Geoid (E-Journal)
Not a member yet
504 research outputs found
Sort by
KORELASI MULTIVARIATE EL NIÑO SOUTHERN OSCILLATOR INDEX DAN VARIASI PERMUKAAN LAUT DI PERAIRAN INDONESIA
Lautan Indonesia merupakan wilayah perairan yang merupakan penghubung antara Lautan Pasifik dan Lautan Hindia, serta Laut China Selatan. Variasi permukaan laut yang relatif tinggi di bagian barat Lautan Pasifik mempengaruhi variasi laut di perairan Indonesia. Salah satu penyebab variasi permukaan laut di kawasan ini adalah pengaruh fenomena El Niño Southern Oscillation. Penelitian ini bertujuan melakukan perhitungan korelasi antara El Niño Southern Oscillation dan variasi permukaan laut di perairan Indonesia. Hitungan korelasi menggunakan Multivariate El Niño Southern Oscillation memberikan hasil adanya korelasi kuat negatif antara El Niño Southern Oscillation dan variasi permukaan laut sebesar -0,8
IDENTIFIKASI TINGKAT STRES TANAMAN PADI DENGAN RICE PADDY STRESS INDEX (RPSI) PADA CITRA LANDSAT-8
Padi merupakan merupakan makanan pokok utama bagi masysrakat Indonesia. Hampir 95 % masyarakat Indonesia mengkonsumsi padi. seiring dengan peningkatan jumlah penduduk di Indonesia maka tingkat konsumsi padi setiap tahunnya mengalami peningkatan. Namun disisi lain, jumlah lahan sawah mengalami penurunan karena adanya perkembangan permukiman dan industri. Akibatnya usaha pemenuhan kebutuhan konsumsi beras harus lebih mengedepankan metode intensifikasi pertanian. Program intensifikasi pertanian ini memerlukan data penunjang yang baik. Salah satu data penunjang yang dibutuhkan adalah kondisi kesehatan tanaman yang dapat direpresentasikan dalam data tingkat stres tanaman padi.
Pemantauan tingkat stres tanaman padi dapat dilakukan dengan menggunakan metode penginderaan jauh berbasis citra satelit. Salah satunya citra satelit Landsat-8 dengan algoritma tertentu. Dalam penelitian ini dibentuk suatu modifikasi algoritma Rice paddy Stress Index (RPSI) yang diperoleh dengan mengintegrasikan Leaf Water Canopy Index (LWCI) dan Enhanced Vegetetion Index (EVI). LWCI digunakan sebagai representasi kandungan air pada vegetasi dan EVI digunakan sebagai representasi tingkat kehijauan tanaman yang terkait dengan kandungan klorofil. Tanaman yang mengalami penurunan kesehatan maka akan mengalami penurunan kandungan klorofil dan air.
Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahawa pada tahun 2015 musim tanam 2 di Kabupaten Kendal terdapat 1696,26 ha sawah terindikasi mengalami stres dan 3493,85 Ha sawah memiliki potensial stres . Hasil uji akurasii menunjukkan metode algoritma RPSI memiliki ketelitian sebesar 75% untuk penentuan tingkat stres tanaman padi
Penentuan Batas Pengelolaan Laut Dengan Metode Kartometrik (Studi Kasus : Sengketa Pulau Berhala)
Indonesia merupakan negara kepulauan yang terbentang dari Sabang sampai Merauke. dpat mendatangkan keuntungan dan juga ancaman bagi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Salah satu ancaman yang dapat timbul adalah mengenai permasalahan batas, baik di darat maupun di laut. Salah satu permasalahan batas di laut yaitu sengketa antara Provinsi Jambi dan Provinsi Kepulauan Riau terkait dengan kepemilikan Pulau Berhala.
Wilayah yang menjadi kajian dalam penelitian ini adalah Pulau Berhala yang berada di antara Provinsi Jambi , terletak pada 0º45’ - 2º45’Lintang Selatan dan 101º10’- 104º55’ Bujur Timur dan Provinsi Kepulauan Riau yang terletak pada 1º10 Lintang Selatan - 5º10’ Lintang Utara dan 102º50’ - 109º20’ Bujur Timur.
Penarikan batas sejauh 12 mil laut untuk wilayah kewenangan provinsi sesuai dengan Permendagri Nomor 76 Tahun 2012 diperoleh dengan buffering menggunakan Arc GIS 10.2. Penarikan garis batas secara kartometrik menggunakan metode median line.
Dari hasil pengolahan data dan analisa didapatkan tiga alternatif penarikan batas antara Provinsi Jambi dan Provinsi Kepulauan Riau
WET TROPOSPHERIC CORRECTION’S IMPACT ON SEA LEVEL ANOMALY AROUND THE INDONESIAN SEAS
Global sea level rise in the satellite altimetry era is about 3 mm/yr. The one of main source of uncertainty of global sea level is the wet tropospheric from onboard microwave radiometer which is up to 0.3 mm/yr. The focus of this study is to assess of various wet tropospheric correction impact on sea level anomaly in the Indonesian seas. The result of sea level anomaly linear trend difference between Global Navigation Satellite System and Microwave Radio Meter or ECMWF Re-Analysis Interim is 0.18 mm/yr in agreement with the global wet tropospheric uncertainty
ANALISA PENENTUAN POSISI HORISONTAL DI LAUT DENGAN MAPSOUNDER DAN AQUAMAP
Salah satu komponen dalam survey hidrografi ataupun survey bathimetri di laut adalah pengukuran posisi horisontal. Perkembangan teknologi Global Navigation Satellite System (GNSS), khususnya Global Positioning System (GPS) yang sangat pesat, sangat membantu dalam hal penentuan posisi horisontal di laut. Ada beberapa variasi metode dan teknik pengukuran dengan GPS untuk menentukan posisi di laut yaitu absolut dan diferensial (kinematic, real time kinematic dan real time DGPS). Saat ini banyak surveyor yang melakukan penentuan posisi dengan menggunakan GPS Navigasi yaitu Mapsounder dan Aquamap dengan alasan mudah dan murah. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisa ketelitian posisi horisontal di laut dengan menggunakan fish finder (Mapsounder dan Aquamap). Tingkat ketelitian posisi horisontal dapat diketahui dengan cara membandingkan posisi horisontal yang diperoleh dari GPS Internal fish finder dengan GPS Geodetik. Penghitungan nilai standar deviasi dilakukan untuk mengetahui nilai ketelitian posisi horisontal fish finder. Dimana hasil penelitian ini menunjukkan bahwa ketelitian posisi horisontal menggunakan Aquamap terhadap GPS Geodetik yang terikat dengan CORS adalah sebesar ± 1,474 m. Sedangkan ketelitian Mapsounder terhadap GPS Geodetik yang terikat dengan CORS adalah sebesar ± 2,537 m. Mengacu kepada IHO dan SNI, tingkat keakuratan data posisi horisontal Aquamap dan Mapsounder berada pada orde 1 (diatas 95%), yakni 100% untuk Aquamap dan 97,7% untuk Mapsounder
ANALISA VARIASI HARMONIK PASANG SURUT DI PERAIRAN SURABAYA AKIBAT FENOMENA EL-NINO
The influence of the El Nino phenomenon can also be studied and analyzed using tidal fluctuation data at sea level. Ups and downs are ups and downs of sea level caused by a combination of gravitational forces from the rotation of the moon, sun and Earth. In addition, changes in atmosphere such as changes in pressure, wind and temperature will affect tidal patterns and tidal activity. The results showed that MSL decrease during El Nino in Surabaya waters followed the linear equation with y = 114.1-0.3782x (R2 = 20,69%) with MSL decrease 4,347 cm during 2014-2015
STUDI ESTIMASI CURAH HUJAN PADA KONDISI CUACA EKSTREM TAHUN 2017 MELALUI CITRA MODIS LEVEL 1B DI PROVINSI JAWA TIMUR
Cuaca ekstrem merupakan keadaan atau fenomena fisik atmosfer pada waktu tertentu, berskala jangka pendek dan bersifat ekstrem. Citra satelit MODIS merupakan salah satu citra penginderaan jauh yang dapat digunakan untuk pemantauan curah hujan khususnya di wilayah tropis seperti Indonesia. Dalam kajian meteorologi, citra satelit MODIS dapat menyadap berbagai informasi terkait parameter pendukung curah hujan seperti halnya suhu permukaan awan (SPA) dan albedo awan (ALB). Dalam penelitian ini, pemantauan curah hujan dilakukan dengan cara estimasi menggunakan metode regresi linier berganda dengan parameter curah hujan aktual, suhu permukaan awan (SPA) dan albedo awan (ALB). Analisis spasial dilakukan untuk mengetahui pola curah hujan terhadap kondisi ketinggian wilayah di Provinsi Jawa Timur. Berdasarkan hasil penelitian, di dapatkan nilai korelasi (R) antara CH Aktual, SPA dan ALB pada persamaan regresi linier berganda sebesar 62,4% sedangkan nilai koefisien determinansi (R2) sebesar 0,390. Sedangkan, pada hasil perbandingan nilai CH Estimasi dengan CH Aktual di dapatkan nilai uji akurasi (RMSE) sebesar 8,643 mm/hari dan hasil uji korelasi (R) menunjukkan nilai 59,8% dengan koefisien determinansi (R2) sebesar 0,358. Kemudian, nilai intensitas curah hujan yang diperoleh dari citra MODIS berupa estimasi minimal pada bulan Oktober hingga Desember sebesar 0 mm/hari dan estimasi maksimal pada bulan Oktober sebesar 14,977 mm/hari, bulan November sebesar 18,515 mm/hari dan bulan Desember sebesar 15,332 mm/hari. Pada hasil analisis spasial menunjukkan bahwa ketiga kelas curah hujan (< 5 mm/hari, 5 – 20 mm/hari dan 20 – 50 mm/hari) tersebar di ketiga kelas ketinggian wilayah (Dataran Rendah, Dataran Sedang dan Dataran Tinggi) di Provinsi Jawa Timur, dengan luas luas wilayah curah hujan estimasi pada bulan Oktober terbanyak pada tanggal 27 Oktober 2017 sebesar 39.888 km2, pada bulan November terbanyak pada tanggal 28 November 2017 sebesar 47.584 km2 , sedangkan pada bulan Desember terbanyak pada tanggal 26 Desember 2017 sebesar 45.903 km2
METODE HYDRO ENFORCEMENT DATA LIDAR UNTUK PEMBUATAN DIGITAL TERRAIN MODEL OBYEK PERAIRAN PADA PETA RUPA BUMI INDONESIA SKALA 1:5000
Dalam membuat obyek perairan dari hasil akuisisi LiDAR diperlukan metode untuk membuat permukaan air lebih baik. Salah satu metode pembuatan DTM pada daerah perairan pada pengolahan data LiDAR adalah hydro enforcement. LiDAR (Light Detection and Ranging) merupakan sistem dari Airborne Laser Scanning (ALS). Di Indonesia masih jarang yang menggunakan gelombang hijau dalam pengambilan data LiDAR, sehingga gelombang infra merah menghasilkan nilai elevasi yang terbiaskan karena tidak dapat menembus kedalaman perairan. Dalam pembuatan DTM dibutuhkan kualitas DTM sesuai kontrol kualitas di petunjuk pelaksanaan pembuatan DTM hydro enforcement dari Badan Informasi Geospasial. Pengolahan DTM menggunakan metode hydro enforcement dimulai dari draping terrain badan perairan, menghilangkan mass point dalam perairan hingga pembentukkan breakline untuk badan perairan sesuai hasil draping yang mempunyai interval antar point cloud di badan perairan adalah 0.5 meter. Kemudian melakukan proses macro hydro enforcement pada software pengolahan LiDAR.
Hasil penelitian ini menunjukkan kualitas DTM dengan metode hydro enforcement memberikan visualisasi yang baik untuk perencanaan infrakstruktur dalam pembuatan irigasi, pintu air dan memberikan detail yang baik untuk pembuatan unsur hipsografi dalam Peta RBI skala 1:5000. Namun demikian, metode hydro enforcement ini masih terdapat kekurangan dari segi akurasi, sehingga perlu dilakukan pengambilan data lapanga
STUDI ANALISIS KETELITIAN GEOMETRIK CITRA SATELIT RESOLUSI TINGGI SEBAGAI PETA DASAR RENCANA DETAIL TATA RUANG PERINDUSTRIAN (STUDI KASUS : KAWASAN PT SIER SURABAYA)
PT SIER region has an area of 245 ha. In addition, PT SIER region is divided into three sub-districts, namely Rungkut District, Tenggilis Mejoyo District, and Gunung Anyar Disrict. In the industrial area in the mapping of the region that have used a detailed map of a large scale is a scale of 1: 5000 or more. The remote sensing technology is needed for making the maps.
Remote sensing technology is now used and applied in geoscience Indonesia for geospatial information on a local, regional, and globalThis research conducted data used for geometric correction is WorldView 2 satellite imagery with a spatial resolution of 2012 which is 0.46 meters and the Pleiades 1B in 2015 with a spatial resolution of 0.5 meters. In addition, the necessary data in this study are the coordinates of ground control points or so-called the Ground Control Point (GCP). The GCP coordinate data obtained from measurements in the field using geodetic GPS device. Measurements were performed using the static method for approximately 40 minutes. In doing geometric correction in this study using two methods, namely the transformation affine transformation and polynomial order 2
The results of this study indicate that the design of nets made to the GPS measurements have strength webs of 0.116274. The net strength has entered tolerance is <= 1. For the geometric correction to both images using two methods. In the method of affine value Root Mean Square Error (RMSE) for WorldView 2 is 0.306359 while the RMSE for the Pleiades 1B amounted to 0.319769. In order polynomial method 2, RMSE for WorldView 2 is 0.163263 while the RMSE for the Pleiades 1B amounted to 0.218205. The RMSE obtained both images can be used as a basis for making a map with a scale of 1: 500
Analisa Perbandingan Volume 3'S (TS, GNSS, &TLS)
Teknologi survei dan pemetaan semakin hari semakin berkembang. Saat ini untuk survei topografi, alat yang digunakan
adalah Total Station, GNSS, drone, dan Terrestrial Laser Scanner. Pada penelitian ini akan mengukur 2 stockpile dan membandingkan hasil perhitungan volume dari data TS, TLS, dan GPS. Sebagai acuan, hasil pengukuran TLS. Uji ketelitian menggunakan RMSE (Root Mean Square Error) di beberapa titik ICP (Independent Check Point).
Pada penelitian ini nilai RMSE volume antara TS dan TLS memiliki selisih kecil. Sedangkan hasil perhitungan volume dengan GPS RTK dan TLS memiliki nilai deviasi yang lebih besar pada area studi. hasil uji RMSE dari (ICP) didapatkan RMSE dari hasil koordinat Total Station terhadap TLS pada area studi yang berada di gudang sebesar 0,001 m pada absis, 0,002m pada ordinat, dan 0,001 m pada ketinggian. Dan pada GPS RTK (0,007)M pada absis, (0,006) m pada ordinat , dan (0,005)m pada ketinggiannya. Jika pada studi area timbunan didapatkan nilai RMSE pada Total Station (0,002) m, (0,001) m, (0,002) m dan pada GPS RTK (0,008) m, (0,008) m, (0,004) m