis nanopartikel seng oksida menggunakan ekstrak kulit pisang, (4) karakterisasi nanopartikel ZnO menggunakan XRD, (5) uji antibakteri.   2.2 Tempat dan Waktu Penelitian Penelitian dilakukan di Laboratorium Kimia Universitas Negeri Malang pada bulan Juni 2018 hingga Juni 2019. Karakterisasi X-Ray Diffraction (XRD) untuk nanopartikel seng oksida dilakukan di Laboratorium Mineral dan Material Maju FMIPA Universitas Negeri Malang.   2.3 Alat dan Bahan 2.3.1 Alat Alat – alat yang digunakan yaitu gelas kimia 250 mL, gelas kimia 100 mL, tabung reaksi, pipet tetes, gelas ukur 100 mL, erlenmeyer 250 mL, pipet volume, mortar dan pestle, corong Buchner, kertas saring (Whatman – 42 ), bola hisap, sentrifugasi, vortex mixer, XRD (Panayitical Xpert Pro), timbangan analitik (SHIMADZU) dengan ketelitian 0,0001 gr.   2.3.2 Bahan Penelitian ini menggunakan bahan -  bahan yaitu kulit pisang raja, kulit pisang candi, kulit pisang hijau, ZnSO4.7H2O p.a merck, NaOH p.a merck, etanol p.a merck, kertas pH universal, pita Mg, HgCl2, air demineralisasi, bakteri E.coli, dan bakteri S.aureus.   2.4 Prosedur Kerja 2.4.1 Ekstraksi Kulit Pisang Kulit pisang (Musa paradisiaca) dengan massa 150,0000 g dicuci dan direbus dalam 150 mL aquademineralisasi selama 10 menit pada 80°C. Kulit pisang ditumbuk dengan air rebusan sampai halus. Kulit pisang yang telah  dihaluskan  disaring  menggunakan kain. Filtrat yang dihasilkan digunakan untuk penelitian ini.   2.4.2 Uji Fitokimia Uji fitokimia terhadap ekstrak yang dilakukan yaitu 1.) Uji flavonoid, 2.) Uji alkaloid, 3.) Uji saponin, 4.) Uji polifenol.   2.4.2.1 Uji Flavonoid Ekstrak kulit pisang ditambah HCl pekat tetes demi tetes. Warna merah yang terbentuk menandakan adanya flavonoid.   2.4.2.2 Uji Alkaloid Ekstrak kulit pisang ditambah 0,2 mL HCl dan 1 mL reagen Mayer. Reaksi positif ditandai dengan adanya perubahan warna menjadi kuning.   2.4.2.3 Uji saponin Ekstrak kulit pisang sebanyak 1 mL ditambah 20 mL air panas dan dikocok kuat. Uji positif ditandai dengan adanya busa yang stabil selama 15 menit.   2.4.2.4 Uji Polifenol Ekstrak kulit pisang ditambah FeCl3 1% tetes demi tetes. Uji positif ditandai dengan adanya perubahan warna menjadi hijau, merah, ungu, biru, atau hitam.   2.4.3 Sintesis Nanopartikel ZnO Menggunakan Ekstrak Kulit Pisang Ekstrak kulit pisang dengan volume 129,47 mL ditambah 500 mL ZnSO4 0,0783 M. Campuran tersebut distirrer selama 10 menit dan ditambahkan NaOH 2 M hinggga pH larutan mencapai 12. Campuran  tersebut  disaring menggunakan corong buchner dan dicuci hingga pH air cucian netral. Residu yang dihasilkan di keringkan dalam oven dengan suhu 60°C hingga berat konstan.   2.4.4 Karakterisasi Nanopartikel ZnO menggunakan XRD Sampel dengan volume 2 µL dimasukkan ke dalam sample holder, lalu  di tekan tombol ‘measure’. Setelah proses selesai, data sampel berupa difraktogram disimpan.   2.4.5 Uji Antibakteri Uji antibakteri terdiri dari  2 tahap yaitu pembuatan medium agar dan  uji  aktivitas antibakteri. Bakteri yang digunakan ialah bakteri S. aureus dan bakteri E. coli.   2.4.5.1 Pembuatan Medium Agar Langkah pertama yang dilakukan ialah membuat 18 medium lempeng dari serbuk nutrien agar instan pada cawan petri. Langkah ke dua ialah cawan petri yang berisi nutrien agar dibungkus dengan kertas sampul dan diikat dengan benang kasur. Langkah ke tiga ialah cawan tersebut disterilisasi menggunakan autoklaf pada suhu 121°C selama 15 menit dan didinginkan di dalam almari es.   2.4.5.2 Pengujian Aktivitas Antibakteri Langkah pertama yaitu serbuk nanopartikel ZnO didispersi dalam DMSO dan divorteks hingga tercampur sempurna. Langkah ke dua yaitu bakteri disapukan merata pada cawan berisi nutrien agar. Langkah ke tiga ialah sumuran dibuat dengan diameter 6 mm, lalu dimasukkan nanopartikel ZnO hingga sumuran penuh. Langkah terakhir yaitu cawan ditutup dan didiamkan dalam inkubator pada suhu 37°C selama 24 jam.   2.5 Teknik Analisis Data Analisis data menggunakan XRD dilakukan dengan membandingkan difraktogram nanopartikel ZnO dengan difraktogram nanopartikel ZnO standar pada database JCPDS 36-1415. Selanjutnya ukuran nanopartikel ZnO diketahui dengan menggunakan perangkat lunak OriginPro dengan persamaan Scherrer. Analisis data pada uji antibakteri dilakukan dengan mengetahui diameter zona bening disekitar sumuran pada media agar. Diameter zona bening yang terbentuk diukur dengan menggunakan jangka sorong yang dilanjutkan dengan menghitungnya melalui persamaan, yaitu diameter zona bening - diameter sumuran   3. Hasil dan Pembahasan 3.1 Ekstraksi Kulit Pisang Ekstraksi kulit pisang terdiri dari beberapa langkah yaitu pertama kulit pisang (Musa paradisiaca) dengan massa 150,0000 g dicuci dan direbus dalam 150 mL aquademineralisasi selama 10 menit pada 80°C.  Perebusan kulit pisang  berfungsi untuk memecah dinding sel tanaman akibat dari perbedaan tekanan, sehingga senyawa fitokimia dapat larut. Selanjutnya kulit pisang ditumbuk dengan air rebusan yang berfungsi untuk membantu pemecahan dinding sel tanaman. Kulit pisang yang telah  dihaluskan  disaring dengan menggunakan kain yang berfungsi untuk menghasilkan filtrat yang digunakan pada penelitian sebagai ekstrak kulit pisang.   3.2 Uji Fitokimia Hasil beberapa uji fitokimia dapat dilihat pada Tabel 1 Tabel 1 Kandungan Senyawa Fitokimia (Published)   3.2.1 Uji Flavonoid Uji flavonoid menggunakan ekstrak kulit pisang  memberikan  hasil positif yang ditandai dengan  adanya perubahan warna dari warna ekstrak kulit pisang  menjadi merah. Warna merah menandakan adanya senyawa flavonoid. Hasil uji positif flavonoid ialah ekstrak kulit pisang candi. Hal ini menandakan bahwa kandungan flavonoid tinggi terdapat pada ekstrak kulit pisang candi   3.2.2 Uji Alkaloid Uji alkaloid memberikan hasil positif yang ditunjukkan adanya perubahan warna menjadi kuning (Rao et al., 2016). Intensitas warna uji positif alkaloid menunjukkan kandungan senyawa alkaloid dalam kulit pisang, sehingga kadar senyawa alkaloid dari tinggi ke rendah berurutan ialah ekstrak kulit pisang raja, kulit pisang candi, dan kulit pisang hijau   3.2.3 Uji Saponin Uji saponin memberikan reaksi positif yang ditandai dengan terbentuknya busa. Busa yang terbentuk pada ekstrak kulit pisang raja lebih banyak daripada ekstrak kulit pisang lainnya . Hal ini menandakan jumlah senyawa saponin pada kulit pisang raja paling besar. Jumlah senyawa saponin tinggi ke dua ialah ekstrak kulit pisang candi dan yang terakhir ialah ekstrak pisang hijau.   3.2.4 Uji Polifenol Uji polifenol memberikan reaksi positif dengan adanya perubahan warna. Hasil negatif uji polifenol ialah menggunakan ekstrak kulit pisang raja dan candi, sedangkan  reaksi positif uji polifenol dengan ekstrak kulit pisang candi dan kulit pisang hijau ialah berwarna ungu.   3.3 Sintesis Nanopartikel ZnO Menggunakan Ekstrak Kulit Pisang Sintesis nanopartikel ZnO dilakukan dalam beberapa langkah, yaitu pertama penambahan 500 mL ZnSO4 0,0783 M sebagai prekursor Zn2+ pada 129,47 mL ekstrak kulit pisang. Pada langkah campuran ditambahkan NaOH 2M hingga pH 12 akan terjadi reaksi antara Zn2+ dengan NaOH membentuk Zn(OH)2 . Kemudian residu yang dihasilkan dicuci hingga pH air cucian netral akan terjadi pembentukan ZnO karena adanya pelepasan H+. Ekstrak kulit pisang mengandung senyawa fitokimia yang bertindak sebagai capping agent yang dapat memperkecil ukuran ZnO karena fungsinya yaitu mencegah aglomerasi ZnO dengan pengikatan kovalen. mekanisme capping agent dengan ZnSO4  adalah ZnSO4 akan terhidrolisis menjadi Zn2+ dan SO42-. Ion Zn2+ berikatan dengan senyawa fitokimia membentuk senyawa komplek.  Senyawa tersebut akan tereduksi menjadi ZnO.   3.3.1 Karakterisasi Nanopartikel ZnO menggunakan XRD Untuk memastikan sampel merupakan nanopartikel ZnO dilakukan analisis instrumen XRD (X-Ray Diffraction) dengan cara membandingkan difraktogram nanopartikel ZnO standar pada database JCPDS 36-1451(Gambar 1) dan difraktogram sampel (Gambar 2). Berdasarkan perbandingan tersebut, terdapat kesesuaian difraktogram yang menunjukkan bahwa sampel merupakan nanopartikel ZnO.   Gambar 1 Difraktogram nanoparticle ZnO Standar JCPDS 36-1451 (Published) Gambar 2  Difraktogram nanopartikel ZnO dengan Kulit Pisang (a) Candi, (b) Hijau, (c) Raja (Published) Untuk memastikan sampel merupakan nanopartikel ZnO dapat dilihat melalui nilai 2Ө antar difraktogramnya (Tabel 2) Puncak dan nilai 2Ө ke tiga difraktogram sampel dengan difraktogram nanopartikel ZnO standar tidak memiliki perbedaan jauh, sehingga dapat dikatakan bahwa sampel merupakan nanopartikel ZnO. Tabel 2 Nilai 2Ө Difraktogram Sampel dan Nanopartikel ZnO Standar (Published) Untuk mengetahui persentase nanopartikel ZnO dapat digunakan program Match yang menghasilkan persentase nanopartikel ZnO dengan ekstrak kulit pisang raja sebesar 23,9 %, untuk nanopartikel ZnO dengan ekstrak kulit pisang candi ialah 20,7 %, dan nanopartikel ZnO dengan ekstrak kulit pisang hijau adalah 31,9 %. Hal ini menandakan bahwa nanopartikel ZnO yang didapatkan tidak murni karena memiliki kemungkinan besar mengandung Zn(OH)2 atau senyawa-senyawa lainnya yang tidak diharapkan. Ukuran nanopartikel dihitung menggunakan persamaan Scherrer melalui perangkat lunak OriginPro yang dapat dilihat pada Tabel 3. Berdasarkan tabel tersebut, nanopartikel ZnO dengan ukuran terbesar ialah dari ekstrak kulit pisang raja. Tabel 3 Ukuran Nanopartikel ZnO (Published) Ukuran nanopartikel dipengaruhi oleh beberapa faktor, salah satunya ialah senyawa fitokimia. Senyawa fitokimia yang bertindak sebagai capping agent dapat memperkecil ukuran nanopartikel. Sehingga semakin banyak senyawa fitokimia yang mengikat, maka semakin tinggi kandungan senyawa tersebut berperan pada nanopartikel. Hal ini menyebabkan semakin kecil ukuran nanopartikel. Kulit pisang candi yang mengandung senyawa flavonoid  memiliki ukuran nanopartikel lebih kecil daripada ekstrak kulit pisang raja dan hijau.   3.3.2 Aktifitas antibakteri Aktifitas antibakteri dapat diketahui melalui zona bening di sekitar sumuran yang diukur dengan jangka sorong, hasilnya dapat dilihat pada Tabel 4. Tabel 4 Diameter Zona Bening (Published) Berdasarkan Tabel 4, diameter bening E.coli pada ekstrak kulit pisang candi, kulit pisang raja maupun kulit pisang hijau lebih tinggi daripada bakteri S.aureus. Hal ini dikarenakan bakteri E.coli memiliki lapisan peptidoglikan lebih tipis daripada bakteri S.aureus, sehingga menyebabkan dinding sel bakteri E.coli mudah rusak yang mengakibatkan kematian sel bakteri. Diameter zona bening bakteri E.coli maupun S.aureus dari tinggi ke rendah berurutan ialah zona bening oleh nanopartikel ZnO menggunakan kulit pisang raja, kulit pisang hijau, kulit pisang candi. Uji aktifitas antibakteri denan pelarut DMSO dilakukan karena pelarut tersebut berperan sebagai standar antibakteri. Diameter zona bening bakteri E.coli dengan pelarut DMSO sebesar 1,54 mm, sedangkan diameter zona bening bakteri S.aureus dengan pelarut DMSO ialah 0,25 mm. Hal ini menandakan bahwa pelarut DMSO tidak mempengaruhi hasil uji aktivitas antibakteri nanopartikel seng oksida. Ukuran kristal memengaruhi aktifitas antibakteri karena ukuran kristal yang kecil dapat meningkatkan aktifitas antibakteri menyebabkan diameter zona beningnya besar. Namun kristal dengan ukuran besar dapat memiliki aktifitas antibakteri tinggi karena kristal tersebut memiliki kemungkinan tidak mengalami aglomerasi yang menghambat aktifitas antibakteri. Sedangkan ukuran kristal kecil dapat memiliki diameter zona bening besar karena memiliki kemungkinan terjadi aglomerasi. Hal ini menyebabkan nanopartikel ZnO dengan ekstrak kulit pisang raja memiliki diameter zona bening lebih tinggi daripada kulit pisang candi dan hijau.   4. Simpulan Kulit pisang raja mengandung senyawa alkaloid, saponin, sedangkan kulit pisang candi mengandung senyawa flavonoid, alkaloid, saponin, dan polifenol. pisang hijau mengandung senyawa alkaloid, saponin, dan pol

    Pengembangan Instrumen Tes Pilihan Ganda Untuk Menilai Literasi Kimia Siswa SMA Kelas XI Materi Hidrolisis Garam

    No full text
    RINGKASANArin, Hikmatul Mauliya. 2019. Pengembangan Instrumen Tes Pilihan Ganda Untuk Menilai Literasi Kimia Siswa SMA Kelas XI Materi Hidrolisis Garam. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Muntholib, M. Si., (2) Drs. Mohammad Sodiq Ibnu, M. Si.Kata Kunci: instrumen asesmen, literasi kimia, hidrolisis garamPembelajaran literasi kimia di sekolah memerlukan perangkat pembelajaran yang sesuai, salah satunya adalah instrumen penilaian literasi kimia. Hidrolisis garam merupakan fenoma alam yang banyak ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.Oleh karena itu pengetahuan hidrolisis garam terkait langsung dengan literasi kimia. Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan instrumen asesmen literasi kimia materi hidrolisis garam untuk siswa SMA yang valid dan reliabel dan mendeskripsikan literasi hidrolisis garam siswa SMA/MA kelas XI MIA.Penelitian ini menerapkan rancangan penelitian-pengembangan dan survei. Model pengembangan yang digunakan diadaptasi dari Chandrasegaran et.al. (2007), Wattanakasiwich et.al. (2013), Damanhuri et.al. (2016) Muntholib et.al. (2018) yang terdiri dari 5 tahap yaitu, (1) tinjauan literatur, (2) pengumpulan item, (3) penilaian ahli, (4) uji coba pada 162 peserta didik, (5) finalisasi instrumen literasi kimia. Survei literasi kimia hidrolisis garam dilakukan terhadap 67 peserta didik kelas XI MIA MAN 1 Tulungagung.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Instrumen penilaian literasi kimia materi hidrolisis garam hasil pengembangan terdiri atas 25 butir soal yang valid dengan koefisien reliabilitas Cronbach's Alpha sebesar 0,605; dan (2) Skor rata-rata literasi kimia responden adalah 36,60 dari skor maksimal 100 dengan kategori rendah di mana pada tingkat domain, literasi kimia responden penelitian ini dari yang terendah adalah mengevaluasi dan mendesain inkuiri ilmiah (skor rata-rata = 25,87), pengetahuan prosedural (skor rata-rata = 29,85), menjelaskan fenomena secara ilmiah (skor rata-rata = 34,70), menginterpretasi data dan bukti secara ilmiah (skor rata-rata = 39,72), pengetahuan epistemik (skor rata-rata = 40,90), dan pengetahuan konten (skor rata-rata = 48,56). Hasil ini menunjukkan bahwa literasi kimia materi hidrolisis garam responden adalah rendah, baik di tingkat literasi kimia maupun di tingkat domain literasi kimia, termasuk domain pengetahuan konten

    Pengembangan Bahan Ajar Sifat Keasaman dan pH Larutan Garam sebagai Penuntun Pembelajaran Secara Inkuiri dengan Strategi OE3R

    No full text
    RINGKASAN Nur, 'Aini. 2019. Pengembangan Bahan Ajar Sifat Keasaman dan pH Larutan Garam sebagai Penuntun Pembelajaran Secara Inkuiri dengan Strategi OE3R. Skripsi. Jurusan Kimia. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Sutrisno, M.Si., (II) Dra. Hj. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si.Kata kunci: Bahan ajar, inkuiri, strategi OE3R, larutan garam, sifat keasaman, pHPembelajaran yang diharapkan dalam Kurikulum 2013 adalah pembelajaran yang memperkaya pengalaman belajar siswa dengan menggunakan pendekatan berbasis keilmuan/saintifik. Sesuai dengan karakteristik ilmu kimia yang dibangun dan dikembangkan berdasarkan percobaan, maka pembelajaran berbasis inkuiri adalah pembelajaran yang cocok diterapkan. Salah satu strategi pembelajaran berbasis inkuiri untuk pembelajaran kimia adalah strategi OE3R. Strategi OE3R merupakan akronim dari (1) orientasi, (2) eksplorasi, (3) eksplanasi, (4) elaborasi, dan (5) refleksi. Pembelajaran inkuiri dilaksanakan dengan tujuan siswa membangun konsep sebagaimana ilmuwan memperoleh konsep tersebut. Materi sifat keasaman dan pH larutan garam dipilih karena materi tersebut dapat dibangun berdasarkan fakta dari kegiatan eksperimen. Oleh karena itu, peneliti bermaksud mengembangkan bahan ajar sifat keasaman dan pH larutan garam sebagai penuntun pembelajaran secara inkuiri dengan strategi OE3R dan mengetahui kelayakan bahan ajar tersebut.Model pengembangan bahan ajar ini menggunakan model 4D yang dikembangkan oleh Thiagarajan (1974). Pengembangan hanya dilaksanakan sampai tahap ketiga yang terdiri dari define (membatasi), design (merancang), dan develop (mengembangkan). Bahan ajar yang telah dikembangkan terdiri dari dua siklus belajar yaitu sifat keasaman larutan garam dan pH larutan garam yang masing-masing siklus memiliki lima tahapan OE3R, dan diakhiri dengan uji pemahaman. Bahan ajar yang telah dikembangkan kemudian divalidasi oleh tiga guru SMA/MA dan satu dosen kimia. Hasil validasi bahan ajar diperoleh rata-rata sebesar 85% untuk performansi bahan ajar secara menyeluruh dengan kriteria sangat valid. Pada aspek kesesuaian dengan inkuiri diperoleh rata-rata sebesar 88,3% dengan kriteria sangat valid. Pada aspek kesesuaian dengan strategi OE3R diperoleh rata-rata sebesar 90% dengan kriteria sangat valid. Pada aspek kesesuaian dengan kajian materi diperoleh rata-rata sebesar 91% dengan kriteria sangat valid. Skor total hasil penilaian validator diperoleh sebesar 88,57% dengan kriteria sangat valid. Berdasarkan hasil validasi tersebut bahan ajar ini dapat digunakan oleh guru sebagai penuntun pembelajaran inkuiri dengan strategi OE3R

    Pengaruh Strategi Pembelajaran Metakognitif Preparing, Doing, Checking, dan Assessing And Following-Up (PDCA) terhadap Pengetahuan Metakognitif dan Prestasi Belajar Peserta Didik Kelas X MIPA SMAN 1 Turen pada Materi Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit

    No full text
    RINGKASANBinti, Zulaihah. 2019. Pengaruh Strategi Pembelajaran Metakognitif Preparing, Doing, Checking, dan Assessing And Following-Up (PDCA) terhadap Pengetahuan Metakognitif dan Prestasi Belajar Peserta Didik Kelas X MIPA SMAN 1 Turen pada Materi Larutan Elektrolit dan Non Elektrolit. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika Dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Parlan, M.Si., (II) Drs. Muhammad Su’aidy, M.Pd.Kata kunci: strategi pembelajaran metakognitif PDCA, pengetahuan metakognitif, prestasi belajar, MAI, larutan elektrolit dan nonelektrolit Salah satu ilmu kimia yang dibelajarkan pada peserta didik kelas X MIPA semester genap adalah larutan elektrolit dan nonlektrolit. Topik ini mencakup tiga representasi, yaitu representasi makroskopik, representasi submikroskopik, dan representasi simbolik. Metakognisi secara sadar dapat menghubungkan ketiga representasi tersebut. Penerapan strategi metakognitif PDCA dalam proses pembelajaran diduga dapat membantu peserta didik untuk meningkatkan metakognisi untuk memahami konsep-konsep abstrak yang terdapat dalam materi larutan elektrolit dan nonelektrolit. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengetahuan metakognitif peserta didik pada kelas yang dibelajarkan dengan strategi metakognitif PDCA dan EP, mengetahui apakah terdapat pengaruh strategi metakognitif PDCA terhadap pengetahuan metakognitif dan prestasi belajar peserta didik, serta mengetahui ada atau tidaknya hubungan antara pengetahuan metakognitif dengan prestasi belajar, dan hubungan antara pengetahuan metakognitif yang diukur dengan angket MAI dengan prestasi belajar. Desain penelitian ini adalah eksperimen semu dengan  nonequivalent control group design dan metode penelitian deskriptif. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas X MIPA SMAN 1 Turen tahun ajaran 2018/2019 dengan sampel 30 peserta didik kelas X MIPA 3 sebagai kelas eksperimen dan 30 peserta didik kelas X MIPA 7 sebagai kelas kontrol. Teknik analisis data yang digunakan adalah uji beda, uji keefektifan, dan uji korelasi.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) pengetahuan metakognitif pada kelas strategi metakognitif PDCA kategori rendah 25%, sedang 60%, dan tinggi 15%, sedangkan pada kelas EP kategori rendah 30%, sedang 67%, dan tinggi 3%; (2) terdapat pengaruh pembelajaran dengan strategi metakognitif PDCA terhadap pengetahuan metakognitif dan prestasi belajar peserta didik, rata-rata pengetahuan metakognitif  dan prestasi belajar peserta didik berturut-turut pada kelas SM-PDCA (=47), dan (=58) lebih tinggi dibandingkan kelas EP (=36), dan (=49); (3) strategi metakognitif PDCA lebih efektif meningkatkan prestasi belajar dibandingkan strategi ekspositori dengan d-effect size Chohen dan N-Gain berturut-turut adalah 3,45 dan 0,47 pada kelas SM-PDCA dan 1,91 dan 0,32 pada kelas EP; (4) terdapat hubungan antara pengetahuan metakognitif dengan prestasi belajar baik pada kelas SM-PDCA maupun kelas EP; dan (5) tidak terdapat hubungan antara pengetahuan metakognitif yang diukur dengan angket MAI dengan prestasi belajar baik pada kelas SM-PDCA maupun kelas EP

    SINTESIS SABUN KALIUM, ASAM LEMAK, METIL ESTER DARI MINYAK BIJI KEMIRI (Aleurites moluccana) DAN UJI AKTIVITASNYA SEBAGAI ANTIBAKTERI

    No full text
    AbstrakResistensi bakteri terhadap obat antibakteri merupakan salah satu masalah serius dalam dunia kesehatan. Akan tetapi, peningkatan jumlah resistensi bakteri belum diimbangi dengan penemuan obat antibakteri yang baru sehingga perlu dilakukan penelitian tentang eksplorasi agen senyawa antibakteri yang baru. Tujuan penelitian yaitu untuk mensintesis dan mengetahui aktivitas antibakteri dari sabun kalium, asam lemak, dan metil ester dari minyak biji kemiri. Metode penelitian yang digunakan yaitu saponifikasi untuk memperoleh sabun kalium yang dilanjutkan pengasaman untuk memperoleh asam lemak dan transesterifikasi untuk memperoleh metil ester. Karakterisasi senyawa hasil sintesis meliputi wujud, warna, massa jenis, indeks bias, viskositas, titik didih, titik lebur, kelarutan, angka asam, angka penyabunan, dan angka ester. Identifikasi struktur senyawa menggunakan GC-MS dan IR serta uji aktivitas antibakteri dengan metode difusi cakram terhadap bakteri S. aureus dan E. coli. Hasil penelitian melaporkan bahwa sabun kalium dan asam lemak dengan konsentrasi 1 % dan 2 % serta metil ester 2 % memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri S. aureus dan E. coli sedangkan metil ester 1 % hanya memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri E. coli.Kata kunci: minyak biji kemiri, sabun kalium, asam lemak, metil ester, antibakteri.AbstractBacterial resistance to antibacterial drugs is one of the serious problems in the world of health. However, an increase in the amount of bacterial resistance has not been matched by the discovery of new antibacterial drugs, so research needs to be done on the exploration of new antibacterial compound agents. The aim of the study was to synthesize and determine the antibacterial activity of potassium soap, fatty acids, and methyl esters from pecan seed oil. The research method used was saponification to obtain potassium soap followed by acidification to obtain fatty acids and transesterification to obtain methyl esters. Characterization of synthesized compounds includes appearance, color, density, refractive index, viscosity, boiling point, melting point, solubility, acid number, saponification number, and ester number. Identification of the structure of compounds using GC-MS and IR and antibacterial activity test with disc diffusion method against S. aureus and E. coli bacteria. The results of the study reported that potassium and fatty acids with concentrations of 1% and 2% and 2% methyl ester had antibacterial activity against S. aureus and E. coli bacteria while 1% methyl ester only had antibacterial activity against E. coli bacteria.Keywords: candlenut oil, potassium soap, fatty acid, methyl ester, antibacterial

    0

    full texts

    1,785

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇