Geoid (E-Journal)
Not a member yet
504 research outputs found
Sort by
ANALISIS PERBANDINGAN KETELITIAN PENGUKURAN LUASAN BIDANG TANAH ANTARA CITRA SATELIT ALOS PRISM DAN FORMOSAT-2 (Studi Kasus : Pucang, Surabaya)
Pengembangan teknologi penginderaan jauh telah menyediakan banyak pilihan citra beresolusi tinggi. Sebagai citra beresolusi tinggi, ALOS PRISM dan FORMOSAT-2 dapat digunakan untuk memperbaharui peta yang sudah ada selama ketelitian dan hasil yang diperoleh memenuhi ketentuan yang disyaratkan. Penelitian mengenai kemampuan keduanya dalam mengukur luasan bidang tanah memungkinkan pembuatan peta-peta skala besar dari citra satelit ini.
Dalam penelitian ini, citra ALOS PRISM dan FORMOSAT-2 dipotong, lalu dikoreksi geometrik menggunakan metode polinomial orde kedua dengan 7 GCP. Sampel bidang tanah pada citra diukur untuk mendapatkan data panjang dan luas. Uji t dilakukan pada hasil pengukuran menggunakan derajat kepercayaan 5%. Kemudian hasilnya dibandingkan dengan data bidang tanah BPN untuk mendapatkan nilai ketelitian dan akurasinya.
Berdasarkan hasil koreksi geometrik, diperoleh RMSE sebesar 0,619 untuk ALOS PRISM dan 0,354 untuk FORMOSAT-2. Selain itu, diperoleh standar deviasi 0,590 untuk ALOS PRISM dan 0,522 untuk FORMOSAT-2. Persentase perbedaan luas antara pengukuran pada data acuan dengan hasil dijitasi sampel pada citra adalah sebesar 1,83% untuk FORMOSAT-2 dan 4,01% untuk ALOS PRISM. Dari penelitian ini, disimpulkan bahwa citra FORMOSAT-2 mempunyai ketelitian dan akurasi posisi yang lebih baik daripada citra ALOS PRISM. Untuk cakupan wilayah yang sempit FORMOSAT-2 lebih efektif digunakan karena ketelitian dan akurasinya lebih baik daripada ALOS PRISM. Untuk cakupan wilayah yang luas, citra ALOS PRISM lebih efisien digunakan karena lebih murah dengan ketelitian dan akurasi yang relatif sama dengan citra FORMOSAT-2
ANALISIS SEDIMENTASI PANTAI SURABAYA-SIDOARJO PASCA PEMBANGUNAN JEMBATAN SURAMADU DAN PERISTIWA LAPINDO MENGGUNAKAN CITRA SATELIT SPOT-4
Sedimentation is the process of formation or deposition of sediment. Coastal areas north of East Java, especially Surabaya and Sidoarjo, is an entity that has a different pattern of development of coastal shoreline. This study used data satellite SPOT-4 and Landsat-7 ETM, where medium-resolution satellite has a swath width to the SPOT-4 60km and 185km for the Landsat-7 ETM. Sedimentation can be well described by using the red band of each satellite image was first converted into reflectance values to eliminate the atmospheric effects. The algorithm used is algorithm Budhiman to get the value of TSS (Total Suspended Solid). From the data processing and analysis we found that sedimentation along the coast of Surabaya-Sidoarjo dominated by TSS values 25-125 mg/L. In addition sedimentation can also be seen from the addition of 147.978 ha of land area between the years 2003 and 2006 and 213.888 ha between 2006 and 2009. From these results can be indicated that the sedimentation rate is increasing after the suramadu bridge construction and Lapindo events
EVALUASI TENTANG PENGUKURAN DAN PEMETAAN DALAM PROGRAM REFORMA AGRARIA DIKAITKAN DENGAN STANDARDISASI TEKNIS (Studi Kasus : Kabupaten Rembang Jawa Tengah)
Program reforma agraria merupakan upaya untuk menata kembali hubungan antara masyarakat dengan tanah, dengan perkataan lain, menata kembali penguasaan, pemilikan, penggunaan, dan pemanfaatan tanah yang berkeadilan. Penelitian ini tentang pelaksanaan pengukuran dan pemetaan dalam program reforma agraria dikaitkan dengan standardisasi teknis yang berlaku dengan wilayah studi di Kabupaten Rembang.
Dari hasil pengolahan data dan analisa didapatkan bahwa dalam proses pengukuran dan pemetaan persil tanah dalam program reforma agraria di Kantor Pertanahan kabupaten Rembang banyak terjadi ketidaktepatan. Hal tersebut dapat dilihat dari alat yang digunakan dalam mengukur sudut dan jarak dalam poligon utama serta alat yang digunakan untuk mengukur jarak dalam pengukuran bidang tanah, cara pengukuran poligon utama, tenaga pelaksana pengukuran, spesifikasi komputer grafis yang digunakan
ANALISIS DAERAH POTENSIAL PETERNAKAN SAPI DI KABUPATEN BOJONEGORO DENGAN MENGGUNAKAN METODE SISTEM INFORMASI GEOGRAFI
Peternakan sapi khususnya di pulau jawa masih menggunakan sistem tradisional, dimana sapi masih dikandang dan menjadi satu dengan rumah induk. Hal ini kurang dapat menghasilkan profit yang maksimal. Untuk melakukan sistem peternakan sapi modern dengan sistem penggembalaan dibutuhkan penelitian terlebih dahulu untuk menentukan lokasi yang berpotensi untuk dijadikan peternakan sapi. Untuk itulah penelitian ini sangat dibutuhkan.
Penelitian ini menggunakan teknologi penginderaan jauh dan Sistem Informasi geografi. Untuk menentukan daerah yang berpotensi berdasarkan persediaan pakan hijauan digunakan citra Landsat tahun 2002, 2006 dan 2009 kemudian diakumulasi dan dirata-rata sehingga didapat nilai pada setiap daerah. Beberapa hal yang diperhatikan dalam penentuan lokasi peternakan sapi ini adalah pakan hijauan, ketinggian lahan, curah hujan, arah angin, fasilitas transportasi, jarak dengan pemukiman dan lahan pertanian.
Hasil akhir dari penelitian ini adalah nilai potensial peternakan sapi berdasarkan persediaan pakan hijauan, curah hujan,dan ketinggian lahan masing-masing kecamatan di Kabupaten bojonegoro dan peta peternakan sapi di Kecamatan Balen sebagai kecamatan yang memiliki nilai potensial tertinggi daripada kecamatan yang lain
EVALUASI JUMLAH AREA DAN SEBARAN SEMBURAN LUMPUR DI WILAYAH BENCANA LUMPUR PORONG SIDOARJO DENGAN CITRA SATELIT MULTITEMPORAL
Pada tanggal 29 Mei 2006, di Desa Renokenongo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, muncul semburan lumpur yang lokasinya berada sekitar 150 m dari lokasi eksplorasi sumur Banjarpanji #1. Semburan lumpur panas di lokasi sudah berlangsung 65 bulan, tetapi proses penutupan lubang semburan lumpur panas belum juga berhasil. Semburan lumpur ini tiap harinya semakin besar. Perhitungan volume lumpur yang keluar setiap harinya merupakan parameter penting dalam menentukan skenario jika lumpur tidak dapat dihentikan seterusnya. Dari data yang diambil pada tanggal yang berbeda dengan citra resolusi tinggi maka diharapkan dapat memonitoring sebaran lumpur serta prediksi yang tepat jumlah lumpur yang keluar setiap harinya dengan tepat dan pedugaan untuk waktu selanjutnya.
Tahap pengolahan citra meliput proses koreksi geometrik, interpretasi citra, dan klasifikasi citra. Citra yang digunakan adalah citra multispektral Ikonos dan GeoEye dengan resolusi sekitar 2,4 m. Citra tersebut diambil multitemporal yaitu pada bulan Juni, Agustus, dan Oktober 2011. Proses koreksi geometrik menggunakan titik kontrol tanah hasil pengukuran GPS geodetik.
Hasil dari koreksi geometrik yaitu RMSe rata-rata sebesar 0,078 piksel. Klasifikasi yang digunakan adalah supervised menggunakan metode mahalanobis dan maximum likelihood. Dari kedua metode tersebut tidak terdapat perbedaan signifikan pada luas area tiap-tiap kelas. Dari hasil klasifikasi ketiga citra tersebut, dapat disimpulkan bahwa luas area lumpur tidak mengalami penurunan yang berarti dan sebaran lumpur mengarah ke Barat dan Utara
ANALISA PERUBAHAN VEGETASI DITINJAU DARI TINGKAT KETINGGIAN DAN KEMIRINGAN LAHAN MENGGUNAKAN CITRA SATELIT LANDSAT DAN SPOT 4 (STUDI KASUS KABUPATEN PASURUAN)
Vegetasi merupakan keseluruhan tumbuhan dari suatu area yang berfungsi sebagai penutup lahan. Tumbuhan tersebut bisa bersifat alami maupun hasil budidaya, homogen maupun heterogen. Persebaran vegetasi dalam suatu area dapat dipengaruhi oleh kondisi topografi. Wilayah kabupaten Pasuruan bagian barat memiliki kondisi topografi yang bervariasi, yaitu daerah pegunungan berbukit, daerah dataran rendah, dan daerah pantai, variasi ini berpengaruh terhadap persebaran vegetasi yang ada di wilayah tersebut.
Salah satu metode yang dapat digunakan untuk mengamati perubahan vegetasi adalah dengan menggunakan teknologi penginderaan jauh dengan citra satelit Landsat 7 ETM+ dan citra satelit SPOT4. Hasil dari proses pengolahan citra adalah informasi mengenai indeks vegetasi citra dan tutupan lahan daerah penelitian. Pengamatan kondisi fisik topografi menggunakan data kontur peta RBI yang diterbitkan oleh BAKOSURTANAL. Hasil pengolahan data kontur peta RBI diperoleh informasi kelas ketinggian dan kemiringan lahan daerah penelitian.
Berdasarkan nilai indeks vegetasi, ketinggian, dan kemiringan lahan maka akan diperoleh hubungan antara indeks vegetasi dengan ketinggian dan kemiringan lahan. Hubungan tersebut diperoleh melalui uji korelasi. Hasil uji korelasi antara indeks vegetasi (NDVI Landsat, EVI Landsat, NDVI SPOT 4) dengan ketinggian lahan diperoleh nilai korelasi tertinggi sebesar 0,542 pada NDVI SPOT 4, dari ketiga hasil penelitian termasuk korelasi sedang (0,40 – 0,599). Hasil uji korelasi antara indeks vegetasi (NDVI Landsat, EVI Landsat, NDVI SPOT 4) dengan kemiringan lahan diperoleh nilai korelasi tertinggi sebesar 0,517 pada EVI Landsat, dari ketiga hasil penelitian juga termasuk korelasi sedang (0,40 – 0,599)
PENENTUAN LOKASI STRATEGIS TOKO WARALABA ALFAMART MENGGUNAKAN MODELBUILDER ARCGIS 9.3 (STUDI KASUS KECAMATAN GUNUNGANYAR, RUNGKUT, SUKOLILO DAN GUBENG KOTAMADYA SURABAYA)
Waralaba merupakan bisnis yang terbukti membantu pemilik modal (terwaralaba) untuk memulai bisnis dengan risiko kegagalan kecil, karena sudah memiliki sistem bisnis paten yang tinggal dioperasikan. Sehingga terwaralaba tidak perlu melakukan trial and error untuk menggapai kesuksesan. Salah satu waralaba tersebut adalah waralaba Alfamart. Dalam hal penentuan lokasi, pemilik waralaba (pewaralaba) ini selalu melakukan survey dan analisis data lokasi yang akan ditempati.
Penelitian ini merupakan salah satu upaya pengaplikasian teknologi SIG dalam menentukan dimana letak lokasi strategis toko waralaba Alfamart dengan menggunakan ModelBuilder ArGIS 9.3. Melalui model yang dibangun, akan mudah dalam merancang, mengevaluasi, memperbarui, dan menjalankan proses analisis setiap parameter spasial maupun non spasial. Pada masa dan lokasi yang berbeda.
Dengan mengambil lokasi penelitian di wilayah Surabaya Timur, diharapkan pewaralaba dan terwaralaba Alfamart mampu memanfaatkan hasil akhir penelitian berupa peta lokasi strategis toko waralaba Alfamart skala 1:55000 yang up to date. Dan mampu mengambil peluang untuk mengembangkan bisnisnya di wilayah ini. Karena pengembangan ekonomi di wilayah Surabaya Timur menjadi prioritas kerja pemerintah kota sampai tahun 2015 nanti
STUDI PENGGUNAAN MAGNETOMETER DALAM PEMBUATAN PETA SEBARAN LOGAM UNTUK MENDUKUNG PEMASANGAN PIPA BAWAH LAUT
Magnetometer adalah suatu alat yang digunakan untuk mendeteksi ada atau tidaknya suatu benda logam dengan cara mendeteksi anomali magnetiknya. Pengolahan data survei magnetik menggunakan alat magnetometer dengan memanfaatkan ukuran anomali magnetik, sehingga dapat menyediakan informasi spasial berupa peta sebaran benda logam untuk menunjang pemasangan pipa bawah laut di Selat Sunda.
Pengambilan data dilakukan terhadap 13 lintasan regional pada area seluas 27 km x 500 m dengan spasi antar lintasan lebih kurang 40 m. Proses akuisisi data dilakukan dengan menggunakan alat SeaSPY Magnetometer.
Pengolahan data diawali dengan koreksi IGRF untuk mendapatkan anomali medan magnet total. Kemudian dilakukan proses griding dengan spasi 3 meter untuk memperapat data dan hasilnya adalah digunakan untuk proses derivative vertikal dan horizontal untuk mencari nilai gradiennya. Kemudian, terakhir dilakukan proses analisis sinyal.
Hasil interpretasi kualitatif menunjukkan adanya anomali dipole magnetik pada kilometer point ke-138 yang disinyalir sebagai anomali dari jalur pipa yang membentang dari arah barat daya ke timur laut, dengan rentang intensitas magnetik sebesar -216.945 nT hingga +110.593 nT. Hasil yang didapatkan dari analisis sinyal merubah sifat dipolar anomali magnetik menjadi monopolar yang menyebabkan rentang intensitas magnetik berubah antara 0 sampai dengan 42.253 yang tergambar dalam peta sebaran benda logam
KAJIAN DEVIASI VERTIKAL ANTARA PETA TOPOGRAFI DENGAN DATA SITUASI ORIGINAL TAMBANG BATUBARA
Tugas survey tambang dalam pelaksanaan eksplorasi batubara adalah melaksanakan penempatan titik bor di lapangan dan menghitung volume pemindahan tanah penutup batubara. Maka, data topografi awal diperlukan dalam kegiatan tersebut.
Idealnya, data pada peta topografi hutan dan data situasi original tambang batubara merupakan permukaan yang sama (terutama elevasinya), tapi kenyataannya terdapat perbedaan tinggi permukaan antara kedua data tersebut. Oleh sebab itu, penentuan kedalaman titik bor di lahan original akan berbeda dengan data pada peta topografi, dan jika digunakan untuk penghitungan volume tanah penutup juga mengalami perbedaan.
Dalam penelitian ini, hasil kajian deviasi berupa penghitungan nilai selisih elevasi rata-rata antara data topografi hutan dengan data situasi original tambang di areal Pit T LMO (Lati Mine Operation) adalah sebesar 1,869 m dengan kemiringan lereng rata-rata sebesar 13,3 % yang terdiri atas tiga blok, yaitu : Blok T5, T6, dan T7. Sebagian besar permukaan topografi hutan berada di bawah permukaan lahan original di semua blok dengan prosentase 73 % (T5), 69,3 % (T6), dan 79 % (T7). Jumlah prosentase penyimpangan elevasi di luar batas deviasi biasa dari luas daerah untuk setiap blok di areal Pit T LMO adalah : Blok T5 (28%), T6 (41,6%), T7 (49,4%)
DIGITAL IMAGE MATCHING METHOD USING NORMALIZED CROSS-CORRELATION (NCC)
Digital image-matching techniques fall into three general categories: area-based, feature-based, and hybrid methods. In this experiment we use an area-based method that is Normalized Cross-Correlation (NCC) technique. In this approach, a statistical comparison is computed from digital numbers taken from same-size subarrays in the left and right images. The correlation coefficient can range from -1 to +1, with +1 indicating perfect correlation (exact match). a threshold value, such as 0.7, is chosen and if he correlation coefficient exceeds that value, the subarrays are assumed to match
The results present that using threshold=0.7, we can conclude that the similarity of two images using window size 3x3, 5x5, 7x7, 9x9 is 100%. But the similarity of two images using window size 11x11 is 70%. Then, using window size 3x3 and 5x5, we can achieve low RMSerror. It means that the different of position before and after NCC computation is not significant. However, using window size more than 8x8, RMSerror is so high more than 1 pixel.
The conclusions of this experiment are gaining larger window size, the correlation coefficient will be lower. It means that the similarity is low and the images are not exactly match. Then, the large of window size give more number of grey value so it give effect in computation of average, then it will make the position of new pixel moved. Getting larger window size so the movement will be so larger too, then the RMSerror will be high. And, the location of point will give contribution for the correlation coefficient. Because it will determine the varieties of pixel numbe