Geoid (E-Journal)
Not a member yet
    504 research outputs found

    PERBANDINGAN HASIL SURVEI BATIMETRI DI DAERAH PESISIR DENGAN MENGGUNAKAN PETA BATIMETRI DAN CITRA ASTER DI PATI, JAWA TENGAH

    No full text
    Salah satu aplikasi dari teknologi Penginderaan Jauh adalah untuk pemetaan batimetri perairan dangkal di daerah pesisir. Salah satu citra yang dapat digunakan adalah Citra ASTER yang memiliki band VNIR yang baik digunakan untuk pemetaan laut. Lokasi yang diambil adalah di Pati, Jawa Tengah. Pengolahan citra meliputi masking, transformasi citra dengan metode DOP (Depth Of Penetration), Algoritma Jupp, dan klasifikasi Tak Terselia yang dilakukan dengan Software ER Mapper 7.0. Informasi yang dihasilkan adalah kedalaman dan garis pantai, yang nantinya akan dibandingkan dengan peta batimetri. Hasil dari penelitian ini adalah 4 zona DOP yang menggambarkan perbedaan kedalaman dari peta batimetri perairan dangkal. Terdapat perbedaan hasil kedalaman dan garis pantai antara citra ASTER dan peta batimetri. Perbedaan nilai kedalaman yang paling besar adalah 0,5 m, dan perbedaan garis pantai terbesar adalah 550 m

    KRITERIA PENENTUAN GARIS BATAS LAUT UNTUK MENDUKUNG PENGELOLAAN SUMBERDAYA KELAUTAN

    No full text
    Dalam pengelolaan wilayah laut di perairan Indonesia dibutuhkan suatu penataan ruang laut yang terkait dengan fungsi-fungsi batas maritim, batas administrasi, dan batas laut. Saat ini, penarikan batas maritim didasarkan pada UNCLOS 1982 dan batas administrasi didasarkan pada UU No. 32 tahun 2004. Selama ini, penarikan garis batas laut dalam kaitannya dengan pemetaan dan pengelolaan sumberdaya laut, belum mempunyai kriteria yang jelas. Penentuan garis batas laut memerlukan kriteria sesuai dengan nama unsur geografi maritim (laut, selat, dan teluk). Kriteria tersebut mencakup tentang penentuan titik awal penarikan garis, penarikan garis batas laut, selat dan teluk, serta penentuan nama bagian-bagian laut. Penentuan garis batas laut ini merupakan bagian dari kegiatan toponimi maritim untuk melengkapi Infrastruktur Data Spasial Nasional (IDSN) kelautan. Tersedianya IDSN kelautan ini, sangat berguna bagi proses pengambilan keputusan dalam pegelolaan sumberdaya laut secara terpadu

    PEMROSESAN DATA SATELIT ALTIMETRI DAN TIDE GAUGE UNTUK PENGAMATAN SEA LEVEL CHANGE DI INDONESIA STUDI KASUS SAMUDRA INDONESIA (Studi Kasus:Samudera Indonesia, 9 LS –6 LU dan 95 BT - 116 BT)

    No full text
    Perubahan muka laut ( Sea Level Change ) merupakan salah satu fenomena yang terjadi akibat beberapa faktor yang dapat dibilang kompleks. Perubahan ini dapat memberikan dampak yang merugikan pada manusia khususnya manusia yang tinggal didaerah pesisir apabila besar kenaikannya sangat signifikan. Dampak dari pemanasan global merupakan salah satu pemicu dari perubahan muka laut ( Sea level Change ). Teknologi yang ada saat ini sangat membantu dalam pengamatan Sea Level Change, khususnya penggunaan teknologi satelit Altimetri. Satelit Altimetri memiliki kemampuan untuk mengamati fenomena yang terjadi diwilayah perairan, seperti yang dilakukan dalam penelitian ini yang menggunakan data satelit Altimetri untuk melakukan pengamatan Sea level Change dalam selang waktu 2002 – 2005. Penelitian ini menggunakan data biner satelit altimetri atau MGDR ( Merged Geophysical Data Record ) untuk kemudian dilakukan proses konversi dan diolah untuk mencari nilai Sea Level Anomaly pada beberapa titik pengamatan, yang merupakan parameter dalam penentuan Sea Level Change. Hasil yang diperoleh akan dioverlaykan gambarnya dengan data pasang surut, dan diamati trend yang terjadi antara hasil yang diperoleh dengan satelit Altimetri dan Pengamatan Pasang surut. Adapun hasil yang diperoleh menunjukkan trend yang sama antara data pasang surut dan satelit altimetri dan perubahan muka laut dari tahun 2002 – 2005 sangat dinamis, yaitu terjadi kenaikan dan penurunan

    DESAIN RANCANG BANGUN PENGEMBANGAN SISTIM INFORMASI JALAN (Studi Kasus Jalan Kabupaten Pacitan)

    No full text
    Perencanaan transportasi telah banyak dilaksanakan dan hampir tiap tahun selalu dilakukan oleh Pemerintah mulai dari tingkat pusat, propinsi hingga Kabupaten dan Kota. Namun kondisi jalan yang ada belum dapat dikatakan telah memenuhi standar yang diharapkan karena setiap ada perbaikan (pembangunan dan pemeliharaan) belum mencapai tahun rencana sudah mengalami kerusakan di beberapa titik dalam satu ruas atau segmen jalan. Untuk setiap kegiatan pembangunan transportasi khususnya jalan senantiasa memerlukan ketersedian kondisi fisik yang dapat digambarkan secara spasial dan memiliki ketepatan posisi. Karena tidak ada suatu perencanaan jaringan transportasi yang baik bilamana tidak ada peta yang digunakan memiliki kualitas baik. Pada saat sekarang ini, kemajuan teknologi pemetaaan sudah demikian pesatnya baik nilai kualitatip maupun kuantitatipnya. Bahkan teknologi Sistim Informasi Geografis (SIG) telah banyak membantu berbagai aspek pemanfaatan data spasial dan non spasial yang sangat bermanfaat untuk sustu desain rancang bangun sistim informasi jalan kabupaten di kabupaten Pacitan

    ANALYSIS OF THE QUALITY OF SOUNDING DATA IN RELATION TO THE DIFFERENCES IN SEABED TOPOGRAPHY

    No full text
    Visualizations of seabed surface topography is obtained from such an activity called sounding survey. Points of measurement of the depth are located  sounding line and checkline crossing. In the research analysis is carried out on the relationship between the quality of the sounding data and the topography of the seabed, which was divided into five (5) criteria, that is, coral (Cr), coral sand (CrS), mud (M), mud sand (MS), and sand (S).In order to know the sounding  data quality, is done by comparing the depth of intersection of the sounding line and the checkline crossing which is then referred to as the analysis point. The position and the depth of this point is found by the linear intepolation method. The result of this research indicate that there are irregularities in the depth of the analysis point, which indicates an error in the measurement accuracy. If viewed from the mistake that occur in the analysis point, the analysis points  of the depth profile with the seabed topography of mud sand (MS) has the best accuracy compared to the other profiles. While the analysis poinst in the depth profile of coral (Cr) has the least level of accuracy compared to the others. Thus it can be said that the depth measurement done on mud sand (MS) has the best quality and the depth measurement done on coral (Cr) has the lowest quality

    STUDI PERUBAHAN KANDUNGAN TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) DI SELAT MADURA AKIBAT PEMBUANGAN LUMPUR PANAS LAPINDO

    No full text
    Peristiwa semburan lumpur panas di lokasi pengeboran PT.  Lapindo Brantas di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terjadi sejak 27 Mei 2006. Peristiwa ini menjadi sebuah tragedi ketika lumpur panas tersebut mulai menggenangi areal persawahan, permukiman penduduk dan kawasan industri. Usaha yang dilakukan untuk mengurangi beban lumpur di daratan adalah dengan membuang langsung lumpur panas tersebut ke selat Madura melalui Sungai Porong. Hal ini akan mempengaruhi kualitas perairan di Selat Madura. Salah satu parameter yang dapat digunakan untuk penghitungan serta analisa tentang kualitas air di Selat Madura adalah kandungan Total Padatan Tersuspensi (Total Suspended Solid ,TSS). Di dalam penelitian ini dilakukan perhitungan kandungan sedimen tersuspensi (TSS) menggunakan teknologi penginderaan jauh. Adapun citra satelit yang digunakan adalah citra ASTER multitemporal tahun 2005, 2006, 2007, dan 2008. Dengan menggunakan algoritma Budiman dilakukan perhitungan kandungan sedimen tersuspensi (TSS) di perairan Delta Pororng. Berdasarkan cek lapangan dan perhitungan dari citra satelit, dapat kita simpulkan bahwa terjadi peningkatan kandungan sedimen tersuspensi yang tajam di perairan Delta Porong.  Kandungan sedimen tersuspensi di perairan Delta Porong sebesar rata-rata 1090 mg/l. Namun demikian, hasil perhitungan menggunakan citra satelit masih jauh dibandingkan dengan perhitungan hasil cek lapangan. Hal ini dikarenakan, algoritma yang dipakai kurang sesuai apabila diterapkan untuk perhitungan kandungan sedimen tersuspensi di Delta Porong

    DIGITAL ELEVATION MODEL (DEM) ASTER UNTUK MENGHITUNG VOLUME LUMPUR LAPINDO

    No full text
    Peristiwa semburan lumpur panas di lokasi pengeboran PT. Lapindo Brantas di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur, terjadi sejak 27 Mei 2006. Hal ini menyebabkan tergenangnya kawasan permukiman, pertanian, perindustrian di tiga kecamatan di sekitarnya, dan mempengaruhi aktivitas perekonomian di Jawa Timur. Oleh karena semburan lumpur lapindo sampai sekarang belum bisa teratasi maka jumlah volume lumpur lapindo dari waktu ke waktu bertambah semakin besar. Hal ini memerlukan penanganan yang serius terkait dengan pembuangan lumpur. Untuk itu diperlukan suatu informasi yang cepat dan akurat tentang berapa jumlah volume semburan lumpur lapindo per hari Salah satu teknologi yang digunakan untuk menghitung volume lumpur lapindo dari waktu ke waktu (time series) adalah teknologi penginderaan jauh (remote sensing) dengan memanfaatkan citra ASTER. Dengan citra ASTER, dapat diperoleh informasi secara visual, spasial, digital dan multi temporal dari waktu ke waktu sehingga monitoring dan evaluasi kondisi lingkungan wilayah genangan lumpur dapat dilakukan secara cepat. Hasil perhitungan volume melalui data citra ASTER tanggal 1 Juli 2006 dan 3 September 2006 menunjukkan bahwa volume semburan lumpur Lapindo pada kurun waktu tersebut adalah sebesar 145 ribu m3/har

    KAJIAN BERBAGAI MACAM CITRA SATELIT TERHADAP SKALA PETA (PLANIMETRIS)

    No full text
    Skala adalah perbandingan antara suatu jarak diatas peta dengan jarak yang sama diatas permukaan Bumi. Pemilihan penggunaan citra satelit dalam pemetaan sangatlah bergantung dari skala yang akan dihasilkan citra satelit tersebut. Dalam penelitian ini akan dilakukan uji planimetris yang dilakukan terhadap berbagai macam citra satelit tersebut dengan cara membandingkan jarak di citra dengan jarak sebenarnya dilapangan untuk mendapatkan skala peta yang optimal dari tiap citra satelit itu sendiri. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa citra satelit Quickbird dengan resolusi 0,58 m dapat dipergunakan hingga skala 1:1000, citra IKONOS resolusi 4 m dengan skala 1:5000, citra Aster resolusi 15 m dengan skala 1:20000, citra SPOT resolusi 20 m dengan skala 1:25000 dan citra Landsat resolusi 30 m bisa mencapai skala 1:50000

    PENGEMBANGAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK ANGKUTAN KOTA SURABAYA DENGAN SISTEM INTERAKTIF

    No full text
    Penggunaan angkutan umum, terutama Angkutan Kota dan Bus Kota di Surabaya dinilai sangat penting karena dapat menjangkau berbagai fasilitas publik secara langsung. Angkutan Kota merupakan salah satu bentuk alat transportasi publik yang menggunakan kendaraan kecil. Pengguna jasa Angkutan Kota sebagian besar adalah golongan masyarakat ekonomi menengah ke bawah yang tidak mempunyai kendaraan pribadi dan yang masih awam terhadap kondisi lalu lintas Kota Surabaya. Padahal dalam aktivitas sehari-harinya berhubungan dengan kondisi lalu lintas tersebut. Sistem Informasi Geografis (SIG) merupakan suatu sistem (berbasiskan komputer) yang digunakan untuk menyimpan dan memanipulasi informasi-informasi geografis. SIG dirancang untuk mengumpulkan, menyimpan, dan menganalisis objek-objek atau fenomena-fenomena dimana lokasi geografis merupakan karakteristik yang penting untuk dianalisis SIG diperlukan untuk memudahkan dalam penyampaian informasi tentang jalur angkutan umum, jangkauan trayek, maupun fasilitas umum yang dilalui oleh angkutan umum Kota Surabaya. Pengembangan SIG ini ditujukan kepada masyarakat umum yang dalam kesehariannya menggunakan jasa angkutan umum untuk kegiatan transportasi intra kota, khususnya masyarakat yang baru pertama kali datang ke Kota Surabaya. Pengembangan SIG ini didesain secara interaktif, sederhana, dan  mudah digunakan (easy usefully) dengan maksud supaya program ini nantinya dapat bermanfaat bagi sistem transportasi angkutan umum di Kota Surabaya

    KAJIAN PEMBUATAN PETA DASAR PENDAFTARAN DENGAN CITRA SATELIT QUICKBIRD (STUDI KASUS KANTOR PERTANAHAN KAB. JEMBER)

    No full text
    Peraturan Menteri Negara Agraria / Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 3 Tahun 1997 (PMNA/KBPN 3/1997) pasal 142 ayat 1 menyebutkan Peta Pendaftaran dibuat dengan memetakan hasil pengukuran bidang tanah pada peta dasar pendaftaran. Sedangkan pada peraturan yang sama pasal 12 ayat 1 menyebutkan bahwa pengukuran dan pemetaan untuk pembuatan  Peta Dasar Pendaftaran diselenggarakan dengan cara terestrial, fotogrametrik atau metode lainnya. Kemajuan dalam bidang penginderaan jauh dapat dimanfaatkan untuk salah satu alternatif cara dalam pembuatan Peta Dasar Pendaftaran. Salah satu contohnya adalah pemakaian citra satelit Quickbird, yaitu citra satelit resolusi tinggi (High Resolution Satellite Imagery/HRSI) yang mampu menghasilkan peta dengan ketelitian sampai dengan 0.61 meter. Analisa dilakukan untuk menentukan data kualitatif dan kuantitatif dari citra satelit Quickbird Pansharpened tahun perekaman 2004 sekitar kelurahan Baratan, kecamatan Patrang Kabupaten Jember sesuai dengan standarisasi Badan Pertanahan Nasional. Rata-rata perbedaan jarak yang didapatkan antara pengukuran langsung dilapangan dengan citra sebesar 0,49 m. Berdasarkan Pasal 17 PMNA/KBPN 3/1997 mengatur bahwa peta dasar pendaftaran dapat dibuat dengan menggunakan peta lain dengan ketelitian planimetris lebih besar atau sama dengan 0,3 mm pada skala peta. Jadi citra ini hanya dapat dibuat untuk peta dasar pendaftaran skala 1:2500 atau lebih kecil. Oleh karena itu, citra satelit Quickbird diharapkan menjadi peta pendaftaran tunggal yang dapat dilakukan secara menyeluruh di suatu wilayah yang lain

    41

    full texts

    504

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Geoid (E-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇