SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
Not a member yet
    1785 research outputs found

    Perbedaan Keterampilan Memecahkan Masalah Materi Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit pada Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Tumpang Ditinjau dari Gender

    No full text
    RINGKASAN Firany, Dessy M. 2019. Perbedaan Keterampilan Memecahkan Masalah Materi Larutan Elektrolit dan Nonelektrolit pada Siswa Kelas X SMA Negeri 1 Tumpang Ditinjau dari Gender. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Drs. Darsono Sigit, M.Pd., (II) Oktavia Sulistina, S.Pd., M.Pd. Kata Kunci: keterampilan memecahkan masalah, gender, elektrolit dan nonelektrolit. Pada abad 21 ini, setiap individu sangat memerlukan keterampilan agar dapat digunakan untuk bersaing dengan negara lain. Keterampilan abad 21 yang dikembangkan dari penerapan kurikulum 2013 diharapkan dapat digunakan untuk melatih keterampilan berpikir siswa, yang salah satunya adalah keterampilan memecahkan masalah. Salah satu topik yang dipelajari dalam kimia adalah larutan elektrolit dan nonelektrolit. Materi ini tidak hanya menjelaskan deskripsi teori semata, melainkan kumpulan dari fakta dan gejala alam yang memerlukan pemahaman konsep dan pemecahan masalah. Permasalahan mengenai gender tidak dapat dihindari. Secara umum terdapat perbedaan sosial biologis antara laki-laki dan perempuan. Perbedaan tersebut mempengaruhi keterampilan memecahkan masalah yang dimiliki oleh siswa laki-laki dan perempuan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keterampilan memecahkan masalah materi larutan elektrolit dan nonelektrolit pada siswa laki-laki dan perempuan. Selain itu juga untuk membandingkan apakah terdapat perbedaan keterampilan memecahkan masalah materi larutan elektrolit dan nonelektrolit pada siswa ditinjau dari gender.  Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif komparatif. Variabel bebas yang digunakan dalam penelitian ini adalah gender, dengan variabel terikat keterampilan memecahkan masalah. Populasi dalam penelitian ini adalah siswa kelas X SMA Negeri 1 Tumpang yang berjumlah 177 siswa dan sampel yang digunakan berjumlah 66 siswa. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik purposive sampling dan diperoleh 33 siswa perempuan dan 33 siswa laki-laki. Instrumen penelitian berupa soal tes dalam bentuk uraian (essay). Soal tes yang digunakan merupakan hasil pengembangan yang telah dilakukan oleh Siti Mu’awanah, Mahasiswa S2 Universitas Negeri Yogyakarta 2015. Hasil validasi 15 butir soal menghasilkan semua butir soal valid dan memiliki koefisien reliabilitas sebesar 0,800 dengan kategori tinggi. Uji hipotesis dalam penelitian ini menggunakan uji statistik parametrik dengan independent sample t-test. Berdasarkan hasil analisis, diperoleh hasil sebagai berikut. Pertama keterampilan memecahkan masalah siswa perempuan berada pada kategori sangat tinggi dan tinggi, sedangkan keterampilan memecahkan masalah siswa laki-laki berada pada kategori tinggi dan sedang. Keterampilan memecahkan masalah pada siswa perempuan lebih tinggi pada indikator memahami konsep; mencatat kesamaan, perbedaan, dan analogi; menginterpretasikan hubungan antar fakta; dan membuat generalisasi. Sedangkan keterampilan memecahkan masalah pada siswa laki-laki lebih tinggi pada indikator memanipulasi dan menganalisa perincian yang tidak relevan. Kedua, hasil t-test keterampilan memecahkan masalah menunjukkan bahwa ada perbedaan keterampilan memecahkan masalah materi larutan elektrolit dan nonelektrolit pada siswa kelas X SMA Negeri 1 Tumpang ditinjau dari gender, dengan nilai rata-rata siswa perempuan sebesar 53,55 dan siswa laki-laki sebesar 47,03. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa siswa perempuan memiliki keterampilan memecahkan masalah materi larutan elektrolit dan nonelektrolit lebih tinggi daripada siswa laki-laki

    PENGEMBANGAN INSTRUMEN ASESMEN KETERAMPILAN BERPIKIR KRITIS MELIBATKAN INTERKONEKSI MULTIPEL REPRESENTASI PADA MATERI ASAM BASA

    No full text
    RINGKASAN Dewi, Insani Mutiara. 2019.  Pengembangan Instrumen Asesmen Keterampilan Berpikir Kritis Melibatkan Interkoneksi Multipel Representasi pada Materi Asam Basa. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam. Pembimbing: (I) Dr. Hj. Hayuni Retno Widarti, M.Si (II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si. Kata Kunci: instrumen asesmen, keterampilan berpikir kritis, multipel representasi, asam basa Revolusi industri 4.0 telah mengubah cara kerja manusia menjadi digitalisasi melalui inovasi yang terus berkembang. Bekal utama agar bertahan pada era ini adalah dengan mempersiapkan keterampilan dan menambah semangat literasi salah satunya adalah keterampilan berpikir kritis. Keterampilan berpikir kritis adalah salah satu kecakapan hidup yang perlu dikembangkan melalui proses pendidikan. Kurangnya inovasi dan kreatifitas guru dalam pembuatan instrumen penilaian yang melibatkan keterampilan berpikir kritis menyebabkan rendahnya pemicu daya kritis dan kreatif siswa selama proses pembelajaran. Pemahaman yang mendalam dalam mempelajari ilmu kimia akan diperoleh apabila siswa dapat menjelaskan suatu fenomena melalui representasi makroskopik, submikroskopik, dan simbolik. Melatih serta mengukur keterampilan berpikir kritis dan pemahaman siswa terhadap materi kimia terutama materi asam basa membutuhkan suatu instrumen yang tidak hanya menilai hafalan tetapi juga instrumen yang melatih keterampilan berpikir kritis. Pengembangan ini dilakukan dengan tujuan 1) menghasilkan instrumen asesmen keterampilan berpikir kritis yang melibatkan interkoneksi multipel representasi pada materi asam basa untuk siswa SMA/MA; 2) mendeskripsikan spesifikasi instrumen asesmen yang dikembangkan; dan 3) mengetahui kelayakan instrumen asesmen yang dikembangkan. Pengembangan instrumen ini menggunakan model pengembangan Research and Development (R&D) menurut Borg dan Gall (1989). Tahapan-tahapan yang digunakan pada model ini sangat lengkap untuk memperoleh suatu produk yang layak. Model ini tersusun dari 10 tahapan pengembangan, karena keterbatasan waktu dan biaya maka penelitian ini hanya mengadopsi 7 dari 10 tahapan pengembangan, yaitu 1) penelitian dan pengumpulan data, 2) perencanaan, 3) pengembangan draf produk, 4) uji coba lapangan, 5) revisi hasil uji coba, 6) uji coba lapangan terbatas, dan 7) penyempurnaan produk hasil uji coba lapangan. Produk yang dihasilkan pada penelitian pengembangan ini adalah seperangkat instrumen asesmen keterampilan berpikir kritis yang melibatkan interkoneksi multipel representasi pada materi asam basa untuk siswa SMA/MA yang terdiri dari soal-soal dalam bentuk pilihan ganda dan esai yang dilengkapi dengan petunjuk penggunaan, kisi-kisi soal berdasarkan indikator berpikir kritis Robert H. Ennis (1985), kunci jawaban dan rambu-rambu jawaban untuk soal esai, serta pedoman pengolahan skor yang diperoleh oleh siswa. Hasil analisis validitas kelayakan tampilan dan isi, diperoleh rata-rata persentase sebesar 85% dan reliabilitas instrumen pilihan ganda dan esai masing-masing 0,773 dan 0,906 dengan katagori sangat layak.   SUMMARY Dewi, Insani Mutiara. 2019.  Development of Assessment Instruments for Critical Thinking Skills Involving Interconnections of Multiple Representations in Acid-Base Materials. Thesis, Department of Chemistry, Faculty of Mathematics and Natural Sciences. Advisor: (I) Dr. Hj. Hayuni Retno Widarti, M.Si (II) Dra. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si. Keywords: assessment instruments, critical thinking skill, multiple representations, acid base The 4.0 industrial revolution has changed the way human work to be digitalized through ever-evolving innovation. The main provision to survive in this era is preparing skill and increase the spirit of literacy, one of them is critical thinking skills. Critical thinking skill is one of life skills that need to be developed through the educational process. However, the lack of innovation and creativity of teachers in making assessment instruments involving critical thinking skills leads to low triggers of students' critical and creative power during the learning process. In learning chemistry, a deep understanding will be obtained if students can explain a phenomenon through macroscopic, submicroscopic, and symbolic representations. Training and measuring critical thinking skills and students' understanding of chemical materials, especially acid-base material requires an instrument that not only assesses memorization but also instruments that train critical thinking skills. This development was carried out with the aim of 1) to produce an assessment instrument for critical thinking skills that involved interconnecting multiple representations of acid-base material for high school students; 2) describe the specifications of the assessment instrument developed; and 3) knowing the feasibility of the assessment instruments developed. The development of this instrument used the Research and Development (R&D) model according to Borg and Gall (1989). The stages used in this model are very complete to obtain a feasible product. This model is composed of 10 stages of development but due to time and cost constraints, this study only adopted 7 out of 10 stages of development, including 1) research and data collection, 2) planning, 3) product draft development, 4) field trials, 5) revision of the results of the trial, 6) limited field trials, and 7) product improvements resulting from field trials. The product of this development research is a set of assessment instruments for critical thinking skills that involve interconnection of multiple representations in acid-base material for high school  students consisting of multiple choice questions and essays and equipped with instructions for use, question grid based on Robert H. Enniss’ (1985) critical thinking indicators, answer keys and answer signs for essay questions, as well as guidelines for processing scores obtained by students. Based on the results of the feasibility validity analysis of the display and content, the average percentage was 85% and the reliability of multiple choice and essays instruments were 0.773 and 0.906 respectively with very feasible categories

    SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS DARI KADMIUM(II) KLORIDA DENGAN KALIUM SIANIDA DAN LIGAN N,N’-DIETILTIOUREA

    No full text
    SINTESIS DAN KARAKTERISASI SENYAWA KOMPLEKS DARI KADMIUM(II) KLORIDA DENGAN KALIUM SIANIDA DAN LIGAN N,N’-DIETILTIOUREA Siti Hartinah Qurbayni, Fariati*), I Wayan Dasna Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang, email: [email protected] *Corresponding author: [email protected] Abstrak: Senyawa kompleks disintesis dengan cara mereaksikan kadmium(II) klorida dengan kalium sianida dan ligan detu menggunakan pelarut metanol dan air. Senyawa kompleks hasil sintesis dikarakterisasi dengan uji titik lebur, daya hantar listrik (DHL), uji kualitatif ion sianida, uji FT-IR, uji SEM-EDX, dan perhitungan energi menggunakan metode Semi-Empirical. Prediksi struktur yang dilaporkan yaitu senyawa kompleks molekuler dengan rumus molekul [(CN)(C5H12N2S)Cd(µ-CN)2Cd(CN)(C5H12N2S)] dan energi total sebesar-448,562 kJ/mol. Geometri di sekitar atom pusat adalah tetrahedral. Kata kunci: sintesis, karakterisasi, kadmium klorida, N,N’-dietiltiourea, kalium sianid

    PERBANDINGAN HASIL BELAJAR KOGNITIF SISWA KELAS XI DENGAN MODEL PEMBELAJARAN PREDICT- OBSERVE-EXPLAIN (POE) DAN PREDICT-DISCUSS-EXPLAIN-OBSERVE-DISCUSS-EXPLORE-EXPLAIN (PDEODE*E) PADA MATERI LARUTAN PENYANGGA

    No full text
    RINGKASANPratiwi, Dhika Adhitya Cahya.2019. Perbandingan Hasil Belajar Kognitif Siswa Kelas Xi Dengan Model Pembelajaran Predict- Observe-Explain (POE) Dan Predict-Discuss-Explain-Observe-Discuss-Explore-Explain (PDEODE*E) Pada Materi Larutan Penyangga. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (1) Dr. Dra. Siti Marfu’ah, M.S, (II) Herunata, S.Pd, M.PdKata Kunci: Model pembelajaran POE, model pembelajaran PDEODE*E, hasil belajar kognitifPendidikan telah menjadi kebutuhan penting bagi setiap negara. Pelaksanaan pembelajaran dalam pendidikan bertujuan membentuk karakter siswa yang aktif dalam memecahkan masalah. Salah satu pendukung utama pembelajaran adalah model pembelajaran. Berdasarkan Permendikbud No.22 Tahun 2016, pembelajaran Scientifiec, dapat membentuk karakter siswa yang aktif seperti model  pembelajaran POE dan PDEODE*E. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan hasil belajar kognitif siswa yang menggunakan model pembelajaran Predict- Observe-Explain (POE) dengan Predict-Discuss-Explain-Observe-Discuss-Explore-Explain (PDEODE*E).Penelitian dilaksanakan di SMA N 2 Ponorogo. Bentuk penelitian ini adalah quasi eksperimen. Pemilihan sampel dalam penelitian ini menggunakan teknik cluster random sampling sehingga didapatkan 2 kelas yaitu kelas XI MIPA 3 dan XI MIPA 7. Kelas XI MIPA 3 merupakan kelas kontrol yang dibelajarkan model pembelajaran Predict- Observe-Explain (POE) dan kelas eksperimen adalah kelas XI MIPA 7 yang dibelajarkan dengan model Predict-Discuss-Explain-Observe-Discuss-Explore-Explain (PDEODE*E). Rancangan penelitian yang digunakan adalah pretest-posttest control group design. Nilai prestest kelas kontrol dan eksperimen digunakan untuk mengetahui ada tidaknya perbedaan kemampuan awal antara kedua kelas tersebut. Nilai posttest digunakan untuk mengetahui lebih tinggi mana hasil belajar kognitif yang menggunakan model Predict-Discuss-Explain-Observe-Discuss-Explore-Explain (PDEODE*E) atau yang menggunakan model pembelajaran Predict- Observe-Explain (POE).Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterlaksanaan pembelajaran pada kelas yang menggunakan model Predict- Observe-Explain (POE) sebesar 97,5% dan  kelas yang menggunakan model Predict-Discuss-Explain-Observe-Discuss-Explore-Explain (PDEODE*E) sebesar 95%. Keterlaksanaan pembelajaran pada kedua kelas termasuk kategori sangat baik. Hasil penelitian juga menunjukkan bahwa hasil belajar kognitif siswayangmenggunakanmodel Predict-Discuss-Explain-Observe-Discuss-Explore-Explain (PDEODE*E) lebih tinggi dari pada yang menggunakan model Predict- Observe-Explain (POE). Rata-rata hasil belajar kognitif kelas eksperimen adalah 76 sedangkan rata-rata hasil belajar kognitif kelas kontrol adalah 70. Hasil penelitian ini diperkuat dengan hasil perhitungan one tailed t test yang menunjukkan bahwa dan thitung > ttabel dengan nilai thitung sebesar 2,129 dan nilai ttabel  sebesar1,669

    Pengaruh Suhu dan Waktu Pemanasan terhadap Kadar Senyawa Fenolik Total dan Profil Senyawa Volatil dalam Bawang Putih (Allium sativum L.) dan Bawang Merah (Allium cepa L.) pada Proses Pembuatan Bawang Hitam

    No full text
    RINGKASANCahyani, D.D. 2019. Pengaruh Suhu dan Waktu Pemanasan terhadap Kadar Senyawa Fenolik Total dan Profil Senyawa Volatil dalam Bawang Putih (Allium sativum L.) dan Bawang Merah (Allium cepa L.) pada Proses Pembuatan Bawang Hitam. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing: (I) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D., (II) Dr. Hj. Endang Budiasih, M.S. Kata Kunci: bawang putih, bawang merah, fenolik, organosulfur. Bawang putih dan bawang merah merupakan bahan alam yang mengandung banyak antioksidan, antara lain senyawa fenolik, flavonoid, dan organosulfur. Bawang putih dan bawang merah dapat diolah menjadi bawang hitam yang mengandung senyawa antioksidan lebih banyak daripada bentuk mentahnya, serta memiliki bau dan rasa yang lebih manis. Pada proses pembuatan bawang hitam, suhu berperan cukup penting. Pada suhu tertentu, suatu senyawa atau enzim yang mengkatalisis pembentukan suatu senyawa dapat mengalami kerusakan. Akan tetapi di sisi lain, pada suhu tertentu pula, reaksi pembentukan suatu senyawa dapat berlangsung lebih cepat, sehingga meningkatkan kadarnya selama proses pemanasan. Perubahan struktur dan kadar suatu senyawa juga mengalami perubahan seiring dengan lamanya waktu pemanasan. Pada lama pemanasan tertentu, suatu senyawa akan habis bereaksi, sedangkan senyawa yang lain mulai terbentuk. Dengan demikian, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh suhu (45°C, 60°C, dan 80°C) dan waktu pemanasan (6, 12, 18, dan 24 hari) terhadap kadar senyawa fenolik total dan profil senyawa volatil dalam bawang putih dan bawang merah selama proses pembuatan bawang hitam.  Analisis kadar senyawa fenolik total dalam bawang (sebelum dan setelah dipanaskan) dilakukan dengan menggunakan metode Folin-Ciocalteu. Analisis profil senyawa volatil dari bawang putih dan bawang merah, baik sebelum maupun sesudah pemanasan, dilakukan dengan menginjeksikan ekstrak sampel bawang putih, bawang merah, dan bawang hitam hasil pemanasan kedua jenis bawang pada sistem GC-MS. Kedua analisis tersebut dilakukan setiap 6 hari sekali. Hasil yang diperoleh yaitu semakin tinggi suhu pemanasan, kadar senyawa fenolik total tertinggi dalam bawang putih dan bawang merah semakin cepat tercapai. Kadar senyawa fenolik total dalam bawang putih cenderung lebih tinggi daripada bawang merah, baik sebelum maupun sesudah dipanaskan. Berdasarkan kromatogram, bawang merah mengandung senyawa organosulfur volatil lebih banyak daripada bawang putih, sedangkan senyawa esternya cenderung lebih rendah daripada bawang putih, baik sebelum maupun setelah pemanasan. Senyawa organosulfur volatil dan ester yang terdeteksi dari bawang putih dan bawang merah berbeda-beda untuk setiap suhu dan lama pemanasan. SUMMARYCahyani, D.D. 2019. Effect of Temperature and Heating Time on Total Phenolic Compounds and The Profile of Volatile Compounds in Garlic (Allium sativum L.) and Onion (Allium cepa L.) on The Process of Producing Black Garlic and Black Onion. Thesis, Chemistry Department, Faculty of Mathematics and Natural Sciences, UM. Supervisor: (I) Dra. Surjani Wonorahardjo, Ph.D., (II) Dr. Hj. Endang Budiasih, M.S. Keywords: garlic, onion, phenolic, organosulfur. Garlic and onion are natural ingredients that contain many antioxidants, including phenolic compounds, flavonoids, and organosulfur compounds. Garlic and onion can be processed into black garlic and black onion which contain more antioxidant compounds than the raw one, and also have a sweet odor and flavor. In the process of producing black garlic and black onion, temperature plays an important role. At certain temperature, a compound or enzyme that catalyzes the formation of the certain compounds can be damaged. However, on the other hand, at certain temperature, the formation of one compound can occur more quickly, and causes an increase in the amount of certain compounds during the garlic and onion heating processes. The changes in structure and amount of certain compunds also caused by heating time. At certain length of heating time, a compound can run out of reaction, while the other compounds begin to form. Thus, this study aimed to analyze the effect of temperature (45°C, 60°C, and 80°C) and heating time (6, 12,18, and 24 days) on the amount of total phenolic compounds and the profile of volatile compounds in garlic and onion during the process of producing black garlic and black onion. The analysis of total phenolic compounds in garlic and onion (before and after heating process) was carried out by using FolinCiocalteu method. The analysis of volatile compounds profile from garlic and onion, both before and after heating process, was carried out by injecting the extracts of garlic and onion samples on the GCMS system. The analysis of total phenolic compounds and volatile compounds profile were carried out every 6 days. The result says that the higher heating temperature may cause the highest total phenolic compounds in garlic and onion are more quickly achieved than the lower temperature. The amount of total phenolic compounds in garlic tend to be higher than onion, both before and after heating process. Based on the chromatogram, onion contains more volatile organosulfur compounds than garlic, while the ester compounds tend to be lower than garlic, both before and after being heated. Volatile organosulfur compounds and esters that detected from garlic and onion are different for each temperature and heating time

    Identifikasi Kemampuan Makroskopik, Mikroskopik dan Simbolik Siswa Kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Karangan Trenggalek pada Materi Larutan Penyangga Tahun Ajaran 2018/2019

    No full text
    ABSTRAKEndah, Yuliani. 2019. Identifikasi Kemampuan Makroskopik, Mikroskopik dan Simbolik Siswa Kelas XI MIPA SMA Negeri 1 Karangan Trenggalek pada Materi Larutan Penyangga Tahun Ajaran 2018/2019.Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas.Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang.iPembimbing: (1) Dr. Hj. Hayuni Retno Widarti, M.Si. (2) Drs. Darsono Sigit, M.Pd. Kata Kunci : Kemampuan representasi, makroskopik, mikroskopik, simbolik, larutan penyanggai Ilmu kimia merupakan bagian dari ilmu pengetahuan alam (sains) yang bersifat abstrak dan kompleks. Untuk mempelajari ilmu kimia yang bersifat abstrak diperlukan suatu penggambaran atau representasi yaitu representasi makroskopik, mikroskopik dan simbolik. Ketiga level representasi kimia tersebut saling berhubungan, meliputi hubungan level makroskopik-mikroskopik, makroskopik simbolik dan mikroskopik-simbolik atau dapat dikenal dengan istilah interkoneksi multipel representasi. Siswa mengalami kesulitan dalam menghubungkan ketiga level representasi, di kelas siswa cenderung lebih banyak belajar level simbolik. Hal ini disebabkan karena level simbolik lebih banyak diujikan dalam setiap tes keberhasilan kimia. Materi larutan penyangga merupakan salah satu materi kimia yang mencakup hubungan level makroskopik, mikroskopik dan simbolik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kemampuan representasi makroskopik-mikroskopik, makroskopik-simbolik dan mikroskopik-simbolik siswa pada materi larutan penyangga.   Rancangan penelitian ini menggunakan rancangan deskriptif. Subjek penelitian yaitu siswa kelas XI MIPA 1 dan XI MIPA 2 SMA Negeri 1 Karangan Trenggalek sebanyak 58 siswa yang dipilih berdasarkan teknik purposive sampling. Instrumen penelitian berupa soal-soal pilihan ganda berbasis interkoneksi multipel representasi yang memiliki validitas 96,8 % (kriteria sangat tinggi) dengan reliabilitas sebesar 0,922 (kriteria sangat tinggi). Soal tes berjumlah 28 butir soal yang terdiri dari 8 soal makroskopik-mikroskopik, 10 soal makroskopik-simbolik dan 10 soal mikroskopik-simbolik. Data hasil penelitian dianalisis menggunakan perhitungan persentase jawaban benar dan jawaban alasan terbuka siswa. Hasil penelitian menunjukkan bahwa (1) kemampuan representasi makroskopik-mikroskopik siswa pada materi larutan penyangga sebesar 57,61% (kriteria cukup), (2)  kemampuan representasi makroskopik-simbolik siswa pada materi larutan penyangga sebesar 66,67% (kriteria tinggi), (3) kemampuan representasi mikroskopik-simbolik siswa pada materi larutan penyangga sebesar 55,61% (kriteria cukup), (4) kemampuan pemahaman siswa terhadap materi larutan penyangga pada representasi makroskopik-mikroskopik yaitu miskonsepsi sebesar 27,20% dan tidak paham sebesar 18,56%, (5) kemampuan pemahaman siswa terhadap materi larutan penyangga pada representasi makroskopik-simbolik yaitu miskonsepsi sebesar 13,62% dan tidak paham sebesar 20,69% dan (6) kemampuan pemahaman siswa terhadap materi larutan penyangga pada representasi mikroskopik-simbolik yaitu miskonsepsi sebesar 37,36% dan tidak paham sebesar 19,82%

    Pengembangan Bahan Ajar dengan Pendekatan STEM PjBL Berbasis Kontekstual Pada Materi Asam dan Basa Untuk Siswa Kelas XI SMA/MA

    No full text
    ABSTRAKPinky, Kusuma Ningtyas. 2019. Pengembangan Bahan Ajar dengan Pendekatan STEM PjBL Berbasis Kontekstual Pada Materi Asam dan Basa Untuk Siswa Kelas XI SMA/MA. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Pembimbing:  (I) Dr. Hj. Hayuni Retno Widarti, M.Si. (II) Drs. Mohammad Sodiq Ibnu, M.Si. Kata Kunci : bahan ajar, Asam Basa, STEM PjBL, pendekatan STEM, berbasis proyek Pembelajaran kimia masih sering dianggap sulit dan membosankan oleh sebagian besar siswa SMA, hal ini karena masih banyak sekolah yang hanya terpacu pada teori saja. Ilmu kimia merupakan experimental science, maka dalam proses pembelajarannya dapat dilakukan melalui kegiatan praktikum. Pendekatan STEM PjBL akan memungkinkan siswa lebih tertarik untuk mempelajari materi kimia karena pembelajaran berpusat pada siswa dan lebih banyak kegiatan praktek yang dilakukan sendiri oleh siswa. Pendekatan STEM PjBL terdiri dari lima tahap, antara lain Reflection, Research, Discovery, Application dan Communication.   Pengembangan bahan ajar yang dilakukan menggunakan model 4D (FourD Model) karena berorientasi pada produk. Terdapat empat tahap pengembangan, yaitu define, design, develop dan disseminate. Namun, yang dapat terlaksana hanya tiga tahap awal karena terbatas pada waktu dan biaya. Pada tahap define menentukan ruang lingkup pengembangan, tahap design merancang draft bahan ajar dan tahap develop mengembangkan bahan ajar hingga revisi dan validasi. Validasi dilakukan oleh satu dosen kimia dan satu guru kimia. Validator memberikan skor, saran serta komentar untuk bahan ajar yang dikembangkan, sehingga data yang diperoleh berupa data kualitatif maupun kuantitatif dan dianalisis untuk mengetahui kelayakan bahan ajar. Selain itu, juga dilakukan uji keterbacaan oleh 10 siswa dengan memberikan angket. Bahan ajar yang dihasilkan terdiri dari Buku Guru dan Buku Siswa yang masing-masing terdiri dari bagian pendahuluan, bagian isi, dan bagian penutup. Bagian pendahuluan mencakup cover, karakteristik buku, daftar isi, daftar tabel, daftar gambar, daftar video, petunjuk penggunaan buku, telaah KI dan KD, serta pengantar bahan ajar. Bagian isi terdiri dari materi pembelajaran yang terbagi menjadi empat sub-bab, yaitu Swa-ionisasi air dan Konsep pH, Teori Asam Basa, Kekuatan Asam Basa, serta Indikator Asam Basa. Masing-masing bagian dijelaskan sesuai dengan pendekatan STEM PjBL yang mengintegrasikan empat interdisiplin ilmu, yaitu Science, Technology, Engineering, dan Mathematics dengan berbasis proyek.  Kelayakan hasil validasi bahan adalah sebagai berikut, buku guru diperoleh persentase sebesar 85,48%, RPP pada buku guru diperoleh persentase sebesar 87,94%, dan hasil validasi pada buku siswa diperoleh persentase sebesar 86,52%, sedangkan hasil uji keterbacaan oleh subjek uji coba diperoleh persentase sebesar 85,125%. Berdasarkan hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa bahan ajar sangat layak untuk digunakan dalam kegiatan pembelajaran

    Pengembangan Unit Kegiatan Belajar Mandiri (UKBM) pada Materi Minyak Bumi untuk Siswa Kelas XI SMA Berbasis CoRe (Content Representation)

    No full text
    RINGKASANRini, Suswantini Rohmatillah. 2019. Pengembangan Unit Kegiatan Belajar Mandiri (UKBM) pada Materi Minyak Bumi untuk Siswa Kelas XI SMA Berbasis CoRe (Content Representation). Skripsi. Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang. Dosen Pembimbing: (I) Drs. Ida Bagus Suryadharma, M.S., (II) Drs. M. Shodiq Ibnu, M.Si.Kata Kunci: UKBM, CoRe (Content Representation), Minyak BumiSKS (Sistem Kredit Semester) merupakan bentuk penyelenggaraan pendidikan yang dirancang untuk melayani peserta didik menyelesaikan beban belajar sesuai dengan bakat, minat, kemampuan, dan kecepatan belajarnya (Permendikbud No. 158 tahun 2014). Dalam implementasinya, seorang guru dalam SKS dituntut mampu untuk menyediakan Unit Kegiatan Belajar Mandiri (UKBM). UKBM merupakan satuan pelajaran kecil bersumber pada BTP (Buku Teks Pelajaran) dan berbasis KD (Kompetensi Dasar) yang dirangkai secara urut mulai dari yang mudah sampai ke yang sulit untuk membantu peserta didik belajar mandiri supaya mencapai ketuntasan beban belajar yang telah ditentukan. Hasil survei lapangan menunjukkan bahwa UKBM: (1) Belum membantu siswa untuk belajar memahami konsep dengan baik, (2) Dalam penerapan UKBM ada beberapa peserta didik yang memberikan respon negatif dimana hal tersebut mempengaruhi cara pengajaran guru. Rancangan penelitian ini menggunakan model pengembangan UKBM yang mengacu pada model 4D Thiagarajan, meliputi empat tahap utama yaitu define, design, develop, dan disseminate. Akan tetapi, penelitian ini hanya dibatasi sampai tahap develop karena keterbatasan waktu dan biaya. Adapun validasi isi yang dilakukan dengan memberikan angket validasi terhadap UKBM (Unit Kegiatan Belajar Mandiri) yang dikembangkan kepada validator yaitu satu orang dosen kimia dan dua orang guru kimia. Jenis data yang diperoleh dari hasil validasi pengembangan UKBM (Unit Kegiatan Belajar Mandiri)  ada dua terdiri dari data kuantitatif yang diperoleh dari skor angket untuk mengetahui besarnya kelayakan/kevalidan UKBM (Unit Kegiatan Belajar Mandiri) melalui perhitungan nilai rata-rata dan data kualitatif diperoleh dari komentar dan saran validator. Setelah dilakukan validasi isi UKBM (Unit Kegiatan Belajar Mandiri) kemudian dilakukan uji keterbacaan terbatas hanya kepada 26 siswa SMAN 1 Singosari. Data hasil validasi produk UKBM (Unit Kegiatan Belajar Mandiri) oleh validator pada semua aspek (kelayakan isi, penerapan CoRe (Content Representation), penyajian isi, dan tampilan atau Lay Out) dengan nilai mean yang diperoleh sebesar 87% termasuk kriteria sangat layak.  Selain itu, diperoleh skor dari masukan mudah/sulitnya dipahami peserta didik melalui uji keterbacaan sebesar 83,54% termasuk kriteria sangat mudah dipahami.  SUMMARYRohmatillah, Rini Suswantini. 2019. The Development of Independent Learning Activity Unit (UKBM) in Petroleum Materials for XI Grade High School Students Based on CoRe (Content Representation).Thesis, Department Of Chemistry, Faculty of Mathematical and  Natural Sciences, State University of  Malang. Supervisors: (1) Drs. Ida Bagus Suryadharma, M.S., (2) Drs. M. Shodiq Ibnu, M.Si.Keywords : UKBM, CoRe (Content Representation), Petroleum MaterialsSKS (Semester Credit System) is education system designed to serve students to complete their learning load in accordance with their talents, interests, abilities and learning speed (Permendikbud Number 158 of 2014). In its implementation, a teacher in SKS system is required to be able to provide an Independent Learning Activity Unit (UKBM). UKBM is a small learning unit based on BTP (Textbooks) and KD (Basic Competence) which is arranged in sequence starting from the easy one to the difficult one to help students learn independently in order to achieve the specified mastery of learning load. The results of the field survey indicated that UKBM: (1) Has not helped students to learn to understand the concept well, (2) In applying UKBM there are some students who give negative responses which influence teacher teaching method.The model used in this UKBM development was 4D-model by Thiagarajan, which includes four main stages, define, design, develop, and disseminate. However, this study was only carried out until the third stage,develop stage, due to time and cost limitations. The content validation was carried out by giving a validation questionnaire to validators, one chemistry lecturer and two chemistry teachers. There are two types of data obtained from the validation of UKBM, there are quantitative data obtained from questionnaire scores to determine the size of the feasibility/validity of the UKBM by calculating the average score and qualitative data obtained from validators’ comments and suggestions. After validating the contents of the UKBM, then a limited readability test was carried out for 26 students of SMAN 1 Singosari. The result of the validation obtained 87% which represents content feasibility, application of CoRe (Content Representation), content presentation, and appearance or layout which means very feasible/valid to be used. The result of readability is 83,54% that means the UKBM is very easy to understand by students

    Transfromasi Minyak Biji Wijen (Sesamum indicum Linn) Menjadi Turunannya dan Uji Aktivitasnya Sebagai Antibakteri

    No full text
     ABSTRAKYaqin, Ainul. 2019. Transfromasi Minyak Biji Wijen (Sesamum indicum Linn) Menjadi Turunannya dan Uji Aktivitasnya Sebagai Antibakteri. Skripsi, Jurusan Kimia, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Negeri Malang, Pembimbing: (I) Dr. H. Sutrisno, M.Si., (II) Dra. Hj. Dedek Sukarianingsih, M.Pd., M.Si.Kata kunci: minyak biji wijen, turunan trigliserida, antibakteriMinyak biji wijen merupakan minyak nabati yang belum banyak dimanfaatkan dalam bidang farmasi, karena lebih banyak digunakan untuk memasak. Minyak ini kaya akan asam lemak tak jenuh. Penelitian sebelumnya didapatkan minyak biji wijen yang tidak memiliki aktivitas antibakteri dan diperoleh komponen penyusun asam-asam lemak dari minyak biji wijen. Penelitian ini bertujuan untuk: (1) mentransformasi minyak biji wijen menjadi sabun kalium, (2) mengasidifikasi sabun kalium menjadi asam-asam lemak, (3) mentransesterifikasi minyak biji wijen menjadi metil ester, dan (4) mengetahui aktivitas antibakteri sabun kalium, asam-asam lemak, dan metil ester hasil sintesis. Rancangan penelitian ini adalah deskriptif laboratorik yang terdiri dari 5 tahap. Tahap 1 karakterisasi dan identifikasi minyak biji wijen yang meliputi wujud, warna, massa jenis, indeks bias, viskositas, kelarutan, angka asam, angka penyabunan, angka ester, interpretasi spektrum IR dan analisis GC-MS. Tahap 2 sintesis, karakterisasi dan identifikasi yang meliputi wujud, warna, titik lebur, kelarutan dan interpretasi spektrum IR terhadap sabun kalium. Tahap 3 sintesis, karakterisasi dan identifikasi yang meliputi wujud, warna, massa jenis, indeks bias, viskositas, titik didih, kelarutan, angka asam, angka penyabunan, angka ester dan interpretasi spektrum IR terhadap asam lemak. Tahap 4 transesterifikasi minyak biji wijen, karakterisasi dan identifikasi yang meliputi wujud, warna, massa jenis, indeks bias, viskositas, titik didih, kelarutan, angka asam, angka penyabunan, angka ester, interpretasi spektrum IR dan analisis GC-MS ester hasil sintesis. Tahap 5 uji aktivitas antibakteri hasil sintesis terhadap bakteri uji Staphylococcus aureus dan Escherchia coli. Saponifikasi minyak biji wijen dengan kalium hidroksida dihasilkan sabun kalium berwujud padat berwarna putih kekuningan dan memiliki titik lebur 235-240 ºC. Asidifikasi sabun kalium dengan asam klorida diperoleh asam lemak berwujud cair berwarna kuning, memiliki massa jenis 0,93 g.mL-1, indeks bias 1,46 (25ºC), viskositas 60,54 cSt, titik didih 194 ºC, angka asam 140,55, angka penyabunan 165,55, dan angka ester 25,00. Transesterifikasi minyak biji wijen menggunakan metanol berkatalis kalium hidroksida dihasilkan metil ester asam lemak berwujud cair berwarna kuning, memiliki massa jenis 0,89g.mL-1, indeks bias 1,45 (25 ºC), viskositas 35,06 cSt, titik didih 161 ºC angka asam 0,56, angka penyabunan 429,21, dan angka ester 428,65. Sabun kalium (2% dan 1%), asam lemak (2% dan 1%), dan metil ester 2% aktif sebagai antibakteri terhadap bakteri uji Escherchia coli dan Staphylococcus aureus dengan kategori sedang.

    pengembangan instrumen penilaian tipe PISA dalam materi reaksi redoks dan elektrokimia untuk mengevaluasi literasi kimia

    No full text
    Literasi kimia merupakan bagian dari literasi sains yang memuat kemampuan menjelaskan, menganalisis, hingga memberikan solusi terhadap isu-isu kimia dalam kehidupan sehari-hari. PISA merupakan salah satu studi yang mengukur tingkat literasi sains peserta didik level internasional. Hasil beberapa penelitian mengungkapkan bahwa kemampuan literasi kimia peserta didik Indonesia tergolong rendah, peserta didik belum mampu menggunakan konsep kimia dalam menyelesaikan tes yang diberikan. Salah satu upaya meningkatkan kemampuan literasi kimia peserta didik adalah menggunakan instrumen penilaian yang mengacu pada framework literasi sains PISA 2015. Tujuan penelitian dan pengembangan ini adalah menghasilkan instrumen penilaian tipe PISA dalam materi reaksi redoks dan elektrokimia untuk mengevaluasi literasi kimia dengan tingkat validitas yang memadai. Penelitian dan pengembangan ini menggunakan model pengembangan menurut Tiagarajan. Model tersebut terdiri atas empat tahap yakni define (membatasi), design (merancang), develop (mengembangkan), dan disseminate (mendiseminasikan). Dalam pengembangan instrumen ini hanya dilakukan sampai tahap develop (mengembangkan). Produk yang dihasilkan divalidasi oleh 9 validator meliputi 1 dosen kimia Universitas Negeri Malang, 5 guru kimia SMA di Malang, dan 3 guru kimia SMA di Jember. Data hasil validasi ahli terdiri atas skor penilaian, saran dan komentar. Skor yang diperoleh dianalisis dan dijumlah kemudian disajikan dalam bentuk persentase, sedangkan komentar dan saran digunakan sebagai acuan untuk perbaikan produk. Hasil dari pengembangan instrumen penilaian terdiri atas 6 topik yang meliputi soal kognitif dalam bentuk pilihan ganda sejumlah 41 butir, dan angket sikap terhadap sains sejumlah 6 item. Produk yang dihasilkan dikategorikan sangat layak dengan perolehan rata-rata persentase sebesar 88%

    0

    full texts

    1,785

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SKRIPSI Jurusan Kimia - Fakultas MIPA UM
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇