SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Pemanfaatan Zeolit Alam sebagai Bahan Baku Pembuatan Katalis Zn/ZAA dan Ag-Zn/ZAA untuk Produksi Etanol dari Gliserol Berbantuan Ultrasonik
ABSTRAK Hardiansyah, Irwan. 2018. Pemanfaatan Zeolit Alam sebagai Bahan Baku Pembuatan Katalis Zn/ZAA dan Ag-Zn/ZAA untuk Produksi Etanol dari Gliserol Berbantuan Ultrasonik. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Drs. Ida Bagus Suryadharma, M.S., (II) Dr. Sumari M.Si Kata Kunci : katalis Zn/ZAA dan Ag-Zn/ZAA, impregnasi, gliserol, etanol, ultrasonik Penelitian yang dilakukan adalah memodifikasi zeolit alam dengan impregnasi logam menjadi Zn/ZAA dan Ag-Zn/ZAA. Aktivasi penelitian ini dilakukan dengan tahapan perendaman larutan HF 1% selama 30 menit, perendaman HCl 1 M dengan variasi waktu 6, 12, dan 24 jam, perendaman NH4Cl 1M selama 4 jam lalu dikeringkan pada suhu 100oC selama 2 jam dan dikalsinasi pada suhu 500oC selama 4 jam pada masing-masing perendaman. Zeolit yang teraktivasi kemudian di karakterisasi dengan uji XRD, XRF, uji keasaman, dan isoterm Langmuir. Tujuan dari modifikasi zeolit ini adalah sebagai katalis yang diharapkan mampu mendegradasi limbah gliserol dari produk samping pembuatan biodiesel dengan bantuan ultrasonik pada variasi suhu 30, 40, 50, dan 60oC. Berdasarkan Produk yang dihasilkan dengan menggunakan Gas Chromatography (GC) baik menggunakan katalis Zn/ZAA maupun Ag-Zn/ZAA menghasilkan produk berupa etanol
KARAKTERISASI DAN UJI DAYA ADSORBEN AMPAS TEBU (Saccharum Officianarum.L) UNTUK ADSORPSI ION KADMIUM(II)
ABSTRAK Ampas tebu merupakan salah satu limbah pertanian yang begitu melimpah keberadaanya dan belum termanfaatkan secara optimal. Secara kimiawi komponen utama penyusun ampas tebu adalah selulosa 53,75%; 20,98% hemiselulosa, dan 17,56% lignin. Berdasarkan penelitian sebelumnya limbah pertanian yang mengandung selulosa mempunyai potensi sebagai adsorben dengan menghilangkan kandungan lignin terlebih dahulu. Penelitian ini bertujuan untuk 1) delignifikasiampas tebu yang dimodifikasi dengan metode ultrasonik yang dijadikan sebagai adsorben, 2) mengetahui karakteristik adsorben sebelum dan sesudah delignifikasi, 3) mengetahui kapasitas adsorpsi optimum oleh adsorben sebelum dan sesudah delignifikasi terhadap ion kadmium(II). Penelitian ini bersifat eksperimental yang dilakukan di laboratorium penelitian Jurusan Kimia FMIPA Universitas Negeri Malang, dengan tahapan, yaitu (1) preparasi ampas tebu sebagai bahan adsorben (Adsorben A), dan proses delignifikasi ampas tebu dengan variasi pelarut H2O2 10%dan NaOH 2M serta dimodifikasi dengan metode ultrasonik(2) karakterisasi adsorben yang meliputi uji kadar air, kadar abu, identifikasi gugus fungsi menggunakan FTIR, dan analisis struktur permukaan adsorben menggunakan SEM (3) proses adsorpsi dengan adsorben ampas tebu terhadap ion kadmium(II) (4) penentuan konsentrasi ion kadmium(II) yang terserap menggunakan Spektrofotometri Serapan Atom (SSA). Hasil penelitian menunjukkan bahwa,uji kadar air dan uji kadar abu masing-masing adosrben A,B,C, dan D tergolong baik, karena memiliki nilai dibawah prasyarat kualitas SNI 06-3730-1995. Hasil identifikasi gugus fungsi menggunakan FTIR untuk adsorben sebelum delignifikasi, menunjukkan adanya gugus fungsi -OH yang merupakan gugus fungsi pada selulosa. Selain itu juga terdapat serapan yang menunjukkan vibrasi ulur C=C aromatik, C=O, dan C-O-C, mengindikasikan bahwa gugus tersebut merupakan gugus khas dari lignin, sehingga proses delignifikasi dapat dikatakan belum maksimal untuk semua adsorben.3) hasil identifikasi struktur permukaan adsorben juga menunjukkan perbedaan, yaitu adsorben dengan proses delignifikasi memiliki struktur permukaan yang lebih terbuka dan berpori dibandingkan dengan adsorben tanpa proses delignifikasi. Daya adsorpsi masing-masing adsorben A, B, C, dan D berturut-turut, yaitu 0,218 mg/g; 0,443 mg/g; 0,448 mg/g; 0,467 mg/g. Daya adsorpsi tertinggi diperolehpada adsorben dengan proses delignifikasi menggunakan H2O2 10 %, dilanjutkan dengan NaOH 2M serta diberi radiasi gelombang ultrasonik (Adsorben D)
Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Koordinasi dari Reaksi antara Garam CoCl2.6H2o dengan KSCN dan FeCl3.6H2O
ABSTRAK RINGKASAN Ernawati. 2017. Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Koordinasi dari Reaksi antara Garam CoCl2.6H2o dengan KSCN dan FeCl3.6H2O. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed., Ph.D., (II) Dr. Fariati, M.Sc. Kata-kata kunci: Karakterisasi, Senyawa kompleks, Sintesis, [Fe(H2O)6]3+, dan [Co(NCS)4]2─ Reaksi antara KSCN dan Co(SCN)2 menghasilkan senyawa kompleks K2[Co(NCS)4]. Salah satu senyawa kompleks yang tersusun atas anion [Co(NCS)4]2- adalah [Co(en)3][Co(NCS)4]NO3. Senyawa kompleks tersebut merupakan senyawa kompleks ionik yang terdiri dari kation kompleks [Co(en)3]3+, anion kompleks [Co(NCS)4]2─, dan anion pengimbang NO3─. Reaksi antara K2[Co(NCS)4] dengan [Fe(H2O)6]Cl3 dalam pelarut air diharapkan menghasilkan senyawa kompleks dengan jenis yang sama. Penelitian ini bertujuan untuk mensintesis dan menentukan struktur senyawa kompleks tersebut. Sintesis dilakukan dengan mereaksikan CoCl2 dan KSCN dengan perbandingan jumlah mol 1:6 dalam air. Pada hasil reaksi yang diperoleh ditambahkan larutan FeCl3 dengan perbandingan jumlah mol 1:1 dalam pelarut air disertai dengan pengadukan menggunakan pengaduk ultrasonik. Larutan yang diperoleh diuapkan pada temperatur ruang hingga diperoleh kristal-kristal senyawa kompleks. Senyawa yang diperoleh diukur titik leburnya menggunakan Fisher-John Melting Point Apparatus untuk mengetahui untuk menentukan kebaruan, kemurnian, dan kestabilan termalnya. Analisis SEM-EDX untuk memperoleh rumus empiris senyawa. Data Spektroskopi IR digunakan untuk untuk mengetahui atom donor ion tiosianat yang berikatan dengan atom pusat. Uji kualitatif ion besi(III) dilakukan untuk mengetahui apakah ion besi(III) dalam senyawa kompleks tersolvasi oleh molekul-molekul air atau terikat oleh ligan tiosianat. Uji kualitatif ion klorida dilakukan untuk mengetahui apakah ion klorida dalam senyawa kompleks berlaku sebagai ligan atau sebagai ion pengimbang. Uji daya hantar listrik (DHL) digunakan untuk menentukan senyawa koordinasi tergolong ionik atau molekuler. Berdasarkan hasil analisis, rumus kimia yang mungkin dari senyawa kompleks dapat ditentukan dan diprediksi strukturnya. Energi bebas senyawa yang diperoleh dihitung dengan menggunakan program Spartan ’14. Struktur senyawa kompleks yang memenuhi adalah struktur dengan energi bebas terendah. Reaksi antara FeCl3 and K2[Co(NCS)4] menghasilkan kristal berwarna coklat tua berbentuk balok dengan titik lebur 108-112 oC. Titik lebur tersebut berada di atas titik lebur garam dan di bawah titik lebur ligan. Hal tersebut menunjukkan bahwa senyawa kompleks hasil sintesis merupakan senyawa baru. Hasil analisis EDX memberikan rumus empiris C4H24Cl4CoFe2N4O12S4. Data spektrum IR menunjukkan terdapat pita serapan pada bilangan gelombang 526 cm-1 dan 3429 cm-1, yang berturut-turut merupakan vibrasi ulur ikatan Fe-O dan vibrasi ulur ikatan O-H. Dua serapan tersebut menunjukkan bahwa molekul H2O terkoordinasi pada ion Fe3+. Serapan kuat pada bilangan gelombang 2092 cm-1 merupakan vibrasi ulur ikatan C ≡ N dari ion tiosianat yang berikatan dengan atom pusat melalui atom donor N. Hasil uji DHL menunjukkan bahwa senyawa tersebut merupakan senyawa kompleks ionik. Hal ini didukung dengan hasil positif uji kualitatif ion klorida. Uji kualitatif ion Fe(III) menghasilkan endapan coklat yang menunjukkan bahwa ion tersebut berikatan dengan molekul-molekul air membentuk [Fe(H2O)6]3+. Berdasarkan hasil analisis, senyawa kompleks hasil sintesis terdiri dari kation [Fe(H2O)6]3+, anion [Co(NCS)4]2─, dan ion Cl─. Ion Cl─ bertindak sebagai ion pengimbang. Senyawa kompleks hasil sintesis tersebut adalah [Fe(H2O)6]2[Co(NCS)4]Cl4. Kation kompleks [Fe(H2O)6]3+ memiliki geometri oktahedral, sedangkan anion kompleks [Co(NCS)4]2- memiliki geometri tetrahedral
Pengembangan Instrumen Asesmen Pemahaman Konseptual Berorientasi HOTS (Higher Order Thinking Skills) dan Keterampilan Proses Sains pada Bahan Kajian Sifat Koligatif Larutan
ABSTRAK Wulandari, Viola Erni. 2017. Pengembangan Instrumen Asesmen Pemahaman Konseptual Berorientasi HOTS (Higher Order Thinking Skills) dan Keterampilan Proses Sains pada Bahan Kajian Sifat Koligatif Larutan. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sutrisno, M.Si., (II) Dr. Yahmin, M.Si. Kata Kunci: instrumen asesmen, HOTS, pemahaman konseptual, keterampilan proses sains, sifat koligatif larutan. Kurikulum 2013 menuntut peserta didik untuk berpikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking Skills/HOTS). Keterampilan berpikir tingkat tinggi dapat diukur dengan menggunakan penilain atau asesmen. Penilaian mencakup tiga aspek, yaitu sikap, pengetahuan, dan keterampilan, serta mengukur keterampilan berpikir tingkat tinggi. Namun demikian, fakta dilapangan masih tidak sedikit guru yang mempunyai kendala dalam menyusun asesmen berorientasi HOTS. Oleh karena itu, peneliti bermaksud mengembangkan instrumen asesmen pemahaman konseptual berorientasi HOTS dan keterampilan proses sains pada bahan kajian sifat koligatif larutan. Manfaat penelitian ini dapat digunakan oleh guru, praktisi, dan pengamat pendidikan untuk digunakan secara langsung atau tidak langsung dan digunakan sebagai prototipe untuk mengembangkan instrumen asesmen pemahaman konseptual berorientasi HOTS dan keterampilan proses sains. Model pengembangan penelitian instrumen asesmen ini menggunakan 3D dari model 4-D yang dikembangkan oleh Thiagarajan. Model 3D terdiri dari define (membatasi), design (merancang), dan develop (mengembangkan). Pada tahap define, dilakukan menganalisis pendahuluan dan menganalisis isi instrumen. Pada tahap design, dilakukan merancang isi, mendesain format, dan mendesain instrumen validasi asesmen. Pada tahap develop, dilakukan membuat instrumen asesmen, mengkaji bersama dosen pembimbing, merevisi produk hasil pengembangan, memvalidasi produk, merevisi hasil validasi, dan menghasilkan produk. Instrumen asesmen pemahaman konseptual dan keterampilan proses sains dikembangkan dengan enam bentuk soal. Instrumen asesmen pada bahan kajian sifat koligatif larutan yang dikembangkan terdiri dari 100 butir soal pemahaman konseptual dan 65 butir soal keterampilan proses sains. Instrumen asesmen pemahaman konseptual mempunyai tingkat validitas 77,2 % (valid), instrumen asesmen keterampilan proses sains mempunyai tingkat validitas 76,8 % (valid), dan tampilan instrumen asesmen mempunyai tingkat validitas 84,7 % (sangat valid). Hal ini menunjukkan bahwa instrumen asesmen valid untuk digunakan
SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS DARI CoCl2.6H2O, CrCl3.6H2O, KSCN SEBAGAI BAHAN KATODA BATERAI ION KALIUM
ABSTRAK Senyawa kompleks prussian blue like dengan dua ion logam dan ligan siano memiliki potensi sebagai bahan katoda baterai ion kalium. Senyawa kompleks KFe[Fe(CN)6] memiliki potensial reduksi dan oksidasi yang reversibel sehingga berpotensi sebagai bahan baterai ion kalium. Senyawa kompleks dari kobalt(II) klorida heksahidrat, kromium(III) klorida heksahidrat, dan kalium tiosianat belum pernah dilaporkan. Tujuan penelitian yaitu mensintesis dan mengkarakterisasi senyawa kompleks dari kobalt(II) klorida heksahidrat, kromium(III) klorida heksahidrat, kalium tiosianat dengan stoikiometri 1:6:6 serta potensinya sebagai bahan katoda baterai ion kalium. Senyawa kompleks disintesis dengan mereaksikan kobalt(II) klorida heksahidrat, kromium(III) klorida heksahidrat, dan kalium tiosianat pada perbandingan mol 1:6:6 dalam pelarut metanol. Uji titik lebur digunakan untuk mengetahui kemurnian senyawa kompleks. Analisis SEM-EDX untuk mengetahui bentuk senyawa kompleks, persentase atom (%At) dan persentase massa (%Wt) dari masing- masing unsur dalam senyawa kompleks. Analisis FT-IR untuk mengetahui pola koordinasi dari ligan tiosianato dengan ion logam dalam senyawa kompleks. Senyawa molekuler atau ionik dapat diketahui melalui uji daya hantar listrik (DHL), dan analisis voltametri siklik untuk mengetahui potensi senyawa kompleks sebagai bahan baterai ion kalium. Senyawa kompleks dari kobalt(II) klorida heksahidrat, kromium(III) klorida heksahidrat, dan kalium tiosianat menghasilkan padatan berwarna hijau kehitaman. Senyawa kompleks leleh pada suhu 250-252°C. Analisis dengan EDX diperoleh perbandingan persentase atom dari Co:Cr:K:S sebesar 1:1:1:6. Hasil uji DHL menunjukkan bahwa senyawa yang terbentuk adalah senyawa ionik. Analisis gugus fungsi dengan FT-IR mengindikasikan bahwa ion tiosianat dengan ion kromium (III) dan kobalt (II) terkoordinasi sebagai ligan jembatan. Analisis voltametri siklik menunjukkan bahwa senyawa kompleks memiliki potensial reduksi sebesar +0,5026V dan potensial oksidasi sebesar -1,1591V sehingga berpotensi sebagai bahan katoda baterai ion kalium. Kata Kunci: senyawa kompleks, kobalt(II) klorida heksahidrat, kromium(III) klorida heksahidrat, kalium tiosianat, baterai ion kaliu
SINTESIS METIL ESTER DARI MINYAK BIJI KEMIRI (Aleurites moluccana) DENGAN VARIASI KONSENTRASI KOH BERBANTUAN GELOMBANG ULTRASONIK
RINGKASAN Nasrudin, M. F. 2018. Sintesis Metil Ester dari Minyak Biji Kemiri (Aleurites moluccana) dengan Variasi Konsentrasi KOH berbantuan Gelombang Ultrasonik. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Aman Santoso, M.Si., (II) Rini Retnosari, S.Pd., M.Si. Kata kunci: minyak biji kemiri, metil ester, gelombang ultrasonik Metil ester merupakan hasil sintesis minyak nabati dengan metanol menggunakan katalis basa. Minyak nabati yang digunakan adalah minyak biji kemiri yang berpotensi sebagai biodiesel. Pada sintesis metil ester, reaksi transesterifikasi secara konvensional berlangsung 1-2 jam, tetapi dengan bantuan gelombang ultrasonik waktu reaksi dapat dipercepat menjadi 1-10 menit. Tujuan penelitian ini adalah mensintesis metil ester dari minyak kemiri (Aleurites moluccana) dengan variasi konsentrasi KOH menggunakan gelombang ultrasonik dan uji potensinya sebagai biodiesel. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Penelitian Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Sampel biji kemiri diperoleh dari daerah Ngadiluwih, Kabupaten Kediri. Penelitian dilakukan melalui 7 tahap, yaitu (1) preparasi sampel biji kemiri, (2) isolasi minyak biji kemiri menggunakan metode maserasi dengan pelarut n-heksana, (3) karakterisasi minyak kemiri, (4) penurunan kadar asam lemak bebas dengan proses esterifikasi, (5) transesterifikasi dengan variasi konsentrasi KOH, (6) karakterisasi metil ester hasil sintesis meliputi uji indeks bias, uji massa jenis, uji viskositas dan uji angka asam dibandingkan dengan SNI biodiesel, (7) identifikasi komponen metil ester menggunakan spektroskopi GC-MS. Hasil penelitian menunjukkan sintesis metil ester dengan reaksi transesterifikasi pada konsentrasi katalis KOH 0,8%; 1%; 1,5%; dan 2% w/w minyak dengan gelombang ultrasonik menghasilkan rendemen metil ester tertinggi menggunakan konsentrasi KOH 1%. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa metil ester dari minyak kemiri memiliki viskositas, massa jenis, indeks bias, dan angka asam yang memenuhi kriteria biodiesel SNI-2015
Identifikasi Miskonsepsi Peserta Didik Kelas XI MAN 1 Pasuruan pada Materi Larutan Penyangga dengan Menggunakan Soal Diagnostik Four-Tier
RINGKASAN Raharjo, Bakhtiar. 2018. Identifikasi Miskonsepsi Peserta Didik Kelas XI MAN 1 Pasuruan pada Materi Larutan Penyangga dengan Soal Diagnostik Four-Tier. Skripsi, Jurusan Kimia, FMIPA, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr., Hj. Endang Budiasih, M.S., (2) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si. Kata Kunci: miskonsepsi, larutan penyangga, soal diagnostik four-tier Materi kimia merupakan salah satu materi yang dianggap sulit oleh peserta didik dengan berbagai alasan, diantaranya karena materi kimia bersifat kompleks dan abstrak.Peserta didik cenderung memiliki pandangan yang khas tentang fenomena dan konsep ilmiah yang mereka bawa dalam pembelajaran.Akibatnya peserta didik dapat memiliki pandangan yang berbeda dengan pandangan masyarakat ilmiah yang disebut dengan miskonsepsi.Larutan penyangga adalah salah satumateri dalam kimia yang berkaitan dengan materi yang lain seperti asam basa dan kesetimbangan. Apabila peserta didik mengalami miskonsepsi pada materi asam basa dan kesetimbangan maka besar kemungkinan peserta didik tersebut juga akan mengalami miskonsepsi pada materi larutan penyangga. Salah satu instrumen untuk mengidentifikasi miskonsepsi pada peserta didik adalah instrumen diagnostikfour-tier. Pada instrument ini tingkat pertama merupakan soal pilihan ganda dengan empat pengecoh dan satu kunci jawaban. Tingkat ke dua merupakan tingkat keyakinan dalam memilih jawaban. Tingkat ke tiga merupakan alasan menjawab pertanyaan. Tingkat ke empat merupakan tingkat keyakinan dalam memilih alasan. Oleh karena itu peneliti terdorong untuk melakukan penelitian yang bertujuan untuk mengidentifikasi miskonsepsi peserta didik pada materi larutan penyangga menggunakan instrumen diagnostik four-tier. Pada penelitian ini digunakan rancangan penelitian deskriptifdankuantitatif dengan subjek penelitian 72 peserta didik kelas XI MAN 1 Pasuruan. Langkah-langkah dalam penelitian ini, yaitu (1) mengkaji literatur, (2) menyusun peta konsep dan kisi-kisi, (3) menyebarkan soal alasan terbuka, (4) menyusun butir soal, (5) Validasi isi butir soal, (6) uji coba instrumen.Hasil analisis butir soal menggunakan SPSS 23 for Windows diketahui bahwa tes diagnostic four-tier yang digunakan dalam penelitian ini memiliki kriteria reliabilitasdengankoefisien reliabilitas sebesar 0,539 yang tergolongkriteriacukupdenganrentang 0,4< r11 ≤ 0,6. Hasil analisis data penelitian menunjukkanada 8 miskonsepsi yang teridentifikasi pada materi larutan penyanggadengan rata-rata pesertadidik yang mengalamimiskonsepsi yaitu: (1) kekuatanasam-basaberdasarkanhargaKa dan Kb (23,61%), (2) sifat larutan penyangga (2,78%), (3) kapasitas larutan penyangga (18,75%), (4) komposisi larutan penyangga (24,53%), (5) pengaruh penambahan ion senama pada larutan penyangga (27,78%), (6) pH larutan penyangga (10,76%), (7) fungsi larutan penyangga dalam makhluk hidup (12,50%), dan (8) pembuatan larutan penyangga (20,14%)
Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari Kadmium Nitrat dan 1,3-bis(difenilfosfino)propana dengan Stoikiometri 1 : 1 dalam Pelarut Metanol.
Reaksi dari kadmium nitrat dan 2,2-dimetil-2-sila-1,3-bis(difenilfosfino)-propana (L2) menghasilkan senyawa kompleks molekuler [Cd(ONO2)2(L2)] dengan struktur tetrahedral terdistorsi. Pada struktur ini, L2 bertindak sebagai ligan sepit bidentat sedangkan ion nitrat bertindak sebagai ligan monodentat. 1,3-bis(difenilfosfino)propana (dppp) juga merupakan ligan bidentat. Senyawa kompleks dari kadmium nitrat dan dppp dalam pelarut metanol belum pernah dilaporkan. Tujuan penelitian ini adalah mensintesis senyawa ini dan menentukan prediksi strukturnya. Struktur senyawa yang diperoleh dapat digunakan untuk mengetahui pola koordinasi dppp dan ion nitrat pada atom pusat. Sintesis dilakukan dengan mereaksikan Cd(NO3)2 dan dppp dengan perbandingan mol 1 : 1 dalam metanol. Kristal kompleks yang diperoleh, titik leburnya diukur dengan Fischer Scientific untuk menentukan kebaruan dan kemurniannya. Analisis SEM-EDX digunakan untuk mengetahui bentuk kristal, persentase atom, dan persentase massa dari masing-masing unsur dalam senyawa. Berdasarkan persentase dari masing-masing unsur dalam senyawa, perbandingan garam dan ligan dalam senyawa dapat ditentukan beserta rumus empirisnya. Uji daya hantar listrik (DHL) dan uji kualitatif ion nitrat digunakan untuk menentukan senyawa kompleks yang terbentuk adalah senyawa molekuler atau ionik. Hasil uji tersebut digunakan untuk menentukan rumus kimia. Berdasarkan rumus ini, kemungkinan struktur senyawa kompleks dapat diprediksi. Struktur yang diterima adalah struktur yang memiliki energi bebas per ikatan terendah yang dihitung dengan program Gaussian vol.5.0. Senyawa kompleks yang diperoleh adalah padatan kristal tidak berwarna yang memiliki bentuk balok dengan titik lebur 271 ̶ 273 oC. Titik lebur kristal berada diantara titik lebur Cd(NO3)2 dan dppp, menunjukkan bahwa senyawa yang diperoleh adalah senyawa kompleks baru. Analisis EDX menunjukkan bahwa senyawa kompleks terdiri dari Cd(NO3)2 dan dppp dengan perbandingan 1 : 1 dan rumus empiris C27H26CdN2O6P2. Hasil uji DHL dan uji kualitatif ion nitrat menunjukkan bahwa senyawa yang diperoleh adalah senyawa molekuler. Berdasarkan hasil analisis, terdapat empat kemungkinan senyawa yang diperoleh, yaitu [Cd(ONO2)2(dppp)], [Cd(O2NO)2(dppp)], [(ONO2)2Cd(µ-dppp)2Cd-(ONO2)2], dan [(O2NO)2Cd(µ-dppp)2Cd(O2NO)2]. Energi bebas per ikatan senyawa tersebut berturut-turut adalah -47, -44, -34, dan -38 kJ/mol. Senyawa yang diterima adalah [Cd(ONO2)2(dppp)] dengan struktur tetrahedral terdistorsi karena memiliki energi bebas per ikatan terendah. Senyawa ini isostruktur dengan [Cd(ONO2)2(L2)]. Pada struktur ini, dppp bertindak sebagai ligan sepit bidentat dan ion nitrat bertindak sebagai ligan monodentat
Nanopartikel Magnetit Termodifikasi Asam Salisilat dan Aplikasinya Sebagai Adsorben Malasit Hijau
ABSTRAK Bakhri, Syaiful. 2017. Nanopartikel Magnetit Termodifikasi Asam Salisilat dan Aplikasinya Sebagai Adsorben Malasit Hijau, Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Fauziatul Fajaroh, M.S., (II) Dr. Nazriati, M.Si. Kata kunci: adsorpsi, asam salisilat, malasit hijau, modifikasi, nanopartikel magnetit. Nanopartikel magnetit merupakan partikel yang memiliki sifat magnetik. Nanopartikel magnetit sangat tepat dijadikan sebagai adsorben karena ukuran partikel yang berada pada skala nanometer sehingga memiliki luas permukaan besar dan menguntungkan sebagai adsorben. Proses adsorpsi menggunakan nanopartikel magnetit dapat diaplikasikan pada larutan malasit hijau yang merupakan zat warna berbahaya. Untuk meningkatkan daya adsorpsinya terhadap malasit hijau yang merupakan zat warna kationik, magnetit perlu dimodifikasi permukaannya dengan bahan yang meningkatkan muatan negatif permukaan. Bahan tersebut antara lain asam salisilat. Gugus C=O pada asam salisilat membuat permukaan magnetit makin negatif. Tujuan penelitian ini adalah (1) Memodifikasi nanopartikel magnetit dengan asam salisilat dan mengetahui karakteristiknya, (2) Mengetahui pengaruh variasi waktu kontak, konsentrasi awal adsorbat, serta suhu terhadap daya adsorpsi nanopartikel magnetit termodifikasi pada malasit hijau, (3) Mengetahui model isoterm adsorpsi, kinetika adsorpsi dan besaran termodinamika pada adsorpsi malasit hijau oleh magnetit yang dimodifikasi. Penelitian ini terdiri dari tiga tahap. Pertama, proses sintesis nanopartikel magnetit dengan metode elektrokimia. Kedua, nanopartikel magnetit hasil sintesis dimodifikassi dengan asam salisilat. Hasil sintesis kemudian dikarakterisasi dengan XRD, FTIR, SEM dan BET. Ketiga, menguji kemampuan magnetit termodifikasi mengadsorpsi malasit hijau pada berbagai variasi waktu kontak, konsentrasi awal adsorbat, dan suhu. Hasil analisis XRD menunjukkan bahwa magnetit termodifikasi mengalami penurunan kristalinitas dibandingkan yang tidak termodifikasi. Hasil analisis FT-IR menunjukkan vibrasi gugus C=O pada panjang gelombang 1440,82 cm-1 dan 1550,77 cm-1 yang membuktikan bahwa magnetit telah termodifikasi oleh asam salisilat. Hasil analisis SEM diperoleh ukuran partikel magnetit 28,24 nm dan magnetit termodifikasi 43,56 nm. Luas permukaan magnetit dengan menggunakan metode BET adalah 72 m2/g dan magnetit termodifikasi 88 m2/g. Sedangkan, daya adsorpsi magnetit termodifikasi dipengaruhi oleh waktu kontak, konsentrasi awal adsorbat dan suhu. Mekanisme adsorpsinya memenuhi model Isoterm Freundlich. Proses adsorpsi berlangsung spontan dan endotermik serta mengikuti model kinetika orde dua semu
Analisis Pemahaman Siswa SMA pada Materi Kesetimbangan Kimia Menggunakan Metode Knowledge Space Theory (KST)
ABSTRAK Nurhasanah, Hkit Fail.2018. Analisis Pemahaman Siswa SMA pada Materi Kesetimbangan Kimia Menggunakan Metode Knowledge Space Theory.Skripsi,Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Endang Budiasih, M.S. (II) Dr.Suharti, S.Pd.,M.Si. Kata kunci :tingkat pemahaman, pola pemahaman, kesetimbangan kimia, Knowledge Space Theory (KST) Keberhasilan siswa dalam mempelajari ilmu kimia ditentukan oleh penguasaan dan pemahaman siswa terhadap konsep-konsep kimia. Salah satu mata pelajaran kimia di sekolah yang harus dipelajari oleh siswa sesuai kurikulum 2013 adalah materi kesetimbangan kimia. Seorang siswa yang mengalami kesulitan atau miskonsepsi terhadap materi kesetimbangan kimia akan mengalami kesulitan dalam mempelajari materi selanjutnya yang memerlukan kemampuan awal tentang kesetimbangan kimia seperti materi asam basa, hidrolisis, larutan penyangga dan kelarutan. Beberapa masalah pada materi kesetimbangan kimia dapat dipecahkan oleh siswa jika hanya beberapa masalah lain sudah dapat dikuasai oleh siswa. Oleh karena itu pemahaman konsep kesetimbangan yang terstruktur dengan baik diperlukan untuk keberhasilan belajar materi selanjutnya yang terkait. Untuk dapat memahami konsep kesetimbangan kimia yang saling terkait dengan benar, skema atau pola pemikiran siswa harus terstruktur. Pada penelitian ini digunakan metode knowledge space theory (KST) untuk mengetahui pemahaman siswa, yaitu tingkat dan pola pemahaman. Knowledge space theory merupakan sebuah metode untuk menjelaskan bagaimana menggambarkan peta struktur pengetahuan siswa dalam memahami sesuatu. Metode KST ini menggambarkan pemahaman konsep siswa dan hubungan antar konsep, apakah siswa sudah mengaitkan konsep satu dengan konsep yang lain dan melihat dari konsep awal yang dimiliki siswa, apakah konsep yang lebih sederhana digunakan oleh siswa untuk menyelesaikan konsep yang lebih kompleks. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Penelitian dilakukan di MAN 1 Kota Malang kelas XI MIA, dengan jumlah sampel sebanyak 61 siswa. Data diperoleh melalui instrumen tes tertulis sebanyak 23 butir soal pilihan ganda beralasan, serta wawancara yang dilakukan sebagai instrumen pendukung. Butir soal ini sudah dikategorikan untuk mempermudah analisis, yang semuanya valid dengan realibilitas 0,781 (tinggi). Data hasil penelitian berupa jawaban soal siswa yang kemudian dianalisis menggunakan metode knowledge space theory (KST). Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat pemahaman siswa MAN 1 Kota Malang dalam memahami materi kesetimbangan kimia tergolong cukup (58,8 %) dan memiliki pola pemahaman yang tidak memenuhi Expert Learning Pathway (pola pemahaman ahli), yang dimulai dari konsep kesetimbangan sampai pada konsep yang lebih tinggi yakni faktor-faktor yang mempengaruhi kesetimbangan kimia. Hal ini disebabkan oleh keterbatasan pemahaman siswa mengenai materi kesetimbangan kimia, sehingga hubungan antar konsep tidak mereka ketahui (2) pola pemahaman siswa MAN 1 Kota Malang dalam menggambarkan materi kesetimbangan kimia dikelompokkan menjadi empat tipe, yaitu : (a) siswa tidak dapat memahami semua konsep dari tiap indikator tentang materi kesetimbangan kimia; (b) siswa tidak memahami keterkaitan antar konsep satu dengan konsep yang lain dari tiap indikator; (c) siswa menggunakan satu konsep untuk memahami konsep yang lain, siswa menggunakan konsep jenis-jenis kesetimbangan kimia untuk memahami konsep tetapan kesetimbangan dan quotient reaksi, dan untuk memahami konsep faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran kesetimbangan; (d) siswa dapat memahami dua konsep namun belum komplek, siswa hanya dapat menggunakan konsep jenis-jenis kesetimbangan dan konsep faktor-faktor yang mempengaruhi pergeseran kesetimbangan untuk memahami perhitungan dan penerapan kesetimbangan kimia