Geoid (E-Journal)
Not a member yet
504 research outputs found
Sort by
IDENTIFIKASI PULAU DI KEPULAUAN PADAIDO PROVINSI PAPUA BERDASARKAN KAIDAH TOPONIMI (ISLAND TOPONYM STUDY OF PADAIDO ARCHIPELAGO, PAPUA PROVINCE)
Pengelolaan sumberdaya kelautan telah menjadi perhatian dalam kaitannya dengan pembangunan berkelanjutan. Dilain pihak informasi mengenai data unsur-unsur laut menjadi sangat penting artinya dalam pengelolaan sumberdaya sekaligus dapat mendukung terciptanya tertib administrasi wilayah. Guna mendukung pengelolaan wilayah laut dan unsur-unsur geografi laut di wilayah kedaulatan Indonesia, diperlukan pengidentifikasian unsur-unsur geografi laut, yang selanjutnya disusun sebagai pangkalan data unsur-unsur geografi laut (Pulau) secara terintegrasi dan sistematis berdasarkan kaidah toponimi. Penelitian toponim pulau yang dilakukan di Kepulauan Padaido, Provinsi Papua, telah mengidentifikasi unsur pulau, serta penamaannya
STUDI PENENTUAN NILAI TANAH DENGAN MODEL REGRESI PADA KAWASAN SENTRA PEREKONOMIAN KOTA MADIUN (STUDI KASUS : KAWASAN JALAN PAHLAWAN KOTA MADIUN
Tanah merupakan unsur ruang strategis yang pemanfaatannya terkait dengan penataan ruang wilayah. Perkembangan dan penggunaannya berjalan seiring dengan kebutuhan manusia dan pertumbuhan penduduk serta kegiatan usaha yang terjadi. Sehingga menyebabkan terjadinya perubahan tata guna tanah dan meningkatnya nilai tanah. Kondisi ini dapat dilihat pada kawasan Jl. Pahlawan Kota Madiun dimana telah berdiri 3 (tiga) pusat perbelanjaan yaitu plasa Sri Ratu, plasa Matahari,dan plasa Giant. Dengan munculnya beberapa pusat perbelanjaan ini berpengaruh besar terhadap nilai tanah di kawasan ini, hal ini dapat dilihat pada Nilai Jual Objek Pajak (NJOP) pada kawasan tersebut yang mengalami peningkatan yang sangat signifikan.
Skripsi ini membahas tentang pembuatan prediksi nilai tanah yang direfleksikan dalam bentuk harga NJOP pada kawasan sentra perekonomian ini pada tahun 2010 – 2016, dengan memperhatikan perkembangan NJOP tahun 2003 – 2009 serta arah perencanaan kawasan tersebut hingga tahun 2016 yang dijelaskan pada Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) 2005 – 2016 dengan membandingkan model regresi terbaik yaitu, linier, kuadratik, dan kubik.
Analisa yang dilakukan diantaranya pengolahan secara regresi yang menghasilkan model regresi kuadratik sebagai model matematis yang sesuai untuk dilakukan prediksi harga NJOP berdasar nilai pendekatan terhadap harga NJOP sebenarnya
ANALISA HASIL PENGAMATAN PASANG SURUT AIR LAUT METODE LANGSUNG DAN TIDAK LANGSUNG
Pengamatan pasut terdiri dari dua metode, yaitu pengamatan secara langsung dan pengamatan secara tidak langsung. Pengamatan secara langsung dilakukan dengan membaca skala pada rambu pasut.Pengamatan tidak langsung dilaksanakan dengan menggunakan alat automatic tide gauge.
Dalam penelitian ini, data pengamatan yang digunakan adalah data perairan Sabang bulan Juli 2007. Sedangkan metode perhitungan komponen pasut yang digunakan adalah metode admiralty dan least square. Nilai signifikansi perbedaan antara data pengamatan langsung dan tidak langsung akan diuji secara statistik menggunakan t-test.
Hasil penelitian ini menunjukkan nilai komponen pasut semi diurnal (M2 dan S2) lebih dominan dibandingkan dengan komponen pasut yang lain. Nilai amplitudo M2 dan S2 terbesar senilai 54,3 cm dan 32,4 cm serta nilai fase 296 dan 351 yang berasal dari data pengamatan tidak langsung menggunakan metode admiralty. Perairan Sabang memiliki tipe pasut ganda, dengan nilai F sebesar 0,15 dari pengolahan admiralty dan 0,16 dari pengolahan least square. Koefisien korelasi antar komponen pasut terbesar terjadi pada K1-O1 dengan nilai 0,005118 untuk data dari pengamatan tidak langsung dan langsung, sedangkan koefisien korelasi terkecil terjadi pada K1-MS4 sebesar -0,000002 untuk pengamatan langsung dan tidak langsung
OPTIMASI JALUR TERBAIK KABEL BAWAH LAUT DARI PERSPEKTIF KEHIDROGRAFIAN
Penerapan survei hidrografi dapat digunakan untuk menentukan jalur dan kedalaman pemendaman kabel laut. Survei ini dilakukan untuk mendapatkan jalur terbaik rencana penggelaran dan perkiraan kedalaman pemendaman kabel laut guna mencegah kerusakan kabel dalam waktu singkat disepanjang jalur survei. Oleh karena itu diperlukan pemetaan dasar laut untuk menentukan jalur kabel laut yang aman, efektif dan efisien.
Data pengamatan yang digunakan adalah data survei hidro-oseanografi perairan Batam-Bintan. Kajian data meliputi batimetri, aturan penggelaran kabel laut dan analisa kriteria pengamatan yaitu topografi dasar laut, kondisi lingkungan, investigasi dasar laut, aktifitas laut, aspek teknis, pengaruh kemiringan dan panjang jalur, keefektifan dan efisiensi serta faktor keamanan penggelaran kabel.
Hasil dari penelitian ini adalah rencana jalur kabel laut yang optimum di perairan Batam-Bintan, dengan memperhatikan faktor-faktor tersebut di atas, faktor oseanografi dan nilai kedalaman rata-rata (24,24 meter) serta kedalaman maksimum (59,19 meter), maka diperoleh tiga rencana jalur yaitu rencana jalur A = 9673,965 meter, jalur B = 11363,750 meter dan jalur C = 9649,398 meter. 
ANALISA PENDIDIKAN DASAR DI KECAMATAN LOWOKWARU KOTA MALANG DENGAN MENGGUNAKAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS BERBASIS WEB
Untuk mendapatkan informasi tentang pendidikan dasar biasanya menggunakan buku panduan pendidikan atau informasi dari orang sekitar. Tugas akhir ini bertujuan untuk menganalisa dan membuat sistem informasi pendidikan dasar yang bisa menjadi alternatif lain dalam menyediakan informasi mengenai pendidikan dasar beserta fasilitas pendukungnya. Pengembangan aplikasi ini diawali dengan merancang basisdata serta implementasinya menggunakan PHP dan MySQL dengan editor Macromedia Dreamweaver 8.0. Untuk menampilkan peta di internet explorer menggunakan MapView SVG. Dalam menguji kinerja sistem dilakukan skenario uji coba yang bertujuan untuk mengetahui kebenaran pemrosesan data mulai dari input sampai output. Terakhir melakukan analisa perbandingan antara sekolah se-Kecamatan Lowokwaru yang berupa nilai UAN, jumlah guru dan murid, sarana pendidikan dan perbandingan antara jumlah penduduk usia sekolah dengan jumlah daya tampung sekolah.
PENYEDIAAN PETA DASAR DALAM PEMBUATAN PETA KADASTER LAUT SEBAGAI MASUKAN KEBIJAKAN DALAM PENGATURAN RUANG LAUT DI INDONESIA
Kadaster laut merupakan metode dalam menata dan memanfaatkan ruang laut. Laut berfungsi untuk aktivitas pelayaran, perikanan, dan pertambangan. Adanya aktivitas yang beragam di laut membutuhkan penanganan supaya tidak terjadi tumpang tindih dalam pemanfaatan aktivitas di Laut. Menangani masalah tumpang tindih salah satu caranya dengan pembuatan peta dasar.
Peta dasar merupakan peta topografi yang dimanfaatkan untuk dapat diturunkan kedalam peta tematik. Informasi yang ada pada peta dasar dapat digunakan sebagai acuan dalam pembuatan peta tematik.
Pada penelitian ini, ingin menyediakan sebuah peta dasar baru agar dapat dimanfaatkan dalam pembuatan peta kadaster laut. Peta baru yang dibuat merupakan gabungan peta Dishidros, Peta LPI dan Peta Bakosurtanal dengan menggunakan unsur kartografis. Pembuatan peta ini diharapkan sebagai acuan peta kadaster laut yang dapat bermanfaat untuk menangani permasalahan yang terjadi di laut
STUDI ALTERNATIF PENENTUAN JALUR BARU SUTET – PLN MENGGUNAKAN FOTO UDARA DAN ANALISA GIS
SUTET adalah singkatan dari Saluran Udara Tegangan Ekstra Tinggi dengan kekuatan 500 kV yang ditujukan untuk menyalurkan energi listrik dari pusat-pusat pembangkit yang jaraknya jauh menuju pusat-pusat beban sehingga energi listrik bisa disalurkan dengan efisien. Oleh karena itu diperlukan adanya pemetaan untuk penentuan jalur SUTET yang efektif. Teknologi pemetaan dengan foto udara berkembang dengan cepat seiring dengan kemajuan teknologi informasi. Selain itu Sistem Informasi Geografis sebagai suatu sistem berbasiskan komputer yang digunakan untuk mengumpulkan, menyimpan, dan menganalisa obyek-obyek geografis sangat tepat digunakan untuk analisa penentuan jalur baru SUTET - PLN.
Data dasar yang digunakan adalah Foto Udara Medium Format skala 1 : 20.000 yang akan diolah sedemikian rupa menjadi informasi spasial dan analisa Sistem Informasi Geografis dengan menggunakan metode fungsi analisis overlay, hingga menghasilkan hasil analisa Sistem Informasi Geografis untuk jalur SUTET – PLN yang baru.
Hasil dari penelitian ini adalah Peta Tata Guna Lahan dan Peta Kemiringan Lahan daerah Ungaran– Kabupaten Semarang serta Peta jalur baru SUTET – PLN yang memnuhi kriteria parameter tata guna lahan, parameter kemiringan lahan, dan parameter pemukiman
KAJIAN SISTEM INFORMASI KELAUTAN BERBASIS TIGA DIMENSI UNTUK PENDUKUNG NAVIGASI
Berawal dari keinginan manusia untuk mendapatkan gambaran yang sesuai dengan kenyataan (real world), saat ini teknologi visualisasi gambar secara tiga dimensi berkembang sangat pesat. Hal ini didukung dengan semakin majunya teknologi perangkat keras pada komputer dan semakin banyaknya perangkat lunak untuk visualisasi tiga dimensi. Penerapan visualisasi tiga dimensi ini juga dapat dilakukan pada Sistem Informasi Kelautan. Sistem Informasi Kelautan dengan basis tiga dimensi dapat digunakan untuk aplikasi di bidang kadaster kelautan (marine cadastre), pencemaran laut (ESI : Environmental Sensitivity Index) maupun navigasi.
Pada makalah ini akan membahas mengenai Sistem Informasi Kelautan berbasis tiga dimensi (SIK 3D) untuk pendukung navigasi. SIK 3D untuk navigasi ini menggunakan prinsip-prinsip pembuatan SIG (Sistem Informasi Geografis), ECDIS (Electronic Chart Display and Information System) dan DBM (Digital Bathymetric Model). Untuk membentuk SIK 3D ini diperlukan investasi dana yang tidak sedikit dan sumber daya manusia yang handal untuk pengelolaannya. SIK 3D untuk navigasi ini dapat menampilkan perubahan lingkungan sekitar secara kontinyu pada saat melakukan pergerakan kapal. Meskipun masih dalam tahap wacana dan masih dalam bentuk prototipe, SIK 3D memiliki peluang untuk dapat dikembangkan dan diterapkan secara luas di kalangan masyarakat hidrografi
PEMETAAN PREDIKSI LOKASI MINERAL URANIUM DENGAN CITRA LANDSAT 7 ETM+ (STUDI KASUS : KABUPATEN KETAPANG, KALIMANTAN BARAT)
Mineral Uranium merupakan salah satu sumber energi alternatif yang selama ini belum maksimal pendaya gunaannya, dikarenakan keterbatasan data dan informasi cadangan mineral uranium, dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh (remote sensing) dan survei geofisika diharapkan mampu menyediakan data spasial yang memadai dalam inventarisasi sumber cadangan.
Satelit yang mendukung penyediaan data spasial untuk pemetaan ini adalah LANDSAT 7 ETM+ yang menghasilkan citra multi band dan memiliki resolusi spasial 30x30 m dengan luas liputan 185 km. Dalam penelitian ini digunakan metode color composit untuk klasifikasi citra, dan menggabungkan data anomali radiometri batuan dari alat SPP2NF.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mineralisasi U diduga terdapat pada satuan batuan malihan pinoh dan urat reolit, dengan nilai rata-rata anomali radiometri lapangan tertinggi 500 c/s dengan sebaran yang tidak merata, karakteristik seperti ini belum cukup untuk dijadikan sebagai daerah prospek uranium. Hasil yang didapatkan berupa peta prediksi mineral uranium daerah Ketapang, Kalimatan Barat
ANALISA PENGARUH PENURUNAN TANAH (LAND SUBSIDENCE) TERHADAP NILAI TANAH (Studi Kasus : Kecamatan Penjaringan, Jakarta Utara)
Penurunan tanah (land subsidence) merupakan suatu fenomena alam yang banyak terjadi di kota – kota besar yang berlokasi di sekitar pantai atau dataran alluvial, seperti Jakarta, Semarang, dan Surabaya. Penurunan tanah berhubungan dengan fenomena – fenomena alam dan lingkungan yang dibangun manuasia seperti terjadinya banjir, intrusi air laut, perubahan aliran sungai, dan penataan konstruksi bangunan yang nota bene bersifat destruktif. Oleh karena itu, perlu adanya penelitian untuk mengetahui apakah penurunan tanah dapat mempengaruhi nilai tanah atau tidak.
Data yang diperlukan dalam penelitian ini antara lain data spasial yaitu Peta Zona Nilai Tanah, dan Peta Geologi Lambar Jakarta dan Kepulauan Seribu. Sedangkan data non-spasial yaitu data Nilai Indikasi Rata-Rata dan grid penurunan tanah. Data tersebut diolah menggunakan software ArcView.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa pada tahun 1997-1999 korelasi antara penurunan tanah dengan perubahan nilai tanah sebesar 0,164. Sedangkan pada tahun 1999-2000 sebesar 0,318, dan pada tahun 2000-2001 sebesar 0,108. Hal ini menunjukkan bahwa korelasi antara penurunan tanah dan perubahan nilai tanah adalah sangat lemah atau dianggap tidak ada