SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Pengembangan Instrumen Penilaian Kemampuan Berpikir Kritis Siswa SMA Kelas XII pada Materi Pokok Reaksi Redoks dan Elektrokimia
ABSTRAK Kompetensi yang harus dikuasai dalam pembelajaran sains terdapat pada Permendikbud Nomor 64 Tahun 2013, yaitu memiliki dan mengembangkan sikap ilmiah (rasa ingin tahu, logis, kritis, analitis, kreatif, jujur, dan bertanggung jawab) melalui pembelajaran sains, menganalisis dan menyelesaikan permasalahan, serta menerapkan pengetahuan yang dimiliki pada berbagai ilmu dan teknologi (Depdiknas, 2013). Oleh karena itu, dalam pembelajaran sains termasuk mata pelajaran kimia dituntut untuk memiliki kemampuan berpikir kritis. Pengembangan kemampuan berpikir kritis perlu dilakukan sejalan dengan pengembangan instrumen penilaian untuk mengukurnya. Saat ini, beberapa instrumen penilaian berupa soal-soal kimia kurang menggambarkan berpikir kritis, seperti pada buku latihan soal kimia oleh Rahayu (2015), Putri (2015), dan Zulfiana (2015). Selain itu, masih jarang guru yang menggunakan instrumen penilaian terhadap hasil belajar siswa yang mengacu kepada proses kemampuan berpikir kritis siswa. Dengan demikian, peneliti bermaksud untuk mengembangkan instrumen penilaian kemampuan berpikir kritis siswa SMA pada materi reaksi redoks dan elektrokimia. Instrumen penilaian kemampuan berpikir kritis dikembangkan dengan mengacu pada 12 indikator berpikir kritis menurut Ennis (1985, 2011). Pengembangan instrumen penilaian ini mengikuti model Research & Development (R&D) menurut Borg dan Gall yang hanya sampai tahap kelima. Desain uji cobanya meliputi validasi kelayakan instrumen penilaian menggunakan angket validasi oleh validator dosen dan guru. Selanjutnya, butir soal pilihan ganda dan uraian diujicobakan pada 35 siswa pada salah satu SMA di Kabupaten Malang yang telah memperoleh materi reaksi redoks dan elektrokimia. Data yang diperoleh diolah dengan menghitung persentase angket hasil validasi kelayakan dan uji analisis soal. Uji analisis soal meliputi uji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya beda. Hasil penelitian menunjukkan bahwa instrumen penilaian kemampuan berpikir kritis yang dikembangkan termasuk dalam kategori sangat layak. Uji validitas 25 soal pilihan ganda menunjukkan bahwa 20 soal dikategorikan valid dengan reliabilitas sebesar 0,850. Sedangkan untuk 16 soal uraian, menunjukkan bahwa 12 soal dikategorikan valid dengan reliabilitas 0,702. 9 soal (5 soal pilihan ganda dan 4 soal uraian) yang tidak valid tetap digunakan, akan tetapi dilakukan revisi pada soal tersebut. Uji tingkat kesukaran 25 soal pilihan ganda menunjukkan persentase masing-masing kriteria adalah 4% soal mudah, 96% soal sedang, dan 0% soal sukar. Sedangkan untuk 16 soal uraian, menunjukkan ii persentase masing-masing kriteria adalah 37% soal mudah, 63% sedang, dan 0% soal sukar. Uji daya beda 25 soal pilihan ganda menunjukkan persentase masingmasing kriteria adalah 12% sangat jelek, 4% jelek, 8% cukup baik, 60% baik, dan 16% baik sekali. Sedangkan untuk 16 soal uraian, menunjukkan persentase masing-masing kriteria adalah 13% sangat jelek, 25% jelek, 56% cukup baik, dan 6% baik. Berdasarkan hasil uji analisis soal yang meliputi uji validitas, reliabilitas, tingkat kesukaran, dan daya beda, jumlah butir soal pilihan ganda dan uraian yang memenuhi kriteria baik masing-masing adalah 20 soal dan 7 soal. Butir soal yang memenuhi kriteria baik adalah yang valid; memiliki tingkat kesukaran sedang; dan memiliki daya beda cukup baik hingga baik sekali
Pengembangan Bahan Ajar Materi Kimia Unsur Golongan Alkali dan Alkali Tanah Berbasis Learning Cycle 5E untuk Peserta Didik SMA/MA Kelas XII
ABSTRAK Erlina, Adelia. 2018.Pengembangan Bahan Ajar Materi Kimia Unsur Golongan Alkali dan Alkali Tanah Berbasis Learning Cycle 5E untuk Peserta Didik SMA/MA Kelas XII. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Endang Budiasih, M.S. (II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si. Kata kunci : bahan ajar, Learning Cycle 5E, alkali dan alkali tanah Kimia unsur merupakan salah satu materi yang dipelajari di SMA kelas XII. Berdasarkan hasil observasi pada peserta didik, peserta didik menyatakan bahwa kimia unsur adalah materi yang sulit karena terdapat banyak hafalan. Guru dan calon guru menyatakan bahwa materi kimia unsur merupakan materi yang sulit dalam hal mengajarkannya. Salah satu materi yang dibahas pada kimia unsur adalah golongan alkali dan alkali tanah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menghasilkan bahan ajar materi kimia unsur golongan alkali dan alkali tanah berbasis Learning Cyle 5E. Penelitian ini menggunakan model pengembangan 4D yang dikemukakan oleh Thiagarajan, Semmel, dan Semmel pada tahun 1974 yang terdiri dari empat tahap yaitu define, design, develop, dan disseminate. Pengembangan pada penelitian ini hanya dilakukan sampai tahap develop. Bahan ajar yang dihasilkan divalidasi oleh tiga validator ahli, yaitu satu dosen kimia dan dua guru SMA/MA. Setelah itu, dilakukan uji keterbacaan pada sepuluh orang peserta didik kelas XII MAN 4 Kediri. Data yang dihasilkan adalah data kuantitatif dari skor penilaian dan data kualitatif dari komentar dan saran. Data-data tersebut dianalisis secara deskriptif. Bahan ajar terdiri dari buku cetak guru dan buku cetak peserta didik. Rata-rata skor kelayakan dari buku guru sebesar 87,3 dan dikategorikan sangat layak. Rata-rata skor kelayakan dari buku peserta didik sebesar 87,8 dan dikategorikan sangat layak. Sedangkan rata-rata skor uji keterbacaan sebesar 87. Berdasarkan penilaian tersebut, bahan ajar yang dikembangkan dikategorikan sangat layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran
Pengembangan Perangkat Pembelajaran Asam-Basa dan Indikator Bahan Alam Berbasis Inkuiri Terbimbing
ABSTRAK Fitriani, Indri Budi. 2018. Pengembangan Perangkat Pembelajaran Asam-Basa dan Indikator Bahan Alam Berbasis Inkuiri Terbimbing. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Fariati, M.Sc dan (II) Drs. Dermawan Afandy, M.Pd. Kata kunci: perangkat pembelajaran, asam-basa dan indikator bahan alam, inkuiri terbimbing Asam-basa merupakan salah satu konsep dasar kimia di Sekolah Menengah Atas (SMA). Peserta didik yang mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal (KKM) pada Ulangan Harian (UH) asam-basa dari salah satu SMA Negeri di Malang hanya 58,33%, hal tersebut menunjukkan bahwa peserta didik masih memiliki pemahaman konsep asam-basa yang cukup rendah. Pemahaman konsep yang rendah dapat diatasi dengan salah satu pembelajaran yang berpusat pada peserta didik yakni inkuiri terbimbing dan ketersediaan perangkat pembelajaran yang sesuai. Tujuan penelitian adalah (1) menghasilkan perangkat pembelajaran asam-basa dan indikator bahan alam berbasis inkuiri terbimbing dan (2) mengetahui kelayakannya menggunakan data hasil validasi isi dan uji keterbacaan. Pengembangan perangkat pembelajaran asam-basa dan indikator bahan alam berbasis inkuiri terbimbing menggunakan model 4D. Perangkat pembelajaran divalidasi isi oleh seorang dosen kimia FMIPA Universitas Negeri Malang (UM), dua orang guru kimia SMA dan diuji keterbacaan kepada 15 orang peserta didik kelas XI SMAN 9 Malang. Data yang diperoleh adalah data kuantitatif berupa skor penilaian angket validasi isi dan uji keterbacaan yang dianalisis dengan teknik analisis kuantitatif. Data kualitatif yaitu komentar dan saran yang dianalisis dengan teknik deskriptif. Produk hasil pengembangan berupa perangkat pembelajaran asam-basa dan indikator bahan alam berbasis inkuiri terbimbing dalam bentuk bahan ajar pegangan guru dan peserta didik. Rata-rata persentase hasil validasi isi dari validator sebesar 89,35% untuk bahan ajar pegangan guru dan bahan ajar pegangan peserta didik 90,95%. Persentase kelayakan dari hasil uji keterbacaan kelas XI SMAN 9 Malang sebesar 82,55%. Hasil validasi isi dan uji keterbacaan menunjukkan bahwa perangkat pembelajaran memiliki kriteria kelayakan sangat layak dan dapat digunakan sebagai sumber belajar
Keterampilan Argumentasi Ilmiah Peserta Didik Kelas XI IPA pada Materi Hidrolisis Garam
ABSTRAK Fitriana, Dien . 2018. Keterampilan Argumentasi Ilmiah Peserta Didik Kelas XI IPA pada Materi Hidrolisis Garam. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Muntholib, S.Pd., M.Si., (II) Dr. Yudhi Utomo, M.Si. Kata kunci : argumen, keterampilan argumentasi ilmiah, hidrolisis garam. Argumentasi dalam sains atau argumentasi ilmiah bukan suatu gagasan sosial yang melibatkan konflik tetapi merupakan wacana logis yang bertujuan untuk memperkuat kesimpulan menggunakan bukti dan penalaran ilmiah. Peserta didik yang memiliki keterampilan argumentasi yang baik dapat membangun pengetahuannya secara utuh dan menerapkannya untuk menjelaskan fenomena maupun kontroversi dalam kehidupan sehari-hari. Penelitian ini bertujuan untuk mengeksplorasi dan menginterpretasi keterampilan berargumentasi ilmiah peserta didik yang meliputi keterampilan menentukan klaim, memaparkan bukti, dan memberikan alasan pada materi hidrolisis garam. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian adalah metode survei. Analisis validitas dan reliabilitas soal dilakukan melalui tahap uji coba dengan melibatkan 35 peserta didik. Sedangkan identifikasi keterampilan argumentasi ilmiah dilakukan terhadap 61 peserta didik. Instrumen yang digunakan adalah tes tertulis keterampilan argumentasi ilmiah yang terdiri dari 12 butir soal yang dikembangkan peneliti dengan mengacu pada asesmen Walker (2011) dan Sampson et al., (2016). Instrumen telah valid secara isi sebesar 86,7% dan valid secara butir dengan reliabilitas Cronbach’s Alpha tinggi sebesar 0,730. Hasil survei menunjukkan bahwa skor rata-rata keterampilan argumentasi ilmiah peserta didik adalah 50,2% (cukup) dengan rincian keterampilan (a) menentukan klaim dalam kategori baik (74,2%), (b) memaparkan bukti dalam kategori cukup (52,1%), dan (c) memberikan alasan ilmiah dalam kategori kurang (25,0%). Secara umum, peserta didik belum mampu memaparkan bukti dan memberikan alasan yang spesifik untuk mendukung klaim yang dipilih serta belum mampu membedakan item yang termasuk bukti dan alasan
Skrining Turunan Flavonoid sebagai Kandidat Inhibitor Protease nsP2 dari Virus Chikungunya menggunakan Molecular Docking
ABSTRAK Faqih, Khoirul. 2018. Skrining Turunan Flavonoid sebagai Kandidat Inhibitor Protease nsP2 dari Virus Chikungunya menggunakan Molecular Docking. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Yahmin, S.Pd., M.Si., (II) Dr. Suharti, S.Pd., M.Si. Kata Kunci: flavonoid, protease nsP2, virus chikungunya, molecular docking Protease nsP2 dari virus chikungunya merupakan salah satu protein non struktural. Protein non struktural memainkan peranan penting dalam replikasi virus chikungunya. Hal tersebut menjadikan protease nsP2 berpotensi sebagai target yang harus diinhibisi karena peranannya yang sangat penting dalam replikasi genom dari virus chikungunya. Inhibisi protease nsP2 akan menghambat perkembangbiakan virus yang berakibat pada pemutusan siklus hidup virus. Salah satu senyawa yang berpotensi sebagai inhibitor adalah senyawa turunan flavonoid. Senyawa turunan flavonoid dipilih sebagai inhibitor karena telah terbukti sebagai antivirus untuk virus influenza, herpes, dan demam berdarah. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan senyawa turunan flavonoid yang berpotensi sebagai inhibitor protease nsP2 dari virus chikungunya dengan metode molecular docking dan mengkaji interaksi apa saja yang terjadi antara senyawa turunan flavonoid hasil skrining dengan protease nsP2 dari virus chikungunya. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan cara membandingkan nilai binding affinity hasil molecular docking dan visualisasi molekul antara senyawa turunan flavonoid dengan protease nsP2 dari virus chikungunya. Rancangan dalam penelitian ini diawali dengan tahap studi literatur yang relevan. Molecular docking dilakukan dengan software PyRx 0.8. Senyawa kelompok flavonoid yang diuji terdiri dari enam kelompok, yaitu flavon, flavonol, isoflavonoid, flavanon, kalkon, dan antosianin yang berpotensi sebagai inhibitor protease nsP2 dari virus chikungunya. Dari enam kelompok flvanoid tersebut diambil empat senyawa berdasarkan nilai binding affinity terbaik. Masing-masing senyawa tersebut yaitu, sianidin, kation delpinidin, malvidin, peonidin, arbutin, kalkon naringenin, phloretin, phlorizin, baicalein, galangin, luteolin, rhoifolin, kaempferol, myricetin, quersetin, rutin, hesperidin, hesperitin, naringenin, naringin, daidzin, genistein, genistin, dan glisitein. Visualisasi molekul hasil proses molecular docking dengan software Edu PyMOL, LIGPLOT+, dan Dicsovery Studio digunakan untuk mengkaji interaksi apa saja yang terjadi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa setelah melalui proses molecular docking menggunakan software PyRx 0.8, senyawa turunan flavonoid yang berpotensi sebagai inhibitor dari enam kelompok flavonoid, yaitu hesperidin, rhoifolin, myricetin, genistin, peonidin, phlorizin yang mempunyai nilai root means square deviation (RMSD) senilai 0Å dengan nilai binding affinity berturut-turut -9,4; -8,5; -8,1; -7,9; -7,6; dan -6,9 kkal/mol. Hasil visualisasi molekul menggunakan software Edu PyMOL, LIGPLOT+, dan Dicsovery Studio secara umum menunjukkan terjadinya interaksi hidrofobik dan terbentuknya ikatan hidrogen. Berdasarkan hal tersebut dapat disimpulkan bahwa hesperidin yang merupakan golongan flavanon memiliki potensi yang lebih dari senyawa golongan flavonoid yang lain dengan nilai binding affinity sebesar -9,4 kkal/mol
Pengembangan Instrumen Asesmen Pemahaman Konseptual Materi Reaksi Redoks dan Korosi Berbasis Variasi Jenis Soal
ABSTRAK Selama ini, untuk melihat keberhasilan peserta didik disekolah digunakan tipe soal pilihan tunggal dengan memilih satu jawaban yang paling benar maupun soal uraian. Instrumen dengan tipe pilihan tunggal juga sering dijumpai pada ujian nasional, ujian formatif, dan ujian sumatif.Selain itu, bentuk instrumen lain yang sudah banyak digunakan untuk mendiagnosis pilihan tunggal yaitu disertai dengantwo tier, dan/ atauthree tier. Bentuk soal pilihan tunggal memungkinkan peserta didik memilih jawaban dengan cara menebak. Pengembangan instrumen ini dilakukan dengan mencoba membentuk instrumen lain untuk menghindari faktor menebak. Dalam rangka melengkapi beragam jenis soal yang telah disebutkan dicoba dikembangkan instrumen asesmen pemahaman konseptual berbasis variasi jenis soal. Salah satu materi yang dikembangkan yaitu reaksi redoks dan korosi. Tujuan dari pengembangan ini menghasilkan butir-butir soal dari ragam jenis soal dalam rangka mengurangi faktor menebak. Pengembangan instrumen asesmen ini menggunakan 3D dari model 4D yang dikembangkan oleh Thiagarajan. 3D tersebut terdiri dari define(membatasi), design(merancang), dandevelop (mengembangkan). Untuk D yang keempat yaitu disseminate (mendiseminasikan) tidak dilakukan. Instrumen asesmen pemahaman konseptual berbasis variasi jenis soal dikembangkan dengan empat bentuk soal yaitubenar-salah, pilihan tunggal (memilih satu jawaban yang paling benar), hubungan antar hal (sebab-akibat), dan jawaban singkat.Tingkat validitas instrumen diperoleh dari hasil validasi oleh satu dosen kimia dan dua guru kimia. Hasil dari pengembangan instrumen asesmen pemahaman konseptual pada materi reaksi redoks dan korosi berbasis variasi jenis soalterdiri dari 144 butir soal pemahaman konseptual. Masing-masing jenis soal sebanyak 36 butir soal yang terdiri dari soal benar-salah, pilihan tunggal (memilih satu jawaban yang paling benar), hubungan antar hal (sebab-akibat), dan jawaban singkat. Tingkat validitas instumen hasil pengembangan ini adalah sangat valid (93,74)
Kajian Leaching Metode Bureau Community Of Reference (BCR) Microwave Teroptimasi untuk Analisis Cu pada Sedimen Wilayah Pantai Tiga Warna
ABSTRAK Suci, Cahyanti. 2018. Kajian Leaching Metode Bureau Community Of Reference (BCR) Microwave Teroptimasi untuk Analisis Cu pada Sedimen Wilayah Pantai Tiga Warna. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Sc.Anugrah Ricky Wijaya, S.Si., M.Sc., (II) Dr. Irma Kartika Kusumaningrum, S.Si., M.Si. Kata Kunci: distribusi, fraksinasi, metode BCR, sedimen, tembaga (Cu). Perairan Tiga Warna merupakan bagian dari wilayah perairan laut yang berhubungan langsung dengan Pelabuhan Sendang Biru dan tempat pelelangan ikan. Aktivitas dari tempat pelelangan ikan serta industri batik disekitar perairan Tiga Warna dapat menjadi kontribusi logam berat Cu. Sedimen dapat menjadi media yang representatif untuk menentukan kandungan Cu sebagai monitor pencemaran air laut. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk menganalisis kandungan Cu di sedimen Perairan Tiga Warna. Metode BCR merupakan salah satu metode untuk mengetahui fraksinasi dan distribusi Cu dalam sedimen. Penelitian ini menggunakan metode BCR yang dimodifikasi menggunakan microwave dengan daya dan waktu yang divariasi (variasi daya 10%, 30%, 50% dan waktu 1, 2 dan 3 menit). Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui kondisi optimum daya dan waktu microwave dalam fraksinasi logam berat, (2) mengetahui tingkat akurasi dan presisi metode BCR microwave dalam me-leaching logam berat, (3) mengetahui perbandingan fraksi keterikatan logam berat antara sedimen Mangrove dan sedimen Tiga Warna, dan (4) mengetahui distribusi logam Cu dalam sedimen dan tingkat kontaminasinya. Dari penelitian yang telah dilakukan, didapatkan hasil total daya dan waktu untuk fraksi BCR microwave menunjukkan kondisi optimum tiap fraksi. Hasil analisis ditinjau dari %recovery didapatkan nilai sesuai rentang standar akurasi pada sedimen wilayah Pantai Tiga Warna. Konsentrasi keenam lokasi kawasan Pantai Tiga Warna tersebut berada dibawah nilai ambang batas, sehingga sedimen di kawasan Pantai Tiga Warna dikatakan tidak terkontaminasi
Kajian Leaching Metode Bureau Community Of Reference (BCR) Microwave Teroptimasi untuk Analisis Cu pada Sedimen Wilayah Pantai Tiga Warna
ABSTRAK Suci, Cahyanti. 2018. Kajian Leaching Metode Bureau Community Of Reference (BCR) Microwave Teroptimasi untuk Analisis Cu pada Sedimen Wilayah Pantai Tiga Warna. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr. Sc.Anugrah Ricky Wijaya, S.Si., M.Sc., (II) Dr. Irma Kartika Kusumaningrum, S.Si., M.Si. Kata Kunci: distribusi, fraksinasi, metode BCR, sedimen, tembaga (Cu). Perairan Tiga Warna merupakan bagian dari wilayah perairan laut yang berhubungan langsung dengan Pelabuhan Sendang Biru dan tempat pelelangan ikan. Aktivitas dari tempat pelelangan ikan serta industri batik disekitar perairan Tiga Warna dapat menjadi kontribusi logam berat Cu. Sedimen dapat menjadi media yang representatif untuk menentukan kandungan Cu sebagai monitor pencemaran air laut. Oleh karena itu, perlu dilakukan penelitian untuk menganalisis kandungan Cu di sedimen Perairan Tiga Warna. Metode BCR merupakan salah satu metode untuk mengetahui fraksinasi dan distribusi Cu dalam sedimen. Penelitian ini menggunakan metode BCR yang dimodifikasi menggunakan microwave dengan daya dan waktu yang divariasi (variasi daya 10%, 30%, 50% dan waktu 1, 2 dan 3 menit). Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengetahui kondisi optimum daya dan waktu microwave dalam fraksinasi logam berat, (2) mengetahui tingkat akurasi dan presisi metode BCR microwave dalam me-leaching logam berat, (3) mengetahui perbandingan fraksi keterikatan logam berat antara sedimen Mangrove dan sedimen Tiga Warna, dan (4) mengetahui distribusi logam Cu dalam sedimen dan tingkat kontaminasinya. Dari penelitian yang telah dilakukan, didapatkan hasil total daya dan waktu untuk fraksi BCR microwave menunjukkan kondisi optimum tiap fraksi. Hasil analisis ditinjau dari %recovery didapatkan nilai sesuai rentang standar akurasi pada sedimen wilayah Pantai Tiga Warna. Konsentrasi keenam lokasi kawasan Pantai Tiga Warna tersebut berada dibawah nilai ambang batas, sehingga sedimen di kawasan Pantai Tiga Warna dikatakan tidak terkontaminasi
Pengaruh Pembelajaran Learning Cycle 5E berbantuan Kartu Berpasangan Terhadap Keaktifan dan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Malang pada Materi Larutan Penyangga
ABSTRAK Maghfirah, Inayatul. 2018. Pengaruh Pembelajaran Learning Cycle 5E berbantuan Kartu Berpasangan Terhadap Keaktifan dan Hasil Belajar Peserta Didik Kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Malang pada Materi Larutan Penyangga. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing : (1) Prof. Drs. Suhadi Ibnu, M.A., Ph.D. (II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd.,M.Si. Kata Kunci: Learning Cycle 5E, kartu berpasangan, hasil belajar, keaktifan. Materi larutan penyangga merupakan salah satu konsep yang dianggap sulit dalam ilmu kimia. Hal ini disebabkan larutan penyangga bersifat abstrak dan memerlukan perhitungan matematik dalam memahaminya. Peserta didik mengalami kesulitan dalam mempelajari materi tersebut sehingga diperlukan model pembelajaran yang berpusat pada peserta didik. Model yang baik dapat membangun ketrampilan proses peserta didik dan membentuk karakter peneliti pada diri peserta didik. Salah satu model pembelajaran yang dapat digunakan adalah Learning Cycle 5E (LC 5E). Model LC 5E menuntut peserta didik aktif dalam membangun struktur kognitifnya melalui interaksinya dengan lingkungan sekitar. Namun, keaktifan peserta didik masih menjadi masalah di kelas. Solusi dari permasalahan tersebut adalah menerapkan model pembelajaran yang dapat meningkatkan keaktifan peserta didik ketika berdiskusi. Salah satunya dengan menerapkan permainan kartu berpasangan. Teknik ini merupakan bagian dari Model Make a Match. Peserta didik dituntut mencari pasangan dengan mencocokkan kartu yang dipegang oleh salah satu peserta didik dengan mencari kartu jawaban yang cocok. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh pembelajaran Learning Cycle 5E berbantuan kartu berpasangan terhadap keaktifan dan hasil belajar peserta didik kelas XI SMA Muhammadiyah 1 Malang pada materi larutan penyangga. Penelitian ini menggunakan rancangan eksperimen semu. Penelitian ini menggunakan Posttest Only Control Group Design. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh peserta didik kelas XI jurusan IPA di SMA Muhammadiyah 1 Malang yang terdiri dari 2 kelas. Kedua kelas digunakan sebagai sampel penelitian dengan penetapan kelas eksperimen dan kelas kontrol melalui pengundian. Data keaktifan dan hasil belajar peserta didik dianalisis dengan analisis statistika menggunakan uji t. Analisis statistika tersebut dilakukan dengan bantuan SPSS 16.0 for Windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa: 1) Hasil belajar peserta didik yang dibelajarkan dengan LC 5E berbantuan kartu berpasangan lebih tinggi daripada peserta didik yang dibelajarkan LC 5E. 2) Keaktifan peserta didik yang dibelajarkan dengan LC 5E berbantuan kartu berpasangan lebih tinggi daripada peserta didik yang dibelajarkan LC 5E. Hasil belajar kognitif belajar peserta didik kelas yang dibelajarkan dengan LC 5E berbantuan kartu berpasangan ( 72,53) lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang dibelajarkan LC5E tanpa bantuan kartu berpasangan ( 58,76). Keaktifan peserta didik yang dibelajarkan dengan LC 5E berbantuan kartu berpasangan ( 82,65) lebih tinggi dibandingkan dengan kelas yang dibelajarkan LC 5E tanpa bantuan kartu berpasangan ( 74,00)
Pengaruh Model Pembelajaran Problem Solving Terhadap Hasil Belajar dan Kemampuan Berpikir Tingkat Tinggi Siswa Kelas X SMA Laboratorium UM pada Materi Stoikiometri.
ABSTRAK Stoikiometri merupakan materi dasar kimia yang kompleks secara konseptual maupun matematis. Sebagian besar permasalahan dalam stoikiometri membutuhkan pemikiran tingkat tinggi dari siswa. Upaya yang dilakukan adalah menggunakan model pembelajaran Problem Solving yang sesuai dengan karakteristik materi stoikiometri. Problem Solving merupakansalah satu alternatif model pembelajaran inovatif yang dikembangkan berlandaskan paradigma konstruktivistik. Adapun tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui: (1) keterlaksanaan proses pembelajaran pada materi stoikiometri kelas X SMA Laboratorium UM yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaran problem solving dan model pembelajarankonvensional, (2) ada tidaknya perbedaan hasil belajar siswa pada materi stoikiometri kelas X SMA Laboratorium UM yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaranproblem solving dan konvensional, (3) ada tidaknya perbedaan kemampuan berpikir tingkat tinggisiswa pada materi stoikiometri kelas X SMA Laboratorium UM yang dibelajarkan menggunakan model pembelajaranproblem solving dan konvensional. Penelitian ini menggunakan rancangan quasi experimental dengan posttest only control group design. Populasi penelitian ini adalah semua siswa kelas X IPA SMA Laboratorium UM. Sampel penelitian ditentukan berdasarkan undian dan diperoleh 2 kelas, yaitu kelasX IPA 2 sebagai kelas eksperimen yang dibelajarkan dengan model pembelajaran Problem Solving dan kelas X IPA 3 sebagai kelas kontrol yang dibelajarkan dengan konvensional. Instrumen yang digunakan dalam penelitian meliputi instrumen pembelajaran dan instrumen pengukuran. Analisis data dilakukan dengan analisis deskriptif dan uji-t pada taraf signifikansi 5% dengan bantuan program SPSS Versi 16.0 for windows. Hasil penelitian menunjukkan bahwa : (1) Keterlaksanaan model pembelajaran Problem Solving memiliki rata-rata sebesar 96,3% dan pembelajaran konvensional sebesar 95,96%. (2) Ada perbedaan hasil belajar kognitif antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaranProblem Solving dan Konvensional. Rata-rata hasil belajar siswa secara berturut-turut adalah 85,2, dan 78,2. (3) Ada perbedaan kemampuan berpikir tingkat tinggi antara siswa yang dibelajarkan dengan model pembelajaranProblem Solving dan Konvensional. Rata-rata hasil kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa secara berturut-turut adalah 74,00 dan62,67. Berdasarkan hasil penelitian, maka dapat disimpulkan bahwa pembelajaran dengan model pembelajaran Problem Solving berpengaruh pada hasil belajar siswa dan kemampuan berpikir tingkat tinggi siswa