SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
1785 research outputs found
Sort by
Delignifikasi Adsorben Dari Batang Eceng Gondok (Eichornia crassipes) Untuk Adsorpsi Nikel(II) Menggunakan Metode Batch
ABSTRAK RINGKASAN Purnomo, Reza Oktovia. 2017. Delignifikasi Adsorben Dari Batang Eceng Gondok (Eichhornia crassipes) Untuk Adsorpsi Nikel (II) Menggunakan Metode Batch. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Yudhi Utomo, M.Si. (2) Drs. Mohammad Sodiq Ibnu, M.Si. Kata kunci: adsorpsi, eceng gondok, nikel Ion nikel merupakan salah satu ion yang mendominasi pencemaran lingkungan karena konsentrasinya yang tinggi. Perlu dilakukan penanganan untuk mengurangi kadar ion nikel pada lingkungan, salah satunya dengan proses adsorpsi. Adsorben yang digunakan dalam proses adsorpsi dapat diperoleh dari tanaman yang mempunyai kadar selulosa yang tinggi. Tanaman eceng gondok (Eichornia crassipes) merupakan tanaman air yang mempunyai kadar selulosa yang tinggi. Kandungan selulosa dalam eceng gondok ini dapat dimanfaatkan untuk mengadsorpsi logam berat. Penelitian ini bertujuan untuk (1) membuat dan mengkarakterisasi adsorben batang eceng gondok sebelum dan sesudah delignifikasi, (2) menentukan pengaruh delignifikasi adsorben batang eceng gondok terhadap adsorpsi Ni(II), (3) menentukan waktu kontak optimum adsorpsi Ni(II) pada adsorben batang eceng gondok dengan variasi waktu kontak selama 30, 60, 90, dan 120 menit, (4) menentukan konsentrasi nikel yang terserap pada adsorben sebelum dan sesudah delignifikasi, dan (5) menentukan kapasitas adsorpsi adsorben batang eceng gondok. Adsorben batang eceng gondok dibuat dari batang eceng gondok yang telah kering kemudian dibuat serbuk dengan ukuran partikel 100 mesh. Pembuatan adsorben delignifikasi diawali dengan proses delignifikasi menggunakan H2O2 2% selama 1,5 jam pada suhu 600C kemudian dikeringkan dalam oven selama 24 jam pada suhu 600C. Residu yang diperoleh direndam dalam NaOH 2,5% selama 60 menit pada suhu 121oC. Adsorben sebelum dan sesudah delignifikasi ini kemudian dikarakterisasi dengan analisis FT-IR, uji kadar air dan kadar abu untuk mengetahui kemampuan daya serap adsorben. Hasil uji FT-IR batang eceng gondok membuktikan bahwa pada batang eceng gondok terdapat gugus –OH, -CH, -C=C, -C=O, pada adsorben delignifikasi tidak terdapat gugus –C=Ctetapi masih terdapat gugus –C=O. Hal ini menandakan bahwa lignin dan hemiselulosa pada eceng gondok berkurang dengan adanya perlakuan kimiawi. Adsorben sebelum delignifikasi memiliki kadar air sebesar 6,8% dan kadar abu sebesar 19,67%, adsorben delignifikasi memiliki kadar air sebesar 4,9% dan kadar abu sebesar 11,01%. Kapasitas adsorpsi adsorben sebelum delignifikasi sebesar 0,44 mg/g sedangkan adsorben delignifikasi memiliki kapasitas adsorpsi sebesar 0,69 mg/g. Adsorben delignifikasi lebih efektif digunakan dalam proses adsorpsi nikel dibandingkan adsorben tanpa delignifikasi
EKSTRAKSI, IDENTIFIKASI, DAN UJI AKTIVITAS SEBAGAI ANTIOKSIDAN DAN SUNSCREEN EKSTRAK DESTILAT PREMIUM DAN KLOROFORM SEMANGKA MERAH DAN KUNING (Citrullus lanatus)
ABSTRAK Khayati, Fauziah Nur. 2018. Ekstraksi, Identifikasi, dan Uji Aktivitas sebagaiAntioksidan dan Sunscreen Ekstrak Destilat Premium dan KloroformSemangka Merah dan Kuning (Citrullus lanatus). Skripsi, JurusanKimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, UniversitasNegeri Malang. Pembimbing (I) Dr. H. Sutrisno, M.Si., (II) Dra. DedekSukarianingsih, M.Pd., M.Si. Kata Kunci: semangka merah, semangka kuning, antioksidan, sunscreen, ekstrak destilat premium, ekstrak kloroform. Buah berwarna mengandung senyawa organik berupa zat warna yang berperan memberikan warna alami pada buah. Salah satu jenis buah yang banyak dikonsumsi oleh masyarakat yaitu semangka. Buah semangka yang banyak dibudidayakan di Indonesia adalah semangka merah dan kuning. Perbedaan warna pada kedua jenis semangka menunjukkan kandungan senyawa yang berbeda pada buah tersebut. Zat berwarna pada senyawa organik memiliki struktur ikatan ganda terkonjugasi. Pada umumnya senyawa yang memiliki ikatan ganda terkonjugasi mudah mengalami oksidasi. Senyawa yang mudah mengalami oksidasi berpotensi sebagai antioksidan dan berpotensi sebagai sunscreen. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) mengekstraksi zat pada buah semangka merah dan kuning (Citrullus lanatus); (2) mengkarakterisasi zat ekstrak destilat premium dan ekstrak kloroform semangka merah dan kuning (Citrullus lanatus); (3) menentukan aktivitas antioksidan dan sunscreen zat ekstrak destilat premium dan ekstrak kloroform semangka merah dan kuning (Citrullus lanatus). Penelitian dilakukan secara eksperimen di laboratorium yang terdiri dari empat tahap. Tahap 1: preparasi sampel, yaitu: pengumpulan, pemisahan biji, pemotongan, pemerasan, dan pengeringan. Tahap 2: ekstraksi zat dalam sampel dengan cara maserasi dan teknik soxhlet. Tahap 3: karakterisasi dan identifikasi zat hasil ekstraksi yang meliputi wujud, warna, kelarutan, derajat ketidakjenuhan, titik lebur, interpretasi spektra UV-Vis dan IR. Tahap 4: uji aktivitas zat hasil ekstraksi sebagai antioksidan dan sunscreen. Ekstrak destilat premium semangka merah berwujud padatan lunak berwarna merah, larut dalam etil asetat; memiliki gugus O-H, C=O ester, dan terdapat ikatan C=C alkena. Ekstrak destilat premium semangka kuning berwujud padatan lunak berwarna kuning; larut dalam etil asetat dan aseton; memiliki gugus O-H, C=O ester, dan terdapat ikatan C=C alkena. Ekstrak kloroform semangka merah berwujud padatan lunak berwarna merah; larut dalam aseton dan etil asetat; memiliki gugus O-H, C=O ester, dan terdapat ikatan C=C alkena. Ekstrak kloroform semangka kuning berwujud padatan lunak berwarna kuning kecoklatan dengan titik lebur 35-50°C; larut dalam etil asetat; memiliki gugus O-H, C=O aldehida, dan terdapat ikatan C=C alkena, dan C=C aromatik. Ekstrak destilat premium semangka merah dan kuning, ekstrak kloroform semangka merah dan kuning tidak memiliki aktivitas antioksidan (KP50 11.102,79 ; 11.919,97 ppm; 4767,89 ppm; dan 7952,62 ppm) dan sunscreen (SPF 0,5825; 1,3635; 1,9115; dan 1,2777)
EKSTRAKSI, IDENTIFIKASI, DAN UJI AKTIVITAS SEBAGAI ANTIOKSIDAN DAN SUNSCREEN EKSTRAK DESTILAT PREMIUM DAN KLOROFORM PAPRIKA MERAH DAN KUNING (Capsicum annumL.)
ABSTRAK Khilmi, Natasha. 2018. Ekstraksi, Identifikasi, dan Uji Aktivitas sebagai Antioksidan dan Sunscreen Ekstrak Destilat Premium dan Kloroform Paprika Merah dan Kuning (Capsicum annum L.). Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. H. Sutrisno, M.Si., (II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si. Kata Kunci: antioksidan, sunscreen, ekstrak destilat premium, ekstrak kloroform, paprika merah dan kuning. Paprika merah dan kuning(Capsicum annum L.)merupakan salah satu buah berwarna yang cukup populer dikalangan masyarakat. Zat warna pada bahan organik menunjukkan adanya ikatan ganda C=C terkonjugasi lebih dari empat.Penelitian sebelumnya oleh Tundis, et al (2013) menyebutkan bahwa ekstrak etanol paprika memiliki aktivitas antioksidan yang diukur menggunakan metode peredaman DPPH. Penelitianini menggunakan pelarut dengan kepolaran rendah yaitu destilat premium dan kloroform. Penelitian inibertujuanuntuk(1) mengekstraksi zat dalam buah paprika merah dan kuning menggunakan pelarut destilat premium dan kloroform, (2) mengkarakterisasi zat hasil ekstraksi paprika merah dan paprika kuning, dan (3) mengetahui aktivitas antioksidan dan sunscreenzat hasil ekstraksipaprika merah dan kuning. Penelitianinimerupakanpenelitian deskriptiflaboratorik yang dilakukan secara eksperimen di laboratorium.Penelitian ini terdiri dari empat tahap. Tahap 1 preparasi sampel paprika merah dan kuning, meliputi: pengumpulan, pengupasan, serta pemotongan. Tahap 2 esktraksi zat dalam sampel secara maserasi dan teknik soxhlet. Tahap 3identifikasi dan karakterisasi zat hasil ekstraksi. Identifikasi meliputi wujud, warna, kelarutan, derajat ketidakjenuhan, titik lebur, dan uji kromatografi lapis tipis (KLT). Karakterisasi dilakukan dengan interpretasi spektra UV-Vis dan IR. Tahap 4 uji aktivitas zat hasil ekstraksi sebagai antioksidan dan sunscreen. Hasil penelitian ini adalah (1) zat hasil ekstraksi berwujud padatan sangat lunak. Ekstrak destilat premium paprika merah berwarna merah dan paprika kuning berwarna kuning-kecoklatan. Ekstrak kloroform paprika merah berwarna merah dan paprika kuning berwarna kuning-kecoklatan. Seluruh ekstrak larut sebagian dalam heksana, larut sempurna dalam kloroform, etil asetat dan aseton, sedikit larut dalam metanol, serta tidak dapat larut dalam air. (2) Hasil interpretasi spektra UV-Vis dan IR menunjukkan bahwa ekstrak destilat premium paprika merah dan kuning memiliki gugus fungsional –OH, C=C non aromatik, dan C=O aldehida. Ekstrak kloroform paprika merah dan kuning memiliki gugus fungsional –OH, C=C non aromatik, C=O aldehida dan C=O ester. (3) Seluruh ekstrak tidak berpotensi sebagai antioksidan, untuk KP50 ekstrak destilat premium paprika merah dan kuning berturut-turut sebesar 7524ppm dan 8836 ppm. KP50 ekstrak kloroform paprika merah dan kuning berturut-turut sebesar 8996 ppm dan 7639 ppm. Menunjukkanproteksiterhadapradiasisinar UV untuk ekstrak destilat premium merah (SPF 5,337); ekstrak kloroform paprika merah dan kuning (SPF3,11 dan 2,27); dan tidak menunjukkanproteksiterhadapradiasisinar UV untuk ekstrak destilat premium kuning (SPF 0,96). SUMMARY Khilmi, Natasha. 2018. Extraction,Identification, and AntioxidantandSunscreen Screening ofGasoline-Distillate and Chloroform Extracts from Red and Yellow Peppers (Capsicum annum L.). Undergraduate Thesis, Departmentof Chemistry, Faculty of Mathematicsand Natural Sciences, State University ofMalang. Adviser: (I) Dr. H. Sutrisno, M.Si., (II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si. Keywords: antioxidant, sunscreen, gasoline distillate extract, chloroform extract, red and yellow peppers. Red and yellow pepper (Capsicum annum L.) is one of the popular colored fruits among the public. The dye in organic matter shows a double bond C = C conjugated more than four. Previous research by Tundis, et al (2013) mentions that the extract of ethanol peppers has antioxidant activity as measured using DPPH damping method. This study used a solvent with low polarity of gasoline distillate and chloroform.This study aims to (1) extracting the substances in red and yellow peppers using gasoline distillate and chloroformsolvents, (2)characterizing the red and yellow peppers extract, and (3) to know the activity ofantioxidants and sunscreen from substances productof extract red and yellow peppers. This research is a laboratory descriptive research conducted experimentally in the laboratory. This research are consist four steps. The first step is preparation of red and yellow bell pepper samples, including: collection, stripping, and cutting. The second step is extractionthe substances in the sample with macerated and the soxhlet technique. The third step isidentification and characterization of the substances extract. Identification includes the form, color, solubility, degree of unsaturation, melting point, and thin layer chromatography (TLC). Characterization by interpretation of UV-Vis and IR spectra.The fourth step is antioxidant and sunscreen screening from substances extract. The results of this study are (1) very soft colored solids. Red and yellow-brown to gasoline distillate extract of red and yellow peppers. Red and yellow-brown to chloroform of extract red and yellow peppers, with unobserved melting point. All extracts are partially soluble in hexane, completely soluble inchloroform, ethyl acetate and acetone, slightly soluble in methanol, and unsoluble in water. (2) The result of UV-Vis and IR spectra interpretation, the gasoline distillate extract of red and yellow peppers have functional groups–OH, C=C non aromatic, and C=O aldehydes. Chloroform extract of red and yellow peppers have functional groups –OH, C=C non aromatic, C=O aldehyde and C=O ester. (3) All extracts are not potential as antioxidants, for KP50gasoline distillate extract of red and yellow peppers are 7524 ppm and 8836 ppm, respectively. KP50 chloroform extract of red and yellow peppers are 8996 ppm and 7639 ppm. Shows protection against UV radiation for gasoline distillate extract of red pepper (SPF 5,337); chloroform extract of red and yellow peppers (SPF 3.11 and 2.27); and showed no protection against UV radiation for gasoline distillate extract of yellow pepper (SPF 0.96)
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR BERBASIS INKUIRI TERBIMBING DALAM BLENDED LEARNING PADA MATERI ASAM BASA UNTUK PESERTA DIDIK KELAS XI SMA
ABSTRAK Khoiriyah, Risna. 2017. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis Inkuiri Terbimbingdalam Blended Learning pada Materi Asam Basa untuk Peserta DidikKelas XI SMA. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan IlmuPengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dra.Surjani Wonorahardjo, Ph.D., (2) Muhammad Muchson, M.Pd Kata Kunci: Bahan Ajar, Inkuiri Terbimbing, Blended Learning, Asam Basa. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa peserta didik mengalamikesulitan bahkan kesalahan dalam memahami konsep asam basa. Selama ini diSMA pembelajaran topik asam basa kurang melibatkan peserta didik dalam prosespemerolehan konsep. Pembelajaran seperti ini tidak sesuai dengan kurikulum2013 revisi yang mengamanatkan pembelajaran menggunakan pendekatansaintifik, salah satunya dengan menerapkan pembelajaran inkuiri terbimbing. Namun, pembelajaran yang melibatkan peserta didik untuk aktif berpikirmembutuhkan waktu yang lebih lama. Salah satu solusinya yaitu denganpembelajaran secara blended learning. Blended learning memadukanpembelajaran tatap muka dengan pembelajaran online. Pembelajaran berbasisinkuiri terbimbing dalam blended learning membutuhkan bahan ajar khusus yangbelum pernah dikembangkan. Tujuan dari penelitian ini adalah (1) untukmengembangkan bahan ajar berbasis inkuiri terbimbing dalam blended learningpada materi larutan asam basa untuk peserta didik kelas XI SMA/MA yang layakdan efektif, (2) mengetahui persepsi peserta didik terhadap pembelajaranmenggunakan bahan ajar yang telah dikembangkan. Pengembangan bahan ajar menggunakan model pengembanganThiagarajan et al., (1974) meliputi empat tahap yaitu define, design, develop,disseminate. Tahap keempat yaitu penyebaran tidak dilakukan karena produkketerbatasan waktu. Pengujian kelayakan isi, bahasa, penyajian dan kegrafisandilakukan oleh satu dosen Jurusan Kimia dan dua guru kimia SMA. Keterbacaanjuga diuji cobakan terhadap 10 peserta didik pada uji perorangan. Pengujiankeefektifan bahan ajar didasarkan pada persentase peserta didik yang mencapainilai KKM, diukur dengan instrumen penilaian yang terdiri dari 20 soal tes pilihanganda yang telah divalidasi dengan rincian 18 soal valid dan 2 soal tidak validdengan koefisien reliabilitas sebesar 0,807 dihitung dengan Spearman-BrownCoefficient. Persepsi peserta didik terhadap pembelajaran menggunakan bahanajar diketahui berdasarkan angket persepsi pada uji lapangan terbatas. Hasil uji kelayakan menunjukkan bahwa Buku Siswa dan Buku Gurumemiliki kelayakan isi sebesar 85,7%, kelayakan bahasa sebesar 93,8%,kelayakan penyajian sebesar 87,5%, dan kelayakan kegrafisan sebesar 83,3%.Hasil uji perorangan mendapatkan nilai 90,30%. Persepsi peserta didik terhadappembelajaran menggunakan bahan ajar pengembangan sebesar 75,2. Berdasarkanskor hasil belajar peserta didik setelah menggunakan bahan ajar, 82,5% pesertadidik mencapai skor KKM. Berdasarkan hasil tersebut, dapat dianggap bahwabahan ajar hasil pengembangan adalah layak dan efektif digunakan dalampembelajaran Asam Basa
Identifikasi Kesulitan Siswa dalam Menyelesaikan Soal-soal Hidrolisis Garam Menggunakan Analisis Langkah Penyelesaian Soal
ABSTRAK Hidrolisis garam merupakan salah satu konsep kimia yang tergolong sulit bagi siswa. Konsep materi hidrolisis garam mencakup: (1) jenis-jenis hidrolisis garam, (2) sifat larutan garam hasil hidrolisis, dan (3) pH larutan garamhasil hidrolisis.Konsep hidrolisis garam dianggap sulit oleh siswa karena ada keterkaitan antara satu konsep dengan konsep yang lain. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui (1) tingkat kesulitan siswa pada konsep hidrolisis garam, dan (2) letak kesulitan siswa dalam menerapkan langkah-langkah penyelesaian soal-soal konsep hidrolisis garam. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif. Sampel penelitian ini adalah 72 siswa kelas XI MIA 1 dan XI MIA 4SMAN 9 Malangyang dipilih sesuai arahan guru. Instrumen yang digunakan adalah 10 soal uraian. Data dari hasil penelitian berupa jawaban siswa dalam mengerjakan soal uraian digunakan untuk menentukan kesulitan siswa dengan cara membagi jumlah siswa yang menjawab salah dengan total keseluruhan siswa. Hasil penelitian menunjukkan: (1) tingkat kesulitan siswa dalam menyelesaikan soal-soal hidrolisis garampada:(a) jenis-jenis hidrolisis garam sangat rendah(19%), (b) sifat larutan garam hasil hidrolisis sangat rendah (17,9%), (c) pH larutan garam hasil hidrolisis sedang(43,5%), (2) kesulitan siswa dalam menerapkan langkah-langkah penyelesaian soal hidrolisis garam dengan kesulitan paling tinggi terletak pada langkahmenentukan nilai [H+] (58,8%) dan kesulitan paling rendah terletak pada langkah menuliskan persamaan reaksi antara anion garam dengan air(16,7%)
PENGEMBANGAN BAHAN AJAR KIMIA BERBASIS PENDEKATAN SAINTIFIK PADA MATERI KESETIMBANGAN ION DAN PH LARUTAN GARAM UNTUK SMA/MA KELAS XI
ABSTRAK Hidayat, M. 2018. Pengambangan Bahan Ajar Kimia Berbasis Pendekatan Saintifik pada Materi Kesetimbangan Ion dan pH Larutan Garam untuk SMA/MA Kelas XI. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed, (II) Dr. Sc. Anugrah Ricky Wijaya, S.Si., M.Sc. Kata kunci: bahan ajar, pendekatan saintifik, larutan garam. Kesetimbangan ion dan pH larutan garam merupakan salah satu pokok bahasan dalam ilmu kimia. Pokok bahasan ini mengkaji fakta sifat larutan garam, konsep reaksi hidrolisis dan pH larutan garam. Sebagaimana ilmu pengetahuan alam yang lainnya, ilmu kimia juga dipelajari dengan langkah-langkah kegiatan yang ilmiah. Pendekatan pembelajaran yang dapat diterapkan dalam proses pembelajaran adalah pendekatan saintifik. Pendekatan saintifik merupakan pendekatan pembelajaran yang diamanahkan oleh kurikulum 2013 revisi. Sedangkan dalam mempelajari konsep hidrolisis dan pH larutan garam diperlukan media animasi karena konsep-konsep tersebut bersifat abstrak. Tujuan penelitian pengembangan ini adalah menghasilkan bahan ajar kimia berbasis pendekatan saintifik pada materi kesetimbangan ion dan pH larutan garam yang valid serta layak digunakan. Pengembangan bahan ajar ini dilakukan dengan menggunakan model 4D (four-D model) yang dikembangkan oleh Thiagarajan dkk. (1974). Menurut model ini, pengembangan bahan ajar dilakukan melalui 4 tahapan, yaitu tahap define, design, develop, dan disseminate. Namun pada pengembangan bahan ajar ini baru dilakukan tahap define, design, dan develop. Validitas dan tingkat kelayakan bahan ajar diperoleh dari data kuantitatif dan kualitatif yang diperoleh dari kegiatan validasi. Data kuantitatif diperoleh berdasarkan skor angket yang disusun dalam skala Likert. Data kualitatif diperoleh berdasarkan komentar dan saran pengembangan yang diisi oleh validator yakni dosen kimia dan guru kimia SMA. Data kuantitatif dan kualitatif juga diperoleh dari uji keterbacaan yang dilakukan oleh 11 siswa SMA Selamat Pagi Indonesia kelas 12 jurusan IPA. Data kuantitatif dianalisis menggunakan teknik persentase penilaian sedangkan data kualitatif dianalisis secara deskriptif. Hasil pengolahan data digunakan sebagai acuan untuk merevisi produk serta menentukan validitas dan tingkat kelayakan bahan ajar sesuai dengan kriteria interpretasi skor penilaian. Hasil validasi menunjukkan bahwa bahan ajar yang dikembangkan memiliki persentase rata-rata validitas sebesar 82% dengan kriteria sangat valid. Sedangkan hasil uji keterbacaan menunjukkan bahwa bahan ajar memiliki persentase kelayakan sebesar 86% dengan kriteria sangat layak. Dengan demikian bahan ajar berbasis pendekatan saintifik pada materi kesetimbangan ion dan pH larutan garam yang dikembangkan tersebut dapat dianggap layak untuk digunakan dalam proses pembelajaran di kelas. Hidayat, M. Syamsu. 2018. The Development of chemistry teaching material based on scientific approach on the ionic equilibrium and pH of salt solution for senior high school. Thesis, Chemistry Department, Mathematics and Science Faculty, State University of Malang. Advisors: (I) Dr. I Wayan Dasna, M.Si., M.Ed, (II) Dr. Sc. Anugrah Ricky Wijaya, S.Si., M.Sc. Kata kunci: teaching material, scientifik approach, salt solution. Ionic equilibrium and pH of salt solution are one of the main subjects in chemistry. This subject studies about salt solution properties, hydrolysis reaction and pH of salt solution concepts. As the other sciences, chemistry is also studied with scientific action steps. A learning approach that can be applied in the learning process is a scientific approach. Scientific approach is a learning approach mandated by revised 2013 curriculum. While in studying the concepts of hydrolysis and pH salt solution required animation media because the concepts are abstract. The purpose of this research is to produce chemistry teaching material based on scientific approach on ionic equilibrium and pH of salt solution that is valid and feasible to use. The development of this teaching material is done by using four-D model developed by Thiagarajan et al. (1974). According to this model, the development of teaching materials is done through 4 stages which are define, design, develop, and disseminate. However, the development of this study is done based only by define, design, and develop stages. Validity and feasibility of teaching materials are obtained from the quantitative and qualitative data. It is obtained from the validation and readability test. Quantitative data were obtained based on questionnaire scores arranged in Likert scale. Qualitative data obtained based on comments and suggestions of improvments filled by the validator which are chemistry lecturer and high school chemistry teachers. The quantitative and qualitative data also obtained from readability test which done by 11 students of Selamat Pagi Indonesia high school grade 12 science program. Quantitative data is analyzed using percentage assessment technique while qualitative data analyzed descriptively. The result of data processing is used as a reference to revise the product and detrmine the validity and feasibility of theacing material accordance with criteria of assessment score interpretation. The validation results show that the developed learning material has an average percentage of validity of 82% with very valid criteria. While the results of readability test show that the teaching material has an avarage percentage of feasibility of 86% with very feasible criteria. Thus the develop of the teaching material based on the scientific approach on the ionic equilibrium and pH of salt solution can be considered feasible for use in the classroom learning process
Sintesis Metil Ester dari Minyak Sawit Kualitas Rendah Menggunakan Katalis CaO-ZnO serta Potensinya Sebagai Biodiesel
ABSTRAK Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif yang dapat disintesis dari minyak nabati melalui proses transesterifikasi. Persediaan bahan bakar minyak bumi sebagai sumber energi utama dalam kehidupan sehari-hari akan semakin berkurang dari waktu ke waktu. Salah satu minyak nabati yang dapat digunakan sebagai bahan baku biodiesel adalah minyak sawit. Minyak sawit kualitas rendah tidak dapat digunakan sebagai bahan pangan sehingga sangat berpotensi digunakan sebagai bahan bakar alternatif atau biodiesel. Penelitian ini bertujuan mensintesis metil ester dari minyak sawit kualitas rendah menggunakan katalis CaO-ZnO serta mengetahui potensinya sebagai biodiesel. Penelitian ini dilakukan melalui beberapa tahapan yaitu: (1) karakterisasi minyak sawit kualitas rendah, (2) aktivasi zeolit dan karakterisasinya, (3) preparasi katalis CaO-ZnO dan karakterisasinya, (4) rafinasi minyak sawit kualitas rendah, (5) penentuan kadar asam lemak bebas minyak sawit kualitas rendah hasil rafinasi, (6) esterifikasi, (7) sintesis metil ester dari minyak sawit kualitas rendah dengan katalis CaO-ZnO melalui transesterifikasi, (8) identifikasi komponen senyawa penyusun campuran metil ester hasil sintesis dengan GC-MS, dan (9) karakterisasi metil ester hasil sintesis. Hasil penelitian menunjukkan (1) metil ester dapat disintesis dari minyak sawit kualitas rendah melalui reaksi transesterifikasi dengan metanol dan katalis CaO-ZnO, (2) identifikasi GC-MS metil ester hasil sintesis mengandung senyawa metil miristat, metil palmitat, metil linoleat, metil oleat, metil stearat, (3) Karakteristik metil ester hasil sintesis memiliki massa jenis, viskositas kinematik, indeks bias, dan bilangan asam yang sesuai dengan SNI biodiesel, sehingga metil ester hasil sintesis berpotensi sebagai biodiesel. Kata Kunci: metil ester, minyak sawit, transesterifikasi, katalis CaO-ZnO, biodiese
Kajian Analisis Fe Terhadap Kualitas Sedimen dengan Metode Tessier Microwave Lecahing
ABSTRAK Arifani, Ruri . 2018. Kajian Analisis Fe Terhadap Kualitas Sedimen dengan Metode Tessier Microwave Lecahing. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing (I) Dr.Sc. Anugrah Ricky Wijaya, M.Sc. (II) Dr. Irma Kartika Kusumaningrum, S.Si., M.Si. Kata Kunci : Fe, Sedimen, Tessier Microwave, Daya dan waktu, Pantai Prigi Monitoring pencemaran lingkungan dapat dilakukan proses leaching sehingga dapat ditentukan kualitas sedimen. Prosesleaching sedimen dilakukan menggunakan metode Tessier. Proses leaching pada metode Tessiermampu menjelaskan fraksinasi keterikatan Fe dalam sedimen.Kelemahan pada metode Tessier adalah proses pemanasan leaching menggunakan water bath sehingga memerlukan waktu yang terlalu lama ±20 jam. Kelebihan pemanasan menggunakan microwave yang mampu memberikan efisiensi waktu leaching.Penelitian ini dimodifikasi menjadi metode Tessier Microwave. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1) pengaruh waktu kontak radiasi dan dayamicrowave dalam fraksinasi Fe menggunakan metode Tessier microwave, (2) Keefektifan metode Tessier microwave secara akurasi dan presisi untuk proses leaching Fe dalam sedimen Prigi, (3) Distribusi keterikatan Fe pada sedimen Prigi. Pada penelitian ini, proses leaching menggunakan metode Tessier dilakukan terhadap beberapa fraksi dalam sedimen. Fraksi 1 adalah fraksi pertukaran ion, fraksi 2 adalah fraksi terikat karbonat, fraksi 3 adalah fraksi terikat oksida besi/mangan, fraksi 4 adalah fraksi terikat materi organik, dan fraksi 5 adalah fraksi terikat mineral silika/alumina. Filtrat hasil fraksinasi dianalisis konsentrasi Femenggunakan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Data analisis konsentrasi Fe kemudian digunakan untuk menentukan tingkat kontaminasi dan pencemaran pada sedimen Prigi berdasarkan nilai Faktor Kontaminasi (FK) dan membandingkan dengan standar WHO Fe-sedimen. Hasil penelitian menunjukkan kondisi optimum waktu kontak radiasi dan daya microwave mempengaruhi kondisi optimum. Metode Tessiermicrowave menghasilkan tingginya persentase recoverysesuai standar akurasi.Urutan kandungan konsentrasi Fe pada fraksi non resisten (mudah larut) adalah lokasi3 > lokasi 2 > lokasi 1, maka lokasi 3 paling berpotensi menyumbang pencemaran laut yang disebabkan oleh keberadaan Fedalam sedimen. Berdasakan nilai FK pada ketiga lokasi, lokasi 2 dan 3 memiliki tingkat kontaminasi sedimen sedang dan lokasi 1 memiliki tingkat kontaminasi sedimen rendah. Konsentrasi Fe dalam sedimen pada ketiga lokasi dibawah standar WHO (1500mg/kg), mengindikasikan kategori berpotensi rendah terhadap pencemaran laut
Sintesis dan Karakterisasi Senyawa Kompleks dari Zink(II) Format dan Ligan N,N’-dietiltiourea
ABSTRAK Reaksi antara zink(II) asetat dan ligan tiourea (tu) pada perbandingan mol 1:2 menghasilkan senyawa kompleks [Zn(tu)2(CH3COO)2] dengan struktur tetrahedral terdistorsi. Ion format dan ion asetat merupakan ion karboksilat dengan atom donor O. Keduanya memiliki pola koordinasi yang sama. Ligan N,N’-dietiltiourea (detu) merupakan salah satu turunan tu dengan atom donor S. Perbedaan tu dan detu terletak pada rantai gugus alkil. Detu memiliki gugus etil yang menggantikan atom H amina pada tiourea. Senyawa kompleks dari zink(II) format dan ligan detu belum dilaporkan. Tujuan penelitian adalah mensintesis dan memprediksi struktur senyawa kompleks hasil sintesis berdasarkan hasil karakterisasi. Senyawa kompleks disintesis dengan mereaksikan zink(II) format dan ligan detu pada perbandingan mol 1:2 dalam metanol. Hasil sintesis senyawa kompleks diuji titik leburnya menggunakan Fischer Scientific untuk mengetahui kemurniannya. Analisis FT-IR dilakukan untuk mengetahui gugus fungsi serta pola koordinasi detu dan ion format dengan atom pusat Zn(II) pada senyawa kompleks. Analisis SEM-EDX untuk mengetahui bentuk kristal dan memprediksi rumus empiris senyawa kompleks. Uji daya hantar listrik (DHL) dan kualitatif ion format dilakukan untuk memprediksi senyawa kompleks merupakan kompleks ionik atau molekuler. Berdasarkan hasil karakterisasi, rumus kimia senyawa kompleks dan strukturnya bisa diprediksi. Struktur prediksi yang diterima yaitu struktur dengan energi bebas terendah dari hasil perhitungan dengan program Gaussian 09W. Reaksi antara zink(II) format dan detu pada perbandingan mol 1:2 menghasilkan kristal tidak berwarna, berbentuk prisma, dan melebur pada suhu 105-108°C. Titik lebur tersebut menunjukkan bahwa senyawa kompleks merupakan senyawa murni. Analisis FT-IR mengindikasikan bahwa detu berkoordinasi dengan Zn(II) melalui atom donor S dan ion format sebagai ligan. Hasil analisis EDX memberikan perbandingan atom Zn:S yaitu 2:1 dan diperoleh prediksi rumus empiris Zn2C9H16N2O8S. Uji DHL dan uji kualitatif ion format menunjukkan bahwa prediksi senyawa kompleks adalah kompleks molekuler. Berdasarkan hasil karakterisasi, prediksi struktur senyawa kompleks yaitu [Zn2(detu)(µ-OOCH)4]. Struktur prediksi memiliki energi bebas -867 kJ/mol dan energi bebas per ikatan -14 kJ/mol
Pengembangan Bahan Ajar Berbasis E-Learning pada Materi Laju Reaksi untuk Peserta Didik Kelas XI SMA/MA
ABSTRAK Ridlowati, Fahmi.2018. Pengembangan Bahan Ajar Berbasis E-Learning pada Materi Laju Reaksi untuk Peserta Didik Kelas XI SMA/MA.Skripsi,Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Munzil, S.Pd., M.Si. (II) Drs Darsono Sigit, M.Pd. Kata kunci : bahan ajar kimia, e-learning, learning management system, laju reaksi. Bahan ajar memiliki posisi amat penting dalam pembelajaran. Bahan ajar yang didesain secara lengkap dengan sumber belajar yang memadai akan mampu memberikan suasana belajar yang optimal bagi peserta didik. Jenis-jenis bahan ajar semakin berkembang mulai dari bahan cetak hingga bahan ajar digital yang diunggah pada suatu website sehingga dapat diakses melalui jaringan internet. Oleh karena itu diperlukan suatu media pembelajaran yang mampu memberikan informasi yang luas, dapat diakses kapan saja, namun tetap dalam pengawasan guru. Salah satu alternatif yang diajukan adalah bahan ajar berbasis e-learning yang pengaplikasiannya menggunakan aplikasi yang dikenal dengan LMS (Learning Management System). Tujuan penelitian ini adalah mengembangkan bahan ajar berbasis e-learning untuk materi laju reaksi serta mengetahui kelayakan bahan ajar yang dikembangkan. Model pengembangan yang digunakan dalam penelitian ini yaitu model penelitian dan pengembangan (Research & Development) yang dikemukakan oleh Lee & Owens yang meliputi tahap penilaian/analisis yang terdiri dari analisis kebutuhan dan analisis awal akhir, desain, pengembangan, implementasi, dan evaluasi. Kelayakan bahan ajar yang dikembangkan dapat diketahui dari uji validasi dan uji kelompok kecil. Uji validasi terdiri dari uji validasi media dan uji validasi materi oleh dosen Jurusan Kimia UM dan dua orang guru MAN 1 Malang. Uji kelompok kecil dilaksanakan dengan melibatkan 10 orang peserta didik MAN 1 Malang kelas XII yang telah menempuh materi laju reaksi. Hasil pengembangan berupa bahan ajar berisi materi laju reaksi berbasis e-learning yang dapat diakses melalui alamat schoology.com. Bahan ajar materi laju reaksi yang dikembangkan terdiri 4 topik yaitu molaritas, konsep laju reaksi, teori tumbukan dan faktor-faktor yang mempengaruhi laju reaksi, serta hukum laju dan orde reaksi. Setiap topik dilengkapi dengan lembar kerja peserta didik yang menggunakan pendekatan konstruktivisme. Bahan ajar menyediakan video atau animasi sebagai pelengkap lembar kerja peserta didik. Selain itu juga dilengkapi dengan fitur chat dan forum diskusi. Evaluasi seperti pretest, kuis dan ulangan harian juga diberikan untuk melihat perkembangan hasil belajar peserta didik. Hasil uji kelayakan isi media diperoleh skor rata-rata 80,7% dengan kriteria layak, dan hasil uji kelayakan isi materi diperoleh skor rata-rata 81,8% dengan kriteria layak, sedangkan hasil uji kelompok kecil diperoleh skor rata-rata 83,3% dengan kriteria layak. Berdasarkan hasil penelitian tersebut maka bahan ajar yang dikembangakan telah layak untuk digunakan sebagai bahan ajar pada pembelajaran materi laju reaksi