Geoid (E-Journal)
Not a member yet
    504 research outputs found

    Interactive Tourism Website Balai Pemuda Surabaya with Spherical Cameras

    No full text
    Balai Pemuda Surabaya or now commonly called Surabaya square, is one of the historical buildings in the city of Surabaya. According to Bappeko Surabaya, this Balai Pemuda building began to be established in 1907 during the Dutch East Indies colonial period. The name of this building is De Simpangsche Societeit. In the Dutch colonial period, this building was used as a recreation centre for Dutch people to dance and exercise, such as bowling. In 2011, the Balai Pemuda Building experienced a fairly large fire incident in the west side building which is usually used for parties, exhibitions, art performances, and weddings. Regional revenues decreased after the fire incident. In 2013, the Surabaya city government carried out revitalization and was completed in 2015. To increase the number of tourists who will visit this tourist spot, the idea emerged to make Interactive Tourism Website Balai Pemuda Surabaya with Spherical Cameras. The results of this study were obtained via a virtual tour of Gedung Merah Putih and the surrounding area. Data from spherical cameras and non-spatial data are uploaded to the virtual tour Balai Pemuda website. The final step was to calculate the usage rate for a website that had already been built by roughly 88.5%

    Identifikasi Varietas Jagung dari Data Citra Satelit Menggunakan Metode Linier Spectral Unmixing (Studi Kasus: Kabupaten Ngawi)

    No full text
    Kabupaten Ngawi di Jawa Timur merupakan wilayah dengan sekitar 40% lahan pertaniannya digunakan untuk pertanian, termasuk budidaya jagung. Jagung adalah sumber karbohidrat yang penting bagi industri pangan dan permintaannya terus meningkat. Untuk meningkatkan potensi hasil pertanian jagung, penting untuk memantau lahan pertanian dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh. Namun, diperlukan pemantauan lahan jagung yang spesifik. Oleh karena itu, dalam penelitian ini, bertujuan untuk mengidentifikasi lahan jagung dan sebaran varietas tanaman jagung di Kabupaten Ngawi menggunakan data citra satelit Landsat-9 dengan metode Random Forest dan Linier Spectral Unmixing. Selain itu, citra Sentinel-2 digunakan untuk menentukan fase tanam jagung menggunakan algoritma NDVI dan NDWI. Hasil klasifikasi lahan jagung dan non-jagung didapat overall accuracy sebesar 97,6%, kappa 84%, didapat lahan jagung seluas 64,756 dan diterapkan nilai threshold fase generatif akhir seluas 64,364  Sebaran varietas dominan yang terdeteksi dari hasil pengolahan adalah NK Sumo, NK Perkasa, NK Wirosableng, dan Varietas lain (selain Bisi-18, NK Sumo, NK Perkasa, dan NK Wirosableng) dengan luasan sebesar 0,000*  atau 880 ; 7,800 ; 22,662 ; 33,900 . Namun, didapatkan perbedaan hasil yang diperoleh tersebut dapat didasarkan oleh beberapa faktor diantaranya adalah ketersediaan pustaka spektral dan resolusi spasial citra yang digunakan. Oleh karena itu, dilakukan uji akurasi RMSe menggunakan nilai Residual Erorr Piksel pada Citra Landsat-9 didapatkan hasil nilai 0,019–0,042 dengan nilai rata-rata yaitu sebesar 0,031. Hasil menunjukan pemisahan nilai fraksi campuran menggunakan metode LSU  memiliki error sebesar ± 3,1%, hasil kesalahan error tersebut dapat memberikan nilai persentase fraksi endmember dari setiap varietas lahan jagung di Kabupaten Ngawi

    Analisis Pemetaan Skala 1:1000 Menggunakan Data Unmanned Aerial Vehicle (UAV) (Studi Kasus: Waduk Selorejo - Kabupaten Malang)

    No full text
    UAV Fotogrametri telah  dipergunakan di berbagai sektor, salah satunya adalah untuk pemetaan dasar di Waduk Selorejo di desa Pandansari, Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang. Penelitian ini adalah kerjasama Departemen Teknik Geomatika ITS dengan Perum Jasa Tirta I dalam rangka inventarisasi data dan kegiatan Mata Kuliah Kemah Kerja tahun 2022. Akuisisi data foto ini dilakukan dengan menggunakan wahana UAV jenis tipe rotor QuadCopter Dji Phantom 4 Pro sebanyak 3 unit. Berdasarkan pemotretan udara yang dilakukan di area wisata Waduk Selorejo, didapatkan hasil sebanyak 678 buah foto udara. Wilayah pemetaan mencakup bagian Selatan wilayah Waduk Selorejo. Perencanaan kontrol koordinat dilakukan terhadap 4 GCP (Ground Control Point) dan misi terbang  pada 4 buah misi terbang. Misi terbang 1 dan 2 digunakan untuk pengolahan Blok I, misi terbang 2 dan 3 digunakan untuk pengolahan Blok II, serta misi terbang 3 dan 4 digunakan untuk pengolahan Blok III. Didapatkan hasil tinggi terbang rata-rata adalah 150 meter hingga didapatkan nilai Ground Sampling Distance (GSD) 4.23 cm/piksel. Dari hasil pengolahan data, didapatkan Circular Error (CE) 90% senilai 0.0602 meter dan memenuhi standar ketelitian peta RBI yang berada di rentang skala 1:1000 dan 1:2500 berdasarkan perka BIG No. 6 Tahun 2018

    Monitoring of Lake Water Quality Through Streamlit Web Application (Case Study: Lake Matano And Lake Towuti, South Sulawesi)

    No full text
    The Indonesian government, through the National Medium Term Development Plan (RPJMN) 2015-2019, stated that water reservation, including the function of lakes, is one of the priorities. Lakes are not only functioned to maintain the ecological balance but also to provide water, protein, mineral, energy sources, and even tourism to support the community's economic growth. Lake Matano and Lake Towuti are designated as Nature Tourism Park areas. However, the lakes' environment is starting to be damaged. The damages exist in areas such as water-absorbent areas, lake borders, and lake waters. In addition, these damages increase the disaster risk. Therefore, to maintain the lake's sustainability, it is necessary to conduct research on the parameters of the condition of the fertility level of the lake waters. One of the parameters of the fertility level of the waters is chlorophyll-a. In the previous studies, observations of chlorophyll-a in Lake Matano and Lake Towuti have been carried out using Landsat-8. However, with these observations, a chlorophyll-a had not properly been monitored by using an application through web-based satellite imagery using web applications using the primary python programming language. The data for processing chlorophyll-a itself are obtained through the geemap library. Chlorophyll-a itself was processed using the existing algorithm. The current web application displays several features, namely the web application information and the results of the chlorophyll-a map. The results of the estimated value of chlorophyll-a range from 0 - 0.6 mg/m3. The minimum value of chlorophyll-a was found in 2014 which was 0.4 mg/m3, while the highest value of chlorophyll-a was found at 0.6 mg/m3 in 2016. The results of this chlorophyll-a analysis was categorized into oligotrophic waters with low fertility.&nbsp

    Kajian Karakteristik Bencana Tanah Longsor Di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan

    No full text
    Kabupaten OKU Selatan merupakan Kabupaten dengan potensi pergerakan tanah longsor paling banyak kedua di Provinsi Sumatera Selatan setelah Kabupaten Lahat yang mana semua kecamatan berpotensi bencana longsor. Kondisi ini semakin rentan karena keberadaan pembangunan jalan raya diantara lereng terjal, tebing dan jurang curam serta bersebelahan langsung dengan Daerah Aliran Sungai (DAS) maupun danau yang mengakibatkan jalan menjadi lebih mudah mengalami kerusakan. Sehingga dampak tanah longsor tidak hanya mengancam jiwa bagi masyarakat yang melewati jalan tersebut, tetapi juga dapat mempengaruhi produktivitas dan distribusi pertanian serta kunjungan wisatawan. Tujuan dari peneitian ini untuk mengidentifikasi dan menganalisis karakteristik tanah longsor di Kabupaten OKU Selatan. Metode penelitian dilakukan dengan cara deskriptif kualitatif yang diawali dengan pengamatan pada lingkungan titik longsor, dilanjutkan dengan wawancara secara purposive sampling kepada Kepala Pelasana dan Kepala Seksi Pencegahan Kesiapsiagaan BPBD Kabupaten OKU Selatan. Hasil penelitian menyatakan bahwa zona daerah rawan bencana tanah longsor Kabupaten OKU Selatan dikelompokkan menjadi 3 kondisi yakni zona rawan, zona potensial dan zona stabil dengan 12 karaktersitik zona longsor. Kabupaten OKU Selatan memiliki 3 jenis tanah longsor yakni luncuran sebesar 54%, jatuhan sebesar 33%, dan aliran sebesar 13%. Tipologi longsor tipe B merupakan kondisi paling banyak ditemukan di Kabupaten OKU Selatan karena titik lokasi longsor berada pada daerah penyangga atau kaki perbukitan yang bersebelahan langsung dengan jalan, lahan perkebunan, kawasan permukiman, dan Daerah Aliran Sungai (DAS) atau danau dengan kelerengan antara 21% - 40% dan ketinggian 500-2000 mdpl. Karaktersitik zona longsor ini sebagai informasi sekaligus pedoman awal bagi Pemerintah dalam mengambil tindakan ataupun keputusan terkait kebijakan, manajemen bencana longsor, pengurangan resiko bencana longsor ataupun penataan ruang berbasis bencana longsor

    Model 3D Multi-Objek Hasil Ekstraksi Data Lidar

    No full text
    Pemanfaatan model kota 3D kini semakin beragam di berbagai bidang. Penelitian sebelumnya menerapkan model kota 3D antara lain untuk pemetaan Urban Heat Island, pemodelan kebisingan kota hingga dokumentasi bangunan bersejarah. Untuk memodelkan objek dalam 3D, dikenal bermacam-macam metode pengukuran. Salah satu teknologi yang saat ini dikenal cepat dan hemat biaya dalam akuisisi data 3D adalah LiDAR. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan data hasil pengukuran dengan LiDAR untuk dibuat model 3D. Akuisisi dengan teknologi LiDAR dilaksanakan di area kampus Sekolah Vokasi UGM. Hasil pengukuran adalah data point cloud, yaitu titik-titik yang persebarannya padat dan mengandung nilai x,y,z. Point cloud tersebut diklasifikasi dengan perangkat lunak Microstation v8i TerraSolid v16 dengan metode otomatis dan manual sehingga point cloud menunjukkan jenis objekobjek yang ada di area penelitian. Objek yang diklasifikasikan dalam penelitian ini adalah ground, low vegetation, medium vegetation, high vegetation dan building. Hasil klasifikasi tersebut kemudian dimodelkan menggunakan perangkat lunak yang sama, yaitu Microstation v8i TerraSolid v16. Model 3D untuk bangunan dibuat sebagai LOD 2. Ketelitian data vertikal data LiDAR dihitung berdasarkan nilai RMSE antara titik hasil pengukuran dengan GPS dengan nilai point cloud. Kata kunci: model 3D, LiDAR, point clou

    Pemodelan Geoid Gravimetrik Pulau Jawa dengan Metode Fast Fourier Transform Menggunakan Data Gayaberat Airborne, Terestris, dan Model Geoid Global GOCO06s

    No full text
    Geoid merupakan acuan referensi vertikal yang digunakan di Indonesia menurut Peraturan Pemerintah No. 45 Tahun 2021. Geoid menggantikan mean sea level (msl) sebagai referensi vertikal karena sifat dari msl yang memiliki pengaruh langsung terhadap dinamika laut. Geoid dapat dimodelkan menggunakan proses remove-compute-restore, dengan membagi komponen geoid menjadi tiga yakni komponen gelombang panjang, menengah, dan pendek. Komponen gelombang pendek yang berupa data DTM dan area terrain merupakan parameter yang mempengaruhi nilai ketelitian dari geoid. Variasi data DTM serta parameter inner dan outer grid diterapkan pada penelitian ini untuk melihat pengaruhnya terhadap nilai ketelitian dari geoid. Metode perhitungan nilai geoid menggunakan algoritma fast fourier transform yang dapat menghitung nilai geoid lebih cepat dengan hasil yang memiliki kemiripan dengan evaluasi integral Stokes secara langsung. Hasil model geoid gravimetrik pada validasi jalur GNSS-leveling dari Semarang hingga Glagah memberikan nilai ketelitian terbaik 13,224 cm. Nilai ketelitian tersebut mengalami peningkatan menjadi 11,114 cm setelah dilakukan fitting terhadap 186 titik di jalur validasi GNSS-leveling. Data DEMNAS dengan parameter inner grid 3 km dan outer grid 15 km memberikan nilai ketelitian yang paling bagus. Model geoid yang dihasilkan memiliki ketelitian lebih baik dari INAGEOID2020 v2.0

    Analisis Hasil Identifikasi Persebaran Mangrove Berdasarkan Algoritma Normalized Difference Vegetation Index dan Mangrove Vegetation Index Menggunakan Citra Satelit Sentinel-2 (Studi Kasus: Taman Nasional Alas Purwo)

    No full text
    Penginderaan jauh merupakan teknologi yang umum digunakan dalam pengamatan dan pemetaan area mangrove dengan cepat. Dalam pemrosesannya, Normalized Difference Vegetation Index (NDVI) adalah algoritma yang sering digunakan di Indonesia dan bekerja dengan mengidentifikasi indeks densitas kanopi vegetasi. Mangrove memiliki kenampakan kanopi yang unik sehingga dapat diidentifikasi menggunakan NDVI, namun vegetasi lain dengan kanopi rapat dapat memiliki nilai indeks NDVI yang sama dengan mangrove. Sehingga akan menimbulkan kesalahan identifikasi dan terjadinya penurunan kualitas hasil penelitian. Hingga pada tahun 2020, terdapat algoritma baru khusus mangrove dengan nama Mangrove Vegetation Index (MVI). MVI merupakan algoritma yang memiliki karakteristik yang berbeda untuk jenis hutan mangrove riverine dan fringe. Indonesia memiliki area mangrove mencakup kedua jenis hutan mangrove tersebut, yaitu pada area mangrove di Kawasan Taman Nasional Alas Purwo. Oleh karena itu, dilakukanlah penelitian ini dengan lokasi studi berada di Taman Nasional Alas Purwo. Dengan menggunakan data citra satelit Sentinel-2 Level 2A, penelitian dilakukan untuk membandingkan hasil dari algoritma NDVI dan MVI terhadap data tersebut. Cakupan area mangrove diketahui dengan melakukan klasifikasi terbimbing metode CART yang menghasilkan data raster hasil klasifikasi area mangrove dengan nilai akurasi mencapai 96,10%, dengan luas area mangrove teridentifikasi mencapai 1583,914 Ha. Transformasi algoritma NDVI dan MVI dilakukan pada hasil klasifikasi, sehingga diperoleh nilai luasan mangrove teridentifikasi dari algoritma NDVI sebesar 1684,370 Ha dan sebesar 1501,808 Ha dari algoritma MVI. Kemudian dilakukan uji validasi dengan metode overlay dari hasil transformasi tersebut yang menunjukkan kesesuaian dalam penggunaan algoritma NDVI sebesar 32,1% pada bagian utara AOI, dan 21,3% untuk bagian selatan. Sedangkan, pada penggunaan algoritma MVI menunjukkan kesesuaian dalam kategori sesuai mencapai 40,9% untuk bagian utara, dan 15,5% untuk bagian selatan AOI

    Pengembangan Objek Wisata dalam Upaya Meningkatkan Kunjungan Wisatawan (Studi Kasus: Wisata Waduk Selorejo Kabupaten Malang)

    No full text
    Sektor pariwisata merupakan sektor prioritas dalam pembangunan ekonomi karena mampu untuk menambah pendapatan devisa negara, sehingga pengembangan potensi pariwisata penting untuk dilakukan. Pengembangan objek wisata pada suatu daerah pariwisata dapat bertujuan untuk meningkatkan jumlah kunjungan wisatawan. Waduk Selorejo merupakan salah satu wisata alam Indonesia yang terletak di Kecamatan Ngantang, Kabupaten Malang, Jawa Timur. Sejak tahun 2020, Waduk Selorejo telah mengalami penurunan jumlah kunjungan wisatawan akibat adanya covid-19. Penurunan jumlah wisatawan juga disebabkan karena kurangnya penataan lingkungan fisik yang ada pada objek wisata tersebut. Untuk itu dilakukan pengembangan objek wisata untuk dapat meningkatkan minat wisatawan dalam berkunjung ke wisata Waduk Selorejo. Penelitian terkait hal tersebut dilakukan dengan menggunakan metode deskriptif kuantitatif, yang mendeskripsikan pengembangan objek wisata berdasarkan luas lahan yang tersedia. Pengembangan objek wisata Waduk Selorejo juga didasarkan pada kondisi eksisting lahan, peta potensi wisata Waduk Selorejo tahun 2022, dan Rencana Tata Ruang Wilayah (RTRW) Kabupaten Malang tahun 2010. Terdapat 5 objek wisata yang akan dikembangkan, yakni area outbound dengan luas 600 m2 yang dikembangkan sesuai dengan penelitian Ameilia (2018) tentang redesain kawasan outbound; bumi perkemahan dengan luas 2.500 m2 yang dikembangan berdasarkan Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 24 Tahun 2015 tentang Standar Usaha Bumi Perkemahan; agrowisata berupa kebun bunga terasering dan wisata petik buah yang dikembangkan berdasarkan RTRW Kabupaten Malang tahun 2010; dan tempat pemancingan dengan panjang 50 meter yang dikembangkan berdasarkan Peraturan Menteri Pariwisata Nomor 19 Tahun 2015 tentang Standar Usaha Wisata Memancing. Rencana pengembangan objek wisata Waduk Selorejo divisualisasikan ke dalam peta rencana pengembangan yang memuat pemodelan 3-dimensi untuk setiap objek wisata yang dikembangkan

    Pemetaan Zonasi Kerawanan Banjir berbasis Sistem Informasi Geografis (Studi Kasus : Kabupaten Berau, Kalimantan Timur)

    No full text
      Bencana banjir merupakan bencana yang seringkali melanda wilayah di Indonesia tidak terkecuali untuk Kabupaten Berau. Kabupaten Berau merupakan salah satu Kabupaten yang terletak di Provinsi Kalimantan Timur yang setiap tahunnya seringkali dilanda banjir setiap musim penghujan. Dihimpun dari berita linimasa, bencana banjir seringkali melanda beberapa wilayah di Kabupaten Berau dan berdampak negatif terhadap kondisi infrastruktur, lahan pertanian dan juga perkebunan. Meskipun tidak ditemukan nilai rupiah yang pasti terkait kerugian yang diakibatkan oleh bencana banjir, namun menjadi sangat penting pemetaan zonasi banjir mengingat kejadian banjir di Kabupaten Berau yang terus terjadi setiap tahunnya. Parameter yang digunakan untuk menentukan kerentanan banjir terdiri dari tekstur tanah, curah hujan, ketinggian lahan, kemiringan lereng, dan penggunaan lahan. Dari pemetaan parameter kerentanan banjir yang telah dilakukan didapatkan hasil bahwa Kabupaten Berau didominasi dengan kelas kerawanan sedang yaitu seluas 8725,56 km2 atau sebesar 40,16% dari luas wilayah Kabupaten Berau, kemudian kelas kerawanan kurang rawan dengan luas wilayah 5820,76 km2 atau sebesar 26,79%, kerawanan tidak rawan yaitu seluas 3596,39 km2 atau sebesar 16,55%, dan kelas kerawanan rawan seluas 3402,08 km2 atau 15,66%. Sedangkan tingkat kerawanan yang terendah yaitu kelas kerawanan sangat rawan yaitu dengan luas 182,82 km2 atau sebesar 0,84% dari luas wilayah Kabupaten Berau. Dihimpun dari 17 data titik aktual kejadian banjir yang terjadi pada tahun 2020 dan 2021 di beberapa wilayah di Kabupaten Berau, menunjukkan hasil bahwa area yang masuk dalam kategori zona rawan banjir sesuai dengan kondisi aktual banjir Kabupaten Berau. Peta Zonasi Rawan Banjir Kabupaten Berau yang sudah dihasilkan ini diharapkan dapat menjadi rujukan pihak stakeholder dalam melakukan perencanaan pembangunan dan tindak mitigasi bencana di Kabupaten Berau. &nbsp

    41

    full texts

    504

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Geoid (E-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇