SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
    1785 research outputs found

    ISOLASI, IDENTIFIKASI, DAN UJI AKTIVITAS INHIBISI ISOLAT SAPONIN DARI BUAH NANAS (Ananas comosus L.) DAN KEMIRI (Aleurites moluccanus L.) TERHADAP XANTIN OKSIDASE SECARA IN VITRO

    No full text
    RINGKASAN Amalia, Mimma. 2019. Isolasi, Identifikasi, dan Uji Aktivitas Inhibisi Isolat Saponin dari Buah Nanas (Ananas comosus L.) dan Kemiri (Aleurites moluccanus L.) terhadap Xantin Oksidase secara In Vitro. Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Prof. Dr. Subandi, M.Si., (II) Dr. Evi Susanti, M.Si. Kata Kunci: asam urat, buah nanas, kemiri, inhibitor xantin oksidase, saponin, Diosgenin Berdasarkan survei WHO (2015), Indonesia merupakan negara ke empat dengan penderita asam urat (gout) terbanyak di dunia. Penyakit asam urat disebabkan oleh tingginya kadar asam urat dalam darah, sehingga mudah mengedap di persendian dan menyebabkan gejala penyakit tersebut. Salah satu obat asam urat adalah Allopurinol yang bekerja menghambat aktivitas xantin oksidase, yaitu enzim pensintesis asam urat. Namun, konsumsi Allopurinol dalam jangka panjang menyebabkan efek samping yang tidak diinginkan seperti penyakit inflamasi, gagal ginjal, dan jantung kronis. Sementara itu jus nanas dan kemiri sudah dimanfaatkan masyarakat sebagai obat tradisional untuk mengatasi penyakit asam urat. Penelitian sebelumnya, membuktikan bahwa saponin dalam buah nanas dan kemiri berpotensi sebagai inhibitor xantin oksidase secara in silico. Namun isolat saponin tersebut belum berhasil diisolasi dan diuji secara in vitro. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan isolat saponin dari nanas dan kemiri untuk diuji secara in vitro sebagai inhibitor enzim xantin oksidase.Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif laboratoris dengan enam tahap yaitu : (1) preparasi sampel, (2) ekstraksi saponin dari buah nanas dan kemiri dengan metode maserasi menggunakan etanol 70%, (3) isolasi senyawa saponin dengan kromatografi lapis tipis, (4) uji fitokimia senyawa saponin, (5) uji aktivitas isolat saponin secara in vitro, dan (6) penentuan jenis senyawa dalam isolat saponin dengan spektroskopi UV-Vis, FT-IR dan  LC-MS/MS.Hasil penelitian menunjukkan bahwa, dari KLT preparativ ekstrak etanol buah nanas diperoleh isolat saponin nilai Rf masing-masing 0,95 (isolat 1 nanas), 0,65 (isolat 2 nanas) dan 0,38 (isolat 3 nanas), sedangkan dari ekstrak kemiri diperoleh dua isolat saponin dengan nilai Rf  0,95 (isolat 1 kemiri) dan 0,79 (isolat 2 kemiri). Daya inhibisi masing-masing isolat terhadap xantin oksidase relatif terhadap Allopurinol 100 ppm adalah 103,41% (isolat 1 nanas), 269,73% (isolat 2 nanas), 84,16% (isolat 3 nanas), 222,90% (isolat 1 kemiri), dan 157,05% (isolat 2 kemiri). Berdasarkan analisis spektroskopi isolat dengan daya inhibisi tertinggi dari nanas dan kemiri masing-masing mengandung senyawa saponin jenis triterpenoid yaitu Diosgenin (C27H42O3)

    Pengaruh Model Pembelajaran Argument Driven Inquiry (ADI) dan Inkuiri Terbimbing terhadap Keterampilan Argumentasi Ilmiah Siswa SMA Negeri 2 Mejayan pada Materi Asam Basa

    No full text
    SUMMARY Wardani, Kurnia. 2019. The influence of Argument Driven Inquiry (ADI) and Guided Inquiry Learning Model towars Scientific Argumentation Skills of SMA Negeri 2 Mejayan Students on Acid-Base Material. Thesis, Major S1 Chemistry, Faculty of Mathematics and Science, University Negeri Malang. Advisors: (I) Oktavia Sulistina, S.Pd., M.Pd, (II) Dra. Hj Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si. Key Words: guided inquiry, Argument Driven Inquiry (ADI), scientific argumentation skills The appraisal of Programme for Internasional Student Assesment (PISA) shows that the rank of science literacy in Indonesia is classified very low, and be in order 62 of 70 countries. This case causes by low skill of the scientific argumentation itself. The argumentation is very closely related to the science literacy. In making the arguments, students usually do not include the evidence support for the claim that have been submitted, so that the learning process is needed through guided inquiry and Argument Driven Inquiry (ADI) model that can improve the scientific argumentation skills. Argument Driven Inquiry (ADI) is the refinement of guided inquiry learning model, which is integrated in argumentation activities. This study aimed to determine the quality and differences of the students scientific argumentation skill which was taught by ADI learning model compared to students which taught by guided inquiry model. This study used quasi research design (Quasi-Experimental) with the posttest only control group research design. The population of this research was all of the XI grade students of science in SMA Negeri 2 Mejayan in academic year 2018/2019. The technique to take over the sample did by used cluster random sampling technique with determinate the beginning skill value of all the XI science students had the homogeneous variant. The samples of the research were took in random with the lottery, then XI science 1 chose as a class which was taught by ADI learning model and XI science 2 which taught by guided inquiry model. The instruments which used in this research were treatment instruments (syllabus, lesson plan and students’ worksheet) and the measurement instrument (a test of scientific argumentation skill). The result of the argumentation skill was measured by a test which consisted of 6 essays that had been valid with reliability test of 0,604. The data of the research got from the students’ answers in scientific argumentation skill’s test and categorized based of the quality of scientific argumentation skill itself which covered the scientific argumentation structure and scientific credibility. The score of scientific argumentation skill was analyzed interrater to avoid the subjectivity in the appraisal process. The data analysis used Cohen’s Kappa and got the Kappa coefficient of 0,796 with high reliability category. After that, the writer did statistic analysis used Independent Sample ttest with SPSS 16.00 for windows to know the differences of scientific argumentation skill who got by the students were taught by ADI model with the students were taught by guided inquiry model. The result of research showed: (1) the quality of scientific argumentation skill of the students who are taught by ADI learning model achieve better the highest quality (scientific argumentation structure type I include claim, evidence experiential and explanation explicit science theory (ST) or explanation established science authority (EA) and high scientific credibility) of 47,40% that is compared to students who are taught by guided inquiry learning model of 32,81%, and (2) there is a difference in scientific argumentation skill between students who are taught by ADI learning model and students who are taught by guided inquiry learning model. The students’ scientific argumentation skill that are taught by ADI learning model are better than the scientific argumentation skill of students who are taught by guided inquiry learning model

    Pengaruh Pembelajaran Inkuiri Terbimbing yang Diperkaya Problem Solving pada Materi Larutan Penyangga terhadap Hasil Belajar Kognitif Peserta Didik SMAN 1 Lawang

    No full text
    Kurikulum 2013 SMA/MA menyebutkan bahwa kelompok mata pelajaran peminatan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (sains) bertujuan untuk mengembangkan kompetensi sikap, pengetahuan, dan keterampilan peserta didik. Oleh sebab itu, Kimia sebagai salah satu bidang sains seharusnya dibelajarkan dengan pendekatan berbasis saintifik. Namun, berdasarkan hasil observasi di sekolah guru belum menerapkan pembelajaran yang berbasis saintifik. Hal tersebut berdampak pada hasil belajar peserta didik. Hasil observasi menunjukkan, 93,05% peserta didik kelas XI tidak lolos KKM (75,00) pada penilaian akhir semester ganjil mata pelajaran Kimia di SMAN 1 Lawang. Oleh sebab itu perlu diterapkan pembelajaran konstruktivis yang salah satunya inkuiri terbimbing. Berdasarkan hasil penelitian sebelumnya model inkuiri terbimbing efektif meningkatkan hasil belajar peserta didik, namun masih terdapat kelemahan yaitu peserta didik sering kesulitan pada tahap application karena harus mengelaborasi pengetahuan yang dimiliki untuk menyelesaikan suatu masalah. Hal tersebut diharapkan dapat diatasi dengan metode problem solving. Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh penerapan model pembelajaran inkuiri terbimbing yang diperkaya problem solving dalam meningkatkan hasil belajar kognitif peserta didik serta mengetahui persepsi peserta didik terhadap LKPD berbasis inkuiri terbimbing yang diperkaya problem solving pada materi larutan penyangga.Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif dan rancangan penelitian quasy experimental post-test only. Sampel yang dipilih menggunakan teknik cluster random sampling sehingga terbagi menjadi kelas eksperimen dan kelas kontrol. Pada kelas eksperimen pembelajaran larutan penyangga menggunakan model inkuiri terbimbing yang diperkaya problem solving sedangkan pada kelas kontrol dibelajarkan menggunkaan model inkuiri terbimbing. Instrumen yang digunakan terbagi menjadi instrumen perlakuan dan instrumen pengukuran yang telah divalidasi. Hasil penelitian dianalisis mengguanakan analisis deskriptif dan analisis statistik.Hasil yang diperoleh pada penelitian ini yaitu keterlaksanaan pembelajaran pada kelas eksperimen (93,79%) dan kelas kontrol (93,62%) telah berjalan dengan sangat baik. Analisis statistik menujukkan terdapat perbedaan yang signifikan hasil belajar kognitif peserta didik kelas eksperimen dan kelas kontrol. Rata-rata hasil belajar kelas eksperimen (73,67) lebih tinggi daripada kelas kontrol (57,39). Persentase peserta didik yang lolos KKM pada kelas eksperimen sebesar 50% sedangkan pada kelas kontrol sebesar 16,67%. Persepsi peserta didik terhadap LKPD berbasis inkuiri terbimbing yang diperkaya problem solving terkategori sangat baik dengan rata-rata persentasi dari angket persepsi sebesar 80,93%

    Analisis Keterlaksanaan Aspek Higher Order Thinking Skills (HOTs) Pada Soal-Soal Ujian Mata Pelajaran Kimia Kurikulum 2013 SMA di Kota Malang

    No full text
    RINGKASAN Nadhifah, Yenin. 2019. Analisis Keterlaksanaan Aspek Higher Order Thinking Skills (HOTs) Pada Soal-Soal Ujian Mata pelajaran Kimia Kurikulum 2013 SMA di Malang. Pembimbing: (1) Herunata, S.Pd., M.Pd. (II) Drs. Darsono Sigit., M.Pd. Kata Kunci : ujian harian, ujian tengah semester, ujian akhir semester, assesment Higher Order Thinking Skills (HOTs), kurikulum 2013, mata pelajaran kimia, SMA di Malang. Kurikulum 2013 hadir dengan penyempurnaan pada standar isi dan standar penilaian dalam proses pendidikan. Standar isi dan standar penilaian pada kurikulum 2013 menuntut peserta didik untuk mampu berfikir kritis dan inovatif berdasarkan standar internasional pendidikan yang mengacu pada TIMSS dan PISA. Standar penilaian yang digunakan pada kedua lembaga tersebut mengacu pada instrumen penilaian yang mengukur kemampuan berfikir tingkat tinggi (Higher Order Thinking). Penilaian oleh pendidik dilakukan untu memantau dan mengevaluasi pembelajaran, serta mengetahui ketercapaian kompetensi peserta didik. Dengan diberlakukannya Kurikulum 2013, proses penilaian hasil belajar peserta didik harus memuat soal-soal yang mengukur kemampuan berfikir tingkat tinggi (HOTs). Tetapi pada saat ini belum diketahui keterlaksanaan assesmen berbasis HOTs tersebut pada Sekolah Menengah Atas/Madrasah Aliyah di Kota Malang khususnya pada mata pelajaran kimia. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui profil dan representasi instrumen HOTs pada soal-soal penilaian hasil belajar oleh pendidik, yaitu meliputi soal ujian harian, soal ujian tengah semester, dan soal ujian akhir semester. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode analisis data yaitu analisis konten (content analysis). Metode pengumpulan data yang digunakan yaitu metode dokumentasi, karena data penlitian berupa soal-soal penilaian hasil belajar peserta didik yang disimpan dalam bentuk dokumen. Pengecekan keabsahan temuan menggunakan metode analisis interreter realiability dengan langkah-langkah uji reliabilitas berdasarakan Arikunto (2014) dan rumus koefisien kesepakatan Cohen-Kappa. Pada penelitian ini digunakan 2 peneliti atau 2 reter. Hasil penelitian menunjukan persentase soal-soal HOTs pada masingmasing tingkatan materi yaitu soal kelas X, XI, dan XII secara berturut-turut yaitu 9,00%, 13,39%, dan 12,50%. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan instrumen HOTs dalam penilaian hasil belajar peserta didik pada mata pelajaran kimia SMA di Kota Malang sudah terlaksana. Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa tidak semua aspek HOTs ditemukan. Aspek-aspek HOTs yang ditemukan adalah assesmen kontekstual (contextual assesmen), PISA, transfer, critical thinking, & logic and reasonong. Pengujian keabsahan temuan memberikan hasil yang baik yaitu pada interpretasi kuat dan sempurna dengan nilai koefisien kesepakatan pada masing-masing aspek dalam setiap tingkatan kelas berada pada rentang nilai 0,61-0,87

    Analisis Pemahaman Materi Laju Reaksi Berdasarkan Knowledge Space Theory (KST) pada Siswa Kelas XI SMA Nasional Malang

    No full text
    RINGKASANResma, Devia Arifanti. 2019. Analisis Pemahaman Materi Laju Reaksi Berdasarkan Knowledge Space Theory (KST) Pada Siswa Kelas XI SMA Nasional Malang. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Hj. Endang Budiasih, M.S (2) M. Muchson, S.Pd., M.Pd.Kata kunci: pemahaman siswa, laju reaksi, Knowledge Space Theory (KST)Ilmu kimia dapat dipahami apabila siswa menguasai pengetahuan tiga level representasi yaitu level makroskopis, sub mikroskopis dan simbolik serta mampu menghubungkan ketiga level representasi tersebut. Namun sebagian besar siswa tidak memahami ketiga level representasi tersebut sehingga menganggap konsep-konsep dalam ilmu kimia sulit. Salah satu materi ilmu kimia yang dianggap sulit adalah materi laju reaksi. Laju reaksi menggambarkan karakteristik pengetahuan yang kompleks artinya mencakup pengetahuan yang bersifat abstrak, konseptual, berhirarki dan melibatkan perhitungan matematis. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa hasil tes materi laju reaksi relatif rendah. Salah satu penyebabnya adalah penguasaan dan pemahaman konsep siswa yang masih kurang, menyadari pentingnya pemahaman siswa maka dirasa perlu menyelidiki lebih jauh sehingga dapat diketahui pola pemahaman siswa sudah terstruktur atau belum. Pada penelitian ini menggunakan Knowledge Space Theory (KST) untuk menggambarkan tingkat dan pola pemahaman siswa. Penelitian ini menggunakan rancangan penelitian deskriptif kualitatif. Sumber data diperoleh dari dua kelas XI IPA SMA Nasional Malang. Instrumen penelitian berupa 18 butir soal uraian dengan nilai reliabilitas sebesar 0,740. Berdasarkan jawaban siswa pada instrumen, data dianalisis menggunakan metode Knowledge Space Theory (KST). Pola pemahaman siswa diketahui dengan mengidentifikasi response state, response structure, knowledge structure, dan learning pathway. Dari learning pathway, dapat diketahui pola berfikir siswa dalam memahami suatu konsep.Hasil penelitian menunjukkan bahwa: (1) tingkat pemahaman siswa SMA Nasional Malang pada materi laju reaksi dikategorikan cukup (44,1%) berdasarkan pengelompokan Arikunto (2010) dan pemahaman yang rendah terletak pada indikator Konsep Dasar Laju Reaksi dan Hukum Laju Reaksi (2) pola pemahaman siswa SMA Nasional Malang belum terstruktur dengan baik dan terdapat 9 jenis pola pemahaman siswa

    Pengembangan Instrumen Asesmen Literasi Kimia Materi Asam Basa

    No full text
    RINGKASANEli, Khusmawardani. 2019. Pengembangan Instrumen Asesmen Literasi Kimia Materi Asam Basa. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Muntholib, M.Si., (2) Dr. H. Yudhi Utomo, M. Si.Kata Kunci : instrumenasesmen, literasikimia, asambasaInstrumen asesmen literasi kimia merupakan bagian penting dari pembelajaran literasi kimia. Beberapa kerangka asesmen literasi kimia telah dirumuskan dan beberapa instrumen asesmen literasi kimia materi tertentu telah dikembangkan. Materi pelajaran kimia asam basa banyak memuat fenomena alam yang terkait langsung dengan literasi kimia. Namun demikian belum ada instrumen asesmen literasi kimia tentang asam dan basa.Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mengembangkan instrumen asesmen literasi kimia pilihan ganda materi kimia asam basa yang valid dan reliabel, dan (2) mendeskripsikan literasi kimia materi kimia asam basa peserta didik SMA kelas XI.Penelitian ini menerapkan rancangan penelitian pengembangan dan survei. Prosedur pengembangan instrumen asesmen literasi kimia yang digunakan dalam penelitian ini diadaptasi dari Chandrasegaran et.al.(2007), Wattanakasiwich et.al.(2013), Damanhuri et.al.(2016), dan Muntholib et.al. (in press). Survei literasi kimia asam basa dilakukan terhadap 64 peserta didik kelas XI MIA SMAN 1 Ngoro Mojokerto.Instrumen asesmen literasi kimia materi kimia asam basa hasil pengembangan terdiri atas 26 butir soal yang valid dengan koefisien reliabilitas Cronbach’s Alpha sebesar 0,804. Skor rata-rata literasi kimia responden adalah 57,75 dari skor maksimal 100 dengan kategori sedang. Di tingkat domain, rincian literasi kimia responden adalah: (a) skor rata-rata domain pengetahuan konten adalah 66,54; (b) skor rata-rata domain pengetahuan prosedural adalah 59,16; (c) skor rata-rata domain pengetahuan epistemikadalah 41,93; (d) skor rata-rata domain kompetensi menjelaskan fenomena secara ilmiah adalah 57,59; (e) skor rata-rata domain kompetensi mengevaluasi dan mendesain penyelidikan ilmiah adalah 63,28; dan (f) skor rata-rata domain kompetensi menginterpretasikan data dan bukti secara ilmiah adalah 58,01. Hasil ini menunjukkan bahwa pengetahuan konten responden cukup baik tetapi kemampuan responden dalam argumentasi dan menjelaskan fenomena belum menggembirakan

    Pengaruh Penambahan Dispersan Terhadap Kestabilan dan Perpindahan Panas Nanofluida Air-ZrO2.

    No full text
    Nanofluida dapat diterapkan dalam bidang perpindahan panas pada mesin karena memiliki sifat termal yang jauh lebih baik daripada air. Nanopartikel yang dapat digunakan sebagai nanofluida salah satunya adalah zirkonium dioksida. Nanopartikel zirkonium dioksida dapat diperoleh dari mineral zirkon (ZrSiO4). Zirkonium mempunyai sifat anti korosif, titik didih tinggi, dan mempunyai luas permukaan yang besar. Namun, nanofluida zirkonium dioksida dalam fluida air masih relatif belum stabil dan mudah mengendap dalam waktu yang singkat. Untuk meningkatkan kestabilan perlu penambahan dispersan. Dispersan yang digunakan yaitu Cetyl trimethylammonium bromide (CTAB), Poli asam akrilik (PAA), Polietilena glikol 4000 (PEG 4000), dan Asam sitrat. Penambahan dispersan bertujuan untuk melapisi permukaan nanopartikel zirkonium dioksida sehingga menghasilkan stabilisasi sterik  yang berfungsi untuk mencegah terjadinya pengendapan dalam waktu singkat. Tujuan penelitian ini (1) mengetahui karakteristik nanopartikel zirkonium dioksida (ZrO2) yang digunakan (2) mengetahui kestabilan nanofluida air-ZrO2 dengan penambahan dispersan berdasarkan pengamatan visual (3) mengetahui kestabilan nanofluida air-ZrO2 dengan penambahan dispersan dan kemampuannya dalam memindahkan panas dibanding air.Penelitian ini terdiri dari empat tahap, antara lain: (1) nanofluida zirkonium dioksida  dalam fluida air disintesis dengan penambahan dispersan poli asam akrilik, CTAB, Asam sitrat, dan PEG 4000 (2) nanopartikel dan nanofluida zirkonium dioksida dikarakterisasi menggunakan XRD, Surface Area Meter, Zeta Potensial, dan Heat Trasfer (3) diuji pengaruh penambahan dispersan poli asam akrilik, CTAB, Asam sitrat, dan PEG 4000 terhadap kestabilan nanofluida zirkonium dioksida dalam fluida air.Sesuai hasil analisis XRD, difraktogram nanopartikel ZrO2 yang digunakan sama dengan difraktogram dari standar JCPDS no. 37-1484 yaitu ZrO2 monoklinik. Hasil analisis surface area meter memperlihatkan bahwa luas permukaan jenis nanopartikel yang diperoleh m2/g dan diperoleh ukuran partikel melalui perhitungan sebesar 41 nm. Hasil pengamatan visual memperlihatkan kestabilan nanofluida Air-ZrO2 yang ditambahkan dispersan PAA sama stabilnya dengan nanofluida yang diberi CTAB dan lebih baik dari nanofluida lainnya yang diberi Asam Sitrat dan PEG 4000. Nanofluida yang ditambahkan dispersan CTAB dan PAA paling stabil mencapai kestabilan hingga 14 hari. Berdasarkan hasil analisis zeta potensial nanofluida yang ditambahkan dispersan Cetyl trimethylammonium bromide (CTAB) lebih baik daripada nanofluida yang diberi Poli asam akrilik (PAA) dengan nilai potensial zeta 49,7 mV dan memiliki pH 7,69.Hasil uji heat transfer menunjukkan nanofluida Air-ZrO2 dengan penambahan dispersan Cetyl trimethylammonium bromide (CTAB) dapat memindahkan panas lebih baik dari pada air dengannilai convective heat transfer coefficient nanofluida dan overall heat transfer coefficientyang jauh lebih besar 1,72 dan 1,84 kali dibandingkan fluida dasar (air)

    IDENTIFIKASI PENGARUH SUHU TERHADAP KADAR GULA PEREDUKSI, KOMPOSISI PROKSIMAT, DAN PROFIL SENYAWA N-HETEROSIKLIK BAWANG HITAM DARI BAWANG PUTIH (Allium sativum L.) DAN BAWANG MERAH (Allium cepa L.) LOKAL

    No full text
    RINGKASAN Rahayu, N. 2019. Identifikasi Pengaruh Suhu terhadap Komposisi Proksimat dan Profil Senyawa Alkaloid Bawang Hitam dari Bawang Putih (Allium Sativum L.) dan Bawang Merah (Allium Cepa L.) Lokal, Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D., (II) Rini Retnosari, S.Pd., M.Si. Kata Kunci: bawang hitam, alkaloid, proksimat. Bawang merah dan bawang putih adalah salah satu jenis sayuran yang digunakan sebagai salah satu bumbu masakan. Bawang hitam adalah produk olahan bawang putih atau bawang merah dengan proses pemanasan dengan citarasa dan aroma lebih sedap dari bawang mentah. Proses pemanasan mendukung terjadinya beberapa reaksi kimia dan perubahan beberapa senyawa, salah satunya yaitu senyawa Nheterosiklik. Pembuatan bawang hitam diharapkan mampu menjadi salah satu produk bahan alam yang dapat dikonsumsi dan diminati masyarakat. Oleh karena itu, penelitian ini dilakukan untuk (1) mengetahui perubahan kadar gula pereduksi, (2) mengetahui perubahan komposisi proksimat dan (3) mengetahui perubahan profil senyawa Nheterosiklik bawang hitam dari bawang putih dan bawang merah lokal akibat pemanasan pada suhu 45℃, 60℃, dan 80℃. Bawang putih dan bawang merah mentah diproses menjadi bawang hitam pada suhu 45℃, 60℃, dan 80℃. Kemudian dilakukan analisis kadar gula reduksi menggunakan metode Nelson-Somogy, kadar air menggunakan metode oven, serat kasar dengan ekstraksi menggunakan larutan H2SO4, abu menggunakan metode tanur, dan uji senyawa alkaloid menggunakan Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). Proses analisis dilakukan setiap 6 hari sekali. Hasil yang didapatkan menunjukkan perubahan kandungan gula pereduksi dan proksimat terbaik terjadi pada pemanasan suhu 60℃. Sedangkan untuk senyawa N-heterosiklik terdeteksi lebih banyak pada bawang merah daripada bawang putih baik saat sebelum dan sesudah pemanasan. Kandungan senyawa N-heterosiklik memiliki jumlah yang berbeda-beda setiap suhu dan lama pemanasan.   SUMMARY Rahayu, N. 2019. Identifikasi Pengaruh Suhu terhadap Komposisi Proksimat dan Profil Senyawa Alkaloid Bawang Hitam dari Bawang Putih (Allium Sativum L.) dan Bawang Merah (Allium Cepa L.) Lokal, Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D., (II) Rini Retnosari, S.Pd., M.Si. Kata Kunci: black garlic, N-heterocyclic, proximate. Onion and garlic are one type of vegetable that is used as the ingredients of cooking. Black onions are products from processed of garlic or onions with termal process with a more delicious flavor and taste than raw onions. Termal process supports several chemical reactions and compound changes, one of that is the N-heterocyclic compound. Making black onions is expected to be one of the natural ingredients that can be expected and sought after by the public. Therefore, this study was conducted to (1) Determine changes in reducing sugar levels, (2) determine changes in proximate composition and (3) Knowing the profile changes in the composition of Nheterocyclic compound of black garlic from garlic and onion local at 45 ℃ , 60 ℃ and 80 ℃. Garlic and onion was proces at 45 ℃, 60 ℃ and 80 ℃. Then analysis of reducing sugar content using the Nelson-Somogy method, air content using the oven method, crude fiber with extraction using H2SO4 solution, ash using the furnace method, and alkaloid compounds test using Gas Chromatography-Mass Spectrometry (GC-MS). The analysis process is carried out every 6 days. The results obtained showed that the best changes in reducing and proximate sugars occurred at 60 ℃. While the amount of Nheterocyclic was more hinger on onions than on garlic both before and after heating. The N-heterocyclic mixture has different amounts for each temperature and heating time

    STUDI FRAKSINASI DAN DISTRIBUSI KETERIKATAN TEMBAGA DALAM SEDIMEN LAUT DI WILAYAH SENDANG BIRU MENGGUNAKAN METODE BCR(THE BEREAU COMMUNITY OF REFERENCE) SONIFIKASI

    No full text
    STUDI FRAKSINASI DAN DISTRIBUSI KETERIKATAN TEMBAGA DALAM SEDIMEN LAUT DI WILAYAH SENDANG BIRU MENGGUNAKAN METODE BCR(THE BEREAU COMMUNITY OF REFERENCE)  SONIFIKASI Moch Rozaq Hasan Suffi*, Anugrah Ricky Wijaya1, Irma Kartika Kusumaningrum2. Jurusan Kimia. FMIPA.UniversitasNegeri Malang. Jl. Semarang No.5, Malang 65145 Email: [email protected]; [email protected]; [email protected]   ABSTRAK Padatnya aktifitas antropogenik diperairan sendang biru dapat memberikan dampak negatif bagi ekosistem perairan, yang banyak memberikan dampak negatif adalah logam berat yang akan terakumulasi dalam perairan dan mengendap kedalam sedimen. Sedimen memiliki kemampuan mengadsorpsi logam berat. Salah satu logam berat yang dapat teradsorpi dalam sedimen adalah tembaga. Metode yang umum digunakan untuk menganalisis logam dalam sedimen adalah BCR Sonifikasi. Hasil penelitian analisis tembaga menggunakan metode BCR Sonifikasi memberikan nilai presisi sebesar 0,05%, dan akurasi sebesar 90,36%, hasil tersebut menunjukkan bawah metode BCR meliliki nilai presisi dan akurasi yang tinggi. Fraksinasi logam tembaga dalam sedimen menunjukkan dominan pada fraksi non resisten, yang memiliki nilai persentase 13,29%; 29,42%; 24,15%, yang meliputi fraksi mudah larut, fraksi tereduksi, dan fraksi teroksidasi. Pada fraksi resisten atau fraksi residu konsentrasi tembaga dalam sedimen mempunyai nilai persentase 33,11%. Distribusi keterikatan tembaga dalam sedimen pada sembilan lokasi di Sendang Biru berkisar antara 14,78 mg/kg sampai 3536,8 mg/kg dan rata-rata konsentrasi tembaga dalam sedimen Sendang Biru sebesar 409,09 mg/kg. Hal ini menunjukkan bahwa logam tembaga dalam sedimen Sendang Biru berada pada tingkat diatas ambang batas, sehingga sudah membahayakan bagi organisme perairan. Kata kunci: Sedimen, Fraksinasi, Distribusi, Tembaga, Metode BCR Sonifikasi.

    Efektivitas Katalis ZAA dan ZAA/Ni untuk Degradasi Gliserol menjadi Etanol dengan Bantuan Ultrasonik

    No full text
    ABSTRAK   Ringkasan   Cahyono, Randi Wujud. 2017.Efektivitas Katalis ZAA dan ZAA/Ni untuk Degradasi Gliserol menjadi Etanol dengan Bantuan Ultrasonik. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dr. Sumari, M.Si., (II) Drs.Ida Bagus Suryadharma, M.S.   Kata Kunci Zeolit, Impregnasi, Hidrokarbo: zeolit, katalis, degradasi gliserol, etanol, ultrasonikasi   Pertumbuhan penduduk yang meningkat  setiap tahun menyebabkan laju konsumsi minyak bumi pun bertambah. Mengingat bahan fosil yang ada merupakan sumber alam terbatas maka dikhawatirkan terjadi kelangkaan bahan bakar. Pemerintah menggalakkan penggunaan biodiesel sebagai bahan bakar  alternatif yang menghasilkan limbah gliserol dalam jumlah besar. Akibat melimpahnya gliserol sebagai produk samping ini maka para ahli berusaha mendegradasi gliserol menjadi bioetanol. Tujuan penelitian ini adalah mengkonversi gliserol menjadi bioetanol menggunakan katalis zeolit alam aktif/Ni dengan bantuan ultrasonik. Penelitian ini dilakukan di Laboratorium Kimia, Laboratorium Sentral FMIPA UM, Laboratorium Elektrokimia dan Korosi Teknik Kimia ITS, dan Laboratorium Teknik Kimia POLINEMA. Katalis yang digunakan dalam penelitian ini adalah zeolit alam aktif dan atau tanpa impregnasi Ni. Proses degradasi dilakukan pada suhu 30°C pada variasi waktu degradasi 1, 2, dan 4 jam dengan katalis zeolit alam aktif/Ni dengan bantuan ultrasonik. Katalis yang digunakan dikarakterisasi menggunakan BET, dan XRD. Produk degradasi gliserol dianalisis menggunakan kromatografi gas. Hasil analisis XRD menunjukkan bahwa zeolit yang digunakan dalam penelitian ini adalah jenis mordenit. Hasil analisis BET menunjukkan luas permukaan spesifik zeolit alam aktif tanpa impregnasi lebih besar dibandingkan dengan menggunakan impregnasi yaitu sebesar 99,096 m2/g dan volum pori zeolit alam aktif tanpa impregnasi juga lebih besar dibandingkan volum pori dengan impregnasi yaitu sebesar 1,992x10-2cc/g. Berdasarkan analisis GC diperoleh produk hasil degradasi gliserol adalah etanol. Persentase kadar etanol tertinggi sebesar 5,030% yang diperoleh ketika degradasi dilakukan menggunakan zeolit alam aktif dengan impregnasi logam Ni dari waktu sonikasi 2 jam.

    0

    full texts

    1,785

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇