SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Pengaruh Derajat Keasaman dan Waktu Kontak terhadap Keterlarutan Humat, Fulvat, Nikel, dan Kadmium yang Terkandung dalam Kompos TPA Tlekung
ABSTRAK Kompos dapat digunakan sebagai adsorben ion logam. Pada proses adsorpsi harus ditentukan waktu dan pH yang tepat untuk mengadsorpsi ion logam. Kompos yang dihasilkan dari sampah organik kemungkinan masih terdapat kandungan logam di dalam kompos yang di produksi dari sampah organik. Didalam proses adsorpsi yang menggunakan kompos terdapat kemungkinan terlarutnya sebagian ion logam dalam kompos ke dalam adsorbat yang dapat mengurangi efektifitas proses adsorpsi. Humat dan fulvat yang terdapat di dalam kompos juga dapat terlarut ke dalam sistem adsorpsi. Humat dan fulvat juga dapat mengikat ion logam maka terdapat kemungkinan berkurangnya efektifitas adsorpsi karena proses pengikatan ion logam oleh humat dan fulvat yang terlarut. Karena itu perlu ditentukan waktu dan pH adsorpsi yang tepat agar adsorpsi berjalan dengan efektif. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh pH dan waktu kontak terhadap keterlarutan: ion nikel, kadmium, humat dan fulvat yang terlarut dari kompos serta humat dan fuvat yang mengikat ion nikel dan kadmium yang terlarut dari kompos didalam adsorbat. Penelitian yang dilakukan merupakan penelitian eksperimen laboratoris dengan tahapan sebagai berikut, (1) Preparasi dan karakterisasi kompos TPA Tlekung, (2) Penentuan kadar ion nikel dan kadmium total, (3) Penentuan kadar ion nikel dan kadmium dalam air rendaman kompos dengan berbagai variasi waktu kontak dan pH, (4) Penentuan kadar humat dan fulvat dalam air rendaman kompos pada berbagai variasi waktu kontak dan pH dan (5) Penentuan kadar nikel dan kadmium yang terikat pada humat dan fulvat dari air rendaman kompos. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kompos TPA Tlekung memiliki pH 7,5 dengan kadar air sebesar 36,26%, berwarna coklat tua dan berbau seperti tanah. Kompos TPA Tlekung memiliki kadar total nikel sebesar 0,0753 mg/kg dan kadar total kadmium sebesar 0,0074 mg/kg. Kadar ion nikel dan kadmium yang terlarut pada rendaman kompos pada waktu kontak 2 jam berturut-turut sebesar 0,024 ppm dan 0,010 ppm, 4 jam sebesar 0,096 ppm dan 0,011 ppm, 8 jam sebesar 0,101 ppm dan 0,140 ppm, 12 jam sebesar 0,132 ppm dan 0,015 ppm, dan 24 jam sebesar 0,141 ppm dan 0,018 ppm. Kadar ion nikel dan kadmium yang terlarut pada derajat keasaman dan waktu kontak pH 4 ; 2 jam sebesar 0,527 ppm dan 0,019 ppm, pada pH 4 ; 12 jam sebesar 0,077 ppm dan 0,015 ppm, pada pH 6 ; 2 jam sebesar 0,543 ppm dan 0,020 ppm, pada pH 6 ; 12 jam sebesar 0,069 ppm dan 0,011 ppm, pada pH 9 ; 2 jam sebesar 0,531 ppm dan 0,022 ppm, dan pada pH 9 ; 12 jam sebesar 0,042 ppm dan 0,090 ppm.. Kadar humat dan fulvat terlarut pada rendaman kompos pada waktu kontak 2 jam sebesar 0,16 mg/g dan 0,16 mg/g, 4 jam sebesar 0,496 mg/g dan 0,24 mg/g, 8 jam sebesar 0,208 mg/g dan 1,808 mg/g,12 jam sebesar 0,016 mg/g dan 0,1392 mg/g, dan 24 jam sebesar 0,208 mg/g dan 0,768 mg/g. Kadar humat dan fulvat terlarut pada derajat keasaman dan waktu kontak pH 4 ; 2 jam sebesar 0,56 mg/g dan 0,352 mg/g, pada pH 4 ; 12 jam sebesar 0,112 mg/g dan 0,352 mg/g, pada pH 6 ; 2 jam sebesar 0,416 mg/g dan 0,352 mg/g, pada pH 6 ; 12 jam sebesar 0,064 mg/g dan 0,352 mg/g, pada pH 9 ; 2 jam sebesar 0,512 mg/g dan 0,176 mg/g, dan di pH 9 ; 12 jam sebesar 0,224 mg/g dan 0,304 mg/g. Sedangkan kadar nikel dan kadmium yang terikat pada humat dan fulvat di waktu kontak 2 jam pH 4 sebesar 0,552 ppm dan di waktu kontak 12 jam pH 6 sebesar 0,608 ppm
Pengaruh Penambahan Asam Silikat Saat Aging Terhadap Karakteristik Silika Xerogel dari Abu Bagasse
ABSTRAK Jalaluddin, Agus. 2018. Pengaruh Penambahan Asam Silikat Saat Aging Terhadap Karakteristik Silika Xerogel dari Abu Bagasse. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Nazriati, M.Si., (II) Dr. Fauziatul Fajaroh, M.S. Kata Kunci: Silika gel, silika xerogel, metode sol gel, asam silikat Indonesia merupakan negara agraris dan sebagian besar penduduknya bermata pencaharian di bidang pertanian, salah satu komoditas pertanian terbesar di Indonesia adalah tanaman tebu (Saccharum L.). Tanaman tebu selama proses pengolahannya akan menghasilkan 3 jenis limbah, yakni limbah padat, gas, dan cair. Limbah padat yang dihasilkan berupa ampas tebu dan digunakan sebagai bahan bakar ketel. Abu hasil pembakaran ampas tebu merupakan abu bagasse yang dapat digunakan sebagai bahan pembuatan silika xerogel. Penelitian sebelumnya oleh Srivinasan (2010) menyebutkan bahwa Salah satu pemanfaatan limbah abu bagasse yakni dimanfaatkan sebagai bahan pembuatan silika gel karena abu bagasse memiliki kandungan silika 78,34%. Tujuan penelitian ini untuk mensintesis silika xerogel dari abu bagasse dan mengetahui efek penambahan asam silikat terhadap karakteristik silika xerogel yang dihasilkan. Penelitian ini merupakan penelitian eksperimen yang dilakukan di laboratorium. Penelitian ini terdiri dari empat tahapan meliputi; 1) ektraksi silika dari abu bagasse; 2) Pembuatan asam silikat; 3) Sintesis silika xerogel dengan penambahan monomer variasi asam silikat; 4) Karakterisasi silika xerogel hasil sintesis. Karakterisasi silika xerogel dilakukan dengan uji morfologi permukaan menggunakan SEM (scanning electron microscopy). Uji adanya gugus fungsi pada silika xerogel menggunakan FT-IR (Fourier Trasform Infra Red). Sedangkan uji luas permukaan menggunakan BET (Brunauer-Emmet-Teller). Hasil penelitian ini antara lain: (1) Silika xerogel hasil sintesis berwujud padatan serbuk berwarna putih. Silika xerogel yang dihasilkan merupakan silika xerogel yang telah divariasi dengan penambahan asam silikat dan dihilangkan kandungan airnya. (2) Hasil interpretasi FTIR menunjukkan bahwa sintesis silika xerogel yang dihasilkan telah berhasil disintesis dibuktikan dengan munculnya vibrasi Si-OH & Si-O-Si. (3). Penambahan monomer asam silikat mempengaruhi kerapatan pori silika xerogel yang dihasilkan, semakin banyak penambahan monomer, kerapatan meningkat dan pori silika xerogel semakin kecil. Begitu pula dengan luas permukaan silika xerogel, semakin banyak penambahan monomer asam silikat, luas permukaan silika xerogel semakin kecil
PENGEMBANGAN GAME EDUKASI ANDROID PADA MATERI LARUTAN PENYANGGA
ABSTRAK Metode permainan merupakan metode pembelajaran dimana materi disampaikan melalui suatu kegiatan yang menyenangkan dan dapat menunjang terciptanya tujuan dalam pengajaran baik aspek kognitif, afektif, maupun psikomotorik. Metode permainan yang dapat digunakan dalam pembelajaran adalah game edukasi. Pemanfaatan game android dalam pembelajaran terutama pada mata pelajaran kimia masih tergolong jarang digunakan di kebanyakan sekolah. Salah satu materi yang dapat dibuat dengan metode permainan atau game edukasi adalah materi larutan penyangga. Oleh karena itu, dilakukan penelitian pengembangan yang bertujuan untuk menghasilkan produk berupa game edukasi larutan penyangga beserta kelayakan produk yang dikembangkan. Model pengembangan yang digunakan pada penelitian ini adalah desain pengembangan berbasis multimedia yang dikemukakan oleh Lee dan Owens. Pada model pengembangan ini proses pengembangan pembelajaran terbagi ke dalam lima tahap Assessment/analysis, Design, Development, Implementation dan Evaluation. Produk pengembangan berupa game edukasi larutan penyangga ini menyajikan permainan, materi dan soal latihan yang ada dalam konsep larutan penyangga. Validasi produk pengembangan game edukasi dari segi media diperoleh data persentase skor sebesar 87,1%, validasi dari segi materi diperoleh data persentase skor sebesar 89,2%, sedangkan hasil uji keterbacaan pada peserta didik diperoleh persentase skor sebesar 90,8%. Berdasarkan hasil validasi dan uji keterbacaan, disimpulkan bahwa game edukasi larutan penyangga yang telah dikembangkan sangat layak digunakan sebagai sumber belajar tambahan
IDENTIFIKASI MISKONSEPSI SISWA SMK BRANTAS KARANGKATES PADA MATERI STOIKIOMETRI MENGGUNAKAN INSTRUMEN DIAGNOSTIK THREE-TIER
ABSTRAK Puspitasari, Intan . 2018. Identifikasi Miskonsepsi Siswa SMK Brantas Karangkates Pada Materi Stoikiometri Menggunakan Instrumen Diagnostik Three-Tier. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Hj. Endang Budiasih, M.S., (2) Laurent Octaviana, S.Pd, M.Si Kata Kunci:miskonsepsi, stoikiometri, three-tier Ilmukimialebihsulituntukdipahamidibandingdenganbidangilmu yang lain. Salah satu materi yang dianggap sulit adalah stoikiometri. Hal ini dikarenakan banyaknya istilah, simbolik, maupun hubungan antar konsep yang harus dipahami siswa. Apabila siswa mengalami miskonsepsi pada salah satu konsep dasar, maka kemungkinan munculnya miskonsepsi pada konsep yang lebih kompleks akan semakin besar. Oleh sebab itu perlu dilakukan terlebih dahulu penelitian untuk mengidentifikasi miskonsepsi siswa. Identifikasi yang dilakukan menggunakan tesdiagnostikthree-tier. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif.Subyek penelitian adalah 60 siswa kelas X SMK Brantas Karangkates yang diambil berdasarkan pertimbangan dan saran guru kimia SMK Brantas Karangkates.Instrumen yang digunakan ialah soal pilihan ganda three-tier yang berjumlah 25 soal yang sudah diuji coba terbukti valid dan reliabel.Tes diagnostik three-tier ialah soal pilihan ganda yang memiliki tiga tier (pilihan jawaban). Tier pertama berisi soal pilihan ganda biasa, tier kedua berupa alternatif alasan dan tier ketiga adalah tingkat keyakinan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa siswa kelas X SMK Brantas Karangkates mengalami miskonsepsi pada materi stoikiometri antara lain (1) massa zat hasil reaksi lebih kecil dari jumlah massa zat-zat sebelum reaksi, (2) massa reaktan lebih kecil daripada massa produk, (3) massa unsur dalam senyawa tertentu tidaklah selalu tetap melainkan bergantung pada koefisiennya, (4) massa salah satu unsur tetap maka perbandingan massa unsur yang lain merupakan perbandingan bilangan bulat tetapi bukan perbandingan yang paling sederhana, (5) siswa menganggap bahwa volum gas sesudah reaksi sama dengan jumlah volum gas sebelum reaksi, (6) pada suhu dan tekanan yang sama serta volume gas yang sama jumlah molekulnya berbeda karena memiliki massa molar yang berbeda, (7) koefisien reaksi sebelum dan sesudah reaksi adalah sama, (8) massa molekul relatif merupakan jumlah dari massa atom relatif tanpa memperhatikan jumlah atomnya, (9) jumlah partikel sama dengan bilangan Avogadro, (10) logam tersusun atas unsur-unsurnya, (11) massa senyawa yang bereaksi sebanding dengan koefisien reaksinya, (12) dua senyawa dengan volume sama akan memilki massa yang sama, (13) volum gas yang terbentuk sama dengan volum molar pada keadaan STP yaitu 22,4 L, (14) massa molar menyatakan jumlah mol zat, (15) massa molar merupakan merupakan jumlah dari massa molar unsur pembentuknya tampa memperhatikan jumlah unsur dalam senyawa tersebut, (16) tekanan berbanding lurus dengan volume, (17) jumlah mol berbanding terbalik dengan volume, (18) rumus empiris merupakan perbandingan massa atom penyusunnya
IDENTIFIKASI PEMAHAMAN PESERTA DIDIK KELAS XI MIA SMA NEGERI 7 MALANG PADA MATERI STOIKIOMETRI
ABSTRAK Mogut, Brigita Hastati. 2017. Identifikasi pemahaman peserta didik kelas XI IPA SMA Negeri 7 Malang pada materi stoikiometri. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd,. M.Si, (2) Drs. H. Ridwan Joharmawan, M.Si. Kata Kunci : identifikasi, pemahaman, stoikiometri Ilmu kimia merupakan salah satu cabang ilmu pengetahuaan alam yang berisi konsep-konsep yang kompleks yang saling berkaitan dengan konsep sebelumnya. Stoikiometri merupakan konsep kimia yang bersifat abstrak, sehingga sering membuat peserta didik mengalami kesalahan pemahaman dalam memahami konsep ini. Materi tersebut merupakan salah satu materi pokok kimia yang dipelajari di SMA kelas X semester 2. Kesalahan pemahaman peserta didik sangat beragam, sehingga sulit dideteksi. Kesalahan pemahaman konsep bila berlangsung secara konsisten akan menimbulkan kesalahan pemahaman pada konsep lain. Apabila peserta didik kesulitan dan tidak memahami konsep dasar, maka peserta didik akan kesulitan memahami konsep selanjutnya. Oleh karena itu perlu dilakukan penelitian yang dapat mengidentifikasi pemahaman peserta didik dalam memecahkan masalah stoikiometri. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap materi stoikiometri. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif . Sumber data dalam penelitian ini adalah peserta didik kelas XI IPA 2 (32 peserta didik) dan XI IPA 4 (34 peserta didik) SMA Negeri 7 Malang. Dilakukan penelitian pada kelas XI karena sebelumnya sudah menerima materi stoikiometri pada kelas X semester 2. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini adalah 24 soal pilihan ganda yang sudah divalidasi dan wawancara tidak terstruktur. Soal divalidasi oleh dua orang guru SMA. Validasi butir soal dilakukan setelah tes uji coba pada peserta didik bukan subjek penelitian. Data pemahaman peserta didik diperoleh dengan menentukan besarnya persentase peserta didik yang menjawab benar pada setiap soal. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pemahaman peserta didik dalam memahami materi stoikiometri tergolong cukup yang dapat dilihat dari rata-rata persentase jawaban benar peserta didik sebesar 53,9%. Dengan rincian hukum-hukum dasar kimia 75,5% dengan kategori tinggi, persamaan reaksi 47,0%, massa atom relatif (Ar) dan massa molekul relatif (Mr) 90,5%, konsep mol 43,2%, rumus empiris dan rumus molekul; 47,0%, pereaksi pembatas 20,5%. Tingkat pemahaman terendah terdapat pada massa atom relatif (Ar) dan massa molekul relatif (Mr) yang dapat dilihat dari rata-rata persentase jawaban benar peserta didik sebesar 90,5%, ini menunjukkan peserta didik tidak mengalami kesulitan dalam memahaminya, dan pemahaman tertinggi terdapat pada pokok bahasan pereaksi pembatas yang dapat dilihat dari rata-rata persentase jawaban benar peserta didik sebesar 20,5% yang mengindikasikan bahwa peserta didik masih mengalami kesulitan dalam memahaminya
Pengembangan Instrumen Penilaian Keterampilan Berpikir Kritis untuk Peserta Didik SMA Pada Materi Hidrokarbon
ABSTRAK Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam bidang pendidikan sangat dibutuhkan untuk menunjang pengetahuan peserta didik. Namun, peserta didik sebagai subjek pendidikan cenderung kurang mampu memilah pengetahuan dan informasi yang berguna untuk meningkatkan proses dan hasil pembelajaran. Peserta didik sebagai generasi penerus bangsa seharusnya memiliki kemampuan berpikir yang baik yaitu berpikir kritis (HOTS) dalam menghadapi permasalahan yang sedang berkembang sesuai dengan tujuan pendidikan nasional Indonesia. Upaya pengembangan dan pencegahan keterampilan berpikir kritis yang rendah dapat dilakukan dengan mendeteksi kurangnya keterampilan berpikir kritis peserta didik, sehingga instrumen yang digunakan untuk mengukur keterampilan berpikir kritis sangat diperlukan. Instrumen penilaian keterampilan berpikir kritis sudah banyak dikembangkan tetapi terbatas pada bidang dan materi tertentu, salah satunya yaitu bidang kimia. Instrumen tersebut dikembangkan oleh peneliti dengan melihat adanya fakta bahwa sebagian guru masih belum menggunakan alat ukur yang sesuai untuk mengukur keterampilan berpikir kritis. Oleh karena itu, pengembangan instrumen penilaian yang dapat mengukur keterampilan berpikir kritis peserta didik Indonesia terutama pada bidang kimia sangat diperlukan. Penelitian dan pengembangan ini bertujuan untuk mengembangkan dan menghasilkan instrumen penilaian keterampilan berpikir kritis pada materi hidrokarbon untuk peserta didik SMA yang valid dan reliabel. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian pengembangan Research and Development (R&D) yang dikemukakan oleh Borg dan Gall dan diadaptasi hanya sampai langkah kelima. Rancangan penelitian pengembangan R&D bertujuan untuk mengembangkan produk instrumen penilaian keterampilan berpikir kritis pada materi hidrokarbon yang mengacu pada indikator keterampilan berpikir kritis menurut Ennis (2011). Produk yang dihasilkan divalidasi oleh 1 dosen UM, 2 guru SMAN 1 Singosari, dan 1 guru SMAN 1 Lawang. Subjek uji coba adalah 71 peserta didik kelas XI MIA di salah satu SMA negeri. Hasil uji coba dianalisis menggunakan teknik analisis kualitatif dan kuantitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata persentase kelayakan instrumen penilaian keterampilan berpikir kritis pada materi hidrokarbon adalah 83% dengan kategori sangat layak. Nilai validitas butir soal pilihan ganda beralasan adalah 0,178 hingga 0,570 dengan jumlah butir soal yang valid sebanyak 21 soal. Butir soal uraian memiliki nilai validitas 0,111 hingga 0,744 dengan jumlah butir soal yang valid sebanyak 16 soal. Soal yang tidak valid tetap digunakan dengan alasan konseptual, tetapi diperbaiki berdasarkan jawaban peserta didik. Reliabilitas butir soal pilihan ganda beralasan dan uraian adalah vii 0,750 dan 0,770 dengan kategori tinggi. Persentase tingkat kesukaran butir soal pilihan ganda beralasan sebesar 12% soal mudah, 64% soal sedang, dan 24% soal sukar, sedangkan persentase tingkat kesukaran butir soal uraian sebesar 37% soal sedang dan 63% soal sukar. Daya pembeda butir soal pilihan ganda beralasan memiliki persentase sebesar 56% daya pembeda sangat baik, 20% daya pembeda baik, 8% daya pembeda cukup baik, dan 16% daya pembeda kurang baik, sedangkan persentase daya pembeda butir soal uraian sebesar 63% daya pembeda sangat baik, 21% daya pembeda baik, dan 16% daya pembeda kurang baik. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa instrumen penilaian keterampilan berpikir kritis untuk peserta didik SMA pada materi hidrokarbon yang dikembangkan telah valid dan reliabel sehingga sangat layak digunakan
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Multirepresentasi dengan Pendekatan Inkuiri Terbimbing pada Materi Asam-Basa
ABSTRAK Salah satu materi penting dalam pelajaran kimia SMA/MA adalah materi asam-basa. Materi ini berisi banyak konsep abstrak sehingga sehingga banyak peserta didik yang mengalami kesulitan dalam memahami materi ini. Oleh sebab itu, untuk memudahkan peserta didik memahami materi asam-basa maka diperlukan bantuan tiga level representasi dalam ilmu kimia yaitu representasi makroskopis, submikroskopis, dan simbolis. Kurikulum menuntut pembelajaran di kelas harus mampu melatih kemampuan berfikir ilmiah peserta didik. Untuk memenuhi tuntutan kurikulum serta karakteristik materi kimia tersebut maka dapat diwujudkan dengan penggunaan bahan ajar yang mengintegrasikan tiga level representasi kimia serta melatih peserta didik untuk mengkonstruk konsep sendiri. Faktanya, bahan ajar yang ada selama ini sebagian besar masih menggunakan ketiga aspek representasi kimia dengan tidak proporsional, misalnya lebih menekankan pada aspek simbolis. Selain itu, bahan ajar yang ada kurang menuntut peserta didik untuk mengkonstruk konsep sendiri. Berdasarkan uraian tersebut maka peneliti mengembangkan bahan ajar berbasis multirepresentasi dengan pendekatan inkuiri terbimbing pada materi asam-basa. Tujuan dari penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan bahan ajar berbasis multirepresentasi dengan pendekatan inkuiri terbimbing pada materi asam-basa serta mengetahui kelayakan bahan ajar yang dikembangkan. Penelitian ini adalah penelitian pengembangan yang mengadaptasi model pengembangan 4D dari Thiagarajan, dkk. Model pengembangan ini terdiri atas 4 tahap yakni define (pembatasan), design (perancangan), develop (pengembangan), dan disseminate (penyebaran). Namun, pada penelitian ini hanya dilakukan hingga tahap ketiga yaitu develop. Validasi bahan ajar dilakukan oleh satu orang dosen kimia UM dan dua orang guru kimia SMAN 8 Malang. Data yang diperoleh merupakan data kuantitatif dan data kualitatif. Data kuantitatif hasil validasi oleh validator dianalisis menggunakan teknik perhitungan rata-rata yang digunakan untuk menentukan kelayakan bahan ajar. Data kualitatif dari validator digunakan sebagai masukan untuk melakukan revisi produk bahan ajar hasil pengembangan. Uji keterbacaan dilakukan oleh 10 peserta didik kelas X1 MIPA 3 di SMAN 8 Malang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa nilai rata-rata validasi terhadap bahan ajar yang dikembangkan untuk buku guru dan buku siswa sebesar 4,6 dengan kriteria sangat layak. Nilai rata-rata uji keterbacaan terbatas terhadap produk yang dikembangkan sebesar 4,2 dengan kriteria sangat layak. Hal tersebut menunjukkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan telah layak digunakan sebagai salah satu sumber belajar dalam pembelajaran kimia di SMA/MA pada materi asam-basa
Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar Kimia Peserta Didik Kelas Lintas Minat di Kota Malang
ABSTRAK Matlubah, Farihatul. 2018. Analisis Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Minat Belajar Kimia Peserta Didik Kelas Lintas Minat di Kota Malang.Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Oktavia Sulistina, S.Pd., M.Pd., (II) Drs. Ida Bagus Suryadharma, M.S. Kata Kunci: minat belajar kimia, faktor yang mempengaruhi minat, lintas minat Minat merupakan perasaan senang dan tertarik yang dirasakan peserta didik dalam kegiatan pembelajaran sehingga peserta didik lebih termotivasi dan giat dalam belajar. Minat merupakan salah satu faktor yang sangat berpengaruh terhadap keberhasilan suatu proses pembelajaran termasuk mata pelajaran kimia lintas minat yang dikhususkan untuk peserta didik kelas IIS (SMA/MA) dan kelas Agama (MA). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis minat belajar kimia peserta didik kelas lintas minat di Kota Malang, faktor-faktor yang mempengaruhi minat, persentase pengaruh tiap faktor, dan faktor yang paling dominan mempengaruhi minat. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif. Subjek penelitian dipilih sebanyak 4 sekolah dari SMA/MA Negeri di Kota Malang yang menyelenggarakan kelas lintas minat kimia. Subjek penelitian ditentukan dengan teknik purpossive sampling (sampel bertujuan). Jumlah keseluruhan subjek pada penelitian ini sebanyak 225 peserta didik. Instrumen penelitian yang digunakan pada penelitian ini berupa kuisioner dan pedoman wawancara. Jawaban peserta didik pada kuisioner kemudian dianalisis dengan teknik analisis regresi linier berganda menggunakan program SPSS 16.0 dan hasil wawancara dianalisis dengan menggunakan teknik analisis model interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (a) Secara umum minat belajar kimia peserta didik kelas lintas minat di Kota Malang masih tergolong kurang; (b) Minat belajar kimia peserta didik kelas lintas minat di Kota Malang dipengaruhi oleh 3 faktor yaitu: 1) faktor psikologis; 2) faktor daya tarik bidang studi; dan 3) faktor keluarga; dan (c) Faktor yang paling dominan mempengaruhi minat belajar kimia peserta didik kelas lintas minat di Kota Malang adalah faktor psikologis. ABSTRACT Matlubah, Farihatul. 2018.Analysis of Factors Influencing Interest in Chemistry of Students’ Cross-Interest Class in Malang . Thesis, the Chemistry Education, Faculty of Math and Science, State University of Malang. Advisors: (I) Oktavia Sulistina, S.Pd., M.Pd., (II) Drs. Ida Bagus Suryadharma, M.S. Keywords: interest in chemistry, factors affecting interest, cross-interest. Interest is a feeling of fun that students feel in the learning activities so that students are more motivated and diligent in learning. Interest is one of the most influential factors on the success of a learning process including cross-interest chemistry devoted to Social Class (Senior High School) and Religion Classs (Islamic Senior High School). The aims of this research is analyze the interest of chemistry of cross-interest students in Malang, the factors that influencing interest, the percentage of each factors, and the most dominant factor influence the interest. This research used descriptive research design. Subjects are selected 4 schools from senior high school in Malang that organized cross-interest of chemistry class. Research subjects were determinated by purpossive sampling technique. The total subjects in this research were 225 students. The research instrument used is a quistionnare and interview guidelines. The student’s answer to the questionnare then analyzed by multiple linear regression analysis using SPSS 16.0 program and the interview result were analyzed using interactive model analysis techniques. The result of research shows that (a) Interest of chemistry’s cross-interest students in Malang relatively low; (b) Interest in chemistry of cross-interest students in Malang is influenced by 3 factors: 1) Psychological factor; 2) Interest of field study factor with; and 3) Family factors; and (c) The most dominant factor influencing interest in chemistry of cross-interest students in Malang is psychological factor
SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL ZINK FERRIT (ZnFe2O4) DENGAN TEMPLATE PEG 6000 SECARA KOPRESIPITASI DAN APLIKASINYA SEBAGAI ADSORBEN MALASIT HIJAU
ABSTRAK SINTESIS DAN KARAKTERISASI NANOPARTIKEL ZINK FERRIT (ZnFe2O4) DENGAN TEMPLATE PEG 6000 SECARA KOPRESIPITASI DAN APLIKASINYA SEBAGAI ADSORBEN MALASIT HIJAU Ita Desi Susilowati, Fauziatul Fajaroh, & Nazriati Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang Email: [email protected]; [email protected]; [email protected] Sebagian besar industri seperti industri tekstil, kertas, plastik, dan makanan menggunakan zat warna sebagai bahan baku pada prosesnya. Sekitar 10-15% dari zat warna yang sudah digunakan tidak dapat dipakai ulang dan harus dibuang, akibatnya limbahnya berpotensi mencemari lingkungan. Limbah zat warna tersebut bersifat resistan, sukar terurai, dan bersifat toksik sehingga sangat berbahaya apabila terakumulasi dalam air. Salah satu zat warna yang dimanfaatkan dalam industri tersebut adalah malasit hijau. Untuk mengatasi limbah tersebut dapat digunakan metode adsorpsi. Proses adsorpsi membutuhkan adsorben yang salah satu syaratnya memiliki luas permukaan yang besar. Salah satu adsorben yang memiliki luas permukaan yang cukup besar adalah nanopartikel zink ferrit (ZnFe2O4), selain itu memiliki sifat kimia dan stabilitas termal yang baik. Namun dalam proses sintesis ZnFe2O4 sering terbentuk aglomerasi. Untuk menghindari aglomerasi dan meningkatkan luas permukaan ZnFe2O4 ditambahkan PEG 6000 dalam proses sintesisnya. PEG 6000 berfungsi sebagai template yang dapat membuka pori-pori ZnFe2O4 sehingga dapat meningkatkan luas permukaan, mencegah aglomerasi, serta meningkatkan monodispersitas partikel. Berdasarkan uraian tersebut, tujuan penelitian ini adalah (1) mensintesis nanopartikel zink ferrit (ZnFe2O4) dengan template PEG 6000 secara kopresipitasi, (2) mengetahui karakteristik nanopartikel zink ferrit (ZnFe2O4) yang dihasilkan, (3) mengaplikasikan nanopartikel zink ferrit (ZnFe2O4) sebagai adsorben malasit hijau dengan mempelajari pengaruh variasi waktu kontak, konsentrasi awal adsorbat, dan suhu pada kapasitas adsorpsi nanopartikel zink ferrit (ZnFe2O4) terhadap malasit hijau. Hasil yang diperoleh pada penelitian ini yaitu adalah: ZnFe2O4 telah berhasil disintesis yang dibuktikan dengan munculnya puncak khas ZnFe2O4 pada difraktogram XRD dan spektrum FT-IR. Berdasarkan hasil analisis BET, luas permukaan ZnFe2O4 dengan template PEG lebih besar daripada tanpa template PEG, hasil analisis SEM-EDX diperoleh ZnFe2O4 dengan rumus empiris 1 : 2 : 4, dan hasil analisis VSM, nilai kemagnetan ZnFe2O4 tanpa PEG lebih besar daripada dengan template PEG. Daya adsorpsi ZnFe2O4 dengan template PEG dipengaruhi oleh waktu kontak, konsentrasi awal adsorbat, dan suhu. Mekanisme adsorpsinya memenuhi model isoterm adsorpsi Langmuir dan proses adsorpsi berlangsung spontan dan eksotermik serta mengikuti model kinetika orde dua semu. Kata Kunci: nanopartikel zink ferrit (ZnFe2O4), kopresipitasi, template, PEG 6000, malasit hija
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Problem Solving pada Materi Reaksi Redoks untuk Peserta Didik Kelas X SMA
ABSTRAK Ayudianti, Via. 2018. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Problem Solving pada Materi Reaksi Redoks untuk Peserta Didik Kelas X SMA. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si; (II) Dr. Siti Marfuah, M.S. Kata Kunci : problem solving, bahan ajar, reaksi redoks Salah satu ilmu sains yang menjadi mata pelajaran wajib bagi peserta didik yang menempuh program sains (IPA) adalah ilmu kimia. Penyebab kegagalan peserta didik dalam mempelajari ilmu kimia adalah gagal dalam memahami konsep kimia yang bersifat abstrak. Salah satu konsep kimia yang bersifat abstrak yaitu reaksi redoks. Oleh karena itu, dibutuhkan bahan ajar yang dapat membantu peserta didik memahami konsep kimia dengan baik. Bahan ajar dapat dikembangkan dengan menggunakan model pembelajaran. Salah satu model pembelajaran yang tepat dan sesuai dengan materi reaksi redoks adalah modelproblem solving. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan bahan ajar reaksi redoks yang sesuai dengan kurikulum 2013 menggunakan model problem solvingdan mengetahui kelayakan dari bahan ajar reaksi redoks menggunakan model problem solvingberdasarkan hasil validasi. Bahan ajar ini dikembangkan dengan menggunakan model 4D (four D model) yang dikemukakan oleh Thiagarajan et al., (1974). Model pengembangan tersebut terdiri dari empat tahap yaitu: pembatasan (define), perancangan (design), pengembangan (develop) dan penyebaran (disseminate). Pengembangan diawali dengan analisis beberapa aspek meliputi analisis pendahuluan, analisis kebutuhan peserta didik, analisis materi dan perumusan tujuan pembelajaran. Pengembangan dilanjutkan pada proses perancangan prototype bahan ajar, prototype dikonsultasikan kepada dosen pembimbing dan direvisi sampai mendapatkan produk awal bahan ajar. Produk awal disusun sampai menjadi bahan ajar. Setelah itu, bahan ajar yang sudah direvisi divalidasi oleh dosen penguji dan guru sekolah dan di uji coba keterbacaan pada peserta didik. Produk yang dihasilkan bahan ajar berupa buku peserta didik dan buku guru. Buku ini dikembangkan dengan menggunakan model problem solving. Buku peserta didik berisi uraian materi reaksi redoks. Buku guru berisi uraian materi reaksi redoks beserta kunci jawaban dilengkapi dengan instrumen penilaian. Data hasil validasi menunjukkan bahan ajar berupa buku guru memiliki persentase kelayakan sebesar 84%, bahan ajar berupa buku peserta didik memiliki persentase kelayakan sebesar 84%, rencana pelaksanaan pembelajaran memiliki persentase kelayakan sebesar 90% dan ujian akhir bab memiliki persentase kelayakan sebesar 90%. Secara keseluruhan bahan ajar yang dikembangkan memiliki persentase kelayakan sebesar 87% dengan kriteria sangat layak. Sedangkan hasil ujiketerbacaan menunjukkan persentase kemudahan dipahami sebesar 88% dengan kriteria sangat mudah dipahami