SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
    1785 research outputs found

    Pengembangan Media Pembelajaran Komik Elektronik pada Materi Termokimia untuk Siswa Kelas XI

    No full text
    ABSTRAK   Hayati, Evie Nuria. 2017. Pengembangan Media Pembelajaran Komik Elektronik pada Materi Termokimia untuk Siswa Kelas XI. Skripsi, Jurusan Kimia, Program Studi Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Munzil, M.Si, (II) Drs. Darsono Sigit, M.Pd. Kata Kunci: Media pembelajaran, komik, termokimia Salah satu materi mata pelajaran kimia SMA yang banyak memuat konsep abstrak adalah materi termokimia yaitu materi yang dibelajarkan pada jenjang SMA kelas XI. Banyaknya konsep abstrak tersebut membuat siswa kesulitan untuk memahami jika hanya dengan membayangkan saja. Oleh karena itu dibutuhkan media pembelajaran untuk membantu mengkonkretkan konsep yang bersifat abstrak tersebut.Penggunaan komputer dalam kegiatan belajar sudah banyak dilakukan oleh siswa-siswi SMA.Komputer mendukung penyajian media yang tidak hanya sebatas visual, namun juga suara, video, dan masih banyak lagi.Hal ini yangmendasari pengembangan media pembelajaran yang berupa komik elektronik termokimia. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Menghasilkan produk pengembangan berupa media pembelajaran komik elektronik pada materi termokimia untuk SMA kelas XI, (2) Mengetahui kelayakan hasil pengembangan media pembelajaran komik elektronik pada materi termokimia untuk SMA kelas XI. Penelitian dilakukan di SMAN 1 Pesanggaran, Banyuwangi pada bulan Mei 2017. Penelitian ini menggunakan model pengembangan 4D yang dikembangkan oleh Thiagarajan (1974). Model 4D terdiri dari empat tahap yaitu pendefinisian, (define) perancangan (design), pengembangan (development), dan penyebarluasan (dissemination). Namun penelitian yang dilakukan terbatas hingga tahap developmentsehingga hanya dilakukan uji validitas dan uji coba pada produk yang dihasilkan. Tahap dissemination tidak dilakukan.Data yang diperoleh dianalisis menggunakan statistik deskriptif untuk menghitung persentase skor masing-masing aspek yang dinilai oleh responden. Media pembelajaran yangdikembangkan berbentuk komik elektronik termokimiayang menyajikan materi dalam bentuk cerita dalam komik yang dilengkapi media lain seperti animasi dan video.Uji validitas tampilan media oleh satu dosen ahli media dipeoleh hasil sebesar 99% dan oleh dua orang guru sebesar 91%. Sedangkan uji validitas isi materi media oleh satu dosen kimia diperoleh hasil sebesar 100%. Data uji coba kelompok kecil terhadap 10 siswa diperoleh hasil sebesar 91%. Hasil validasi dan uji coba kelompok kecil menunjukkan bahwa media pembelajaran komik elektronik termokimia layak digunakan sebagai media pembelajaran

    PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS LEVEL INKUIRI PADA MATERI SISTEM KOLOID UNTUK KELAS XI SMA

    No full text
    ABSTRAK   Wardani, Riski Setia. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Level Inkuiri Pada Materi Sistem Koloid untuk Kelas XI SMA. Skripsi. Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Dosen Pembimbing: (1) Drs. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed., Ph.D. (2) Drs. Ida Bagus Suryadharma, M.S.   Kata Kunci : bahan ajar, level inkuiri, sistem koloid Bahan ajar merupakan suatu perangkat pembelajaran untuk menunjang proses belajar mengajar. Bahan ajar yang digunakan di sekolah saat ini sebagian besar memaparkan materi secara deskriptif. Bahan ajar tersebut kurang membantu siswa mengkonstruksi konsep. Menurut kurikulum 2013 pembelajaran kimia menuntut siswa untuk dapat memiliki kemampuan berfikir sains. Oleh karena itu perlu dikembangkan bahan ajar berbasis level inkuiri. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah untuk menghasilkan bahan ajar berbasis level inkuiri pada materi sistem koloid untuk kelas XI SMA yang tervalidasi. Pengembangan ini mengikuti 3 tahap (3D) dari model rancangan pengembangan 4D yaitu define (membatasi), design (merancang), dan develop (mengembangkan). Draf hasil pengembangan di validasi oleh ahli materi dan ahli pembelajaran. Dari hasil validasi diperoleh data kualitatif berupa saran atau komentar validator, sedangkan data kuantitatif berupa skor rata-rata penilaian angket oleh validator. Angket validasi dibuat berdasarkan standar BSNP. Uji keterbacaan oleh siswa dengan menggunakan kelompok kecil sebanyak 10 orang. Hasil pengembangan bahan ajar adalah buku siswa dan buku guru berbasis level inkuiri untuk siswa kelas XI SMA pada materi sistem koloid. Level inkuiri yang digunakan sampai pada level kelima dari enam level yang dikembangkan oleh Wenning, yaitu discovery learning, interactive demonstration, inquiry lesson, inquiry laboratory, dan real word application. Hasil validasi bahan ajar menunjukkan bahwa buku siswa memenuhi kriteria layak dengan nilai rata-rata sebesar 4,1 dan buku guru memenuhi kriteria sangat layak dengan nilai rata-rata sebesar 4,2. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa bahan ajar berbasis level inkuiri pada materi sistem koloid layak untuk digunakan dalam pembelajaran kimia, namun masih perlu diuji keefektifannya

    Pengaruh Penggunaan Study History Sheet (SHS) pada Model Pembelajaran Cooperative Learning Together Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik Kelas XI MIPA SMA Negeri 5 Jember Pokok Bahasan Asam-Basa

    No full text
    ABSTRAK Zahro, Geovany Arofatuz. 2017. Pengaruh Penggunaan Study History Sheet (SHS) pada Model Pembelajaran Cooperative Learning Together Terhadap Hasil Belajar Peserta Didik Kelas XI MIPA SMA Negeri 5 Jember Pokok Bahasan Asam-Basa. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Ridwan Joharmawan, M.Si., (II) Dr. Drs. Yudhi Utomo, M.Si.Kata kunci : SHS, Cooperative Learning Together, Hasil belajar.Asam-basa merupakan salah satu pokok bahasan dalam pembelajaran kimia.  Pokok bahasan asam-basa padat konseptual dan membutuhkan integrasi pemahaman dari beberapa lingkup pengantar kimia. Pemahaman yang utuh dapat diperoleh dengan suatu upaya yang melibatkan peserta didik secara aktif dalam mengamati, menggali konsep, dan menggunakan informasi yang dimiliki. Sedangkan pembelajaran kimia pada SMAN 5 Jember khususnya asam-basa masih menggunakan metode ceramah, sehingga menyebabkan peserta didik menjadi pasif dan bersifat individual. Cooperative Learning Together merupakan salah satu model pembelajaran yang membantu peserta didik memahami konsep asam-basa dengan baik melalui interaksi dalam kelompok. Penggunaan Study History Sheet (SHS) dapat meningkatkan tanggung jawab masing-masing peserta didik terhadap kemampuan akademik dan mempermudah peserta mempelajari konsep-konsep pada pertemuan sebelumnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh penggunaan SHS pada model pembelajaran Cooperative Learning Together terhadap hasil belajar peserta didik pokok bahasan asam-basa.Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimental semu (quasy experimental design) dengan rancangan Posttest-Only Design. Populasi pada penelitian ini adalah peserta didik kelas XI MIPA SMA Negeri 5 Jember dengan dua sampel kelas yang diambil secara acak (cluster random sampling), yaitu kelas XI MIPA 1 sebagai kelas eksperimen dan kelas XI MIPA 4 sebagai kelas kontrol. Instrumen yang digunakan untuk mengukur hasil belajar adalah hasil belajar kognitif. Teknik analisis data penelitian dilakukan dengan analisis statistik dan deskriptif. Pengujian hipotesis menggunakan independent sample t-test dengan tingkat signifikansi 0,05 dengan bantuan program SPSS 20.0 for windows. Analisis data meliputi uji normalitas, homogenitas, dan uji hipotesis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlaksanaan proses pembelajaran kelas eksperimen dan kelas kontrol berlangsung dengan sangat baik masing-masing sebesar 96,8% dan 95,7%. Terdapat perbedaan hasil belajar peserta didik yang dibelajarkan dengan menggunakan model pembelajaran Cooperative Learning Together dengan peserta didik yang dibelajarkan  menggunakan Study History Sheet (SHS) pada model pembelajaran Cooperative Learning Together. Hal ini terlihat bahwa nilai rata-rata hasil belajar kognitif kelas eksperimen lebih tinggi dibandingkan dengan kelas kontrol, masing-masing sebesar 83,65 dan 79,05

    SINTESIS NANOPARTIKEL MAGNETIT (Fe3O4) SECARA ELEKTROKIMIA DENGAN BANTUAN GELOMBANG ULTRASONIK

    No full text
    ABSTRAK Islam, Halimah Madinatul. 2017. Sintesis Nanopartikel Magnetit (Fe3O4) secara Elektrokimia dengan Bantuan Gelombang Ultrasonik. Skripsi. Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang, Pembimbing (I) Dr. Fauziatul Fajaroh, M.S. Pembimbing (II) Dr. Nazriati, M.Si. Kata-kata kunci: Nanopartikel Magnetit, Elektrokimia, UltrasonikNanopartikel magnetit (Fe3O4) merupakan material magnetik yang memiliki aplikasi luas. Pengembangan nanopartikel magnetit antara lain dilakukan dengan metode elektrokimia, salah satunya melalui elektro-oksidasi besi dalam air. Pada penelitian sebelumnya, tahapan dalam metode tersebut diawali dengan proses elektroplating yang bertujuan mendapatkan lapisan besi murni sebagai prekursor nanopartikel magnetit. Apabila tidak dilakukan elektroplating terlebih dahulu maka oksida besi yang terbentuk pada permukaan anoda tidak dapat dideposisikan sebagai partikel. Diduga proses sintesis nanopartikel magnetit dapat dilakukan tanpa melalui tahapan ini, asalkan oksida besi yang terbentuk di permukaan anoda (pada elektro-oksidasi besi dalam air) dapat dideposisikan sebagai partikel. Untuk membantu mendeposisikan partikel digunakan gelombang ultrasonik. Untuk itu tujuan penelitian ini adalah mensintesis nanopartikel magnetit dengan cara elektro-oksidasi besi di bawah pengaruh gelombang ultrasonik dan mempelajari pengaruh pH terhadap karakteristik partikel.Sintesis nanopartikel magnetit dilakukan dengan elektro-oksidasi besi dalam air dengan variasi pH 7-10, produk yang dihasilkan disebut sampel A, B, C, dan D. Rapat arus yang digunakan yaitu 982µA/cm2 dan frekuensi ultrasonik 42kHz selama 4 jam pada suhu kamar. Hasil sintesis kemudian dikarakterisasi menggunakan XRD untuk mengetahui kristalinitasnya, SEM untuk mengetahui morfologinya, dan  uji adsorbansi menggunakan metilen biru untuk memprediksikan luas permukaannya. Hasil analisis XRD menunjukkan turunnya kristalinitas partikel dari sampel A-D. Hasil analisis SEM menunjukkan nanopartikel magnetit yang dihasilkan bermorfologi sferik (bola) dan masih teraglomerasi dengan ukuran partikel semakin kecil pada sampel A-D. Uji adsorpsi menggunakan metilen biru menunjukkan waktu yang diperlukan untuk proses adsorpsi semakin lama dari sampel A-D dan kapasitas teradsorpsi nanopartikel magnetit terhadap metilen biru semakin menurun

    Identifikasi Kesulitan Siswa Kelas XI MIPA SMAN 1 Kandangan pada Materi Hidrokarbon

    No full text
    ABSTRAK Ramadhani, Annisa Zewri. 2017. Identifikasi Kesulitan Siswa Kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Kandangan Pada Materi Hidrokarbon. Skripsi, Jurusan Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Siti Marfu’ah, M.S. (II) Drs. Muhammad Su’aidy, M.Pd. Kata Kunci:  Kesulitan Siswa, Instrumen diagnostik two tier,  Hidrokarbon.Kimia adalah ilmu yang mempelajari struktur, komposisi, perubahan pada skala molekul dan atom, serta interaksinya untuk membentuk materi. Kimia me­ngandung konsep-konsep yang kompleks, sehingga dalam belajar kimia, siswa tidak hanya dituntut untuk memecahkan soal, tetapi juga mendeskripsikan fakta, memahami aturan-aturan dan peristilahan khusus di dalam kimia. Konsep-konsep yang dibangun harus mampu diterapkan untuk menyelesaikan berbagai masalah terkait, karena dalam pembelajaran kimia siswa tidak hanya dituntut paham me­ngenai konsep-konsep kimia. Siswa SMAN 1 Kandangan kesulitan mempelajari hidrokarbon, terbukti dari rata-rata hasil ulangan harian dari 6 kelas dengan rerata sebesar 65,67%. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kesulitan siswa dalam mem­pelajari materi hidrokarbon.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dan subjek penelitian adalah siswa kelas XI di SMAN 1 Kandangan sebanyak 30 siswa yang sudah mempelajari materi hidrokarbon. Langkah-langkah dalam penelitian ini, yaitu (1) mengkaji kompetensi dasar kurikulum 2013 SMA me­ngenai cakupan/bahasan materi hidrokarbon, (2) menyusun kisi-kisi soal hidro­karbon, (3) menyusun soal-soal berdasarkan konsep, (4) me­lakuk­an uji coba instrumen penelitian, (5) mengumpulkan data penelitian,dan (6) menyimpulkan hasil penelitian. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah instrumen diagnostik two-tier, dengan reliabilitas sebesar 0,784. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kesulitan siswa secara umum dari 7 konsep yaitu definisi senyawa hidrokarbon, kekhasan atom karbon, penggolongan senyawa hidrokarbon, tata nama alkana, alkena dan alkuna, isomer, sifat fisika dan sifat kimia didapat hasil dengan rata-rata sebesar 48,50%. Kesulitan siswa tergolong kategori tinggi adalah menganalisis golongan senyawa alkana, menentukan nama senyawa alkana, menentukan nama senyawa pada struktur alkuna, menentukan nama senyawa alkena yang sesuai dengan IUPAC, menentukan jumlah isomer dari heksana, menentukan jenis isomer pada senyawa 2-butuna, menentukan isomer dari senyawa 2-metilpentana, menganalisis pernyataan mengenai isomer, menganalisis sifat fisika dari alkena dan menganalisis hasil reaksi adisi 1-butena dengan HCl.Kesulitan siswa tergolong cukup adalah mengidentifikasi atom karbon primer, sekunder, dan tersier, menentukan nama senyawa pada struktur alkena, menetukan jenis isomer 1-butena dan 2-butena, menetukan isomer pada senyawa alkena, menentukan isomer pada senyawa 2-butena, menganalisis pengertian dari reaksi substitusi dan menganalisis pernyataan yang bena

    Sintesis Silika Aerogel Doping Ion Cu2+ Berbasis Abu Bagasse menggunakan Metode Sol-gel

    No full text
    ABSTRAK Adanya kandungan silika yang cukup tinggi, abu bagasse yang semula menjadi limbah dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan silika gel. Silika gel diklasifikasikan menjadi 3 jenis yaitu silika hidrogel, silika xerogel dan silika aerogel. Dari ketiga jenis silika gel tersebut, silika aerogel memiliki luas permukaan yang lebih besar dikarenakan adanya pemodifikasian pada permukaan untuk dapat dikeringkan melalui pengeringan tekanan ambien. Luas permukaan yang tinggi tersebut dapat digunakan salah satunya sebagai penyangga katalis. Silika aerogel sebagai penyangga katalis disintesis menggunakan metode sol-gel. Metode yang digunakan pada penelitian ini memiliki keunggulan antara lain dibutuhkan biaya relatif terjangkau dan perlakuan relatif sederhana. Tujuan dari penelitian ini untuk mensintesis silika aerogel sebagai penyangga katalis untuk logam aktif berupa Cu menggunakan metode sol-gel.Sintesis silika aerogel doping ion Cu2+ dilakukan dengan tiga tahap antara lain (1) ekstraksi silika dari abu bagasse berupa natrium silikat kemudian dicampurkan dengan resin penukar kation menghasilkan larutan asam silikat, (2) penambahan larutan Cu(NO3)2 10 ppm dengan variasi volume sebanyak 4 mL, 6 mL, 8 mL, dan 10 mL ke dalam larutan asam silikat selanjutnya ditambahkan agen pemodifikasi berupa TMCS dan HMDS dengan perbandingan 0,03:0,06 membentuk gel yang bersifat hidrofobik, (3) gel yang dihasilkan kemudian di-aging pada suhu kamar selama 18 jam dan dikeringkan dalam oven pada suhu 80°C selama 24 jam, kemudian dilakukan kalsinasi pada suhu 450°C selama 2 jam. Karakterisasi XRF menunjukkan kadar Cu yang terkandung pada silika aerogel semakin tinggi seiring meningkatnya ion Cu2+ yang ditambahkan. Karakteristik silika aerogel hasil sintesis menggunakan FTIR dihasilkan pita serapan pada angka gelombang 1267,23 cm-1 dan 2912,51-2972,31 cm-1, menunjukkan bahwa telah terjadi substitusi atom H pada gugus Si-OH oleh Si-CH3 menjadi Si-O-Si-CH3. Analisis SEM menunjukkan bahwa silika aerogel doping ion Cu2+ memiliki keseragaman bentuk partikel. Luas permukaan yang ditentukan dengan metode adsorpsi metilen biru menunjukkan bahwa luas permukaan meningkat dengan meningkatnya penambahan ion Cu2+

    Pengembangan Instrumen Penilaian (Asesmen) Pemahaman Konseptual Berorientasi pada HOTS (Higher Order Thinking Skills), Keterampilan Proses Sains, dan Sikap terhadap Sains pada Bahan Kajian Laju Reaksi

    No full text
    ABSTRAK Aini, Lia Qurrotul. 2017. Pengembangan Instrumen Penilaian (Asesmen) Pemahaman Konseptual Berorientasi pada HOTS (Higher Order Thinking Skills), Keterampilan Proses Sains, dan Sikap terhadap Sains pada Bahan Kajian Laju Reaksi. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Sutrisno, M.Si., (II) Dr. Sumari, M.Si. Kata Kunci: instrumen asesmen, pemahaman konseptual, keterampilan proses sains, sikap terhadap sains, HOTSSalah satu dari delapan Standar Nasional Pendidikan di Indonesia adalah Standar Penilaian Pendidikan. Penilaian sangat penting dilakukan untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Menurut Kurikulum 2013, terdapat tiga aspek penilaianyaitu pengetahuan, keterampilan, dan sikap. Kurikulum 2013 menuntut penilaian yang dapat mendorong peserta didik untuk berpikir tingkat tinggi atau dikenal dengan HOTS yang mencakup tingkat kognitif menganalisis, mengevaluasi, dan mencipta. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen penilaian (asesmen) pemahaman konseptual berorientasi pada HOTS, keterampilan proses sains, dan sikap terhadap sains pada bahan kajian laju reaksi sebagai prototipe atau alat pertimbangan untuk praktisi pendidikan dalam melakukan penilaian hasil belajar peserta didik.Penelitian pengembangan ini dirancang dengan 3D dari  model-4D yang terdiri dari tahap define (membatasi), design (merancang), dan develop (mengembangkan). Untuk tahap akhir dari model-4D, yaitu disseminate (mendiseminasikan) tidak dilakukan. Tingkat validitas produk instrumen hasil pengembangan diperoleh dari hasil validasi yang dilakukan oleh satu dosen kimia dan dua guru kimia. Instrumen penilaian hasil pengembangan ini terdiri dari 105 butir soal pemahaman konseptual berorientasi pada HOTS yang memperoleh hasil validasi 104 butir soal sangat valid dengan skor 87,5-92,0% dan cukup valid untuk 1 butir soal dengan skor 85,0%, 100 butir soal keterampilan proses sains memperoleh hasil validasi sangat valid dengan skor 85,8-90,8%, dan 87 butir sikap terhadap sains yang memperoleh hasil validasi 15 butir soal sangat valid dengan skor 87,5-90,0% dan 72 butir sikap cukup valid dengan skor 77,5-85,0%. Hasil persentase validasi untuk performansi/tampilan instrumen asesmen adalah 90,8% dengan kriteria sangat valid

    Identifikasi Ketrampilan Berpikir Kritis Siswa Kelas XII SMAN 10 Malang Pada Materi Asam-Basa

    No full text
    ABSTRAK   Agustin, Lutva Sri. 2017. Identifkasi Ketrampilan Berpikir Kritis Siswa Kelas XII SMAN 10 Malang Pada Materi Asam-Basa. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Drs. Darsono Sigit, M.Pd, (II)Drs. Muhammad Su'aidy, M.Pd   Kata kunci: Berpikir Kritis, Assesmen, Instrumen penilaian, Identifikasi Penerapan Kurikulum 2013 merupakan upaya peningkatan kualitas pendidikan sains di Indonesia yang menekankan proses pembelajaran dengan menggunakan pendekatan saintifik. Salah satu materi kimia dalam silabus Kurikulum 2013 adalah asam-basa. Materi asam-basa merupakan materi yang sangat aplikatif dalam kehidupan sehari-hari. Hasil wawancara dengan guru di SMAN 10 Malang, instrumen ketrampilan berpikir kritis dengan pilihan ganda beralasan masih jarang digunakan dalam pembelajaran. Guru-guru di SMAN 10 Malang, mengatakan bahwa soal-soal yang diberikan kepada siswa hanya soal-soal teoritis saja. Soal-soal yang berkaitan dengan kehidupan sehari-hari, soal-soal HOTS, dan instrumen berpikir kritis jarang digunakan, mengingat waktu yang dibutuhkan untuk menyelesaikan materi pembelajaran sangat banyak. Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan instrumen ketrampilan berpikir kritis pada materi asam-basa, melakukan uji coba instrumen yang telah dikembangkan, kemudian menerapkan instrumen yang dikembangkan, untuk melakukan identifikasi ketrampilan berpikir kritis siswa SMA pada materi asam-basa. Sehingga, dapat mendeskripsikan ketrampilan berpikir kritis siswa kelas XII 5A MIPA 5 SMAN 10 Malang.Penelitian ini menggunakan model rancangan penelitian deskriptif kuantitatif. Populasi dalam penelitian adalah seluruh siswa kelas XII SMAN 10 Malang, sedangkan sampel yang digunakan dalam penelitian yaitu siswa kelas XII 5A MIPA 5 dengan jumlah siswa 26 orang. Instrumen penelitian menggunakan instrumen soal (test) yang telah dikembangkan. Analisis data menggunakan teknik analisis deskriptif persentase. Hasil validasi isi instrumen dari ketiga validator, semua soal dinyatakan valid. Berdasarkan hasil uji coba, dari 16 soal yang digunakan terdapat 6 soal yang tidak valid. Reliabilitas yang diperoleh yaitu 0,665. Pada uji taraf kesukaran, data memiliki rentang taraf kesukaran 0,3 sampai 0,87 yang termasuk dalam kriteria sukar sampai mudah. Dari 16 soal yang diuji cobakan, terdapat 1 soal yang termasuk dalam kategori soal sukar. Soal yang termasuk dalam kategori soal yang sedang ada 8. Sedangkan ada 7 soal yang termasuk dalam kategori mudah. Hasil daya beda butir soal dengan rentang 0,07 sampai 0,53 yang termasuk dalam kriteria jelek sampai baik. Terdapat 5 soal yang tergolong baik, soal yang tergolong cukup ada 6. Sedangkan untuk soal yang jelek terdapat 5 soal.Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada 9 siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis pada kategori sangat tinggi pada konsep asam-basa. Ada 8 siswa yang memiliki kemampuan berpikir kritis pada kategori tinggi. Pada kategori ketrampilan berpikir kritis yang cukup terdapat 8 siswa. Sedangkan pada kategori ketrampilan berpikir kritis yang rendah terdapat 1 siswa.   ABSTRACT Agustin, Lutva Sri. 2017. Identification of Critical Thinking Skills of Grade XII Students of SMAN 10 Malang on Acid-Base Topic. Thesis, Chemistry Department, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, State University of Malang. Advisors: (I) Drs. Darsono Sigit, M.Pd, (II) Drs. Muhammad Su'aidy, M.Pd   Keywords: Critical Thinking, Assessment, Assessment Instrument, Identification Application of Curriculum 2013 is an effort to improve the quality of science education in Indonesia which emphasizes the process of learning by using scientific approach. One of the chemicals in the syllabus of the Curriculum 2013 is acid-base. Acid-base material is a very applicative material in everyday life. The results of interviews with teachers at SMAN 10 Malang, critical thinking skills instruments with multiple choice reasoned are still rarely used in learning. Teachers at SMAN 10 Malang, said that the questions given to students are only theoretical questions. Problems related to everyday life, HOTS problems, and critical thinking instruments are rarely used, given the time needed to complete the learning materials are numerous. This study aims to develop critical thinking skills instruments on acid-base material, test the developed instruments, and then apply the developed instruments to identify critical thinking skills of high school students on acid-base material. So, can describe critical thinking skills of class XII 5A MIPA 5 SMAN 10 Malang.This research uses a non-experimental descriptive type research design model. Population in research is all student of class XII SMAN 10 Malang, while sample used in research that is student class XII 5A MIPA 5 with amount of student 26 person. The research instrument uses the question instrument (test) that has been developed. Data analysis using descriptive analysis technique percentage. The validation results of the contents of the instrument of the three validators, all questions declared valid. Based on the test results, of the 16 questions used there are 6 invalid questions. Reliability obtained is 0.665. At the difficulty level test, the data has a range of difficulty levels of 0.3 to 0.87 which is included in the difficult to easy criteria. Of the 16 tested questions tested, there is 1 problem that is included in the category of difficult questions. Problems included in the existing category of problems 8. While there are 7 problems included in the easy category. Different problem of item item with range 0,07 until 0,53 including in bad criteria until good. There are 5 questions that are quite good, the problem is quite there is 6. While for a bad problem there are 5 questions.The results show that there are 9 students who have critical thinking ability in very high category on acid-base concept. There are 8 students who have critical thinking skills in the high category. In the category of critical thinking skills enough there are 8 students. While in the category of critical thinking skills are low there is 1 student

    PENGEMBANGAN BAHAN AJAR HIDROKARBON MENGGUNAKAN PENDEKATAN SAINTIFIK BERBASIS INKUIRI TERBIMBING UNTUK SMA/MA KELAS XI SEMESTER 1

    No full text
    ABSTRAK Salah satu masalah yang dihadapi oleh sekolah dalam menerapkan kurikulum 2013 adalah keterbatasan bahan ajar yang sesuai dengan tuntutan kurikulum. Kurikulum 2013 menempatkan metode saintifik sebagai pendekatan pembelajaran dengan fokus lima pengalaman belajar, yakni mengamati (observing), menanya (questioning), mengumpulkan data (experimenting), mengasosiasi (associating), dan mengkomunikasikan (communicating).Tujuan dari pengembangan bahan ajar ini antara lain: (1) menghasilkan bahan ajar hidrokarbon menggunakan pendekatan saintifik berbasis inkuiri terbimbing, (2) memperoleh penilaian, komentar, dan saran terhadap bahan ajar hasil pengembangan melalui validasi isi bahan ajar tersebut. Pengembangan bahan ajar ini memperhatikan karakteristik pembelajaran kimia.Model pengembangan yang digunakan dalam pengembangan ini merujuk pada Four-D model (Model 4D) yang direkomendasikan oleh Thiagarajan, Semmel, dan Semmel (1974). Model 4D terdiri dari empat tahapan, yaitu define (mendefinisikan),design(merancang),develop (mengembangkan), dandisseminate(menyebarluaskan).Pada penelitian pengembangan ini, tahap disseminate tidak dilakukan.Validasi isi dilakukan oleh satudosenkimia dandua guru kimiaSMA.Instrumen validasidan uji keterbacaan menggunakan angket.Klasifikasi pada angket validasi dan angket uji keterbacaanmenggunakan kriteria tertentu.Data yang diperoleh dalam pengembangan ini berupa data kualitatif dan data kuantitatif yang dianalisis sesuai dengan karakteristik masing-masing. Hasil pengembangan berupa bahan ajar hidrokarbon menggunakan pendekatan saintifik berbasis inkuiri terbimbinguntuk siswa SMA/MA kelas XI yang disajikan dalam bentuk bahan ajar cetak. Hasil validasi menunjukkan bahwa produk pengembangan ini memperoleh skor 80% dengan kriteria layak.Uji keterbacaan diperoleh persentase sebesar 84% dengan kriteria sangat layak.Bahan ajar hasil pengembangan terdiri dari bagian pendahuluan, isi, dan penutup. Bagian isi mencakup kegiatan belajar dengan pendekatan saintifiktingkatinkuiri terbimbing. Isi pembelajaran mencakup pengalaman belajar, yakni mengamati, menanya, mengumpulkan data dan menganalisis data, mengkomunikasikan, dan mengasosisasi

    Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari FeCl3.6H2O dengan KSCN dan CoCl2.6H2O

    No full text
    ABSTRAK   Febriandini, Jody. 2017. Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari FeCl3.6H2O dengan KSCN dan CoCl2.6H2O. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed., Ph.D., (II) Dr. Fariati, M.Sc.   Kata Kunci: ion ligan tiosianat, sintesis senyawa kompleks, FeCl3, KSCN, CoCl2. Penelitian terdahulu [Bi(DMSO)8][Fe(NCS)6] disintesis dari FeCl3 dan KSCN dengan perbandingan stoikiometri 1 : 6. Anion kompleks dari senyawa tersebut adalah [Fe(NCS)6]3- dengan struktur oktahedral. Berdasarkan penelitian tersebut, senyawa kompleks dapat terbentuk dari FeCl3 dengan ligan yang beratom donor N dan S seperti ligan tiosianat. CoCl2 ditambahkan sebagai ion pengimbang untuk menggantikan kation kompleks [Bi(DMSO)8]3+ dalam sintesis senyawa kompleks. Tujuan penelitian adalah mensintesis dan mengkarakterisasi senyawa kompleks dari reaksi FeCl3, KSCN , dan CoCl2 dan memprediksi stukturnya. Senyawa kompleks disintesis dengan mereaksikan FeCl3 dan KSCN pada perbandingan stoikiometri 1 : 6. CoCl2  ditambahkan ke dalam larutan tersebut dengan perbandingan mol sebesar 3 : 2. Karakterisasi hasil senyawanya meliputi: titik lebur, uji DHL, analisis SEM-EDX, dan FT-IR. Pengukuran titik lebur kristal hasil sintesis dilakukan untuk menentukan kebaruan, dan kemurniannya. Analisis morfologi dan komposisi unsur dengan SEM-EDX untuk mengetahui permukaan dan memperoleh rumus empiris senyawa kompleks. Uji DHL untuk menentukan senyawa kompleks tergolong ionik atau molekuler. Data Spektroskopi IR digunakan untuk mengidentifikasi gugus fungsi dari ion tiosianat. Berdasarkan hasil analisis, dibuat prediksi rumus kimia dan struktur yang mungkin dari senyawa kompleks. Struktur yang paling mungkin adalah struktur yang memiliki energi bebas paling rendah, yang dihasilkan dari analisis SPARTAN'14.V.1.1.0. Hasil penelitian adalah kristal berwarna coklat tua berbentuk balok dengan titik lebur 215-220oC. Data SEM-EDX menunjukkan perbandingan Co : Fe : S yaitu 1 : 2 : 8. Data uji DHL membuktikan bahwa senyawa kompleks hasil sintesis merupakan senyawa ionik, data spektrum IR menunjukkan terdapat serapan kuat pada 2061,9 cm-1 yang khas dengan vibrasi ulur C≡N dari ligan ion tiosianat dan 3329,14 cm-1 yang mengindikasikan vibrasi ulur O-H. Berdasarkan data hasil analisis, prediksis rumus kimia dari senyawa hasil sintesis adalah Co[Fe(NCS)4(H2O]2

    0

    full texts

    1,785

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇