SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
PEMBUATAN MATRIKS SILIKA-KARAGENAN DAN ANALISIS KEMAMPUAN ADSORPSINYA TERHADAP RHODAMIN B, TARTRAZIN DAN CAMPURANNYA
ABSTRAK Indriani, Dini. 2017. Pembuatan Matriks Silika-karagenan dan Analisis Kemampuan Adsorpsinya Terhadap Rhodamin B, Tartrazin dan Campurannya. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri malang. Pembimbing: (I) Dr. Irma Kartika Kusumaningrum, S.Si., M.Si., (II) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D. Kata Kunci: Adsorpsi, Rhodamin B, Tartrzin, Karagenan (kappa karagenan) Silika (SiO2) merupakan salah satu bahan yang sangat penting dalam industri. Silika dapat dimanfaatkan sesuai dengan sifat dan karakteristiknya. Pemanfaatan silika ataupun silika yang telah termodifikasi sebagai adsorben telah banyak diteliti yaitu silika yang telah termodifikasi dengan penambahan selulosa dan surfaktan. Pada penelitian inidibuat kombinasi silika dengan karagenan yang bertujuan untuk mengeksplore pemanfaatan silika yang telah dimodifikasi yaitu sebagai binder zat warna dan dikaji kemampuan adsorpsinya terhadap Rhodamin B dan tartrazin. Tujuan penelitian ini (1) mengetahui karakteristik fisik matriks silika-karagenan berdasarkan hasil analisis FT-IR (Fourier Transform Infra-Red), SEM, penentuan massa jenis, kadar air, kadar abu, dan daya serap terhadap iod, (2) menentukan daya adsorpsi matriks terhadap Rhodamin B, tartrazin, dan campurannya dengan metode adsorpsi Batch dan KLT (Kromatografi Lapis Tipis). Penelitian ini merupakan penelitian eksperimental yang dilakukan di laboratorium Jurusan Kimia, Universitas Negeri Malang. Penelitian yang dilakukan terdiri dari tiga tahap, meliputi (1) pembuatan silika-karagenan (2) karakterisasinya yang meliputi massa jenis, uji kadar air, uji kadar abu, SEM, dan FT-IR, (3) uji kemampuan adsorpsi matriks terhadap rhodamin B dan tartrazindengan metode Batch dan KLT. Hasil penelitian ini adalah (1) silika-karagenan memiliki kadar air 2,089%, kadar abu 81,773%, massa jenis 1,780g/mL, dan daya serap terhadap larutan iod 21,830%, berdasarkan hasil analisis FT-IR tidak terdapat indikasi terjadinya interaksi kimia antara silika dan karagenan yang ditandai dengan tidak adanya puncak baru yang nampak pada spektrum FT-IR setelah proses pencampuran, hasil analisis SEM menunjukkan bahwa morfologi permukaan silika-karagenan berbentuk gumpalan atau globular, (2) daya adsorpsi matriks silika-karagenan pada larutan rhodamin B lebih besar dibandingkan dengan daya adsorpsi matriks terhadap larutan tartrazin. Rhodamin B dan tartrazin pada campuran rhodamin B-tartrazin dapat dipisahkan dengan baik pada silika-karagenan dengan nilai Rf lebih rendah dibandingkan dengan Rftarrazin. Adsorpsi batch terhadap larutan rhodamin B dan tartrazin dengan silika-karagenan menyebabkan kosentrasi tartrazin pada adsorbat meningkat, hal ini terjadi karena adanya penarikan molekul air oleh silika-karagenan yang lebih kuat dibandingkan penarikan tartrazin, sedangkan kosentrasi rhodamin B menurun karena silika-karagenan lebih kuat mengikat rhodamin B dibandingkan tartrazin
Nanopartikel Magnetit Termodifikasi Asam Salisilat dan Aplikasinya Sebagai Adsorben Malasit Hijau
Nanopartikel magnetit merupakan partikel yang memiliki sifat magnetik. Nanopartikel magnetit sangat tepat dijadikan sebagai adsorben karena ukuran partikel yang berada pada skala nanometer sehingga memiliki luas permukaan besar dan menguntungkan sebagai adsorben. Proses adsorpsi menggunakan nanopartikel magnetit dapat diaplikasikan pada larutan malasit hijau yang merupakan zat warna berbahaya. Untuk meningkatkan daya adsorpsinya terhadap malasit hijau yang merupakan zat warna kationik, magnetit perlu dimodifikasi permukaannya dengan bahan yang meningkatkan muatan negatif permukaan. Bahan tersebut antara lain asam salisilat. Gugus C=O pada asam salisilat membuat permukaan magnetit makin negatif. Tujuan penelitian ini adalah (1) Memodifikasi nanopartikel magnetit dengan asam salisilat dan mengetahui karakteristiknya, (2) Mengetahui pengaruh variasi waktu kontak, konsentrasi awal adsorbat, serta suhu terhadap daya adsorpsi nanopartikel magnetit termodifikasi pada malasit hijau, (3) Mengetahui model isoterm adsorpsi, kinetika adsorpsi dan besaran termodinamika pada adsorpsi malasit hijau oleh magnetit yang dimodifikasi. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap. Pertama, proses sintesis nanopartikel magnetit dengan metode elektrokimia. Kedua, nanopartikel magnetit hasil sintesis dimodifikassi dengan asam salisilat. Hasil sintesis kemudian dikarakterisasi dengan XRD, FTIR, SEM dan BET. Ketiga, menguji kemampuan magnetit termodifikasi mengadsorpsi malasit hijau pada berbagai variasi waktu kontak, konsentrasi awal adsorbat, dan suhu. Hasil analisis XRD menunjukkan bahwa magnetit termodifikasi mengalami penurunan kristalinitas dibandingkan yang tidak termodifikasi. Hasil analisis FT-IR menunjukkan vibrasi gugus C=O pada panjang gelombang 1440,82 cm-1 dan 1550,77 cm-1 yang membuktikan bahwa magnetit telah termodifikasi oleh asam salisilat. Hasil analisis SEM diperoleh ukuran partikel magnetit 28,24 nm dan magnetit termodifikasi 43,56 nm. Luas permukaan magnetit dengan menggunakan metode BET adalah 72 m2/g dan magnetit termodifikasi 88 m2/g. Sedangkan, daya adsorpsi magnetit termodifikasi dipengaruhi oleh waktu kontak, konsentrasi awal adsorbat dan suhu. Mekanisme adsorpsinya memenuhi model Isoterm Freundlich. Proses adsorpsi berlangsung spontan dan endotermik serta mengikuti model kinetika orde dua semu
EKSTRAKSI, IDENTIFIKASI DAN UJI AKTIVITASANTIOKSIDAN DANSUNSCREENEKSTRAK DESTILAT-PREMIUM DAN KLOROFORM MELON ORANGE DAN KUNING (Cucumis melo. Linn)
ABSTRAK Dinia, N.N. 2018. Ekstraksi, Identifikasi, dan Uji Aktivitas Antioksidan danSunscreen Ekstrak Destilat Premium dan Kloroform Melon Orange danKuning (Cucumis melo. Linn). Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematikadan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Dr. H. Sutrisno, M.Si., (II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si. Kata Kunci: antioksidan, sunscreen, melon orange, melon kuning, ekstrakdestilat premium, ekstrak kloroform. Salah satu buah-buahan berwarna yang populer dikalangan masyarakat Indonesia adalah melon. Varietas melon banyak dikembangkan seperti melon orange (rock melon) dan melon kuning (golden melon). Secara struktur, zat warna untuk senyawa organik disebabkan karena adanya komponen senyawa yang memiliki ikatan ganda C=C terkonjugasi lebih dari empat. Senyawa yang memiliki banyak ikatan ganda C=C terkonjugasi umumnya merupakan senyawa yang mudah teroksidasi, sehingga dapat berpotensi sebagai antioksidan. Hasil penelitian yang pernah dilakukan menunjukkan bahwa ekstrak metanol buah melon orange memiliki kandungan fitokimia berupa flavonoid, fenolik, saponin, terpenoid, dan karotenoid yang aktif sebagai antioksidan. Penelitian ini menggunakan pelarut dengan kepolaran rendah yaitu destilat premium dan kloroform yang diharapkan mampu mengekstrak senyawa yang tidak terekstrak da;am pelarut polar. Penelitian ini bertujuan untuk (1) Mengekstrak zat warna dari daging buah melon orange dan kuning dengan pelarut destilat premium dan kloroform (2) Mengidentifikasi karakteristik zat hasil ekstraksi (3) Menentukan aktivitas antioksidan dan sunscreen zat hasil ekstraksi. Penelitian ini adalah penelitian deskriptif laboratorik yang dilakukan di laboratorium yang terdiri dari empat tahap. Tahap 1 preparasi sampel rock melon dan golden melon meliputi pengumpulan, pengupasan, serta pemotongan melon. Tahap 2 ekstraksi zat warna dalam sampel: meliputi ekstraksi secara maserasi dan teknik soxhlet. Tahap 3 karakterisasi dan identifikasi zat warna hasil ekstraksi. Karakterisasi meliputi wujud, warna, titik lebur, derajat ketidakjenuhan, analisis kromatografi lapis tipis (KLT), interpretasi spektrum UV-VIS dan FTIR. Tahap 4: uji aktivitas zat warna hasil ekstraksi sebagai antioksidan dan sunscreen. Ekstrak destilat premium melon orange dan kuning yang didapat masing-masing berupa padatan lunak berwarna orange kecoklatan dengan titik lebur berturut-turut 28-31°C dan 28-35°C. Ekstrak kloroform melon orange dan kuning berupa padatan berwarna orange dengan titik lebur 37-63°C dan 35-70°C. Interpretasi spektrum IR menunjukkan ekstrak destilat premium dan kloroform melon orange memiliki gugus –OH (ikatan hidrogen), C=O ester, dan C=C alkena. Yang membedakan adalah ekstrak kloroform melon orange memiliki gugus –NH dan ekstrak destilat premium tidak. Ekstrak destilat premium dan kloroform melon kuning masing-masing memiliki gugus –OH (ikatan hidrogen), C=O keton, dan C=C alkena. Uji aktivitas antioksidan menggunakan metode peredaman DPPH terhadap ekstrak-ekstrak ini menunjukkan tidak aktif antioksidan (nilai KP50 ekstrak destilat premium sebesar 7276,47 dan 2850 mg.L-1 dan ekstrak kloroform 5360,88 dan 3993,83 mg.L-1). Uji aktivitas sunscreen menggunakan spektrofotometri menunjukkan ekstrak-ekstrak ini tidak aktif sunscreen (SPF ekstrak destilat premium sebesar 0,73 dan 0,33 dan ekstrak kloroform sebesar 1,6 dan 0,73). SUMMARY Dinia, N.N. 2018. Extraction, Identification, and Antioxidant and SunscreenScreenig of Gasoline Destillate and Chloroform Extracts from Orange andYellow Melon (Cucumis melo. Linn). Bachelor Thesis, Departement ofChemistry, Faculty of Mathematics and Natural Science, State Univesity ofMalang, Advisors: (I) Dr. H. Sutrisno, M.Si., (II) Dra. DedekSukarianingsih, M.Pd., M.Si. Kata Kunci: antioxidant, sunscreen, orange melon, yellow melon, premiumdestillate extract, chloroform extract. One of the popular fruits among Indonesian people is a melon. There area lot of varieties which are grown such as orange melon called rock melon andyellow melon called golden melon. Structurally, the colour of an organiccompound is due to the component of a compound having double knotsconjugated C=C for more than four times. A compound which has several doubleknots conjugated C=C usually is a compound which is easily oxidized, so itpotentially becomes an antioxidant. The result of the research shows thatphytochemical contains of methanol extract in an orange melon in the form offlavonoids, phenolics, saponins, terpenoids and carotenoid which are active as anantioxidant. This study used a solvent with low polarity, which are gasolinedistillate and chloroform, is expected to be able to extract chemical compoundswhich are not well extracted in the polar solvent. This research aims (1) to extractthe colour of an orange melon and yellow melon with gasoline distillate solventand chloroform (2) to identify the characteristics of the extraction, and (3) todetermine the activities of antioxidant and sunscreen from the extraction. This research is descriptive laboratory research conducted in a laboratory whichhave four steps. Step 1 preparing the sample of rock melon and golden melonincluding collecting, pilling, and cutting the melons. Step 2 extracting the colourof the sample including a maceration extraction and soxhlet technique. Step 3characterizing and identifying the result of the colouring extraction. Thecharacterization includes shape, colour, melting point, degree of unsaturation,analysis of Thin Layer Cromatography (TLC), interpreting spectrum UV-VIS andFTIR. Step 4 screening the extraction colour as the antioxidant and sunscreen.Gasoline distillate extract from orange and golden melon are in the form ofsoft solids with orange-brown color which has melting point 28-31°C and 28-35°C. Chloroform extract of orange and golden melon are soft solids with orangeand yellow colour which has melting point 37-63°C and 35-70°C. Based on IRinterpretation gasoline distillate and chloroform extract, an orange melon has apack of –OH (hydrogen bond), C=O ester, and C=C alkene. The differencebetween them is the chloroform extract of an orange melon has a pack of –NHwhile premium distillate extract does not. Both gasoline distillate and chloroformextract of a yellow melon have gugus –OH (hydrogen bond), C=O ketones, andC=C alkene. A screening antioxidant using a DPPH radical scavenging methodtoward the two extracts shows that an inactive antioxidant (value KP50 gasolinedistillate extract is 7276,47 and 2850 mg.L-1 while chloroform extract is 5360,88and 3993,83 mg.L-1). A screening sunscreen using spectrophotometry shows thatthe two extracts are inactive sunscreen (SPF of gasoline distillate is 0,73 and 0,33while chloroform extract is 1,6 and 0,73)
Identifikasi Pemahaman Representasi Makroskopik, Submikroskopik, dan Simbolik Siswa Kelas XII MIPA SMA Negeri 2 Sidoarjo pada Materi Sel Elektrokimia
ABSTRAK Para ahli kimia menggambarkan fenomena kimia pada tiga representasi yaitu representasi makroskopik, submikroskopik, dan simbolik yang saling berhubungan satu sama lain. Namun pada kenyataannya, dalam pembelajaran kimia keterkaitan antar ketiga representasi tersebut jarang diungkap, sehingga diduga kemampuan siswa terhadap pemahaman representasi tersebut rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tingkat pemahaman siswa tentang keterkaitan antara ketiga representasi makroskopik, submikroskopik, dan simbolik. Penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif. Subjek penelitian yaitu siswa kelas XII MIPA 2 SMA Negeri 2 Sidoarjo sebanyak 40 siswa. Instrumen penelitian berupa tes pemahaman terhadap 3 jenis representasi kimia berupa tes pilihan ganda menggunakan 5 butir jawaban dengan 1 alternatif jawaban benar dan pemberian alasan terbuka. Soal tes berjumlah 30 butir soal yang terdiri atas 12 soal representasi makroskopik-submikroskopik, 8 soal representasi makroskopik-simbolik, 6 soal representasi submikroskopik-simbolik, dan 4 soal representasi makroskopik-submikroskopik-simbolik. Hasil uji coba menunjukkan bahwa validitas isi instrumen tes sebesar 93,33% (kriteria sangat tinggi) dengan reliabilitas sebesar 0,949 (kriteria sangat tinggi). Data hasil penelitian dianalisis menggunakan perhitungan persentase jawaban yang benar dan jawaban alasan terbuka siswa terhadap pertanyaan digunakan untuk menggali lebih dalam tingkat pemahaman siswa. Persentase siswa yang menjawab benar tiap butir soal pada masing-masing representasi dapat diartikan sebagai tingkat pemahaman siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada materi sel elektrokimia rata-rata tingkat pemahaman siswa terhadap (1) representasi makroskopik-submikroskopik sebesar 72,15% (kriteria tinggi), (2) representasi makroskopik-simbolik sebesar 82,50% (kriteria sangat tinggi), (3) representasi submikroskopik-simbolik sebesar 71% (kriteria tinggi), dan (4) representasi makroskopik-submikroskopik-simbolik sebesar 67,50% (kriteria tinggi)
Pengaruh Komposisi Silika Aerogel-Karbon Aktif terhadap Karakteristik Nanokomposit yang Disintesis dengan Metode Sol-Gel
ABSTRAK Irfan. 2018. Pengaruh Komposisi Silika Aerogel-Karbon Aktif terhadap Karakteristik Nanokomposit yang Disintesis dengan Metode Sol-Gel. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Nazriati, M.Si. (2) Dr. Hj. Fauziatul Fajaroh, M.S. Kata Kunci:adsorpsi, silika aerogel, karbonaktif, nanokomposit, metode sol-gel Limbah yang terdapat pada lingkungan sebagian besar diakibatkan oleh aktivitas industri. Adsorpsi merupakan metode yang efektif untuk mengolah limbah tersebut agar tidak menyebabkan pencemaran lingkungan. Silika aerogel merupakan salah satu adsorben yang memiliki kapasitas adsorpsi yang cukup besar karena memiliki luas permukaan yang besar dan porositas yang tinggi. Permukaan silika aerogel dapat dimodifikasi menggunakan agen pemodifikasi seperti methyltrimethoxysilane (MTMS), trimethylchlorosilane (TMCS), dan hexamethyldisilazane (HMDS). Kapasitas adsorpsi dari silika aerogel dapat ditingkatkan melalui pembentukan nanokomposit dengan karbon aktif. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penambahan variasi massa karbon aktif terhadap karakteristik dari nanokomposit yang disintesis. Pada penelitian ini, silika aerogel-karbon aktif disintesis melalui metode sol-gel dengan menggunakan agen pemodifikasi trimethylchlorosilane (TMCS) dan hexamethyldisilazane (HMDS). Perbandingan silika aerogel: TMCS: HMDS yang digunakan adalah 1: 0,03: 0,06. Terdapat beberapa tahapan pada penelitian ini yaitu preparasi abu bagasse, ekstraksi natrium silikat, pembuata asam silikat, dan sintesis nanokomposit silika aerogel-karbon aktif. Nanokomposit silika aerogel-karbon aktif yang telah disintesis kemudian dianalisis menggunakan beberapa instrumen untuk mengetahui karakteristik dari nanokomposit yang telah diperoleh. Analisis yang digunakan yaitu analisis gugus fungsi menggunakan instrument Fourier Transform Infrared Spectrophotometry (FTIR), analisis morfologi permukaan nanokomposit menggunakan instrumen Scanning Electron Microscopy (SEM), dan analisis luas permukaan spesifik menggunakan instrument Brunauer-Emmet-Teller (BET). Berdasarkan hasil FTIR, terdapat pita khas pada bilangan gelombang 1080 cm-1, 2960 cm-1, 1250 cm-1pada silika aerogel. Sedangkan, pada nanokomposit, terdapat pita serapan baru yaitu pada bilangan gelombang1800 dan 2200 cm-1 yang mengindikasikan adanya vibrasi C=O dan C=C dari karbon aktif.Berdasarkan hasil SEM, nanokomposit silika aerogel-karbon aktif memiliki morfologi permukaan yang lebih seragam jika dibandingkan dengan silika aerogel. Berdasarkan hasil BET, massa optimum penambahan karbon aktif pada pembuatan nanokomposit silika aerogel-karbon aktif adalah 0,03 gram dengan luas permukaan spesifik sebesar 577,981 m2/g
Pengembangan Instrumen Asesmen Keterampilan Berpikir Kritis untuk Siswa SMA Kelas X pada Materi Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit
ABSTRAK Mahbubah, Latifah. 2018. Pengembangan Instrumen Asesmen Keterampilan Berpikir Kritis untuk Siswa SMA Kelas X pada Materi Larutan Elektrolit dan Larutan Nonelektrolit. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Herunata, S.Pd., M.Pd., (II) Dr. Aman Santoso, M.Si. Kata Kunci: Kemampuan berpikir kritis, instrumen asesmen, larutan elektrolit dan larutan nonelektrolit Peraturan Menteri Pendidikan Kebudayaan No. 64 Tahun 2013 tentang Standar Isi Pendidikan Dasar dan Menengah disebutkan bahwa salah satu sikap yang harus dimiliki siswa adalah sikap kritis (Kemdikbud, 2013:70). Sikap kritis dapat dimiliki melalui proses pembelajaran disekolah dengan menerapkan pola pembelajaran kritis. Oleh sebab itu, kemampuan berpikir kritis merupakan kemampuan yang harus dimiliki siswa. Berpikir kritis adalah berpikir yang masuk akal dan reflektif yang terfokus untuk memutuskan apa yang harus dipercaya atau dilakukan (Ennis, 2011:1). Kemampuan berpikir kritis sangat penting, karena digunakan untuk menyiapkan siswa menjadi seorang pemiki kritis, mampu memecahkan masalah, dan menjadi pemikir independen. Sehingga, diperlukan instrumen asesmen yang dapat mengukur kemampuan siswa. Penelitian pengembangan instrumen keterampilan berpikir kritis menghasilkan suatu produk yang berbeda dengan instrumen asesmen yang umum digunakan guru. Instrumen asesmen keterampilan berpikir kritis terkait materi kimia belum banyak dikembangkan. Salah satu diantaranya adalah materi larutan elektrolit dan nonelektrolit. Oleh karena itu, peneliti bermaksud untuk menghasilkan produk instrumen asesmen yang dapat mengukur kemampuan berpikir kritis siswa SMA untuk kelas X pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit. Instrumen asesmen keterampilan berpikir kritis dikembangkan dengan menggunakan 3 indikator dari 12 indikator berpikir kritis Ennis. Instrumen asesmen dikembangkan yang disesuaikan dengan indikator berpikir kritis Ennis untuk memenuhi tuntutan kecakapan Kurikulum 2013 revisi, yaitu mampu membuat siswa memiliki keterampilan berpikir kritis (Kemdikbud, 2016:1). Pengembangan instrumen asesmen ini mengikuti model Research & Development (R&D) menurut Borg dan Gall dari tahap satu sampai tahap tujuh. Desain uji cobanya meliputi validasi isi dan konstruk dengan menggunakan angket validasi kelayakan tampilan dan isi produk yang divalidasi oleh validator dosen dan guru. Selanjutnya, soal uraian diujicobakan secara terbatas oleh 52 siswa SMAN 1 Pacet. Data yang diperoleh diolah dengan perhitungan presentase, reliabilitas, dan analisis butir soal. Analisis butir soal meliputi uji validitas, taraf kesukaran, dan daya beda. Dari hasil validasi isi yang dilakukan meliputi 2 aspek , yaitu presentase dari hasil validasi soal sebesar 84% dan presentase hasi,validasi tampilan instrumen asesmen sebesar 85% menunjukkan bahwa instrumen asesmen keterampilan berpikir kritis materi larutan elektrolit dan nonelektrolit untuk siswa SMA termasuk kategori tinggi. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa instrumen asesmen keterampilan berpikir kritis yang dikembangkan layak digunakan sebagai alat ukur kemampuan berpikir kritis siswa pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit. Hasil analisis reliabilitas soal sebesar 0,88 dalam kategori tinggi. Hasil analisis validitas butir soal menunjukkan bahwa dari 18 soal uraian yang diujicobakan yaitu 15 soal valid dan 3 soal tidak valid, soal yang tidak valid tidak dibuang atau tetap digunakan, akan tetapi dilakukan revisi pada soal yang tidak valid tersebut. Hasil analisis taraf kesukaran butir soal, bahwa dari 18 soal uraian yang diujicobakan yaitu 11 kategori mudah, 5 kategori sedang, dan 2 kategori sukar. Hasil analisis daya beda butri soal, bahwa dari 18 soal uraian yang diujicobakan yaitu 6 soal kategori jelek, 4 soal kategori cukup, 6 soal kategori baik, dan 2 soal kategori sangat baik. Dengan demikian dapat disimpulkan, bahwa kriteria soal yang baik yaitu valid, taraf kesukaran yang sedang, dan daya beda yang baik dan sangat baik, sehingga yang termasuk kriteria soal yang baik adalah 5 soal. Instrumen asesmen keterampilan berpikir kritis hasil pengembangan ini dapat dimanfaatkan untuk mengetahui tingkat kemampuan berpikir kritis siswa khususnya pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit. Instrumen asesmen ini diharapkan juga dapat digunakan sebagai acuan dan contoh dalam menyusun instrumen asesmen pada materi kimia lain yang bertujuan untuk mengukur tingkatan kemampuan berpikir kritis siswa
Pengaruh Komposisi Campuran CMKC-MCC-Xanthan Gum Sebagai Matrik Lepas Lambat Dalam Pelepasan Natrium Diklofenak Pada Kondisi Asam
ABSTRAK Matriks sediaan lepas lambat merupakan bentuk sediaan yang dirancang untuk mengikat zat aktif obat sehingga pelepasan obat menjadi terkendali dan masa simpan dalam tubuh menjadi lebih panjang. Na-diklofenak merupakan salah satu obat yang perlu diformulasikan dalam bentuk sediaan lepas lambat karena memiliki waktu paruh yang singkat dan terdisentegrasi dengan cepat akibat kondisi lambung yang sangat asam. Penelitian ini dirancang untuk mengkaji potensi Karboksimetil Kappa-Karagenan (CMKC) yang merupakan derivat Kappa-Karagenan sebagai bahan matriks lepas lambat yang dikombinasikan dengan Mikrokristalin Selulosa (MCC) dan Xanthan Gum serta didesain untuk melepaskan Na-diklofenak secara perlahan pada kondisi asam (pH 1,2). Penelitian ini merupakan penelitian laboratorik ekspperimental. Langkah-langkah penelitian ini adalah (1) Uji kemampuan swelling CMKC, MCC, Xanthan Gum, dan campurannya pada variasi perbandingan komposisi dan penentuan karakter spektra IR bahan penyusun matriks dan campurannya; (2) Uji karakteristik campuran matriks tablet lepas lambat meliputi: kadar air, kemampuan swelling, kerapuhan, dan kekerasan dan (3) Penentuan kadar Na-diklofenak yang terlepas dari matriks tablet dalam larutan simulasi lambung. Hasil penelitian ini adalah (1) Data karakteristik bahan dan (2) Data karakteristik matriks tablet lepas lambat F1-F10 yang berisi variasi campuran CMKC-MCC-Xanthan Gum dengan rasio perbandingan total 5. Hasil karakterisasi bahan adalah (1) Kemampuan swelling CMKC dan Xanthan Gum meningkat seiring peningkatan suhu, kemampuan swelling MCC menurun pada suhu 55 oC ke 70 oC lalu meningkat pada suhu 70 oC ke 85 oC; (2) Kemampuan swelling tertinggi pada suhu 55 oC dan 70 oC sampel campuran dimiliki oleh F10 dengan jumlah Xanthan Gum tertinggi, sedangkan pada suhu 85oC dimiliki oleh F5 dengan jumlah CMKC tertinggi; dan (3) Berdasarkan analisis spektral IR pada campuran CMKC-MCC-Xanthan Gum tidak terjadi interaksi kimia. Hasil karakterisasi campuran menunjukkan bahwa (1) Kadar air tablet berkaitan dengan komposisi tablet, kadar air meningkat seiring dengan peningkatan kandungan MCCswelling tablet meningkat seiring dengan peningkatan kandungan MCCCampuran CMKC:MCC:Xanthan Gum dengan rasio perbandingan massa 1:1:3) merupakan formulasi yang paling stabil melepaskan Na-diklofenak ke dalam larutan simulasi dalam jangka waktu 8 jam. Kata Kunci: CMKC, Mikrokristalin Selulosa, Xanthan Gum, Sediaan Lepas Lambat
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review) Pada Mata Pelajaran Pekerjaan Dasar Elektromekanik Kelas X Semester 2 Kompetensi Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi
ABSTRAK Bahan ajar merupakan salah satu aspek penting dalam pelaksanaan kegiatan pembelajaran. Pendidik akan lebih terbantu dengan tersedianya bahan ajar, terlebih apabila bahan ajar tersebut sesuai dengan kurikulum sekolah. Pada kenyataannya bahan ajar yang tersedia masih terpaku pada kurikulum lama, sehingga menyebabkan pendidik kesulitan menyelaraskan materi pada kurikulum terbaru dengan bahan ajar tersebut. Berdasarkan hasil observasi dan wawancara dengan guru mata pelajaran Pekerjaan Dasar Elektromekanik kompetensi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi, diketahui bahwa belum tersedianya bahan ajar yang sesuai dengan kurikulum agar tujuan dari sebuah pembelajaran tercapai. Pengembangan ini bertujuan untuk membuat bahan ajar Pekerjaan Dasar Elektromekanik yang belum tersedia di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi dan menguji kelayakan serta keefektifan bahan ajar bagi peserta didik kelas X semester 2. Bahan ajar ini berbentuk modul cetak berbasis strategi pembelajaran PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review) yang telah terbukti dapat membantu peserta didik dalam memahami hingga menghapal informasi atau materi yang telah dibaca dan dipelajari. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini diadopsi dari tiga model pengembangan, yakni model pengembangan ADDIE, Dick and Carrey dan Borg and Gall. Dengan langkah-langkah pengembangan sebagai berikut: (1) analisis kebutuhan bahan ajar; (2) desain pengembangan; (3) mengembangkan bahan ajar; (4) merancang & mengembangkan evaluasi formatif; (5) revisi akhir bahan ajar; dan (6) penyebarluasan bahan ajar. Subjek uji coba pada penelitian ini adalah peserta didik kelas X kompetensi keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi sebagai uji kelayakan. Dengan menggunakan jenis data kuantitatif yang diperoleh dari skor angket dari validator isi dan format bahan ajar serta responden. Sedangkan data kualitatif berupa saran, kritik dan pendapat seluruh subjek uji coba. Setelah angket dan seluruh data dari validator isi dan format terkumpul, akan dilakukan analisis data dengan uji validasi. Apabila bahan ajar tersebut valid, maka siap untuk diuji kelayakan kepada responden. Setelah angket dan seluruh data dari responden terkumpul, akan dilakukan uji kelayakan dan keefektifitasan dari bahan ajar yang telah dikembangkan . Berdasarkan hasil penelitian dan analisis data yang telah dilakukan maka dapat disimpulkan bahwa hasil review validator isi didapatkan skor 95,5% dengan kriteria sangat valid, hasil review validator format didapatkan skor 96,5% dengan kriteria sangat valid, uji coba perseorangan didapatkan skor 85,87% dengan kriteria sangat valid. uji coba kelompok kecil didapatkan skor 80,51% dengan kriteria sangat valid dan uji lapangan didapatkan skor 84,46% dengan kriteria sangat valid. Berdasarkan paparan data skor tersebut, modul Pekerjaan Dasar Elektromekanik berbasis PQ4R (Preview, Question, Read, Reflect, Recite, Review) Kelas X Semester 2 Kompetensi Keahlian Teknik Instalasi Tenaga Listrik di SMK Muhammadiyah 7 Gondanglegi dinyatakan sangat valid dan layak untuk digunakan dalam pembelajaran di sekolah
Identifikasi Pengetahuan Metakognitif Peserta Didik Kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Garum pada Larutan Penyangga
ABSTRAK Pengetahuan metakognitif terdiri dari tiga bagian, pengetahuan deklaratif, pengetahuan prosedural dan pengetahuan kondisional. Pengukuran ketiga bagian pengetahuan metakogitif tersebut membantu peserta didik mengetahui seberapa dalam peserta didik memahami materi pelajaran dan bagaimana peserta didik menggunakan konsep, pengetahuan atau strategi yang dimiliki untuk menyelesaikan masalah. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengetahuan metakognitif peserta didik dan bagaimana hubungan pengetahuan metakognitif dengan hasil belajar peserta didik dan untuk mengetahui instrument mana yang lebih menggambarkan metakognitif peserta didik. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah metode survei. Subjek penelitian ini adalah peserta didik kelas XI MIPA 1 SMA Negeri 1 Garum yang telah mempelajari materi larutan penyangga. Instrumen yang digunakan adalah tes tertulis yang terdiri dari 12 butir soal pilihan ganda yang dikembangkan peneliti disertai tes pengetahuan metakognitif, diadopsi dari Rompayom (2010) dan angket Metacognitive Awareness Inventory (MAI) bagian pengetahuan metakognitif, diadopsi dari Schraw & Dennison (1998). Instrumen valid secara isi dan butir dengan reliabilitas tinggi (0,682). Penskoran jawaban peserta didik dilakukan oleh dua orang di bidang yang sama (peneliti dan pengajar Kimia SMA kelas XI). Agar data hasil penskoran reliabel, maka dilakukan uji interrater reliability yang dihitung menggunakan uji Kappa. Interpretasi Koefisien Kappa hasil uji interrater reliability mencapai kesepakatan hampir sempurna (0,936). Analisis data hasil penelitian dilakukan dengan mendeskripsikan jawaban peserta didik. Analisis hubungan antara hasil belajar dengan pengetahuan metakognitif dengan uji statistik Biserial. Analisis hubungan antara hasil belajar dengan MAI dilakukan dengan uji Point Biserial. Pengetahuan metakognitif peserta didik pada materi larutan penyangga masing-masing digolongkan sebagai berikut, pengetahuan deklaratif mayoritas peserta didik sedang, di mana 35% peserta didik berada di tingkat rendah, 63% peserta didik berada di tingkat sedang dan 4% peserta didik berada di tingkat tinggi. Pengetahuan prosedural mayoritas peserta didik sedang, di mana 39% peserta didik berada di tingkat rendah, 48% peserta didik berada di tingkat sedang dan 13% peserta ddik beradadi tingkat tinggi. Pengetahuan kondisional mayoritas peserta didik rendah, di mana 91% peserta didik berada di tingkat rendah, 4% peserta didik berada di tingkat sedang dan 5% peserta didik berada di tingkat tinggi. Pengetahuan metakognitif dengan hasil belajar memiliki hubungan yang positif sedang (0,44). Pengetahuan deklaratif dengan hasil belajar memiliki hubungan yang positif rendah (0,32). Pengetahuan prosedural dengan hasil belajar memiliki hubungan yang positif sedang (0,44). Pengetahuan kondisional dengan hasil belajar dengan memiliki hubungan yang positif kuat (0,66). MAI dengan hasil belajar memiliki hubungan negatif yang sangat lemah (–0,13). MAI bagian pengetahuan deklaratif dengan hasil belajar memiliki hubungan negatif yang sangat lemah (–0,18). MAI bagian pengtahuan prosedural dengan hasil belajar memiliki hubungan negatif yang sangat lemah (–0,11). MAI bagian pengetahuan kondisional dengan hasil belajar dengan memiliki hubungan positif yang rendah (0,22). Pengetahuan metakognitif hasil tes, lebih mampu menunjukkan pengetahuan metakognitif peserta didik dibandingkan instrumen MAI
Pengaruh Variasi KOH terhadap Hasil Sabun Cair dari Minyak Kemiri (Aleurites moluccana) dengan Bantuan Ultrasonik, Karakterisasi serta Uji Aktivitas Antibakteri
ABSTRAK Sabun cair menjadi trending topic saat ini karena penggunaannya yang praktis, higenis dan berpotensi sebagai sabun antibakteri. Sabun yang berkualitas baik dipengaruhi oleh bahan baku minyakdan jumlah basa alkali (KOH) yang digunakan. Minyak kemiri dapat digunakan sebagai bahan sabun karena kemiri mudah didapat dan memiliki kandungan minyak yang tinggi. Komponen utama minyak kemiri adalah asam lemak tak jenuh yang dapat dimanfaatkan sebagai senyawa antibakteri. Konsentrasi alkali yang terlalu tinggi akan menyebabkan kandungan alkali bebas sabun yang dihasilkan juga tinggi, sehingga diperlukan variasi basa alkali untuk mendapatkan hasil sabun yang berkualitas baik.Pembuatan sabun memerlukan waktu yang lama. Gelombang ultrasonik dapat dimanfaatkan dalam beberapa reaksi kimia untuk meningkatkan laju reaksi. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui pengaruh jumlah KOH terhadap karakter sabun cair hasil sintesis dari minyak kemiri dengan bantuan gelombang ultrasonik, dan (2) mengetahui aktivitas antibakteri sabun cair hasil sintesis dari minyak kemiri. Penelitian ini dilakukan secara eksperimen di Laboratorium dengan Tahap (1) preparasi sampel, (2) isolasi minyak kemiri, (3) karakterisasi minyak, (4) sintesis sabun cair, (5) karakterisasi sabun cair, dan (6) uji anti bakteri. Sabun cair dibuat dengantiga variasiKOH yaitu, variasi 1 (SKTU1) sebanyak 2,5 gram KOH, variasi 2 (SKTU2) sebanyak 3 gram KOH dan variasi 3 (SKTU3) sebanyak 3,5 gram KOH. Masing-masing sabun dikarakterisasi meliputi pengamatan organoleptik pada panelis, penentuan pH dengan pH meter,massa jenis, penentuan viskositas menggunakan viscometer brookfield,uji kadar asam lemak bebas, uji kadar alkali bebas, penentuan tegangan permukaan dengan tensiometer dunoydan uji daya hambat terhadap bakteriStaphylococcus aureusdan Escherichia coli dengan metode difusi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sintesis sabun cair dari minyak kemiri dengan penambahan 3 gram KOH (SKTU2) memiliki karakteristik yang sesuai standar mutu SNI06-4085-1996. Karakteristik yang dihasilkan yaitu berwujud cair, warna putih kekuningan, aroma khas dari surfaktan sodium lauryl sulfate (SLS), pH 8,46, massa jenis 1,10 g/mL, kadar asam lemak bebas 0,34%, kadar alkali bebas 0,05%, viskositas 1.460 cPs dan tegangan permukaan 4,33 x 10-4 N/m serta memiliki aktivitas antibakteri terhadap bakteri Staphylococcus aureusdengan diameter zona hambat sebesar 5,77 mm dengan kategori sedang