SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
KARAKTERISASI DAN UJI KEMAMPUAN ADSORPSI DAUN NANAS (Ananas comusus (L.) Merr) SEBAGAI ADSORBEN UNTUK ION TEMBAGA(II)
ABSTRAK Kadar limbah ion tembaga(II) dapat dikurangi dengan memanfaatkan limbah pertanian nanas, yaitu daun nanas yang memiliki kadar selulosa tinggi. Gugus –OH dalam selulosa dapat dimanfaatkan sebagai gugus aktif adsorben untuk mengabsorpsi maksimal ion tembaga(II) dengan proses delignifikasi menggunakan konsentrasi larutan KOH yang tepat. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratoris yang dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu (1) preparasi daun nanas sebagai adsorben hingga diperoleh serbuk daun nanas (bahan adsorben A), (2) perlakuan (delignifikasi) serbuk daun nanas dengan larutan KOH 0,5% (w/v) (bahan adsorben B), KOH 1,0% (w/v) (bahan adsorben C), KOH 1,5% (w/v) (bahan adsorben D), KOH 2,0% (w/v) (bahan adsorben E) dan KOH 2,5% (w/v) (bahan adsorben F), (3) karakterisasi bahan adsorben sebelum proses adsorpsi meliputi uji kadar air, uji kadar abu, identifikasi gugus fungsi menggunakan FTIR dan identifikasi permukaan adsorben menggunakan Scanning Electron Microscope (SEM), (4) adsorpsi ion tembaga(II) menggunakan adsorben berbahan dasar daun nanas sebelum dan sesudah delignifikasi, (5) analisis konsentrasi ion tembaga(II) setelah adsorpsi dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA), (6) penentuan kapasitas dan persentase adsorpsi maksimum ion tembaga(II), (7) penentuan konsentrasi maksimum KOH sebagai pendelignifikasi adsorben berbahan dasar daun nanas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bahan adsorben A-F memiliki nilai kadar air sesuai prasyarat kualitas adsorben SNI 06-3730-1995. Hasil identifikasi gugus fungsi pada adsorben berbahan dasar daun nanas sebelum dan sesudah delignifikasi, menunjukkan adanya gugus –OH yang merupakan gugus fungsi pada struktur selulosa. Identifikasi permukaan bahan adsorben (B-F) dengan proses delignifikasi secara visual lebih berpori daripada bahan adsorben (A) tanpa delignifikasi. Hasil uji kapasitas adsorpsi maksimum terdeteksi pada adsorben F dengan konsentrasi maksimum KOH 2,5%. Kata Kunci: daun nanas, adsorben, delignifikasi, ion tembaga(II
PENGEMBANGAN MEDIA PEMBELAJARAN INTERAKTIF MENGGUNAKAN MACROMEDIA FLASH 8 MATERI IKATAN KIMIA UNTUK SMA KELAS X
ABSTRAK Azhari, Richa. 2018. Pengembangan Media PembelajaranInteraktif menggunakan Macromedia Flash 8 Materi Ikatan Kimia untuk SMA kelas X.Skripsi, Pendidikan Kimia, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed. (II) Drs. H. Parlan, M.Si. Kata kunci: media interaktif, ikatan kimia, model pengembangan Four-D. Banyak siswa SMA yang merasa kesulitan memahami materi ikatan kimia. Salah satu penyebabnya adalah banyak konsep abstrak yang tidak dapat dilihat dengan panca indera dan tidak dapat dijelaskan dengan kegiatan percobaan di laboratorium maupun pada kegiatan sehari-hari. Hasil observasipada salah satu SMA Negeri di Malang didapatkan hasil belajar siswa belum memuaskan. Dari sampel 36 siswa kelas X hanya 19,4% siswa yang mampu mencapai kompetensi pembelajaran. Salah satu inovasi yang dapat dikembangkan untuk mengatasi permasalahan tersebut adalah menyediakan media pembelajaran yang lebih menarik. Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan media interaktif yang sesuai dengan Kurikulum 2013. Prosedur penelitian dan pengembangan ini digunakan model pengembangan Four-D yang dikembangkan oleh Thiagarajan, Semmel, dan Semmel (1974). Uji coba produk yang dilakukan meliputi validasi media, validasi materi, dan uji coba kelompok kecil. Validasi materi dilakukan oleh satu orang dosen Jurusan Kimia dan satu orang guru SMA.Validasi media dilakukan oleh satu orang dosen Jurusan Teknologi Pendidikan. Uji coba kelompok kecil dilakukanterhadap 10 orang peserta didik untuk menguji keterbacaan media.Jenis data yang diperoleh dari validasi berupa data kuantitatif berupa skor sesuai kriteria penilaian dan data kualitatif berupa komentar dan saran dari validator dan peserta didik.Instrumen pengumpulan data yang digunakan dalam pengembangan ini berupa angket dalam bentuk tabel dengan kolom-kolom yang berisi aspek penilaian dan skor, serta terdapat kolom saran dan komentar.Penilaian dalam angket dilakukan dengan memberi tanda checklist pada angka yang sesuai.Setiap angka mempunyai nilai masing-masing. Analisis data dilakukan untuk menghitung data kuantitatif dengan menggunakan teknik analisis rata-rata. Data kuantitatif diperoleh dari nilai pada angket. Produk yang dihasilkan pada penelitian dan pengembangan ini berupa media pembelajaran interktif materi iktan kimia untuk SMA kelas X. Hasil validasi ahli materidiperoleh persentase kelayakan rata-rata 94,6%. Hasil validasi ahli media diperoleh persentase kelayakan rata-rata 95,2%. Hasil uji coba kelompok kecil terhadap 10 orang diperoleh nilai rata-rata 95,48%. Dengan hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa media pembelajaran Ikatan Kimiayang telah dikembangkan layak digunakan oleh siswa dan guru dalam proses pembelajaran
PENGEMBANGAN BUKU PETUNJUK PRAKTIKUM ASAM BASA BERBASIS INKUIRI TERBIMBING
ABSTRAK Ilmu kimia merupakan ilmu IPA yang bersifat sebagai produk (fakta, hukum, konsep, dan ilmu) dan proses (kerja ilmiah) sehingga dalam pengajarannya di sekolah dapat dilakukan melalui kegiatan praktikum untuk menyampaikan konsep dalam bentuk kerja ilmiah. Kegiatan praktikum membutuhkan suatu perangkat untuk panduan kerja yang disebut buku petunjuk praktikum. Buku petunjuk praktikum yang digunakan pada umumnya merupakan petunjuk praktikum yang terdapat pada buku paket atau Lembar Kerja Siswa (LKS) yang merupakan uji verifikasi teori, tanpa melatih kemampuan berpikir. Dengan demikian diperlukan buku petunjuk praktikum yang mampu mengarahkan peserta didik untuk membangun konsep kimia yang dimilikinya. Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan produk berupa buku petunjuk praktikum asam basa berbasis inkuiri terbimbing yang layak. Model pengembangan yang digunakan adalah model 4D Thiagarajan, meliputi tahap perencanaan (define), tahap perancangan (design), tahap pengembangan (develop), dan tahap penyebaran (disseminate). Pada penelitian ini tidak dilakukan tahap penyebaran. Produk hasil pengembangan diuji coba melalui proses validasiisi, uji keterbacaan, dan uji keterlaksanaan. Validasiisi dilakukan oleh 1 dosen kimia UM dan 2 guru SMA Negeri 10 Malang. Uji keterbacaan dan keterlaksanaan dilakukan pada 10 peserta didik kelas XI SMA. Instrumen yang digunakan berupa angket dengan skala bertingkat dan lembar observasi hasil praktikum. Jenis data yang diperoleh berupa data kualitatifdan kuantitatif. Data kuantitatif berupa skor penilaian dari angket, data kualitatif berupa komentar, kritik, dan saran dari validator. Data yang diperoleh diolah dengan perhitungan rata-rata nilai untuk mengetahui kelayakan. Produk hasil pengembangan berupa buku petunjuk praktikum asam basa berbasis inkuiri terbimbing. Hasil validasiisi diperoleh rata-rata nilai sebesar 89 dengan kriteria sangat layak, sedangkan hasil uji keterbacaan peserta didik diperoleh rata-rata nilai sebesar 83 dengan kriteria sangat layak dan 88% terlaksana. Berdasarkan hasil validasiisi dan uji coba terbatas diketahui secara umum petunjuk praktikum yang telah dikembangkan sangat layak digunakan di SMA
Sintesis K2O/α-Fe2O3 dan Aplikasinya untuk Katalis Trans-Esterifikasi Minyak Biji Bunga Matahari (Helianthus annuus L.) serta Potensinya Sebagai Biodiesel
ABSTRAK Biodiesel merupakan salah satu bahan bakar alternatif yang dapat digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel. Biji bunga matahari dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan biodiesel karena merupakan salah satu sumber minyak nabati. Sintesis biodiesel umumnya dilakukan melalui reaksi trans-esterifikasi dengan menggunakan katalis homogen. Namun penggunaan katalis homogen pada sintesis biodiesel memiliki kelemahan, yaitu sulitnya pemisahan dengan produk. Untuk mengatasi hal tersebut, katalis homogen dapat diganti dengan katalis heterogen berbasis oksida. Salah satu katalis heterogen oksida yang sedang dikembangkan adalah katalis hematit (α-Fe2O3). Katalis hematit (α-Fe2O3) diimpregnasi dengan KOH untuk menambah sifat kebasaan, sehingga terbentuk K2O/α-Fe2O3. Tujuan penelitian ini adalah untuk (1) mensintesis katalis K2O/α-Fe2O3, (2) mengetahui karakter K2O/α-Fe2O3 hasil sintesis, (3) mengetahui karakter minyak biji bunga matahari hasil isolasi, (4) mengetahui karakter metil ester asam lemak hasil trans-esterifikasi dengan menggunakan katalis K2O/α-Fe2O3, (5) mengetahui potensi metil ester asam lemak hasil sintesis dengan menggunakan katalis K2O/α-Fe2O3 sebagai biodiesel. Penelitian ini terdiri dari 7 tahap. Tahap 1 adalah sintesis katalis K2O/α-Fe2O3. Tahap 2 adalah karakterisasi katalis K2O/α-Fe2O3 menggunakan X-ray Diffraction (XRD). Tahap 3 adalah preparasi sampel yang meliputi pengumpulan, pengeringan dan pembuatan serbuk biji bunga matahari. Tahap 4 adalah isolasi minyak biji bunga matahari. Tahap 5 adalah karakterisasi minyak biji bunga matahari. Tahap 6 adalah trans-esterifikasi minyak biji bunga matahari menjadi metil esternya. Tahap 7 adalah karakterisasi dan identifikasi metil ester. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa katalis K2O/α-Fe2O3 dapat disintesis dengan metode kopresipitasi Fe3O4, kalsinasi pada suhu 800°C dan impregnasi dengan KOH. Katalis K2O/α-Fe2O3 yang diperoleh berwarna merah kecoklatan. Hasil karakterisasi katalis K2O/α-Fe2O3 dengan XRD menunjukkan bahwa K2O/α-Fe2O3 memiliki puncak yang bersesuaian dengan K2O dan hematit (α-Fe2O3) serta memiliki kristanilitas relatif tinggi. Minyak biji bunga matahari hasil isolasi dengan metode maserasi berwarna kuning, berwujud cair kental, larut dalam n-heksana, tidak larut dalam etanol dan air, memiliki massa jenis 0,8833 g mL-1, viskositas 26,19 cSt, bilangan asam 0,758, bilangan penyabunan 383,37 dan bilangan iod 136,96. Metil ester hasil trans-esterifikasi berwarna kuning muda, berwujud cair, larut dalam n-heksana, tidak larut dalam etanol dan air, memiliki massa jenis 0,8520 g mL-1, viskositas 4,53 cSt, bilangan asam 0,367, bilangan penyabunan 261,33 dan bilangan iod 109,90. Hasil identifikasi pada metil ester hasil trans-esterifikasi dengan GC-MS terdapat senyawa metil 9 oktadekenoat atau metil oleat. Metil ester hasil trans-esterifikasi berpotensi sebagai biodiesel menurut standar mutu biodiesel SNI 7182-2015
PEMBUATAN MATRIKS SILIKA-KARAGENAN DAN ANALISIS KEMAMPUAN ADSORPSINYA TERHADAP RHODAMIN B, TARTRAZIN DAN CAMPURANNYA
ABSTRAK Indriani, Dini. 2017. Pembuatan Matriks Silika-karagenan dan Analisis Kemampuan Adsorpsinya Terhadap Rhodamin B, Tartrazin dan Campurannya. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri malang. Pembimbing: (I) Dr. Irma Kartika Kusumaningrum, S.Si., M.Si., (II) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D. Kata Kunci: Adsorpsi, Rhodamin B, Tartrzin, Karagenan (kappa karagenan) Silika (SiO2) merupakan salah satu bahan yang sangat penting dalam industri. Silika dapat dimanfaatkan sesuai dengan sifat dan karakteristiknya. Pemanfaatan silika ataupun silika yang telah termodifikasi sebagai adsorben telah banyak diteliti yaitu silika yang telah termodifikasi dengan penambahan selulosa dan surfaktan. Pada penelitian inidibuat kombinasi silika dengan karagenan yang bertujuan untuk mengeksplore pemanfaatan silika yang telah dimodifikasi yaitu sebagai binder zat warna dan dikaji kemampuan adsorpsinya terhadap Rhodamin B dan tartrazin. Tujuan penelitian ini (1) mengetahui karakteristik fisik matriks silika-karagenan berdasarkan hasil analisis FT-IR (Fourier Transform Infra-Red), SEM, penentuan massa jenis, kadar air, kadar abu, dan daya serap terhadap iod, (2) menentukan daya adsorpsi matriks terhadap Rhodamin B, tartrazin, dan campurannya dengan metode adsorpsi Batch dan KLT (Kromatografi Lapis Tipis). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan di laboratorium Jurusan Kimia, Universitas Negeri Malang. Penelitian yang dilakukan terdiri dari tiga tahap, meliputi (1) pembuatan silika-karagenan (2) karakterisasinya yang meliputi massa jenis, uji kadar air, uji kadar abu, SEM, dan FT-IR, (3) uji kemampuan adsorpsi matriks terhadap rhodamin B dan tartrazindengan metode Batch dan KLT. Hasil penelitian ini adalah (1) silika-karagenan memiliki kadar air 2,089%, kadar abu 81,773%, massa jenis 1,780g/mL, dan daya serap terhadap larutan iod 21,830%, berdasarkan hasil analisis FT-IR tidak terdapat indikasi terjadinya interaksi kimia antara silika dan karagenan yang ditandai dengan tidak adanya puncak baru yang nampak pada spektrum FT-IR setelah proses pencampuran, hasil analisis SEM menunjukkan bahwa morfologi permukaan silika-karagenan berbentuk gumpalan atau globular, (2) daya adsorpsi matriks silika-karagenan pada larutan rhodamin B lebih besar dibandingkan dengan daya adsorpsi matriks terhadap larutan tartrazin. Rhodamin B dan tartrazin pada campuran rhodamin B-tartrazin dapat dipisahkan dengan baik pada silika-karagenan dengan nilai Rf lebih rendah dibandingkan dengan Rftarrazin. Adsorpsi batch terhadap larutan rhodamin B dan tartrazin dengan silika-karagenan menyebabkan kosentrasi tartrazin pada adsorbat meningkat, hal ini terjadi karena adanya penarikan molekul air oleh silika-karagenan yang lebih kuat dibandingkan penarikan tartrazin, sedangkan kosentrasi rhodamin B menurun karena silika-karagenan lebih kuat mengikat rhodamin B dibandingkan tartrazin
Pengembangan Instrumen Asesmen Pemahaman Konseptual Berorientasi HOTS (Higher Order Thinking Skills) dan Keterampilan Proses Sains pada Bahan Kajian Sifat Keasaman Larutan Garam dan Larutan Buffer
ABSTRAK Hapsari, Arida Nur. 2017. Pengembangan Instrumen Asesmen Pemahaman Konseptual Berorientasi HOTS (Higher Order Thinking Skills) dan Keterampilan Proses Sains pada Bahan Kajian Sifat Keasaman Larutan Garam dan Larutan Buffer. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Sutrisno, M.Si., (II) Dr. Sc. Anugrah Ricky Wijaya, S.Si., M.Sc. Kata Kunci: instrumen asesmen, pemahaman konseptual, keterampilan proses sains, HOTS Kurikulum 2013 menuntut peserta didik untuk berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS). Keterampilan berpikir tingkat tinggi dapat diukur dengan menggunakan penilaian atau asesmen. Penilaian mencakup tiga aspek, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan, serta mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi. Namun demikian, fakta dilapangan masih tidak sedikit guru yang mempunyai kendala dalam menyusun asesmen berorientasi HOTS. Oleh karena itu, peneliti bermaksud mengembangkan instrumen asesmen pemahaman konseptual berorientasi HOTS dan keterampilan proses sains pada bahan kajian sifat keasaman larutan garam dan larutan buffer. Manfaat penelitian ini dapat digunakan oleh guru, praktisi, dan pengamat pendidikan untuk digunakan secara langsung atau tidak langsung dan digunakan sebagai prototipe untuk mengembangkan instrumen asesmen pemahaman konseptual berorientasi HOTS dan keterampilan proses sains. Penelitian ini menggunakan model 4D yang dikembangkan oleh Thiagarajan, dkk (1974) terdiri dari tahap membatasi (define), merancang (design), mengembangkan (develop), dan menyebarkan (disseminate). Penelitian dilakukan hanya sampai pada tahap mengembangkan serta tidak dilakukan uji coba terbatas kepada peserta didik. Pengumpulan data dilakukan melalui validasi berupa angket penilaian terhadap butir-butir asesmen. Analisis data menggunakan teknik perhitungan persentase hasil angket penilaian dengan mempertimbangkan saran serta masukan dari validator untuk mengetahui tingkat validitas dari instrumen asesmen yang telah dikembangkan. Hasil pengembangan instrumen asesmen pada bahan kajian sifat keasaman larutan garam dan larutan buffer terdiri dari 80 butir soal pemahaman konseptual dan 60 butir soal keterampilan proses sains. Instrumen pemahaman konseptual memiliki tingkat validitas 92,4%-98,4% (sangat valid) serta keterampilan proses sains memiliki tingkat validitas 94,7%-98,4% (sangat valid). Performansi/ tampilan instrumen asesmen memperoleh skor rata-rata 97,2% dengan kriteria sangat valid. Instrumen asesmen secara keseluruhan memenuhi kriteria sangat valid atau sangat layak digunakan untuk mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi dan keterampilan proses sains
SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS DARI KADMIUM(II) NITRAT DAN 2,2'-BIPIRIDINA DENGAN STOIKIOMETRI 1 : 3
Reaksi antara kadmium(II) perklorat dan 2,2’-bipiridina (C10H8N2, 2,2’-bipy) menghasilkan [Cd(C10H8N2)3](ClO4)2·0,5H2O dan [Cd(C10H8N2)3](ClO4)2·0,5H2O (C10H8N2). Kedua senyawa kompleks tersebut terdiri dari kation [Cd(C10H8N2)3]2+ dan anion pengimbang ClO4-. Ion [Cd(C10H8N2)3]2+ memiliki struktur oktahedral terdistorsi sedangkan ion ClO4- memiliki struktur tetrahedral. Ion nitrat dan perklorat merupakan basa konjugasi dari asam kuat yang dapat berlaku sebagai ligan atau anion pengimbang. Ion nitrat cenderung berlaku sebagai ligan. Oleh karena itu, senyawa kompleks kadmium(II) nitrat dengan 2,2-bipy mungkin memiliki struktur yang berbeda dibandingkan dengan kadmium(II) perklorat. Senyawa kompleks dari kadmium(II) nitrat dan 2,2’-bipy dengan stoikiometri 1 : 3 belum pernah disintesis. Tujuan dari penelitian ini adalah mensintesis dan menentukan prediksi struktur dari senyawa tersebut. Berdasarkan struktur yang diperoleh, pola koordinasi ion nitrat dapat ditentukan. Senyawa kompleks disintesis dengan mereaksikan kadmium(II) nitrat dan 2,2’-bipy pada perbandingan mol 1 : 3 dalam metanol. Reaksi menghasilkan larutan tak berwarna yang dievaporasi pada suhu kamar untuk mendapatkan kristal. Titik lebur kristal diukur dengan alat ukur titik lebur Fischer Scientific. Datum ini dapat digunakan untuk menentukan keterbaruan dan kemurnian senyawa yang diperoleh. Analisis dengan SEM-EDX digunakan untuk mengetahui bentuk kristal, memperoleh presentase massa (%Wt) dan atom (%At) senyawa. Berdasarkan presentase atom (%At), perbandingan dari Cd(NO3)2 dan 2,2’-bipy dapat dihitung dan rumus empiris senyawa dapat ditentukan. Melalui spektrum FT-IR, ikatan antara atom-atom dalam senyawa kompleks dapat diidentifikasi. Uji daya hantar listrik (DHL) dan uji kualitatif ion nitrat digunakan untuk mengetahui jenis senyawa ionik atau molekuler. Berdasarkan hasil analisis, rumus dan kemungkinan struktur senyawa kompleks dapat diprediksi. Energi bebas dari setiap kemungkinan struktur dihitung dengan program Gaussian 09W. Senyawa kompleks yang diterima adalah struktur yang memiliki energi bebas terendah. Reaksi antara kadmium(II) nitrat dan 2,2’-bipy dengan perbandingan jumlah mol 1 : 3 dalam metanol menghasilkan kristal tak berwarna dan berbentuk batang. Kristal melebur pada suhu 208-210˚C. Titik lebur ini lebih tinggi dari titik lebur ligan 2,2’-bipy dan lebih rendah dari garam Cd(NO3)2 yang mengindikasikan bahwa kristal tersebut merupakan senyawa kompleks baru. Berdasarkan presentase atom (%At), perbandingan Cd(NO3)2 dan 2,2’-bipy yakni 1 : 3 dengan rumus empiris senyawa kompleks adalah C30H24CdN8O6. Serapan spektrum FT-IR pada 462,92 cm-1 merupakan vibrasi ulur ikatan Cd-N yang menunjukkan 2,2’-bipy terkoordinasi dengan atom pusat. Tidak ada vibrasi ikatan Cd-O mengindikasikan bahwa ion nitrat tidak terkoordinasi dengan Cd(II). Hasil uji DHL dan uji kualitatif ion nitrat menunjukkan bahwa senyawa kompleks hasil sintesis merupakan senyawa kompleks ionik yang terdiri dari ion [Cd(C10H8N2)3]2+ dan NO3-. Senyawa kompleks yang diterima [Cd(C10H8N2)3](NO3)2 dengan kation [Cd(C10H8N2)3]2+ yang memiliki struktur oktahedral terdistorsi. Rata-rata energi bebas dari ikatan dalam senyawa ini adalah -25 kJ/mol. 
Pengembangan Tes Argumentasi Sifat Keelektrolitan untuk Survei Kemampuan Argumentasi Ilmiah pada Peserta Didik SMA
ABSTRAK Yunitasari, A’yunina. 2018. Pengembangan Tes Argumentasi Sifat Keelektrolitan untuk Survei Kemampuan Argumentasi Ilmiah pada Peserta Didik SMA. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Muntholib, S.Pd., M.Si., (II) Dr. Hayuni Retno Widarti, M.Si. Kata Kunci: tes argumentasi, sifat keelektrolitan, argumentasi ilmiah Istilah argumenmengacu pada artefak yang dibuat oleh peserta didik baiksecara individu atau berkelompok saat diminta untuk mengartikulasikan dan membenarkan klaim atau penjelasan, sedangkan istilah argumentasi mengacu pada proses membangun artefak tersebut. Argumen termasuk di dalam kerangka proses berfikir kritis dan inkuiri. Kemampuan argumentasi ilmiah penting dan sangat dibutuhkan dalam pembelajaran kimia sebagai kegiatan inti dalam proses penyelidikan yang mempengaruhi pemahaman peserta didik terhadap konsep kimia, salah satunya pada materi larutan elektrolit dan non elektrolit. Dalam konsep larutan elektrolit berhubungan erat dengan istilah daya hantar yang sering dikenal oleh peserta didik dalam lingkungan kesehariannya, sehingga dapat mendukung penempatan argumentasi di dalamnya. Akan tetapi evaluasi yang diberikan dalam pembelajaran belum mendukung untuk melatih peserta didik berargumen. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengembangkan tes argumentasi yang valid dan reliabel pada materi sifat keelektrolitan untuk peserta didik SMA yang mudah digunakan dan mudah dianalisis, (2) mendeskripsikan kemampuan argumentasi ilmiah peserta didik SMA. Rancangan ini termasuk desain penelitian dan pengembangan deskriptif untuk menghasilkan sebuah produk instrumen tes dengan pola argumentasi. Tahapan yang dilakukan yaitu studi pendahuluan, pengembangan draf produk, validasi isi, uji coba dan pengumpulan data. Analisis validitas dan reliabilitas soal ditentukan berdasarkan hasil uji coba terhadap 65 peserta didik SMA yang telah mempelajari materi sifat keelektrolitan sebelumnya. Sementara identifikasi kemampuan argumentasi ilmiah peserta didik dilakukan terhadap 35 orang peserta didik kelas X SMA Negeri 1 Blitar. Analisis data dilakukan dengan bantuan program SPSS 16.0 for Windows. Hasil validasi isi produk tes argumentasi yang dikembangkan diperoleh persentase rata-rata keseluruhan sebesar 85,8% dengan kriteria sangat layak. Validasi konstruk dilakukan dengan uji-t tes independen sebesar 2,124 (pada df = 63, t tabel 2,000). Hasil validasi butir soal diperoleh 29dari 40 butir soal pilihan bagian A yang valid dengan reliabilitas Cronbach’s Alpha 0,600 (kriteria cukup), 8 butir soal dengan angka korelasi Pearson sangat rendah dihilangkan, sedangkan 3 soal diperbaiki, serta 5 butir soal esai bagian B yang valid dengan reliabilitas Cronbach’s Alpha 0,852(kriteria sangat tinggi). Hasil survei menunjukkan bahwa kemampuan argumentasi ilmiah peserta didik pada aspek (a) menilai pernyataan argumentasi sebesar 55,3% yang berada pada kategori cukup, (b) menuliskan pernyataan argumentasi sebesar 54,4% berada pada kategori cukup, dengan rincian kemampuan membuat klaim dalam kategori baik (66,7%), kemampuan memaparkan bukti dalam kategori cukup (53,0%), dan kemampuan memberikan penalaran bukti sebagai penjelasan dalam kategori cukup (43,8%)
Analisis Tingkat Pencemaran Kontaminasi Fe pada Sedimen Prigi, Trenggalek Menggunakan Metode BCR Microwave Teroptimasi
ABSTRAK Kawasan pesisir Prigidi manfaatkan masyarakat dalam berbagai aktivitas, seperti pemukiman, pariwisata, transportasi, dan jasa pelabuhan. Pesatnya perkembangan wilayah serta aktivitas di kawasan pesisir Prigi ini dapat meningkatkan potensi pencemaran yang menyebabkan penurunan kualitas lingkungan perairan akibat polutan logam berat, seperti besi dalam sedimen. Konsentrasi besi yang tinggi dalam sedimen maupun air laut akan berdampak negatif pada ekosistem laut karena tumbuhan maupun biota laut dapat menyerap kelebihan Fe2+dansecara tidak langsung juga dapat membahayakan kesehatan manusia. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratoris dan survey lapangan yang dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu (1) penentuan titik sampling, (2) pengambilan dan preparasi sampel sedimen, (3) uji XRF sampel sedimen, (4) uji akurasi dan presisi metode BCR microwave (variasi daya dan waktu) dalam analisis Fe menggunakan sedimen referen (JMS-1) dansedimen Prigi, (5) fraksinasi dan distribusi keterikatan Fe dalam sedimen Prigi menggunakan metode BCR microwaveteroptimasi, serta (6) analisis tingkat pencemaran kontaminasi Fe pada sedimen Prigi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya dan waktu microwave metode BCR ini membantu memutuskan ikatan Fe dengan molekul atau senyawa disetiap fraksinya dengan daya dan waktu optimumnya masing-masing dalamme-leaching Fe secara maksimal. Penentuan konsentrasi Fe total dalam sedimen sampel juga dapat dianalisis dengan metode BCR microwave ini. Jumlah Fe terlarut pada lokasi wisata>lokasi sekitar kapal nelayan>lokasi konservasi Pondok Prigi. Kandungan total Fe di lokasi wisata berpotensi besar menyumbang pencemaran laut yang disebabkan oleh tingginya konsentrasi Fe dalam sedimen
Pengembangan Instrumen Penilaian Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA Kelas XI pada Materi Koloid
ABSTRAK Nirmala, Linda Ratna. 2018. Pengembangan Instrumen Penilaian Keterampilan Berpikir Kritis Siswa SMA Kelas XI pada Materi Koloid. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Herunata, S.Pd., M.Pd., (II) M. Muchson, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci: kemampuan berpikir kritis, instrumen penilaian, koloid Di era globalisasi abad ke 21, perubahan dan perkembangan teknologi semakin cepat menyebabkan siswa harus memiliki keterampilan berpikir kritis. Keterampilan berpikir kritis sangat dibutuhkan dalam kehidupan sehari-hari. Berpikir kritis harus dilatih sejak dini salah satu caranya ialah mengintegrasikan dalam pembelajaran kimia di sekolah. Salah satu materi yang berkaitan dalam kehidupan sehari-hari ialah materi koloid. Materi koloid yang bersifat konkrit akan lebih mudah dipahami apabila memiliki keterampilan berpikir kritis. Banyak penelitian yang telah mengkaji keterampilan berpikir kritis. Sejalan dengan hal itu, pengkajian tentu memerlukan instrumen yang dapat mengukur keterampilan berpikir kritis. Akan tetapi, instrumen yang digunakan belum mencerminkan keterampilan berpikir kritis siswa. Oleh sebab itu, diperlukan instrumen penilaian yang sesuai. Dengan demikian, peneliti bermaksud untuk menghasilkan instrumen penilaian yang dapat mengukur kemampuan berpikir kritis siswa SMA pada materi koloid. Instrumen penilaian keterampilan berpikir kritis yang dikembangkan menggunakan indikator-indikator berpikir kritis (Ennis, 1985: Ennis, 2011). Model pengembangan yang digunakan dalam pengembangan instrumen ini yaitu model Research & Development (R&D) menurut Borg dan Gall yang hanya sampai tahap ketujuh. Validasi dilakukan oleh dosen dan guru kimia dengan menggunakan angket kelayakan tampilan dan isi produk. Uji coba lapangan dilakukan pada 35 siswa kelas XI SMA. Dari hasil uji coba kemudian dianalisis menggunakan uji validitas butir soal, dan uji reliabilitas soal. Hasil pengembangan menghasilkan produk instrumen penilaian keterampilan berpikir kritis materi koloid. Hasil validasi draf produk diperoleh rata-rata nilai presentase sebesar 86% yang berarti sangat layak. Berdasarkan hasil analisis butir soal diperoleh 22 butir soal pilihan ganda dan, 17 butir soal esai yang valid. Reliabilitas yang diperoleh untuk soal pilihan ganda adalah 0,729, sedangkan reliabilitas untuk soal esai adalah 0,735. Reliabilitas kedua jenis soal termasuk dalam kategori tinggi