445 research outputs found

    ANALISIS TINGKAT PELAYANAN INFRASTRRUKTUR PENDUDKUNG KAWASAN MINAPOLITAN PETASIA DI KABUPATEN MOROWALI UTARA

    Get PDF
    Kabupaten Morowali Utara merupakan wilayah yang di tetapkan sebagai wilayah pengembangan Kawasan Minapolitan menurut Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Republik Indonesia Nomor 35/KEPMEN-KP/2013 tentang Penetapan Kawasan Minapolitan, maka di tetapkan tiga kecamatan sebagai daerah pengembangan Minapolitan, yaitu Kecamatan Petasia Timur, Kecamatan Petasia dan Kecamatan Bungku Utara.  Kecamatan Petasia adalah salah satu kecamatan di Kabupaten Morowali Utara sekaligus sebagai Ibukota Kabupaten Morowali Utara. melalui  Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Morowali Utara tahun 2014-2034. Luas wilayah yang telah ditetapkan sebagai Kawasan Minapolitan di Kecamatan Petasia adalah seluas 169,12ha yang mencakup 2 kelurahan, yaitu Kelurahan Bahoue dan Kelurahan Kolonodale, Seiring berjalannya waktu, timbul beberapa kesenjangan yang terjadi seperti kurang efektif dan efisiennya dalam penyediaan infrastruktur baik itu sarana penunjang maupun prasarana penunjang di dalam pelaksanaan maupun dalam pengembangan kawasan minapolitan di wilayah Kawasan Minapolitan Petasia. Maka penulis tertarik untuk meneliti tentang pelayanan infrastruktur pendukung Kawasan Minapolitan Petasia.Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kualitatif dan kuantitatif Untuk menganalisis gambaran umum dan kondisi infrastruktur Kawasan Minapolitan Petasia lalu menggunakan analisis scala linkert(skoring) untuk mengetahui tingkat pelayanan infrastruktur. Variabel yang digunakan dalam penelitian ini adalah dengan mengukur tingkat ketersediaan infrastruktur, tingkat kondisi infrastruktur, dan tingkat pemanfaatan infrastruktur. Hasil dari penelitian ini menunjukan bahwa variabel pemanfaatan infrastruktur memiliki nilai tertinggi dan nilai terendah adalah variabel Kondisi infrastruktur. Rata-rata tingkat pelayanan Infrastruktur Kawasan Minapolitan Petasia adalah mencapai 71,08% dengan kategori tingkat pelayanan sedang. Kata Kunci : Prasarana Sarana Kawasan Minapolitan. Pelayanan Infrastruktu

    PERENCANAAN PENGEMBANGAN KAWASAN PARIWISATA HIJAU DI PULAU SULABESI, KABUPATEN KEPULAUAN SULA

    Get PDF
    Pariwisata di Pulau Sulabesi Kabupaten Kepulauan Sula merupakan wisata kepulauan yang masih baru di kembangkan, sehingga Peratuan Pemerintah Kabupaten tentang perencanaan dan penataan kawasan wisata belum maksimal juga tertata dengan baik, padahal wisata kepulauan ini memiliki aspek keindahan dan nilai ekonomi yang besar bagi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Kepulauan Sula. Perencanaan Pengembangan yang baik dengan mengutamakan lingkungan diharapkan dapat bermanfaat bukan hanya saat ini tapi di masa yang akan datang. Berdasarkan latar belakang maka masalah yang ingin dijawab dalam penelitian ini yaitu Bagaimana perencanaan pengembangan pariwisata daerah di Pulau Sulabesi dengan pendekatan Pariwisata Hijau. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk Menganalisis perencanaan pengembangan pariwisata daerah di Pulau Sulabesi dengan pendekatan Pariwisata Hijau, adapun manfaat hasil penelitian dapat digunakan sebagai rujukan untuk perencanaan pengembangan kawasan pariwisata di Pulau Sulabesi. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling. Metode analisis mengunakan analisis SWOT dan Perencanaan ada beberapa strategi perencanaan lainnya. Hasil Penelitian berdasarkan matriks SWOT diketahui faktor internal, faktor eksternal dan faktor internal yaitu ; Wisata Mangrove Kecamatan Sanana Utara, Wisata kebudayaan dln.  Beberapa faktor ekstenal yaitu ; Pengelolaan limbah yang belum baik, Infrastuktur pariwisata belum baik dln. Hasil penelitian lainnya ialah infrastuktur pariwisata masih kurang seperti jaringan energi listrik, jaringan telekomunikasi dan jalur transportasi yang hanya bisa diakses melalui jalur laut dan darat.Kata Kunci: Perencanaan Pengembangan Kawasan Pariwisata Hijau, Pariwisata Hija

    PENGARUH AKTIVITAS MASYARAKAT TERHADAP SISTEM TRANSPORTASI PUSAT KOTA (STUDI KASUS: KECAMATAN RATAHAN)

    Get PDF
    Sistem Transportasi telah menjadi bagian penting dalam kehidupan masyarakat. Sistem transportasi yang terencana dengan baik akan memberikan stimulus bagi sektor-sektor lain yang ada pada suatu daerah atau kota. Hal ini menimbulkan daya tarik untuk melakukan penelitian tentang sistem transportasi. Penelitian ini berbeda dengan penelitian sebelumnya. Rimamunanda Ekamarta, 2018 meneliti tentang tingkat karakteristik seseorang dan kenyamanan dalam pemilihan moda. Selanjutnya, Situmeang, 2018 lebih memfokuskan pada pemilihan rute perjalanan. Jadi, penelitian sebelumnya lebih menekankan pada faktor individu. Penelitian ini lebih difokuskan pada pola aktivitas masyarakat. Hal ini menjadi penting karena sistem transportasi disediakan untuk melayani aktivitas masyarakat bukan individu. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor aktivitas masyarakat apa yang mempengaruhi sistem transportasi, mengetahui tingkat pengaruh faktor-faktor tersebut serta mengetahui model pengaruh faktor-faktor aktivitas masyarakat terhadap sistem transportasi di Kecamatan Ratahan. Penelitian dilakukan menggunakan metode analisis jalur (path analysis) dengan pendekatan kuantitatif. Pengambilan sampel diambil secara acak (random sampling) dengan jumlah responden sebanyak 160 menggunakan rumus slovin. Hasil penelitian yang dilakukan, diperoleh 5 faktor aktivitas masyarakat yang mempengaruhi sistem transportasi di Kecamatan Ratahan yaitu aktivitas ekonomi, aktivitas sosial, aktivitas pendidikan, aktivitas rekreasi dan hiburan, dan aktivitas kebudayaan. Hasil penelitian diperoleh aktivitas rekreasi dan hiburan menjadi faktor aktivitas masyarakat yang paling mempengaruh sistem transportasi di Kecamatan Ratahan.Kata Kunci: Aktivitas, Sistem Transportasi, Kecamatan Ratahan

    ANALISIS STRUKTUR RUANG BERDASARKAN PUSAT PELAYANAN DI KABUPATEN MINAHASA UTARA

    Get PDF
    Kabupaten Minahasa Utara merupakan kabupaten yang relatif baru dibentuk di Provinsi Sulawesi Utara yang memiliki posisi Geostrategi yang cukup baik, terletak di antara Kota Manado sebagai Pusat Kegiatan Nasional yang memiliki Bandara Sam ratulangi, dan Kota Bitung yang memiliki Pelabuhan Samudra yang akan dikembangkan menjadi International Hub Port (IHP), sehingga untuk menopang pererakan yang tinggi tersebut makan perencanaan struktur ruang harus optimal. Tujuan penilitian ini adalah menganalisis kondisi struktur ruang Kabupaten Minahasa Utara dan melihat permasalahan pusat-pusat pelayanan Kabupaten Minahasa Utara dengan acuan RTRW 2013-2033 Kabupaten Minahasa Utara. Metode yang digunakan adalah metode kuantitatif, yaitu dengan mengumpulkan data jumlah penduduk serta jumlah prasarana dan diinput dalam table kemudian dihitung menggunakan analisis skalogram. Berdasarkan hasil penelitian, (1) kondisi struktur ruang eksisting Kabupaten Minahasa Utara sudah baik dan tersebar disetiap kecamatan yang ada seperti fasilitas pendidikan, peribadatan, kesehatan, perdagangan dan jasa serta infrastruktur yang mendukung terciptanya struktur ruang. Jaringan jalan yang menghubungkan setiap pusat pelayanan di Kabupaten Minahasa Utara, jaringan listrik, jaringan telekomunikasi dan air bersih yang telah terpasang meskipun belum merata dan sistem persampahan telah memiliki TPS. Terdapat empat hirarki struktur ruang di Kabupaten Minahasa Utara berdasarkan analisis skalogram, Kecamatan Airmadidi dan Kauditan menmpati hirarki tertingi dan Kecamatan Likupang Barat, Timur dan Selatan menempati hirarki terendah. (2) Permasalahan struktur ruang berdasarkan evaluasi RTRW 2013-2033 adalah jumlah fasilitas umum dan social yang masih kurang dengan pertumbuhan penduduk yang terus meningkat, kondisi infrastruktur yang perlu diperbaiki serta peningkatan pelayanannya seperti jalan rusak, pasokan air bersih, listrik dan jaringan telekomunikasi yang baik ke setiap desa dan ketidaksesuaian arahan hirarki pusat pelayanan unutuk setiap kecamatan.                                                        Kata Kunci : Struktur Ruang, Kabupaten Minahasa Utara, Pusat Pelayana

    PERENCANAAN PARIWISATA HIJAU DI DISTRIK ROON KABUPATEN TELUK WONDAMA, PAPUA BARAT

    Get PDF
    Pariwisata di Distrik Roon Kabupaten Teluk Wondama merupakan wisata kepulauan Papua yang masih baru di mekarkan, sehingga Peratuan Pemerintah Kabupaten tentang perencanaan dan penataan kawasan wisata belum maksimal juga tertata dengan baik, padahal wisata kepulauan ini memiliki aspek keindahan dan nilai ekonomi yang besar bagi masyarakat dan Pemerintah Kabupaten Teluk Wondama. Perencanaan yang baik dengan mengutamakan lingkungan diharapkan dapat bermanfaat bukan hanya saat ini tapi di masa yang akan datang. Berdasarkan latar belakang maka masalah yang ingin dijawab dalam penelitian ini yaitu mengidentifikasi potensi dan sarana-prasarana pariwisata di Distrik Roon dan bagaimana strategi perencanaan pariwisata hijau di Distrik Roon. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengidentifikasi potensi dan sarana-prasarana pariwisata yang terdapat di Distrik Roon dan merekomendasikan strategi perencanaan pariwisata hijau di Distrik Roon, adapun manfaat hasil penelitian dapat digunakan sebagai rujukan untuk perencanaan pariwisata di Distrik Roon. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kuantitatif. Pengambilan sampel dilakukan dengan teknik simple random sampling. Metode analisis menggunakan analisis SWOT dan ada beberapa strategi perencanaan lainnya. Hasil Penelitian berdasarkan matriks SWOT diketahui faktor internal jumlah bobot x rating lebih besar 3,51 dari faktor eksternal 3,1. Beberapa faktor internal yaitu ; Wisata kepulauan auri, Wisata religi gereja Isne-Jedi, Wisata kebudayaan dln.  Beberapa faktor eksternal yaitu ; Pengelolaan limbah yang belum baik, Infrastruktur pariwisata belum baik dln. Hasil penelitian lainnya ialah infrastruktur pariwisata masih kurang seperti jaringan energi listrik, jaringan telekomunikasi dan jalur transportasi yang hanya bisa diakses melalui jalur laut.Kata Kunci: Perencanaan Pariwisata Hijau, Pariwisata Hija

    ANALISIS MORFOLOGI PERMUKIMAN DI KAWASAN PESISIR KECAMATAN TUMPAAN

    Get PDF
    Perubahan morfologi di sebabkan karena pekembangan perumahan dan permukiman sejalan dengan pertumbuhan penduduk dan intensitas pembangunan yang semakin meningkat. Perkembangan perumahan dan permukiman mempunyai fisik terbesar dalam pertumbuhan kota. Berdasarkan RTRW Kab.Minahasa Selatan 2014-2034 luas wilayah kecamatan Tumpaan 7.853 ha. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan permukiman dan proses perubahan hunian di kawasan pesisir kecamatan Tumpaan. Metode yang di gunakan dalam penelitian ini menggunakan metode distribusi frekuensi kumulatif dan metode analisis diakronik dengan pendekatan spasial. Teknik analisis yang di gunakan dalam pertumbuhan permukiman berupa peta perubahan permukiman tahun 2005-2010-2017 dari software Arcgis 10.3 untuk menggambarkan morfologi permukiman pesisir kecamatan tumpaan ke arah daratan atau sejajar dengan garis pantai dan menentukan proses perubahan hunian berupa peta time series pola hunian (ha), Aksesibilitas (Km), Kepadatan Bangunan (bangunan/ha). Dari hasil analisis yang dilakukan pertumbuhan permukiman pesisir kecamatan Tumpaan tergolong dalam klasifikasi neighborhood serta membentuk morfologi arah daratan dan morfologi selari. Proses perubahan hunian berdasarkan pola hunian tertinggi di desa Tumpaan Dua sebesar 58,66 ha. Berdasarkan Aksesibilitas tertinggi di desa Matani sebesar 14 Km. Berdasarkan Kepadatan Bangunan tertinggi di desa Matani Satu sebesar 137 bangunan/ha.Kata Kunci : Morfologi, Permukiman, Pesisir

    ANALISIS SPASIAL TERHADAP FASILITAS UMUM UNTUK MEMENUHI KEBUTUHAN DIFABEL DI KOTA BITUNG

    Get PDF
    Kota Bitung merupakan sebuah kota di Provinsi Sulawesi Utara yang memiliki karakteristik unik yakni adanya 3 dimensi keruangan yang berbeda, yaitu: ruang daratan (continent), perairan laut dan pulau. Setiap pengadaan sarana dan prasarana umum yang diselenggarakan oleh pemerintah dan masyarakat wajib menyediakan aksesibilitas yang dapat berbentuk fisik dan non fisik untuk kebutuhan semua kelompok masyarakat, termasuk untuk golongan masyarakat difabel. Pentingnya meneliti kesesuaian pemenuhan kebutuhan difabel pada Fasilitas Umum yang ada di Kota Bitung yakni untuk mengetahui seberapa besar tingkat kesesuaian kota Bitung dalam meraih predikat standar kota ramah difabel. Peneliti menggunakan teknik analisis skoring untuk mengetahui nilai dan bobot dari masing-masing kriteria indikator pada masing-masing variabel. Ada 6 kriteria yang akan di nilai yaitu transportasi umum, rehabilitasi, pendidikan, bantuan alat, peran serta pembangunan dan lapangan pekerjaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Kota Bitung termasuk dalam klasifikasi “tidak sesuai sebagai kota ramah difabelâ€. Terdapat empat kriteria aksesibilitas yang belum memenuhi standar sebagai kota ramah difabel yaitu: kriteria aksesibilitas transportasi umum, rehabilitasi, peran serta pembangunan dan lapangan pekerjaan.Kata Kunci: Disabilitas, Kebutuhan difabel, Kota Ramah Difabel

    ANALISIS POTENSI WISATA BUDAYA DI KOTA TERNATE DALAM UPAYA PENGEMBANGAN PARIWISATA PERKOTAAN

    Get PDF
    Kota Ternate merupakan salah satu kota yang menyimpan sejarah bagi bangsa Indonesia dan memiliki potensial untuk menjadi daya tarik wisata budaya, hal ini dapat dilihat dari beberapa peninggalan bangunan sejarah kolonial maupun keagamaan yang memiliki nilai sejarah dan nilai budaya yang tinggi. Objek Wisata budaya di Kota Ternate yang paling signifikan terlihat terdapat di Kecamatan Ternate Utara. Ternate Utara merupakan kecamatan dengan Jumlah objek wisata budaya berdasarkan karakteristik cagar budaya sebanyak 6 objek diantaranya Kedaton kesultanan Kota Ternate, Taman Dodoku Ali dan Benteng Kota Naka terdapat di Kelurahan Salero, Masjid Kesultanan Terdapat di Kelurahan Soa Sio, Benteng Toloko terdapat di Kelurahan Sangadji, dan Masjid Heku terdapat di Kelurahan Akehuda. Namun, dari beberapa objek yang ada hanya beberapa diantaranya yang mendapat perhatian dari pemerintah daerah. Berdasarkan permasalahan yang telah diuraikan maka tujuan dari penelitian ini adalah mengetahui karakteristik objek wisata budaya yang ada di Kecamatan Ternate Utara serta menganalisis dan menentukan strategi pengembangan wisata budaya dengan menggunakan analisis SWOT. Hasil penelitian ini yaitu memperoleh potensi tiap objek berdasarkan karakteristik wisata budaya dan arahan pengembangan untuk objek wisata budaya yang ada di Kecamatan Ternate Utara Kata Kunci: Potensi Wisata Budaya, Pariwisata, Kota Ternat

    PERENCANAAN PARIWISATA BERBASIS MASYARAKAT PADA KAWASAN KHUSUS KONSERVASI PENYU DI DESA LAMANGGO KABUPATEN SITARO (STUDI KASUS : DESA LAMANGGO)

    Get PDF
    Perencaanaan Pariwisata berbasis masyarakat pada kawasan khusus konservasi penyu merupakan program Pelestarian sekaligus menjadi wadah pendidikan untuk mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan dari suatu pembangunan. Penelitian ini bertujuan untuk : (1) Mengidentifikasi Potensi sumber daya lain serta mengetahui peran masyarakat terhadapat pariwisata yg ada. (2) Startegi perencanaan wisata kawasan penyu berbasis masyarakat di desa Lamanggo. Pariwisata di Kecamatan Biaro desa Lamanggo ini tergolong masih baru dan belum terekspos oleh wisatawan, karna pemerintahan daerah setempat masih dalam usaha Perencanaan pariwisata. Kecamatan Biaro menjadi salah satu destinasi pariwisata Kabupaten Sitaro. Desa Lamanggo khususnya Pantai Bira Menjadi lokasi Kawasan khusus Konservasi penyu. Penelitian ini menggunakan Metode Analisis SWOT . Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini yaitu : Empat (4) Potensi Pariwisata selain Kawasan Konsrvasi yaitu: (a).Pemandangan jalan Lamanggo, (b).Batu Kuda, (c).Spot Diving, (d).Gugusan Pulau-pulau. Strategi perencanaan dilakukan pengembangan Program yaitu : (A) Partisipasi masyara-kat melalui pariwisata, (B) Peningkatan kesadaran peran masyarakat, (C) Upaya pengelolaan wisata, (D) Pengembangan Kelembagaan.Kata kunci: Pariwisata, pariwisata berbasis masyarakat, konservasi, Konservasi penyu, desa Lamangg

    PENGARUH PENGEMBANGAN KAWASAN INDUSTRI TERHADAP PERMUKIMAN KECAMATAN MADIDIR KOTA BITUNG

    Get PDF
    Kota Bitung dikenal sebagai Kota Pelabuhan, Kota Industri,dan Kota Perikanan (Kota Cakalang) di Provinsi Sulawesi Utara,seperti yang ada di Kecamatan Madidir merupakan salah satu dari delapan kecamatan yang memiliki sumber industri penghasil pengolahan ikan.Dengan semakin meningkatnya pengembangan kawasan industri maka semakin meningkat pula pencemaran yang disebabkan oleh hasil buangan pabrik-pabrik industri seperti sampah, CO2 serta kebisingan yang berpengaruh terhadap permukiman warga yang ada di Kecamatan Madidir.Tujuan dari penelitian ini adalah menganalisis pengaruh kawasan industri terhadap permukiman di Kecamatan Madidir.Penelitian ini menggunakan metode path analysis untuk menentukan nilai koefisen pada dua variabel yaitu variabel independen kawasan industri dan variabel dependen permukiman. Dari hasil penelitian yang dilakukan maka dapat ditarik kesimpulan bahwa factor yang mempengaruhi oleh pengembangan kawasan industri pada kawasan permukiman yaitu pada bangunan dan pada infrastruktur. Bangunan permukiman mengalami pengaruh kesemrawutan lalu lintas 0,174 dan pencemaran 0,129.Akibatnya,masyarakat masyarakat melakukan upaya perbaikan.Selanjutnya,infrastruktur dipengaruhi oleh pencemaran 0,078,Kebisingan 0,028 dan kesemrawutan lalu lintas 0,031.Akibatnya,infrastuktur akan membutuhkan perbaikan-perbaikan secara signifikan. Kata kunci: Pengaruh,Pengembangan Kawasan Industri,Permukiman, Kecamatan Madidir

    438

    full texts

    445

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SPASIAL
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇