Geoid (E-Journal)
Not a member yet
504 research outputs found
Sort by
ANALISIS PENURUNAN VERTIKAL BANGUNAN BERTINGKAT KAMPUS ITS SUKOLILO MENGGUNAKAN METODE TERESTRIAL
Pembangunan dapat mengakibatkan perubahan kedudukan lahan satu terhadap yang lain sehingga dapat menyebabkan terjadinya pemampatan tanah akibat adanya beban tetap dalam jangka waktu tertentu. Dalam suatu pembangunan konstruksi, perlu diperhatikan hal-hal yang berkaitan dengan kontruksi salah satunya adalah settlement. Settlement adalah penurunan elevasi tanah dasar yang disebabkan oleh lapisan tanah yang mengalami pembebanan di atasnya. Settlement terjadi secara perlahan dan tidak dirasakan secara langsung, sehingga analisisnya perlu dilakukan secara berkala. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisa terjadinya settlement bangunan di Kampus ITS Sukolilo karena banyaknya pembangunan di lokasi yang dapat memberikan dampak pada lapisan tanah dibawahnya seiring dengan waktu. Nilai settlement pada bangunan dapat diketahui dengan melakukan pengukuran beda tinggi terhadap posisi bangunan yang satu terhadap yang lain. Penelitian ini dilakukan dengan melakukan pengukuran deformasi vertikal bangunan atau settlement dengan menganalisa elevasi awal bangunan pada tiga bulan terakhir. Dari hasil penelitian, menunjukan bahwa bangunan bertingkat di Kampus ITS Sukolilo mayoritas mengalami penurunan elevasi sejak awal pembangunan. Bangunan yang mengalami penurunan elevasi setiap bulan adalah Perpustakaan, Gedung Rektorat, Teknik Fisika, Biologi, dan Teknik Elektro. Sedangkan Teknik Geomatika, Teknik Lingkungan, Teknik Sipil, dan Kimia mengalami penurunan dan mengalami kenaikan pada bulan selanjutnya. Bangunan yang mengalami deformasi vertikal berupa penurunan terbesar adalah Teknik Fisika sebesar -0,045 m, dan deformasi berupa kenaikan terbesar adalah Teknik Sipil sebesar +0,035 m
STUDI PERUBAHAN IONOSFER AKIBAT LETUSAN GUNUNG BERAPI DENGAN PENGAMATAN TOTAL ELECTRON CONTENT GNSS
Letusan Gunung Agung merupakan fenomena alam yang jarang terjadi di Provinsi Bali,Indonesia. Menurut riwayat letusannya, letusan Gunung Agung terjadi terakhir pada Tahun 1963 hingga tahun 1964 dengan letusan yang bersifat eksplosif. Letusan ini memakan korban jiwa sebanyak 1.344 jiwa. Pada tahun 2017,Gunung Agung kembali menunjukkan aktifitasnya hingga awal tahun 2018. Menurut data dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi,letusan yang besar terjadi pada 22 November 2017 pukul 01.00 WITA. Letusan gunung tersebut menghasilkan tekanan keatas yang disertai oleh lava yang tersembur melalui mulut gunung. Dari letusan ini, menghasilkan beberapa perambatan gelombang yakni Acoustic, Gravity, dan Rayleigh. Pada saat gelombang letusan mencapai ionosfer, gangguan tersebut dapat diketahui dari sinyal GPS yang melaluinya. Pada gangguan di ionosfer tersebut dapat diukur dengan menggunakan kombinasi L4 yang biasa disebut linear ionospheric combination sehingga didapat nilai TEC (Total Electron Content) dimana 1 TECU adalah 1016 el/m2. Nilai inilah yang berfungsi untuk menentukan kadar besaran gangguan akibat letusan yang terjadi pada Gunung Agung 2017.Dalam penelitian ini, menggunakan data GNSS CORS untuk mengetahui perubahan nilai TEC sesaat setelah letusan Gunung Agung, data GNSS CORS diambil dari stasiun yang terletak di sekitar Gunung Agung. Hasil Penelitian ini diketahui satelit GPS nomor 3 dan 23 dapat mendeteksi perubahan TEC (Total Electron Content) setelah terjadi letusan. Fluktuasi TEC (Total Electron Content) terbesar bernilai 1,5 TECU untuk satelit GP
PENGARUH KOREKSI BIAS IONOSFER TERHADAP HASIL KOORDINAT PENGAMATAN GPS SINGLE FREQUENCY MENGGUNAKAN MODEL KLOBUCHAR
Sinyal satelit GPS dipengaruhi oleh beberapa jenis faktor kesalahan, di antaranya penundaan sinyal GPS oleh ionosfer. Pada GPS single frequency bias ini dapat dikoreksi menggunakan Model Klobuchar, yang memperkirakan penundaan waktu ionosfer hingga 50% atau lebih. Untuk menggunakan model Klobuchar membutuhkan delapan koefisien Klobuchar ( n, n, untuk n = 1,2,3,4) dan disediakan melalui pesan navigasi. Koefisien Klobuchar didapatkan dari perhitungan data pengamatan GPS yang terdistribusi di seluruh dunia dengan metode yang tidak terpublikasi. Dalam penelitian ini, satu set koefisien Klobuchar dihitung menggunakan data pengamatan GPS lokal sehari sebelumnya dan digunakan sebagai parameter navigasi pada hari selanjutnya untuk menentukan koordinat titik pengamat. Penelitian ini menggunakan perangkat lunak RTKLIB untuk mengolah hasil koordinat. Hasil tugas akhir ini didapatkan nilai koordinat meningkat sebesar 26,015% dengan menggunakan koefisien lokal
ANALISIS KETELITIAN GEOMETRIK CITRA SATELIT PLEIADES 1B DAN SPOT 6 UNTUK PEMBUATAN PETA DESA
In this study, Pleiades 1B and SPOT- 6 images can be reviewed the extent to which the geometric accuracy of the actual conditions that will be used as source data for making village map with a large scale. In research conducted process of rectification by using data of ground control points (GCP) on the satellite image Pleiades-1B and SPOT 6, which using two methods, namely polynomial order 1 and order 2, then test the accuracy of geometric on the results of rectification the image to determine the level of precision horizontal based on Perka BIG No. 15 of 2014, so be analyzed the accuracy of horizontal imagery for making village map.
The results obtained from the process of image rectificaation with 8 GCP, RMS value obtained method of polynomial 2nd orde is better than 1st orde, i.e. 0,188 pixel on the Pleiades 1B image and 0,350 pixel on the SPOT 6 image. Based on geometric accuracy testing obtained value of RMSE on the Pleiades 1B image is 0,801 meters and on the SPOT 6 imaage is 2,489 meters on the image of the results of the polynomial 1st order rectification method and on the polynomial 2nd order rectification method, RMSE values obtained for the image of the Pleiades 1B is 0,647 meters and 2,386 meter for the SPOT 6. For the feasibility of high-resolution imagery for creating village maps based on Technical Specifications Mapping Village 2016 by BIG, Pleiades 1B image eligible cartography village with a scale of 1: 2500, 1: 5000, 1: 10.000, while on satellite images SPOT 6 meet requirements for the manufacture of a village map with a scale of 1: 10,000
Evaluasi Perubahan Garis Pantai Akibat Abrasi Dengan Citra Satelit Multitemporal (Studi Kasus: Pesisir Kabupaten Gianyar, Bali)
Pantai merupakan suatu kawasan peralihan atau pertemuan antara darat dan laut. Pada Kabupaten Gianyar, Bali membentang laut sepanjang selatan Pulau Bali yang merupakan daerah yang berbatasan langsung dengan wilayah pesisir. Tentunya hal tersebut tidak lepas dari adanya dinamika perubahan pada fisik pantai yang disebabkan seperti pengikisan daratan oleh air laut (abrasi) maupun adanya angkutan sedimen dari darat (akresi) yang pada umumnya menjadi sorotan terhadap perubahan garis pantai. Untuk itu diperlukan penelitian guna mengetahui besarnya perubahan yang terjadi sepanjang garis pantai tahun 2002 sampai 2017 sehingga menghasilkan peta perubahan garis pantai. Metode yang digunakan adalah menggunakan interpretasi ratio pada kanal SWIR dan hijau pada citra Landsat 7 dan Landsat 8 ditambah dengan melakukan klasifikasi, dapat dilakukan untuk mengidentifikasi garis pantai beserta menganalisis besarnya perubahan yang terjadi. Hasil analisis tumpang susun identifikasi garis pantai di Kabupaten Gianyar menunjukkan luas pesisir pada tahun 2002 sebesar 42,441 km2 dan pada tahun 2017 sebesar 42,285 km2 dimana terjadi abrasi sebesar 0,195 km2 yang diakibatkan oleh faktor alam yaitu pesisir Kabupaten Gianyar berada di zona laut lepas
Analisis Deformasi Pulau Madura dari Pengolahan Data SAR Menggunakan Metode DInSAR
Sesar aktif yang terdapat di sebagian wilayah Pulau Madura menjadi salah satu faktor terjadinya gempa bumi dalam beberapa waktu terakhir. Ditambah lagi dengan adanya abrasi yang terjadi secara terus menerus di wilayah pesisir Pulau Madura yang menjadi faktor utama terjadinya banjir rob. Selain itu, menurut peta indeks bencana pergerakan tanah (landslide) oleh Badan Nasional Penanggulangan Bencana tahun 2010, wilayah Pulau Madura memiliki resiko sedang hingga tinggi terhadap bencana pergerakan tanah. Beberapa hal tersebut dapat memicu terjadinya deformasi di Pulau Madura.
Deformasi merupakan perubahan bentuk batuan yang diakibatkan oleh adanya gaya dari luar batuan tersebut. Nilai deformasi di suatu wilayah dapat diketahui dengan penagamatan secara berkala. Pada penelitian ini digunakan metode DInSAR untuk mengamati nilai deformasi di Pulau Madura. DInSAR merupakan metode pengamatan deformasi menggunakan data citra satelit. Citra satelit yang digunakan pada penelitian ini adalah citra satelit Sentinel-1A dari European Space Agency.
Dari pengolahan data diperoleh nilai subsidence tertinggi antara bulan Maret 2016 – September 2016 adalah sebesar -70,136 mm sedangkan uplift terbesar adalah sebesar 109,056 mm. Pada bulan September 2016 – Maret 2017 diperoleh nilai subsidence terbesar adalah -95,011 mm dan uplift terbesar adalah 98,059 mm. Pada rentang bulan Maret 2017 – September 2017, nilai subsidence tertinggi adalah -65,550 mm dan nilai uplift tertinggi adalah 63,884 mm. Pada rentang bulan September 2017 – Maret 2018, nilai subsidence tertinggi adalah -57.245 mm dan nilai uplift tertinggi adalah 74,811 mm. Nilai deformasi muka tanah dipengaruhi oleh beberapa faktor geologi berupa jenis tanah dan batuan serta adanya bencana alam di area penelitian
DETEKSI PIPA BAWAH LAUT DENGAN DATA MULTIBEAM ECHOSOUNDER (Studi Kasus: Muara Bekasi)
Pipa bawah laut merupakan instalasi yang dibangun untuk menyalurkan fluida produksi (minyak dan gas). Salah satu kegiatan perawatan pipa laut adalah inspeksi secara berkala terhadap kondisi pipa laut tersebut. Kegiatan inspeksi pipa di dasar laut dilakukan untuk mengendalikan resiko yang dapat terjadi pada pipa tersebut. Kegiatan ini memerlukan informasi yang teliti mengenai kondisi, posisi, dan keadaan sekitar pipa. Pada penelitian ini kegiatan inspeksi dilakukan dengan melakukan pendeteksian keberadaan pipa bawah laut berdasarkan data multibeam echosounder dengan menggunakan perangkat lunak EIVA NaviSuite. Data multibeam yang digunakan merupakan data hasil survei bathimetri di sekitar Muara Bekasi. Sebelum data multibeam diolah, dilakukan terlebih dahulu pengolahan data patch test untuk mendapatkan nilai alinyemen multibeam dengan sensor gerak dan gyro yang terdapat pada IMU (Inertial Measurement Unit). Hasil pengolahan data patch test untuk pitch sebesar -0,055°, roll -0,361°, dan yaw -1,095°. Berdasarkan pengolahan data multibeam, permukaan dasar laut di lokasi survei relatif datar dengan kisaran kedalaman antara 24,13m sampai dengan 25,05m di bawah permukaan laut. Pada lokasi tersebut terdapat pipa sepanjang 531m yang terletak di atas permukaan dasar perairan. Pada pipa terbebut, terdapat 91m bagian pipa yang membentang bebas (freespan) dengan ketinggian maksimum bawah pipa terhadap permukaan dasar laut adalah 1,95m
ANALISA PERBANDINGAN BERDASARKAN IDENTIFIKASI AREA KEBAKARAN DENGAN MENGGUNAKAN CITRA LANDSAT-8 DAN CITRA MODIS (Studi Kasus : Kawasan Gunung Bromo)
Land and forest fire is a condition where the land and forest are hit by flame, causing land and forest destruction, economic losses, and environmental value. In the dry season, some of the regions in Indonesia often hit by flame. One example is a fire that occurred in the area of Mountain Bromo on October, 20th to 23rd 2014. These fires resulted in approximately 1.487 Ha of savanna forest got burned. Burned area can be identified by using remote sensing data, such as Landsat-8 and MODIS imagery. The method of identification used is the NDVI (Normalized Difference Vegetation Index) that utilizes near-infrared band and red band. Burned area is classified based on the value of the three threshold models. The use of multiple threshold models is done with the purpose of seeking the greatest accuracy value. Based on the results of burned area identification, obtained the greatest accuracy values of Landsat-8 is 48.394% from the - 1 models and the wide of burned area is 1.354,5 Ha. While the greatest accuracy values of MODIS is 57,089% from the models and the wide of burned area is 1.005,209 Ha
GEOMARINE 1: AUTONOMOUS USV (UNMANNED SURFACE VEHICLE) UNTUK MENDUKUNG SURVEI HIDRO-OCEANOGRAFI
Survei hidro-oceanografi dilakukan untuk mengetahui karakteristik fisik dari suatu perairan. Salah satu kegiatan yang termasuk dalam survei hidro-oceanografi adalah penentuan kedalaman dan pencitraan bentuk topografi dasar laut. Pada umumnya, survei tersebut dilakukan dengan menggunakan wahana apung (kapal) yang relatif besar yang minimal dapat menampung surveyor dan pengemudi kapal. Wahana apung konvensional tersebut memiliki keterbatasan dalam bermanuver, terutama di daerah perairan yang dangkal dan sempit. Keterbatasan dalam mobilisasi, juga menjadi kendala ketika wahana apung konvensional akan digunakan untuk survei di area perairan pedalaman (sungai, waduk, dam, bekas galian tambang).
Geomarine 1 merupakan solusi alternatif untuk melakukan survei hidro-oseanografi di daerah perairan dimana penggunaan wahana apung konvensional tidak dapat digunakan secara efektif. Geomarine 1 merupakan wahana apung tanpa awak (Unmanned Surface Vehicle) yang memiliki sistem mandiri (autonomous). Wahana apung tanpa awak ini dilengkapi dengan sensor anti tabrakan (collision avoidance) dan fungsi kembali ke titik awal (home return) apabila survei sudah selesai dilakukan ataupun pada saat baterai akan habis. Sensor survei hidro-oceanografi yang terdapat pada wahana ini merupakan kombinasi sensor akustik dan optik. Sensor akustik digunakan untuk penentuan kedalaman dan pencitraan topografi dasar laut, sedangkan sensor optik digunakan untuk perekaman kondisi fisik perairan secara visual
ANALISIS PEMODELAN 3D CANDI JAWI MENGGUNAKAN WAHANA QUADCOPTER DAN TERESTRIAL LASER SCANNER (TLS)
Perkembangan teknologi masa kini semakin beragam dan terus berkembang. Mengikuti perkembangan teknologi, peralatan survei, dan pemetaan terus berinovasi dari tingkat manual sampai dengan menekan satu tombol semua selesai. Hal ini merupakan suatu keuntungan sekaligus kemudahan yang dapat dimanfaatkan. Salah satu contoh perkembangan teknologi alat survei dan pemetaan ialah munculnya quadcopter dan Terestrial Laser Scanner (TLS). Belakangan ramai diketahui quadcopter dan TLS bukan hanya untuk pemetaan terestris saja, melainkan juga dapat dimanfaatkan sebagai alat akusisi data untuk keperluan pemodelan 3D suatu objek. Keberadaan alat ini sangat membantu untuk dokumentasi dan pengarsipan. Kedua alat tersebut dipraktikkan untuk mengukur bangunan cagar budaya yang bertujuan agar diperoleh model tiga dimensi dengan tujuan akhir hasilnya dapat disimpan sebagai arsip, digunakan sebagai media penelitian dan dapat dimanfaatkan jika sewaktu-waktu bangunan tersebut rusak atau roboh dan memerlukan rekonstruksi ulang oleh Dinas Kebudayaan dan Pariwisata. Pengukuran dengan dua alat tersebut dikerjakan pada sebuah candi di Jawa Timur yang dikenal sebagai Candi Jawi. Pengukuran Candi Jawi meliputi pemotretan dengan quadcopter, pengamatan Ground Control Point (GCP), pengukuran Independent Check Point (ICP), dan pemindaian candi dengan Terestrial Lasser Scanner (TLS). Hasil yang diperoleh ialah model tiga dimensi hasil data quadcopter RMSe X, Y, Z sebesar 0,017 meter, 0,017 meter, dan 0,018 meter. Sementara besar nilai RMSe model tiga dimensi hasil olahan point cloud TLS untuk X, Y, dan Z ialah 0.056 meter, 0,066 meter, dan 1,44 meter. Kedua model dari kedua alat menunjukkan hasil yang relatif kecil karena bernilai kurang dari 0,5 meter dan memenuhi syarat Level of Detail (LoD) 3 untuk konsep visualisasi eksterior model bangunan, kecuali pada nilai Root Mean Square Error (RMSe) Z model 3D data point cloud TLS