Geoid (E-Journal)
Not a member yet
    504 research outputs found

    PENGGUNAAN ALGORITMA NDVI DAN EVI PADA CITRA MULTISPEKTRAL UNTUK ANALISA PERTUMBUHAN PADI (STUDI KASUS : KABUPATEN INDRAMAYU, JAWA BARAT)

    No full text
    Kabupaten Indramayu merupakan salah satu kabupaten yang merupakan daerah sentra pertanian dimana sektor ini menyumbang 43% dari total PDRB (Produk Domestik Regional Bruto). Strategi yang tepat dan cepat harus dicanangkan untuk selalu memenuhi kebutuhan akan bahan pokok tersebut. Teknologi penginderaan jauh dapat mengakomodir informasi suatu objek secara cepat dan akurat tanpa harus berinteraksi langsung dengan objek dan dapat dimanfaatkan dalam berbagai aplikasi yang diinginkan. Pembangunan model - model estimasi produktivitas pada beberapa komoditas vegetasi pertanian seperti padi telah digunakan sejak dua dekade lalu. Dari berbagai macam permodelan vegetasi, indeks vegetasi yang paling umum digunakan adalah NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) dan EVI (Enhanced Vegetation Index). Hasil dari penelitian ini adalah penentuan fase pertumbuhan , masa tanam, dan masa panen tumbuhan padi pada citra MODIS L1B. Masa tanam padi di kabupaten Indramayu berada pada bulan Juni dan Desember 2011, masa panen berada pada bulan  Mei dan September 2011. Citra Aster digunakan sebagai data pendukung untuk menentukan korelasi linear  terhadap data lapangan (fieldspectometer). Korelasi yang dihasilkan Antara Modis - Aster sebesar 0.9576 pada EVI dan 0.9654 pada NDVI; Modis - Fieldspectometer sebesar 0.8798 pada EVI dan 0.9077 pada NDVI; dan pada Aster - Fieldspectometer sebesar 0.9220 pada EVI dan 0.9460 pada NDVI. Korelasi dari ketiga data tersebut memiliki hubungan yang cukup kuat dikarenakan nilai yang dihasilkan mendekati nilai 1

    ANALISIS PERBEDAAN PERHITUNGAN ARAH KIBLAT PADA BIDANG SPHEROID DAN ELLIPSOID DENGAN MENGGUNAKAN DATA KOORDINAT GPS

    No full text
    Kiblat merupakan salah satu hal yang penting bagi umat muslim di seluruh dunia, khususnya di dalam pelakasanaan ibadah salat. Perhitungan arah kiblat di suatu tempat dapat dilakukan dengan memanfaatkan koordinat lintang dan bujur geografis yang didapatkan dari hasil pengukuran GPS (Global Positioning System). Dewasa ini, perhitungan arah kiblat masih menggunakan rumusan segitiga bola sebagai dasar perhitungannya. Namun, bentuk bumi tidaklah bulat sempurna seperti bola (spheroid) melainkan berbentuk ellips yang diputar pada sumbu pendeknya (ellipsoid). Oleh karena itu, seharusnya dilakukan perhitungan yang sesuai dengan bentuk bumi tersebut, yakni dengan menggunakan prinsip persoalan pokok geodesi. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengambilan sampel koordinat titik di lapangan dengan menggunakan GPS tipe geodetik dan GPS tipe navigasi. Perhitungan arah kiblat dilakukan dengan menggunakan rumus segitiga bola dan Soal Pokok Geodesi II (SPG II) untuk kemudian dianalisis perbedaannya. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan antara arah kiblat dengan menggunakan rumus segitiga bola dan SPG II berkisar antara 1’ 8,7949” - 1’ 21,5281”. Sedangkan perbedaan antara arah kiblat dengan menggunakan rumus segitiga bola (yang koordinat sampelnya tidak ditransformasikan ke bidang bola) dan SPG II berkisar antara 7’ 17,3049” - 7’ 18,9383”. Sementara itu, hasil perhitungan arah kiblat dengan menggunakan koordinat dari GPS tipe Geodetik dan GPS tipe Navigasi tidak memiliki perbedaan yang cukup signifikan

    ANALISIS RONA AWAL LINGKUNGAN DARI PENGOLAHAN CITRA LANDSAT 7 ETM+ (STUDI KASUS :DAERAH EKSPLORASI GEOTHERMAL KECAMATAN SEMPOL, BONDOWOSO)

    No full text
    Rona awal lingkungan merupakan kondisi lingkungan yang berupa kondisi alam atau komponen-komponen lingkungan awal sebelum perencanaan dan pembangunan fisik dimulai . Sebelum melakukan kegiatan eksplorasi geothermal, penguraian rona awal lingkungan sangatlah diperlukan sebagai dasar dari upaya pengelolaan dan pemantauan lingkungan (UKL&UPL) dalam meniminamalisir dampak yang ditimbulkan. Penguraian rona awal lingkungan pada penelitian ini didapat dari pengolahan citra Landsat 7 ETM+ untuk mendapatkan gambaran kondisi tutupan lahan dan kerapatan vegetasi di area studi, serta data sekunder sebagai pelengkap komponen lingkungan lainnya. Penentuan nilai kerapatan vegetasi didasarkan dari tutupan lahan yang dominan yaitu perkebunan, hutan dan semak belukar. NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) dan SAVI (Soil Adjusted Vegetation Index) merupakan  algoritma yang digunakan dalam penentuan kerapatan vegetasi. Dua algoritma yang digunakan dikorelasikan dengan suhu permukaan tanah (SPT) untuk mendapatkan algoritma yang terbaik dalam penentuan kerapatan vegetasi . Korelasi terbaik  untuk area perkebunan dan hutan didapatkan dari algoritma NDVI sedangkan SAVI untuk semak belukar. Area studi yang digunakan dalam penelitian ini, yaitu Kecamatan Sempol, Bondowoso, Jawa Timur

    ANALISA ZONASI LAHAN KOSONG PADA KAWASAN PEMUKIMAN DAN INDUSTRI DITINJAU DARI ASPEK FISIK MENGGUNAKAN CITRA SATELIT ALOS TAHUN 2010 (Studi Kasus : Unit Pengembangan X Wiyung Surabaya)

    No full text
    Lahan kosong di perkotaan merupakan fenomena yang menarik untuk diperhatikan. Keberadaan lahan kosong ternyata menimbulkan persoalan-persoalan yang serius diperkotaan. Lahan kosong dapat mendorong peningkatan harga lahan secara cepat karena kesediaan lahan menjadi berkurang sedangkan permintaan akan lahan terus bertambah. Wilayah Unit Pengembangan X Wiyung yang terdiri dari Kecamatan Wiyung, Kecamatan Lakarsantri dan Kecamatan Karang Pilang, Surabaya yang menjadi arahan pengembangan kawasan permukiman, dan industri menurut Rencana Detil Tata Ruang Kota (RDTRK) Unit Pengembangan X Wiyung Surabaya.Analisa lahan kosong pada wilayah tersebut untuk memaksimalkan potensi lahan kosong sesuai dengan kebutuhan, arahan Rencana Detail Tata Ruang Kota (RDTRK) Unit Pengembangan X Wiyung Surabaya, dengan memanfaatkan data citra satelit ALOS tahun 2010. Hasil analisa tutupan lahan diperoleh 4 kelas yaitu badan air, ladang, pemukiman, dan sawah. Pada Unit Pengembangan X Wiyung memiliki lahan kosong yang terdiri dari sawah dan ladang yang terdapat di kawasan tersebut yang belum dimanfaatkan sesuai arahan RDTRK sebesar 1631.486 Ha. Sedangkan pada kawasan industri, Lahan kosong  yang terdapat di kawasan tersebut yang belum dimanfaatkan sesuai arahan RDTRK sebesar 77.052 Ha

    PEMETAAN POTENSI PANAS BUMI (GEOTHERMAL) UNTUK MENDUKUNG PROGRAM ENERGI NASIONAL JAWA TIMUR (STUDI KASUS : G. LAMONGAN, KAB. PROBOLINGGO)

    No full text
    Kondisi geologi Indonesia yang terletak pada tiga pertemuan lempeng tektonik memberikan kontribusi nyata akan ketersediaan energi panas bumi di Indonesia. Manifestasi panas bumi yang berjumlah tidak kurang dari 244 lokasi, dari potensi tersebut baru 4% yang telah dikembangkan. Selain itu dengan adanya MP3EI (Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia) tahun 2011 diharapkan bisa digunakan sebagai rencana jangka panjang.Pemantauan hasil yang terbaik diperlukan dalam melakukan analisa untuk pengamatan daerah potensi panas bumi. Analisa tersebut menggunakan citra satelit Landsat 7. Dengan  menggunakan algoritma NDVI, spectral radiance, brightness temperature, dan laplacian matrix untuk menentukan suatu anomaly dari adanya potensi panas bumi pada daerah penelitian, dengan waktu penelitian pada bulan Jul 2009i. Dengan adanya MP3EI maka akan ada suatu arahan secara nasional dalam pengembangan menuju Indonesia yang lebih sejahtera. Daerah penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah wilayah Kabupaten Probolinggo dan sekitarnya.Dari hasil pengolahan data dan analisa didapatkan korelasi antara indeks vegetasi dengan ketinggian bernilai 0.09, korelasi antara indeks vegetasi dengan  suhu permukaan bernilai 0.34, korelasi antara ketinggian dan suhu permukaan bernilai -0.56. Dari penampakan secara geologi pun terdapat suatu patahan yang membelah lokasi penelitian dan berada di sebelah timur ke utara dimana dari anomaly yang terlihat dari 4 variabel ini menunjukkan adanya potensi panas bumi yang bisa dimanfaat untuk bidang makanan minuman, perkapalandan peralatan transportasi sesuai dengan MP3EI. Uji klasifikasi yang dilakukan bernilai 83,67%, yang menunjukkan klasifikasi lahan pada citra mempresentasikan kondisi sesungguhnya. Data hasil analisis dapat dijadikan sebagai bahan referensi penelitian selanjutnya

    PENGGUNAAN SECONDARY SURVEILLANCE RADAR UNTUK PENENTUAN POSISI PESAWAT UDARA

    No full text
    Republik Indonesia merupakan negara kepulauan terbesar di dunia yang memiliki lebih dari 17.000 pulau dengan pertumbuhan demografi yang sangat pesat, hal ini menjadikan Indonesia sebagai negara berpenduduk terbesar ke-empat di dunia. Pesawat udara merupakan alat transportasi yang paling efektif dalam mendukung mobilitas penduduk.Navigasi atau pandu arah adalah penentuan kedudukan (position) dan arah perjalanan baik di medan sebenarnya atau di peta. Navigasi ini dilakukan pada pesawat udara yang dipandu dari darat melalui sinyal yang dipancarkan oleh instrumen terpasang pada menara (ground base) maupun sinyal dari satelit (satellite base).Dalam navigasi ada beberapa macam radar yang umum digunakan yaitu Primary Surveillance Radar (PSR) dan Secondary Surveillance Radar (SSR).Kedua jenis radar baik PSR maupun SSR mempunyai cara kerja berbeda. Pada PSR sifatnya aktif dan pesawat yang ditargetkan sifatnya pasif.Karena PSR hanya menerima pantulan gelombang radio dari refleksi pesawat tersebut (echo).Sedangkan pesawat itu sendiri tidak ikut aktif dengan pancaran sinyal radar di bawah. Pada SSR, baik radar maupun pesawat kedua-duanya aktif. Hal ini dapat dilakukan karena pesawat terbang telah dilengkapi dengan transponder. Pesawat-pesawat yang tidak dilengkapi transponder tidak akan dapat dilihat pada radar scope seperti identifikasi pesawat, ketinggiannya, dan lain-lain.SSR merupakan peralatan untuk mendeteksi dan mengetahui posisi dan data target yang ada di sekelilingnya secara aktif, dimana pesawat ikut aktif jika menerima pancaran sinyal Radio Frequency (RF) radar sekunder. Pancaran radar ini berupa pulsa-pulsa mode, pesawat yang dipasangi transponder, akan menerima pulsa-pulsa tersebut dan akan menjawab berupa pulsa-pulsa code ke sistem penerima radar

    ANALISA SEA LEVEL ANOMALY MENGGUNAKAN RETRACKING WAVEFORMS DARI DATA SATELIT ALTIMETRI JASON-2 (STUDI KASUS : PESISIR PULAU BALI)

    No full text
    Sea Level Anomaly (SLA) adalah perubahan sebenarnya dari topografi laut yang berhubungan dengan arus laut. Teknologi satelit altimetri yang sudah dikembangkan sejak tahun 1975 menjadi salah satu alternatif dalam memperoleh informasi tentang dinamika lautan. Salah satu misi dari satelit ini adalah dengan diluncurkannya satelit altimetri Jason-2 pada tahun 2008.Retracking waveforms merupakan pemodelan kembali bentuk gelombang yang dihantarkan oleh satelit altimetri ke daratan untuk mendapatkan hasil yang lebih baik. Pada dasarnnya satelit altimetri memiliki ketelitian yang baik di lautan lepas, tetapi untuk di daerah pesisir mengalami gangguan dalam penerimaan gelombang di akibatkan oleh ombak, vegetasi dan bentuk pesisir pantai tersebut.Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa proses retracking waveforms di wilayah pesisir Pulau Bali didapatkan nilai SLA tertinggi pada tahun 2011 adalah 1.1242 m pada bulan Desember dan nilai SLA terendahnya adalah -2.0084 m pada bulan yang sama dan untuk proses tanpa retracking waveforms didapatkan nilai SLA tertinggi pada tahun 2011 adalah 1.6436 m yaitu pada bulan Desember dan nilai SLA terendahnya adalah -1.5690 m pada bulan November dan Desember. Dengan melalui proses retracking waveforms didapatkan nilai SLA yang lebih teliti dan akurat dibandingkan tanpa melalui proses retracking waveforms terlebih dahulu

    ANALISA KELAYAKAN PENGGUNAAN CITRA SATELIT WORLDVIEW-2 UNTUK UPDATING PETA SKALA 1:1.000 (STUDI KASUS : SURABAYA PUSAT)

    No full text
    Proses updating peta garis skala 1:1.000 membutuhkan data, misalnya citra satelit yang memiliki resolusi tinggi. Beberapa bahasan yang dikaji dalam proses updating peta menggunakan data dasar yang berupa citra satelit adalah metode koreksi geometrik dan ketelitian planimetris. Ketelitian planimetris citra satelit didapatkan dengan caramenghitung RMSEperbedaan pengukuran beberapa jarak hasil digitasi pada citra dengan beberapa jarak yang sama yang diukur di lapangan.Nilai RMSE tersebut akan dibandingkan dengan ketelitian planimetris peta skala 1:1.000 yang bernilai 0,3 mm pada skala peta (BPN, 1997).Koreksi geometrik metode polinomial orde-1 memiliki RMS sebesar 0,071, koreksi geometrik metode affine memiliki RMS sebesar 0,031.Sedangkan untuk koreksi geometrik metode konform menghasilkan nilai RMS sebesar 0.552.Untuk hasil analisa ketelitian planimetris citra didapatkan rata-rata RMSE sebesar 0,131 meter yang memenuhi nilai ketelitian planimetris peta skala 1:1.000 sebesar 0,3 meter.Uji statistik t-test berpasangan yang dilakukan pada sample pengukuran lapangan menunjukkan bahwa semua hasil pengukuran diterima dengan rentangx1 <= m <= x2dengan level of significance a sebesar 5%

    EVALUASI KEMAMPUAN LAHAN UNTUK MENDUKUNG PENGEMBANGAN PARIWISATA DENGAN MENGGUNAKAN DATA CITRA SATELIT

    No full text
    Kabupaten Jember memiliki potensi pariwisata yang cukup banyak, seperti wisata pegunungan ataupun wisata pantainya. Hal ini mengakibatkan banyaknya objek-objek wisata yang sangat menarik untuk dikunjungi. Salah satu wisata yang akan dikembangkan dalam kepariwisataannya saat ini oleh pemerintah daerah yaitu Desa Kemuninglor. Desa ini terletak di daerah perbukitan dan memiliki panorama alam yang cukup menarik. Dalam perkembangannya, diperlukan evaluasi kemampuan lahan untuk mengetahui upaya pemanfaatan sumberdaya lahan sesuai dengan potensinya.Dalam penelitian ini digunakan parameter fisik lahan yaitu tutupan lahan, kemiringan lereng,kenampakan erosi, jenis tanah, dan drainase untuk mengetahui kemampuan lahan dalam mendukung pengembangan pariwisata di Desa Kemuninglor. Data yang digunakan adalah data citra ASTER tahun 2008 dan peta tematik DAS Bedadung tahun 2009, khususnya peta erosi, peta jenis tanah, peta kemiringan lereng dan peta curah hujan. Metode yang digunakan dengan menginterpretasi  citra satelit dan pengamatan lapangan yang didasarkan pada analisis keruangan beserta penggabungan tumpang susun peta (overlay). Unit lahan digunakan sebagai satuan pemetaan untuk mengetahui kemampuan lahan untuk pariwisata dengan Metode skoring.Dari hasil penelitian didapatkan gambaran wilayah yang akan dilakukan pengembangan pariwisata. Kelas kemampuan lahan untuk daerah penelitian ini : kelas II dengan luas area 45,98 Ha, kelas III dengan luas area 992,47 Ha dan kelas IV dengan luas area 64,91 Ha. Untuk  hasil evaluasi kemampuan lahan yang mendukung untuk pengembangan pariwisata terdapat di sebagian besar dusun Rayap karena memiliki daya dukung baik serta terdapat area tutupan lahan yang sebagian besar berupa perkebunan dan lahan kosong

    STUDI PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAS CILIWUNG DENGAN METODE KLASIFIKASI TERBIMBING CITRA LANDSAT 7 ETM+ MULTITEMPORAL TAHUN 2001 & 2008 (STUDI KASUS : BOGOR)

    No full text
    Meningkatnya pembangunan di perkotaan seringkali menimbulkan dampak tidak baik terhadap lingkungan. Salah satu contohnya adalah pembangunan yang terjadi di Daerah Aliran Sungai Ciliwung.Akibat dampak pembangunan yang tidak terencana di daerah aliran sungai menyebabkan perubahan tutupan lahan. Perubahan tutupan lahan ini berpengaruh terhadap timbulnya masalah pada daerah aliran sungai misalnya banjir, produktivitas tanah menurun, pengendapan pada waduk, saluran irigasi, proyek tenaga air, penggunaan tanah yang tidak tepat (perladangan berpindah, pertanian lahan kering dan konservasi yang tidak tepat), yang menimbulkan dampak negatif terhadap sosial ekonomi lingkungan di daerah aliran sungai.Perubahan tutupan lahan yang terjadi dapat diidentifikasi dengan teknologi penginderaan jauh menggunakan citra satelit LANDSAT 7 ETM+. Dengan menggunakan citra satelit LANDSAT 7 ETM+tahun 2001, dan LANDSAT 7 ETM+ tahun 2008, dilakukan analisa perubahan tutupan lahan di daerah aliran sungai Ciliwung

    41

    full texts

    504

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Geoid (E-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇