Geoid (E-Journal)
Not a member yet
504 research outputs found
Sort by
EVALUASI PENURUNAN TANAH KAWASAN LUMPUR SIDOARJO MENGGUNAKAN GPS GEODETIK DAN PERANGKAT LUNAK GAMIT/GLOBK
Peristiwa alam yang terjadi di Indonesia banyak sekali terjadi, dikarenakan lokasi geografis Indonesia dan tatanan tektonik yang sering memicu peristiwa alam. Salah satu peristiwa alam yang terjadi di Indonesia adalah lumpur Sidoarjo. Lumpur Sidoarjo atau lebih dikenal sebagai lumpur Lapindo, adalah peristiwa yang terjadi akibat munculnya lumpur panas dan gas dari lokasi pengeboran PT. Lapindo Brantas di Dusun Balongnongo, Desa Renokenogo, Kecamatan Porong, Kabupaten Sidoarjo, Jawa Timur. Fenomena yang terjadi pada lumpur Sidoarjo ini disebut mudflow. Dampak yang ditimbulkan oleh adanya peristiwa mudflow khususnya lumpur Sidoarjo ini adalah adanya fenomena penurunan tanah/amblesan (land subsidence) di sekitar kawasan tersebut.
Terletak di pemukiman padat penduduk, penurunan tanah/land subsidence menjadi salah satu faktor yang harus diawasi. Penurunan tanah (land subsidence) terjadi secara perlahan sehingga analisanya perlu dilakukan secara berkala (fungsi waktu). Pemantauan land subsidence dapat dilakukan dengan beberapa metode, salah satunya menggunakan Global Navigation Satellite System (GNSS) khususnya Global Positioning System (GPS, satelit milik Amerika Serikat). Selain penggunaan GPS Geodetik dan CORS, penelitian ini digunakanlah perangkat lunak GAMIT/GLOBK.
Dari analisa hasil pengamatan di lapangan pada April, Mei, Juni, dan Oktober 2016 terlihat adanya penaikan tertinggi dan penurunan. Nilai penurunan terendah adalah -0,26709 m pada titik TTG 1307 dan penaikan tertinggi adalah 0,08758 m pada titik VK14. Terdapat 14 titik yang mengalami penurunan tanah secara signifikan (TTG 1304, TTG 1305, TTG 1307, BPN PT01, BPN PT06, BT01, BT03, BW08, BW13, GEMPOL NEW, KD01, KJ01, BPN PT11, dan VK13), dan terdapat lima titik yang mengalami penurunan tanah bersifat tidak signifikan atau hanya bersifat numeris (BM ARTERI, KB01, BM MARITIM, VK09, dan VK14)
ANALISIS KETELITIAN AZIMUT PENGAMATAN MATAHARI DAN GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS) (Studi Kasus : Kampus ITS Sukolilo, Surabaya)
Dalam melakukan penentuan posisi, selalu dibutuhkan azimut. Padahal, pekerjaan-pekerjaan yang menyangkut kemampuan disiplin ilmu geodesi membutuhkan suatu penentuan azimut. Prinsip dalam menentukan azimut ada beberapa cara, antara lain dengan cara melakukan pengamatan benda -benda langit atau dengan dua titik pengukuran yang sudah diketahui koordinatnya. Pada penelitian ini cara yang digunakan adalah dengan pengamatan matahari dan pengamatan dengan GPS (Global Positioning System) . Untuk pengamatan matahari, metode yang digunakan adalah tinggi matahari, sedangkan untuk pengamatan dengan GPS digunakan metode diferensial yang diikatkan di titik CORS (Continuously Operating Reference Stations) ITS. Metode tinggi matahari dipilih karena memiliki keunggulan pengamatannya dapat dilakukan saat waktu pagi dan sore, sedangkan metode diferesial dipilih karena memiliki keunggulan dapat mengeliminir atau mereduksi pengaruh dari beberapa kesalahan dan bias (Abidin,2007). Dari hasil perhitungan tiga nilai azimut dari pengamatan matahari memberikan rata – rata ketelitian sebesar 4 menit 48,5 detik dan hasil dari pengamatan Global Positioning System (GPS) memberikan nilai rata – rata ketelitian sebesar 7,24 detik terhadap tiga nilai azimut dari dua titik BM referensi. Nilai azimut pengamatan GPS lebih teliti daripada pengamatan tinggi matahari yang dibandingkan terhadap nilai azimut dari dua titik BM referensi
IDENTIFIKASI FITUR DASAR LAUT DENGAN MENGGUNAKAN DATA SONAR
Peta laut (nautical chart) merupakan representasi gambar objek permukaan dan bawah permukaan di wilayah laut dan pesisir yang berisi informasi tentang kedalaman laut, topografi pantai, garis pantai, detil alami dan buatan (pelabuhan, bangunan pantai), pasang surut air laut, arus laut, bahaya navigasi dan fitur dasar laut. Fitur dasar laut (seabed features) merupakan salah satu informasi yang sangat penting yang harus disajikan dalam peta laut untuk keselamatan navigasi di laut. Ada beberapa teknik dan metode yang dapat digunakan untuk mendeteksi fitur dasar laut yaitu dengan menggunakan single beam echosounder, multi beam echosounder, side scan sonar, fotografi dan videografi dasar laut. Penggunaan gelombang suara (sonar) dalam hal pendeteksian fitur dasar laut direkomendasikan oleh International Hydrographic Organizations yang dituangkan dalam Special Publication No. 44 Edisi Kelima Tahun 2008 (IHO, 2008). Penelitian ini bertujuan untuk mendeteksi fitur dasar laut di Perairan Kepulauan Riau dengan menggunakan data Sonar yaitu multibeam echosounder, single beam echosounder dan side scan sonar. Identifikasi dengan kedua data tersebut menunjukkan bahwa fitur dasar di Perairan Kepulauan Riau meliputi batuan dasar (84,7%), galian (3,1%) dan gelombang pasir (12,2%). Objek buatan dasar laut yang teridentifikasi adalah pipa bawah laut dengan total panjang pipa 1636,7 m
ANALISIS DAERAH PENANGKAPAN IKAN PADA MASA PERALIHAN I DAN II MENGGUNAKAN DATA ALTIMETRI (STUDI KASUS: SELAT BALI)
Potensi perikanan di Indonesia sangat besar karena hal ini didukung oleh wilayah Indonesia yang hampir dua pertiganya berupa laut. Salah satu wilayah yang kaya akan perikanannya adalah di Selat Bali. Oleh karena itu, diperlukan metode yang dapat digunakan sebagai acuan untuk mengidentifikasi persebaran dan Daerah Penangkapan Ikan (ZPPI). Salah satu metode yang dapat digunakan adalah metode pemodelan numerikal menggunakan data altimetri yaitu data arus geostropik dan data tinggi muka laut absolut yang ditumpang susun sehingga identifikasi daerah penangkapan ikan dapat dilakukan. Selain itu juga diperlukan data tambahan dari parameter oseanografi lainnya untuk meningkatkan keakuratan Daerah Penangkapan Ikan di wilayah Selat Bali. Dari hasil penelitian didapatkan kecepatan arus geostropik Tanggal 11 April 2012 memiliki kecepatan minimum 0,001 m/s dan kecepatan maksimum 1,122 m/s sedangkan Kecepatan arus geostropik Tanggal 09 Oktober 2012 memiliki kecepatan minimum 0,004 m/s dan kecepatan maksimum 0,670 m/s. Tinggi muka laut pada Tanggal 11 April 2012 minimum 0,852 m dan maksimum 1,094 m sedangkan tinggi muka laut pada Tanggal 09 Oktober 2012 minimum 0,737 m dan maksimum 0,840 m. Anomali tinggi muka laut pada Tanggal 11 April 2012 mempunyai nilai tinggi minimum -0,082 m dan tinggi maksimum 0,160 m, sedangkan anomali tinggi muka laut pada Tanggal 09 Oktober 2012 nilai tinggi minimum -0,038 m dan tinggi maksimum 0,065 m. Korelasi antara Kecepatan arus geosptropik dan anomali tinggi muka laut pada Tanggal 11 April 2012 mempunyai nilai sebesar 0,664 m, sedangkan pada Tanggal 09 Oktober 2012 mempunyai nilai 0,697 m.Terdapat pergeseran antara Daerah Penangkapan ikan pada masa peralihan I dan II. Hal ini dikarenakan tinggi muka laut yang semakin menurun dari bulan April hingga Oktober 2012. Oleh karena itu, diperlukan survei primer ke Selat Bali untuk mendapatkan validasi data jenis ikan yang berada di Zona yang dianggap sebagai ZPPI
VISUALISASI MODEL 3D UNTUK SISTEM INFORMASI PENGGUNAAN GEDUNG (Studi Kasus : Gedung Teknik Geomatika, UPMB dan UPMS Kampus ITS)
Buildings serve several needs of society – primarily as shelter from weather, security, living space, privacy, to store belongings, and to comfortably live and work, including using it for classes in ITS Surabaya. The development of information provision can be done by improving the visual aspect and the accuracy of the information as well. It is time to begin improving the 3D visualization which accommodates the space aspect. 3 dimensional approach deemed appropriate for the provision of management information related to the building utilization. In this case, it is about classrooms.There are several phases in 3D modeling integrated with the non-spatial database to make a system that provide the information about building utilization. Those are the data collection process, 3D model visualization, creating a database for textual data, relating spatial data and non-spatial data and creating the interface which will provide the whole information using Visual Studio. 3D modeling data obtained from the building blueprint construction by PIMPITS and the class schedules obtained from UPMB ITS. The final outcome from the visualization of the 3D models contains 3 buildings with a total of 138 rooms with 72 rooms in Geomatics Engineering, 36 rooms in UPMB and 30 rooms in UPMS. Yet the 3D model had connected with the non-spatial database which contains 7 tables and queries that provides the information of the objects
ANALISIS KETELITIAN HORIZONTAL ORTHOREKTIFIKASI CITRA PLEIADES UNTUK PEMBUATAN PETA DASAR RDTR PESISIR (Studi Kasus : Kecamatan Semampir, Kota Surabaya)
The quality of accuracy and precision was the main problem in survey and mapping. One of the problems these there were in remote sensing, namely in the geometric correction is orthorectification on the satellite image. Products from orthorectification is needed in the manufacture of large-scale maps of 1: 5000 as for the purpose of detailed spatial plan map. The data used for the orthorectification process is a high resolution image of the Pleiades, a Ground Control Point and DEM Alos PALSAR. DEM used as elevation data to correct or eliminate the influence of relief displacement of image data due to variations in the earth's surface terrain. In this study, using seven of ground control points spread evenly on the location of the research, which is in District Semampir, Surabaya. The ground control points obtained through direct measurements in the field with GPS Geodetic using static methods. Orthorectification method using Rigorous. The results of this study indicate CE90 and LE90 values using the Rigorious methods, geometric precision can be seen from the CE90 and LE90 where the smaller the value, the result of more thorough and accurate image. For eligibility image, obtained by multiplying the value of the coefficient RMSE and thoroughness in which the image of the Pleiades 1 qualifies a map scale of 1: 5000
PEMANFAATAN CITRA MODIS LEVEL 1B DALAM PEMBUATAN PETA PRAKIRAAN DAERAH PENANGKAPAN IKAN (Studi Kasus : Pantai Selatan Blitar)
The potential of marine resources in Blitar quite large but utilization is not optimal, so it requires a Regional Forecast Map Fishing in order to exploit the potential of fishery resources there is more optimal. Determination of the area forecast use of the fish can be predicted from the parameters of sea surface temperature and chlorophyll-a. Modis image level 1b can be used in the manufacture of the forecast utilization of fish pennagkapan area. Used algorithm ATBD (Theoretical Basic Document Encryption Modis) 25 to determine sea surface temperature and Algorithms Morel 4 is used to determine the chlorophyll-a. The results obtained from this study is the RMSE test conducted between field data with the data Modis image of RMSE 1b level of 0.706568, with forecasts of fishing areas and potentially potent enough
ANALISIS PERUBAHAN DAERAH POTENSI IKAN MENGGUNAKAN CITRA SATELIT MODIS LEVEL 1B (STUDI KASUS : SELAT BALI)
Bali Stait is a fishery potential strait which located between Java and Bali Island. Bali Strait has much nutriens, which the nutrients are source of food for fish, because the influence of Java Sea and Indian Ocean. Remote sensing technology is used to make maps of fishery potential areas to optimalize the fishery potential of Bali Strait. On this research, fishery potential area is identified by some parameters. The parameters are 0.2 mg/L – 1 mg/L concentration of chlorophyll-a, 20ºC - 30ºC sea surface temperature and having >= 0.5ºC front thermal. The parameters are obtained from data processing of MODIS satellite imagery. OC3M algoritm is used to process concentration of chlorophyll-a meanwhile sea surface temperature (SPL) is precessed by Minnet algoritm (2001). The overlay results of both parameters are used to identify front thermal based on 4km x 4km sized fishing net (fishnet). The results of the research indicate that the greatest number of fishery potential areas are happened on April 2012 which the numbers are about 45 fishery potential areas. Significant decreasing of fishery potential areas is happened on October 2012 with only one remaining area of fishery potential. On May 2013 fishery potential areas increase to 22 areas. The results show that Bali strait has more fishery potential areas on April and May than October
METODE KALIBRASI IN-FLIGHT KAMERA DIGITAL NON-METRIK UNTUK KEPERLUAN CLOSE-RANGE PHOTOGRAMMETRY
Perkembangan perangkat lunak yang tersedia dan turunnya harga kamera digital non-metrik membuat metode Close Range Photogrammetry (CRP) menjadi salah satu teknik alternatif untuk diterapkan pada pekerjaan-pekerjaan survey dan pengukuran seperti penentuan dimensi fisik maupun penyajian informasi visual objek yang cepat dan akurat. Untuk itu dilakukan sebuah uji coba dengan menggunakan metode CRP dalam aplikasi pengukuran titik kontrol. Pada penelitian ini dilakukan analisa pengukuran titik kontrol sampling dengan metode terestris serta pengukuran titik kontrol dengan metode CRP menggunakan Kamera Sony Exmor. Pengambilan data foto udara untuk CRP dilakukan dengan 9 orientasi pengambilan foto pada saat pemotretan udara dan setelah itu dilakukan kalibrasi kamera In-Flight dengan menggunakan bundle adjustment self calibration yang menghasilkan parameter IOP (Interior Orientation Parameter) dan EOP (Exterior Orientation Parameter). Dari hasil pengujian kamera memiliki nilai RMS sebesar 0.56 piksel pada tahap kalibrasi In-Flight. Titik sampling yang dihasilkan dengan metode CRP dibandingkan dengan hasil titik sampling metode terestris menghasilkan RMS sebesar 0.104 m, yang berpengaruh terhadap pergeseran pada titik sampling foto, di mana pergeseran linier terbesar terjadi pada titik sampling CRP koordinat Y sebesar 0.187 m dan koordinat X sebesar 0,173 m sehingga dapat disimpulkan bahwa metode CRP dapat digunakan untuk pemetaan skala besar dengan area yang relatif kecil
PERBANDINGAN PERUBAHAN TOTAL ELECTRON CONTENT (TEC) IONOSFER AKIBAT GEMPA BUMI DAN LETUSAN GUNUNG API (STUDI KASUS : GEMPA BUMI 2 MARET 2016 DAN GUNUNG MERAPI 2010)
Pada saat gempa bumi atau letusan gunung api terjadi, ada tiga jenis gelombang yang dihasilkan, yaitu : (1) Gelombang Acoustic (kecepatan 1 km/s) yang dihasilkan dekat dari pusat gempa bumi, gelombang tersebut bergerak naik ke arah vertikal hingga ketinggian lapisan F di ionosfer dalam waktu 10 menit atau lebih. (2) Gelombang gravity (kecepatan 0.3 km/s) yang dihasilkan dari gelombang tsunami akibat dari gempa bumi, dan (3) Gelombang Rayleigh (kecepatan 4 km/s) yang dihasilkan dari epicenter dan bergerak secara bersamaan baik horisontal-vertikal, gelombang ini merambat menjauh mengelilingi bumi dari pusat gempa bumi. Gelombang-gelombang ini membuat gangguan di lapisan ionosfer yaitu pada kerapatan elektron. Kerapatan elektron pada lapisan ionosfer ini disebut dengan Total Elektron Content (TEC). Fenomena ini terdeteksi sebagai CIDs (Coseismic Ionosphere Disturbances), yaitu fluktuasi TEC yang terjadi 15 menit hingga 30 menit setelah gempa terjadi. Di sisi lain, satelit GNSS beredar pada ketinggian 20.000 km dari permukaan bumi dengan memancarkan sinyal melewati lapisan ionosfer pada ketinggian 350 km. Sinyal tersebut mengalami delay ketika melewati lapisan ionosfer, berupa arah, kecepatan, dan kekuatan. Di sisi lain, dengan mengamati delay ini maka gangguan ionosfer yang disebabkan oleh gelombang acoustic dapat dianalisa dan diamati.
Gangguan TEC yang disebabkan oleh gunung api dan gempa bumi mempunyai karakter yang berbeda, perbedaan karakteristik gangguan ionosfer terletak pada besaran amplitude, frekwensi gelombang dan lama gangguan setelah terjadinya letusan gunung merapi maupun gempa bumi. Amplitude pada letusan gunung api sebesar ....dan gempa bumi sebesar...., demikian pula durasi terjadinya gangguan pada letusan gunung api terjadi pada....menit setelah meletus, sedangkan pada gempa bumi terjadi pada ...menit setelah terjadinya gempa bumi. Dalam penelitian ini dilakukan pengamatan perubahan menggunakan data GNSS dari stasiun CORS milik Badan Informasi Geospasial (BIG) yang berada di daerah Sumatra, yaitu stasiun CAIR, CBKT, CPAR, CPDG, dan CSEL. Dan di daerah jawa tengah yaitu....., juga beberapa stasiun Sumatra GPS Array yang dimiliki oleh LIPI dan ...Hasil dari pengolahan data menunjukkan anomali TEC muncul pada waktu 11 – 15 menit setelah gempa dengan besar anomali 1,5 – 3,5 TECU yang direkam oleh satelit GPS nomor 17 dan 0,5 – 1,7 TECU yang direkam oleh satelit Glonass nomor 14