445 research outputs found

    PENGARUH PEMBANGUNAN JALAN TRANS SULAWESI TERHADAP PEMANFAATAN LAHAN DI KECAMATAN BELANG

    Get PDF
    Kecamatan Belang merupakan salah satu kecamatan di Kabupaten Minahasa Tenggara yang termasuk dalam kawasan strategis dari sudut pandang ekonomi dan juga termasuk dalam jaringan jalan kolektor primer K1 yaitu jalan Trans Sulawesi jalur timur berdasarkan  RTRW Kabupaten Minahasa Tenggara Tahun 2013-2033. Dengan adanya Jalan Trans Sulawesi di Kecamatan Belang mengakibatkan meningkatnya aktivitas lalu lintas dan masyarakat sekitar sehingga tentunya akan terjadi perubahan pemanfaatan lahan. Penelitian ini bertujuan untuk 1. Menganalisis Perubahan Pemanfaatan Lahan secara spasial pada Jalan Trans Sulawesi Jalur Timur di Kecamatan Belang. 2. Menganalisis Pengaruh Jalan Trans Sulawesi Jalur Timur terhadap Harga Lahan  di Kecamatan Belang. Penelitian ini menggunakan metode analisis spasial menggunakan GIS (Geography Information System) dan metode analisis kuantitatif dengan menggunakan regresi linear sederhana. Hasil penelitian yang diperoleh terdapat 3 jenis pemanfaatan lahan yang mengalami perubahan yaitu lahan Permukiman, Sawah dan Pertanian Pangan Lahan Kering. Persentase untuk lahan permukiman mengalami kenaikan 1% dari 1% di tahun 2009 menjadi 2 % di tahun 2019,  persentase lahan sawah mengalami kenaikan 1% dari 3% di tahun 2009 menjadi 4% di tahun 2019 dan untuk lahan Pertanian Pangan Lahan Kering persentasenya mengalami penurunan 2% dari  96% di tahun 2009 menjadi 94 % di tahun 2019. Berdasarkan hasil analisis Regresi Linear Sederhana yang telah dilakukan menggunakan SPSS versi 20 maka didapatkan hasil yaitu, Jarak (X) berpengaruh negative terhadap Harga Lahan (Y) dengan total pengaruhnya adalah 49,3 %. Pengaruh negative ini bermakna bahwa semakin jauh Jarak dari Jalan Trans Sulawesi maka berpengaruh terhadap Harga Lahan yang semakin murah.Kata Kunci: Pemanfaatan Lahan, Jalan Trans Sulawesi Jalur Timur, Harga Laha

    KAJIAN PEMANFAATAN LAHAN PERMUKIMAN DI KAWASAN PERBUKITAN KOTA MANADO

    Get PDF
    Kota Manado memiliki perkembangan kota dan tingkat urbanisasi yang besar pada saat ini dan mengkibatkan persebaran pemanfaatan lahan permukiman berada bukan hanya pada daerah dataran tetapi banyak tersebar di daerah berbukit dan memiliki tingkat kelerengan >25% yang sangat dekat dengan rawan longsor Oleh sebab itu untuk mengantisipasi terjadinya hal tersebut maka perlu identifikasi tingkat kelerengan di Kota Manado dan menganalisis pemanfaatan lahan permukiman di kawasan perbukitan berdasarkan kemiringan lereng Kecamatan Malalayang. Adapun metode yang digunakan yaitu analisis spasial dengan menggunakan perangkat ArcGis 10.3. Prosesnya dengan menngunakan tools Spasial Analysst untuk membuat Kemiringan lereng dari Data DEMNAS, kemudian dengan cara overlay (tumpangsusun data spasial) untuk mengetahui pemanfaatan lahan permukiman pada kemiringan lereng, metode ini sangat baik digunakan untuk kajian keruangan Hasil akhir dari penelitian ini yaitu tingkat kemiringan lereng (5) yaitu 0-8%, 8-15%, 15-25%, 25-40% dan >40% yang berada pada 10 kecamatan di daratan Kota Manado. Persebaran Pemanfaatan Lahan permukiman di Kawasan Perbukitan pada Kemiringan lereng Kecamatan Malalayang menghasilkan luas Permukiman yang berada pada Kemiringan Lereng 15-25% dengan luasan 219.187,32 m2 dan luas permukiman kemiringan lereng 25-40% dengan luasan 5.156,46 m2yang tersebar di 9 kelurahan di Kecamatan Malalayang.Kata Kunci: Pemanfaatn Lahan, Permukiman, Kawasan Perbukitan, Kota Manad

    ANALISIS KERENTANAN BAHAYA ERUPSI GUNUNG API KARANGETANG TERHADAP KAWASAN PERMUKIMAN DI PULAU SIAU

    Get PDF
    Gunung Api Karangetang adalah gunung api yang terletak dibagian utara Sulawesi lebih tepatnya di Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang Biaro. Gunung Api Karangetang salah satu gunung teraktif di Indonesia dengan letusan sebanyak lebih dari 40 kali sejak tahun 1675 serta letusan kecil yang tidak terdata dalam catatan dalam rangka pengembangan kawasan permukiman di daerah potensi ancaman erupsi Gunung Karangetang, maka diperlukan analisis terkait tingkat kerentanan bahaya erupsi Gunung Karangetang terhadap pemukiman di Kabupaten Sitaro. Tujuannya untuk dapat mengetahui tingkat kerentanan serta menyusun atau memberikan rekomendasi-rekomendasi sesuai dengan tingkat kerentanan terhadap erupsi Gunung Api Karangetang terutama pada daerah ancaman erupsi (KRB I, II dan III) agar kerugian bencana yang terjadi di Kabupaten Kepulauan Sitaro akibat dari Letusan Gunung Api Karangetang khususnya di pulau siau dapat diminimalisir. Selain itu, hasil penelitian ini di dapat dengan menggunakan metode analisis deskriptif dan kuantitatif dengan analisis spasial, sesuai analisis tersebut, maka dalam menganalisis tingkat kerentanan menggunakan metode pembobotan nilai terhadap aspek kerentanan fisik, kerentanan sosial, kerentanan ekonomi dan lingkungan yang parameternya berdasarkan PERKA BNPB No 2 Tahun 2012 tentang Pedoman Umum Pengkajian Resiko Bencana. Sehingga di peroleh hasil analisis indeks kerentanan letusan gunung api Karangetang di pulau siau di fokuskan untuk 8 (delapan) desa dengan tingkat kelas kerentanan tinggi dan di lakukan rekomendasi-rekomendasi terkait penanganan yang ditujukan ke pemerintah Kabupaten Kepulauan Siau Tagulandang dan Biaro (Sitaro) lebih tepatnya pemerintah yang ada di pulau Siau terkait pertimbangan perencanaan dan pengembangan mitigasi bencana berdasarkan aspek Kerentanan Fisik, Kerentanan Sosial, Kerentanan Ekonomi dan Kerentanan LingkunganKata Kunci : Gunung Api, Kerentanan Bencana, Pulau Siau

    PERSEBARAN SUHU PERMUKAAN DAN PEMANFAATAN LAHAN DI KOTA MANADO

    Get PDF
    Urban heat island (UHI) atau pulau panas perkotaan merupakan sebuah fenomena yang terjadi akibat adanya peningkatan suhu pada wilayah tertentu sehingga membentuk pulau-pulau panas. Dalam perencanaan kota, urban heat island atau pulau panas perkotaan di pengaruhi oleh geometri perkotaan, pola penggunaan lahan, dan property perkotaan. Penggunaan lahan Kota Manado terus mengalami perubahan dari kawasan tidak terbangun menjadi kawasan terbangun sehingga menyebabkan peningkatan suhu permukaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui penyebaran suhu panas perkotaan di Kota Manado dan mengetahui pemanfaatan lahan di Kota Manado. Penelitan ini mengunakan metode analisis spasial. Analisis Spasial dilakukan untuk melakukukan pengolahan citra lansat 8 untuk menentukan suhu permukaan, menetukan pola sebaran suhu permukaan dan pemanfaatan lahan pada suhu permukaan. Hasil pengloahan suhu permukaan dari citra satelit lansat 8 mendapatkan suhu permukaan tertinggi adalah 48°C dan suhu permukaan terendah adalah 25°C dengan rata-rata suhu 33,43°C. suhu tertinggi berada pada lahan yang digunakan untuk transportasi. Sedangkan suhu terendah, berada pada lahan yang digunakan untuk hutan.Kata Kunci: Persebaran suhu permukaan, Pemanfaatan laha

    ANALISIS TINGKAT KERENTANAN TANAH LONGSOR DI WILAYAH PERKOTAAN TAHUNA DENGAN MENGGUNAKAN GIS

    Get PDF
    Wilayah Perkotaan Tahuna merupakan daerah yang cukup rawan terhadap tanah longsor. Adapun faktor penyebab antara lain : Intensitas curah hujan yang tinggi, kemiringan lereng yang terjal, penggunaan lahan bervariasi yang terjadi akibat aktivitas manusia yang kurang memperhatikan keseimbangan lingkungan.Tujuan penelitian ini untuk menganalisis tingkat kerentanan tanah longsor di Wilayah Perkotaan Tahuna dengan menggunakan gis. Penelitian ini menggunakan teknik metode deskriptif kuantitatif dan analisis spasial dengan bantuan alat analis GIS ( Geografis Informasi Sistem) dan analisis analisis skoring dengan teknik pengumpulan data primer (observasi lapangan dan wawancara langsung) data pengumpulan data sekunder (studi literatur, mengunjungi instansi pemerintah/organsisasi terkait dan searching data/ informasi di media internet). Dari hasil penelitian yang dilakukan maka dapat di tarik kesimpulan bahwa dengan memperhitungkan parameter kerentanan demografi, kerentanan ekonomi, kerentanan fisik dan kerentanan lingkungan di dapat 5 klasifikasi tingkat kerentanan : tidak rentan, sedikit rentan, agak rentan dan sangat rentan. Untuk kategori tingkat kerentanan sangat rentan di Kecamatan Tahuna memiliki luasan 269.712ha (1,45%) meliputi 4 Kelurahan : Bungalawang, Manente, Sawang Bendar, Soataloara Dua dan Kecamatan Tahuna Timur kategori tingkat kerentanan sangat rentan memiliki lusasan 112.472ha (0.82%) meliputi 3 Kelurahan : Lesa, Tapuang, Tona Dua. Kata Kunci: Wilayah Perkotaan Tahuna, Kerentanan, Longsor, Geografi Informasi Siste

    ANALISIS PERUBAHAN PENGGUNAAN LAHAN DI AMURANG

    Get PDF
    Perubahan Pengunaan lahan menjadi permasalahan yang sangat penting bagi daerah perkotaan. hal ini juga dialami di Amurang. Pertumbuhan penduduknya dan mobilitas yang sangat tinggi, disebabkan karna letak geografis kota Amurang yang berada di sepanjang jalur trans Sulawesi, serta menjadi akses bagi terhubungnya kabupaten/kota lainnya di Sulawesi Utara bahkan provinsi-provinsi menjadi faktor pemicu. Tujuan dari penelitian ini adalah Mengidentifikasi perubahan penggunaan lahan di Amurang1 dan Menganalisa perubahan penggunaan lahan di Amurang2. Penelitian ini menggunakan teknik analisis data kualitatif deskriptif, fokusnya adalah penggambaran secara menyeluruh tentang perubahan penggunaan lahan. Pada penelitian ini juga menggunakan teknik analisis data lewat SIG (Sistem Informasi Geografi) untuk menganalisa dan melihat perubahan lahan yang terjadi di Amurang dalam beberapa tahun terakhir yaitu tahun 2003 sampai 2018. Penelitian ini menganalisa data time series dengan selang waktu 16tahun, hal ini merupakan sesuatu yang sangat menarik dibandingkan dengan penelitian lainnya. Faktor-faktor yang mempengaruhi yaitu terdiri atas faktor internal dan faktor eksternal. Faktor internal dipengaruhi oleh (1) Penduduk, (2) Aksesbilitas, (3) Prasarana dan sarana; kemudahan menjangkau lokasi usaha/tempat kerja & kemudahan menjangkau kawasan lain, (4) Daya dukung Lahan, (5) Ekonomi Sedangkan faktor eksternal dipengaruhi oleh (6) Aturan/kebijakan pemerintah; rencana struktur ruang kota dan rencana pola ruang kota.Kata Kunci: Perubahan Penggunaan lahan, Amuran

    ANALISIS KEBUTUHAN PRASARANA DAN SARANA DALAM PENGEMBANGAN KAWASAN WISATA BAHARI DI PULAU MAITARA KOTA TIDORE KEPULAUAN

    Get PDF
    Pulau Maitara merupakan salah satu pulau di Kota Tidore Kepulauan yang berfungsi sebagai kawasan wisata bahari, namun ketersediaan daya tarik wisata tersebut belum dapat membantu dalam mewujudkan fungsi Pulau Maitara sebagai kawasan pengembangan wisata bahari. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi karakteristik prasarana sarana wisata dan mengetahui kebutuhan prasarana sarana wisata di Pulau Maitara. Identifikasi karakteristik ketersediaan prasarana dan sarana wisata dilakukan dengan pengumpulan data sekunder berupa survei instansional, data primer sebagai penguat data sekunder berupa observasi dan penyebaran kuesioner ke beberapa pihak terkait, selanjutnya untuk mengetahui kebutuhan prasarana dan sarana wisata data tersebut dianalisis menggunakan analisis deskriptif kemudian dilanjutkan dengan analisis statistik untuk melihat kebutuhan prasarana dan sarana wisata. Berdasarkan analisis yang telah dilakukan diperoleh hasil bahwa ketersediaan akses jalan 74,75%, dermaga 77,25%, listrik 31,25%, air bersih 32,5%, 67,25%, 27,5%, pos keamanan 33,75%, pusat informasi wisata 60,5%, petunjuk arah 74%, papan selamat datang 70,5%, transportasi umum 64,25%, penginapan 43,25%, masjid 65%, rumah makan 41,75%, area parkir 65,25%, kamar ganti 68,75%, tempat duduk 72%, toilet umum 72,75%, tempat sampah 58,5% dan dive center 25,25%, untuk itu dalam pengembangan kawasan wisata bahari di Pulau Maitara masih sangat membutuhkan tambahan penyediaan prasarana dan sarana wisata dalam menunjang kegiatan wisata di Pulau Maitara.Kata Kunci: Prasarana dan Sarana Wisata, Pulau Maitar

    EVALUASI RENCANA TATA RUANG WILAYAH KOTAMOBAGU TAHUN 2014 - 2034

    Get PDF
    Kotamobagu memiliki rencana tata ruang wilayah (RTRW) yang telah disahkan dalam Peraturan daerah tentang Rencana tata ruang wilayah Kotamobagu tahun 2014 – 2034. Rencana tata ruang wilayah Kotamobagu sampai pada tahun 2019 telah masuk tahun ke 5 setelah rtrw disahkan, sehingga perlu dilakukan evaluasi 5 tahun pertama. Ketidaksesuaian rencana tata ruang wilayah terhadap kondisi aktual yang terjadi di lapangan seringkali terjadi. Ketidaksesuaian pada RTRW Kotamobagu terjadi pada rencana struktur ruang dan pola ruang, dari hasil survey yang dilakukan pada rencana pola ruang kawasan sektor informal untuk pedagang kaki lima yang direncanakan diarahkan lokasinya di 3 Kelurahan / Desa yaitu Kelurahan Molinow, Kelurahan Genggulang dan Desa Poyowa Kecil. Dilihat dari kondisi aktual yang terjadi, realisasi di 3 Kelurahan / Desa dalam rencana tidak ada, lokasi pedagang kaki lima di Kotamobagu dilihat dari kondisi aktual yang ada lokasinya berbeda dengan yang direncanakan dimana lokasinya yaitu di Jln. Kartini Kelurahan Gogagoman. Tujuan dari penelitian ini yaitu untuk mengevaluasi kesesuaian rencana tata ruang wilayah kotamobagu terhadap kondisi aktual dan implementasinya. Penelitian menggunakan metode kualitatif kuantitatif untuk menjelaskan kondisi sebenarnya antara rencana tata ruang wilayah kotamobagu terhadap kondisi aktual dilapangan, kemudian dihitung dengan menggunakan persentase (%) untuk mengetahui tingkat kesesuaian rencana tata ruang wilayah kotamobagu terhadap kondisi aktual. Evaluasi rencana tata ruang wilayah kotamobagu menggunakan pedoman dari Peraturan Menteri Agraria & Tata Ruang No. 9 tahun 2017 tentang pedoman pemantauan dan evaluasi pemanfaatan ruang. Dari hasil evaluasi yang dilakukan, tingkat kesesuaian rencana tata ruang wilayah kotamobagu masuk dalam kategori kesesuaian kurang berkualitas dengan hasil yang didapatkan adalah  74,18 % sehingga rekomendasi yang diberikan berdasarkan pedoman adalah perlu dilakukan revisi sebagian Rencana Tata Ruang Wilayah Kotamobagu. Kata Kunci: Evaluasi, Kesesuaian RTRW Kotamobag

    ANALISIS TINGKAT PARTISIPASI MASYARAKAT DALAM PROGRAM RUANG TERBUKA HIJAU DI KECAMATAN SARIO KOTA MANADO

    Get PDF
    Kecamatan Sario merupakan salah satu kecamatan di Kota Manado yang memiliki Ruang Terbuka Hijau (RTH) dengan daya tarik dari RTH di Kecamatan Sario adalah keberadaannya sudah sejak jaman penjajahan Belanda . Penelitian ini bertujuan untuk melihat tingkat partisipasi masyarakat dalam mewujudkan ketersediaan RTH pada program pengembangan kota hijau di Kecamatan Sario. penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif-kuantitatif untuk melihat kondisi RTH. Pendekatan kuantitatif digunakan untuk mengukur tingkat partisipasi masyarakat dalam  program RTH dengan alat kuisioner berdasarkan skala likert yang kemudiaan di hitung menggunakan rumus distribusi frekuensi. Hasil dari penelitian ini adalah luas identifikasi RTH khususnya RTH publik masih belum sesuai degan ketetapan undang-undang penataan ruang dan untuk RTH privat sudah mencukupi namun bentuk RTH yang ada hampir keseluruhan ditutupi perkerasan dengan sedikit vegetasi. Sedangkan untuk tingkat partisipasi masyarakat di Kecamatan Sario sudah baik dalam hal kegiatan Perencanaan, Pembangunan, Pemeliharaan dan Forum komunitas hijau. Masyarakat ingin berpartisipasi namun perlu ada stimulus dari pihak pemerintah di Kecamatan Sario.                                                                                                                    Kata Kunci : Kota Hijau, Partisipasi Masyarakat, Program Pengembangan Kota Hija

    ANALISIS KESESUAIAN LAHAN PERMUKIMAN KABUPATEN SORONG

    Get PDF
    Distrik Aimas di Kabupaten Sorong merupakan salah satu Distrik yang kondisi lahannya harus diperhatikan karena merupakan wilayah yang makin berkembang salah satunya adalah permukiman. Kondisi fisik lahan di Distrik Aimas sangat bervariasi mulai dari morfologi bergunung dan kemiringan lereng yang curam oleh karena itu perlu dianalisis kemampuan dan kesesuaian lahan untuk pengembangan permukiman yang ada di Distrik Aimas. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif, dengan menggunakan pendekatan analisis spasial dengan bantuan SIG (Sistem Informasi Geografis). Analisis data menggunakan pedoman Permen PU No.20/PRT/M/2007 tentang teknik analisis fisik dan lingkungan, ekonomi serta sosial budaya dalam penyusunan tata ruang. Teknik analisis yang digunakan adalah teknik superimpose/overlay (tumpang tindih) dan analisis skoring untuk pemberian nilai setiap parameter. Tahap analisis ini ialah menggabungkan setiap parameter SKL untuk mendapatkan satuan kemampuan lahan setelah mengetahui daya dukung suatu lahan, selanjutnya digabungkan berdasarkan aspek kesesuaian lahan untuk mendapatkan arahan yang sesuai untuk permukiman. Dari hasil analisis yang dilakukan pada aspek arahan tata ruang pertanian, arahan rasio penutupan, arahan ketinggian bangunan, arahan pemanfaatan air baku, dan perkiraan daya tampung lahan bahwa kesesuaian lahan permukiman di Distrik Aimas, Kabupaten Sorong, memiliki 4 kelas kesesuaian lahan permukiman yaitu Kelas N2, Kelas N1, Kelas S2, Kelas S1. Kelas N2 yakni lahan tidak sesuai untuk permukiman dan tidak ada permukiman, Kelas N1 yakni lahan tidak sesuai untuk permukiman tetapi pada saat ini sudah ada permukiman, Kelas S2 yakni lahan sesuai untuk permukiman tetapi tidak ada permukiman dan Kelas S1 yakni lahan sesuai untuk permukiman dan pada saat ini sudah terbangun permukiman. Kelas kesesuaian lahan yang mendominasi di Distrik Aimas adalah Kelas N2.Kata Kunci: Kabupaten Sorong, kesesuaian lahan, permukiman

    438

    full texts

    445

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    SPASIAL
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇