SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Pengembangan Bahan Ajar Reaksi Redoks dan Elektrokimia Berbasis Learning Cycle 7E dengan Pendekatan SETS untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep
RINGKASANIchda, Ziana. 2019. Pengembangan Bahan Ajar Reaksi Redoks dan Elektrokimia Berbasis Learning Cycle 7E dengan Pendekatan SETS untuk Meningkatkan Pemahaman Konsep. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dr. Hj. Endang Budiasih, M.S., (II) Dra. Hj. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si.Kata Kunci: Bahan ajar, reaksi redoks, elektrokimia, Learning Cycle 7E, pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, Society).Reaksi redoks dan elektrokimia merupakan salah satu materi kimia di SMA yang bersifat konseptual dan algoritmik serta erat kaitannya dengan fenomena sehari-hari. Sebagian siswa SMA masih mengalami kesulitan dalam mempelajari materi tersebut disebabkan karena pembelajaran masih menggunakan metode konvensional, serta bahan ajar masih belum sesuai dengan tuntutan kurikulum 2013, sehingga siswa dalam memahami materi cenderung menghafal tanpa mengetahui konsep yang mendasari. Selain itu bahan ajar yang digunakan belum mengkaitkan dengan masalah aktual dalam kehidupan sehari-hari. Oleh karena itu, pengembangan bahan ajar penting dilakukan agar dapat meningkatkan pemahaman konsep dan mampu meningkatkan kemampuan siswa dalam mengkaitkan konsep yang dipelajari dengan fenomena kehidupan sehari-hari.Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar reaksi redoks dan elektrokimia berbasis Learning Cycle 7E dengan pendekatan SETS untuk meningkatkan pemahaman konsep yang layak digunakan. Model pembelajaran Learning Cycle 7E memiliki beberapa tahapan yaitu elicit, engagement, exploration, explanation, elaboration, extend, dan evaluation. Pada penelitian ini Pendekatan SETS (Science, Environment, Technology, Society) dimasukkan pada fase engagement dan extend. Model penelitian dan pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini adalah model penelitian dan pengembangan 4-D menurut Thiagarajan. Model ini terdiri dari 4 tahap, diantara-nya yaitu: define, design, develop, dan disseminate. Tahap yang dilakukan hanya sampai tahap develop. Validasi isi bahan ajar dilakukan oleh validator ahli dan uji keterbacaan oleh siswa. Validasi ahli dilakukan oleh satu orang dosen kimia Universitas Negeri Malang dan dua orang guru SMA. Uji keterbacaan dilakukan pada sepuluh siswa SMA. Instrumen validasi berupa angket penilaian menggunakan skala Likert lima tingkat disertai kolom tanggapan, komentar, dan saran. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan kualitatif. Hasil pengolahan kedua data tersebut dijadikan dasar untuk mengetahui kelayakan dari bahan ajar yang dikembangkan.Hasil penelitian ini berupa bahan ajar terdiri dari buku siswa dan buku guru. Perhitungan hasil uji kelayakan buku siswa oleh validator diperoleh rata-rata persentase kelayakan isi 89,8%, kelayakan bahasa 86,7%, dan kelayakan penyajian 93,3%. Perhitungan hasil uji kelayakan buku guru oleh validator diperoleh rata-rata persentase kelayakan isi 89,8%, kelayakan bahasa 86,7%, kelayakan penyajian 93,3%, dan kelayakan perangkat pembelajaran 88,7%. Perhitungan hasil uji keterbacaan bahan ajar oleh siswa diperoleh rata-rata persentase kelayakan tampilan 91%, kelayakan penyajian materi 91,1%, dan kelayakan manfaat 91,7%. Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan maka bahan ajar ini sangat layak untuk digunakan sebagai sumber belajar pada pokok bahasan reaksi redoks dan elektrokimia berbasis Learning Cycle 7E dengan pendekatan SETS untuk meningkatkan pemahaman konsep
Pengembangan Bahan Ajar Flipbook Materi Larutan Penyangga Berbasis Inkuiri Terbimbing
RINGKASANEntin, Enggaryanti. 2019. Pengembangan Bahan Ajar Flipbook Materi Larutan Penyangga Berbasis Inkuiri Terbimbing. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Hj. Hayuni Retno Widarti, M.Si, (2) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd, M.Si.Kata Kunci: Bahan ajar flipbook, inkuiri terbimbing, larutan penyangga.Bahan ajar materi larutan penyangga yang digunakan di sekolah-sekolah masih berupa buku teks yang kurang menyajikan tiga level representasi kimia yaitu level makroskopis, submikroskopis, dan simbolik. Ketiga level representasi kimia dapat divisualisasikan dengan menggunakan bahan ajar flipbook sehingga diharapkan siswa dapat memahami materi larutan penyangga. Bahan ajar digunakan sebagai penunjang proses pembelajaran. Pembelajaran saat ini masih menggunakan model pembelajaran konvensional yang hanya berfokus pada guru. Pembelajaran aktif berbasis konstruktivis sangat diperlukan karena melibatkan siswa sehingga pembelajaran lebih bermakna. Salah satu model pembelajaran konstruktivis yaitu model pembelajaran inkuiri terbimbing yang meliputi kegiatan mengamati, menanya, menyusun hipotesis, mengumpulkan informasi, menguji hipotesis dan menyimpulkan. Tujuan dari pengembangan ini adalah menghasilkan bahan ajar flipbook materi larutan penyangga berbasis inkuiri terbimbing yang layak (valid).Bahan ajar flipbook dikembangkan dengan menggunakan model four-D (define, design, develop, dan desseminate) namun tahap desseminate tidak dilakukan. Validasi media dan materi dilakukan oleh satu dosen kimia UM dan satu guru kimia SMA. Uji keterbacaan dilakukan oleh 10 siswa kelas XI MIPA SMAN 1 Batu. Penilaian menggunakan skala likert yang disertai dengan komentar, saran dari validator dan audien. Data yang diperoleh dari angket analisis digunakan untuk mengetahui tingkat kelayakan dari produk menggunakan teknik persentase. Hasil dari pengembangan berupa bahan ajar flipbook materi larutan penyangga berbasis inkuiri terbimbing yang terdiri dari teks, gambar, video, audio, dan animasi serta latihan soal larutan penyangga. Validasi produk pengembangan bahan ajar flipbook dari segi materi diperoleh rata-rata persentase skor sebesar 85.4 %, validasi dari segi media diperoleh rata-rata persentase sebesar 85.5 %, sedangkan hasil uji keterbacaan diperoleh rata-rata persentase sebesar 87 %. Berdasarkan hasil validasi materi, media dan uji keterbacaan dapat disimpulkan bahwa bahan ajar flipbook materi larutan penyangga berbasis inkuiri terbimbing sangat layak digunakan sebagai sumber belajar
IDENTIFIKASI MISKONSEPSI PADA MATERI REAKSI REDOKS PADA PESERTA DIDIK SMA BRAWIJAYASMART SCHOOL (BSS) MALANG MENGGUNAKAN TES DIAGNOSTIK TWO-TIER
Pembelajaran kimia menuntut peserta didik untuk dapat memahami konsep-konsep kimia, yang pada umumnya adalah konsep abstrak dan konkrit. Banyak peserta didik cenderung tidak dapat membangun pemahaman konsep-konsep kimia yang paling mendasar, sehingga tidak dapat memahami konsep-konsep yang lebih tinggi tingkatannya, dan hal ini akan menimbulkan miskonsepsi. Peneliti bertujuan untuk mengidentifikasi miskonsepsi pada materi redoks dan penyebab terjadinya miskonsepsi pada materi redoks.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif dengan subjek penelitian adalah peserta didik kelas XI MIPA 3 dan XI MIPA 4 SMA BSS di Kota Malang dengan menggunakan tes diagnostik two-tier. Instrumen soal yang digunakan berjumlah 22 butir soal dengan 4 alternatif jawaban disertai 4 alasan yang memiliki reliabilitas sebesar 0,93. Terdapat dua langkah yang dilakukan yaitu 1) penyusunan instrumen diagnostik two-tier dan 2) penggunaan instrumen diagnostik two-tier untuk menentukan jenis miskonsepsi peserta didik. Hasil tes dan wawancara yang diperoleh dianalisis dengan penentuan kekonsistenan jawaban peserta didik.Hasil penelitian menunjukan bahwa dari 5 topik materi redoks, 2 diantaranya merupakan miskonsepsi: 1) 31,4% peserta didik menganggap bahwa reaksi reduksi merupakan pengikatan oksigen sedangkan reaksi oksidasi merupakan pelepasan oksigen. 32,8% peserta didik menganggap bahwa reaksi reduksi selalu diikuti dengan pelepasan satu elektron dan reaksi reduksi terjadi ketika adanya pengikatan elektron. 35% peserta didik menganggap bahwa peristiwa reduksi terjadi ketika adanya pertambahan bilangan oksidasi. 2) 34,2% peserta didik menganggap bahwa bilangan oksidasi unsur dalam suatu senyawa selalu sama dengan golongan unsur tersebut dan peserta didik menganggap bahwa ion negatif tidak mempengaruhi bilangan oksidasi; 3) 41% peserta didik menganggap bahwa oksidator merupakan zat yang mengalami oksidasi, sehingga menyebabkan zat lain tereduksi
Identifikasi Kesulitan Siswa SMA Kelas XI MIA Pada Materi Hidrokarbon dan Minyak Bumi Menggunakan Tes Diagnostik Pilhan Ganda Beralasan
RINGKASANMasita, S. 2019. Identifikasi Kesulitan Siswa SMA Kelas XI MIA Pada Materi Hidrokarbon dan Minyak Bumi Menggunakan Tes Diagnostik Pilhan Ganda Beralasan. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. Parlan, M.Si., (2) Drs. Muhammad Su'aidy, M.Pd.Kata Kunci: identifikasi kesulitan, tes diagnostik two tier, hidrokarbon, minyak bumiMateri kimia terdiri dari tiga hal yaitu materi yang bersifat makroskopik, submikroskopik, dan simbolik. Materi makroskopik adalah materi kimia yang membahas konsep yang bersifat kongkret, submikroskopik adalah materi yang membahas konsep-konsep abstrak, dan simbolik adalah materi kimia yang berupa rumus kimia, persamaan reaksi, dan gambar. Salah satu materi kimia yang memiliki ketiga representasi tersebut adalah materi hidrokarbon dan minyak bumi. Untuk memahami materi yang memiliki karakteriktik seperti itu, siswa dituntut untuk berfikir abstrak. Tuntutan berfikir abstrak untuk dapat menguasai materi tersebut menyebabkan banyak siswa yang mengalami kesulitan. Konsep hidrokarbon dan minyak bumi adalah konsep dasar untuk membangun konsep-konsep selanjutnya yaitu turunan alkana, benzena dan turunannya, serta makromolekul. Kesulitan pada materi ini akan berdampak pada pemahaman materi-materi yang selanjutnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui persentase siswa yang mengalami kesulitan dalam setiap sub bahan kajian pada materi hidrokarbon dan minyak bumi, dan persentase siswa yang mengalami kesulitan siswa pada materi hidrokarbon dan minyak bumi.Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Instrumen penelitian yang digunakan untuk mengukur tingkat kesulitan siswa berupa tes diagnostik pilihan ganda beralasan (two tier). Berdasarkan hasil analisis soal uji coba menggunakan SPSS 19.0 for window didapatkan reliabilitas soal sebesar 0,843 yang berarti nilai tersebut lebih besar dari rtabel sehingga instrumen yang dibuat reliabel. Selain itu, berdasarkan hasil validasi instrumen dinyatakan layak digunakan untuk mengambil data penelitian. Subjek penelitian ini adalah siswa kelas XI MIA SMAN 1 Ngantang sebanyak dua kelas yaitu MIA 1 dan MIA 2. Analisis data dilakukan dengan cara menghitung persentase siswa yang menjawab salah pada setiap butir soal.Berdasarkan hasil penelitian dan pembahasan dapat disimpulkan bahwa siswa mengalami kesulitan pada materi hidrokarbon dan minyak bumi. Dari sebelas sub bahan kajian di dalam materi hidrokarbon dan minyak bumi dihasilkan rata-rata sebesar 77,5%. Rincian yang didapatkan dari hasil rata-rata persentase siswa yang menjawab salah pada konsep perbedaan senyawa organik dan anorganik sebesar 97,4%, identifikasi unsur dalam senyawa karbon 76,5%, kekhasan atom karbon 72,7%, penggolongan senyawa hidrokarbon 57,3%, tata nama senyawa hidrokarbon 85,5%, isomerisasi 84,4%, sifat fisika senyawa hidrokarbon 91,4%, reaksi kimia senyawa hidrokarbon 83,9%, proses pembentukan minyak bumi 82,1%, pengolahan minyak bumi 71,9%, dan pembakaran minyak bumi 67,6%
Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran Metakognitif PDCA terhadap Pengetahuan Metakognitif dan Prestasi Belajar Siswa Kelas X MAN Kota Batu dalam Materi Reaksi Redoks dan Tatanama Senyawa Biner & Poliatomik.
ABSTRAKN, F Maharani. 2019.Pengaruh Penerapan Strategi Pembelajaran Metakognitif PDCA terhadap Pengetahuan Metakognitif dan Prestasi Belajar Siswa Kelas X MAN Kota Batu dalam Materi Reaksi Redoks dan Tatanama Senyawa Biner & Poliatomik.Skripsi.Jurusan Kimia. Fakultas Matematikan dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Malang.Pembimbing: (I) Dr. H. Parlan, M.Si., (II) Drs. Muhammad Su’aidy, M.Pd.Kata kunci: strategi pembelajaran metakognitif PDCA, pengetahuan metakognitif, hasil belajar kognitifBerdasarkan penelitian-penelitian sebelumnya, pemahaman konsep siswa pada materi reaksi redoks dan tatanama senyawa biner & poliatomik tergolong rendah. Hal ini kemungkinan terjadi karena siswa belum menyadari dan menerapkan kemampuan metakognitif yang dimiliki dalam proses pembelajaran. Kemampuan metakognitif membantu siswa untuk mengontrol dan memantau proses kognitif ketika belajar. Salah satu strategi pembelajaran yang mampu memfasilitasi siswa untuk memanfaatkan kemampuan metakognitifnya dalam belajar adalah strategi pembelajaran metakognitif PDCA (Preparing, Doing, Checking, dan Assessing and Following-Up) yang dikembangkan oleh Parlan (2018). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan pengetahuan metakognitif dan hasil belajar kognitif antara siswa yang belajar dengan strategi pembelajaran metakognitif PDCA dengan siswa yang belajar dengan strategi pembelajaran konvensional pada materi reaksi redoks dan tatanama senyawa biner & poliatomik. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen semu dengan desain nonequivalent control group design yang melibatkan dua kelas, yaitu kelas eksperimen dan kelas kontrol. Kelas eksperimen dibelajarkan dengan strategi pembelajaran metakognitif PDCA dan kelas kontrol dibelajarkan dengan strategi pembelajaran konvensional. Data hasil belajar kognitif siswa diperoleh dari tes (r = 0,665)kemudian dianalisis secara statistik, sedangkan data pengetahuan metakognitif diperoleh dari hasil tes dan kuesioner Metacognitive Awareness Inventory kemudian dianalisis secara statistik dan deskriptif. Keefektifan strategi pembelajaran metakognitif PDCA dalam meningkatkan prestasi belajar siswa dianalisis melalui perhitungan d-effect size dan N-gain.Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlaksanaan strategi pembelajaran metakognitif PDCA sangat baik dengan rata-rata persetase keterlaksanaan sebesar 85.81%. Terdapat perbedaan pengetahuan metakognitif yang signifikan antara siswa kelas metakognitif PDCA dengan siswa kelas konvensional. Rata-rata pengetahuan metakognitif siswa kelas metakognitif PDCA lebih tinggi daripada siswa kelas konvensional. Terdapat perbedaan hasil belajar kognitif yang signifikan antara siswa kelas metakognitif PDCA dengan siswa kelas konvensional. Nilai d-effect size prestasi belajar siswa kelas metakognitif PDCA dan kelas konvensional bertutut-turut adalah 3,4023 dan 3,7674 (kategori “jauh lebih besar dari biasanya”). Nilai rata-rata N-gain siswa kelas metakognitif PDCA dan kelas konvensional berturut-turut adalah 0,564 dan 0,449 (kategori “Sedang”)
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Inkuiri Terbimbing yang Diperkaya Augmented Reality pada Materi Sel Elektrolisis
RINGKASANNevia, Pradani. 2019. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Inkuiri Terbimbing yang Diperkaya Augmented Reality pada Materi Sel Elektrolisis. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Munzil, S.Pd., M.Si. (II) M. Muchson, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci: Sel Elektrolisis, Inkuiri Terbimbing, Augmented RealitySalah satu tujuan pembelajaran kimia adalah melatih ketrampilan proses sains. Oleh karena itu, kimia sebaiknya dibelajarkan dengan strategi inkuiri. Dalam praktiknya, peserta didik masih mengalami kesulitan terkait karakteristik materi kimia yang mencakup tiga level representasi yaitu makroskopik, submikroskopik, dan simbolik. Permasalahan tersebut terjadi pada materi sel elektrolisis. Dalam rangka mengatasi permasalahan tersebut, pengembangan bahan ajar berbasis inkuiri harus ditunjang dengan program yang mampu memvisualisasi aspek partikulat dalam materi sel elektrolisis, seperti Augmented Reality. Pengembangan ini bertujuan untuk menghasilkan bahan ajar berbasis inkuiri terbimbing yang diperkaya Augmented Reality pada topik sel elektrolisis. Model pengembangan yang digunakan mengacu pada model William W. Lee & Diana L. Owens. Tahapan pada model pengembangan tersebut terdiri dari lima tahap yaitu: (1) analysis/assessment (tahap analisis,) (2) design (tahap desain), (3) development (tahap pengembangan), (4) implementation (tahap implementasi), dan (5) evaluation (tahap evaluasi). Penelitian yang dilakukan oleh peneliti hanya sampai pada tahap ketiga, dikarenakan keterbatasan waktu, tenaga dan biaya. Produk akhir dari pengembangan ini yaitu berupa bahan ajar dalam bentuk buku saku yang terdiri dari tiga chapter, setiap chapter terdiri dari tujuh level. Bahan ajar dilengkapi dengan qr code ketika discan akan terhubung ke google form. Dilengkapi juga dengan marker ketika discan akan muncul animasi tiga dimensi pada aspek submikroskopik yang mampu meningkatkan pemahaman konsep peserta didik. Hasil validasi diperoleh persentase sebesar 87,6% untuk aspek penilaian dari segi media, 86,1% untuk aspek penilaian dari segi materi dan 87,4% untuk uji keterbacaan. Berdasarkan data yang telah diperoleh dapat disimpulkan bahwa bahan ajar kimia yang telah dikembangkan termasuk dalam kategori sangat layak sehingga dapat digunakan sebagai penunjang dalam kegiatan pembelajaran materi sel elektrolisis
Validasi LC ESI QTof & Pengaruh Perendaman Terhadap Konsentrasi Karbofuran pada Cabai Rawit (Capsicum frutescens L.)
RINGKASAN Pujiati, Putri. 2019. Validasi LC ESI QTof & Pengaruh Perendaman Terhadap Konsentrasi Karbofuran Pada Cabai Rawit(Capsicum frutescens L.). Skripsi, Jurusan Kimia,Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, UniversitasNegeri Malang.Pembimbing: (I) Dr. Siti Marfu’ah, M.S, (II) Azhar Darlan, S.Si., M.Si. Kata Kunci :Cabai rawit, karbofuran, LC ESI QTof, validasi Cabai rawit merupakan salah satu sayuran yang dapat dimakan tanpa dimasak terlebih dahulu. Akibatnya residu pestisida pada cabai rawit dapat terkonsumsi sehingga membahayakan kesehatan konsumen. Karbofuran merupakan pestisida yang digunakan untuk mengendalikan hama dan penyakit pada tanaman cabai rawit. Karbofuran termasuk pestisida golongan karbamat yang sangat beracun karena sebagai inhibitor enzim asetilkolinesterase pada tubuh manusia. Penelitian ini bertujuan untuk memvalidasi alat LC ESI QTofuntuk analisis residu pestisida karbofuran pada cabai rawit dan mengetahui pengaruh perendaman terhadap konsentrasi karbofuran yang terekstrak dari cabai rawit. Analisis karbofuran pada cabai rawit dilakukan dengan membuat larutan standar karbofuran terlebih dahulu. Kemudian menentukan kondisi optimum LC ESI QTof. Memvalidasi alat LC ESI QTof dengan parameter linearitas, akurasi, presisi, batas deteksi dan kuantifikasi. Selanjutnya menganalisis konsentrasikarbofuran pada air perendaman cabai rawit dengan alat yang telah divalidasi. Hasil penelitian ini menggunakan alat LC ESI QTof dengan kolom C8 BEH. Fase gerak yang digunakan air-metanol dengan gradien kepolaran yang telah diatur. Ionisasi positif TOF MS/MS dengan collision energy 10Vdapat mengidentifikasi karbofuran dengan massa ion induk m/z 222,1 massa ion fragmentasi m/z 165 dan m/z 123. Validasi menghasilkan linearitas dengan nilai koefisien korelasi sebesar 0,99417, akurasi dengan nilai %recovery berada dalam rentang 70-130%, presisi dengan nilai %RSD sebesar 1,83, serta nilai LOD sebesar 218,156672 ppt dan LOQ sebesar 727,1889072 ppt. Pengaruh perendaman terhadap konsentrasi karbofuran yang terekstrak adalah semakin berkurang dengan banyaknya perendaman cabai rawit yang dilakukan
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Inkuiri Terbimbing yang Diperkaya Augmented Reality pada Materi Asam Basa
RINGKASAN Rosida, Nuchrurita. 2019. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Inkuiri Terbimbing yang Diperkaya Augmented Reality pada Materi Asam Basa Skripsi. Jurusan Kimia. Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Munzil, S.Pd., M.Pd, (II) M. Muchson, S.Pd., M.Pd. Kata kunci: Bahan ajar, inkuiri termbimbing, augmented reality, asam basa, pH Ilmu kimia merupakan cabang ilmu sains, sehingga untuk dapat mempelajarinya secara utuh membutuhkan keterampilan sains baik sebagai produk, proses, ataupun sikap. Salah satu model pembelajaran yang dapat mengintegrasikan keterampilan sains secara utuh adalah inkuiri terbimbing. Implementasi model pembelajaran inkuiri terbimbing dapat dibantu dengan penggunaan bahan ajar. Bahan ajar yang telah beredar dewasa ini kurang interaktif dan kurang memperhatikan interaksi tiga representasi kimia, khususnya materi asam basa. Alternatif yang dapat digunakan adalah menggunakan media pembelajaran digital yang dapat memperhatikan ketiga representasi, khususnya submikroskopik, contohnya teknologi augmented reality. Teknologi augmented reality memungkinkan pengguna dapat melihat objek seolah-olah terlihat real ada di hadapannya. Penggunaan teknologi ini juga dapat menarik perhatian siswa sehingga siswa minat untuk belajar. Model pengembangan bahan ajar menggunakan model pengembangan Lee dan Owens yang sesuai untuk pengembangan multimedia. Model pengembangan ini terdiri dari lima tahap, namun dalam pengembangan yang dilakukan hanya analyze, design, dan development. Tahap implementation dan evaluation tidak dilakukan karena keterbatasan tenaga, waktu, dan biaya peneliti. Bahan ajar yang telah selesai dikembangkan divalidasi oleh satu dosen kimia dan satu guru kimia, kemudian dilakukan uji keterbacaan. Hasil validasi bahan ajar diperoleh rata-rata sebesar 86,7% untuk aspek isi materi secara menyeluruh dengan kriteria sangat valid. Sedangkan berdasarkan aspek media hasil validasi bahan ajar memperoleh rata-rata sebesar 82,7% dengan kriteria sangat valid.Pada uji keterbacaan, bahan ajar yang dikembangkan mendapatkan rata-rata sebesar 92,17% dengan kriteria sangat valid.Berdasarkan hasil validasi dan uji keterbacaan tersebut bahan ajar ini dapat digunakan dalam proses pembelajaran kimia materi asam basa
Perbedaan Hasil Belajar Peserta Didik yang Dibelajarkan dengan Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada Materi Hidrolisis Garam
RINGKASAN Sholihah, Ulfa Ni’matush. 2019. Perbedaan Hasil Belajar Peserta Didik yang Dibelajarkan dengan Model Pembelajaran Think Pair Share (TPS) dan Student Teams Achievement Divisions (STAD) pada Materi Hidrolisis Garam. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Fauziatul Fajaroh, M.S.,(II) Herunata, S.Pd.,M.Pd. Kata Kunci: perbedaan hasil belajar, TPS, STAD, hidrolisis garam Ilmu kimia merupakan ilmu yang didasarkan pada observasi dan eksperimen. Mempelajari ilmu kimia harus berurutan dan berjenjang, karena konsepnya yang saling terkait satu sama lain, sehingga dibutuhkan proses intelektual yang tinggi juga didukung oleh model pembelajaran yang sesuai agar mendapatkan hasil belajar yang baik. Pendidikan di Indonesia sesuai Permendikbud diharapkan untuk menerapkan pembelajaran aktif, dan peran guru hanya sebagai fasilitator, hal tersebut juga sesuai dengan teori belajar konstruktivisme. Kenyataan di lapangan, dari beberapa penelitian juga wawancara peneliti dengan guru kimia MAN 5 Bojonegoro menunjukkan bahwa guru masih sering menggunakan metode ceramah, sehingga pembelajaran masih berpusat pada guru. Salah satu materi yang dipelajari di tingkat SMA/MA yaitu hidrolisis garam, yang materinya bersifat konseptual dan algoritmik. Berdasarkan beberapa penelitian sebelumnya, juga wawancara peneliti di MAN 5 Bojonegoro, didapatkan nilai ulangan harian hidrolisis garam peserta didik tahun 2017/2018 sebesar 64% masih di bawah SKM, hal tersebut menunjukkan pemahaman materi hidrolisis garam di sekolah tersebut masih rendah. Rendahnya hasil belajar di sekolah tersebut dikarenakan guru masih dominan menggunakan metode ceramah, sehingga peserta didik pasif dalam pembelajaran. Permasalahan tersebut dapat diatasi dengan menerapkan pembelajaran yang dapat membuat peserta didik aktif. Salah satu pembelajaran aktif adalah pembelajaran kooperatif. Pembelajaran kooperatif memiliki macam-macam model, namun peneliti memilih dua model pembelajaran yaitu TPS dan STAD. Kedua model memiliki kelebihannya masing-masing, selain itu peran peserta didik dalam pembelajaran tidak lagi pasif, karena peserta didik akan terlibat aktif dalam diskusi juga pembangunan sendiri pengetahuannya. Maka dari itu, peneliti ingin melihat keterlaksanaan pembelajaran kedua model dan ada tidaknya perbedaan hasil belajar peserta didik yang dibelajarkan menggunakan TPS dan STAD. Jenis penelitian ini merupakan penelitian kuantitatif dengan menggunakan rancangan penelitian eksperimen semu. Desain penelitian yang diterapkan adalah post test only control group. Populasi dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XI MAN 5 Bojonegoro dengan subjek penelitian berjumlah 71 dengan rincian, 36 peserta didik kelas XI IPA 1 sebagai kelas eksperimen 1, dan 35 peserta didik kelas XI IPA 2 sebagai kelas eksperimen 2. Pengumpulan data melalui observasi dan tes hasil belajar kognitif. Teknik analisis data yang diterapkan adalah analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif. Teknik analisis data menggunakan uji-t untuk mengetahui perbedaan hasil belajar antara TPS dan STAD. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) rata-rata persentase keterlaksanaan model pembelajaran TPS (90,9%) lebih tinggi daripada keterlaksanaan model pembelajaran STAD (87,6%); (2) terdapat perbedaan hasil belajar peserta didik yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran TPS dan STAD pada materi hidrolisis garam yang ditunjukkan oleh hasil uji hipotesis dengan nilai sig (0,012 < 0,050). Rata-rata nilai peserta didik yang dibelajarkan menggunakan TPS (85,34) lebih tinggi dari peserta didik yang dibelajarkan menggunakan STAD (80,40)
STUDI KONTAMINASI DAN MONITORING LOGAM Fe DALAM SEDIMEN PANTAI TIGA WARNA MENGGUNAKAN METODE BCR MICROWAVE TEROPTIMASI
STUDI KONTAMINASI DAN MONITORING LOGAM Fe DALAM SEDIMEN PANTAI TIGA WARNA MENGGUNAKAN METODE BCR MICROWAVE TEROPTIMASI Sabtin Maulidiyah Hani*, Anugrah Ricky Wijaya, Endang Budiasih Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang Jalan Semarang No.5 Malang 65145 *Email : [email protected] Abstrak: Pantai Tiga Warna selain dimanfaatkan dibidang pariwisata, merupakan Pantai yang sejalur dengan Pantai Sendang Biru yang difungsikan sebagai pelabuhan dan pelelangan ikan. Padatnya aktivitas masyarakat akan menghasilkan limbah yang dapat menurunkan kualitas lingkungan. Penurunan kualitas lingkungan disebabkan kontaminasi limbah logam berat misalnya logam besi. Kadar yang tinggi dapat berdampak negatif bagi ekosistem perairan dan manusianya. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratorium dan survei lapangan. Penelitian dilakukan dalam beberapa tahap, yaitu 1) penentuan lokasi titik sampling di Pantai Tiga Warna Malang, 2) pengambilan dan preparasi sampel sedimen kategori ukuran sedang (12 mesh), 3) uji XRF sampel sedimen, 4) uji presisi leaching logam Fe menggunakan sampel sedimen dengan metode BCR microwave teroptimasi , 5) leaching logam Fe dalam sedimen di perairan laut berwarna hijau, biru dan merah, 6) analisis fraksi keterikatan Fe dalam sedimen, faktor kontaminasi (FK), dan nilai indeks geoakumulasi (Igeo). Hasil penelitian menyatakan bahwa sedimen Pantai Tiga Warna dapat dikategorikan terkontaminasi logam Fe tingkat rendah di lokasi berwarna biru dan tingkat sedang di lokasi berwarna merah dan hijau yang diuji dengan metode BCR microwave teroptimasi secara akurat dan presisi. Kata kunci: BCR microwave, besi, sedimen, studi kontaminasi Abstract: Three Colors Beach, besides promoted as a tourism site, it is a beach where in line with Sendang Biru Beach which functioned as a harbor and fish auction. The loaded activity of people there will produce waste that degrade environmental quality. Environmental degradation caused by contamination of heavy metal waste, such as iron metal. The high level of waste will give a negative impact to water ecosystem and its human. This research used experimental laboratory method and field survey. This research held in some steps, namely (1) determining sampling point location in Three Colors Beach, (2) picking up and preparation toward medium sized sediments sample. (3) XRF test toward sediment samples, (4) precision test for leaching Fe on sediment samples using BCR microwave method, (5) Fe metal on sediment leaching in green, blue, and red sea water, (6) Fe metal attachment fraction analysis in sediment, contamination factor (CF), and geoaccumulation index value (Igeo). The result of this research, conclude that sediments in Tiga Warna Beach can be categorized as low level in Fe metal contamination in blue sea water and moderate level in red and green that tested using optimized BCR microwave method accurately and precisely. Keywords: BCR Microwave, iron, sediment, contamination stud