SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Identifikasi Keterampilan Argumentasi Ilmiah dan Korelasinya dengan Pemahaman Siswa pada Materi Larutan Penyangga.
ABSTRAK Sari, Amelia. 2018. Identifikasi Keterampilan Argumentasi Ilmiah dan Korelasinya dengan Pemahaman Siswa pada Materi Larutan Penyangga. Skripsi. Program Studi Pendidikan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Yahmin, S.Pd., M.Si., (II) Dr. Hj. Fauziatul Fajaroh, M.Si. Kata Kunci: keterampilan argumentasi ilmiah, pemahaman siswa, larutan penyangga Keterampilan berargumentasi ilmiah merupakan salah satu aktivitas ilmiah yang diperlukan dalam suatu proses pembelajaran. Keterampilan argumentasi ilmiah memainkan peran penting dalam menanamkan konsep-konsep ilmiah dan dapat digunakan untuk meningkatkan pemahaman siswa. Oleh karena itu, sangatlah penting untuk diketahui atau diidentifikasi sejauh mana tingkat keterampilan argumentasi ilmiah siswa pada pembelajaran kimia khususnya dalam materi larutan penyangga. Selain itu, keterampilan argumentasi ilmiah siswa diduga sangat berdampak terhadap pemahaman siswa terkait suatu konsep ilmu pengetahuan sehingga perlu diteliti pula kaitannya antara keterampilan argumentasi ilmiah dengan pemahaman siswa. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bagaimana keterampilan argumentasi ilmiah siswa pada materi larutan penyangga dan mendeskripsikan korelasi antara keterampilan argumentasi ilmiah siswa dengan pemahaman siswa pada materi yang sama yaitu larutan penyangga. Penelitian ini merupakan jenis penelitian survei. Metode yang digunakan dalam penelitian yaitu metode kuantitatif deskriptif. Sampel penelitian adalah siswa kelas XI SMA Negeri 1 Blitar dengan jumlah 61 siswa. Instrumen dalam penelitian ini terdiri dari dua bagian, (1) instrumen tes pemahaman siswa berupa instrumen diagnostik pilihan ganda dua tingkat dengan jumlah 10 soal dan (2) instrumen tes keterampilan argumentasi ilmiah yaitu dalam bentuk tes subjektif atau esai sebanyak 10 soal. Analisis mengenai keterampilan argumentasi ilmiah yaitu dengan mengkategorikan persentase keterampilan argumentasi ilmiah dengan mengacu pada kriteria yang dikembangkan oleh Heng, et al (2014). Sedangkan korelasi keterampilan argumentasi ilmiah dengan pemahaman siswa dianalisis dengan uji korelasi Pearson menggunakan bantuan program SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan argumentasi ilmiah siswa SMA Negeri 1 Blitar pada materi larutan penyangga termasuk dalam kategori kurang yaitu sebesar 31,50% dengan rincian sebagai berikut: (1) keterampilan membuat claim masuk dalam kategori kurang yaitu sebesar 36%; (2) keterampilan siswa dalam menguraikan data/bukti masuk dalam kategori kurang yaitu sebesar 31,33%; dan (3) keterampilan siswa dalam memberikan warrant/penjelasan masuk juga masuk dalam kategori kurang yaitu sebesar 27,83%. Keterampilan argumentasi ilmiah siswa berkorelasi sangat kuat dengan pemahaman siswa, ditunjukkan dengan koefisien korelasi sebesar 0,864
Pengaruh Penerapan Model Pembelajaran Process Oriented Guided Inquiry Learning (POGIL) Terhadap Hasil Belajar Kognitif dan Keterampilan Proses Sains Peserta Didik Kelas XI Pada Materi Larutan Penyangga
ABSTRAK Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterampilan proses sains peserta didik masih rendah. Rendahnya keterampilan proses sains peserta didik disebabkan oleh beberapa faktor antara lain kurangnya kemampuan guru untuk mengajarkan keterampilan proses sains sampai kegiatan belajar mengajar yang terjadi masih tradisional. Kondisi ini perlu diubah dengan menggunakan model pembelajaran yang menuntut siswa aktif berfikir, salah satunya dengan model POGIL. Model pembelajaran POGIL dapat meningkatkan keterampilan proses sains dan hasil belajar kognitif peserta didik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana keterlaksanaan model pembelajaran POGIL dan ekspositori, dan apakah model pembelajaran POGIL memberikan hasil yang lebih tinggi daripada model pembelajaran ekspositori terhadap hasil belajar kognitif dan keterampilan proses sains peserta didik pada materi larutan penyangga kelas XI SMA Negeri 2 Batu. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian semu dengan pasca tes (Quasy Experimental Design Posttest Only). Populasi penelitian mencakup semua peserta didik kelas XI MIPA SMA Negeri 2 Batu. Teknik pengambilan sampel menggunakan teknik cluster random sampling dengan ketentuan nilai kemampuan awal peserta didik di kelas XI MIPA memiliki varian yang homogen. Sampel penelitian meliputi kelas XI MIPA 1 sebagai kelas eksperimen yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran POGIL dan kelas XI MIPA 2 sebagai kelas kontrol yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran ekspositori. Data keterampilan proses sains dan hasil belajar kognitif peserta didik diperoleh dari kemampuan peserta didik menjawab soal tes pilihan jamak dan uraian. Data keterlaksanaan pembelajaran dan keterampilan proses sains peserta didik dianalisis dengan analisis deskriptif dan perbedaan hasil belajar kognitif peserta didik dianalisis dengan uji-t satu pihak menggunakan bantuan program SPSS 25 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) keterlaksanaan model pembelajaran POGIL dan ekspositori dikategorikan terlaksana dengan sangat baik, (2) model pembelajaran POGIL memberikan hasil yang lebih tinggi dibanding model pembelajaran ekspositori terhadap hasil belajar kognitif peserta didik pada materi larutan penyangga, dan (3) Keterampilan proses sains peserta didik rata-rata memberikan kriteria sangat baik pada model pembelajaran POGIL dan kriteria baik pada model pembelajaran ekspositori pada materi larutan penyangga
Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Larutan Penyangga kelas XI SMA Dengan Pendekatan Inkuiri Terbimbing d=yang Diperkaya Problem Solving
ABSTRAK Prastikasari, Ari. 2018. Pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) Kimia materi Larutan Penyangga untuk Kelas XI SMA dengan Pendekatan Inkuiri Terbimbing yang Diperkaya Problem Solving. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Suharti, S.Pd.,M.Si., (2) Dr. Fauziatul Fajaroh, M.S. Kata kunci : LKPD, Inkuiri Terbimbing, Problem Solving, Larutan Penyangga. Sejak tahun 2013 pendidikan di Indonesia mencanangkan kurikulum 2013 sebagai acuan dalam proses pembelajaran. Kurikulum 2013 merupakan kurikulum yang berorientasi pada pendekatan ilmiah. Salah satu model pembelajaran yang berorientasi pada pendekatan ilmiah adalah inkuiri terbimbing. Model pembelajaran inkuiri terbimbing merupakan model pembelajaran yang berfokus pada proses berpikir dan hasil, bukan pengetahuan kognitifnya saja. Ujian Nasional (UN) hanya mengutamakan pengetahuan kognitif sebagai penilaian ketuntasan belajar peserta didik. Rata-rata nilai UN pada tingkat nasional mata pelajaran kimia tahun 2016 masih rendah yaitu 59,93. Hal ini menunjukkan jika peserta didik mungkin kurang dapat mengimplementasikan pengetahuan yang didapatkan pada pembelajaran yang menggunakan pendekatan ilmiah dalam penyelesaian masalah. Salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memperkuat pengetahuan aspek kognitif peserta didik adalah mengintegerasikan model pembelajaran inkuiri terbimbing dengan model pembelajaran yang lain pada tahap application, yaitu dengan model pembelajaran problem solving. Berdasarkan hasil survei, belum ditemukan bahan ajar yang berorientasi pada model inkuiri terbimbing yang diperkaya dengan model problem solving. Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti melakukan pengembangan Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD) dengan pendekatan inkuiri terbimbing yang diperkaya dengan problem solving. Tujuan dari pengembangan LKPD ini adalah untuk menghasilkan LKPD materi larutan penyangga yang sesuai dengan kurikulum 2013 dan untuk mengetahui kelayakan bahan ajar yang dihasilkan. Pengembangan dilakukan dengan menerapkan model pengembangan 4D-Model dari Thiagarajan yang terdiridari 4 tahapan, yaitu penetapan (define), perancangan (design), pengembangan (develop), dan penyebaran (disseminate). Namun, pengembangan LKPD hanya dilakukan sampai tahap pengembangan (develop). Validasi LKPD dilakukan oleh satu dosen kimia dan satu orang guru kimia. Instrumen yang digunakan adalah lembar validasi berupa angket yang dilengkapi dengan kolom komentar atau saran terhadap LKPD. Uji keterbacaan dilakukan oleh 10 orang peserta didik kelas XI IPA. Berdasarkan hasil analisis data, LKPD yang dikembangkan sangat layak dengan rata-rata nilai 3,67 oleh validator dan 3,61 dari uji keterbacaan oleh peserta didik. Pengembangan lebih lanjut dapat dilakukan melalui uji keefektifan LKPD dengan sampel yang lebih luas untuk mengetahui pengaruh penggunaanya dalam meningkatkan ketuntasan belajar peserta didik
PERBEDAAN HASIL BELAJAR SISWA YANG DIBELAJARKAN MENGGUNAKAN MODEL PEMBELAJARAN LC 5E-STAD DAN MODEL PEMBELAJARAN LC 5E-TPS PADA MATERI KOLOID KELAS XI SMAN 5 MALANG
ABSTRAK Banyaknya materi yang harus dipelajari dalam kimia, menjadikan siswa mengalami kesulitan dalam mempelajarinya. Salah satu materi kimia yang dianggap sulit yaitu koloid. Masalah yang sering ditemukan dalam pembelajaran pada materi koloid adalah kurangnya kemampuan siswa dalam memahami bacaan, menganalisis informasi dan mengingat materi. Masalah tersebut yang membuat siswa mengalami kesulitan dalam mempelajari koloid. Alternatif yang dapat digunakan untuk mengatasi kesulitan siswa dalam mempelajari koloid dan ketidak tuntasan hasil belajar siswa dalam materi koloid dengan menggunakan model pembelajaran yang menekankan siswa aktif dalam proses pembelajaran. Maka diperlukan model pembelajaran yang bersifat student centered salah satunya adalah model pembelajaran Learning Cycle (LC). Dalam pembelajaran LC, siswa di tuntut untuk kerja secara kooperatif. Oleh karena itu, dalam penelitian ini ingin mengetahui perbedaan hasil belajar siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran LC 5E-STAD dengan model pembelajaran LC 5E-TPS pada materi koloid Rancangan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan eksperimen semu (Quasy Experimental Design). Dalam penelitian ini melibatkan dua kelas sebagai sampel penelitian. Dua kelas yang digunakan dalam penelitian ini merupakan kelas eksperimen. Satu kelas eksperimen diberi perlakuan berupa model pembelajaran LC 5E-STAD dan satu kelas eksperimen lainnya diberi perlakuan berupa model pembelajaran LC 5E-TPS. Penelitian ini dilakukan di SMAN 5 Malang pada kelas E-4 dan F-4 Kelas E-4 yang berjumlah 34 siswa sebagai kelas eksperimen diberlakukan model pembelajaran LC 5E-TPS dan kelas F-4 yang berjumlah 35 siswa sebagai kelas eksperimen diberlakukan model pembelajaran LC 5E-STAD, kedua kelas tersebut diberikan materi yang sama yaitu materi koloid. Instrumen yang digunakan dalam penelitian meliputi instrumen pembelajaran (Silabus, RPP, handout dan LKS) dan instrumen pengukuran (soal ulangan harian dan lembar observasi pembelajaran). Data yang diperoleh berupa penilaian keterlaksanaan proses pembelajaran, nilai afektif, nilai psikomotorik, nilai kuis dan hasil belajar dari ulangan harian Analisis data, dilakukan dengan analisis deskriptif dan uji-t pada signifikansi 5% dengan bantuan program SPSS Versi 25.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa:(1) Keterlaksanaan model pembelajaran LC 5E-STAD memiliki rata-rata sebesar 96,04% dan LC 5E-TPS sebesar 97,23%. (2) Terdapat perbedaan hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan LC 5E-STAD dan LC 5E-TPS. Rata-rata hasil belajar siswa yang dibelajarkan dengan LC 5E-TPS adalah 81,71, lebih tinggi dari siswa yang dibelajarkan dengan LC 5E-STAD yaitu sebesar 77,83. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar siswa pada materi koloid yang dibelajarkan dengan LC 5E-TPS lebih baik dari pada siswa yang dibelajarkan dengan LC 5E-STAD
ANALISIS PENGETAHUAN METAKOGNITIF SISWA SMA KELAS XII IPA PADA TOPIK KELARUTAN DAN HASIL KALI KELARUTAN
ABSTRAK Kurniawati, Rizki. 2018. Analisis Pengetahuan Metakognitif Siswa SMA Kelas XII IPApada Topik Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Effendy, M. Pd., Ph.D., (II) M. Muchson, S.Pd.,M.Pd. Kata Kunci:pengetahuan metakognitif, deklaratif, prosedural, kondisional, kelarutan dan hasil kali kelarutan. Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan merupakan salah satu topik dalam ilmu kimia yang diajarkan kepada siswa SMA/MA kelas XI IPA. Topikini meliputikesetimbangan yang terjadi dalam larutan jenuh, kelarutan, hasil kali kelarutan, meramalkan pengendapan, serta pengaruh ion senama terhadap kelarutan. Selama ini pemahaman siswa terkait topik Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan selalu dikaitkan dengan pemahaman konseptual dan algoritmik. Faktanya, untuk dapat memahami topik Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan secara utuh, tidak hanya memerlukan pemahaman konseptual dan algoritmik, melainkan juga memerlukan pengetahuan kondisional.Pemahaman konseptual berhubungan dengan pengetahuan deklaratif, sedangkan pemahaman algoritmik berhubungan dengan pengetahuan prosedural.Pengetahuan deklaratif, prosedural, dan kondisional merupakan pengetahuan metakognitif. Pada kurikulum 2013, pengetahuan metakognitif adalah salah satu dimensi pengetahuan yang harus dikuasai oleh siswa. Penelitian yang bertujuan untuk mengukur pemahaman siswa yang mengacu pada pengetahuan metakognitif belum banyak dilakukan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan tingkat pengetahuan deklaratif, prosedural, dan kondisional siswa pada topik Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Subjek penelitian adalah siswa kelas XII IPA 1 dan XII IPA 3 SMA Negeri Tempeh yang berjumlah 61 siswa. Data penelitian adalah skor tes pengetahuan metakognitif siswa. Data tersebut dikumpulkan menggunakan instrumen yang terdiri dari 7 item soal deklaratif, 3 item soal prosedural, dan 2 item soal kondisional. Validitas butir soal dianalisis menggunakan korelasi Momen Pearson. Hasil analisis menunjukkan bahwa semua butir soal valid. Koefisien reliabilitas instrumen, dihitung dengan menggunakan Alpha Conbrach, sebesar 0,65 untuk soal deklaratif dan 0,67untuk soal prosedural dan kondisional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan deklaratif dan prosedural siswa pada topik Kelarutan dan Hasil Kali Kelarutan termasuk dalam kategori rendah, sedangkan pengetahuan kondisional siswa termasuk dalam kategori sangat rendah. Pengetahuan prosedural siswa lebih tinggi dibandingkan dengan pengetahuan deklaratif dan kondisional siswa.Hal ini kemungkinan disebabkan oleh proses pembelajaran kimia di sekolah lebih menekankan pada aspek algoritmik
Efektivitas Model Pembelajaran Learning Cycle 6 Fase untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Kelas XI SMAN 1 Pandaan pada Materi Hidrolisis Garam dan Larutan Penyangga
ABSTRAK Yunitasari, Isnaini. 2017. Efektivitas Model Pembelajaran Learning Cycle 6 Fase untuk Meningkatkan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Kelas XI SMAN 1 Pandaan pada Materi Hidrolisis Garam dan Larutan Penyangga. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Endang Budiasih, M.S., (II) Drs. H. Dermawa Afandy, M.Pd. Kata Kunci: model pembelajaran Learning Cycle 6 Fase, kemampuan berpikirtingkat tinggi, hidrolisis garam dan larutan penyangga Pembelajaran kimia saat ini tidak hanya untuk pengalihan pengetahuan dan keterampilan saja, namun juga untuk membangun kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa. Kemampuan berpikir tingkat tinggi menurut Taksonomi Bloom Revisi meliputi kemampuan menganalisis (C4), mengevaluasi (C5), dan membuat/menciptakan (C6). Berdasarkan hasil tes PISA Tahun 2012, rata-rata kemampuan sains siswa Indonesia hanya 382, sedangkan rata-rata kemampuan sains internasional sebesar 501. Hal ini membuktikan bahwa kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa Indonesia pada cabang ilmu sains, termasuk kimia, masih tergolong rendah. Kemampuan berpikir tingkat tinggi tidak dapat dimiliki secara langsung oleh siswa, melainkan harus melalui latihan. Berdasarkan hasil wawancara dengan guru kimia SMAN 1 Pandaan dan hasil analisis soal ulangan harian materi larutan penyangga dan hidrolisis garam yang diujikan ke siswa oleh Nuryana Wahyuning Sari saat melaksanakan penelitian di SMAN 3 Malang pada tahun ajaran 2013/2014, dapat disimpulkan bahwa siswa kurang terlatih mengerjakan soal-soal kemampuan berpikir tingkat tinggi, khususnya pada materi hidrolisis garam dan larutan penyangga. Salah satu cara untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa, yaitu siswa dibelajarkan dengan model pembelajaran yang menganut paradigma konstruktivistik, seperti model pembelajaran Learning Cycle 6 Fase yang memberikan kebebasan siswa untuk menggali dan membangun pemahamannya secara mandiri serta aktif dalam berpikir dan beraktivitas. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) Untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 6 Fase dengan metode pembelajaran konvensional pada materi hidrolisis garam dan larutan penyangga (2) Untuk mengetahui efektivitas model pembelajaran Learning Cycle 6 Fase untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa pada materi hidrolisis garam dan larutan penyangga. Rancangan penelitian yang digunakan adalah rancangan penelitian kuantitatif eksperimental semu dengan pretes dan pascates dalam dua kelompok (quasi experimental pretest-pascatest). Populasi penelitian adalah semua siswa kelas XI IPA SMAN 1 Pandaan. Pengambilan sampel ditentukan dengan teknik cluster random sampling dan terpilih dua kelas, yaitu kelas XI IPA 7 sebagai kelas ekperimen (kelas yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle 6 fase) yang berjumlah 30 siswa dan kelas XI IPA 3 sebagai kelas kontrol (kelas yang dibelajarkan dengan metode pembelajaran konvensional) yang berjumlah 32 siswa. Instrumen Penilaian yang digunakan meliputi instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Instrumen perlakuan terdiri dari: (1) Silabus (2) RPP (3) LKS, sedangkan instrumen pengukuran terdiri dari: (1) Tes (2) Kuis (3) Lembar Observasi. Analisis data yang digunakan terdiri dari: (1) Analisis deskriptif untuk nilai kuis dan keterlaksanaan pembelajaran. (2) Analisis ANCOVA untuk menguji apakah ada perbedaan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 6 Fase dengan metode pembelajaran konvensional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) Ada perbedaan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 6 Fase dengan siswa yang dibelajarkan menggunakan metode pembelajaran konvensional pada materi hidrolisis garam dan larutan penyangga. Hal ini dapat ditunjukkan dari hasil uji kesamaan dua rata-rata data pretes yang memiliki signifikansi (0,738) lebih besar dari 0,050, sehingga data pretes kedua kelas tidak berbeda, sedangkan rata-rata nilai pascates siswa pada kelas eksperimen (89,91) lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (83,04). (2) Model pembelajaran Learning Cycle 6 Fase efektif untuk meningkatkan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa pada materi hidrolisis garam dan larutan penyangga. Hal ini ditunjukkan dari rata-rata nilai pascates kelas eksperimen lebih tinggi dari kelas kontrol, jumlah siswa yang nilai pascatesnya lebih dari KKM pada kelas eksperimen (27 dari 30 siswa) lebih banyak dibandingkan kelas kontrol (23 dari 32 siswa), nilai rata-rata gain score kelas eksperimen (55,56) lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (49,53), dan rata-rata persentase nilai kuis kelas eksperimen (87,92%) lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (77,35%)
Perbedaan Hasil Belajar kognitif Siswa Kelas XI MIA MAN 1 Malang yang Dibelajarkan dengan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Kolaboratif dan Inkuiri Terbimbing Non-Kolaboratif pada Materi Larutan Penyangga (Buffer)
ABSTRAK Safitri, Mentari, A. D. 2017. Perbedaan Hasil Belajar kognitif Siswa Kelas XI MIA MAN 1 Malang yang Dibelajarkan dengan Model Pembelajaran Inkuiri Terbimbing Kolaboratif dan Inkuiri Terbimbing Non-Kolaboratif pada Materi Larutan Penyangga (Buffer). Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang, Pembimbing : (I) Drs Ridwan Joharmawan, M.Si, (II) Drs. Sodiq Ibnu, M.Si. Kata Kunci : Inkuiri Terbimbing, Kolaboratif, Hasil Belajar, Larutan Penyangga (Buffer) Larutan penyangga memuat konsep-konsep yang pada umunya sulit dipahami oleh siswa. Berdasarkan beberapa penelitian yang telah dilakukan sebelumnya, inkuiri terbimbing dapat memberikan pengaruh terhadap hasil belajar kognitif pada materi Larutan Penyangga. Keterbatasan pembelajaran inkuiri terbimbing yaitu siswa membutuhkan waktu lebih lama dalam proses pembelajaran sedangkan waktu guru terbatas. Selain itu kemampuan siswa dalam memahami materi berbeda. Kekurangan tersebut dapat diatasi dengan penerapan pembelajaran kolaboratif. Pada pembelajaran kolaboratif, diawali dengan kegiatan individu, kemudian kegiatan kelompok dan dilanjutkan dengan kegiatan individu kembali. Kolaborasi antara siswa memungkinkan siswa berinteraksi dengan kelompoknya. Tujuan penelitian ini adalah untuk membedakan hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan dengan inkuiri terbimbing dan inkuiri terbimbing kolaboratif pada materi Larutan Penyangga (Buffer). Penelitian ini menggunakan rencana penelitian eksperimental semu (quasy experimental design). Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa kelas XI MAN 1 Malang. Penentuan sampel dalam penelitian ini dilakukan secara cluster random sampling. Pada kelas kontrol dibelajarkan dengan inkuiri terbimbing, sedangkan di kelas ekperimen dibelajarkan dengan inkuiri terbimbing kolaboratif. Instrumen yang digunakan adalah instrumen perlakukan berupa silabus, RPP, dan tes kemampuan kognitif sebanyak 30 butir soal dengan reliabilitias 0,769. Pada penelitian ini diperoleh data lembar keterlaksanaan proses pembelajaran dan hasil belajar kognitif yang dianalisis statistik kuantitatif berupa uji-t pada signifikasi 0,05. Berdasarkan hasil penelitian, diperoleh hasil bahwa terdapat perbedaan yang signifikan antara hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan dengan model inkuiri terbimbing dan inkuiri terbimbing kolaboratif pada materi Larutan Penyangga. Siswa yang dibelajarkan dengan model inkuri terbimbing kolaboratif memperoleh rata-rata hasil belajar sebesar 71,91, sedangkan siswa yang dibelajarkan dengan inkuiri terbimbing memperoleh hasil belajar sebesar 64,76
Analisis Keterlaksanaan Pembelajaran Inkuiri Guru Kimia SMA di Kota Malang
ABSTRAK Asmi, Isnaeni Khusnia. 2017. Analisis Keterlaksanaan Pembelajaran Inkuiri Guru Kimia SMA di Kota Malang. Skripsi. Jurusan Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Oktavia Sulistina, S,Pd., M.Pd. (II) Drs. Mohammad Sodiq Ibnu, M.Si. Kata Kunci: model pembelajaran inkuiri, kota Malang, keterlaksanaan, guru kimia Kurikulum 2013 menuntut pembelajaran dilaksanakan berbasis aktivitas dengan karakteristik inspiratif, memotivasi peserta didik untuk berpartisipasi aktif, kontekstual, dan sesuai dengan bakat/minat peserta didik. Implementasi dari kurikulum 2013 mengamanatkan keseimbangan antara sikap, keterampilan, dan pengetahuan, yang artinya proses pembelajaran kimia tidak hanya untuk menguasai pengetahuan kimia sebagai produk, tetapi juga untuk menguasai sikap ilmiah, proses ilmiah dan penerapan kimia dalam kehidupan sehari-hari. Terkait dengan hal tersebut, maka pembelajaran inkuiri ditujukan untuk mengembangkan potensi peserta didik agar memiliki kemampuan mengembangkan keterampilan berpikir dan keterampilan proses sains. Salah satu kemampuan yang harus dimiliki guru adalah bagaimana merancang suatu strategi pembelajaran yang sesuai dengan tujuan yaitu dengan menggunakan model pembelajaran inkuiri, sehingga tujuan penelitian ini untuk menganalisis keterlaksanaan pembelajaran inkuiri yang dilakukan oleh guru kimia. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Pengumpulan data diambil melalui kuesioner dan wawancara yang diberikan kepada responden. Kuesioner terdiri dari 16 pertanyaan berkaitan dengan kegiatan pembelajaran yang menggunakan model pembelajaran inkuiri. Pedoman wawancara terdiri dari 10 soal mengenai pengalaman menerapkan pembelajaran inkuiri. Responden dalam penelitian ini adalah guru kimia SMA di Kota Malang yang telah menerapkan pembelajaran inkuiri. Terdapat 19 responden (4 laki-laki dan 15 perempuan). Analisis data untuk kuesioner dihitung berdasarkan persentase keterlaksanaan tahapan inkuiri dari masing-masing responden, dan untuk hasil wawancara dengan mengkoding data dan mengelompokkan tema. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran inkuiri yang dilakukan oleh guru kimia SMA di Kota Malang sebesar 74,7% dengan kriteria cukup baik. Tiga sekolah tergolong kriteria cukup baik, dua sekolah tergolong kriteria kurang baik dan satu sekolah tergolong kriteria baik. Pada proses pembelajaran inkuiri masih terdapat beberapa kendala yang dialami oleh guru kimia saat menerapkan pembelajaran inkuiri yaitu kesiapan guru, keterlibatan peserta didik, dan kurangnya alokasi waktu untuk mata pelajaran kimia
Pengembangan Bahan Ajar Kurikulum 2013 Berbasis Inkuiri Terbimbing pada Materi Sifat Koligatif Larutan untuk Siswa Kelas XII SMA
ABSTRAK Dinastiti, Daniar. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Kurikulum 2013 Berbasis Inkuiri Terbimbing pada Materi Sifat Koligatif Larutan untuk Siswa Kelas XII SMA. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Siti Marfu’ah, M.S, (II) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D. Kata Kunci : bahan ajar, inkuiri terbimbing, sifat koligatif larutan Kurikulum 2013 menekankan pada pembentukan kompetensi dan karakter siswa. Proses pembelajaran di kelas pada Kurikulum 2013 menggunakan pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik ini dapat membantu siswa untuk lebih memahami pelajaran terutama mata pelajaran rumpun sains. Salah satu mata pelajaran rumpun sains adalah kimia. Banyak siswa mengeluhkan kurang dapat memahami materi kimia, misalnya pada materi sifat koligatif larutan. Hal ini disebabkan bahan ajar yang digunakan masih menjelaskan secara deskriptif, diikuti rumus-rumus serta contoh soal. Bahan ajar yang beredar juga kurang sesuai dengan Kurikulum 2013. Selain itu ketersediaan bahan ajar yang sesuai dengan karakteristik Kurikulum 2013 jumlahnya masih terbatas. Siswa membutuhkan bahan ajar yang dapat membantu mereka membangun pengetahuan. Salah satunya dengan menggunakan bahan ajar berbasis inkuiri terbimbing. Langkah-langkah dalam inkuiri terbimbing dapat membantu siswa untuk membangun pemahaman mereka. Penelitian pengembangan ini bertujuan untuk mengembangkan bahan ajar yang sesuai kebutuhan siswa dan tuntutan Kurikulum 2013. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian pengembangan ini adalah Four-D Model (Model 4D) Thiagarajan, dkk (1974). Model Four-D Model (Model 4D) terdiri dari empat tahap yaitu tahap define (membatasi), design (merancang), develop (mengembangkan), dan disseminate (menyebarkan). Pengembangan bahan ajar hanya dilakukan pada tahap define (membatasi), design (merancang), develop (mengembangkan). Tahap disseminate (menyebarkan) tidak dilakukan. Bahan ajar yang dikembangkan berupa buku siswa dan buku guru. Bahan ajar yang dikembangkan diuji kelayakannya oleh validator yang terdiri dari satu dosen kimia dan dua guru kimia SMA. Selain itu juga dilakukan uji keterbacaan pada siswa. Bahan ajar termasuk dalam kategori layak iika skor hasil validasi lebih besar dari 61%. Data validasi yang diperoleh yaitu data kualitatif dan kuantitatif. Data kualitatif berupa komentar dan saran dari validator. Data kuantitatif berupa nilai rata-rata angket dari validator dan hasil uji keterbacaan. Hasil validasi untuk buku siswa dan buku guru yang dilakukan oleh tiga validator menghasilkan nilai rata-rata masing-masing 84,08% dan 84,81%. Hasil uji keterbacaan oleh 15 siswa kelas 15 MIA 7 SMAN 1 Malang memiliki rata-rata sebesar 81,44%. Mengacu pada kriteria kelayakan oleh Riduawan (2007:15) ketiga skor tersebut termasuk dalam kategori sangat layak digunakan pada kegiatan pembelajaran
Pengembangan Media Pembelajaran Kesetimbangan Kimia Berbasis Android untuk SMA/MA IPA
ABSTRAK Agustin, Ratna Ayu. 2017. Pengembangan Media Pembelajaran Kesetimbangan Kimia Berbasis Android untuk SMA/MA IPA. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Munzil, S.Pd., M.Si. (II) Dr. Nazriati, M.Si. Kata Kunci: Pengembangan, Media Pembelajaran, Android, Kesetimbangan Kimia Penelitian dan pengembangan media pembelajaran ini bertujuan untuk menghasilkan media pembelajaran berbasis android pada materi kesetimbangan kimia yang valid dan layak untuk digunakan. Penelitian didasari oleh beberapa alasan, yaitu: (1) materi kesetimbangan kimia merupakan konsep yang abstrak dan mendasari konsep lain dalam kimia; (2) peserta didik mengalami kesulitan dan kesalahpahaman dalam mempelajari kesetimbangan kimia; (3) media pembelajaran berbasis android dapat meningkatkan motivasi belajar peserta didik; dan (4) media pembelajaran berbasis android dapat diakses dengan mudah dan cepat oleh peserta didik. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian dan pengembangan, yang mengacu pada model 4-D (four D-models) yang meliputi 4 tahap, yaitu define (perencanaan), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran). Penelitian dan pengembangan ini terbatas pada tahap define, design, develop tanpa melakukan tahap disseminate. Media Pembelajaran hasil pengembangan divalidasi oleh 2 validator yaitu seorang dosen Kimia Universitas Negeri Malang dan seorang guru Kimia MAN 3 Malang, dan uji coba dilakukan pada 10 peserta didik kelas XI IPA MAN 3 Malang. Data hasil validasi dan uji coba terdiri dari dua jenis yaitu data kuantitatif diperoleh dari perhitungan nilai rata-rata untuk mengetahui kelayakan media pembelajaran dan data kualitatif berupa komentar dan saran dari validator untuk memperbaiki media pembelajaran yang dikembangkan. Produk hasil pengembangan berupa media pembelajaran berbasis android berbentuk aplikasi dengan format apk pada materi kesetimbangan kimia. Media pembelajaran yang dikembangkan ini bersifat fleksibel dan interaktif. Selain itu media pembelajaran dapat dijalankan secara linear maupun non linear. Aplikasi berukuran 32 Mb ini berisi teks, gambar, animasi, video, peta konsep, latihan soal, dan kuis. Validasi media pembelajaran meliputi validasi media dan validasi materi dengan rata-rata yang diperoleh dari validasi media adalah 93% sedangkan untuk validasi materi adalah 95%. Hasil penilaian pada uji coba kelompok kecil adalah 89%. Berdasarkan hasil validasi dan uji coba kelompok kecil diketahui bahwa media pembelajaran berbasis android pada materi kesetimbangan kimia valid dan layak untuk digunakan sebagai media pembelajaran