445 research outputs found

    KARAKTERISTIK SPASIAL KAWASAN KULTURAL KESULTANAN TERNATE

    Get PDF
    Kesultanan Ternate atau juga dikenal dengan Kerajaan Gapi adalah salah satu dari 4 kerajaan Islam di Kepulauan Maluku dan merupakan salah satu kerajaan Islam tertua di Nusantara. Didirikan oleh Baab Mashur Malamo pada tahun 1257. Kesultanan Ternate memiliki peran penting di kawasan timur Nusantara antara abad ke-13 hingga abad ke-17. Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi ruang kultural Kesultanan Ternate dan menganalisis Karakteristik Spasial Kawasan Kesultanan Ternate. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian hasil identifikasi ruang kultural Kesultanan Ternate di bagi menjadi dua bagian yakni bagian inti pada Kedaton Kesultanan Ternate dan ruang luar Kedaton kesultanan Ternate sebagai berikut Ruang inti kawasan Kedaton Kesultanan Ternate terdapat 8 ruang khusus yang di jaga oleh para dewan adat kesultanan, ruang inti kedaton Kesultanan Ternate dikelilingi oleh tembok dan pagar yang membatasi dengan pemukiman umum. Ruang kedaton Kesultnan Ternate memiliki 2 jalur khusus yaitu jalur langusng ke Gunung Gamalam dan ke Laut Maluku. Sedangkan ruang luar Kesultanan Ternate adalah ruang yang terdapat dalam di bagian zona luar lingkungan kedaton yang terdapat beberapa ruang di antara lain : Sigi Lamo (Masjid Sultan Ternate), Ngaralamo atau Pintu Besar, Jembatan Dodoku Ali (Kapita Lao Ali), dan Sunyie atau Lapangan. Karakteristik Spasial Kawasan kesultanan Ternate yang terletak dikelurahan Soa-sio ini menjadi sebuah ruang kawasan yang diperuntukan untuk para petinggi - petinggi Kesultanan. Pada awalnya lokasi kawasan Kedaton Kesultanan Ternate tempat tinggal para petinggi dan keluarga keturunan sultan. Kampong Soa - sio ini yang merupakan Kawasan Utama Keraton Kesultanan Ternate. Seiring dengan berjalannya waktu, kini kampong Soa-sio tidak hanya ditinggal oleh para petinggi dan keluarga saja, Akibatnya kawasan Keraton Kesultanan Ternate yang terletak di kampong Soa-sio semakin padat dan tidak teratur. Kata Kunci : Karakteristik, Spasial, Kawasan Kultura

    ANALISIS SPASIAL TINGKAT KERENTANAN BENCANA GUNUNG API LOKON DI KOTA TOMOHON

    Get PDF
    Gunung Lokon merupakan gunung api aktif yang terletak di Kota Tomohon dengan tipe gunung A atau stratovolcano. Bahaya primer letusan Gunung api Lokon (bahaya langsung akibat letusan) adalah luncuran awan panas, lontaran piroklastik (bom vulkanik, lapilli, pasir dan abu) dan mungkin aliran lava. Sedangkan bahaya sekunder (bahaya tidak langsung akibat letusan) adalah lahar hujan yang terjadi setelah letusan dan apabila turun hujan lebat di sekitar puncak. Oleh karena itu, untuk meminimalisir dampak dari bencana tersebut diperlukan analisis mengenai tingkat kerentanan yang sangat berkaitan dengan penilaian resiko sebagai upaya penanggulangan bencana untuk perencanaan dan pengembangan daerah Kota Tomohon. Tujuan dari penelitian ini adalah teridentifikasinya tingkatan kerentanan bencana letusan gunung api dan diperolehnya rekomendasi – rekomendasi tentang penanganan di kawasan terdampak Gunung api Lokon. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dan kuantitatif dengan melakukan analisis spasial. Sesuai dengan analisis tersebut, maka dalam menganalisis tingkat kerentanan menggunakan metode pembobotan nilai terhadap aspek fisik bangunan, sosial kependudukan, ekonomi dan lingkungan yang parameter pembentuknya berdasarkan PERKA BNPB No. 2 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana, sehingga diperolehnya indeks penduduk terpapar dan indeks kerugian dari dampak bencana. Analisis kerentanan diolah dalam SIG (Sistem Informasi Geografis) untuk mengklasifikasikan nilai kerentanan yang paling tinggi hingga paling rendah. Berdasarkan hasil studi, didapat 2 hal yaitu; persebaran tingkat kerentanan di Kota Tomohon terbagi atas 3 kelas dan yang menjadi pembahasan adalah kelurahan dengan kelas kerentanan tinggi (8 kelurahan) dan rekomendasi – rekomendasi penanganan di wilayah rentan bencana letusan Gunung api Lokon. Kata Kunci : Gunung api, Spasial, Tingkat Kerentanan Bencana, Mitigas

    DAYA DUKUNG PERMUKIMAN DALAM KONSEP PENGEMBANGAN WILAYAH DI KECAMATAN LANGOWAN TIMUR

    Get PDF
    Kecamatan Langowan Timur merupakan pengembangan wilayah perdesaan yang memiliki karakteristik tata guna lahan pertanian. Wilayah kecamatan ini sangat cepat berkembang karena kondisi wilayah yang strategis, infrastruktur yang baik, fasilitas yang memadai dan aksesibilitas yang mudah dicapai. Peningkatan aktivitas dikecamatan ini telah menciptakan pusat kegiatan lokal yang ramai dan cenderung mengarah pada fungsi perkotaan. Terciptanya infrastruktur yang baik cenderung berdampak pada peningkatan aktivitas dan kepadatan ruang. Tujuan penelitian ini yaitu menghitung daya dukung lingkungan permukiman dikecamatan langowan timur dan menganalisis konsep pengembangan wilayah berdasarkan daya dukung permukiman. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif dengan teknis analisis menggunakan analisis spasial. Hasil penelitian  Kecamatan Langowan Timur masih memiliki lahan yang cukup besar  untuk menampung penduduk yang ada sebanyak 4 (empat) kali dari jumlah penduduk yang ada saat ini. Konsep pengembangan wilayah di Kecamatan Langowan Timur berdasarkan hasil perhitungan daya dukung permukiman berdasarkan kondisi fisik yang ada mengarah pada pengembangan kawasan agropolitan di Kecamatan Langowan Timur yaitu lahan yang berada di desa wolaang, amongena tiga dan amongena satu dijadikan kawasan agropolitan dan untuk desa Teep yang kondisi lahan yang sangat cocok untuk kawasan permukiman secara fisik maka akan dikembangkan menjadi kawasan permukiman dimasa yang akan datang sehingga pengembangan kawasan berkelanjutan akan berjalan dengan baik. Kata Kunci      : Daya Dukung Permukiman, Pengembangan Wilaya

    DAYA DUKUNG SARANA, PRASARANA, DAN PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PENGELOLAAN PERSAMPAHAN DI KECAMATAN TOBELO, KABUPATEN HALMAHERA UTARA

    Get PDF
    Sampah merupakan masalah yang dihadapi oleh semua Kota di Indonesia. Indonesia sebagai negara berkembang, memiliki permasalahan sampah yang belum terselesaikan secara merata. Kecamatan Tobelo merupakan merupakan Ibu Kota Kabupaten Halmahera Utara dengan luas Wilayah 65,00 km². Seperti daerah-daerah berkembang lainnya, Kecamatan Tobelo juga mengalami masalah yang sama yaitu sampah. Kurangnya kesadaran masyarakat dalam menjaga lingkungan, edukasi yang kurang dari Pemerintah, dan Kurangnya Prasaran dan Sarana persampahan mengakibatkan system pengelolaan sampah tidak dapat berjalan dengan baik. Tujuan dari penelitian ini yaitu ; mengetahui kondis sarana dan prasarana persampahan yang ada di Kecamatan Tobelo, dan mengetahui partisipasi masyarakat dalam pengelolaan persampahan di Kecamatan Tobelo, Kabupaten Halmahera Utara. Penelitian ini menggunakan Metode Analisis Deskriptif dengan menggunakan pendekatan Kuantitatif dan Kuantitatif. Adapun data-data yang digunakan dalam penelitian ini yaitu data-data primer dan sekunder. Populasi manusia dan wilayah meliputi 7 Desa yang ada di Kecamatan Tobelo. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 56 responden. Untuk mengetahui daya dukung prasarana an sarana persampahan di Kecamatan Tobelo, penelitian ini menggunakan Standar Pelayanan Minimum Persampahan. Hasil analisis kondis persampahan di Kecamatan Tobelo dari pembagian kuisioner, diperoleh bahwa kondisi prasaran dan sarana persampahan yang ada di Kecamatan Tobelo dengan Standar Pelayanan Minimum Persampahan didapati bahwa prasaranadan sarana di Kecamatan Tobelo belum memadai, dan partisipasi masyarakat dalam pengelolaan persampahan masih sangat kurang, hal ini dapat dilihat dari tidak adanya proses pemilahan sampah dari sumbernya.Kata Kunci : Partisipasi, Persampahan, Prasarana, Sarana, Kecamatan Tobelo

    TINGKAT KEKUMUHAN KAWASAN PERMUKIMAN KUMUH BANTARAN SUNGAI DI KELURAHAN BUOL, KECAMATAN BIAU, KABUPATEN BUOL

    Get PDF
    Kelurahan Buol memiliki luas wilayah 51 Ha, dengan jumlah penduduk 7.179 jiwa dan 1.754 KK. Kondisi Kelurahan Buol dimana peningkatan jumlah penduduk yang terus meningkat sehingga menjadi kepadatan yang tinggi. Tujuan  mengidentifikasi kondisi permukiman dan menganalisis tingkat kekumuhan permukiman bantaran sungai di Kelurahan Buol. Metode yang digunakan di penelitian ini metode skoring dalam melakukan identifikasi Kawasan permukiman kumuh dengan menggunakan tujuh indikator kekumuhan dari Direktorat Pengembangan Kawasan Permukiman, 2016 yaitu: kondisi bangunan, kondisi jalan lingkungan, kondisi drainase lingkungan, kondisi penyediaan air minum, kondisi pengelolaan air limbah, kondisi pengelolaan persampahan dan kondisi proteksi kebakaran. Populasi manusia dan wilayah meliputi seluruh Kelurahan Buol. Sampel dalam penelitian ini sebanyak 93 responden. Analisis menggunakan presentase dan pembobotan berdasarkan kriteria tingkat kekumuhan. Hasil penelitian menunjukan bahwa kondisi bangunan, jalan lingkungan, penyediaan air minum, kondisi drainase, kondisi pengelolaan air limbah, kondisi pengelolaan persampahan dan proteksi kebakaran masih rendah. Berdasarkan pembobotan tingkat kekumuhan, Kelurahan Buol berada pada kategori kumuh berat yaitu 78. Faktor yang menjadikan Kelurahan Buol menjadi kumuh adalah faktor kondisi bangunan dan kondisi prasarana dan sarana. Kata Kunci : Kekumuhan, Kawasan Kumuh, Skoring, Kelurahan Buo

    KAJIAN ELEMEN PEMBENTUK CITRA KOTA BITUNG

    Get PDF
    Kota Bitung yang terletak di Provinsi Sulawesi Utara kini dikenal sebagai Kota Pelabuhan, Kota Perikanan (Kota Cakalang) dan Kota Industri, akan tetapi gambaran Kota Bitung belum memberikan identitas yang jelas sehingga masyarakat masih kesulitan untuk mengingat keadaan suatu tempat. Kota Bitung kini berkembang pesat diberbagai sektor tentu perlu adanya perhatian khusus dari pemerintah maupun perencana untuk memperkenalkan diri sebagai suatu wilayah yang beridentitas dan tertata dengan baik berpegang pada lima elemen pembentuk kota. Tujuan Penelitian ini adalah menemukenali elemen – elemen pembentuk citra Kota Bitung berdasarkan RTRW Kota Bitung Tahun 2013-2033 dan menganalisis citra Kota Bitung menurut persepsi masyarakat. Metode yang digunakan adalah metode deskriptif kualitatif, yaitu dengan mengeksplor fenomena elemen pembentuk citra kota menurut pandangan masyarakat dengan menggunakan kuesioner dan peta mental. Berdasarkan hasil penelitian,(1) Ditinjau dari RTRW elemen-elemen pembentuk citra Kota Bitung yaitu elemen path (Jl. Sam Ratulangi, Jl. Piere Tendean, Jl. Ir. Soekarno, Jl. Yos Sudarso, Jl. M. R Ticoalu, Jl. Marthadinata dan Jl. H.V Worang), elemen edges ( Batas Pantai), elemen nodes (Menara Eifel, Tugu Jam Pusat Kota, Pasar Cita, Pasar Tua, dan Pelabuhan Samudera Bitung), elemen district (Kawasan Perkantoran, Kawasan Pusat Kota, Kawasan Pelabuhan Samudera Bitung) dan elemen landmark yang teridentifikasi bersifat alamiah yaitu Gunung Dua Sudara, Gunung Tangkoko, Gunung Batu Angus, Gunung Lembeh dan Gunung Woka. (2) berdasarkan analisis, elemen yang sangat dikenali masyarakat adalah  elemen landmark  yaitu Tugu Cakalang,  elemen nodes dan elemen district yaitu Pelabuhan Samudera Bitung, elemen path yaitu Jl. Sam Ratulangi sedangkan elemen yang kurang dikenali masyarakat adalah elemen edges yaitu batas pantai atau batas selat lembeh.Kata Kunci : Elemen Pembentuk Citra Kota, Kota Bitung,Persepsi Masyaraka

    ANALISIS PEMANFAATAN RUANG DI KAWASAN SEKITAR JALAN LINGKAR KOTA MANADO

    Get PDF
    Perubahan Pemanfaatan ruang merupakan faktor dominan yang mengarahkan dan membentuk struktur suatu kota. Perubahan ini akan mengakibatkan peningkatan produktivitas guna lahan dalam bentuk alih fungsi maupun peningkatan intensitas ruang. Perkembangan ruang di kawasan perkotaan tersebut, cenderung mengalami perubahan fungsi kawasan dari kawasan tidak terbangun menjadi kawasan terbangun. Masalah yang terjadi akibat dari perubahan tersebut, mengakibatkan daya dukung lahan dan kelestarian lingkungan hidup di masa yang akan datang mengalami gangguan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi dan menganalisis kesesuian pemanfaatan ruang dengan arahan perencanaan yang ada di kawasan sekitar jalan lingkar Kota Manado. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan pendekatan analisis spasial/keruangan. Data yang diperoleh diolah menggunakan bantuan perangkat lunak/software Arcmap 10.3. Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, bentuk struktur ruang di kawasan sekitar jalan lingkar Kota Manado mendekati konsep konsentris dan pola ruangnya terdiri atas fungsi lindung 302,28 Ha (13,43%) dan fungsi budidaya 1948,60 (86,57%), untuk kesesuaian struktur ruang sudah sesuai dengan arahan perencanaan yang ada karena sudah mampu melayani masyarakat yang ada di kawasan sekitar jalan lingkar, sedangkan pola ruang belum sesuai dengan arahan perencanaan yang ada karena terdapat ketidaksesuaian yaitu sebagai fungsi lindung 104,91 Ha (4,66%) dan fungsi budidaya 633,18 Ha (28,13%).                                                      Kata Kunci : Jalan Lingkar, Kota Manado, Pemanfaatan RuangÂ

    IDENTIFIKASI DAN PEMETAAN LAHAN KRITIS DENGAN MENGGUNAKAN TEKNOLOGI SISTEM INFOMASI GEOGRAFIS (STUDI KASUS KOTA BITUNG)

    Get PDF
    Kota Bitung merupakan pusat kegiatan industri dan ekonomi yang memiliki topografi berupa daratan dan berbukit yamg relatif dekat yang berdampak pada penggunaan ruangnya menyebar ke daerah pebukitan. Hal ini akan menyebabkan perubahan fungsi lahan yang sangat berdampak terhadap munculnya lahan kritis. Dengan keadaan demikian mengakibatkan tingkat kekritisan lahan semakin tinggi dan dapat berdampak pada bencana erosi dan longsor. Oleh sebab itu untuk mengantisipasi bencana yang muncul akibat lahan kritis tersebut maka perlu di identifikasi dan memetakan persebaran lahan kritis di Kota Bitung serta pemanfaatan ruang pada lahan kristis. Adapun metode yang digunakan  yaitu analisis spasial dengan menggunakan perangkat ArcGis. Prosesnya dengan cara overlay, metode ini sangat baik digunakan untuk kajian keruangan. Data spasial erosi, kelerengan, penutupan tajuk dan menajemen lahan dapat digunakan untuk mengetahui persebaran lahan kritis. Secara garis besar tahapan dalam analisis spasial lahan kritis terdiri dari 3 tahap yaitu Tumpangsusun data spasial, Editing data atribut, dan Analisis tabular. Hasil dari penelitian ini yaitu mengetahui persebaran lahan kritis dan pemanfaatan ruang pada lahan kristis. Persebaran lahan kritis kota Bitung terbagi atas 8 kecamatan yaitu Kecamatan Aertembaga ±4869,21 ha, Kecamatan Girian ±422,46 ha, Kecamatan Madidir ±1833,95 ha, Kecamatan Maesa ±94,58 ha, Kecamatan Matuari ±872,65 ha, Kecamatan Ranowulu ±11568,29 ha, Kecamatan Lembeh selatan 2977,52 ha, dan Kecamatan Lembeh Utara ±2279,14 ha. Pemanfaatan ruang pada lahan kritis di Kota Bitung didominasi oleh Ladang, Pasir bukit, Rawa, tanah kosong keselurahan lahannya masuk dalam kriteria lahan kritis. Untuk pemanfaatan ruang hutan rimba, perkebunan dll sebagian ruangnya masuk dalam kriteria lahan kritis dan tidak kritis. Khususnya untuk pemanfaatan ruang permukiman dan tempat kegiatan, seluruh ruangnya termasuk pada kriteria lahan kritis hal ini akan mengakibatkan ruang permukiman sangat rentan bencana banjir, erosi dan longsor. Kata kunci: Lahan Kritis, Pemanfaatan ruang, Pemetaaan, SI

    ANALISIS KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN MANTIKULORE KOTA PALU

    Get PDF
    Kondisi bentang alam di Kecamatan Mantikulore memiliki beragam aspek biofisik antara lain kelerengan, jenis tanah, dan ketersediaan air. Keragaman aspek tersebutlah yang menjadi alasan perlunya analisis kesesuaian lahan, untuk segmen lahan yang diperuntukkan sebagai area permukiman menurut RTRW Kota Palu 2010-2030, guna mewujudkan ruang ekologis yang berkelanjutan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui dan menganalisis kesesuaian arahan RTRW Kota Palu 2010-2030 terhadap peruntukkan perumahan/pemukiman di Kecamatan Mantikulore, berdasarkan kriteria-kriteria kesesuaian lahan. Adapun metode analisis yang digunakan ialah metode Superimpose dan Skoring, serta menggunakan penentuan klasifikasi kesesuaian lahan menurut FAO 1976 kategori Sub-Kelas.Diperoleh bahwa kesesuaian lahan arahan peruntukkan pemukiman berdasarkan rencana pola ruang di Kecamatan Mantikulore, berkategori Sesuai sebesar 83.41%. Walau demikian ada beberapa lokasi yang berkategori Sesuai Bersyarat, untuk dilakukan treatment khusus sesuai dengan permasalahan lokasinya dan untuk lokasi yang berkategori Tidak Sesuai dapat dialih fungsikan sebagai ruang terbuka, hutan maupun kebun.Kata Kunci : Kesesuaian Lahan, Kawasan Permukiman, Kota Pal

    FAKTOR – FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MASYARAKAT DALAM MEMILIH LOKASI HUNIAN PERI URBAN STUDI KASUS : PERUMAHAN GRIYA PANIKI INDAH

    Get PDF
    Hunian merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang menyangkut kelayakan dan taraf kesejahteraan hidup masyarakat. Kecamatan Mapanget sebagai KASIBA (kawasan siap bangun), dan pembangunan dari bermacam - macam sektor yang telah dilakukan dari sektor perdagangan dan jasa, sektor perumahan pemukiman dll (Sumber : RTRW Kota Manado 2014 – 2034). Tujuan penelitian ini adalah mengidentifikasi karakteristik masyarakat memilih lokasi hunian Peri Urban Kota Manado dan menganalisis faktor – faktor yang mempengaruhi masyarakat dalam memilih lokasi hunian di daerah pinggiran kota khususnya Perumahan Griya Paniki Indah. Penelitian ini menggunakan metode metode deskriptif dan analisa menggunakan pendekatan kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian, karakteristik masyarakat memilih lokasi hunian Perumahan GPI yaitu : Tingkat pendidikan rata – rata penduduk di Perumahan Griya Paniki Indah adalah tamatan SMP/Sederajat (18.5%), Tingkat pendidikan SMA/Sederajat (37.5 %) dan Akademi/Perguruan Tinggi (44%). Jenis Pekerjaan penduduk di Perumahan Griya Paniki Indah sebagai Pegawai Swasta (28.5 %). Sedangkan jenis mata pencaharian lainnya yaitu PNS (22.5 %), Anggota TNI/Polri (17 %), Wiraswasta (19.5 %), dan tokoh agama (12.5 %). Rata – rata penghasilan penduduk di Perumahan Griya Paniki Indah adalah berkisar Rp.2.500.000 - Rp.5.000.000, hingga > Rp.5.000.000. Sedangkan faktor - faktor yang mempengaruhi masyarakat dalam memilih lokasi hunian di daerah pinggiran kota khususnya Perumahan Griya Paniki Indah yaitu : ketersediaan sarana perbelanjaan, sarana pendidikan dan kesehatan sangat berpengaruh bagi masyarakat yang ingin memiliki hunian, dari segi fisik, lokasi Perumahan GPI cukup strategis, dan harga lahan terjangkau serta lokasi Perumahan GPI bebas longsor dan bebas banjir. Sarana penunjang perumahan cukup tersedia seperti sarana kesehatan, pendidikan, perdagangan dan jasa namun kondisi jalan cukup rusak serta kurangnya bak sampah.Kata Kunci : Hunian, Peri Urban, Perumahan, Kecamatan Mapange

    438

    full texts

    445

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SPASIAL
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇