SPASIAL
Not a member yet
445 research outputs found
Sort by
ANALISIS SEBARAN SEKTOR INFORMAL DI KOTA MANADO
Pedagang kaki lima merupakan suatu aktivitas ekonomi yang memiliki problematik pada beberapa perkotaan khususnya di Kota Manado. Dilihat berdasarkan data, bahwa sebanyak 4.046 Pedagang Kaki Lima tersebar dan telah melakukan aktivitas berdagang di Kota Manado. Hal ini terjadi secara cepat dan tidak teratur serta tidak diimbangi dengan aturan yang jelas. Sehingga PKL yang ada, tidak terkendali karena penyebarannya kemana-mana. Dari lima lokasi yang diteliti (berdasarkan pusat-pusat pelayanan kota) yakni Taman Kesatuan Bangsa, Pasar Pinasungkulan, Central Business District, Kampus UNSRAT, RS. Advent, dijumpai PKL dengan jenis dagangan, hingga pola sebaran PKL yang berbeda-beda. Berdasarkan latar belakang, maka masalah yang ingin dijawab dalam penelitian ini yaitu bagaimana pola sebaran pedagang kaki lima, apa yang menjadi penyebab terbentuknya sebaran PKL, dan berapa besar pengaruh faktor-faktor yang ditemukan hingga terjadi sebaran PKL di Kota Manado. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui pola sebaran pedagang kaki lima, untuk mengidentifikasi faktor penyebab terbentuknya sebaran, dan untuk mengetahui berapa besar pengaruh faktor-faktor yang diidentifikasi pada lima lokasi penelitian berdasarkan pusat-pusat pelayanan kota di Kota Manado. Penelitian dilakukan menggunakan metode deskriptif dengan pendekatan kualitatif. Pengambilan sampel berdasarkan jenis non-probability sampling yaitu purposive sampling dengan sampel sebanyak 100 responden dan termasuk dalam kategori street vendor. Metode analisis data yang digunakan ada dua yaitu analisis spasial (SIG) dan analisis likert. Dari penelitian yang telah dilakukan, diperoleh hasil berupa pola sebaran pedagang kaki lima di lima lokasi yakni pola sebaran memanjang, mengelompok, dan acak. Faktor penyebab yang mempengaruhi sebaran PKL ada tiga yakni faktor aksesibilitas sebesar 2268, faktor aglomerasi sebesar 1888, dan faktor jarak sebesar 872. Kemudian besaran dari masing-masing faktor telah diukur dan memperoleh faktor dominan pada lokasi penelitian beserta persentase tiap faktor yang diidentifikasi. Kata Kunci: Pedagang Kaki Lima, Pola Sebara
PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BAHARI DI PULAU SILADEN
Pengembangan kawasan pariwisata pada umumnya diarahkan sebagai sektor andalan untuk mendorong pertumbuhan ekonomi, peningkatan pendapatan daerah, memberdayakan masyarakat, meningkatkan lapangan kerja dan kesempatan membangun usaha, serta mengembangkan pengenalan dan pemasaran produk wisata dalam rangka meningkatkan kesejahteraan masyarakat. Pulau Silden Merupakan sebuah pulau kecil yang termasuk dalam bagian administrasi dari Kota Manado tepatnya berda di kecamatan bunaken kepulauan, kelurahan Bunaken. Potensi wisata Pulau Siladen terdiri dari wisata bahari yang berada di bawah laut maupun di atas laut. Khusus untuk wisata bahari, Pulau Siladen sudah sangat terkenal hingga ke mancan negara bersamaan dengan empat pulau lain yang termasuk dalam kawasan taman laut nasional bunaken. Metode yang digunakan dalam penelitian ini bersifat deskriptif kualitatif dan kuantitatif dengan menggunakan teknik analisis swot, Untuk mencapai tujuan penelitian ini yaitu menentukan kekuatan, kelemahan, ancaman dan peluang serta strategi pengembangan kawasan wisata bahari Pulau Siladen sesuai dengan variabel-variabel pariwisata yang ada. Hasil penelitian ini menghasilkan faktor-faktor internal dan external pengembangan kawasan wisata bahari Pulau Siladen dengan strategi pengembangannya yaitu mempromosikan wisata bahari, memanfaatkan fasilitas yang sudah ada untuk menciptakan lapangan pekerjaan, pemberdayaan dan pelatihan untuk masyarakat.Kata Kunci: SWOT, Wisata Bahari, Pulau Silade
EVALUASI KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN DI KECAMATAN LUWUK SELATAN, KABUPATEN BANGGAI, SULAWESI TENGAH
Kecamatan Luwuk Selatan merupakan salah satu Kecamatan yang masuk dalam arahan pola ruang Kabupaten Banggai tahun 2012-2032, yang direncanakan sebagai penyedia peruntukan lahan permukiman baru. Jika ditinjau dari kondisi fisik lahan, Kecamatan Luwuk Selatan tidak semua lahannya dapat di kembangkan sebagai lahan permukiman. Karena kondisi morfologi yang mendominasi di Kecamatan Luwuk Selatan adalah lebih banyak kondisi morfologi perbukitan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi kemampuan dan kesesuaian lahan yang ada di Kecamatan Luwuk Selatan serta mengevaluasi arahan kesesuaian lahan dengan lahan peruntukan permukiman di Kecamatan Luwuk Selatan, berdasarkan rencana pola ruang dalam RTRW Kabupaten Banggai 2012-2032. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, dengan menggunakan pendekatan analisis spasial dengan bantuan SIG (sistem informasi geografis). Analisis data menggunakan pedoman Permen PU No.20/PRT/M/2007 tentang teknik analisis fisik dan lingkungan, ekonomi serta sosial budaya dalam penyusunan tata ruang. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik superimpose/overlay (Tumpang tindih) dan analisis skoring untuk pemberian nilai setiap parameter. Dari hasil analisis yang di lakukan, diperoleh bahwa kemampuan lahan yang mendominasi adalah kemampuan lahan sedang dan kesesuaian lahan yang mendominasi adalah kesesuaian lahan untuk perkebunan. Untuk lahan peruntukan permukiman yang direncanakan terdapat ketidaksesuaian dengan hasil analisis kesesuaian lahan. Karena lahan yang sesuai rencana peruntukan lahan permukiman dengan analisis kesesuaian lahan hanya 228,04 Ha/41,64 % dan yang tidak sesuai atau terjadi penyimpangan peruntukan lahan permukiman adalah 319,58 Ha/58,32 % dari total luas rencana peruntukan lahan permukiman yang direncanakan seluas 547,62 Ha dari total luas Kecamatan Luwuk Selatan.Kata Kunci: Kemampuan Lahan, Kesesuaian Lahan, Peruntukan Lahan, Permukiman
KARAKTERISTIK ADAPTASI STRUKTURAL MENURUT TINGKAT KERENTANAN BENCANA BANJIR DI PERMUKIMAN SEPANJANG BANTARAN SUNGAI SAWANGAN KOTA MANADO
Bencana hidrometeorologi (banjir dan tanah longsor) merupakan bencana yang paling sering terjadi. Kota Manado termasuk dalam daerah rawan banjir dikarenakan banyaknya sungai yang mengalir di Kota Manado, salah satunya Sungai Sawangan. Permukiman di sepanjang bantaran sungai sawangan menjadi rawan dan rentan terhadap bencana banjir. Pada kawasan rawan bencana masih dapat dibangun hanya perlu melakukan adaptasi bangunan atau lingkungan, maka dari itu salah satu tujuan penelitian ini yaitu melihat karakteristik adaptasi struktural yang sudah dilakukan masyarakat berdasarkan tingkat kerentanan dan kerawanan. Metode yang digunakan adalah kuantitatif dengan pendekatan deskriptif, dengan tahap yaitu analisis spasial dan skoring kemudian analisis statistik deskriptif. Hasil analisis diperoleh hasil bahwa tingkat kerawanan ditemukan tiga tingkat pada wilayah penelitian yaitu sangat rawan, rawan, dan tidak rawan. Tingkat kerentanan ditemukan tingkat kerentanan tinggi pada 3 wilayah Kelurahan, kerentanan sedang pada 4 wilayah Kelurahan, dan kerentanan rendah pada 2 wilayah Kelurahan. Karakteristik adaptasi struktural bangunan ditemukan bahwa rata-rata : jenis bangunan tembok, ketinggian lantai dasar bangunan 0-100 cm, jumlah lantai bangunan 1 lantai, untuk fungsi bangunan 2 lantai : lantai bawah dan atas sebagai aktivitas sehari-hari, dan orientasi bangunan membelakangi sungai. Tanggul terdapat pada beberapa lingkungan pada tingkat kerentanan tinggi dan sedang, sedangkan pada tingkat kerentanan rendah tidak terdapat tanggul. Vegetasi terdapat pada semua lingkungan pada tingkat kerentanan tinggi dan rendah, sedangkan pada tingkat kerentanan sedang hanya terdapat pada beberapa lingkungan.Kata Kunci: Adaptasi Struktural, Kerentanan, Kerawanan, Sungai Sawanga
ANALISIS PERUBAHAN PEMANFAATAN LAHAN PERTANIAN MENJADI LAHAN TERBANGUN TERHADAP KONDISI EKONOMI MASYARAKAT DI KECAMATAN AIRMADIDI
Sebagai pusat pertumbuhan dan pengembangan wilayah Kabupaten Minahasa Utara, Kecamatan Airmadidi mengalami perkembangan yang relatif cepat bila di bandingkan dengan daerah-daerah sekitarnya. Hal ini dapat dilihat dari semakin berkurangnya lahan pertanian menjadi lahan terbangun Penyebab banyaknya lahan pertanian yang beralih fungsi. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi perubahan pemanfaatan lahan pertanian menjadi lahan terbangun di Kecamatan Airmadidi Kabupaten Minahasa Utara, dan menganalisis pengaruh perubahan pemanfaatan lahan pertanian menjadi lahan terbangun terhadap peluang usaha masyarakat di Kecamatan Airmadidi. Penelitian ini menggunakan metode statistik deskriptif dan analisis spasial GIS (Geography Information System). Dari hasil analisis di dapatkan penurunan lahan kering sebesar 460Ha, penurunan sawah sebesar 195Ha, Kenaikan luas lahan permukiman sebesar 335Ha, dan kenaikan luas lahan perdagangan dan jasa sebesar 17 Ha. Hasil pengaruh perubahan pemanfaatan lahan pertanian menjadi lahan terbangun terhadap peluang usaha masyarakat di Kecamatan Airmadidi 67% masyarakat sangat setuju, dan 33% masyarakat setuju. Faktor-faktor penyebab berkurangnya lahan pertanian adalah faktor internal, faktor eksternal, dan faktor kebijakan. Faktor eksternal adalah faktor-faktor dinamika pertumbuhan perkotaan, demografi, maupun ekonomi yang mendorong perubahan penggunaan lahan pertanian menjadi lahan terbangun di Kecamatan Airmadidi, faktor internal adalah kondisi sosial ekonomi rumah tangga pertanian penggunaan lahan yang mendorong lepasnya kepemilikan lahan, ataupun mengalihfungsikan lahannya, faktor kebijakan, yaitu aspek regulasi yang dikeluarkan oleh pemerintah pusat maupun daerah yang berkaitan dengan perubahan fungsi lahan pertanian.Kata Kunci: Alih Fungsi Lahan, Pertanian, Peluang Usaha, Kecamatan Airmadid
ANALISIS PEMETAAN KAPASITAS ADAPTASI MASYARAKAT KELURAHAN KINILOW SATU DAN KAKASKASEN SATU TERHADAP ANCAMAN BENCANA VULKANIK GUNUNG LOKON
Salah satu gunung berapi yang aktif di provinsi Sulawesi Utara adalah Gunung api Lokon yang terletak di Kota Tomohon dengan tinggi 1.580 meter di atas permukaan laut. Bahaya primer atau bahaya langsung akibat latusan, adalah seperti luncuran awan panas, lontaran piroklastik dan aliran lava. Sedangkan bahaya sekunder atau bahaya tidak langsung adalah lahar hujan yang terjadi setelah erupsi apabila turun hujan lebat di sekitar puncak gunung Lokon. Dampak dari letusan gunung Lokon adalah bahaya primer dan bahaya sekunder. Kondisi ini menggambarkan bahwa bila terjadi erupsi letusan gunung api Lokon, di kelurahan Kinilow Satu dan Kakaskasen Satu berpotensi mengalami kerusakan secara fisik, bahkan mengancam keselamatan jiwa. Kapasitas adaptasi didefinisikan sebagai kemampuan dari suatu sistem untuk mengubah wataknya untuk dapat lebih baik mengatasi tekanan yang sudah ada maupun yang akan terjadi (Adger et al. 2004). Adanya penelitian ini diharapkan dapat menganalisis dan memetakan tingkat kapasitas adaptasi masyarakat di kelurahan Kinilow Satu dan Kakaskasen Satu terhadap bencana vulkanik Gunung Lokon. Dengan demikian penelitian ini berguna dalam memberikan rekomendasi untuk memperbaiki, merencanakan kembali dan mengembangkan kapasitas daerah Kota Tomohon. Penelitian ini menggunakan metode analisis Deskriptif kuantitatif dengan melakukan analisis spasial. Berdasarkan hasil analisis, lingkungan yang teridentifikasi memiliki tingat kapasitas adaptasi yang tinggi di kedua kelurahan berjumlah 5 (lima) lingkungan sedangkan tingat kapasitas adaptasi sedang berjumlah 9 (sembilan) lingkungan, dan tingat kapasitas adaptasi yang rendah berjumlah 7 (tujuh) lingkungan.Kata kunci: Kapasitas Adaptasi, Gunung Loko
IDENTIFIKASI DAN EVALUASI EKSISTENSI RUANG TERBUKA DI KECAMATAN WENANG KOTA MANADO
Kecamatan Wenang adalah salah satu kecamatan di Kota Manado yang memiliki tingkat kepadatan bangunan tinggi serta sudah tidak memiliki ketersediaan lahan efektif lagi (ditinjau dari tabel ketersediaan lahan efektif di wilayah kota Manado, Ranperda Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Manado tahun 2014-2034). Lokasi Kecamatan Wenang yang berada tepat di pusat kota yang menjadi pusat dari segala aktivitas masyarakat kota Manado baik aktivitas perdagangan, usaha, dan lain-lain. Sehingga terdapat banyak lahan terbangun di kecamatan Wenang. Hal ini menjadi masalah terhadap ketersediaan ruang terbuka sebagai tempat bertemu, berkumpul dan berinteraksi antara satu sama lain. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi eksistensi ruang terbuka serta mengevaluasi ketersediaan Ruang Terbuka Hijau (RTH) di Kecamatan Wenang Kota Manado berdasarkan Permen PU no. 5 tahun 2008 Tentang Pedoman Penyediaan RTH di Kawasan Perkotaan berdasarkan luas wilayah yaitu minimal 30%, sementara berdasarkan jumlah penduduk menyesuaikan tabel penyediaan yang ada. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif dan kuantitatif. Metode kualitatif menggunakan teknik analisis dialog deskriptif yaitu mendialogkan hasil data lapangan dengan menyesuaikan teori-teori yang ada, serta metode kuantitatif menggunakan pendekatan analisis spasial dengan bantuan SIG (Sistem Informasi Geografis). Analisis data ini diolah menggunakan aplikasi ArcGIS untuk membuat peta sebaran, jenis, serta tipe kepemilikan ruang terbuka. Dari hasil output peta akan dihitung jumlah ketersediaan ruang terbuka. Maka hasil evaluasi yang diperoleh ketersediaan ruang terbuka berdasarkan luas wilayah masih kekurangan, dari luas wilayah Kecamatan Wenang 368.78 ha hanya terdapat 47.63 ha yang terdiri dari 39.37 ha RTH publik dan 8.26 ha RTH privat. Jika di persentasekan RTH di Kecamatan Wenang hanya memiliki luas 12.91% sementara di standar penyediaan harusnya minimal 30%. Untuk standar berdasarkan jumlah penduduk masih memiliki banyak kekurangan karena tidak tersedianya ruang terbuka berdasarkan tipe taman RT, taman RW dan Taman Lingkungan. Namun di sisi lain ada tipe taman kecamatan yang sudah terpenuhi ketersediaannya yakni seluas 3.49 ha dari standar 0.6 ha per unit.Kata Kunci: Ruang Terbuka, Ruang Terbuka Hijau, Ruang Terbuka Non Hijau
ADAPTASI MASYARAKAT BANTARAN SUNGAI TERHADAP BANJIR DI KELURAHAN PAKOWA KOTA MANADO
Bantaran sungai menjadi area yang sering disoroti di perkotaan karena lekat dengan berbagai fenomena dan persoalan yang menarik. Persoalan sosial seperti kawasan kumuh dan ilegal, hingga permasalahan lingkungan seperti bencana banjir dan tanah longsor muncul mengintai warga perkotaan di pinggiran sungai. BPBD Kota Manado mencatat Bencana terbesar di Kota Manado yang pernah tercatat sejak 169 tahun yang lalu adalah banjir dan tanah longsor pada tanggal 15 Januari 2014. Tujuan penelitian ini untuk mengkaji atau menganalisis tingkat adaptasi masyarakat Pakowa terhadap banjir, dan merekomendasikan perencanaan terkait adaptasi masyarakat Pakowa terhadap banjir. Desain penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif kuantitatif digunakan untuk mengukur tingkat adaptasi masyarakat terhadap banjir dengan alat kuesioner berdasarkan skala ordinal dengan klasifikasi data berdasarkan tingkatan dan diberikan skor terdiri dari 3 kelas yaitu tinggi, sedang, rendah dengan masing-masing menggunakan 3 jenjang skor yaitu 1, 2, dan 3. Populasi dalam penelitian ini adalah 194 KK di Kelurahan Pakowa Kota Manado di area bantaran sungai, dan sampel dalam penelitian ini 129 KK responden dengan menggunakan rumus slovin. Hasil dari penelitian ini ditemukan bahwa tingkat adaptasi masyarakat bantaran sungai terhadap banjir di Kelurahan Pakowa tinggi. Sedangkan, dalam teori tingkat adaptasi yang menyatakan bahwa tingkat rangsang menengah adalah tingkat yang dapat memaksimalkan perilaku. Dari hasil analisis tersebut, kemudian dibuat rekomendasi perencanaan agar masyarakat bantaran sungai dapat beradaptasi deng baik masih dalam batas optimal atau bisa disebut homeostatis.Kata Kunci : Tingkat Adaptasi, Masyarakat Bantaran Sungai, Banjir.       Â
ANALISIS TINGKAT KERENTANAN GUNUNG API AWU DI KABUPATEN KEPULAUAN SANGIHE
Gunung Awu merupakan gunung api aktif yang terletak di Kabupaten Kepulauan Sangihe dengan tipe Saint Vincent atau Tipe Vulcano. Puncak tertinggi terletak pada koordinat 03O 41' LU dan 125O 27'30’’ BT pada ketinggian 1.340 meter diatas permukaan laut. Bahaya primer letusan gunung api Awu (bahaya langsung akibat letusan) berupa awan panas, aliran lava, guguran lava pijar, dan aliran lahar letusan dan kawasan rawan bencana terhadap hujan material lontaran batu (pijar) berukuran lapili sampai bom/blok (>64 mm), hujan lumpur dan hujan abu lebat. Bahaya sekunder (bahaya tidak langsung akibat letusan) berupa lahar hujan yang terjadi setelah erupsi apabila turun hujan lebat di sekitar puncak. Tujuan dari penelitian ini yaitu merekomendasikan strategi mitigasi bencana melalui analisis spasial dalam tingkat kerentanan gunung api Awu dalam aspek fisik, sosial, ekonomi dan lingkungan. Penelitian ini menggunakan metode analisis deskriptif dan kuantitatif dengan melakukan analisis spasial. Sesuai analisis tersebut, maka dalam menganalisis tingkat kerentanan menggunakan metode pembobotan nilai terhadap aspek fisik bangunan, sosial kependudukan, ekonomi dan lingkungan yang parameter pembentuknya berdasarkan PERKA BNPB No. 02 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Risiko Bencana, sehingga diperolehnya indeks penduduk terpapar dan indeks kerugian dari dampak bencana. Analisis kerentanan diolah dalam SIG (Sistem Informasi Geografis) untuk mengklasifikasikan nilai kerentanan yang paling tinggi hingga paling rendah. Berdasarkan hasil penelitian, terdapat beberapa hal yaitu; persebaran tingkat kerentanan di Kabupaten Kepulauan Sangihe terbagi atas 3 kelas (Rendah, Sedang dan Tinggi) dan yang menjadi pembahasan adalah desa dengan kelas kerentanan tinggi ada 12 (dua belas kelurahan/desa) dan rekomendasi–rekomendasi mitigasi penanganan di wilayah rentan bencana letusan Gunung api Awu.Kata Kunci : Tingkat Kerentanan, Gunung Api, Spasial, Mitigas
KAJIAN SEBARAN & KETERSEDIAAN RUANG TERBUKA HIJAU DI PERKOTAAN TONDANO
Berdasarkan amanat UU No 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, di dalam wilayah kabupaten atau perkotaan harus memuat rencana penyediaan dan pemanfaatan ruang terbuka hijau (RTH) sebesar 30% dari luas wilayah. RTH yang dimaksud adalah RTH publik dan RTH privat dengan proporsi masing-masing 20% dan 10%. Baik RTH publik maupun privat memiliki fungsi utama sebagai fungsi ekologis dan fungsi tambahan diantaranya sosial & budaya, ekonomi, dan estetika. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi kondisi eksisting sebaran ruang terbuka hijau dan menganalisis ketersediaan ruang terbuka hijau di Perkotaan Tondano. Metode penelitian yang digunakan yaitu metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan analisis spasial. Variabel-variabel yang digunakan dalam penelitian ini mengacu pada Peraturan Menteri PU No: 05/PRT/M/2008 tentang Pedoman Penyediaan dan Pemanfaatan RTH perkotaan yaitu RTH Publik dan RTH Privat. Tahapan analisis data dilakukan secara bertahap yaitu 1) memetakan sebaran RTH dengan menggunakan ArcGIS 10.3, 2) menghitung persentase luas RTH menggunakan rumus persamaan RTH 30%. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi eksisting sebaran RTH di Perkotaan Tondano, terbagi menjadi 2 (dua) bagian, yaitu RTH Publik yang terdiri atas, Taman Kota, Hutan Kota, Jalur Hijau Jalan, Sabuk Hijau, Sempadan Sungai, Sempadan Danau, Pemakaman, Pertanian, dan RTH Privat berupa, Pekarangan. Ketersediaan RTH Perkotaan Tondano sudah melebihi amanat Undang-Undang yaitu seluas 1787,17 ha atau sebesar 79,2% (>30%) dari keseluruhan luas wilayah perkotaan. Perkotaan Tondano memiliki luas RTH Publik sebesar 1321,92 ha atau 58% (>20%) dan RTH Privat yaitu 465,25 ha atau 20% (>10%).Kata Kunci: Ruang Terbuka Hijau, Ketersediaan, Sebara