SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Pengembangan Ensiklopedia Zat Aditif Pengawet dan Pewarna Makanan
ABSTRAK Yasya, Nur kamila. 2017. Pengembangan Ensiklopedia Zat Aditif Pengawet dan Pewarna Makanan. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (I) Dr. Aman Santoso, M.Si. (II) Dr. Sumari, M.Si. Kata kunci: ensiklopedia, zat aditif, pengawet makanan, pewarna makanan Ilmu kimia memiliki karakter abstrak dan kompleks menyebabkan peserta didik seringkali merasa kesulitan dan tidak tertarik untuk belajar kimia. Buku merupakan salah satu bentuk sumber belajar yang keberadaannya belum bisa digantikan oleh sumber belajar lainnya, sehingga penggunaan buku dalam belajar adalah penting. Buku kimia yang menyajikan informasi penting dan dikemas dalam bentuk menarik serta aplikatif sudah banyak ditemukan, tetapi buku suplemen yang menyajikan informasi penting dan menarik seperti ensiklopedia belum banyak ditemukan. Oleh karena itu, dilakukan penelitian pengembangan yang bertujuan untuk menghasilkan produk berupa ensiklopedia zat aditif pengawet dan pewarna makanan yang dikaji secara lengkap dan komprehensif, serta dikemas menarik. Model pengembangan yang digunakan adalah model 4D Thiagarajan, meliputi tahap perencanaan (define), tahap perancangan (design), tahap pengembangan (develop), dan tahap penyebaran (disseminate). Pada penelitian ini tidak dilakukan tahap penyebaran. Produk yang dikembangkan adalah buku referensi berupa ensiklopedia. Validasi ensiklopedia dilakukan oleh empat validator ahli materi sekaligus ahli pembelajaran dan diuji-cobakan dalam skala kecil. Produk pengembangan berupa ensiklopedia zat aditif pengawet dan pewarna makanan yang terdiri dari identitas umum, sejarah, sumber bahan, struktur kimia, produksi, aplikasi pada makanan, dan batas penggunaan maksimum. Validasi produk pengembangan ensiklopedia menghasilkan data persentase skor sebesar 81,2%, sedangkan hasil uji-coba skala kecil diperoleh persentase skor sebesar 87,7%. Berdasarkan hasil validasi dan uji coba, disimpulkan bahwa ensiklopedia zat aditif pengawet dan pewarna makanan yang telah dikembangkan sangat layak digunakan sebagai sumber belajar tambahan dan/atau sebagai suplemen bahan ajar
Efektivitas Penerapan Bahan Ajar Sifat Koligatif Larutan Berbasis Kontekstual Menggunakan Learning Cycle 5E Terhadap Hasil Belajar Kognitif Siswa Kelas XII IPA SMAN 1 Bangkalan
ABSTRAK ‘Azyyati, Nurani Attaukhidah. 2018. Efektivitas Penerapan Bahan Ajar Sifat Koligatif Larutan Berbasis Kontekstual Menggunakan Learning Cycle 5E Terhadap Hasil Belajar Kognitif Siswa Kelas XII IPA SMAN 1 Bangkalan. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I)Drs. Ida Bagus Suryadharma, M.S., (II)Drs. Darsono Sigit, M.Pd. Kata Kunci:efektivitas, sifat koligatif larutan,kontekstual, learning cycle 5E, hasil belajar kognitif Kesulitan dalam mempelajari konsep koligatif larutan dapat menimbulkan konsep tersebut menjadi sukar, oleh karena itu dibutuhkan alat bantu yang dapat berupa bahan ajar baik modul maupun media untuk membantu siswa lebih memahami konsep koligatif larutan. Untuk itu telah dikembangkan sebuah bahan ajar oleh Rikka Esthi Pratiwi pada tahun 2016 pada materi sifat koligatif larutan dengan berbasis kontekstual serta menggunakan Learning Cycle 5E namun uji cobanya hanya dilakukan terbatas, dengan demikian, peneliti bermaksud untuk menguji efektivitas bahan ajar Sifat Koligatif Larutan Berbasis Kontekstual menggunakan Learning Cycle 5E terhadap hasil belajar kognitif siswa kelas XII IPA SMAN 1 BangkalanTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) keterlaksanaan pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar sifat koligatif larutan berbasis kontekstual menggunakan Learning Cycle 5E ; (2) perbedaan hasil belajar antara siswa yang dibelajarkan dengan bahan ajar sifat koligatif larutan berbasis kontekstual menggunakan Learning Cycle 5E dengan siswa yang dibelajarkan dengan diktat buatan guru. Uji efektivitas ini menggunakan design Posttest-only group control dimana dua kelas yang terpilih secara random sampling digunakan sebagai sampel penelitian. Kedua kelas ini memiliki kemampuan awal yang sama. Kelompok eksperimen adalah kelas yang siswanya dibelajarkan dengan menggunakan bahan ajar Sifat Koligatif Larutan Berbasis Kontekstual menggunakan Learning Cycle 5Edan kelompok kontrol adalah siswanya yang dibelajarkan dengan diktat buatan guru. Penelitian ini dilakukan pada SMAN 1 Bangkalan. Instrumen penelitian yang digunakan adalah instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran. Analisis data penelitian dilakukan dengan analisis deskriptif dan analisis statistik berupa uji-t dengan taraf signifikansi α = 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) keterlaksanaan pembelajaran dengan menggunakan bahan ajar sifat koligatif larutan berbasis kontekstual menggunakan Learning Cycle 5E sebesar 97% dansiswa yang dibelajarkan dengan diktat buatan guru sebesar 95% dengan kriteria sudah terlaksana dengan sangat baik; (2) terdapat perbedaan hasil belajar antara siswa yang dibelajarkan dengan bahan ajar sifat koligatif larutan berbasis kontekstual menggunakan Learning Cycle 5E dan siswa yang dibelajarkan dengan diktat buatan guru. Hasil penelitian menunjukkan bahwabahan ajar sifat koligatif larutan berbasis kontekstual menggunakan Learning Cycle 5E efektif
Identifikasi Pengetahuan Metakognitif Peserta Didik Kelas X MIA SMA/MA pada Materi Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit
ABSTRAK Proses pembelajaran yang dialami peserta didik melibatkan kemampuan metakognitif, dimana peserta didik mengetahui dan menyadari pengetahuan yang telah didapatkan, baik dimengerti atau tidak, serta bagaimana cara untuk mengatur dan mengendalikan pengetahuan tersebut. Pengetahuan metakognitif memiliki peran penting terhadap proses kognitif peserta didik. Pengetahuan metakognitif diperlukan untuk memahami ilmu kimia yang memuat konsep-konsep, seperti materi larutan elektrolit dan nonelektrolit. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi pengetahuan metakognitif peserta didik pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit yang meliputi pengetahuan deklaratif, pengetahuan prosedural, dan pengetahuan kondisional, serta mengetahui hubungan pengetahuan metakognitif peserta didik pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit dengan hasil belajar dan Metacognitive Awareness Inventory (MAI). Rancangan penelitian ini adalah deskriptif dengan pendekatan gabungan kualitatif-kuantitatif dan menggunakan metode survei. Subjek penelitian adalah peserta didik yang telah mempelajari materi larutan elektrolit dan nonelektrolit di kelas X pada SMA BSS Malang dan SMAN 8 Malang. Instrumen yang digunakan adalah tes tertulis berupa tes kognitif yang terdiri dari 13 butir soal pilihan ganda disertai tes pengetahuan metakognitif, serta angket MAI. Instrumen soal telah valid secara isi dan butir soal, serta memiliki kriteria reliabilitas tinggi (0,630). Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata persentase peserta didik pada tingkat pengetahuan metakognitif rendah sebesar 51,67%, pada tingkat sedang sebesar 38,33%, dan pada tingkat tinggi sebesar 10%. Pengetahuan metakognitif peserta didik pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit masih tergolong rendah. Peserta didik telah mampu menuliskan konsep-konsep yang terkait dengan pertanyaan, tetapi belum mampu mendeskripsikan strategi yang digunakan dalam pemecahan masalah, serta tidak dapat menjelaskan kapan dan mengapa menggunakan strategi tertentu dalam pemecahan masalah pada materi larutan elektrolit dan nonelektrolit. Hasil penelitian pada uji korelasi antar variabel adalah terdapat hubungan antara hasil belajar dengan pengetahuan metakognitif peserta didik, begitu juga dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Namun, hasil belajar tidak memiliki hubungan dengan pengetahuan kondisional. Pada MAI, tidak terdapat hubungan dengan pengetahuan metakognitif peserta didik, hal ini mungkin disebabkan sistem pembelajaran, karakteristik materi dan peserta didik, serta kurangnya kesadaran peserta didik terhadap apa yang telah didapatkan selama belajar
KARAKTERISASI MONOGLISERIDA HASIL PEMISAHAN ASAM LEMAK DARI HIDROLISIS MINYAK KELAPA OLEH ENZIM LIPASE KECAMBAH BIJI WIJEN (Sesamun indicum L.)
RINGKASAN Rofiqoh, N. L. 2017. Karakterisasi Monogliserida Hasil Pemisahan Asam Lemak dari Hidrolisis Minyak Kelapa Oleh Enzim Lipase Kecambah Biji Wijen (Sesamun Indicum L.). Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Yudhi Utomo, M.Si., (II) Dr. Ir. Moch. Su’i, MP. Kata Kunci : Monogliserida, Lipase, Wijen, Minyak Kelapa Monogliserida termasuk salah satu produk diversifikasi minyak yang bernilai relatif tinggi dan mempunyai potensi pasar yang cukup cerah pada era pasar global. hal tersebut disebabkan karena monogliserida dibutuhkan baik dalam industri pangan dan farmasi, industri kosmetika serta produk pencuci atau pembersih, sebagai surfaktan atau bahan emulsifier. emulsifier yang paling banyak digunakan dalam industri pangan, ayitu sekitar 70% dari total penggunaan emulsifier. secara sederhana, monogliserida dapat diperoleh dengan proses esterifikasi, yaitu dengan mereaksikan asam lemak bebas dengan gliserol menggunakan enzim lipase kecambha biji wijen. lipase adalah enzim yang memiliki kemampuan mensintesis minyak atu lemka melalui rekasi esterifikasi. lipase juga mengakatalisis hidrolisis trigliserida pada interfase minyak dalam air dan kan memutus ikatan ester pada lingkungan dengan kondisi sedikit air. asam lemak bebas diperoleh dari hidrolisis santan kelapa menggunakan enzim lipase endogenous dalam santan kelapa. santan hidrolisis dipisahkan dengan pemisahan fraksi minyak metode kromatografi kolom. Penelitian ini bertujuan untuk (1) mengetahui perbandingan antara gliserol dan minyak kelapa terhidrolisis terhadap lama inkubasi yang tepat untuk menghasilkan monogliserida terbaik (2) mengetahui rendemen monogliserida terhadap lama inkubasi. Penelitian ini terdiri 6 tahap, yaitu (1) pembuatan minyak kelapa terhidrolisis, (2) pemisahan fraksi minyak (3) pembuatan ekstrak enzim lipase kecambah biji wijen, (4) proses esterifikasi pembuatan monogliserida, (5) pemisahan monogliserida hasil esterifikasi, (6) pemisahan monogliserida dengan kromatografi kolom. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbandingan minyak terhidrolisis dengan gliserol dan lama inkubasi berpengaruh terhadap aktivitas lipase minyak dan kecambah wijen, jumlah FFA minyak, jumlah hasil esterifikasi, volume hasil pemisahan esterifikasi minyak, serta volume dari monogliserida. Kondisi optimum yaitu pada perbandingan minyak terhidrolisis dan gliserol (30:30) setara dengan perbandingan (1:1). Pengaruh randemen terhadap lama inkubasi monogliserida terbanyak adalah jam ke-0 sebanyak 0,8 mL. SUMMARY Rofiqoh, N. L. 2017. Characterization Of Monoglyceride Results Of Fatty Acid Separation from Coconut Oil Hydrolysis by Enzim Lipase Sesame Seeds (Sesamun indicum L.) Thesis, Chemistry Department, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, State University of Malang. Supervisor: (I) Dr. H. Yudhi Utomo, M.Si., (II) Dr. Ir. Moch. Su'i, MP. Keywords: Monoglycerides, Lipase, Sesame Seeds, Coconut Oil Monoglyceride is one of the oil diversification products with relatively high economic value and has a pretty bright market potential in the global market era. This is because monoglycerides are needed in both the food and pharmaceutical industries, the cosmetics industry and the washing or cleaning products, as surfactants or emulsifiers. The emulsifier is the most widely used in the food industry, which is about 70% of the total use of emulsifiers. Simply put, monoglycerides can be obtained by the esterification process, ie by reacting free fatty acids with glycerol using enzyme lipase seeds sesame seeds. Lipase is an enzyme that has the ability to synthesize oil or fat through an esterification reaction. Lipases also catalyze the hydrolysis of triglycerides in the oil interfase in water and will break the ester bonds in the environment with little water. Free fatty acids are obtained from the hydrolysis of coconut milk using endogenuos lipase enzyme in coconut milk. Santan hydrolysis is separated by separation of oil fraction by column chromatography method. The objectives of this study were (1) to know the comparison between glycerol and coconut oil to be dehydrolyzed against the appropriate incubation time to produce the best monoglyceride (2) to efficiency about incubation time to the best monoglyceride. The research consisted of 6 stages, namely (1) making of hydrolyzed coconut oil, (2) separation of oil fraction (3) making of sesame seed sprout lipase extract, (4) esterification process of monoglyceride making, (5) separation of esterification monoglyceride, 6) separation of monoglyceride by column chromatography. The results of this study indicate that the ratio of oil hydrolyzed with glycerol and incubation time has an effect on the activity of oil lipase and sprout of sesame, the amount of FFA oil, the amount of esterification result, the volume of oil esterification separation, and the volume of monoglyceride. The optimum condition is that the ratio of hydrolyzed oil and glycerol (30:30) is equivalent to the ratio (1: 1). Efficiency about incubation time to the best monoglyceride is time 0 as 0,8 mL
Pengembangan bahan ajar berbasis CTL (Contextual Teaching and Learning) untuk memfasilitasi siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada materi redoks dan elektrokimia
ABSTRAK Sebagian siswa SMA masih mengalami kesulitan dalam mempelajari kimia, salah satunya adalah materi redoks dan elektrokimia, yang sangat erat kaitannya dengan kehidupan sehari-hari. Disamping itu pemahaman siswa terhadap aplikasi materi redoks dan elektrokimia dalam kehidupan sehari – hari serta kemampuan berpikir kritis siswa termasuk rendah. Rendahnya pemahaman tersebut diduga karena siswa belajar secara hafalan, dan hal tersebut kemungkinan disebabkan karena bahan ajar yang digunakan selama ini masih berbasis konten bukan konteks. Oleh karena itu perlu dikembangkan bahan ajar berbasis Contextual Teaching and Learning untuk memfasilitasi siswa dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis siswa pada materi redoks dan elektrokimia, yang layak digunakan pada jenjang SMA. Metode pengembangan yang digunakan pada dasarnya adalah model pengembangan Four-D Model (Model 4D oleh Thiagarajan) yang terdiri atas 4 tahap yaitu Define, Design, Develop, dan Disseminate. Namun dalam penelitian ini tahap disseminate tidak dilakukan. Tahap Define terdiri dari 1) analisis pendahuluan; 2) analisis tugas; 3) analisis konsep; 4) merumuskan tujuan pembelajaran; dan 5) merancang bahan ajar awal. Tahap Design terdiri dari 1) pemilihan media; 2) pemilihan format bahan ajar; dan 3) menyusun bahan ajar. Tahap Develop terdiri dari 1) merevisi bahan ajar awal; 2) melakukan validasi ahli; 3) menganalisis dan merevisi hasil validasi; dan 4) produk bahan ajar akhir. Sebagai validator dipilih 1 dosen kimia Universitas Negeri Malang dan 2 guru kimia SMA, sedangkan sebagai subjek uji coba digunakan siswa SMA sebanyak 10 orang yang telah mendapat pembelajaran materi redoks dan elektrokimia. Bahan ajar yang telah dikembangkan berupa produk bahan ajar yang berbasis Contextual Teaching and Learning pada materi redoks dan elektrokimia untuk memfasilitasi kemampuan berpikir kritis siswa SMA. Bahan ajar ini terdiri atas buku siswa, buku guru, dan video pembelajaran. Berdasarkan uji validasi dan uji keterbacaan terhadap buku siswa, buku guru, dan video pembelajaran hasil pengembangan diperoleh hasil skor berturut – turut adalah 86%, 89%, 82%, dan 83%. Hal tersebut menunjukkan bahwa bahan ajar hasil pengembangan tergolong sangat layak digunakan dalam pembelajaran pada materi tersebut di tingkat SMA
Pengembangan Bahan Ajar Kimia Materi Makromolekul Berbasis Pendekatan Kontekstual (Contextual Teaching and Learning) untuk Siswa SMA/MA Kelas XII
ABSTRAK Bahan ajar adalah komponen perangkat pembelajaran yang digunakan untuk mendukung kegiatan belajar-mengajar. Berdasarkan hasil analisis terhadap materi makromolekul pada beberapa bahan ajar yang umumnya digunakan di sekolah, materi pembelajaran dan konsep disampaikan secara naratif dan informatif. Bahan ajar belum dapat membantu peserta didik untuk mengkonstruksi konsep secara mandiri. Padahal pada kurikulum 2013 peserta didik didorong belajar melalui konstruksi konsep. Pendekatan yang sesuai dengan ketentuan kurikulum 2013 dan dapat digunakan untuk membelajarkan materi makromolekul adalah pendekatan kontekstual. Tujuan penelitian ini adalah untuk menghasilkan dan menguji kelayakan bahan ajar materi makromolekul berbasis pendekatan kontekstual. Penelitian pengembangan ini menggunakan model pengembangan 4-D (Thiagarajan, 1974) yang terdiri dari tahap define, design, develop, dan disseminate. Namun pada penelitian pengembangan ini hanya dilakukan hingga tahap develop. Pengembangan bahan ajar ini mencakup buku guru dan buku siswa. Kalayakan bahan ajar yang dikembangkan divalidasi oleh tiga validator ahli, sementara uji keterbacaan dilakukan oleh sepuluh siswa kelas XII SMA. Hasil pengembangan adalah buku siswa berbasis pendekatan kontekstual yang terdiri atas bab polimer sintetis, karbohidrat, protein, dan lipid. Buku guru mencakup silabus, RPP, dan petunjuk penilaian. Hasil validasi terhadap bahan ajar menunjukkan bahwa buku siswa dan buku guru memenuhi kriteria sangat layak dengan persentase rata-rata 87,7% dan 84,7%. Sementara hasil dari uji keterbacaan menunjukkan bahwa buku siswa memenuhi kriteri layak dengan rata-rata persentase 78,2%. Hasil pengembangan bahan ajar kimia materi makromolekul berbasis pendekatan kontekstual (CTL) dapat digunakan dalam proses belajar mengajar
Pengaruh Penggunaan Lembar Sejarah Belajar (Study History Sheet) pada Model Pembelajaran Kolaboratif Berbasis Pemecahan Masalah terhadap Hasi lBelajar Peserta Didik Kelas XI MIPA SMA Walisongo Gempol Pokok Bahasan Larutan Penyangga
ABSTRAK Fauriziah, Siti. 2018. Pengaruh Penggunaan Lembar Sejarah Belajar (Study History Sheet) pada Model Pembelajaran Kolaboratif Berbasis Pemecahan Masalah terhadap Hasi lBelajar Peserta Didik Kelas XI MIPA SMA Walisongo Gempol Pokok Bahasan Larutan Penyangga. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam,UniversitasNegeri Malang. Pembimbing: (1) Drs. H. Ridwan Joharmawan, M.Si., (2) Herunata, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci: kolaboratif berbasis pemecahan masalah, lembar sejarah belajar (study history sheet), larutan penyangga, hasil belajar. Larutan penyangga merupakan salah satu materi yang dibelajarkan di kelas XI.Pada materi larutan penyangga, peserta didik dituntut untuk dapat menjelaskan prinsip kerja, perhitungan pH, dan peran larutan penyangga dalam tubuh makhluk hidup. Sehingga dibutuhkan kemampuan berpikir tingkat tinggi melalui pemecahan suatu permasalahan disetiap proses pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan untuk meningkatkan keterampilan pemecahan masalah dan aktivitas peserta didik adalah adalah model pembelajaran kolaboratif berbasis pemecahan masalah. Penggunaan lembar sejarah belajar(SHS)pada model pembelajaran kolaboratif berbasis pemecahan masalah bertujuan untuk mempermudah peserta didik memahami materi larutan penyangga dengan cara merangkum poin penting yang dimuat dalam Lembar Kerja Peserta Didik (LKPD).Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui ada tidaknya pengaruh penggunaan SHS pada model pembelajaran kolaboratif berbasis pemecahan masalah terhadap hasil belajar peserta didik. Rancangan penelitian yang digunakan adalah penelitian eksperimen semu dengan desain rancangan posttest only design. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik penarikan sampel acak. Kelas XI MIPA 3 sebagai kelas eksperimen dibelajarkan dengan menggunakan lembar SHS pada model pembelajaran kolaboratif berbasis pemecahan masalah, sedangkan kelas XI MIPA 1 sebagai kelas kontrol dibelajarkan dengan model pembelajaran kolaboratif berbasis pemecahan masalah. Instrumen yang digunakan adalah tes ulangan harian, penilaian psikomotor, dan penilaian afektif. Teknik analisis data penelitian dilakukan dengan analisis statistik dan deskriptif. Pengujian hipotesis menggunakan independent samples t-test dengan taraf signifikansi 0,05 dengan bantuan program SPSS 16,0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa, ada pengaruh penggunaan lembar SHS pada model pembelajaran kolaboratif berbasis pemecahan masalah terhadap hasil belajar peserta didik kelas XI MIPA SMA Walisongo Gempol. Rata-rata hasil belajar kognitif kelas eksperimen sebesar 82,42 dan rata-rata hasil belajar kognitif kelas kontrol sebesar 72,31. Hal ini menunjukkan bahwa rata-rata hasil belajar kognitif kelas eksperimen yang dibelajarkan menggunakan lembar SHS pada model pembelajaran kolaboratif berbasis pemecahan masalah lebih tinggi dari pada rata-rata hasil belajar kognitif kelas kontrol yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran kolaboratif berbasis pemecahan masalah
ANALISIS PEMAHAMAN KONSEPREAKSI REDUKSI DAN OKSIDASI (REDOKS) PADAPESERTA DIDIK KELAS X DENGAN MENGGUNAKAN TES DIAGNOSTIK TWO-TIER MULTIPLE CHOICEDI SMAN 1 PAMEKASAN
ABSTRAK Imamah, Nurul. 2018. Analisis Pemahaman KonsepReaksi Reduksi dan Oksidasi (Redoks) pada Peserta didik Kelas X dengan Menggunakan Tes Diagnostik Two-Tier Multiple Choice di SMAN 1 Pamekasan. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Ida Bagus Suryadharma, M.S., (II) Laurent Octaviana, S.Pd., M.Si. Kata kunci : tes diagnostiktwo-tier, pemahaman, dan hasil penelitian Dalam dunia pendidikan terdapat beberapa macam bidang ilmu, salah satunya adalah kimia.Pembahasan ilmu kimia mencakup sistem yang cukup kompleks, mulai dari atom, molekul, senyawa serta persamaan reaksi yang melibatkan keempatnya.Hal inilah yang menjadi salah satu faktor penyebab kesulitan dalam mempelajari ilmu kimia. Adanya kesulitan dalam memahami satu konsep akan mengakibatkan terjadinya kesulitan juga dalam memahami konsep berikutnya. Hal ini memungkinkan munculnya pemahaman yang salah dari peserta didik. Oleh karena itu,penguasaan konsep yang benar merupakan hal yang penting dalam pembelajaran kimia.Dengan demikian,pemahaman peserta didik harus selalu dievaluasiuntuk mengetahui tingkat keberhasilan belajar dan untuk membenahi pemahaman yang salah dari peserta didik. Penelitian ini merupakan jenis penelitian deskriptif. Sampel penelitian yang digunakan adalah peserta didik kelas X IPA D dan IPA G SMAN 1 Pamekasan tahun pelajaran 2017/2018 dengan jumlah peserta didik sebanyak 70 orang. Pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling, yaitu pemilihan sampel dilakukan secara acak kelaskarenapopulasi dianggap homogen. Instrumen penelitian yang dipakai berupa tes diagnostiktwo-tier multiple choice dengan jumlah soal awalnya sebanyak46 butir soal. Soal kemudian diujicobakanpada 63 peserta didik. Setelah dilakukan perhitungan dengan SPSS16for Windows diperoleh jumlah soal yang valid adalah 32 soal dengan koefisien reliabilitas sebesar 0,802. Soal yang valid digunakan untuk mengambil datapemahamanpeserta didik. Materi tes yang diujikan merupakan materi redoks. Hasil penelitian yang telah dilakukan menunjukkan persentase tingkat pemahaman benar peserta didik yang dipaparkan sebagai berikut: (1)reaksi oksidasi dan reduksiditinjau dari teori pelepasan dan pengikatan oksigen berturut-turut sebesar 37,1% dan 37,8%; (2) reaksi oksidasi dan reduksi ditinjau dari teori pelepasan dan penangkapan elektron secara berturut-turut sebesar 22,1% dan 34,2%; (3) penentuan bilangan oksidasi atom pada unsur dalam suatu ion dan senyawa netral secara berturut-turut sebesar 21,4% dan 10%; (4) reaksi oksidasi dan reduksiditinjau dari perubahan bilangan oksidasi secara berturut-turutsebesar 57,1% dan 37,8%; (5) perbedaan reaksi redoks dan bukan redoks sebesar 22,9%; (6) perbedaan reaksi disproporsionasi sebesar 22,8%; (7) penentuan spesi yang berperan sebagai oksidator (pengoksidasi) dan reduktor (pereduksi)berturut-turut sebesar20,7% dan 37,1%; (8) penentuan nama senyawa dan rumus kimia yang tersusun dari unsur logam (mempunyai bilangan oksidasi tunggal dan lebih dari satu) dan unsur nonlogamsecara berturut-turut secara 23,5% dan 43,5%; dan (9) perbedaan elektron valensi dan bilangan oksidasi sebesar 27,1%. Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya pemahaman peserta didik jugadiukur berdasarkan soal-soal tes diagnostik two-tier multiple choice yang terletak pada beberapa soal tes. Faktor-faktor tersebut terdiri dari pengetahuan prasayarat (prakonsepsi) dengan persentase pemahaman benar sebesar 20,3%, menggunakan intuisi yang salah dalam menjawab soal-soal tes dengan persentase pemahaman benar sebesar 25,1%, menggunakan pemikiran asosiatif dalam pelajaran redoks dengan bahasa sehari-hari dengan persentase pemahaman benar sebesar 12,8%, memiliki reasoning yang tidak lengkap dan salah dalam memahami materi redoks dengan persentase pemahamanbenarsebesar 33,9%, dan tidak menggunakan pemikiran humanistik dalam menjawab soal-soal tes dengan persentase pemahamanbenarsebesar 33,2%, serta memiliki kemampuan yang rendah dalam memahami materi kimia khususnya redoks dengan kemampuan rata-rata dapat menjawab 9-10 soal dengan benar dari 32 soal yang diujikan
Identifikasi Konsep Sukar, Kesalahan Konsep, dan Faktor-Faktor Penyebab Kesulitan Belajar Hidrolisis Garam Peserta Didik Salah Satu SMA Blitar
ABSTRAK Kesukaran peserta didik dalam mempelajari kimia, diakibatkan karena kesukaran memahami konsep dengan benar sehingga konsep tersebut merupakan konsep sukar bagi peserta didik. Konsep sukar adalah persepsi peserta didik terhadap konsep yang dianggap sukar dan diukur dengan soal pilihan ganda beralasan dengan persentase jawaban salah (PJS) lebih besar atau sama dengan 61%. Ketidakpahaman, kesukaran atau timbulnya konsep lain yang dibentuk oleh peserta didik dapat mengakibatkan kemungkinan mengalami kesalahan pemahaman. Kesalahan pemahaman yang berlangsung secara terus-menerus atau konsisten menunjukkan peserta didik mengalami kesalahan konsep. Salah satu materi kimia yang dapat menimbulkan konsep sukar dan kesalahan konsep adalah hidrolisis garam. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui: (1) konsep manakah yang dianggap sukar peserta pada materi hidrolisis garam; (2) pada konsep apa saja peserta didik mengalami kesalahan konsep; dan (3) faktor apa saja penyebab kesulitan belajar peserta didik dalam mempelajari dan memahami materi hidrolisis garam. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Populasi penelitian ini adalah peserta didik kelas XI MIA salah satu SMA Blitar, yang berjumlah 160 peserta didik. Sampel pada penelitian ini dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Sampel terdiri dari peserta didik kelas XI MIA 2 dan XI MIA 4 dengan jumlah 63 peserta didik. Instrumen penelitian ini divalidasi oleh 2 guru salah satu SMA di Blitar. Instrumen yang digunakan dalam penelitian berbentuk objektif pilihan ganda beralasan terdiri dari 26 soal dengan 5 alternatif pilihan jawaban yang dikembangkan sendiri oleh peneliti. Angket untuk menentukan faktor-faktor penyebab kesulitan mempelajari dan memahami materi hidrolisis garam terdiri dari 29 pernyataan dalam bentuk skala likert. Hasil wawancara digunakan sebagai triangulasi data. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa: (1) konsep sukar yang dimiliki peserta didik adalah konsep (a) penentuansifat ion dalam larutan dengan indikator menganalisis sifat kation dan anion dalam larutan berdasarkan harga Ka dan Kb; (b) persamaan reaksi hidrolisis garam dengan indikator menentukan persamaan reaksi hidrolisis garam berdasarkan kekuatana sam/basa penyusunnya; (c) penentuan sifat keasaman larutan hasil hidrolisis pada reaksi hidrolisis garam dengan indikator menentukan sifat keasaman larutan garam yang anion dan atau kationnya terhidrolisis; (d) stoikiometri larutan hidrolisis garam dalam hubungannya antara massa dan pH larutan dengan indikator menghitung dan menentukan harga pH suatu larutan garam dari massanya dan sebaliknya; (e) konsep perhitungan nilai Ka, Kb, dan Kh dalam hidrolisis garam dengan indikator menghitung nilaiKa, Kb, dan Kh dalam hidrolisis garam. (2) Kesalahan konsep yang dialami peserta didik adalah pada konsep: (a) 2% peserta didik menganggap ion yang berasal dari basa lemah tidak mengalami hidrolisis; (b) 2% peserta didik menganggap kation dari basa kuat dapat bereaksi dengan molekul air; (c) 3% peserta didik menganggap kekuatan basa konjugat sebanding dengan kekuatan asam; (d) 3% peserta didik menganggap kekuatan basa konjugat tidak dapat ditentukan dari harga Ka; (e) 5% peserta didik menganggap sifat ion sama dengan sifat zat asalnya; (f) 2% peserta didik menganggap hidrolisis anion dari asam lemah menghasilkan ion H3O+/H+; (g) 8% peserta didik tidak mengkonversikan satuan volume larutan kedalam liter sehingga mengakibatkan perhitungan menentukan massa garam salah; (h) berturut-turut 3% dan 2% tidak memahami rumus tetapan hidrolisis larutan garam yang berasal dari asam lemah dan basa lemah. (3) Faktor-faktor penyebab kesulitan mempelajari dan memahami materi hidrolisis garam adalah (a) kemampuan dalam hitungan (operasimatematis) sebesar 27,51%; (b) kemampuan menentukan dan menggunakan rumus kimia sebesar 30,16%; (c) kemampuan menghafal beberapa konsep dalam hidrolisis garam sebesar 29,37%; (d) tingkat ketelitian sebesar17,46%; (e) menyimpan perolehan hasil belajar sebesar 32%; (f) kebiasaan belajar (pendisiplinan diri) sebesar 50,79%; serta (g) penjelasan dan respon guru dalam proses pengajaran sebesar 23,81% peserta didik yang mengalami
EFEKTIVITAS PENGGUNAAN BAHAN AJAR DIGITAL BERBASIS INKUIRI TERBIMBING PADA MATERI ASAM BASA TERHADAP HASIL BELAJAR KOGNITIF DAN PERSEPSI PESERTA DIDIK KELAS XI SMANEGERI 10 MALANG
ABSTRAK Laili, Umi Nadhirotul. 2018. Efektivitas Penggunaan Bahan Ajar Digital Berbasis Inkuiri Terbimbing pada Materi Asam-Basa terhadap Hasil Belajar Kognitif dan Persepsi Peserta Didik Kelas XI SMA Negeri 10 Malang. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas MIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Munzil, M.Si., (II) Dr. Sumari, M.Si. Kata kunci: bahan ajar digital, hasil belajar kognitif, asam-basa Salah satu materi kimia yang dipelajari peserta didik kelas XI SMA adalah materi asam-basa. Materi asam-basa penting untuk dikuasai baik dari aspek makroskopis, submikroskopis, maupun simbolik. Berdasarkan karakteristik tersebut, maka diperlukan sebuah bahan ajar yang memudahkan dalam mempelajari materi asam-basa. Pada penelitian sebelumnya telah dikembangkan bahan ajar digital berbasis inkuiri terbimbing pada materi asam-basadengan tiga level representasi. Pengembangan bahan ajar digital dibatasi pada tahap pengembangan dan belum diuji coba efektivitasnya dalampembelajaran. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar kognitif antara peserta didik yang dibelajarkan menggunakan bahan ajar digital berbasis inkuiri terbimbing dan peserta didik yang tidak dibelajarkan menggunakan bahan ajar digital berbasis inkuiri terbimbing. Rancangan penelitian yang dilakukan pada penelitian ini adalah rancangan eksperimen semu (quasy experimental) dengan post-test only control group design. Populasi dalam penelitian ini yakni seluruh peserta didik kelas XI MIPA SMA Negeri 10 Malang. Sampel dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XI MIPA C sebagai kelas eksperimen yang dibelajarkan menggunakan bahan ajar digital berbasis inkuiri terbimbing dan peserta didik kelas XI MIPA D sebagai kelas kontrol yang dibelajarkan menggunakan LKPD berbasis inkuiri terbimbing. Soal tes yang digunakan dalam penelitian sebanyak 17 soal dengan reliabilitas sebesar 0,762. Data keterlaksanaan proses pembelajaran dianalisis secara deskriptif, sedangkan data hasil belajar kognitif dianalisis menggunakan uji independen sampel t-test dengan taraf signifikansi sebesar 0,05. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1)Keterlaksanaan langkah-langkah pembelajaran pada kelas yang dibelajarkan menggunakan bahan ajar digital dan kelas yang dibelajarkan tanpa menggunakan bahan ajar digital memiliki rata-rata yang relatif sama dengan kriteria sangat baik. (2) Tidak ada perbedaan hasil belajar yang signifikan antara peserta didik yang dibelajarkan menggunakan bahan ajar digital dan peserta didik yang dibelajarkan tanpa menggunakan bahan ajar digital. Dengan kata lain, pembelajaran menggunakan bahan ajar digital tidak lebih efektif dibandingkan dengan pembelajaran tanpa menggunakan bahan ajar digital.(3) Persepsi peserta didik terhadap isi bahan ajar digital dan pembelajaran menggunakan bahan ajar digital berkategori baik