Geoid (E-Journal)
Not a member yet
504 research outputs found
Sort by
Studi Variasi Temporal Distribusi Massa Air Menggunakan Data Water Thickness Satelit Grace
GRACE (Gravity Recovery and Climate Experiment) merupakan hasil kerjasama antara National Aeronautics and Space Administration (NASA) di Amerika Serikat dan Deutsches Zentrum fur Luft-und Raumfahrt (DLR) di Jerman. Tujuan GRACE adalah untuk mengukur variasi medan gaya berat dengan akurasi sangat tinggi. Dalam penelitian ini akan dilakukan proses analisa variasi distribusi massa air global. Penelitian ini menggunakan data hasil pengamatan GRACE selama 33 bulan antara Februari 2003 hingga April 2006, kecuali Januari dan Juni 2003, Januari 2004, serta Juli-Oktober 2004. Hasil menunjukkan terdapat beberapa wilayah yang memiliki variasi distribusi massa air yang tinggi, yaitu Amerika Selatan, Amerika Utara, Afrika, Asia Selatan, dan Eropa Utara serta Timur. Nilai trend perubahan water thickness pada titik sampel adalah 2,71 cm, 1,61 cm, -0,63 cm, -1,25 cm, dan 1,37 cm. Nilai trend perubahan water thickness pada titik sampel Indonesia adalah -0,29 cm. Hasil plotting juga menunjukkan bahwa pola distribusi massa air global adalah sama setiap tahun.
 
PEMANFAATAN BAND THERMAL INFRARED (TIR) CITRA ASTER UNTUK PEMETAAN SUHU PERMUKAAN LAUT DI PERAIRAN SELAT MADURA
Suhu Permukaan Laut (SPL) merupakan faktor penting dalam oseanografi, saat ini telah banyak satelit yang dilengkapi sensor inframerah termal untuk mengukur SPL. ASTER (Advanced Spaceborn Thermal Emission and Reflection Radiometer) merupakan citra multi band sensor inframerah termal (TIR) pertama di dunia memiliki resolusi spasial 90x90 m dengan luas liputan 60 km. Dalam penelitian ini digunakan dua metode perhitungan SPL dari Citra ASTER yaitu algoritma Alley&Nilsen yang menggunakan perhitungan single band dan algoritma Kishino dengan menggunakan multi band, hasil kedua algoritma tersebut dibandingkan dengan pengukuran lapangan dan SPL dari Citra NOAA-AVHRR. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perhitungan dengan algoritma Kishino mempunyai kesesuaian yang paling baik dari pada algoritma Alley&Nilsen dengan nilai koefisien determinasi (R2) sebesar 0,6093 terhadap data lapangan dan 0,5592 terhadap data Citra NOAA-AVHRR.
ANALISA DISTRIBUSI DAN JUMLAH TITIK KONTROL TANAH PADA TRIANGULASI UDARA FOTO MEDIUM FORMAT
Pemetaan daerah yang luas dengan menggunakan metode fotogrametri memerlukan titik kontrol tanah yang cukup banyak sehingga membutuhkan waktu dan biaya yang relatif tinggi. Oleh karena itu perlu dilakukan proses triangulasi udara untuk memperbanyak titik kontrol tanah tanpa harus ke lapangan sehingga menghemat waktu dan biaya..
Dalam penelitian ini akan dilakukan analisa distribusi dan jumlah titik kontrol tanah triangulasi udara pada foto medium format dengan menggunakan metode perataan Bundle Adjustment dalam program PAT-B. Pemodelan dalam penelitian ini dilakukan sesuai Ackerman (1970) dengan membuat 3 model yaitu : model I dengan 15 GCP, model II dengan 9 GCP dan model III dengan 5 GCP.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai Sigma Naught () model I adalah 6,440 µm = 10,624 cm, model II adalah 6,690 µm = 10,704 cm dan model III adalah 8,603 µm = 13,765 cm. Kemudian selisih koordinat yang dihasilkan dari proses PAT-B didapat selisih koordinat untuk perbandingan model I dengan model II adalah x = 0,047 m ; y = 1,182 m ; z = 1,017 m dan untuk perbandingan model I dengan model III adalah x = 1,507 m ; y = 0,850 m ; z = 2,279 m
PEMANFAATAN TEKNOLOGI GPS UNTUK PEMANTAUAN PERGERAKAN TANAH DAN KORELASINYA DENGAN ZONASI KERENTANAN GERAKAN TANAH (Studi Kasus: Kampung Singkup, Desa Ciherang, Kecamatan Sumedang Selatan,Kabupaten Sumedang)
Desa Ciherang yang terletak di Kecamatan Sumedang Selatan Kabupaten Sumedang, Jawa Barat merupakan salah satu daerah yang sering mengalami fenomena gerakan tanah (landslide), terutama selama musim hujan. Bencana ini tidak hanya menghancurkan lingkungan hidup serta sarana dan prasarana, tapi juga umumnya menimbulkan korban jiwa. Oleh karena itu proses pemantauan bahaya dan mitigasi bencana pergerakan tanah ini adalah sangat penting dilakukan secara baik dan berkesinambungan.
Banyak metode dan teknik yang telah diterapkan untuk mempelajari fenomena gerakan tanah didaerah ini, dimana salah satunya adalah metode survei GPS. Survei GPS yang telah dilakukan adalah sebanyak empat kala dengan selang waktu antara lain 0.8 bulan, 16,5 bulan dan 19 bulan.
Penelitian ini menggunakan data survei GPS dan data penunjang berupa data geologi yang akan digunakan dalam proses analisa arah gerakan tanah. Selain analisa arah gerakan tanah, dalam penelitian ini pun akan diprediksi perubahan tinggi titik pada tiap kala.
Hasil dari survei GPS menunjukkan bahwa kecepatan perpindahan posisi yang didapat termasuk dalam kelas sangat lambat yaitu dibawah 3x10-5 – 9x10-7 cm/detik. Selain itu hasil dari survei GPS pun akan dikorelasikan dengan zonasi kerentanan gerakan tanah daerah Ciherang agar dapat diketahui hubungan antara satu sama lain
INTERPRETASI HASIL PENCITRAAN SBP (SUB-BOTTOM PROFILER) UNTUK MENDUKUNG RENCANA PEMASANGAN KABEL BAWAH LAUT
SBP (Sub-Bottom Profiler) adalah alat yang menggunakan gelombang akustik untuk menentukan keadaan fisik dasar samudera dan mengidentifikasi karakterisitik keadaan geologi khususnya lapisan permukaan dasar laut berdasarkan pantulan gelombang. Pengolahan data survei seismik menggunakan SBP dapat menyediakan informasi spasial berupa interpretasi lapisan sedimen dan batimetri untuk menunjang rencana pemasangan kabel bawah laut di Selat Riau.
Hasil interpretasi visual yang didukung data grab sampler digambarkan sebagai peta sebaran sedimen. Lapisan penyusun sedimen pada permukaan dasar laut adalah lapisan sangat lunak hingga lunak dari lempung (clay)/lempung lanau (silty clay), lapisan pasir, lapisan pasir tercampur dengan lempung/lanau dan lapisan lain yang diduga lapisan keras di daerah survei. Jenis sedimen ini merupakan material yang aman bagi kabel bawah laut
STUDI PERBANDINGAN KETELITIAN PLANIMETRIS FOTO UDARA FORMAT KECIL DENGAN CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI (QUICKBIRD)
Dengan meningkatnya permintaan peta skala besar dan meliputi daerah yang relatif kecil, maka perkembangan teknologi foto udara format kecil semakin pesat. Namun muncul alternatif baru yakni satelit dengan resolusi tinggi yang disebut quickbird, keunggulannya adalah mampu menyajikan data dengan resolusi hingga 61 cm. Dalam penelitian ini akan dilakukan evaluasi perbandingan ketelitian planimetris antara foto udara format kecil non metrik di sekitar lokasi semburan lumpur PT. Lapindo Porong Sidoarjo dengan skala 1 : 1000 tahun 2006 dan Citra Quickbird pada lokasi, skala dan tahun yang sama. Keduanya diproses koreksi geometrik metode polinomial linear menggunakan GCP sebanyak 5 (lima) titik hasil pengukuran GPS tipe Geodetic metode rapid static. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa nilai RMS error rata-rata 0,714 pixel pada foto udara format kecil dan nilai RMS error rata-rata 0,504 pixel pada citra satelit quickbird. Sedangkan rata-rata selisih ukuran obyek dilapangan dari foto udara format kecil sebesar 0.561 meter dan citra quickbird sebesar 0.381 meter
APLIKASI MAPVIEW SVG UNTUK PEMBUATAN SISTEM INFORMASI PARIWISATA BERBASIS WEB (Studi Kasus Kota Malang)
Untuk mendapatkan informasi tentang obyek wisata biasanya menggunakan buku panduan wisata. Tugas akhir ini bertujuan untuk merancang dan membuat sistem informasi pariwisata yang bisa menjadi alternatif lain dalam menyediakan informasi mengenai obyek wisata beserta fasilitas pendukungnya.
Pengembangan aplikasi ini diawali dengan merancang basis data serta implementasinya menggunakan PHP dan MySQL dengan editor Macromedia Dreamweaver 8. Untuk menampilkan peta di internet explorer menggunakan MapView SVG. Dalam menguji kinerja sistem dilakukan skenario uji coba yang bertujuan untuk mengetahui kebenaran pemrosesan data mulai dari input sampai output. Terakhir melakukan analisa jarak terdekat hotel dengan obyek wisata menggunakan proximity analyst.
Hasil penelitian ini berupa sistem informasi pariwisata berbasis web yang memiliki karakteristik antara lain: 1) menampilkan informasi mengenai obyek wisata dalam bentuk teks dan gambar; 2) pencarian obyek wisata melalui kata kunci; 3) menampilkan peta pada internet explorer dalam format HTML dan SVG; 4) Mapview SVG bukan software yang open source sehingga dalam penelitian ini digunakan versi demo.
PEMANFAATAN CITRA ASTER UNTUK PENENTUAN JALUR TRANSPORTASI BATUBARA KABUPATEN TANAH LAUT, PROVINSI KALIMANTAN SELATAN
Dalam perkembangan teknologi saat ini telah sekali metode yang digunakan penerapannya untuk pembangunan infrastruktur. Salah satunya untuk pembangunan jalan, metode yang digunakan untuk menganalisa jaringan jalan dimana digunakan citra satelit. Data yang digunakan dalam penelitian adalah citra ASTER.
Pada penelitian ini uji ketelitian pada citra ASTER ada 3 tahapan, yaitu koreksi geometrik nilai RMS Avarage Error adalah 0,108 piksel, Total RMS error adalah 0,758 piksel , uji ketelitian klasifikasi citrahasil yang didapatkan pada akurasinya sebesar 89,074 % dan nilai statistik kappa sebesar 0,855.Berikutnya proses uji ketelitian peta, nilai toleransi sebesar 0,5 mm x 100.000 = 50 m, sedangkan kesalahan dari citra ASTER sendiri sebesar 15 m sehingga kesalahan citra masuk dalam toleransikesalahan peta.
Hasil dari penelitian ini adalah 5 segmentasi jalur transportasi batubara, peta tutupan lahan dari citra aster dan peta rencana jalur transportasi batubara daerah Kabupaten Tanah Laut, Provinsi Kalimantan Selatan
APLIKASI INDERAJA DAN SIG UNTUK PEMANTAUAN TUTUPAN LAHAN DAN KUALITAS LINGKUNGAN DAMPAK LUMPUR LAPINDO DI SIDOARJO
Pada bulan Mei 2006, di Kecamatan Porong,Kabupaten Sidoarjo terjadi sebuah semburan yang pada akhirnya menjadi sebuah bencana ekologi nasional, yang berakibat terjadi perubahan peta tutupan lahan serta kemungkinan terjadi perubahan kualitas lingkungan dari aspek air dan tanah yang meliputi kadar COD, BOD dan pH.
Teknologi Penginderaan Jauh dan Sistem Informasi Geografis dapat digunakan untuk mengetahui perubahan tutupan lahan yang terjadi di kecamatan Porong, Tanggulangin, Krembung dan Jabon yang menjadi wilayah penelitian serta menampilkan kondisi kualitas lingkungan. Peta perubahan tutupan lahan ini bersumber dari data citra Landsat 7 ETM+ untuk kondisi tahun 2002 dan citra SPOT 4 untuk kondisi tahun 2006 (awal semburan) dan kondisi tahun 2007 (setahun setelah semburan). Pengolahan citra dilakukan dengan software ER Mapper 7.0 dan untuk proses overlay masing-masing peta untuk mendapatkan perubahan tutupan lahan serta untuk overlay peta dengan data kontur untuk mengetahui aliran lumpur dipergunakan software ArcView 3.3. softtware ini juga dipergunakan untuk menampilkan kondisi COD, BOD dan pH titik-titik di kecamatan yang telah diuji sampel.
Hasil yang diperoleh adalah peta tutupan lahan dan perubahannya untuk kondisi sebelum terjadinya semburan pada tahun 2002 dan sesudah semburan tahun 2006 dan 2007 yang menunjukkan perubahan tutupan lahan yang signifikan di Kecamatan Porong, untuk pemukiman dan sawah yang tergenang lumpur sebanyak 54.727 Ha dan 109,149 Ha sedangkan di kecamatan Tanggulangin terjadi perubahan sebesar 91.199 Ha untuk Pemukiman dan 22,665 ha untuk Sawah, serta informasi mengenai kadar COD, BOD dan pH pada masing-masing titik sampel di 4 kecamatan tersebut untuk kelas Pemukiman, Sawah, Sungai, Tambak dan Mangrove yang rata-rata menunjukkan masih memenuhi nilai standar baku mutu PP No.82/2001 mengenai kondisi kualitas air dan tanah kecuali untuk kualitas air sumur pemukiman, sungai dan sawah di Porong yang mempunyai nilai kadar COD dan BOD yang kurang sesuai untuk keberlangsungan makhluk hidup komunitasnya
STUDI PERBANDINGAN SUHU PERMUKAAN LAUT MENGGUNAKAN CITRA SATELIT NOAA-AVHRR DENGAN ARGO FLOAT DI PERAIRAN SELATAN JAWA, BALI DAN NUSA TENGGARA
Indonesia sebagai negara kepulauan terbesar di dunia yang terdiri dari sekitar 17.506 pulau dengan garis pantai sepanjang ± 80.791 km (Djunarsjah, 2004), memiliki wilayah perairan yang cukup luas dengan kekayaan yang terkandung di dalamnya. Dibutuhkan suatu metode yang cepat dan efisiensi dalam menyajikan kondisi laut dan perubahannya secara lengkap, dan terjangkau. Teknologi Penginderaan Jauh (Remote Sensing) memberikan peluang untuk pembuatan peta suhu permukaan laut yang lebih akurat. Citra satelit NOAA-AVHRR sebagai satelit lingkungan sangat baik digunakan untuk memantau kondisi lautan secara temporal. Pada umumnya satelit ini merekam suatu wilayah sebanyak 2 kali waktu siang dan 2 kali pada malam hari dengan cakupan lebar pandang 2.399 km. Teknologi kelautan memunculkan Argo Float (The Array for Real-time Geostropic Oceanography – Float) sebagai alat untuk pengukuran profil suhu dan salinitas secara near real-time dengan menggabungkan metode pengukuran in-situ dan satelit sebagai alat untuk mengirimkan data.
Dalam penelitian dilakukan studi perbandingan suhu permukaan laut menggunakan citra NOAA-AVHRR dengan Argo Float sebagai data pengukuruan suhu pengukuran in-situ. Citra NOAA-AVHRR level 1B diolah menggunakan algoritma McMillin & Crosby. Data Argo Float diolah menggunakan software Ocean Data View 3.3.2 untuk mendapatkan suhu lapisan teratas dan digunakan sebagai suhu permukaan laut.
Hasil penelitian yang didapat berupa peta suhu permukaan laut perbandingan citra NOAA-AVHRR dengan data Argo Float skala 1 : 4.500.000. Analisa yang telah dilakukan menunjukkan nilai suhu permukaan laut citra NOAA-AVHRR lebih tinggi dari Argo Float dengan selisih antara 0,167 C hingga 4,187 C pada 10 titik pengamatan. Validasi data citra NOAA-AVHRR dengan data Argo Float menggunakan suatu persamaan matematis yaitu y = 0,3979x + 19,045 dengan batasan suhu permukaan laut antara 25, 711 C sampai dengan 28,778 C. Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa suhu permukaan laut yang terekam oleh data penginderaan jauh adalah suhu permukaan lapisan atas, sedangkan suhu permukaan laut dari Argo Float adalah suhu pada kedalaman 4-5 meter yang dianggap sebagai suhu permukaan laut dari data Argo Float sehingga terjadi perbedaan nilai suhu permukaan lautnya.