Geoid (E-Journal)
Not a member yet
504 research outputs found
Sort by
UPDATING PETA TUTUPAN LAHAN MENGGUNAKAN CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI (STUDI KASUS : KECAMATAN PAKAL, KOTA SURABAYA)
Lingkungan merupakan suatu hal yang bersifat dinamis dan dapat berubah sewaktu – waktu.Sehingga dibutuhkan metode yang cepat dan akurat dalam meng-update data spasial untuk memonitoring perubahan lingkungan tersebut.Penelitian ini menggunakan teknologi penginderaan jauh. Data penginderaan jauh yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra satelit WorldView 2 tahun 2012 dan Peta Garis Surabaya skala 1:5000 tahun 2002 hasil pemotretan foto udara. Daerah yang digunakan dalam penelitian ini adalah Kecamatan Pakal, Kota Surabaya.
Dalam pengolahan citra WorldView 2 didapatkan hasil identifikasi tutupan lahan di wilayah Kecamatan Pakal, Kota Surabaya yang didominasi oleh kelas tutupan lahan tambak, yakni seluas 756,476 Ha (40,62%),dan kelas tutupan lahan terendah adalah kelas tutupan lahan waduk, yakni seluas 3,556 Ha (0,17%).Dilakukan analisa perubahan tutupan lahan dari tahun 2002 hingga 2012.Hasil yang diperoleh dalam penelitian ini menunjukkan terjadinya perubahan luas yang paling signifikan di wilayah Kecamatan Pakal adalah meningkatnya kelas tutupan lahan permukiman, yakni sebesar 132,019 Ha (27,32%). Serta menurunnya kelas tutupan lahan pertanian, semak belukar, dan tambak, yaitu seluas 145,559 Ha (30,12%) pada kelas tutupan lahan pertanian, 60,628 Ha (12,55%) pada kelas tutupan lahan semak belukar, dan 35,441 Ha (7,33%) pada kelas tutupan lahan tambak.
Hasil akhir dari penelitian ini adalah peta tutupan lahan tahun 2012 yang di-update menggunakan citra satelit WorldView 2 di wilayah Kecamatan Pakal, Kota Surabaya
ANALISA POTENSI GENANGAN BERDASARKAN DATA CURAH HUJAN GLOBAL TRMM (TROPICAL RAINFALL MEASURING MISSION) (STUDI KASUS : KABUPATEN SAMPANG)
Indonesia memiliki suatu problematika yang terjadi tiap tahun yaitu bencana banjir. Salah satu penyebab terjadinya banjir adalah adanya genangan air yang terjadi pada suatu tempat dalam kurun waktu tertentu. Salah satu cara untuk dapat mengelola resiko terjadinya genangan adalah dengan memperkirakan kapan suatu daerah akan berpotensi terkena genangan. Analisa ini dapat dilakukan dengan memperkirakan potensi terjadinya hujan lebat (curah hujan tinggi) yang diturunkan dari data curah hujan global yaitu data TRMM (Tropical Rainfall Measuring Mission) dan diintegrasikan dengan peta penggunaan lahan, peta jenis tanah, serta Digital Elevation Model (DEM). Wilayah yang dikaji pada penelitian adalah Kabupaten Sampang yang terletak di 113o 08’ - 113o 39’ Bujur Timur dan 6o 05’ - 7o 13’ Lintang Selatan. Pengolahan data dimulai dengan ekstraksi data TRMM menjadi data curah hujan dan koordinat pengukuran hujan. Data curah hujan hasil ekstraksi dari citra TRMM divalidasi dengan data curah hujan di lapangan kemudian digunakan untuk pembuatan peta curah hujan. Peta curah hujan tersebut ditampalkan dengan peta ketinggian wilayah dan peta kelerengan hasil dari pengolahan Digital Elevation Model, serta peta jenis tanah dan peta penggunaan lahan. Menggunakan metode skoring, hasil pertampalan menghasilkan data spasial baru berupa daerah potensi genangan.Dari hasil analisa didapat nilai korelasi yang tinggi antara data curah hujan TRMM dengan data curah hujan di lapangan. Daerah potensi genangan tinggi hasil analisa memiliki kecocokan dengan data kejadian banjir. Namun terdapat daerah potensi genangan tingkat tinggi yang berada di sebelah utara Kabupaten Sampang yang belum terbukti kebenaranya. Oleh karena itu perlu adanya penelitian tentang daerah potensi genangan di utara Kabupaten Sampang. Analisa hubungan antara data curah hujan TRMM dengan potensi genangan menunjukkan bahwa terdapat hubungan antara intensitas curah hujan dengan tingkat potensi genangan
EVALUASI PENGGUNAAN KAMERA NON METRIK PADA FOTOGRAMETRI JARAK DEKAT
Citra yang ideal adalah citra yang merepresentasikan obyek secara sempurna tanpa terjadi degradasi kualitas. Namun tidak ada lensa yang dapat memnuhi hal tersebut. Kemampuan lensa dikatakan maksimum apabila sebuah lensa mereproduksi citra dari sebuah obyek hingga mencapai titik di mana detail citra sudah tidak dapat lagi direproduksi dari obyek. MTF (modulation transfer function) diukur sebagai patokan kemampuan lensa untuk membedakan antara daerah gelap dan terang pada obyek. Standar optik untuk pengukuran MTF menggunakan unit frekuensi spasial disebut ”line pair per millimeter” atau lp/mm. Dengan mengetahui nilai MTF, sebuah citra dengan degradasi kualitas dapat ditingkatkan kualitasnya. Kecerahan merupakan salah satu faktor penting dalam hasil MTF. Peningkatan kontras dengan meningkatkan perbedaan kecerahan antara obyek dan latar belakang benda dapat memberikan perbedaan informasi yang didapat. Manipulasi kontras dilakukan sebagai peregangan kontras dengan meningkatkan perbedaan kecerahan yang seragam di seluruh dynamic range dari citra. Dari informasi MTF suatu lensa dan perubahan nilai kontras dengan teknik contrast stretching akan menghasilkan sebuah citra dengan peningkatan kualitas sehingga interpretasi citra tersebut lebih fleksibel untuk menghasilkan informasi yang dibutuhkan.Sebuah citra digital harusnya memiliki tingkat kecerahan yang optimum yaitu mulai dari gelap sampai terang. Hal tersebut ditandai dengan nilai digital number citra yang memiliki range 0 – 225. Dari hasil penelitian penggunaan kamera Canon Powershot A2200 menunjukkan perubahan digital number pada citra hasil perekaman yang sebelumnya memiliki rentang 10 - 255 untuk band merah dan biru menjadi 0 – 255 pada semua band dengan peningkatan nilai mean untuk tiap – tiap band : Red(115.2 menjadi 127.1), Green(111.4 menjadi 126.9) dan Blue(93.9 menjadi 129.5). Peningkatan nilai digital number tersebut menunjukkan bahwa adanya peningkatan kecerahan dari citra sebelumnya sehingga daerah yang sebelumnya gelap menjadi relatif terang
ANALISA PENGGUNAAN LAHAN DAERAH PENGEMBANGAN POTENSI PANAS BUMI DI KECAMATAN SEMPOL, BONDOWOSO
Kawasan Gunung Ijen, Kecamatan Sempol, Bondowoso memiliki potensi panas bumi yang cukup besar. Dalam kegiatan eksplorasi dan eksploitasi panas bumi sangat berdampak pada keadaan lingkungan karena lokasi panas bumi berada di kawasan hutan produksi, kawasan hutan lindung, dan kawasan hutan konservasi. Untuk itu, diperlukan analisa penggunaan lahan di lokasi potensi panas bumi sebelum dilakukan pembangunan PLTP dan fasilitas penunjangnya.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat tiga area yang berpotensi untuk pemanfaatan energi panas bumi. Potensi sumber daya panas bumi yang dapat membangkitkan energi listrik melalui Pembangkit Listrik Tenaga Panas Bumi dengan kapasitas 2 x 55 MW. Penggunaan lahan pada area tersebut sebagian besar terdiri dari semak belukar (42.53%), dan jarak terdekat dengan pemukiman lebih dari 600 m. Kegiatan eksplorasi diharapkan tidak berdampak negatif pada lingkungan sekitar
PERBANDINGAN AKURASI PREDIKSI PASANG SURUT ANTARA METODE ADMIRALTY DAN METODE LEAST SQUARE
Analisis maupun peramalan pasut pada daerah survei dapat dipakai untuk berbagai keperluan rekayasa, antara lain perencanaan alur pelabuhan, navigasi, pengembangan wilayah pantai, penentuan batas wilayah dan sebagainya. Terdapat beberapa metode yang dapat digunakan untuk menentukan konstanta harmonik pasang surut selama periode tertentu diantaranya adalah metode admiralty dan metode least square. Dalam penelitian ini dilakukan analisa prediksi pasang surut di stasiun Surabaya dengan menggunakan data pasut 29 hari. Metode yang digunakan adalah metode admiralty dan metode least square dengan panjang data 15 dan 29 hari. Dari ke-empat metode tersebut dilakukan perhitungan tiap komponen pasutnya sehingga dapat dilakukan prediksi pasut dan dibandingkan hasilnya. Selisih nilai amplitudo terbesar terdapat pada komponen P1 untuk perbandingan antara admiralty dan least square 15 hari yakni sebesar -36,49 cm. Sedangkan untuk selisih beda fase terbesar terdapat pada komponen S2 pada perbandingan antara least square dengan panjang data 15 dan 29 hari yakni sebesar -332,89°. Nilai RMS error yang dihasilkan oleh metode least square lebih kecil daripada yang dihasilkan oleh metode admiralty yakni sebesar 12,360 cm untuk panjang data 15 hari dan 5,972 cm untuk panjang data 29 hari pada prediksi pasut bulan pertama
KALIBRASI KAMERA NON-METRIK DIGITAL DENGAN METODE SELF CALIBRATION
Penggunaan kamera dijital non metrik untuk aplikasi fotogrametri makin berkembang, dengan didukung oleh perkembangan perangkat lunak yang tersedia dan harga kamera dijital non metrik yang relatif murah dengan spesifikasi yang bagus. Hal ini membuat penggunaan teknologi fotogramteri rentang dekat untuk pekerjaan pemetaan semakin diminati karena memiliki keuntungan dapat menjangkau daerah yang sulit dijangkau atau memiliki dimensi yang kecil. Namun kekurangannya kamera jenis ini memiliki kualitas geometrik yang kurang baik sehingga mengakibatkan posisi pada foto yang dihasilkan kurang akurat. (Afriyanti, 2005)Dalam penelitian ini akan dilakukan proses kalibrasi pada kamera yang akan digunakan yaitu Canon IXUS 115HS dengan resolusi 12megapixel dan panjang fokus yang digunakan 11mm. Metode kalibrasi yang digunakan yaitu Self Calibration. Perbandingan akurasi yang dihasilkan diketahui berdasar pergeseran titik hasil proyeksi terhadap Ground Control Point (GCP) yang terukur di lapangan.Hasil penelitian menunjukan bahwa dalam proses kalibrasi menghasilkan parameter eksternal yang stabil, karena dalam proses iterasi yang keempat hingga seterusnya nilai yang dihasilkan tidak berubah. Distorsi hasil proyeksi arah pergeserannya mendekati posisi ideal serta nilai reprojection error tidak melebihi 0.5mm dari bacaan maksimal mistar 1mm. Parameter internal tidak menghasilkan nilai yang stabil karena dalam setiap proses iterasinya nilainya selalu berubah, panjang fokus terkalibrasi mengalami perubahan signifikan sebesar -99mm dari nilai acuan 11mm, dan nilai parameter external terkalibrasi berbeda jauh dari nilai awal yang diberikan.Meskipun demikian, dapat digambarkan pola distorsi dan arah pergeseran titik-titik hasil proyeksi pada proses penentuan Exterior Orientation Parameter (EOP) serta dapat dilihat bahwa titik yang mengalami pergeseran terbesar yaitu titik 7 dengan nilai kesalahan 0.019mm ke arah X dan -0.0672mm ke arah Y. Titik yang mengalami pergeseran terkecil yaitu titik 8 yang berada di pusat foto dengan nilai kesalahan -0.0026mm ke arah X dan 0.0071mm ke arah Y
ANALISA PERUBAHAN POLA HIDROLOGI DI DAERAH MUARA KALI PORONG PASCA PERISTIWA LAPINDO DENGAN CITRA SATELIT SPOT 4 DAN ALOS
Pesisir merupakan salah satu tempat untuk muara sungai dimana hilir dari suatu sungai itu berakhir sebelum menuju lepas laut. Di kabupaten Sidoarjo tedapat kali yaitu Kali Porong yang merupakan ujung dari sungai Brantas yang semenjak tahun 2006 digunakan sebagai tempat untuk mengalirkan lumpur Lapindo ke laut. Hal ini menyebabkan perubahan dari ekologi dari Kali Porong. Salah satunya adalah mengganggu pola hidrologi yang ada di Kali Porong. Oleh karena itu diperlukan analisa untuk penentuan pola hidrologi secara multitemporal setelah Kali Porong digunakan sebagai tempat mengalirkannya lumpur untuk menuju laut timur Jawa yang dimana akan mempercepat terbentuk sedimentasi yang dapat menggagu pola hidrologi Kali Porong. Pengamatan dilakukan dengan metode penginderaan jauh dengan menganalisa citra ALOS dan SPOT 4 dari tahun 2010 sampai 2011. Klasifikasi yang digunakan dalam analisa ini adalah klasifikasi Terselia atau klasifikasi beracuan yang menggunakan Maximum Likehood Standard dan menganalisa DEM SRTM dengan menggunakan menu spatial analyst tools untuk menentukan arah aliran sungai (flow direction) dan akumulasi aliran sungai (flow accumulation).Hasil dari penelitian ini memperlihatkan bahwa dalam peta aliran sungai terlihat gradasi warna dari biru tua menuju ke biru muda menjelaskan bahwa arah aliran sungai yang menunjukan semakin besar akumulasi pencampuran antara air sungai dengan lumpur dititik tersebut. Daerah pesisir Sidoarjo lebih di dominasi oleh pola aliran sungai dendritik. Pola aliran sungai daerah muara Kali Porong relatif tetap
STUDI KELAYAKAN LOKASI RENCANA PELETAKAN JACK-UP DRILLING RIG MENGGUNAKAN HASIL PENCITRAAN SIDE SCAN SONAR
Sumber daya minyak bumi yang tersebar di beberapa wilayah perairan di negara kita ini mempunyai nilai ekonomis yang sangat tinggi. Dibutuhkan sebuah perencanaan detil untuk meletakkan media eksplorasi (jack-up drilling rig) untuk memanfaatkan sumber daya minyak bumi. Oleh sebab itu, untuk mengetahui kelayakan lokasi peletakan jack-up drilling rig diperlukan suatu survai agar tidak membahayakan rig tersebut ketika memasuki lokasi pengeboran. Dalam hal ini dibutuhkan suatu gambaran dari dasar laut sehingga perlu dilakukan survai perencanaan yang mencakup pemetaan kedalaman laut serta kenampakan permukaan dasar laut. Penelitian ini menggunakan hasil pencitraan side scan sonar yang didukung oleh data batimetri, data pasut dan data GPS untuk mengetahui kondisi dari permukaan dasar laut. Dari hasil survai tersebut didapatkan informasi yang dapat digunakan untuk mengetahui kelayakan lokasi rencana peletakkan jack-up drilling rig agar tidak membahayakan rig tersebut ketika masuk dan dioperasikan.Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa lokasi rencana peletakan jack-up drilling rig masih dapat dikatakan layak dimana permukaan dasar laut daerah penelitian tersebut sebagian besar didominasi dengan tanah lempung atau lanau. Pada daerah penelitian terdapat cukup banyak jack-up footprint dan ditemukan banyak goresan pada permukaan dasar laut, pipa bawah laut, serta sedimen yang cukup keras (coarse sediment). Jack-up drilling rig hendaknya masuk melalui sisi timur dari platform
PERMODELAN ESTIMASI POTENSI TAMBANG BATU KAPUR DARI HASIL ANALISA DATA CITRA SATELIT LANDSAT 7 ETM+ (STUDI KASUS : TAMBANG BATU KAPUR PT. SEMEN GRESIK PERSERO TBK. PABRIK TUBAN)
Batu kapur merupakan salah satu bahan galian C yang banyak terdapat di Indonesia. Besarnya potensi tersebut diiringi pula dengan konsumsi batu kapur yang besar untuk memenuhi kebutuhan manusia.Begitu banyaknya hasil olahan pabrik yang membutuhkan batuan kapur menunjukkan bahwasanya peran batu kapur dalam proses industri sangatlah penting misalnya saja sebagai bahan utama pembuatan semen . Salah satu perusahaan yang melakukan eksplorasi dan penambangan batu kapur yang digunakan sebagai bahan utama pembuatan semen adalah PT. Semen Gresik (PERSERO) Tbk. Dalam menentukan estimasi potensi batu kapur perusahaan ini mengambil data dari pemetaan topografi, yaitu melalui pengukuran pada titik-titik ketinggian kawasan pertambangan batu kapur.
Dengan kemajuan teknologi dibidang penginderaan jauh, perhitungan estimasi potensi batu kapur dapat dilakukan dengan menggunakan data citra satelit Landsat 7 ETM+.Parameter yang digunakan untuk identifikasi potensi batu kapur pada penelitian ini ada 4 yaitu suhu permukaan, tutupan lahan, indeks vegetasi, dan interpretasi visual.Parameter utama yang dijadikan untuk membuat model estimasi potensi batu kapur adalah suhu permukaan tanah.Korelasi antara suhu permukaan di citra dan lapangan adalah 55,9 %. Dengan regresi linier sederhana didapatkan nilai r2=0,313, dengan persamaan koreksi suhu permukaan antara citra dan suhu lapangan adalah suhu Citra (°C)= 78,23-1,233. Suhu lapangan.Suhu di citra dan suhu lapangan memiliki hubungan yang terbalik artinya ketika suhu di lapangan tinggi maka suhu di citra rendah. Dari persamaan koreksi didapat ketika suhu batu kapur dilapangan adalah 38 ° C maka suhu di citra Landsat adalah 31,5 ° C
PEMANFAATAN CITRA RESOLUSI TINGGI UNTUK IDENTIFIKASI PERUBAHAN OBYEK BANGUNAN (STUDI KASUS UPDATING RENCANA DETIL TATA RUANG KOTA UNIT PENGEMBANGAN RUNGKUT SURABAYA)
Perkembangan teknologi penginderaan jauh terutama citra WorldView-2 memudahkan dalam mengkaji perencanaan tata ruang kota dan monitoring penggunaan lahan, contohnya perubahan obyek bangunan. Kota Surabaya yang terletak antara 07°12’-07°21’ Lintang Selatan dan 112°36’-112°54’ Bujur Timur yang aktivitas kotanya sangat bervariasi dengan jumlah penduduk lebih dari tiga milyar (Hasyim, Hariyanto, dkk. 2011). Kegiatan pembangunan fisik dan prasarana perkotaan di Surabaya tentunya menimbulkan konsekuensi terhadap perubahan obyek bangunan. Untuk mengatasi permasalahan ini salah satu langkah yang diambil oleh pemerintah dijelaskan dalam tema pengembangan UP Rungkut yaitu sinergitas pengembangan kawasan permukiman perbatasan kota sebagai penyangga kegiatan industri dan pendidikan dengan pendekatan sustainable development.
Dalam penelitian ini, identifikasi perubahan obyek bangunan pada tahun 2002 sampai dengan 2012 dilakukan dengan memanfaatkan data peta garis digital tahun 2002 dan citra WorldView-2 dengan menggunakan metode klasifikasi terselia berdasarkan maximum likelihood (kemiripan maksimum) untuk mengidentifikasi perubahan obyek bangunan pada UP Rungkut pada Tahun 2002 sampai dengan 2012.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa luas perubahan obyek bangunan di UP Rungkut pada tahun 2002-2012 seluas 220.333 Ha. Untuk hasil kesesuaian perubahan obyek bangunan dengan RDTRK UP Rungkut tahun 2010 yaitu bangunan yang sesuai 209.025 Ha, tidak sesuai 11.308 Ha dan yang belum dimanfaatkan seluas 1096.171 Ha. Hal ini menandakan perlu adanya langkah-langkah dari semua pihak terkait untuk mengaplikasikan rencana tata ruang agar pembangunan kota bisa berjalan secara serasi dan terpadu antara masing-masing komponennya dalam mencapai tujuan-tujuan yang telah ditetapkan dalam pola dasar pembangunan daerah