SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
IDENTIFIKASI MISKONSEPSI SISWA KELAS XI SMA NEGERI DI KABUPATEN PASURUAN PADA MATERI LARUTAN PENYANGGA DENGAN MENGGUNAKAN TES DIAGNOSTIK PILIHAN GANDA DUA TINGKAT
ABSTRAK Utami, Putri Puji. 2017. Identifikasi Miskonsepsi Siswa Kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Pasuruan pada Materi Larutan Penyangga dengan Menggunakan Tes Diagnostik Pilihan Ganda Dua Tingkat. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Nazriati, M.Si dan (2) Muntholib, S.Pd., M.Si. Kata Kunci: miskonsepsi, larutan penyangga, tes diagnostik pilihan ganda dua tingkat. Larutan penyangga merupakan materi yang sangat penting dalam ilmu kimia, materi ini merupakan prasyarat dalam belajar kimia lanjut. Penelitian sebelumnya menyatakan bahwa tingkat pemahaman siswa terhadap konsep-konsep materi larutan penyangga tergolong rendah. Hal ini dikarenakan siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari materi larutan penyangga, yang dapat memicu terjadinya miskonsepsi. Miskonsepsi dapat disebabkan oleh cara belajar siswa dan metode pembelajaran di kelas. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini yaitu mengidentifikasi dan menentukan persentase miskonsepsi konsep-konsep materi larutan penyangga pada siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Pasuruan agar ditemukan metode dan strategi yang tepat untuk mencegah terjadinya miskonsepsi. Jenis penelitian yang digunakan untuk identifikasi miskonsepsi pada materi larutan penyangga yaitu survei dengan metode kuantitatif yang terdiri dari 68 siswa kelas XI SMA Negeri di Kabupaten Pasuruan. Langkah-langkah dalam penelitian ini, yaitu (1) mengkaji literatur, (2) menyusun instrumen, (3), mengumpulkan data, (4) analisis data, dan (5) menarik kesimpulan. Instrumen tes yang digunakan dalam penelitian ini terdiri dari 30 butir soal. Hasil analisis butir soal menggunakan SPSS 16 for Windows diketahui bahwa tes diagnostik pilihan ganda dua tingkat yang dikembangkan dalam penelitian ini memiliki kriteria reliabilitas yang sangat tinggi dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,941. Persentase miskonsepsi siswa ditentukan berdasarkan konsistensi jawaban siswa untuk setiap indikator soal serumpun materi larutan penyangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat 4 miskonsepsi yang teridentifikasi pada konsep dan dan yang menonjol yaitu mengenai hubungan yang terkait dengan pH; 2 miskonsepsi pada konsep sifat larutan penyangga dan miskonsepsi yang menonjol adalah pH larutan penyangga netral, yaitu (pH=7); 2 miskonsepsi pada konsep komposisi larutan penyangga dan yang menonjol mengenai komposisi larutan penyangga yang terkait dengan ionisasi dalam larutan; 3 miskonsepsi konsep pengaruh penambahan ion senama pada larutan penyangga yang menonjol mengenai prinsip kerja larutan penyangga asam saat ditambahkan asam kuat; 3 miskonsepsi pada konsep pH larutan penyangga yang menonjol mengenai perhitungan pH larutan penyangga dengan rumus yang tepat; 2 miskonsepsi pada konsep kapasitas larutan dan yang menonjol mengenai penambahan asam kuat/ basa kuat hingga melebihi kapasitas; 1 miskonsepsi pada konsep fungsi larutan penyangga dalam tubuh makhluk hidup; dan 3 miskonsepsi pada pembuatan larutan penyangga dan yang menonjol yaitu cara pembuatan larutan penyangga terkait dengan perbandingan mol komponennya. ABSTRACT Utami, PutriPuji. 2017. Identification of Eleventh Grade Students’ Misconceptions of Senior High Schools in Pasuruan on Buffer Solution Topic using Diagnostic Test of Two Tier Multiple Choice.Undergraduated, Chemistry Education Program, Faculty of Mathematics and Sciences, State University of Malang. Supervisors: (1) Dr. Nazriati, M.Si and (2) Muntholib, S.Pd.,M.Si. Keywords: misconceptions, buffer solution, two tier diagnostic test. Buffer solution is a very important topic in chemistry and is used in advanced chemistry. Previous research has suggested that score this topic is low, its caused students having difficulty to solve the buffer problem, this difficulty can be accepted misconception. There are many source misconception, such as students pre-conceptions and learning method in class. The purpose of this study is to identify and percentage of misconception concepts of buffer topic in eleventh grade studentsof SMA Negeriin Pasuruan, its can to find the right learning method that can solve or prevent students’ misconceptions of buffer solution concepts. The type of research used to identify misconception on buffer topic is a survey with a quantitative method. There are 68 students of class eleventh Senior High Schools in Pasuruanas research subject. The steps in this research are (1) studying literature, (2) developing the research instrument, (3), collecting data, (4) analyzing the research data, and (5) conclusion of the research. The instrumenttest in this research consist of 30 items. Based on analysis results using SPSS 16 for Windows in this study has very high reliability criteria, and the coefficient equal 0,941. The percentage of student who has misconceptions about buffer solution concepts was defined by consistency of student answers for each indicator. The results showed that there were 4 misconceptions identified on K_a and K_bconcepts and the most dominant of this misconceptions is relation K_aassociated with pH; 2 misconceptions on the characteristic of buffer concept and the most dominant is pH thebuffer solution neutral (pH=7); 2 misconceptions on the compositions buffer solution and the most dominant misconception isrelation composition of buffer and ionization solution; 3 misconceptions influence of the same ions addition to buffer solution and most dominantmisconception is the working principle of the acid buffer solution when added strong acids; 3 misconceptions on pH of buffer solution and the most dominant misconception is calculation pH a buffer with the precise formula; 2 misconceptions on capacity buffer solution and most dominant misconception is the addition of strong acids/ strong bases on exceeding capacity; 1 misconception of buffer solution function in the body; and 3 misconceptions preparation of buffer solutions and the dominant of this misconception is making buffer solution with the difference ratio of component
Pengaruh Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) - Mind Map terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas XI pada Materi Asam Basa
ABSTRAK Islamiyah, Pipit. 2017. “Pengaruh Strategi Pembelajaran Kooperatif Tipe Think Pair Share (TPS) - Mind Map terhadap Hasil Belajar Siswa Kelas XI pada Materi Asam Basa”. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Siti Marfu’ah, M.S. (II) Drs. Ridwan Joharmawan, M.Si Kata kunci: Strategi Pembelajaran Kooperatif Think Pair Share, Mind Map, Hasil Belajar, Asam Basa.Kimia merupakan salah satu mata pelajaran yang ditempuh pada jenjang Sekolah Menengah Atas (SMA). Berdasarkan pengamatan yang dilakukan oleh peneliti di tempat KPL dan penelitian, sebagian besar siswa kelas XI SMA kesulitan memahami materi kimia. Persentase ketuntasan hasil belajar siswa tergolong rendah dan siswa sering mengeluh bahwa pelajaran kimia itu sulit. Salah satu materi kimia yang dipelajari pada kelas XI yaitu materi asam basa. Yustiadi melaporkan bahwa pemahaman siswa pada konsep asam-basa Lewis hanya sekitar 42,14%. Oleh karena itu diperlukan suatu upaya untuk mengatasi kesulitan yang dialami siswa dalam meningkatkan hasil belajarnya. Salah satu langkah untuk mengatasi permasalahan kesulitan belajar kimia yaitu menerapkan strategi pembelajaran yang relevan. Strategi pembelajaran yang dapat ditempuh oleh guru yaitu dengan menerapkan strategi pembelajaran kooperatif. Penelitian ini menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe Think Pair Share yang dipadukan dengan Mind Map.Rancangan penelitian yang dilakukan pada penelitian ini adalah rancangan eksperimen semu (quasy experimental) dengan post-test only control group design. Populasi dalam penelitian ini yaitu seluruh siswa kelas XI IPA SMAN Yosowilangun. Teknik penentuan sampel dilakukan dengan clutser random sampling. Kelas eksperimen yaitu kelas XI IPA 2 yang dibelajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran Think Pair Share – Mind Map dan kelas kontrol yaitu kelas XI IPA 1 yang dibelajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran Think Pair Share. Instrumen yang digunakan berupa instrumen perlakuan (silabus, RPP, Lembar Kerja Siswa) dan instrumen pengukuran. Data keterlaksanaan proses pembelajaran, hasil belajar afektif dan psikomotorik dianalisis secara diskriptif, sedangkan data hasil belajar kognitif dianalisis statistik dengan menggunakan bantuan program SPSS 16.0 for windows.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Keterlaksanaan proses pembelajaran dari kelima pertemuan untuk siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan perpaduan strategi pembelajaran kooperatif tipe TPS –Mind Map dan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran TPS termasuk dalam kategori sangat baik. Hal ini dapat dilihat dari rata – rata keterlaksanaan proses pembelajaran dari kelima RPP pada siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan perpaduan strategi pembelajaran kooperatif tipe TPS –Mind Map sebesar 91,74% dan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran TPS sebesar 91,87%. (2) Ada perbedaan hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe TPS –Mind Map dan siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran TPS. Rata – rata nilai hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran kooperatif tipe TPS –Mind Map lebih tinggi (̅ = 80,0) daripada siswa yang dibelajarkan dengan menggunakan strategi pembelajaran TPS (̅ = 75,65). (3) Koefisien korelasi yang didapatkan sebesar 0,667, dengan kriteria hubungan korelasi kuat.  
Pengembangan Modul Hidrolisis Garam Berbasis Inkuiri Terbimbing Untuk Siswa Kelas XI SMA/MA
ABSTRAK Kata kunci: pengembangan, modul, inkuiri terbimbing, hidrolisis garam Hidrolisis garam adalah materi kimia yang mengandung konsep berurutan, aplikasi matematik, dan banyak membutuhkan prasyarat. Untuk dapat memahami materi hidrolisis garam dengan baik, siswa dituntut untuk memiliki kemampuan prasyarat antara lain menguasai konsep asam basa, kekuatan asam, reaksi penggaraman, reaksi ionisasi, kesetimbangan kimia, dan kesetimbangan air. Berdasarkan hasil observasi di SMA Brawijaya Smart School Malang terdapat beberapa permasalahan dalam proses pembelajaran kimia yaitu: (1) Siswa tidak memiliki pegangan buku teks kimia sehingga siswa tidak mempunyai sumber belajar mandiri; (2) Jumlah buku kimia yang ada di perpustakaan terbatas; dan (3) Buku teks kimia yang ada masih bersifat deskriptif sehingga tidak ada proses perolehan konsep oleh siswa. Dengan melihat kenyataan tersebut, perlu dikembangkannya sumber belajar bagi siswa. Sumber belajar yang dikembangkan berupa modul agar dapat digunakan pada saat proses pembelajaran di kelas maupun untuk belajar mandiri di luar jam pelajaran. Penelitian ini dilaksanakan dengan tujuan yaitu menghasilkan modul hidrolisis garam berbasis inkuiri terbimbing untuk siswa kelas XI SMA/MA.Model pengembangan modul ini mengadaptasi model pengembangan 4D (four D) Thiagarajan yang terdiri dari 4 tahap yaitu: (1) Define (Pembatasan); (2) Design (Merancang); (3) Develop (Pengembangan) dan (4) Disseminate (Penyebaran). Pada penelitian ini hanya dilakukan sampai tahap develop (pengembangan) karena keterbatasan waktu. Data yang diperoleh dari hasil validasi berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh dari angket penilaian untuk mengetahui kelayakan modul yang dikembangkan. Data kualitatif diperoleh dari komentar dan saran validator untuk perbaikan modul ini. Berdasarkan analisis data yang telah dilakukan, diperoleh persentase hasil validasi isi oleh validator sebesar 87,00% dan hasil uji keterbacaan siswa sebesar 81,64%. Dari hasil tersebut dapat disimpulkan bahwa modul hidrolisis garam berbasis inkuiri terbimbing ini telah memenuhi kriteria sangat valid dan dapat digunakan dalam proses pembelajaran
Analisis Hakikat Sains (Nature of Science) dalam Buku Ajar Kimia SMA Kelas X
ABSTRAK Putri, Putu A.W. 2017. Analisis Hakikat Sains (Nature of Science) dalam Buku Ajar Kimia SMA Kurikulum 2013 Kelas X. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Sri Rahayu, M.Ed., Ph.D., (II) Dr. H. Yahmin, S.Pd., M.Si. Kata kunci: hakikat sains, NOS, buku ajar kimia Hakikat sains (nature of science, NOS) yang merupakan salah satu bagian penting dari literasi sains, merupakan tujuan dari pendidikan sains. Terdapat sepuluh aspek di dalam NOS yang perlu dipahami oleh siswa sehingga aspek-aspek NOS tersebut harus diintegrasikan dengan pembelajaran sains di sekolah. Salah satu cara mengintegrasikan NOS di dalam kegiatan pembelajaran yaitu melalui sumber belajar yang digunakan, salah satunya adalah buku ajar. Buku ajar dinilai merupakan sumber belajar yang sangat strategis dan efisien dalam membelajarkan NOS. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis penyajian aspek-aspek NOS di dalam beberapa buku ajar kimia SMA kelas X berbasis Kurikulum 2013. Penelitian yang dilakukan adalah analisis isi materi buku ajar dengan pendekatan deskriptif kualitatif. Langkah-langkah penelitian meliputi:a) menentukan bahan yang termasuk di dalam analisis isi, b) menentukan sampel dan variabel yang dianalisis, c) menyusun kategori pengkodean , d) mengkode variabel, dan e) menarik kesimpulan. Sampel penelitian berupa tiga buku ajar kimia SMA kelas X Kurikulum 2013 yang paling banyak digunakan di SMA/MA Negeri di Kota Malang, yaitu buku dari penerbit Erlangga, Mediatama, dan Yrama Widya. Variabel penelitian berupa sepuluh aspek NOS, yaitu sains bersifat empiris, inferensial, kreatif, theory-driven, tentatif, metode ilmiah, teori ilmiah, hukum ilmiah, sosial sains, dan penerapan sains dalam sosial dan budaya. Selanjutnya, pengumpulan data dilakukan dengan mengutip dan menganalisis isi buku berdasarkan aspek NOS dan memberikan skor sesuai dengan rubrik penskoran. Reliabilitas penelitian diuji dengan metode interrater reliability yang selanjutnya dihitung dengan koefisien Kappa. Hasil pengujian interrater reliability sebesar 0,944 (sangat baik). Hasil tersebut menunjukkan bahwa analisis yang dilakukan peneliti reliabel dan valid. Buku A, B, dan C yang diteliti secara berturut-turut memperoleh skor 13, 10, dan 12. Sebuah buku dikatakan memuat aspek-aspek NOS secara eksplisit, benar, dan konsisten apabila buku tersebut memperoleh skor 30. Berdasarkan kriteria skor tersebut, dapat dikatakan bahwa ketiga buku ajar kimia yang dianalisis belum memuat aspek-aspek NOS secara eksplisit, benar, dan konsisten.Jika dilihat secara lebih rinci, ditemukan empat kelompok penyajian aspek NOS, yaitu benar dan eksplisit, benar dan implisit, salah dan eksplisit, serta salah dan implisit. Buku A menyampaikan aspek NOS secara benar dan eksplisit sebanyak 18,18%; benar namun implisit sebanyak 80,52%; serta salah dan eksplisit sebanyak 1,3%. Buku B menyampaikan aspek NOS secara benar dan eksplisit sebanyak 5,56%; benar namun implisit sebanyak 93,33%; serta salah dan eksplisit sebanyak 1,11%. Sedangkan buku C menyampaikan aspek NOS secara benar dan eksplisit sebanyak 5,84%; benar namun implisit sebanyak 92,86%; salah dan implisit sebanyak 0,65% serta salah dan eksplisit sebanyak 0,65%. Selain itu, ketiga penulis buku memiliki perhatian lebih terhadap aspek empiris, sosial sains, dan penerapan sains dalam sosial dan budaya sehingga ketiga aspek tersebut menjadi aspek yang paling banyak dimuat. Selain itu, ditemukan pula aspek NOS yang dimuat secara naive di dalam buku ajar, yaitu aspek metode ilmiah. Ketiga buku secara konsisten menyebutkan aspek metode ilmiah secara eksplisit naive. Penyampaian aspek NOS secara naive ini dikhawatirkan dapat menimbulkan miskonsepsi pada siswa sehingga harus dihindari
Pengaruh Aktivasi Adsorben Batang Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) Terhadap Adsorpsi Kromium (Cr) Menggunakan Metode Batch
ABSTRAK Kromium (Cr) merupakan salah satu logam berat yang keberadaannya di lingkungan perlu dikendalikan karena sifatnya yang berbahaya. Perlu dilakukan penanganan untuk mengurangi kadar kromium, salah satunya dengan proses adsorpsi. Adsorpsi dapat dilakukan dengan menggunakan adsorben berbahan dasar tanaman yang memiliki kadar selulosa tinggi. Tanaman eceng gondok (Eichhornia crassipes) mengandung selulosa, hemiselulosa, dan lignin. Kandungan selulosa yang tinggi dalam eceng gondok dapat dimanfaatkan untuk mengadsorpsi logam berat. Penelitian ini bertujuan untuk (1) membuat dan mengkarakterisasi adsorben batang eceng gondok tak teraktivasi dan teraktivasi, (2) mengetahui kemampuan adsorpsi batang eceng gondok tak teraktivasi dan terativasi dalam penurunan kadar krom (Cr).Adsorben eceng gondok tak teraktivasi dibuat dari batang eceng gondok yang telah dikeringkan dan dijadikan serbuk dengan ukuran partikel 100 mesh. Pembuatan adsorben teraktivasi diawali dengan delignifikasi serbuk eceng gondok menggunakan H2O2 2% selama 1,5 jam pada suhu 60oC (1:9 w/v) dalam suasana basa hingga pH 11 (NaOH 0,2 N), residu yang diperoleh diaktivasi menggunakan HCl. Adsorben tak teraktivasi dan teraktivasi ini kemudian dikarakterisasi dengan analisis FT-IR untuk mengidentifikasi gugus fungsi yang terdapat pada adsorben, serta uji kadar air dan kadar abu untuk mengetahui kemampuan daya serap adsorben. Adsorben tak teraktivasi dan teraktivasi yang sudah dikarakterisasi digunakan untuk mengadsorpsi krom sehingga dapat ditentukan kapasitas adsorpsi dari adsorben. Hasil uji FT-IR batang eceng gondok membuktikan bahwa pada batang eceng gondok terdapat gugus –OH, –CH, –C=O, pada adsorben teraktivasi tidak terdapat puncak yang berada disekitar panjang gelombang 1745 cm-1 yaitu gugus fungsi -C=O. Hal ini menandakan bahwa proses delignifikasi pada eceng gondok berhasil dilakukan dengan adanya perlakuan kimiawi. Adsorben tak teraktivasi memiliki kadar air sebesar 9,38% dan kadar abu sebesar 19,67%, sedangkan adsorben teraktivasi memiliki kadar air sebesar 4,91% dan kadar abu sebesar 11,01%. Hal ini mengindikasikan bahwa adsorben teraktivasi memenuhi standar adsorben. Kapasitas adsorpsi menggunakan adsorben tak teraktivasi sebesar 0,008 mg/g dengan efisiensi penyerapan Cr sebesar 1,54%, sedangkan kapasitas adsorpsi menggunakan adsorben teraktivasi sebesar 0,221 mg/g dengan efisiensi penyerapan Cr sebesar 44,28%. Kapasitas adsorpsi adsorben eceng gondok teraktivasi lebih besar sehingga adsorben eceng gondok teraktivasi lebih efektif digunakan dalam proses adsorpsi krom dibandingkan adsorben eceng gondok tak teraktivasi
Sintesis Silika Xerogel Berbahan Abu Bagasse dan Aplikasinya sebagai Adsorben Malasit Hijau
ABSTRAK Saifurrijal, Yusuf. 2017. Sintesis Silika Xerogel Berbahan Abu Bagasse dan Aplikasinya Sebagai Adsorben Malasit Hijau. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Nazriati, M.Si, (II) Dr. Fauziatul Fajaroh, MS Kata-kata kunci: Silika xerogel, Adsorpsi, Kapasitas Adsorpsi, Metode sol-gelMalasit hijau merupakan zat warna yang sering digunakan dalam industri tekstil. Limbah zat warna tersebut bersifat karsinogenik dan mutagenik sehingga sangat berbahaya apabila terakumulasi dalam air. Metode adsorpsi banyak digunakan untuk mengurangi konsentrasi malasit hijau pada lingkungan dan membutuhkan adsorben yang memiliki luas permukaan yang besar. Silika xerogel merupakan salah satu adsorben yang memiliki luas permukaan yang besar. Kapasitas adsorpsi silika xerogel terhadap suatu zat warna memiliki batas tertentu yang disebut kapasitas setimbang. Sehingga, penelitian ini bertujuan untuk mensintesis dan mengetahui kapasitas adsorpsi silika xerogel terhadap zat warna malasit hijau.Silika xerogel dapat disintesis dari abu bagasse sebagai sumber silika dengan metode sol-gel. Sintesis silika xerogel pada penelitian ini secara umum memiliki 3 tahapan yaitu (1) Penambahan NaOH 2 M untuk mengestrak silika, (2) Perlakuan natrium silikat menggunakan resin penukar kation, (3) Sintesis silika xerogel pada pH 5. Aplikasi silika xerogel sebagai adsorben malasit hijau menggunakan variasi waktu kontak, konsentrasi, dan temperatur. Variasi konsentrasi, waktu kontak, dan temperatur digunakan untuk mengetahui pengaruhnya terhadap kapasitas adsorpsi dan studi parameter kesetimbangan adsorpsi silika xerogel terhadap malasit hijau. Kapasitas adsorpsi maksimum silika xerogel terhadap malasit hijau dengan konsentrasi 6 mg/L sebesar 9,518 mg/g pada waktu kontak 60 menit. Kapasitas adsorpsi silika xerogel semakin meningkat seiring meningkatnya konsentrasi malasit hijau dari 3-7 mg/L dengan kapasitas adsorpsi sebesar 4,4283 mg/g sampai 10,5875mg/g. Studi parameter adsorpsi menunjukkan adsorpsi berlangsung mengikuti model isotherm Langmuir dan kinetika orde dua semu model McKay dan Ho serta adsorpsi berlangsung secara eksotermik, spontan dan teratur
Pengembangan Bahan Ajar Kimia Asam-Basa Berbasis Inkuiri untuk siswa Kelas XI SMA
ABSTRAK Isnaini, Nida Fitri. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Kimia Asam-Basa Berbasis Inkuiri untuk siswa Kelas XI SMA. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Muntholib, S.Pd., M.Si, (II) Drs. Mohammad Sodiq Ibnu, M.Si. Kata Kunci: bahan ajar, inkuiri, asam-basa, pembelajaran berbasis inkuiri.Menurut paradigma konstruktivistik pengetahuan tidak dapat dipindahkan begitu saja dari guru ke siswa. Dalam belajar, siswa mengkonstruksi pemahamannya dengan bantuan guru. Salah satu bentuk bantuan ini adalah penyediaan bahan ajar. Komunikasi personal dengan beberapa guru kimia menunjukkan bahwa bahan ajar yang digunakan saat ini masih bersifat informatif, siswa hanya menerima informasi atau pengetahuan tanpa mengalami proses untuk mendapatkan pengetahuan tersebut. Proses pembelajaran tidak mendorong siswa mengkonstruksi pengetahuannya sendiri. Oleh karena itu, dibutuhkan bahan ajar yang bersifat konstruktivistik. Salah satu pendekatan pembelajaran yang sesuai dengan paradigma konstruktivistik adalah inkuiri. Salah satunya adalah strategi pembelajaran inkuiri hasil sintesis Pedaste yang dinamakan inquiry based learning (pembelajaran berbasis inkuiri). Penelitian ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar kimia asam-basa berbasis inkuiri untuk siswa kelas XI SMA yang valid dan layak digunakan dalam pembelajaran di sekolah.Pengembangan bahan ajar ini menggunakan model pengembangan 4D yang terdiri dari 4 tahap, yakni define, design, develop, dan disseminate. Pengembangan ini hanya dilakukan sampai dengan tahap ketiga (develop). Hasil pengembangan divalidasi oleh satu dosen kimia dan dua guru kimia serta dilakukan uji keterbacaan kepada 10 siswa yang sudah mempelajari materi asam-basa. Instrumen pengumpulan data yang digunakan berupa angket yang berisi lembar skor penilaian, komentar dan saran. Jenis data yang diperoleh berupa data kuantitatif dari skor penilaian angket dan kualitatif dari komentar serta saran. Produk hasil pengembangan bahan ajar materi asam-basa ini berupa bahan ajar untuk guru dan bahan ajar untuk siswa dalam bentuk cetak. Hasil validasi menunjukkan bahwa persentase rata-rata skor validasi bahan ajar adalah 87,85% dengan kriteria sangat valid. Hasil persentase rata-rata skor uji keterbacaan bahan ajar adalah 85,31% dengan kriteria sangat valid. Berdasarkan hasil validasi dan uji keterbacaan diketahui bahwa secara umum bahan ajar valid dan layak digunakan
Pemurnian Enzim Keratinase Bakteri Bacillus sp. MD24 Menggunakan Metode Fraksionasi Amonium Sulfat
ABSTRAK Choirani, Y. G. 2017. Pemurnian Enzim Keratinase Bakteri Bacillus sp. MD24 Menggunakan Metode Fraksionasi Amonium Sulfat. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Suharti, S.Pd., M.Si., (II) Muntholib, S.Pd., M.Si., Kata kunci: Bacillus sp, Keratinase, Solid State Fermentation (SSF), dan Fraksinasi Amonium Sulfat.Bacillus sp. MD24 telah terbukti dapat memproduksi keratinase. Keratinase Bacillus sp. MD24 dapat digunakan untuk menghilangkan bulu kambing. Namun demikian, aktivitas ekstrak kasarnya masih rendah sehingga proses dehairingnya membutuhkan waktu yang lama. Kulit hasil dehairing tersebut juga mengalami kerusakan yang diduga karena adanya aktivitas kolagenase. Untuk meningkatkan aktivitas ekstrak kasar keratinase tersebut dapat dilakukan dengan dua cara yakni: (1) menerapkan produksi enzim yang berbeda dan (2) menghilangkan aktivitas kolagenase. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui aktivitas ekstrak kasar enzim keratinase bakteri Bacillus sp. MD24 yang diproduksi menggunakan metode Solid Stated Fermentation (SSF) dengan kelembaban 150 % dan 250 % menggunakan bulu ayam sebagai substrat. (2) Mengetahui tingkat kemurnian danktivitas spesifik dari enzim hasil pemurnia dengan menggunakan fraksinasi amonium sulfat. (3) mengetahui rentang amonium sulfat yang dapat mengendapkan keratinase dengan aktivitas spesifik yang optimum.Penelitian ini dilakukan dalam 4 tahap, yakni (1) regenerasi bakteri Bacillus sp. MD24 dengan media padat susu skim agar; (2) produksi ekstrak kasar keratinase dari Bacillus sp. MD24 dengan metode SSF 150 % dan 250 % menggunakan substrat bulu ayam; (3) penentuan aktivitas ekstrak kasar Bacillus sp. MD24, dan (4) pemurnian enzim dengan metode fraksinasi amonium sulfat. Metode SSF merupakan media padat dengan kadar air yang rendah. Uji aktifitas keratinase dilakukan dengan cara mengukur absorbansi tirosin hasil hidrolisis enzimatik pada panjang gelombang 280 nm. Konsentrasi amonium sulfat yang digunakan untuk pemurnian keratinase yaitu 0-20 %, 20-40 %, 40-60 %, 60-80 %, dan 80-100 %. Hasil penelitian menunjukkan bahwa aktivitas ekstrak kasar keratinase yang diproduksi menggunakan metode SSF 250 % adalah 73,35 U/mL atau 1,17 kali lebih tingg daripada aktivitas ekstrak kasar yang dihasilkan menggunakan metode SSF 150 %. Pada kedua ekstrak kasar, tingkat kemurnian enzim tertinggi setelah diendapkan oleh amonium sulfat diperoleh pada kejenuhan 40-60 % dengan tingkat kemurnian enzim 1,66. Aktivitas enzim, aktivitas spesifik, tingkat kemurnian, dan yield yang dihasilkan pada kelembaban 150 % berturut-turut adalah 183,24 U/mL; 161,59 U/mg; 1,66; dan 22,02 %. Sedangkan aktivitas enzim, aktivitas spesifik, tingkat kemurnian, dan yield yang dihasilkan pada kelembaban 250 % berturut-turut sebesar; 306,90 U/mL; 313,8 U/mg; 1,66; dan 29,29 %
Pengembangan Bahan Ajar Materi Larutan Elektrolit dan non-Elektrolit Kelas X Menggunakan Pendekatan Saintifik dengan Merepresentasikan Mikroskopik
ABSTRAK Novitasari, Dian Putri. 2015. Pengembangan Bahan Ajar Materi Larutan Elektrolit dan non-Elektrolit Kelas X Menggunakan Pendekatan Saintifik dengan Merepresentasikan Mikroskopik. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Herunata, S.Pd., M.Pd. sebagai dosen pembimbing 1 dan (2) Drs. Muhammad Suaidy, M.Pd. untuk dosen pembimbing 2 Kata kunci: bahan ajar, pendekatan saintifik, larutan elektrolit dan non-elektrolit, dan mikroskopik. Kurikulum 2013 yang sudah disiapkan pemerintah ini pendekatan saintifik sebagai pendekatan pembelajaran. Pendekatan saintifik (Scientific Approach) yang digunakan dalam kurikulum 2013 menggunakan metode saintifik (ScientificMethod) yang di rumuskan sebagai 5M atau lima pengalaman belajar. Pengembangan bahan ajar berupa buku guru dan buku siswa dengan materi larutan elektrolit dan non-elektrolit. Mikroskopik merupakan penjelasan tentang susunan dan pergerakan partikel, oleh karena itu materi yang dikembangkan lebih merepresentasikan mikroskopik. Beberapa bahan ajar sudah dikembangkan untuk memenuhi tuntutan Kurikulum 2013. Namun beberapa bahan ajar yang ada belum sepenuhnya mencerminkan pendekatan saintifik (Scientific Approach), khususnya pada materi larutan elektrolit dan non-elektrolit. Tujuan pengembangan ini untuk menghasilkan produk bahan ajar berupa buku siswa dan buku guru dan mengetahui kelayakan bahan ajar materi larutan elektrolit dan non-elektrolit. Materi larutan elektrolit dan non-elektrolit merupakan salah satu materi pokok pembelajaran kimia yang tercantum pada KD 3.8 dan 4.8. Pengembangan bahan ajar ini dilakukan dengan menerapkan model pengembangan Thiagarajan dkk,yaitu pengembangan 4D. Model 4D terdiri dari4 tahapan, yakni tahap define, design, develop,dan disseminate. Namun, pada pengembangan yang dilakukan oleh peneliti hanya dilakukan sampai pada tahap develop. Validasi pengembangan bahan ajar ini akan diperoleh data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif diperoleh berdasarkan skor angket yang disusun dalam skala Likert. Sedangkan data kualitatif diperoleh berdasarkan komentar dan saran perbaikan yang diisi oleh validator ahli dan uji keterbacaan kelompok kecil kelas X. Hasil pengembangan berupa bahan ajar berupa buku siswa dan buku guru. Buku guru dan buku siswa terdiri dari tiga aspek penilaian, yaitu aspek kelayakan isi, kelayakan bahasa, kelayakan penyajian. Bahan ajar yang dikembangkan menunjukkan sangat layak dengan nilai sebesar 88. Hasil uji keterbacaan kelompok kecil diperoleh nilai sebesar 89 yang menunjukkan bahwa bahan ajar valid dan layak digunakan
Pengembangan Bahan Ajar Laju Reaksi Digital Berbasis Inkuiri Terbimbing pada Materi Laju Reaksi untuk Kelas XI SMA/MA
ABSTRAK Rosiyanto, Yunisa. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Laju Reaksi Digital Berbasis Inkuiri Terbimbing pada Materi Laju Reaksi untuk Kelas XI SMA/MA. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Munzil, S.Pd., M.Si (2) Dr. Siti Marfu’ah, M.S. Kata Kunci: bahan ajar digital, inkuiri terbimbing, laju reaksi Ilmu kimia memiliki karakteristik yaitu mengajak peserta didik untuk belajar layaknya kimiawan belajar, maka dalam proses membelajarkan kimia digunakan pendekatan yang mendukung kegiatan pembelajaran. Salah satu pendekatan yang dipandang sesuai dengan karakteristik ilmu kimia dan karakteristik kurikulum 2013 adalah inkuiri terbimbing. Dalam suatu kegiatan pembelajaran, khususnya mata pelajaran kimia diperlukan adanya sumber belajar. Dalam mata pelajaran kimia banyak sekali terdapat konsep, salah satunya pada materi laju reaksi. Banyaknya kesulitan peserta didik dalam belajar materi laju reaksi perlu segera diatasi dan ditemukan solusinya. Materi laju reaksi memuat tiga representasi kimia di dalamnya, yaitu aspek makroskopik, submikroskopik dam simbolik. Buku-buku ajar yang digunakan selama ini adalah bahan ajar cetak penjelasan yang diberikan terbatas pada teks dan gambar. Oleh karena itu, bahan ajar yang dikembangkan dapat mencakup audio, video, dan animasi didalamnya yaitu dengan menggunakan bahan ajar digital. Bahan ajar digital ini dapat mengkonstruk cara berpikir peserta didik yang benar dengan tahapan inkuiri terbimbing didalamnya. Tujuan pengembangan ini adalah menghasilkan produk bahan ajar laju reaksi digital berbasis inkuiri terbimbing yang valid dan layak. Model penelitian yang digunakan dalam pengembangan bahan ajar digital ini adalah model 4-D yang meliputi 4 tahap, yaitu define, design, develop, disseminate. Namun, pada pengembangan ini tahap disseminate tidak dilakukan karena keterbatasan biaya. Instrumen validasi berupa angket dengan skala likert. Uji validasi yang dilakukan oleh dosen kimia dan guru SMA yaitu menvalidasi isi media dan isi materi. Uji coba kelompok kecil dilakukan kepada 10 peserta didik kelas XI SMA melalui angket. Bahan ajar yang dikembangkan terdiri dari empat bagian pokok, yaitu bagian pra-pendahuluan, bagian pendahuluan, bagian isi dan bagian penutup. Hasil analisis data uji validasi isi materi, diperoleh presentase sebesar 100% dengan kriteria layak dan uji validasi media diperoleh presentase sebesar 99,16% dengan kriteria layak. Sedangkan uji coba kelompok kecil diperoleh kriteria layak dengan presentase sebesar 86,8%. Bahan ajar digital dapat dimanfaatkan sebagai sumber belajar mandiri bagi peserta didik maupun membantu guru dalam pembelajaran. Saran untuk pengembangan lebih lanjut adalah dapat mengembangkan bahan ajar digital yang dapat dioperasikan pada android dan menguji efektivitas dari bahan ajar digital dalam proses pembelajaran dikelas dengan mengguanakan strategi dan model pembelajaran tertentu. ABSTRACT Rosiyanto, Yunisa. 2017. Development of Reaction Rate Digital Learning Material Based on Guided Inquiry for XI Grade of Senior High School. Thesis, Chemistry Department, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, State University of Malang. Supervisors: (1) Dr. Munzil, S.Pd., M.Si., (2) Dr. Siti Marfu'ah, M.S. Keywords: digital teaching materials, guided inquiry, reaction rate Chemistry has the characteristics of inviting learners to learn like chemists learn, then in learning the process of chemistry, it is used approach that supports learning activities. One of the approach which is considered in accordance with the characteristics of chemistry and the characteristics of the 2013 curriculum is guided inquiry. In a learning activity, especially the subject of chemistry required the source of learning. In many chemistry subjects there are concepts, one of them on the matter of reaction rate. The number of students' difficulties in learning the material reaction rate needs to be addressed and found the solution. Reaction rate material contains three chemical representations in it, namely macroscopic, submicroscopic and symbolic aspects. The textbooks used so far are printed explanatory textual materials that are limited to text and images. Therefore, developed teaching materials could include audio, video, and animation in it that is by using digital teaching materials. These digital teaching materials can construct the way learners think with guided inquiry stages. The purpose of this development is to produce a reliable and feasible reliable and valid inkjet based on instructional learning material. The research model used in the development of digital teaching materials is 4-D model which includes 4 stages, define, design, develop, disseminate. However, in the development of this stage disseminate has not done because of cost constraints. The validation instrument is a questionnaire with Likert scale. Validation test conducted by chemistry lecturer and high school teacher that is validate the contents of media and content of material. Small group trials were conducted for 10 high school students in the class XI through questionnaires. The developed teaching material consists of four main parts, namely pre-preliminary, preliminary, content and closing parts. The result of data analysis of content validation test, obtained percentage of 100% with decent criteria and media validation test obtained percentage of 99.16% with decent criteria. While small group trials obtained decent criteria with a percentage of 86.8%. Digital teaching materials can be utilized as independent learning resources for learners and assist teachers in learning. Suggestions for further development are able to develop digital instructional materials that can be operated on android and test the effectiveness of digital teaching materials in the learning process in class by using specific learning strategies and models