SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Pemanfaatan Silika Gel Sebagai Matriks Imobilisasi Enzim Trypsin Bovine Pancrease
ABSTRAK Haula’, Hamizah. 2018. Pemanfaatan Silika Gel Sebagai Matriks Imobilisasi Enzim Trypsin Bovine Pancrease. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D., (II) Dr. Suharti, S.Pd., M.Si. Kata Kunci: matriks silika gel, imobilisasi, Trypsine Bovine Pancrease. Imobilisasi enzim merupakan suatu proses dimana enzim ditempatkan pada keadaan tidak mampu bergerak, yakni dengan cara mengikatkannya pada suatu bahan yang inert dan tidak larut (matriks) tanpa mempengaruhi aktivitas katalitik enzim, sehingga dapat meningkatakan stabilitas enzim dan dapat digunakan secara berulang. Keberadaan silika gel yang melimpah ruah, dapat digunakan sebagai matriks dalam proses imobilisasi enzim. Silika gel memiliki sifat adsorptif dengan adanya gugus aktif berupa silanol dan siloksan pada permukaannya, hal ini didukung dengan morfologi permukaan yang berpori menjadikan silika mampu menjadi adsorben. Berdasarkan sifat tersebut silika gel memiliki potensi sebagai matriks pengemban proses imobilisasi enzim dengan metode adsorpsi. Penelitian ini bertujuan untuk menguji kemampuan silika gel dalam mengimobilisasi enzim dengan metode adsorpsi menggunakan enzim Trypsine Bovine Pancrease sebagai enzim model. Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui (1) kemampuan silika sebagai matriks dalam imobilisasi enzim Trypsine B.P., (2) keadaan optimum proses imobilisasi enzim meliputi kecepatan pengadukan, waktu pengadukan, dan suhu inkubasi imobilisasi enzim, dan (3) keberulangan penggunaan enzim Trypsine B.P. imobil pada matriks silika gel. Penelitian bersifat eksperimental laboratoris dan terbagi dalam 4 tahap yaitu (1) pembuatan matriks silika gel (2) karakterisasi matriks silika gel (3) kondisi optimum imobilisasi enzim tripsin pada matriks silika gel dalam variasi waktu dan kecepatan pengadukan (4) uji keberulangan enzim Trypsine B.V. imobil dengan melalui pengukuran aktivitas enzim dengan metode ANSON. Hasil penelitian yang diperoleh (1) silika gel dapat menjadi matriks dalam proses imobilisasi enzim tripsin dengan cara mengabsorpsi enzim tripsin dengan kapsitas adsorpsi sebesar 65,104 U/g, (2) keadaan optimum imobilisasi pada kecepatan pengadukan 50 rpm selama 120 menit pada suhu inkubasi 4oC dengan aktivitas enzim sebesar 7,765 U/mL, dan (3) keberulangan enzim imobil sebanyak 6x siklus dengan persentase penurunan aktivitas enzim sebesar 44,2 %
IDENTIFIKASI KESULITAN SISWA KELAS XI SMA DALAM MEMAHAMI MATERI LARUTAN PENYANGGA MENGGUNAKAN INSTRUMEN TES PILIHAN GANDA BERALASAN
ABSTRAK Ulfa, Rizka. 2018. Identifikasi Kesulitan Siswa Kelas XI SMA dalam Memahami Materi Larutan Penyangga Menggunakan Instrumen Tes Pilihan Ganda Beralasan, Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:(I) Drs. Muhammad Su’aidy, M.Pd., (II) Dr. Sumari, M.Si. Kata Kunci : kesulitan siswa, larutan penyangga, tes pilihan ganda beralasan. Ilmu kimia sebagian besar bersifat abstrak karena mempelajari konsep kimia secara makroskopik,submikroskopik, dan simbolik. Siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep kimia yang abstrak karena konsep yang dipelajari merupakan penyederhanaan dari keadaan sebenarnya. Salah satu materi kimia yang memelukan pemahaman konsep konkrit dan terdefinisi adalah materi larutan penyangga. Dalam beberapa hasil penelitian menunjukkan bahwa masih banyak siswa yang mengalami kesulitan dalam mempelajari materi larutan penyangga. Kesulitan ini juga terjadi pada siswa salah satu SMA, hal ini dapat diketahui dari hasil ujian yang menunjukkan hanya sebagian kecil siswa yang mencapai KKM. Oleh sebab itu perlu adanya identifikasi kesulitan siswa kelas XI SMA dalam memahami materi larutan penyangga. Tujuan dari penelitian ini yaitu : (1) Mengidentifikasi persentase kesulitan siswa pada sub materi sifat larutan penyangga, berdasarkan analisa jawaban siswa dengan alasan dan tidak, (2) Mengidentifikasi persentase kesulitan siswa pada sub materi jenis dan cara pembuatan larutan penyangga, berdasarkan analisa jawaban siswa dengan alasan dan tidak, (3) Mengidentifikasi persentase kesulitan siswa pada sub materi prinsip kerja larutan penyangga, berdasarkan analisa jawaban siswa dengan alasan dan tidak, (4) Mengidentifikasi persentase kesulitan siswa pada sub materi penentuan pH larutan penyangga, berdasarkan analisa jawaban siswa dengan alasan dan tidak, (5) Mengidentifikasi persentase kesulitan siswa pada sub materi fungsi larutan penyangga dalam kehidupan, berdasarkan analisa jawaban siswa dengan alasan dan tidak Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Subyek penelitian adalah kelas XI MIPA 1 dan XI MIPA 2 yang dipilih berdasarkan saran dari guru kimia. Instrumen penelitian berupa tes pilihan ganda beralasan yang terdiri dari 20 butir soal. Berdasarkan hasil uji coba instrumen diperoleh nilai validitas isi diatas 80 dengan kategori valid dan koefisien reliabilitas sebesar 0,767 yang tergolong tinggi. Data hasil penelitian dianalisis dengan memberikan skor terhadap jawaban dan alasan siswa, yang kemudian dapat dihitung presentase kesulitan yang dialami siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Berdasarkan hasil analisa jawaban siswa dalam memahami sifat larutan penyangga, menujukkan persentase siswa yang mengalami kesulitan sebanyak 70,09% dari jawaban dengan alasan dan 40,19% dari jawaban tanpa alasan, (2) Berdasarkan hasil analisa jawaban siswa dalam memahami jenis dan cara pembuatan larutan penyangga, menunjukkan persentase siswa yang mengalami kesulitan sebanyak 89,45% dari jawaban dengan alasan dan 61,27% dari jawaban tanpa alasan, (3) Berdasarkan hasil analisa jawaban siswa dalam memahami prinsip larutan penyangga, menunjukkan persentase siswa yang mengalami kesulitan sebanyak 95,21% dari jawaban dengan alasan, dan 68,74% dari jawaban tanpa alasan, (4) Berdasarkan hasil analisa jawaban siswa dalam memahami penentuan pH larutan penyangga, menujukkan persentase siswa yang mengalami kesulitan sebanyak 89,33% dari jawaban dengan alasan dan 55,51% dari jawaban tanpa alasan, (5) Berdasarkan hasil analisa jawaban siswa dalam memahami fungsi larutan penyangga dalam kehidupan, menunjukkan persentase siswa yang mengalami kesulitan sebanyak 93,13% dari jawaban dengan alasan dan 65,19% dari jawaban tanpa alasan
Variasi Suhu Kristalisasi pada Sintesis Zeolit Y Berbahan Limbah Geotermal
ABSTRAK Limbah lumpur geotermal merupakan hasil samping produksi listrik dari panas bumi. Limbah ini merugikan karena menghambat produksi listrik. Di sisi lain, terdapat kandungan silika di dalamnya sehingga berpotensi sebagai bahan baku untuk sintesis zeolit Y. Penelitian sintesis zeolit Y menarik perhatian di bidang industri karena banyak digunakan sebagai ion exchange dan adsorben logam berat pada limbah air. Sintesis zeolit Y dari silika alami telah banyak dilakukan oleh beberapa peneliti sebelumnya. Namun, produk zeolit yang dihasilkan masih mengandung pengotor berupa zeolit P. Zeolit P terbentuk setelah zeolit Y yang dipanaskan pada suhu tinggi. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: 1) karakteristik lumpur geotermal, 2) kemurnian dan rendemen silika dengan metode sol-gel caustic digestion, 3) kemurnian dan rendemen silika dengan metode pengabuan dan sol-gel caustic digestion, 4) kemurnian dan rendemen silika dengan metode leaching dan pengabuan, 5) kemurnian dan rendemen silika dengan metode leaching, pengabuan, dan sol-gel caustic digestion, 6) sintesis zeolit Y dengan variasi suhu kristalisasi 80 oC, 100 oC, dan 150 oC, serta 7) pengaruh variasi suhu kristalisasi terhadap karakteristik zeolit Y. Rancangan penelitian ini adalah eksperimental yang terdiri dari beberapa tahapan sebagai berikut: 1) sampling limbah lumpur geothermal, 2) preparasi dan karakterisasi lumpur geotermal dengan XRF dan XRD, 3) pemurnian dan karakterisasi silika (metode sol-gel caustic digestion, metode leaching dan pengabuan, metode leaching, pengabuan, dan sol-gel caustic digestion) dengan XRF, 4) sintesis zeolit Y pada variasi suhu kristalisasi 80 oC, 100 oC, dan 150 oC, dan 5) karakterisasi zeolit Y dengan FTIR, SEM, XRD, XRF, dan luas permukaan dengan metode adsorpsi metilen biru. Hasil dari penelitian ini menunjukkan: 1) lumpur geotermal berwarna hijau keputihan, halus, berbau seperti belerang yang terbakar (oksida belerang), mengandung Si 10.4%, dan berbentuk kristalin, 2) kemurnian Si 10.7% dengan rendemen 46.15% dihasilkan dari metode sol-gel caustic digestion, 3) kemurnian Si 78.5% dengan rendemen 86.14% dihasilkan dari metode pengabuan dan sol-gel caustic digestion, 4) kemurnian Si 85,3% dengan rendemen 82.02% dihasilkan dari metode leaching dan pengabuan, 5) kemurnian Si terbesar yakni 92.7% dengan rendemen 64.20% diperoleh dari metode leaching, pengabuan, dan sol-gel caustic digestion, 6) zeolit yang disintesis dengan variasi suhu kristalisasi memiliki sifat fisik yang mirip yakni padatan halus dan berwarna putih, 7) zeolit Y berhasil disintesis pada suhu kristalisasi 80 oC, 100 oC, 150 oC, memiliki morfologi kristal kubus terbanyak pada suhu kristalisasi 80 oC, difraktogram XRD hasil sintesis juga menghasilkan puncak khas zeolit Y terbanyak pada suhu 80 oC. Zeolit Y-80 oC, zeolit Y-100 oC, dan zeolit Y-150 oC memiliki rasio Si/Al yang sama yakni 2. Zeolit Y-80 oC menghasilkan luas permukaan tertinggi sebesar 658.06 m2/g. Semakin rendah suhu semakin banyak zeolit Y yang terbentuk dan semakin tinggi pula luas permukaannya
Sintesis K2O/γ-Fe2O3 dan Aplikasinya pada Trans-Esterifikasi Minyak Biji Bunga Matahari (Helianthus annuus L.)serta Uji Potensinya Sebagai Biodiesel
ABSTRAK Tanaman bunga matahari merupakan salah satu tanaman penghasil minyak nabati yang berpotensi sebagai bahan baku dalam pembuatan biodiesel. Produksi biodiesel dari minyak nabati dapat dilakukan melalui proses trans-esterifikasi dengan bantuan katalis homogen KOH dan NaOH. Namun, penggunaan katalis tersebut memiliki kelemahan yaitu sifatnya yang korosif. Katalis maghemit (γ-Fe2O3) merupakan salah satu oksida besi yang berfungsi sebagai katalis heterogen. Katalis maghemit diimpregnasi dengan KOH melalui metode impregnasi basah dengan tujuan menambah kebasaan katalis. Pengunaan K2O/γ-Fe2O3 sebagai katalis heterogen dalam sintesis biodiesel memiliki sifat magnet yang dapat dipisahkan dengan menggunakan medan magnet. Tujuan dari penelitian ini adalah, (1) melakukan sintesis dan karakterisasi katalis K2O/γ-Fe2O3, (2) melakukan trans-esterifikasi minyak biji bunga matahari dengan menggunakan katalis K2O/γ-Fe2O3, (3) mengetahui karakterisasi metil ester hasil trans-esterifikasi, (4) mengetahui komponen senyawa penyusun metil ester hasil trans-esterifikasi, (5) mengetahui potensi metil ester minyak biji bunga matahari sebagai biodiesel. Penelitian ini terdiri dari 6 tahap utama. Tahap 1 adalah sintesis dan karakterisasi katalis K2O/γ-Fe2O3. Tahap 2 adalah preparasi dan ekstraksi minyak biji bunga matahari. Tahap 3 adalah karakterisasi minyak biji bunga matahari hasil isolasi. Tahap 4 adalah trans-esterifikasi minyak biji bunga matahari dengan menggunakan katalis K2O/γ-Fe2O3. Tahap 5 adalah karakterisasi dan identifikasi senyawa penyusun metil ester asam lemak dengan menggunakan spektroskopi GC-MS. Tahap 6 adalah uji potensi sebagai biodiesel. Hasil dari penelitian ini adalah katalis K2O/γ-Fe2O3 disintesis dengan metode kopresipitasi dan dilanjutkan dengan metode impregnasi basah. Diperoleh serbuk berwarna hijau lumut. Hasil karakterisasi dengan XRD menunjukkan puncak-puncak bersesuaian dengan standar maghemit (JCPDS Card No. 39-1346) dan puncak-puncak K2O (JCPDS Card No. 47-1701; 77-2176), dengan kristalinitas relatif tinggi. Minyak biji bunga matahari ditrans-esterifikasi dengan metanol dan bantuan katalis K2O/γ-Fe2O3 menjadi metil ester asam lemaknya. Metil ester asam lemak hasil trans-esterifikasi berwarna kuning pucat, berwujud cair, memiliki massa jenis 0,8541 g/mL, viskositas 4,13 cSt, bilangan iod 111,67, bilangan asam 0,177 dan bilangan penyabunan 251,53. Senyawa penyusun metil ester hasil trans-esterifikasi yang diperoleh pada penelitian ini adalah metil 9-oktadekenoat/ metil oleat. Metil ester hasil trans-esterifikasi minyak biji bunga matahari berpotensi sebagai biodiesel sesuai dengan parameter SNI 7182:2015
PERBANDINGAN HASIL DAYA INHIBISI ANTARA METODE SPEKTROFOTOMETRI DAN VOLUMETRI SECARA IN VITRO DAN ANALISIS IN SILICO PROFIL INHIBISI ISOLAT FLAVONOID DARI MESOKARP MENTIMUN (Cucumis sativus L.)
ABSTRAK Cholifatuzaroh. 2018. Perbandingan Hasil Daya Inhibisi Antara Metode Spektrofotometri dan Volumetri secara in vitro dan Analisis in silico Profil Inhibisi Isolat Flavonoid dari Mesokarp mentimun (Cucumis sativus L.). Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Prof. Dr. H. Subandi, M.Si., (II) Dr. Sri Rahayu Lestari, M.Si. Kata Kunci: mesokarp mentimun, inhibisi, lipase pankreas, in vitro, in silico. Obesitas telah menjadi masalah nasional dan global, dan dapat ditanggani dengan pengaturan diet dan mengonsumsi obat anti-obesitas. Salah satu obat anti-obesitas adalah Orlistat yang bekerja sebagai inhibitor lipase pankreas, sehingga mengurangi penyerapan asam lemak dan gliserol dalam tubuh. Selama ini penentuan daya inhibisi Orlistat secara in vitro dilakukan dengan metode volumetri, yang memerlukan sampel dan reagen dalam jumlah relatif banyak (mL) dan ketelitiannya relatif rendah. Oleh sebab itu perlu diuji dengan metode lain. Seperti metode spektrofotometri yang membutuhkan sampel dan reagen dalam jumlah relatif sedikit (μL) dan dengan ketelitian yang relatif tinggi. Penelitian sebelumnya telah membuktikan secara in vitro bahwa serbuk dan ekstrak kental mesokarp mentimun dapat bertindak sebagai inhibitor lipase pankreas. Hasil tersebut juga perlu dikaji secara in silico. Oleh karena itu tujuan dari penelitian ini adalah (1) menentukan perbandingan daya inhibisi Orlistat, serbuk dan ekstrak kental mesokarp mentimun antara metode spektrofotometri dengan metode volumetri; (2) mengetahui profil inhibisi isolat flavonoid “pinosembrin” dari mesokarp mentimun sebagai inhibitor lipase pankreas secara in silico. Penelitian secara in vitro dengan metode spektrofotometri dilakukan secara laboratorium dan dibandingkan dengan hasil metode volumetri pada penelitian sebelumnya. Analisis in silico dilakukan secara komputasi dengan menggunakan software komputer PyMol dan Discovery Studio dengan metode docking terhadap isolat flavonoid dari mesokarp mentimun yaitu pinosembrin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) perbandingan hasil daya inhibisi terhadap lipase pankreas dengan metode spektrofotometri dan metode volumetri, relatif sama untuk Orlistat tetapi terdapat perbedaan untuk serbuk dan ekstrak kental mesokarp mentimun, yang dimungkinkan karena keadaan sampel terakhir adalah sampel yang sudah berwarna (kuning – coklat); 2) hasil isolat flavonoid dari mesokarp mentimun (pinosembrin) yang memiliki daya inhibisi secara in vitro lebih besar dari Orlistat, secara in silico juga memiliki binding affinity yang lebih besar (7,87 kcal/mol) dibandingkan Orlistat (5,70 kcal/mol), tetapi terikat pada sisi yang berbeda pada enzim lipase pankreas
Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari [Mn(C9H7N)2](NO3)2dengan K4[Co(SCN)6] sebagai Baterai Ion Kalium.
ABSTRAK Dewi, Kumala. 2018. Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari [Mn(C9H7N)2](NO3)2dengan K4[Co(SCN)6] sebagai Bahan Baterai Ion Kalium. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed., Ph.D., (II) Dr.Fariati, M.Sc. Kata kunci: Senyawa kompleks, ion mangan(II), ion kobalt(II), kuinolina, ion tiosianat, baterai ion kalium. Prussian Blue merupakan senyawa kompleks dengan rumus struktur AxM[N(CN)6] (L: ion logam alkali; M dan N: ion logam transisi] yang digunakan sebagai bahan katoda baterai, contohnya: senyawa K2Co[Fe(CN)6] dan K2Mn[Mn(CN)6]dengan nilai potensial oksidasi dan reduksi berturut turut sebesar 0,6 V; 0,25 V dan 1,72 V; 1,0 V. Bateraiion kalium berbasis Prussian Bluedengan keunggulan, seperti: nilai potensial yang tinggi. Senyawa kompleks Prussian Blue like mengandung ion SCN-. Senyawa kompleks Prussian Blue like dengan dua ion logam transisi, potensinya sebagai bahan baterai ion kalium belum pernah dilaporkan. Baterai yang mengandung ion Co(II) dan ion Mn(II) menunjukkan penggunaannya berpotensi sebagai bahan baterai. Berdasarkan hal tersebut dilakukan penelitian berbasis Prussian Bluelikedengan menggunakan reaktan ion Mn(II); ion Co(II) dan ion SCN- dan juga dilakukan penambahan kuinolina. Tujuan penelitian yaitu sintesis dan karakterisasi senyawa kompleks dari ion Mn(II);ion Co(II);kuinolina dan ion SCN- dengan perbandingan 1:1:2:6 dan potensinya sebagai bahan baterai ion kalium. Penelitian ini terdiri dari dua tahap, yaitu: sintesis senyawa kompleks dengan mereaksikan Mn(NO3)2.4H2O dan kuinolina pada perbandingan stoikiometri 1:2 dengan CoCl2.6H2O dan KSCN pada perbandingan stoikiometri 1:6 dalam pelarut metanol. Karakterisasi senyawa kompleks hasil sintesis dengan uji titik lebur; XRD;XRF; FTIR; DHL; uji kualitatif dan voltametri siklik. Reaksi antara Mn(NO3)2.4H2O; CoCl2.6H2O; kuinolina dan KSCN dengan perbandingan stoikiometri 1:1:2:6 menghasilkan padatan biru kehijauan dan kristal biru gelap berbentuk balok dan melebur pada suhu 165-167oC yang menunjukkan senyawa hasil sintesis tersebut baru dan murni. Analisis XRD menunjukkan senyawa kompleks hasil sintesis merupakan senyawa yang berbeda dengan senyawa kompleks reaktannya. Analisis XRF menunjukkan perbandingan Mn(II):Co(II)= 1:1. Analisis FTIR menunjukkan bahwa senyawa kompleks hasil sintesis mengandung kuinolina dan ion tiosianat sebagai ligan jembatan. Analisis DHL menunjukkan bahwa senyawa kompleks hasil sintesis merupakan senyawa ionik. Uji kualitatif ion Cl-, ion NO3- dan ion SCN- menunjukkan hasil negatif. Analisis voltametri siklik menunjukkan senyawa kompleks hasil sintesis mengalami reaksi oksidasi dan reduksi dengan nilai potensial berturut-turut sebesar -1,240 V dan +0,594 V
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR KIMIA MATERI KIMIA UNSUR PERIODE TIGA BERBASIS CONTEXTUAL TEACHING AND LEARNING UNTUK PESERTA DIDIK SMA/MA KELAS XII
ABSTRAK Nurfadila, Novia. 2018. Pengembangan Bahan Ajar Kimia Materi Kimia Unsur Periode Tiga Berbasis Contextual Teaching and Learning untuk Peserta Didik SMA/MA Kelas XII. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed., Ph.D., (2) Drs. Mohammad Sodiq Ibnu, M.Si Kata Kunci: bahan ajar, kimia unsur periode tiga, contextual teaching and learning Kimia unsur merupakan salah satu materi yang dipelajari oleh peserta didik SMA/MA kelas XII. Materi tersebut dianggap kurang menarik oleh peserta didik, karena peserta didik merasa harus menghafal informasi yang disajikan. Selain itu, peserta didik juga kurang mampu menemukan relevansi dari apa yang sudah mereka pelajari dengan kehidupan nyatanya. Salah satu topik dalam materi kimia unsur yaitu unsur periode tiga. Hasil analisis dua bahan ajar yang tersedia, bahan ajar masih bersifat deskriptif dan konseptual dimana materi dijelaskan secara langsung tanpa ada proses menemukan pengetahuan di dalamnya, sehingga kurang bermakna. Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah (1) menghasilkan bahan ajar kimia materi kimia unsur periode tiga berbasis Contextual Teaching and Learning. (2) mengetahui tingkat kelayakan bahan ajar kimia materi kimia unsur periode tiga berbasis Contextual Teaching and Learning. Pengembangan bahan ajar ini mengadopsi rancangan pengembangan model 4D Thiagarajan (1974:5) yang meliputi tahap mendefinisikan (define), merancang (design), mengembangkan (develop), dan menyebarluaskan (disseminate). Tahap menyebarluaskan tidak dilakukan karena keterbatasan waktu, biaya dan tenaga. Validasi dilakukan oleh 3 validator yaitu dosen kimia UM, 2 guru kimia SMALAB UM, dan 10 peserta didik SMALAB UM kelas XI. Instrumen validasi dan uji keterbacaan yang digunakan berupa angket. Klasifikasi angket dan uji keterbacaan menggunakan kriteria tertentu. Hasil pengembangan berupa bahan ajar kimia materi kimia unsur periode tiga berbasis Contextual Teaching and Learning yang terbagi menjadi 2 buku yaitu Buku Peserta didik dan Buku Guru. Karakteristik bahan ajar yang dikembangkan yaitu: (1) menggunakan pendekatan Contextual Teaching and Learning, (2) disajikan fakta-fakta yang banyak dijumpai dalam kehidupan sehari-hari, (3) penyajian materi banyak melibatkan peserta didik dalam proses pembelajaran, dan (4) disajikan link-link video yang mendukung proses pembelajaran. Rata-rata persentase kelayakan bahan ajar untuk peserta didik sebesar 86,78% dengan kriteria sangat layak. Rata-rata persentase kelayakan bahan ajar untuk guru sebesar 87,06% dengan kriteria sangat layak. Sedangkan pada uji keterbacaan, rata-rata persentase uji kelayakan sebesar 86,4% dengan kriteria sangat layak. Produk hasil pengembangan diharapkan dapat mendukung implementasi kurikulum 2013
Analisis Pengetahuan Metakognitif Siswa SMA Kelas XII MIPA padaTopik Kesetimbangan Kimia
ABSTRAK Salah satu topik ilmu kimia yang diajarkan pada siswa SMA kelas XI program MIPA semester Gasal adalah Kesetimbangan Kimia. Topikini meliputi kesetimbangan dinamis, tetapan kesetimbangan, pergeseran kesetimbangan dan faktor-faktor yang mempengaruhi kesetimbangan, perhitungan derajat disosiasi ( ) dan tetapan kesetimbangan (Kc dan Kp), serta penerapan kesetimbangan kimia dalam industri. Untuk dapat memahami topik Kesetimbangan Kimia secara utuh diperlukan pemahaman konseptual, pemahaman algoritmik, dan pengetahuan kondisional. Pemahaman konseptual berhubungan dengan pengetahuan deklaratif, sedangkan pemahaman algoritmik berhubungan dengan pengetahuan prosedural. Pengetahuan deklaratif, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan kondisional merupakan pengetahuan metakognitif. Pengetahuan metakognitif merupakan salah satu pengetahuan yang harus dikuasai oleh siswa lulusan pendidikan dasar dan menengah (Permendikbud Nomor 54 Tahun 2013). Akan tetapi, selama ini penilaian hasil belajar lebih ditekankan pada aspek konseptual dan algoritmik. Penilaian hasil belajar yang menekankan pada pengetahuan metakognitif siswa dianggap masih sangat jarang dilakukan, termasuk dalam bidang kimia. Tujuan penelitian ini adalahmendeskripsikan tingkat pengetahuan deklaratif, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan kondisional siswa kelas XII MIPA. Subjek penelitian deskriptif ini adalah tiga kelas siswa kelas XII program MIPA SMA Negeri 5 Malang yang terdiri dari 90 siswa. Data penelitian berupa skor tes pengetahuan metakognitif siswa, yang dikumpulkan menggunakan tes pengetahuan metakognitif yang terdiri dari 11 butir soal deklaratif, 3 butir soal prosedural dan 3butir soal kondisional. Uji coba instrumen dilaksanakan di kelas lainnya yang terdiri dari 30 siswa. Validitas instrumen dihitung dengan Pearson Correlation. Hasil perhitungan menunjukkan bahwa semua butir soal dinyatakan valid. Koefisien reliabilitas instrumen, dihitung dengan persamaan Alpha Conbrach, sebesar 0,74 untuk soal deklaratif dan 0,65 untuk soal prosedural sertasoal kondisional. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas XII MIPA SMANegeri 5 Malang memiliki tingkat pengetahuan deklaratif dan prosedural yang termasuk dalam kategori tinggi, sedangkan pengetahuan kondisional termasuk dalam kategori rendah.Pengetahuan deklaratif siswa lebih tinggi dibandingkan pengetahuan prosedural dan pengetahuan kondisionalnya. Hal ini mungkin disebabkan kesulitan dalam menyelesaikan permasalahan berkaitan pengetahuan kondisional lebih tinggi dibandingkan pengetahuan deklaratif dan prosedural
Sintesis Metil Ester dari Minyak Biji Tembakau dengan Katalis CaO-KCl dan Metode Ultrasonik serta Uji Potensinya sebagai Biodiesel dan Antibakteri
ABSTRAK Muhamat, Rocki . 2018. Sintesis Metil Ester dari Minyak Biji Tembakau dengan Katalis CaO-KCldan Metode Ultrasonik serta Uji Potensinya sebagai Biodiesel dan Antibakteri.Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Laurent Octaviana, S.Pd., M.Si., (II) Dr. AmanSantoso, M.Si., Ketersediaan minyak bumi yang semakin menipis memberikan tantangan dan peluang dalam pemanfaatan bahan bakar alternatif lain,seperti misalnya penggunaan biodiesel. Minyak biji tembakau diketahui bisa digunakan sebagai biodiesel melalui reaksi transesterifikasi menggunakan katalis basa. Katalis basa tersebut bisa bervariasi seperti, misalnya katalis CaO-KCl. Metil ester yang dihasilkan selain digunakan sebagai biodiesel, juga berpotensi digunakan sebagai senyawa antibakteri. Tujuan dari penelitian ini adalah 1) mensintesis metil ester dari minyak biji tembakau dengan katalis CaO-KCl menggunakan metode ultrasonik, 2) mengkarakterisasi metil ester hasil transesterifikasi dari minyak biji tembakau dan uji potensinya sebagai biodiesel, 3) mengidentifikasi senyawa penyusun metil ester hasil sintesis menggunakan GC-MS,dan 4) menguji bioaktivitas minyak biji tembakau dan metil esternya terhadap bakteri Escherichia coli. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium penelitian Jurusan Kimia, Laboratorium Penelitian Jurusan Biologi dan Lab. Sentral FMIPA Universitas Negeri Malang. Tahapan dalam penelitian ini, yaitu (1) preparasi sampel, larutan, dan katalis, (2) ekstraksi biji tembakau menggunakan pelarut n-heksana dengan metode soxhletasi, (3) karakterisasi minyak biji tembakau melalui uji massa jenis, indeks bias, viskositas, uji angka asam dan asam lemak bebas, (4) esterifikasi dengan menggunakan metanol dan katalis H2SO4 dilanjutkan dengan transesterifikasi menggunakan metanol dan katalis CaO-KCl, (5) karakterisasi metil ester hasil sintesis melalui penentuan massa jenis, indeks bias, viskositas dan angka asam, (6) identifikasi senyawa penyusun campuran metil ester hasil sintesis menggunakan GC-MS, dan (7) uji bioaktivitas antibakteri pada minyak biji tembakau dan metil esternya terhadap bakteri Escherichia coli menggunakan metode difusi sumur agar. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) metil ester dapat disintesis dari minyak biji tembakau dengan katalis CaO-KCl 3, 4, dan 5% w/w minyak dengan gelombang ultrasonik, (2) karakter metil ester hasil sintesis pada konsentrasi katalis CaO-KCl 3, 4 dan 5 % w/w minyak memenuhi kriteria SNI Biodiesel 7182-2015 meliputi densitas, viskositas, dan bilangan asam, (3) hasil identifikasi senyawa penyusun metil ester hasil sintesis dengan GC-MS diperoleh senyawa utama berupa metil palmitat, metil linoleat, dan metil oleat, dan (4) uji bioaktivitas antibakteri pada metil ester minyak biji tembakau memiliki bioaktivitas sedang dan pada minyaknya tidak aktif terhadap bakteri Escherichia coli. Kata kunci: minyak biji tembakau, katalis CaO-KCl, ultrasonik, biodiesel, antibakteri
PENGENDAPAN EKSTRAK KASAR SELULASE Bacillus Circulans MENGGUNAKAN ASETON DAN STABILITAS HASIL PENGENDAPAN PADA SUHU 0 C
ABSTRAK Sabillah, IqbalAchmad. 2018.Pengendapan Ekstrak Kasar Selulase Bacillus Circulans Menggunakan Aseton dan Stabilitas Hasil Pengendapan pada Suhu 0°C. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Evi Susanti, M.Si, (II) Dr. Suharti, M.Si. Kata Kunci: Bacillus circulans, pengendapan aseton, selulase Selulase merupakan enzim yang menghidrolisis ikatan β-1,4-glikosidik dalam rantai selulosa menjadi gula pereduksi. Selulase dalam bentuk ekstrak kasar memiliki kestabilan dan aktivitas yang rendah, sehingga memerlukan pemurnian atau pemekatan untuk meningkatkan aktivitas dan stabilitasnya. Salah satu metode pemurnian ekstrak kasar selulase adalah metode pengendapan aseton. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui tingkat kemurnian hasil fraksinasi ekstrak kasar selulase dari Bacillus circulans pada kejenuhan aseton 33 %, 41,1 %, 50 %, 60 %, dan 67% dan mengetahui pengaruh waktu pengendapan terhadap tingkat kemurnian hasil fraksinasi ekstrak kasar selulase dari Bacillus Circulans pada kejenuhan aseton optimum, serta Stabilitas waktu penyimpanan fraksi optimum dalam freezer lemari pendingin SHARP VR-D180 bersuhu 0°C. Penelitian ini dapat dicapai melalui tahapan,: (1) produksi ekstrak kasar selulase Bacillus circulans dari biakan murni, (2) pemurnian ekstrak kasar selulase menggunakan metode pengendapan aseton dengan beberapa variasi tingkat kejenuhanaseton (33 %, 41,1 %, 50 %, 60 %, 67 %) dan waktu inkubasi pengendapan pada tingkat kejenuhan optimum (50%), (3) Uji stabilitas hasil pengendapan dalam freezerlemari pendingin SHARP VR-D180bersuhu ± 0°C dengan variasi waktu0, 1, 4, dan 7 hari. Aktivitas selulase yang diukur adalah aktivitas selulase total, dengan menggunakan kertas Whatman no 1 sebagai substrat berdasarkan kenaikan kadar gula pereduksi. Penentuan kadar gula pereduksi menggunakan metode Somogy-Nelson. Kadar protein ditentukan dengan metode Lowry. Tingkat kemurnian enzim merupakan perbandingan aktivitas spesifik enzim setelah pemurnian dengan aktivitas enzim sebelum pemurnian. Tingkat kemurnian hasil pengendapan ekstrak kasarBacillus circulans mengalami peningkatan pada kejenuhan aseton ( 33 %), (41,1 %) dan (50 %) kemudian menurun pada kejenuhan (60 %) dan (67 %). Fraksi yang aktivitas spesifik tertinggi adalah pada tingkat kejenuhan aseton 50 %, dengan tingkat kemurnian rata-rata 63,61 ± 0,141 dan perolehan kembali rata-rata 76,85 ± 7,99 % kali ekstrak kasar.Waktu pengendapan tidak berpengaruh terhadap tingkat kemurnian hasil fraksinasi ekstrak kasar selulase Bacillus circulans pada kejenuhan aseton optimum.Selulase hasil pengendapan dengan aseton memiliki stabilitas yang cukup baik dalam lemari pendingin SHARP VR-D180 pada suhu ± 0°C (freezer). Aktivitas selulase menurun sebesar 41,1 % pada hari pertama dan 88,2 % pada hari ketujuh setelah penyimpanan.