SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Studi Imobilisasi Enzim Selulase pada Matriks Silika-Selulosa
ABSTRAK Silika dari abu sekam padi dan selulosa dari nata de coco dapat dikombinasikan untuk membentuk matriks silika-selulosa yang digunakan untuk imobilisasi enzim selulase (Trichoderma viride). Tujuan penelitian adalah untuk mengetahui (1) waktu kontak optimum menggunakan shaker pada pembentukan enzim selulase kedalam matriks silika-selulosa, (2) kecepatan pengadukan optimum menggunakan shaker pada pembentukan enzim selulase kedalam matriks silika-selulosa, (3) efektivitas enzim selulase imobil dalam silika-selulosa dengan metode adsorpsi. Penelitian ini bersifat deskriptif laboratoris dan terbagi menjadi 5 tahap yaitu (1) pembuatan matriks silika-selulosa, (2) karakterisasi fisik silika-selulosa sebagai matriks yang meliputi kadar air, kadar abu, massa jenis, daya serap iod, dan juga analisis gugus fungsi dengan FT-IR merk IR-Irprestige-21 (Shimadzu), (3) optimasi waktu pembentukan enzim selulase imobil dengan matriks silika-selulosa pada variasi 15,30,45,60,75 menit, (4) optimasi kecepatan pengadukan pembentukan enzim selulase imobil dengan matriks silika-selulosa pada variasi 50,100,150,200,250 rpm (5) Uji efektivitas imobilisasi enzim selulase. Terbentuknya enzim selulase imobil diamati dengan membandingkan aktivitas enzim bebas dengan enzim imobil pada silika-selulosa. Aktivitas enzim sebanding dengan kadar glukosa yang dihasilkan. Hasil penelitian yang diperoleh (1) waktu kontak optimum untuk imobilisasi 10 mL enzim selulase dalam 0,25 gram matriks silika-selulosa terdapat pada 45 menit dengan persen enzim terimobil 7,71% (2) kecepatan pengadukan optimum untuk imobilisasi 10 mL enzim selulase dalam 0,25 gram matriks silika-selulosa pada 150 rpm dengan persen enzim terimobil 6,18% (3) hasil dari uji efektivitas imobilisasi enzim selulase dilihat dari tujuh kali penggunaan berulang dan kadar glukosa minimum sebesar 16,9%
Penentuan Jenis dan Aktivitas Isolat Flavonoid dari Ekstrak Etanol Mesokarp Mentimun (Cucumis sativus L.) sebagai Inhibitor Lipase Pankreas
RINGKASANAmrilla, Resti Fajriati. 2017. Penentuan Jenis dan Aktivitas Isolat Flavonoid dari Ekstrak Etanol Mesokarp Mentimun (Cucumis sativus L.) sebagai Inhibitor Lipase Pankreas. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Subandi, M.Si., (II) Tatas H. P. Brotosudarmo, Ph.D.Kata Kunci: inhibitor lipase pankreas, antiobesitas, mesokarp mentimun, isolat flavonoid Obesitas telah menjadi masalah nasional bahkan global dengan prevalensi masing-masing 26,6% dan 13%. Disamping dapat ditanggulangi dengan diet lemak dan karbohidrat, obesitas juga dapat ditanggulangi dengan mengonsumsi obat antiobesitas. Salah satu obat antiobesitas yang terkenal adalah orlistat, yang bekerja sebagai inhibitor lipase pankreas. Meskipun demikian orlistat adalah obat impor yang relatif mahal dan memiliki efek samping. Oleh sebab itu telah banyak diteliti obat herbal antiobesitas yang harganya lebih murah dan lebih kecil efek sampingnya. Penelitian sebelumnya telah membuktikan bahwa sari, serbuk, dan ekstrak mesokarp mentimun mampu bertindak sebagai inhibitor lipase pankreas. Oleh karena kandungan metabolit sekunder dalam mentimun adalah flavonoid maka penelitian ini bertujuan untuk: 1) mengisolasi senyawa flavonoid dari ekstrak etanol mesokarp mentimun yang aktif sebagai inhibitor lipase pankreas, 2) menentukan daya inhibisi isolat flavonoid dari ekstrak etanol mesokarp mentimun terhadap lipase pankreas, relatif terhadap orlistat, dan 3) menentukan jenis senyawa flavonoid dengan daya inhibisi tertinggi melalui spektroskopi UV-Vis, FT-IR, dan ESI-MS/MS serta membandingkan data spektrum tersebut dengan literatur yang ada. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif laboratoris, terdiri dari enam tahap yaitu: 1) preparasi mesokarp mentimun menjadi serbuk mesokarp mentimun, 2) ekstraksi, 3) isolasi flavonoid, 4) uji fitokimia, 5) pengujian daya inhibisi secara in vitro, dan 6) penentuan jenis flavonoid berdasarkan spektrum UV-Vis, FT-IR, dan ESI-MS/MS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) ekstrak etanol mesokarp mentimun mengandung senyawa flavonoid yang aktif sebagai inhibitor lipase pankreas, 2) terdapat sembilan jenis flavonoid dalam mesokarp mentimun dengan daya inhibisi 97,51 sampai dengan 222,86 kali dibanding orlistat, dan 3) berdasarkan spektrum UV-Vis, FT-IR, dan ESI-MS/MS serta membandingkannya dengan literatur yang ada, isolat flavonoid dengan daya inhibisi tertinggi (isolat pertama) adalah pinosembrin (5,7-dihidroksiflavanon)
Perbedaan Hasil Belajar Kognitif Antara Siswa yang Dibelajarkan dengan Model Pembelajaran Learning Cycle 5E dan Learning Cycle 5E-Mind mapping pada Materi Larutan Penyangga Kelas XI SMA
ABSTRAK Salah satu materi kimia yang dianggap sulit yaitu materi larutan penyangga. Larutan penyangga merupakan salah satu konsep kimia yang bersifat abstrak, menyangkut reaksi kimia dan perhitungan matematis. Kesulitan siswa dalam mempelajari konsep dapat menimbulkan kesalahan konsep, mulai dari konsep larutan penyangga hingga konsep pH larutan penyangga pada aspek perhitungan pH larutan penyangga siswa mengalami kesulitan (Amarta, 2011). Oleh karena itu, diperlukan cara yang tepat untuk pembelajarannya yaitu dengan menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5E yang berbasis konstruktivis. Pemahaman konsep dalam materi ini akan semakin mudah jika dipadukan dengan pembuatan mind map dan diharapkan dapat mengubah pola ingatan jangka pendek siswa menjadi ingatan jangka panjang. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) keterlaksanaan proses pembelajaran materi larutan penyangga menggunakan model pembelajaran Learning Cycle 5E-mind mapping dan model pembelajaran Learning Cycle 5E, (2) ada tidaknya perbedaan hasil belajar kognitif antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Learning Cycle 5E dan Learning Cycle 5E-mind mapping. Penelitian ini menggunakan rancangan quasi experimental dengan posttest only control group design. Populasi penelitian ini adalah siswa kelas XI IPA SMAN 5 Malang. Sampel penelitian ditentukan berdasarkan saran dari guru kimia SMA Negeri 5 Malang dan diperoleh 2 kelas, yaitu kelas XI G4 sebagai kelas eksperimen yang dibelajarkan dengan Learning Cycle 5E-mind mapping dan kelas XI F4 sebagai kelas kontrol yang dibelajarkan dengan Learning Cycle 5E. Instrumen yang digunakan dalam penelitian meliputi instrumen pembelajaran (Silabus, RPP, dan LKS) dan instrumen pengukuran (Soal Ulangan Harian dan Lembar Observasi). Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif dan uji-t pada signifikansi 5% dengan bantuan program SPSS Versi 25.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Keterlaksanaan model pembelajaran Learning Cylce 5E-Mind mapping memiliki rata-rata sebesar 93,76% dan Learning Cycle 5E sebesar 92,90%. (2) Ada perbedaan hasil belajar kognitif antara siswa yang dibelajarkan dengan Learning Cycle 5E-Mind mapping dan Learning Cycle 5E. Rata-rata hasil belajar kognitif siswa yang dibelajarkan dengan Learning Cycle 5E-Mind Mapping adalah 81,13, lebih tinggi dari siswa yang dibelajarkan dengan Learning Cycle 5E yaitu sebesar 75,16. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa hasil belajar kognitif siswa pada materi larutan penyangga yang dibelajarkan dengan Learning Cycle 5E-Mind mapping lebih baik dari pada siswa yang dibelajarkan dengan Learning Cycle 5E
Pengembangan Bahan Ajar Kimia Materi Makromolekul Berbasis Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) untuk Siswa SMA/MA Kelas XII
ABSTRAK Putri, Eka Sasining. 2018. Pengembangan Bahan Ajar Kimia Materi Makromolekul Berbasis Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) untuk Siswa SMA/MA Kelas XII. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Drs. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed., Ph.D. (II) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D. Kata kunci: pengembangan bahan ajar, makromolekul, pendekatan kontekstual Bahan ajar adalah komponen perangkat pembelajaran yang digunakan untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar. Berdasarkan hasil analisis terhadapmateri makromolekul pada beberapa bahan ajar yang umumnya digunakan di sekolah, materi pembelajaran dan konsep disampaikan secara naratif dan informatif. Bahan ajar belum dapat membantu peserta didik untuk mengkonstruksi konsep secara mandiri. Padahal pada kurikulum 2013 peserta didik didorong belajar melalui konstruksi konsep. Pendekatan yang sesuai dengan ketentuan kurikulum 2013 dan dapat digunakan untuk membelajarkan materi makromolekul adalah pendekatan kontekstual. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan dan menguji kelayakan bahan ajar materi makromolekul berbasis pendekatan kontekstual. Penelitian pengembangan ini menggunakan model pengembangan 4-D (Thiagarajan, 1974)yang terdiri dari tahap define, design, develop, dan disseminate. Namun pada penelitian pengembangan ini hanya dilakukan hingga tahap develop. Pengembangan bahan ajar ini mencakupbuku guru dan buku siswa. Kalayakan bahan ajar yang dikembangkan divalidasi oleh tiga validator ahli, sementara uji keterbacaan dilakukan oleh sepuluh siswa kelas XII SMA. Hasil pengembangan adalah buku siswa berbasis pendekatan kontekstual yang terdiri atas bab polimer sintetis, karbohidrat, protein, dan lipid. Buku guru mencakup silabus, RPP, dan petunjuk penilaian. Hasil validasi terhadap bahan ajar menunjukkan bahwa buku siswa dan buku guru memenuhi kriteria sangat layak dengan persentase rata-rata 87,7% dan 84,7%. Sementara hasil dari uji keterbacaan menunjukkan bahwa buku siswa memenuhi kriteri layak dengan rata-rata persentase 78,2%. Hasil pengembanganbahan ajar kimia materi makromolekul berbasis pendekatan kontekstual (CTL) dapat digunakan dalam proses belajar mengajar
Pengembangan Instrumen Asesmen Pemahaman Konseptual pada Bahan Kajian Penyetaraan Persamaan Reaksi Redoks dan Sel Elektrokimia
ABSTRAK Asesmen adalah proses pengumpulan dan pengolahan informasi untuk mengukur pencapaian hasil belajar peserta didik. Untuk menilai hasil belajar peserta didik dibutuhkan instrumen asesmen. Secara umum, instrumen asesmen dalam bentuk butir soal dibagi menjadi dua, yaitu butir soal yang jawabannya disediakan (selected response items) dan butir soal yang jawabannya tidak disediakan (constructed response items). Tidak dapat dipungkiri bahwa jenis soal selected response items memungkinkan adanya jawaban menebak (guessing) dari peserta didik. Jawaban menebak dari peserta didik tersebut tidak dapat memantau pemahaman peserta didik secara utuh. Untuk memantau jawaban peserta didik bukan dari hasil menebak, maka dilakukan kendali berdasarkan jenis butir soal yang dikembangkan. Untuk itu, dibutuhkan butir soal dengan aspek yang diukur adalah sama tetapi berbeda jenis susunannya, dimana berbagai bentuk soal ini dapat memantau jawaban menebak dari peserta didik. Oleh karena itu, dilakukan pengembangan instrumen asesmen dengan ragam soal selected response items dan constructed response items, yang berkaitan dengan konsep penyetaraan persamaan reaksi redoks, sel Volta, dan sel elektrolisis. Produk penelitian pengembangan ini diharapkan dapat menjadi prototipe untuk instrumen asesmen pemahaman konseptual dan dapat memonitor jawaban menebak dari peserta didik. Rancangan penelitian pengembangan ini menggunakan model 4D, yakni tahap define (membatasi), design (merancang), develop (mengembangkan), dan disseminate (menyebarkan). Namun, tahap yang dilakukan pada pengembangan ini adalah sampai tahap D yang ketiga yaitu mengembangkan, tidak melakukan D yang keempat, dan tidak dilakukan uji coba terbatas kepada peserta didik. Tingkat validitas hasil pengembangan instrumen asesmen di validasi isi. Validasi dilakukan oleh tiga validator yaitu satu orang dosen jurusan Kimia FMIPA UM, dan dua orang guru kimia SMA. Analisis validitas instrumen dari validator dilakukan dengan teknik persentase. Instrumen asesmen hasil pengembangan terdiri dari 38 paket soal yang mencakup 152 butir soal. Setiap paket soal terdiri dari empat jenis soal, yakni benar-salah, pilihan tunggal, hubungan antar hal, dan jawaban singkat. Instrumen asesmen tersebut terdiri dari 6 paket yang mencakup 24 butir soal penyetaraan persamaan reaksi redoks, 19 paket yang mencakup 76 butir soal sel volta, dan 13 paket yang mencakup 52 butir soal sel elektrolisis. Tingkat validitas instrumen asesmen hasil pengembangan adalah sangat valid (skor 92,02%). Setiap paket soal asesmen mempunyai tingkat validitas sangat valid yakni paket penyetaraan persamaan reaksi redoks (skor 88,54%-92,97%), paket sel volta (skor 86,57%-96,09%), dan paket sel elektrolisis (skor 90,97%-94,33%). Jadi, instrumen asesmen ini layak digunakan sebagai sebuah prototipe instrumen asesmen pemahaman konseptual dan dapat memonitor jawaban menebak dari peserta didik
Pengembangan Modul Kimia Berbasis Scientific Approach pada Materi Koloid untuk Siswa SMA/MA Kelas XI
ABSTRAK Jannah, Amanatul. 2018. Pengembangan Modul Kimia Berbasis Scientific Approach pada Materi Koloid untuk Siswa SMA/MA Kelas XI. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (1) Dr. Endang Budiasih, M.S sebagai dosen pembimbing 1 dan (2) Dr. Yudhi Utomo, M.Si sebagai dosen pembimbing 2. Kata Kunci : koloid, scientific approach, model 4D. Koloid merupakan salah satu materi dalam ilmu kimia yang membutuhkan daya hafalan dan pemahaman yang cukup, karena materi koloid erat sekali kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Materi koloid memiliki beberapa karakteristik, diantaranya : 1) memiliki banyak istilah asing yang harus dipelajari seperti : kondensasi, adsorpsi, elektroforesis dan lain sebagainya, 2) sebagian besar materi koloid berupa pemahaman konseptual dan bukan merupakan pemahaman algoritmik, 3) materi koloid bersifat konkrit dan kontekstual. Banyak sekali siswa yang mengalami miskonsepsi dan tidak faham pada materi koloid disebabkan strategi pembelajaran yang digunakan belum sesuai dengan karakteristik materi koloid. Kurikulum 2013 mengedepankan esensi scientific approach pada proses pembelajaran. Scientific approach merupakan suatu proses pembelajaran melalui kegiatan 5M yaitu mengamati, menanya, mengumpulkan data, mengasosiasi, dan mengkomunikasikan agar siswa aktif mengkonstruk konsep secara mandiri. Banyaknya siswa yang mengalami miskonsepsi pada materi koloid karena strategi pembelajaran yang digunakan belum sesuai dengan karakteristik materi, penggunaan strategi pembelajaran tertentu membutuhkan bahan ajar yang sesuai. Tujuan dari pengembangan ini untuk menghasilkan produk bahan ajar yang berupa modul guru dan modul siswa dengan menggunakan scientific approach yang memenuhi kelayakan dari segi isi, tampilan, tata letak dan bahasa. Modul ini dikembangkan dengan model 4D dari Thiagarajan dkk, model 4D terdiri dari 4 tahap yaitu define, design, develop, dan disseminate, akan tetapi pengembangan ini terbatas pada tahap develop. Modul yang dikembangkan oleh Peneliti divalidasi oleh validator ahli berdasarkan angket penilaian. Data yang diperoleh berupa data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif berupa skor persentase dari angket dan data kualitatif berupa saran dan komentar yang diberikan oleh validator ahli dan uji keterbacaan oleh kelompok kecil. Hasil pengembangan yang divalidasi oleh validator ahli diperoleh skor 95,2% dengan kriteria sangat layak untuk modul siswa dan skor 92,9% dengan kriteria sangat layak untuk modul guru, hasil dari uji keterbacaan oleh kelompok kecil dengan 10 siswa diperoleh skor 87,2% dengan kriteria sangat layak. SUMMARY Jannah, Amanatul 2018. Development of Scientific Approach Based Module in the Topic of Colloid for Senior High School Students Grade 11TH. Thesis, Chemistry Education, Faculty of Mathematics and Natural Science, State University of Malang. Advisors : (1) Dr. Endang Budiasih, M.S. (2) Dr. Yudhi Utomo, M.Si. Keyword : colloid, scientific approach, 4D model. Colloid is one of the materials in chemistry that requires memory and sufficient understanding, because the colloidal material is closely related to everyday life. Colloid has several characteristics, including : 1) has many foreign terms to be studied such as : condensation, adsorption, electrophoresis , etc, 2) most of it is conceptual and non-algorithmic understanding, 3) it is both concrete and contextual. Learning strategy which is not yet ccompatible with colloid has made many students have misconception and do not understand the lesson. The 2013 curriculum is prioritizing scientific approach to the learning process. Scientific approach is a process of learning through 5M activities which are observing, asking, collecting data, associating, and communicating that students actively construct the concept independently. The use of specific learning strategies requires appropriate teaching materials.The purpose of this development is to produce teaching materials in form of teacher modules using scientific approach that meets feasibility in terms of content, appearance, layout and language. This module was developed using 4D model from Thiagarajan et al, 4D model consists of 4 stages which are define, design, develop, and dessiminate, but this development is limited to the develop stage. Modules developed by Researchers are validated by expert validators based on the assessment questionnaire. The data obtained in the form of quantitative data and qualitative data. Quantitative data in the form of percentage score from questionnaires and qualitative data in the form of suggestions and comments provided by expert validators and test legibility by small groups. The validated development result by expert validator obtained a score of 95.2% with very eligible criteria for the student module and a score of 92.9% with very eligible criteria for the teacher module, the results of the legibility test by small groups with 10 students obtained a score of 87.2% with very eligible criteria
Identifikasi Kesulitan Siswa Kelas XI MIA SMA Negeri 01 Lawang dalam Menyelesaikan Soal Materi Larutan Penyangga/Buffer Menggunakan Analisis Langkah Penyelesaian Soal
ABSTRAK Meidayanti, Ernita Dian. 2018. Identifikasi Kesulitan Siswa Kelas XI MIA SMA Negeri 01 Lawang dalam Menyelesaikan Soal Materi Larutan Penyangga/Buffer Menggunakan Analisis Langkah Penyelesaian Soal. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Ida Bagus Suryadharma, M.S., (II) Muntholib, S.Pd., M.Si. Kata Kunci: identifikasi kesulitan, larutan penyangga, analisis langkah penyelesaian Pokok bahasan larutan penyangga memiliki cakupan materi yang membutuhkan pemahaman konsep dan langkah penyelesaian yang berhubungan dengan perhitungan. Kesulitan siswa dapat diketahui dari langkah penyelesaian soal. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui kesulitan siswa dalam memahami konsep-konsep larutan penyangga pada langkah-langkah penyelesaian soal, dan mengetahui letak kesulitan siswa pada langkah-langkah yang ditempuh dalam menyelesaikan soal larutan penyangga. Rancangan penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan metode deskriptif. Populasi penelitian seluruh siswa kelas XI MIA SMA Negeri 01 Lawang. Sampel penelitian 33 siswa kelas XI MIA 1 dan 35 siswa kelas XI MIA 3, yang ditentukan dengan teknik kelas random sampling. Instrumen penelitian ini adalah 10 soal uraian yang semuanya valid dengan realibilitas 0,759. Data diperoleh dari tes dan wawancara tidak terstruktur. Analisis data dilakukan dengan menghitung persentase tingkat kesulitan siswa berdasarkan jawaban benar siswa dalam menyelesaiakan soal per jumlah seluruh siswa sesuai kelompok kelas. Hasil analisis data menunjukkan bahwa siswa mengalami kesulitan dalam memahami konsep-konsep larutan penyangga dan kesulitan dalam memahami langkah-langkah penyelesaian soal. Kesulitan siswa dalam memahami konsep-konsep larutan penyangga berdasarkan langkah-langkah penyelesaian soal: (a) konsep pH larutan penyangga asam atau penyangga basa pada kelompok atas tergolong rendah (persentase jawaban benar 71,5%), kelompok tengah tergolong cukup (persentase jawaban benar 48,2%), dan kelompok bawah tergolong tinggi (persentase jawaban benar 26,4%); (b) konsep larutan penyangga berdasarkan persamaan Henderson-Hasselbalch pada kelompok atas tergolong rendah (persentase jawaban benar 63,6%), kelompok tengah tergolong cukup (persentase jawaban benar 54,2%), dan kelompok bawah tergolong sangat tinggi (persentase jawaban benar 19,8%); (c) konsep pH larutan penyangga pada penambahan sedikit asam atau basa pada kelompok atas tergolong rendah (persentase jawaban benar 63,7%), kelompok tengah tergolong cukup (persentase jawaban benar 52,3%), dan kelompok bawah tergolong tinggi (persentase jawaban benar 22,6%); (d) kesulitan siswa dari ketiga kelompok kelas pada konsep pH larutan penyangga pada penambahan air tergolong sangat tinggi, yaitu persentase jawaban benar kelompok atas 16,7%, persentase jawaban benar kelompok tengah 19,2%, dan persentase jawaban benar kelompok bawah 3,2%. Letak kesulitan siswa berdasarkan langkah-langkah yang ditempuh dalam menyelesaikan soal larutan penyangga: (a) letak kesulitan siswa tertinggi pada langkah-langkah penyelesaian soal penentuan pH larutan penyangga pada penambahan sedikit asam atau basa (bagian A), yaitu pada langkah menentukan persamaan reaksi (persentase jawaban benar 20%), langkah menentukan persamaan reaksi setelah penambahan asam atau basa (persentase jawaban benar 5,9%), dan langkah menentukan jumlah zat (mol) asam lemah atau basa lemah dan asam konjugat atau basa konjugat pada keadaan setimbang setelah penambahan asam atau basa berdasarkan pereaksi pembatas (persentase jawaban benar 9,9%); (b) letak kesulitan siswa tertinggi pada langkah-langkah penyelesaian soal penentuan pH larutan penyangga pada penambahan air (bagian B), yaitu langkah mengidentifikasi zat yang termasuk komponen larutan penyangga (persentase jawaban benar 6,6%), langkah menentukan persamaan reaksi setelah penambahan air (persentase jawaban benar 0%), langkah menentukan konsentrasi atau jumlah zat (mol) asam lemah atau basa lemah dan asam konjugat atau basa konjugat setelah penambahan air berdasarkan rumus pengenceran (persentase jawaban benar 0%), langkah menghitung konsentrasi ion H+ ([H+]) atau konsentrasi ion OH- ([OH-]) larutan penyangga setelah penambahan air (persentase jawaban benar 1%), dan langkah mengubah bentuk [H+] menjadi pH atau [OH-] menjadi pOH setelah penambahan air (persentase jawaban benar 1%); dan (c) letak kesulitan siswa tertinggi pada langkah-langkah penyelesaian soal pembuatan larutan penyangga pada pH tertentu (bagian C), yaitu langkah menentukan persamaan reaksi (persentase jawaban benar 1%)
Modifikasi dan Karakterisasi Ag/Zeolit Alam Aktif Sebagai Katalis dalam Konversi Gliserol Menjadi Etanol Berbantuan Ultrasonik
ABSTRAK Sholikah, Liqanatul Putri. 2018. Modifikasi dan Karakterisasi Ag/Zeolit Alam Aktif sebagai Katalis dalam Konversi Gliserol Menjadi Etanol Berbantuan Ultrasonik. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Ida Bagus Suryadharma, M.S (II) Dr.Sumari, M.Si. Kata kunci: katalis, Ag/zeolit, zeolit, degradasi gliserol, etanol, gelombang ultrasonik. Bahan bakar minyak dengan bahan dasar fosil merupakan bahan bakar yang tidak dapat diperbarui sehingga diperlukan alternatif sebagai penggantinya. Salah satu bahan bakar alternatif yang dapat digunakan yaitu biodiesel. Produksi biodiesel menghasilkan residu berupa gliserol. Seiring dengan meningkatnya produksi gliserol, maka residu gliserol yang dihasilkan juga akan meningkat. Peningkatan jumlah residu gliserol menyebabkan harga gliserol di pasaran turun drastis. Oleh karena itu, perlu dilakukan pengolahan gliserol menjadi produk lain yang memiliki nilai ekonomis lebih tinggi. Gliserol diketahui dapat didegradasi menjadi etanol. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk (1) melakukan modifikasi zeolit alam aktif melalui proses impregnasi dengan logam Ag, (2) mengetahui karakteristik katalis zeolit alam aktif dan zeolit alam aktif yang diimpregnasi dengan logam Ag, (3) mengetahui efektivitas katalis zeolit alam aktif dan Ag/zeolit alam aktif serta pengaruh pemanfaatan gelombang ultrasonik terhadap produk etanol yang dihasilkan, dan (4) mengetahui pengaruh suhu sonikasi pada proses konversi gliserol menjadi etanol menggunakan katalis zeolit alam aktif dan Ag/zeolit alam aktif. Penelitian ini meliputi modifikasi dan karakterisasi katalis serta degradasi gliserol menjadi etanol dengan bantuan gelombang ultrasonik. Penelitian ini dilakukan dalam lima tahap yaitu (1) preparasi dan aktivasi zeolit alam, (2) impregnasi zeolit alam aktif dengan logam Ag dari garam AgNO3, (3) karakterisasi katalis, (4) konversi gliserol menggunakan katalis zeolit alam aktif dan Ag/zeolit alam aktif pada berbagai suhu sonikasi, dan (5) analisis produk konversi gliserol menggunakan Gas Chromatography (GC). Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) Logam Ag diimpregnasikan dalam bentuk ion Ag+ melalui pertukaran kation dengan H+ pada zeolit alam aktif. Impregnasi dilakukan dengan cara merendam zeolit alam aktif di dalam larutan garam AgNO3. (2) Karakteristik katalis yang dianalisis meliputi rasio Si/Al, keasaman, luas permukaan, dan fase kristalin. (a) rasio Si/Al katalis ZAA dan Ag/ZAA berturut-turut adalah 7,630 dan 7,730; (b) keasaman sebesar 3,8036 mmol/g dan 3,6253 mmol/g; (c) luas permukaan adalah 133,930 m2/g dan 127,907 m2/g; dan (d) katalis memiliki fase kristalin.(3) Katalis Ag/zeolit alam aktif dengan bantuan gelombang ultrasonik lebih efektif daripada zeolit alam teraktivasi untuk proses konversi gliserol menjadi etanol. (4) Semakin tinggi suhu sonikasi dengan menggunakan katalis zeolit alam aktif maupun Ag/zeolit alam aktif, maka persentase produk etanol yang dihasilkan lebih besar. Produk etanol dengan % yield tertinggi sebesar 13,5758% diperoleh pada suhu sonikasi 60°C ketika digunakan katalis Ag/zeolit alam aktif
“Optimasi Jumlah Inokulum dan Waktu Inkubasi Delignifikasi-Sakarifikasi Tandan Kosong Kelapa Sawit Oleh Kapang Pelapuk Kayu Isolat Kapang KlUM1 dan KLUM2”.
ABSTRAK Tandan kosong kelapa sawit (TKKS) merupakan limbah lignoselulosa yang mengandung selulosa dan hemiselulosa yang cukup tinggi, sehingga dapat disakarifikasi menjadi gula pereduksi yang selanjutnya dapat difermentasi menjadi bioethanol. Kandungan kimiawi TKKS yaitu selulosa (35,66 % - 57,75 %), hemiselulosa (6,61 % -15,96 %) dan lignin (21,27 % - 36,68 %). Proses konversi lignoselulosa dalam TKKS terdiri dari beberapa tahap yaitu perlakuan awal (pretreatment), delignifikasi, sakarifikasi, dan fermentasi. Hal ini mengakibatkan proses produksi bioetanol dari TKKS menjadi tidak ekonomis. Proses delignifikasi dan sakarifikasi dapat dilakukan secara simultan dengan memanfaatkan kapang pelapuk kayu (KPK) indigenous. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui jumlah inokulum spora dan waktu inkubasi optimum delignifikasi-sakarifikasi limbah TKKS oleh isolate KLUM1 dan KLUM2. Penelitian ini bersifat eksperimental laboratoris yang dilakukan di Laboratorium Biokimia FMIPA untuk preparasi dan pengukuran. Laboratorium Sentral Ilmu Hayati (LSIH) Universitas Brawijaya dan Laboratorium Bioindustri Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Brawijaya untuk melakukan proses delignifikasi – sakarifikasi menggunakan shaker inkubator. Tahapan penelitian ini meliputi (1) preparasi serbuk TKKS berukuran 50 – 100 mesh, (2) pembuatan reagen dan medium, (3) peremajaan kapang pelapuk kayu (KPK) isolat indigenos KLUM1 dan KLUM2 (4) preparasi suspensi spora (5) optimasi jumlah inokulum dan waktu inkubasi delignifikasi – sakarifikasi limbah TKKS. Terjadinya proses delignifikasi – sakarifikasi ditunjukan dengan kenaikan persen sakarifikasi yang sebanding dengan peningkatan kadar gula pereduksi dalam medium. Kadar gula pereduksi ditentukan dengan metode Somogy – Nelson. Kondisi optimum jika diperoleh nilai persen sakarifikasi tertinggi pada perlakuan yang diberikan. Hasil penelitian menunjukan bahwa isolat KLUM1 optimum melakukan proses delignifikasi-sakarifikasi terhadap serbuk TKKS berukuran 50-100 mesh dalam medium cair N-Limited menggunakan jumlah inokulum sebesar 4.8x104 sel/g TKKS selama waktu inkubasi 3 hari, menghasilkan % sakarifikasi sebesar 0,112 % ; dan isolat KLUM2 dengan jumlah inokulum sebesar 3.1x104 sel/g TKKS selama waktu inkubasi 4 hari menghasilkan % sakarifikasi sebesar 0.094%
Pengaruh Variasi Suhu dan Perbandingan Massa NaOH pada Sintesis Karboksimetil k-Karagenan (CMKC) menggunakan Asam Trikloroasetat (TCA)
ABSTRAK Fadilah, Mira . 2018. Pengaruh Variasi Suhu dan Perbandingan Massa NaOH pada Sintesis Karboksimetil k-Karagenan (CMKC) dengan Asam Trikloroasetat (TCA). Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Irma Kartika K, S.Si., M.Si., (II) Dr. Siti Marfu’ah, M.S. Kata Kunci: k-karagenan, karboksimetilasi, suhu, NaOH, alkalisasi, fisikokimia. Karboksimetil kappa-Karagenan (CMKC) merupakan produk hasil karboksimetilasi k-karagenan. Konversi gugus hidroksil menjadi gugus karboksimetil pada proses karboksimetilasi berpengaruh pada karakter k-karagenan antara lain viskositas, kelarutan dan kemampuan mengikat air. Banyaknya gugus –OH yang dapat disubstitusi dinyatakan sebagai derajat substitusi (DS). Peningkatan nilai DS dapat dilakukan dengan cara mengoptimasi suhu alkalisasi serta massa NaOH yang ditambahkan pada proses karboksimetilasi. Penelitian ini adalah penelitian eksperimental dengan tujuan mengoptimasi metode pembuatan karboksimetil kappa-karagenan yang dilakukan dengan cara memvariasi suhu alkalisasi dan massa natrium hidroksida yang ditambahkan. Penelitian dilakukan dalam dua tahap, yaitu (1) pembuatan karboksimetil k-karagenan (CMKC) dengan beberapa variasi jumlah NaOH dan suhu reaksi pada tahap alkalisasi, (2) karakterisasi sifat fisikokimia produk yang dihasilkan meliputi nilai derajat substitusi (DS), FTIR, kadar air, kelarutan, kemampuan swelling dan viskositas. Hasil penelitian ini adalah karboksimetil k-karagenan yang disintesis menggunakan agen eterifikasi asam trikloroasetat (TCA) ditandai dengan munculnya serapan FTIR pada bilangan gelombang sekitar 1650 cm-1 dan 1410 cm-1 (serapan gugus karbonil). Selain itu juga ditunjukkan dengan perubahan sifat fisikokimia yang berbeda dari molekul awalnya. Suhu alkalisasi optimum pada proses karboksimetilasi k-karagenan adalah 40oC dengan nilai DS yang diperoleh adlaah 0,87, kadar air 0,9650%, kelarutan dalam air sebesar 8,83 g/L dengan % terlarut 87,5124 %, suhu gelling pada 60oC serta viskositas sebesar 3 cP. Peningkatan suhu alkalisasi dapat menurunkan nilai DS, juga berpengaruh pada kadar air dan kelarutan CMKC yang dihasilkan. Sedangkan massa NaOH optimum yang ditambahkan pada proses karboksimetilasi k-karagenan untuk memperoleh nilai DS yang paling besar (1,6) adalah 6,0011 g, dengan kadar air sebesar 1,0350%, kelarutan dalam air sebesar 9,55 g/L dengan %terlarut 95,1195%, suhu gelling pada 70oC serta viskositas sebesar 3,5 cP. Penambahan yang lebih banyak dari 6,0011 g NaOH dapat menurunkan nilai DS produk dikarenakan semakin banyaknya produk samping yang terbentuk