SPASIAL
Not a member yet
445 research outputs found
Sort by
KAJIAN SPASIAL KEBUTUHAN AIR BERSIH DI KECAMATAN PINELENG, KABUPATEN MINAHASA
Salah satu faktor penting dalam keberlangsungan pembangunan di suatu wilayah perkotaan adalah ketersediaan sumber daya alam yang mencukupi guna memenuhi segala kebutuhan masyarakatnya.Salah satu sumber daya alam yang memiliki peran vital di wilayah perkotaan adalah sumber daya air bersih. Yang menjadi fokus dari penelitian ini yakni mengkaji fungsi spasial wilayah Kecamatan Pineleng, memproyeksi kebutuhan air bersih dalam jangka waktu 10 tahun kedepan (2013-2023), serta mengetahui rasio ketersediaan sumber air (kapasitas produksi) terhadap proyeksi kebutuhan air selama 10 tahun kedepan. Lingkup dari penelitian ini adalah Kecamatan Pineleng, Kabupaten Minahasa.Metode penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif-kualitatif dengan menggunakan analisis spasial GIS dan analisis proyeksi geometrik.Analisis spasial GIS mencakup kajian tentang kelerengan, topografi, perkembangan kawasan terbangun dan tidak terbangun, pola pemanfaatan lahan, dan kajian sumber air.Sedangkan analisis proyeksi geometrik mencakup proyeksi tentang kependudukan 10 tahun kedepan, proyeksi kebutuhan sektor domestik, dan proyeksi kebutuhan sektor non domestik.Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa secara spasial Kecamatan Pineleng terletak pada kelerengan 15-25 % dan terletak pada ketinggian 77-429 mdpl.kemudian untuk proyeksi kebutuhan air domestik dan non domestik selama 10 tahun mendatang mencapai 38,963 liter/detik atau meningkat sebesar 34,10 %. Kemudian total ketersediaan air bersih dari seluruh sumber air di Kecamatan Pineleng sebesar 154,45 l/dtk. Sedangkan untuk rasio ketersediaan sumber air dengan proyeksi kebutuhan air diperoleh hasil bahwa sumber air di Kecamatan Pineleng masih dapat memenuhi kebutuhan masyarakatnya dalam kurun waktu lebih dari 10 tahun kedepan. Â Kata kunci : Kajian spasial, kebutuhan air bersih, Kecamatan Pinelen
ANALISIS SPASIAL KESESUAIAN LAHAN WILAYAH PESISIR KABUPATEN BOLAANG MONGONDOW TIMUR DENGAN SIG (STUDI KASUS: KECAMATAN TUTUYAN)
Terkonsentrasinya aktivitas manusia untuk berbagai kegiatan budidaya dan kurang memperhatikan kelestarian lingkungan dan kesesuaian lahan, menyebabkan adanya penyimpangan dalam pemanfaatan lahan wilayah pesisir Kecamatan Tutuyan. Hal tersebut mengakibatkan penurunan kualitas lingkungan yang salah satunya terjadi pada kawasan hutan bakau. Oleh sebab itu untuk mengantisipasi terjadinya penyimpangan penggunaan lahan kedepannya maka tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi kondisi eksisting pemanfaatan lahan dan menganalisis kesesuaian lahan di wilayah pesisir Kecamatan Tutuyan. Pendekatan yang digunakan adalah pendekatan deskriptif kuantitatif dengan metode analisis yakni analisis spasial overlay dengan memanfaatkan software ArcGIS. Darihasil analisis berdasarkan kondisi eksisting diperoleh lahanyang sesuaipenggunaannya adalah 2579,763 ha dan yang tidak sesuai adalah 18,711 ha.Ketidaksesuaian yang adadisebabkanolehpenggunaanlahanpermukimandan pembukaan lahan tambak.Dari hasilanalisis pula didapatkesesuaian lahan wilayah pesisir Kecamatan Tutuyan adalah sebagai berikut: kesesuaian untuk fungsi lindung 341,518 ha (13%), kesesuaian untuk fungsi penyangga 624,167 ha (24%), dan kesesuaian untuk fungsi budidaya 1632,789 ha (62%)
KETERKAITAN PERUBAHAN FUNGSI LAHAN DENGAN PERUBAHAN FUNGSI DAN INTENSITAS BANGUNAN PADA KAWASAN SEPANJANG KORIDOR BOULEVARD DI DEPAN KAWASAN MEGAMAS
Kebutuhan lahan di kawasan perkotaan semakin meningkat sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan kegiatan sosial ekonomi. Kota Manado adalah salah satu kota yang cukup cepat pertumbuhan ekonominya Hal tersebut dapat dilihat hingga saat ini yang terjadi di Kota Manado yaitu terus muncul berbagai pusat kegiatan barang dan jasa baru untuk menunjang kegiatan masyarakat kota Manado. Kondisi ini memicu perubahan fungsi lahan yang terjadi di sepanjang koridor Boulevard di depan Kawasan Megamas, yang secara langsung juga mempengaruhi perubahan fungsi dan intensitas bangunan di daerah tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui sampai sejauh mana perubahan fungsi lahan dan keterkaitan perubahan fungsi lahan dengan fungsi dan intensitas bangunan. Metode dalam penelitian ini adalah Kuantitatif dengan analisis korelasional Tabulasi Silang untuk melihat hubungan antar variable, Adapun analisis yang dipakai yaitu analisis pertumbuhan okupasi penduduk untuk melihat kronologis perkembangan pemanfaatan fungsi lahan dan fungsi bangunan pada lokasi penelitian yang dijelaskan secara deskriptif. Hasil studi yang diperoleh menunjukan bahwa perubahan fungsi lahan yang paling dominan terjadi pada koridor Boulevard di depan Kawasan Megamas adalah Kawasan perdagangan dengan laju pertumbuhan 110%, sedangkan untuk laju pertumbuhan terendah adalah kawasan permukiman dengan laju pertumbuhan -73,71%. Sementara untuk fungsi dan intensitas bangunan dapat dilihat bahwa hampir keseluruhan hasil responden menjawab telah terjadi dua kali perubahan fungsi bangunan, dengan instensitas bangunan didominasi oleh fungsi campuran berupa Kost, Toko, Kost dan Toko, Restoran, dan Bengkel. Hasil ini diharapkan dapat dijadikan masukan dalam pengendalian penataan bangunan.  Kata Kunci: Keterkaitan, Perubahan, Fungsi Lahan, Intensitas Banguna
KAJIAN PENGEMBANGAN WISATA PANTAI DI PULAU SULABESI KABUPATEN KEPULAUAN SULA PROVINSI MALUKU UTARA
Pulau Sulabesi memiliki lima lokasi wisata pantai yang potensial untuk dikembangkan sebagai daerah tujuan wiasata yaitu Pantai Wai Ipa, Pantai Manaf, Pantai Fatkauyon, Pantai Wai Goiyofa, dan Pantai Fukuweu. Kawasan Wisata Pantai di Pulau Sulabesi memiliki karakterisik yang khas dilihat dari keindahan dan atraksi alamnya. Namun belum didukung dengan sarana dan prasarana pendukungnya termasuk fasilitas wisata yang representatif bagi para wisatawan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui Karakteristik Wisata Pantai dan mengkaji Strategi pengembangan Wisata Pantai di Pulau Sulabesi ditinjau dari konsep Atraksi, Aksesibilitas, Amenitas dan Aktivitas Adapun penelitian dilakukan secara kualitatif dengan menggunakan metode deskripsi analisis. Hasil penelitian di lima lokasi wisata pantai yang berada di Pulau Sulabesi menunjukkan bahwa terdapatnya persamaan karakteristik berupa alam yang khas berupa pantai yang menghadap kearah laut lepas dan pohon penedu. Disisi lain terdapat perbedaan karakteristik alam berupa taman laut, pantai pasir hitam, pasir putih halus, berkerikil, pasir yang bercampur kerikil, menghadap laut lepas, dan pantai yang berhadapan dengan pulau-pulau kecil. Strategi pengembangn wisata pantai yang dapat dilakukan adalah perlu pelestraian alam dan budaya untuk mendukung atraksi wisata, perbaikan jalan-jalan yang telah rusak, perlu mengadakan dan memperbaiki fasilitas seperti tempat parkir, MCK, rumah makan, hotel, pos keamanan/jasa pemandu, dan trasportasi wisata.Kata Kunci : Karakteristik Wisata Pantai, dan Strategi Pengembangan Wisata Panta
KAJIAN TERHADAP KONSEP ELEMEN ALAMI DALAM PEMBANGUNAN DAERAH TEPIAN PANTAI
Kota Manado merupakan kota yang terletak di teluk Manado dan secara geografis penyebaran kota juga sejajar dengan air atau teluk Manado. Salah satunya adalah dibukanya areal proyek reklamasi pantai yang diharapkan ke depan merupakan daerah kawasan bisnis yang baru untuk mendongkrak perekonomian kota Manado, selain memperkuat jati diri kota manado yaitu sebagai kota tepi pantai. Mengumpulkan data melalui pengambilan gambar dan foto untuk dapat memvisualisasikan kembali sehingga hasil yang diharapkan dapat menjawab masalah. Daerah-daerah tepian air haruslah mampu menawarkan suatu konsep dalam memberikan suatu pengalaman mengasyikan dan pengetahuan khas yang bertumpu pada karakter atau ciri-ciri khas air. Kata Kunci :jati diri, kota tepi pantai, konsep berkarakte
ANALISIS KELAYAKAN PEMBANGUNAN PERUMAHAN DI PERUMAHAN LEMBAH NYIUR KAIRAGI MAS
Salah satu kebutuhan dasar hidup manusia adalah perumahan. Pembangunan perumahan berperan sangat strategis dalam pembentukan watak serta kepribadian bangsa, dan perlu dibina serta dikembangkan demi keberlangsungan dan peningkatan kehidupan dan penghidupan masyarakat. Kota Manadomerupakanibu kota Provinsi SulawesiUtara,berdasarkan RTRW Kota Manado jumlah penduduk sebanyak 419.596 jiwa, dan angka pertumbuhan penduduk diwilayah Kota Manado adalah 2,81% per tahun. Daerah pembangunan Perumahan di Kota Manado secara geografis terbagi dua, yang pertama didaerah pinggiran Kota yang terletak di Kecamatan Pineleng sampai Kecamatan Malalayang, dan yang kedua daerah pusat kota sampai Kecamatan Mapanget. Perumahan Lembah Nyiur Kairagi Mas terletak di Kelurahan Kairagi Dua, Kecamatan Mapanget, Kota Manado, perumahan ini menawarkan sistem peruntukan kapling tidak dalam bentuk klaster dan masih banyak fasilitas yang belum tersedia dalam perumahan ini. Tujuan penelitian ini mengidentifikasi kondisi eksisting pembangunan dan menganalisis kelayakan pembangunan di Perumahan Lembah Nyiur Kairagi Mas. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian deskriptif kualitatif dengan pendekatan kuatitatif. Berdasarkan hasil analisis kelayakan Pembangunan Perumahan Lembah Nyiur Kairagi Mas, terdapat beberapa variabel yang belum memenuhi kriteria standard yaitu kondisi jaringan drainase, utilitas jaringan air bersih, utilitas pengolahan limbah perumahan termasuk pengelolaan limbah rumah tangga (gray water), utilitas penyediaan jaringan telepon, Sarana Ruang Publik (Taman bermain), tidak tersedia vegetasi pada tata hijau jalan dan ruang terbuka privat. Selain itu terdapat juga variabel yang memenuhi kriteria standard yaitu, kemiringan/kelerengan perumahan berada pada kemiringan lereng 8-15 %, lebar perkerasan jalan perumahan, pengolahan limbah perumahan (black water), pengolahan sampah dan penyediaan jaringan listrik. Kata Kunci: Perumahan, Kelayakan, Pembanguna
SISTEM PENANGGULANGAN BENCANA GUNUNG API GAMALAMA DI PERMUKIMAN KAMPUNG TUBO KOTA TERNATE
Kota Ternate terdapat gunung api Gamalama yang termasuk gunung api aktif dan menjadi salah satu sumber bencana di Kota tersebut. Untuk dapat mengatasi permasalahan yang ada di permukiman Kampung Tubo, Pemerintah telah membuat zonasi kawasan rawan bencana I, II dan III agar masyarakat tidak membangun rumah didaerah rawan bencana, sehingga apabila terjadi bencana masyarakat tidak terkena material gunung api Gamalama. Kondisi jalan di permukiman Kampung Tubo telah diaspal tetapi ada beberapa jalan lingkungan yang masih berbatu-batu dan berlubang. Adapula jalur-jalur evakuasi sudah sangat baik sehingga apabila terjadi bencana masyarakat dapat menyelamatkan diri mereka. Dan ada beberapa infrastruktur yang tidak dibuat oleh pemerintah contohnya bunker dan papan peringatan bahaya gunung api Gamalama. Sistem penanggulangan bencana di Kelurahan (kampung) Tubo sudah cukup efektif. Terlihat dari pembagian zonasi kawasan rawan bencana, pola permukiman, infrastruktur, kondisi bangunan dan sistem sosialisasi pada masyarakat akan bahaya bencana.Kata kunci: Sistem, Penanggulangan Bencana, Gunung Api Gamalama, Permukiman, Kelurahan Tubo Kota Ternat
EVALUASI PERKEMBANGAN PENGGUNAAN LAHAN di KAWASAN CEPAT TUMBUH KECAMATAN MAPANGET KOTA MANADO
Kecamatan Mapanget adalah salah satu kecamatan yang berada di Kota Manado dan merupakan kecamatan terbesar dengan luas 157,26 km². Dalam perkembangannya Kecamatan Mapanget menjadi salah satu wilayah yang dapat diunggulkan untuk mendukung wilayah yang lainnya. Dengan arahan yang terdapat pada RUTRK Kecamatan Mapanget dan RTRW Kota Manado 2010-2030 maka pembangunan di Kecamatan Mapanget harus dilakukan secara maksimal. Namun, melihat kondisi eksisting tahun 2015, masih perlu dilakukan evaluasi pada wilayah Kawasan Cepat Tumbuh yang dibatasi pada arahan terkadang tidak sesuai dengan pembangunan yang ada di lapangan. Dalam penelitian ini dibutuhkan beberapa data seperti dokumen RTRUK Kota Manado dan dokumen RTRW Kota Manado 2010-2030. Metode Analisis yang digunakan dalam penelitian adalah analisis Overlay dan analisis Deskriptif. Analisis Overlay berguna untuk menghasilkan penilaian terhadap perubahan lahan yang terjadi di Kawasan Cepat Tumbuh sedangkan Analisis Deskriptif digunakan untuk mengetahui perkembangan hasil overlay peta time series berdasarkan citra satelit dan peta kondisi eksisisting penggunaan lahan. Metode Penelitian yang digunakan adalah Metode Penelitian Evaluatif dan Metode Observasi yang dapat membantu untuk mendapatkan hasil analisis sesuai dengan tujuan penelitian berdasarkan hasil dan pembahasan maka dapat disimpulkan bahwa terjadi luas perubahan dan fungsi penggunaan lahan dan faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kawasan cepat tumbuh.  Kata Kunci : Evaluasi Penggunaan Lahan, Kawasan Cepat Tumbuh, Regulas
KAJIAN KENYAMANAN TERMAL BAGI PEJALAN KAKI PADA JALUR PEDESTRIAN UNIVERSITAS SAM RATULANGI
Kenyamanan pejalan kaki pada jalur pedestrian kampus Unsrat merupakan kebutuhan dasar guna menunjang aktivitas perkuliahan dimana jalur pedestrian berfungsi sebagaimedia penghubung dari satu fasilitas pendidikan ke fasilitas pendidikan lainnya.Jalur pedestrian yang ada di kampus Universitas Sam Ratulangi (Unsrat) ada yang ternaungi dengan vegetasi pohon adapula yang tidak ternaungi atau terbuka menghadap langit yang secara lansung terkena radiasi sinar matahari. Kenyamanan termal pada jalur pedestrian merupakan salah satu komponen dari syarat kenyamanan pejalan kaki. Kenyaman termal ruang luar pada intinya merupakan korelasi antara respon rasa nyaman-termal, aspek fisiologis tubuh manusia, akivitas dan variabel iklim (gerakan udara, suhu udara, suhu radiatif, serta kelembaban udara). Pengumpulan data dan masukan untuk analisis, dilakukan melalui pengukuran iklim mikro dengan menggunakan alat ukur antara lain,thermometer, anemometer, globe thermometer, hygrometer,ukuran fisiologis responden (berat dan tinggi badan) serta hasil respon tingkat kenyamanan termal oleh para responden melalui pengisian kuesioner.Melalui penelitian ini diperoleh berbagai macam respon kenyaman termal pejalan kaki pengguna jalur pedestrian pada beberapa titik ruang luar di Universias Sam Ratulangi. Penelitian dilakukan pada pagi hingga sore hari, saat tidak turun hujan dan situasi langit cerah.Tatanan vegetasi (pepohonan, rerumputan) sebagai salah satu pengendali iklim mikro menunjukan peran yang signifikan untuk mencapai kenyamanan termal pada kasus ini sehingga penting untuk dijadikan pertimbangan dalam perencanaan jalur pedestrian.  Kata Kunci : Iklim Tropis Lembab, Ruang Luar, Pedestrian, Manad
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA DI PULAU SALIBABU KABUPATEN KEPULAUAN TALAUD
Kegiatan pariwisata merupakan kegiatan yang strategis untuk dikembangkan. Pengembangan pariwisata ini tidak terlepas dari keberadaan sumber daya alam maupun sumber daya buatan sebagai potensi daerah yang dimilikinya. Pulau Salibabu merupakan salah satu Pulau yang terdapat di Kabupaten Kepulauan Talaud yang memilki potensi akan pariwisata, yang diantaranya terdapat empat obyek wisata yang berpotensial untuk bisa terus dikembangkan yaitu Obyek wisata Pulau Sara besar dan Sara kecil, Pantai Sereh, Pantai Tiwuda, dan Goa Wuidduanne. Namun keberadaan infrastruktur, sarana dan prasarana, serta fasilitas pendukung lainnya pada obyek wisata yang masih kurang dan belum cukup memadai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui karakteristik obyek wisata yang ada di Pulau Salibabu Kabupaten Kepulauan Talaud yang kemudian merumuskan usulan pengembangan kawasan obyek wisata di Pulau Salibabu Kabupaten Kepulauan Talaud. Analisis yang digunakan untuk penelitian ini adalah analisis deskriptif, analisis SWOT dengan menggunakan Matriks IFAS dan EFAS, Matriks SWOT serta analisis kebijakan. Hasil analisis deskriptif menemukan karakterisik dari pada empat obyek wisata yang ada di Pulau Salibabu. Hasil analisis Matriks IFAS dan EFAS menunjukkan potensi dari semua obyek wisata yang ada sangat layak untuk bisa dikembangkan. Hasil analisis kebijakan menunjukkan jenis wisata alam dan bahari sangat berpeluang untuk terus dikembangkan di kawasan obyek wisata Pulau Salibabu. Matriks SWOT menunjukan arahan dan usulan terhadap pengembangan potensi wisata yang ada di Pulau Salibabu.   Kata kunci: Pariwisata, Pulau Salibabu, Pengembangan Potensi Wisat