Geoid (E-Journal)
Not a member yet
    504 research outputs found

    KAJIAN PENGGUNAAN ALGORITMA GUZMÁN DAN SANTAELLA (2009) DALAM PEMETAAN TOTAL SUSPENDED SOLID (TSS) DI PERAIRAN DELTA MAHAKAM

    No full text
    TSS (Total Suspended Solid) is a parameter used to measure the rate of sedimentation. Observation value of TSS can be done using remote sensing methods by utilizing an algorithm to extract TSS value from image satellite. Various kinds of algorithms were developed to obtain the value of TSS which the development of this algorithm is based on the conditions of area. The diversity of existing TSS algorithm makes the need to do a study to find the best algorithms. Mapping the value of TSS in the water region of Delta Mahakam is done using algorithms Guzmán and Santaella (2009). This research was conducted to get information about the best algorithms of Guzmán and Santaella (2009) algorithm for use in the water region of Delta Mahakam and to obtain information about sedimentation rate. The results showed that TSS value from all three algorithms Guzmán and Santaella (2009) have a stronger relation with TSS values from in situ data. This relation showed by correlation value of all three algorithms which reached 75% - 77%. Algorithm 1 capable of providing correlation value 75,25% with rmse 12,2 mg/l. Algorithm 2 providing correlation value 75,26% with rmse 4,7 mg/l whereas the algorithm 3 providing correlation Value 77,35% with rmse 49,64 mg/l. This result showing that algorithm 2 are the best algorithm to get TSS value using Terra MODIS satellite image in the water region of Delta Mahakam. All algorithm produce different TSS value, algorithm 3 produces the biggest TSS value followed by the value of TSS generated from algorithms 1 and then from algorithm 2. Algorithms 1 and 2 show that TSS value in the water region of Delta Mahakam are in low grade (0- 100 mg / l), while the algorithm 3 shows the diversity TSS value. Distribution of TSS using all three Guzmán and Santaella (2009) algorithms has the same pattern in which the value of TSS is greater for location of water region near shoreline than the location of water region far away from the shoreline

    PEMBUATAN SISTEM INFORMASI PENDAFTARAN KADASTER 3D BERBASIS WEB (STUDI KASUS: RUMAH SUSUN GRUDO, SURABAYA)

    No full text
    Pada saat ini tingkat kebutuhan akan ruang sangat tinggi, sehingga dirasakan konsep ruang, baik hunian maupun komersial pada umumnya bangunan fisik yang berdiri di atas permukaan tanah (landed house) menjadi kurang efisien. Selain itu, pertumbuhan populasi manusia yang cukup tinggi menyebabkan meningkatnya kebutuhan akan lahan. Untuk mengatasi kebutuhan tersebut sejak tahun 1985 di Indonesia diperkenalkan konsep hunian secara vertikal. Salah satu contoh hunian vertikal yaitu Rumah Susun. Untuk bangunan rumah susun penerapan sistem kadaster dua dimensi (2D) menjadi kurang tepat, karena tidak dapat menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Keterbatasan persil 2D ini mendorong lahirnya konsep kadaster tiga dimensi (3D) yang diharapkan dapat memberikan kepastian hukum bagi kepemilikan atas bagian properti rumah susun. Pada pembuatan sistem informasi kadaster 3D, perlu dilakukan pembuatan model 3D dan basis datanya. Pembuatan model 3D dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak SketchUp Make, sedangkan untuk pembuatan basis data dilakukan dengan menggunakan perangkat lunak PostgreSQL. Setelah kedua komponen tersebut terbentuk, kemudian komponen tersebut dihubungkan dan divisualisasikan pada website. Dalam pembuatan website dilakukan dengan bahasa pemrograman HTML, CSS dan PHP. Pada penelitian ini berhasil dilakukan pembuatan model 3D dari Rumah Susun Grudo Surabaya dengan tingkat kedetailan dari model 3D yang dibuat didasarkan pada LOD1 (Level of Detail 1), dan pembuatan sistem basis data kadaster 3D. Selain itu, model 3D dari Rumah Susun Grudo berhasil divisualisasikan pada website Sistem Informasi Pendaftaran Kadaster 3D yang telah dibuat. Website tersebut dapat diakses secara online dengan domain www.tridisun-grudo.com. Dari website yang telah dibuat dilakukan pengujian dengan cara pemberian penilaian dari pengguna melalui kuesioner uji kebergunaan atau usability yang terdapat pada website. Berdasarkan hasil rekapitulasi uji kebergunaan total 94 responden dengan presentase hasil sebesar 84,56%, artinya website Sistem Informasi Pendaftaran Kadaster 3D dikategorikan sangat layak

    ANALISIS PERUBAHAN NILAI TANAH DI AREA LERENG GUNUNG KELUD PASCA ERUPSI 2014 (Studi Kasus: Kecamatan Ngancar, Kabupaten Kediri)

    No full text
    Gunung Kelud merupakan salah satu gunung api aktif di Pulau Jawa. Gunung ini terakhir erupsi pada tahun 2014. Erupsi gunung ini mengakibatkan kerusakan pemukiman, kerusakan fasilitas umum, serta kerusakan lading-landang masyarakat sekitar Gunung Kelud yang menyebabkan gagal panen. Terjadinya perubahan kondisi fisik suatu wilayah dapat memicu perubahan nilai tanah di tersebut. Melihat status gunung yang aktif, keadaan seperti ini bisa dipastikan akan terulang di kemudian hari. Sehingga perlu adanya penelitan tentang perubahan nilai tanah di area lereng Gunung Kelud untuk mengetahui seberapa pengaruh erupsi gunung terhadap nilai tanah. Penelitian ini dilakukan dengan menumpang susunkan peta zona nilai tanah Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri tahun 2013, 2014, dan 2015 menggunakan perangkat lunak pengolah data spasial. Untuk mengetahui besar nilai tanah yang terjadi di lokasi penelitian. Data perubahan nilai tanah tersebut kemudian dilakukan uji korelasi dan regresi linear berganda dengan variabel bebas yang sudah ditentukan yaitu jarak zona terhadap pusat letusan, jarak zona dari CBD, dan jarak zona dari jalan kolektor. Tujuannya ialah mengetahui seberapa besar pengaruh erupsi Gunung Kelud dan variabel lainnya terhadap perubahan nilai tanah. Berdasarkan penelitian yang telah dilakukan, terjadi perubahan nilai tanah di Kecamatan Ngancar Kabupaten Kediri. Menurut hasil uji korelasi, erupsi Gunung Kelud 2014 tidak memiliki pengaruh yang besar terhadap perubahan nilai tanah. Dari hasil analisa regresi linear berganda yang dilakukan variabel yang dipilih hanya mampu menggambarkan 11,9% pada tahun 2013-2014 dan 47,7% pada tahun 2014-2015. Sehingga masih banyak faktor lain yang belum diketahui sebagai penyebab perubahan nilai tanah di Kecamatan Ngancar

    ANALISIS SEBARAN TOTAL SUSPENDED SOLIDS (TSS) DAMPAK BENCANA LUMPUR SIDOARJO MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT MULTI TEMPORAL ( STUDI KASUS : SUNGAI PORONG, SIDOARJO)

    No full text
    Sungai Porong merupakan area pembuangan Lumpur Lapindo, tidak menutup kemungkinan bahwa dengan adanya aliran lumpur lapindo mengakibatkan material lumpur tidak banyak mengendap di sepanjang sungai, tetapi mengendap di daerah muara Sungai Porong hingga ke sepanjang pantai . Oleh karena itu metode penginderaan jauh dengan citra satelit dapat menjadi solusi untuk melakukan penelitian masalah TSS (Total Suspended Solids) yang menjadi salah satu parameter dampak sedimentasi di daerah perairan tersebut. Citra satelit yang digunakan dalam penelitian ini adalah citra Landasat 8 L1T hasil perekemanan secara multi temporal pada tahun 2014 sampai dengan tahun 2016 sehingga dapat diketahui nilai dan persebaran TSS. Penelitian ini menggunakan 3 algoritma untuk menentukan nilai TSS yaitu , algoritma Guzman dan Santaella (2009), algoritma Syarif Budiman (2004), dan algoritma Laili (2015). Waktu penelitian dilakukan pada musim penghujan yang dilakukan pada bulan april. Daerah penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Muara Sungai Porong yaitu di sepanjang pesisir pantai Surabaya – Sidoarjo. Dari hasil pengolahan data dan analisa didapatkan nilai TSS dari tahun 2014 – 2016 bervariasi antara 1.4 mg/l – 118 mg/l. Uji validasi nilai TSS yang paling baik dalam penelitian ini adalah perhitungan menggunakan algoritma Laili (2015) dengan Koefisien Determinasi (R) sebesar 73,81 % dan regresi linier (R2) sebesar 0.5449. Daerah yang mengalami dampak sebaran TSS tinggi adalah muara Sungai Porong, Pantai Pasuruan, muara Kali Alo, selatan Sungai Porong, dan daerah pantai utara Kali Alo

    PEMBUATAN PETA DASAR SKALA 1:5000 MENGGUNAKAN CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI (CSRT) PLEIADES 1-A SEBAGAI ACUAN PEMBUATAN PETA RDTR PADA BAGIAN WILAYAH PERKOTAAN (BWP) LUMAJANG, KABUPATEN LUMAJANG

    No full text
    Peta dasar merupakan peta yang menyajikan unsur-unsur alam dan atau buatan manusia, yang berada di permukaan bumi, digambarakan pada suatu bidang datar dengan skala, penomoran, proyeksi, dan georeferensi tertentu digunakan sebagai acuan dalam pembuatan peta tematik yang digunakan dalam penyusunan peta rencana tata ruang  yang sesuai dengan ketelitian dan spesifikasi teknis yang meliputi kerincian, kelengkapan data dan atau informasi georeferensi dan tematik, skala, akurasi, format penyimpanan digital termasuk kode unsur, penyajian kartografis mencakup simbol, warna, arsiran dan notasi serta kelengkapan muatan peta (Peraturan Kepala  BIG No 16, 2014). Sesuai dengan  isu penataan ruang yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas Perencanaan Tata Ruang dengan mewujudkannya pembuatan peta) Kabupatn/Kota dala skala 1:5000 atau 1:10000. Rencana Detil Tata Ruang (RDTR) dalam pembutannya menggunakan peta RBI skala 1:5000, namun jika belum tersedia, dapat menggunakan citra satelit resolusi tinggi atau foto udara sebagai dasar update  dan harus dilakukan koreksi secara geometris terlebih dahulu. Pleiades merupakan satelit penghasil citra satelit resolusi tinggi yang menghasilkan data citra satelit dalam dua moda, yaitu moda pankromatik dan moda multispektral. Bagian Wilayah Perkotaan (BWP) Kecamatan Lumajang merupakan bagian dari kawasan strategis kabupaten Lumajang yang perlu disusun rencana rincinya sesuai arahan atau yang ditetapkan di dalam RTRW kabupaten Lumajang. Metode yang dignakan dalam pembuatan peta ini adalah dengan dgitai unsur dasa yangterdapt pada citra, dengan melakukan analisa spasial. Sehingga didapatkanhasil berua pea dasar skala 1:5000 ada wilayah BWP Lumajang yang dapat digunakan sebai acuan pembuatan peta RDTR

    STUDI TENTANG PEMBANGUNAN PELABUHAN CILAMAYA DITINJAU DARI ASPEK TEKNIS (Studi Kasus : Pelabuhan Cilamaya Karawang)

    No full text
    Cilamaya port is a commercial port located in Karawang regency. Currently the Port Cilamaya is still in the first stage of construction process. Information about bathymetry and sea bottom sediments is needed to support post-development shipping lines. This research aims to provide information about bathymetry and define the depth of shipping lines. This research was carried out  on March -  2015 in Cilamaya port area. The data used for the research are sounding data recorded by  Singlebeam echosounder Kongsberg EA400, tide data, and sediment sample of Cilamaya waters , and the data was processed using software Caris Hips and Sips 8.1, Surfer 12, AutoCad Land Desktop 2007 and ArcGIS 10.1. The results showed that Cilamaya waters of Cilamaya Port is categorized into shallow waters with the depth on survey location ranged from 0.615 m - 10.684 m. Sea bottom morphology was flat with average slope 0.76%  and it was categorized flat to almost flat. Sea bottom  sediments is dominated by muddy sand. shipping lanes currently used by general cargo (General Cargo) and tankers ship with DWT value (Death Weight Tonnage) 5000 with minimum depth of 6.1 m and width of 130 m. Shipping lane plans for container ship  with 10000 maximum value of DWT (Dead Weight Tonnange) was required  minimum depth of 10.3 m. To optimize shipping line  planning required capital dredge for shipping line area which have a depth of less than 10.3 m

    ANALISIS KECEPATAN ARUS UNTUK PENENTUAN LOKASI PEMBANGUNAN MARINE CURRENT TURBINE DI PANTAI SELATAN JAWA

    No full text
    Energi pembangkit fosil merupakan faktor terbesar terjadinya kerusakan lingkungan yang menyebabkan terjadinya pemanasan global, hujan asam, dan perubahan iklim. Selain itu, energi fosil yang semakin menipis dan tidak dapat diperbarui kembali mendorong penggunaan energi terbarukan yang dirasa lebih efisien dan tidak merusak lingkungan. Salah satu energi terbarukan yang sedang dikembangkan oleh beberapa negara maju yakni energi kelautan yang berasal dari pengaruh fenomena pasang surut air laut. Keuntungannya adalah dapat diprediksikan berdasarkan waktu dan karakter pasang surut yang terjadi di suatu tempat. Lokasi penelitian berada di Pantai Selatan Jawa yang memiliki kecepatan arus yang cukup tinggi karena berbatasan langsung dengan Samudera Hindia. Pada penelitian ini dilakukan dengan melakukan pemodelan numerik terhadap aliran fluida 3D yang menghasilkan kecepatan arus dan digunakan untuk penentuan lokasi pembangunan MCT. Pemodelan dilakukan dengan menggunakan beberapa parameter seperti data batimetri, data garis pantai, data pasang, serta data kecepatan arus geostropik dari satelit altimetri. Waktu pemodelan didasarkan pada data curah hujan tahun 2016. Untuk perhitungan estimasi energi yang dihasilkan menggunakan parameter MCT yang memiliki diameter 16 m, 18 m dan 20 m, kedalaman 30 sampai dengan 40 m serta kecepatan arus minimum 1,5 m/s. Dari hasil pemodelan didapatkan, terdapat 124 titik lokasi pembangunan MCT yang memiliki estimasi energi per bulan sebesar 166,900 MWh pada bulan Maret yang mewakili curah hujan teredah dan 159,416 MWh pada bulan Oktober yang mewakili curah hujan tertinggi

    PEMANFAATAN TEKNOLOGI PENGINDERAAN JAUH DAN SISTEM INFORMASI GEOGRAFIS UNTUK ANALISIS SPASIAL TINGKAT KEKERINGAN WILAYAH KABUPATEN TUBAN

    No full text
    Tuban Regency is one of the districts in East Java which is a drought-prone area. Based on the Indonesian Disaster Risk Index (IRBI) data released by the Disaster Management Agency (BNPB) in 2013, Tuban received a score of 24 for the drought disaster risk index, which scores are categorized as high risk for drought. The purpose of this research is to know the distribution of drought risk areas in Tuban Regency by utilizing remote sensing data integrated with the physiographic condition of the region that affect the drought which is then grouped into 5 classes of drought levels, namely: very low, low, medium, high, and very high . The data required in this study are: Normalized Different Vegetation Index (NDVI) map, Normalized Different Water Index (NDWI) map, Land Surface Temperature (LST) map, average rainfall map, hydrogeological map, and land use map. From the data processing, it is found that most of the area in Tuban Regency is categorized into a high drought category of 119,388.50 hectares or 60.60% of the total area, while the lowest is the very low drought category that is only 180.48 hectares or 0.09 % of total area.   Keywords: Tuban Regency, Drought, Remote Sensing, Geographic Information System

    ANALISIS AKURASI CITRA MODIS DAN LANDSAT 8 MENGGUNAKAN ALGORITMA NORMALIZED BURN RATIO UNTUK PEMETAAN AREA TERBAKAR (Studi Kasus: Provinsi Riau)

    No full text
    Forest fires have become a serious threat to society globally in the last decade, it is closely related to the destruction of the environment and natural resources that exist in the world, especially in tropical countries like Indonesia have a lot of forest. Riau Province is one of eight provinces were declared disaster prone to forest fires. In this research will be processing of satellite imagery with different spatial resolution and uses the same method to get the same results, the burned area. The imagery used is Landsat 8 imagery with a spatial resolution of 30 meters and MODIS imagery with a spatial resolution of 250 meters using NBR (Burned Normalized Ratio). By comparing two different data, it can be specified accuracy assessment of both images that have different resolutions. Assessment of accuracy to be achieved is the extent of the burned area agreement, related comission error, omission related error, independent comission independent error and omission error. The results of this study showed burned area classification results Landsat 8 30 meters area of 125,923.790 hectares and MODIS image classification results of 250 meters area of 171,045.154 hectares. While the results of the analysis of the accuracy of the results obtained burned areas agreement 40200.882 hectares, related commission errors 94633.149 hectares, related omission errors 44744.897 hectares, independent comission error 23165.602 hectares, and independent ommission error 21766.780 hectares

    ANALISA PERBANDINGAN KOORDINAT HASIL PENGUKURAN TERRESTRIAL LASER SCANNER (TLS) DAN ELECTRONIC TOTAL STATION (ETS)

    No full text
    TLS (Terrestrial Laser Scanner) merupakan salah satu equipment teknologi terbaru dalam melakukan pengukuran terestris. Penggunaan alat ini akan mampu menghemat waktu dan tenaga untuk melakukan proses pengukuran. Aplikasi penggunaan TLS semakin meluas pada kalangan surveyor dan ahli ilmu kebumian karena TLS ini mampu mengambil banyak data titik yang sangat rapat (point-cloud) dan akurat dalam waktu yang cepat. Penelitian ini melakukan analisa hasil pengukuran koordinat TLS dengan ETS (Electronic Total Station) sebagai pembanding. Analisis yang dilakukan adalah selisih nilai koordinat dari data TLS dengan ETS dianggap sebagai nilai kesalahan sistematis. Hasil penelitian ini dilakukan pada sebuah ruang dengan luas dan bentuk tertentu. Akuisisi data ETS dilakukan dengan melakukan proses pengukuran koordinat pada target yang telah tersebar didalam ruangan. Sedangkan untuk akuisisi data TLS dilakukan dengan melakukan pemindaian pada setiap ruangan yang telah tersebar targetnya. Hasil penelitian menunjukkan terdapat selisih nilai koordinat masing-masing adalah : koordinat X sebesar 0.003 m, koordinat Y sebesar 0.004 m, dan koordinat Z sebesar 0.001 m

    41

    full texts

    504

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Geoid (E-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇