Geoid (E-Journal)
Not a member yet
    504 research outputs found

    ANALISIS DATA HIDRO-OSEANOGRAFI UNTUK OPTIMASI RENCANA JALUR KABEL LAUT

    No full text
    Sistem kabel bawah laut penting karena menghubungkan antarpulau. Tujuan kabel bawah laut adalah untuk menyediakan energi dan komunikasi antar pulau,, terutama untuk negara maritim seperti Indonesia. Studi ini menganalisis karakteristik fisik lautan, fitur dasar laut, dan jalur pelayaran di mana rute kabel akan diletakkan. Informasinya diolah menjadi peta klasifikasi lereng bawah laut, peta klasifikasi sedimen dasar laut, peta anomali magnetik, dan peta jalur pelayaran. Penelitian ini menggunakan pendekatan SIG (Sistem Informasi Geografis) untuk membuat area desain rute kabel. Berdasarkan penelitian ini, peta rekomendasi untuk area desain jalur kabel bawah laut divisualisasikan ke dalam tiga kategori: aman dan direkomendasikan, risiko sedang, dan risiko tinggi. Ada 4178 lokasi yang dikategorikan sebagai zona aman dan direkomendasikan dengan total luas 293025 m2, 1392 lokasi dikategorikan sebagai zona risiko sedang dengan total luas 108313 m2, dan 223 lokasi dikategorikan sebagai zona berisiko tinggi dengan total area 11827 m2

    PEMETAAN DAERAH POTENSI LONGSOR DI KABUPATEN TRENGGALEK MENGGUNAKAN DATA CITRA SATELIT MULTI-TEMPORAL

    No full text
    The use of three satellite imagery data at the same location and different time are 2003, 2013 and 2018, resulting in three potential maps of landslide with different time series of 2003, 2013, and 2018.. Map of potential landslides generated classified in three classes of potential landslide levels. The result of a potential landslide map indicates there is a difference in potential level classes. In the span of years 2003 to 2013 there was a total change in the class of potential levels of 10082.25 hectares of the total area of Trenggalek Regency. From 2013 to 2018 there were a change of 14882.77 hectares. Calculation of correlation between land cover area change with potential landslide change is equal + 1. This value indicates a very strong positive correlation between changes in the area of landslide potential with the change in land cover. The use of three satellite imagery data at the same location and different time are 2003, 2013 and 2018, resulting in three potential maps of landslide with different time series of 2003, 2013, and 2018.. Map of potential landslides generated classified in three classes of potential landslide levels. The result of a potential landslide map indicates there is a difference in potential level classes. In the span of years 2003 to 2013 there was a total change in the class of potential levels of 10082.25 hectares of the total area of Trenggalek Regency. From 2013 to 2018 there were a change of 14882.77 hectares. Calculation of correlation between land cover area change with potential landslide change is equal + 1. This value indicates a very strong positive correlation between changes in the area of landslide potential with the change in land cover

    ANALISA AKTUALISASI LAHAN REKLAMASI TAMBANG MENGGUNAKAN GPS BERBASIS SMARTPHONE

    No full text
    Indonesia memiliki sumber daya alam dan sumber daya manusia yang sama kayanya, di mana harta ini tersebar di seluruh wilayah Indonesia. Di antara semua kekayaan alam yang tersedia, kekayaan yang paling menjanjikan untuk dikelola yaitu berada di sektor pertambangan. Dalam pertambangan, terdapat kegiatan penunjang untuk melestarikan lingkungan daerah pasca-tambang, seperti contohnya reklamasi. Pada pelaksanaannya dibutuhkan metode pemantauan yang praktis dan mudah untuk kinerja yang lebih efektif dan efisien. Seiring perkembangan teknologi yang pesat, munculah berbagai inovasi yang dapat meringankan dan membantu manusia agar dapat bekerja lebih efisien terutama dibidang geospasial. Smartphone (smartphone) merupakan salah satu teknologi yang tidak pernah lepas dari kehidupan manusia dan dapat membantu pekerjaan manusia dibidang geospasial, khususnya dibidang pertambangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengukur luasan lahan reklamasi tambang menggunakan teknologi smartphone (smartphone) dan membandingkannya dengan data eksplorasi. Uji coba dilakukan dilahan reklamasi tambang PT. AMNT Sumbawa, Nusa Tenggara Barat, danmenggunakan aplikasi GPS praktis bernama Avenza Map. Hasil studi ini menunjukkan bahwa aplikasi GPS smartphone yang digunakan memiliki selisih luasan yang lebih sedikit sebesar 1.04% hinnga 6.72% terhadap luasan lahan eksplorasi dibandingkan dengan luasan yang dihasilkan dari GPS handheld yang persentase selisihnya adalah 7.59% dan yang paling kecil yaitu 2.20%. Sehingga dapat dikatakan layak untuk menjadi alat pengukuran

    ANALISIS LOKASI PERSEBARAN IKAN DI LAUT SELATAN PULAU JAWA DENGAN MEMANFAATKAN DATA SATELIT ALTIMETRI

    No full text
    Indonesia yang merupakan negara maritim memiliki sumberdaya laut yang melimpah dan salah satunya adalah sektor perikanan. Sebagai salah satu sumber pangan dan penghasil devisa negara sektor perikanan membutuhkan teknologi yang mendukung dalam rangka memaksimalkan hasil dari sektor perikanan. Metode yang sudah ada adalah dengan memanfaatkan data citra satelit MODIS untuk memperoleh sebaran klorofil-a yang merupakan sumber makan bagi fitoplankton yang menjadi makanan ikan di laut. Parameter yang dibutuhkan untuk menentukan sebaran klorofil-a seperti sea surface height dan arus geostropik dapat juga diperoleh dengan memanfaatkan data satelit altimetri. Oleh sebab itu dalam penelitian ini dilakukan pengolahan data satelit altimetri untuk memperoleh parameter yang digunakan untuk menentukan perkiraan lokasi sebaran klorofil-a. Dari hasil pengolahan data diperoleh nilai hasil perhitungan berupa sea surface height (SSH), kecepatan arus geostropik dan arah arus geostropik di laut Selatan Pulau Jawa setiap bulan pada tahun 2016. Ketiga parameter tersebut kemudian dioverlaykan untuk menentukan perkiraan lokasi sebaran klorofil-a yang juga akan menentukan lokasi sebaran ikan

    APLIKASI GLOBAL POSITIONING SYSTEM (GPS) DAN CO-TIDAL UNTUK PENGAMATAN NILAI TINGGI MUKA AIR LAUT DI PERAIRAN LAUT JAWA

    No full text
    Pasang surut air laut (pasut) merupakan salah satu komponen penting dalam survei batimetri. Pada survei batimetri, pengamatan pasut dilakukan dengan menggunakan rambu pasut di pinggir pantai. Seiring berkembangnya teknologi, penggunaan Global Positioning System (GPS) semakin memungkinkan dalam survei batimetri. Selain dalam penentuan posisi horizontal, GPS juga dapat digunakan untuk menentukan posisi vertikal. Namun, karakteristik pasut yang berbeda-beda di setiap lokasi menyebabkan nilai pasut tersebut tidak valid jika digunakan dilokasi yang berjauhan. Di kawasan seperti di lepas pantai, karakteristik pasut biasanya ditentukan secara tidak langsung dengan melakukan prediksi menggunakan co-tidal chart. Dalam penelitian ini, dilakukan perbandingan tingkat akurasi nilai tinggi muka air laut hasil dari GPS dan hasil dari co-tidal terhadap hasil dari rambu pasut. Uji tingkat akurasi yang dilakukan menggunakan perhitungan RMSE. Dimana, nilai RMSE antara data hasil rambu pasut dan GPS pada tanggal 26, 27, dan 28 April 2018 sebesar 0,246 meter, 0,061 meter, dan 0,051 meter. Sedangkan, pada perbandingan nilai tinggi muka air laut hasil rambu pasut dan hasil co-tidal, nilai RMSE pada tanggal 26, 27, dan 28 April 2018 sebesar 0,237 meter, 0,286 meter, dan 0,109 meter

    PEMBUATAN ALUR PELAYARAN KAPAL TAMBANG PADA SUNGAI MENGGUNAKAN MULTIBEAM ECHOSOUNDER (STUDI KASUS: SUNGAI MAHAKAM)

    No full text
    Pulau Kalimantan sebagai salah satu daerah penghasil batu bara terbesar di indonesia membutuhkan media transportasi yang dapat mendistribusikan hasil tambang batu bara. Media transportasi yang digunakan di Kalimantan salah satunya adalah Sungai Mahakam. Alur pelayaran harus dibuat untuk melewati Sungai Mahakam dengan aman, sehingga perlu dilakukan survei batimetri. Data batimetri yang didapat dari hasil survei akan dibuat alur pelayarannya dengan spesifikasi Standar Nasional Indonesia. Data yang digunakan adalah data batimetri dari PT.Seascape Surveys Indonesia. Data batimetri dikoreksi dengan pasang surut, Sound Velocity Profiler, gradien dan patch test. Kedalaman dari data batimetri mempunyai referensi terhadap EGM96 saat pengambilan data, lalu di transformasikan menjadi EGM08. Peta batimetri mempunyai referensi terhadap Lowest Low Water Level. Dari analisa peta batimetri Sungai Mahakam, dibuat alur pelayaran kapal Katingan dan kapal Straits Pheonix. Untuk kapal Katingan dibuat alur yang aman dengan spesifikasi kedalaman lebih dari 3,593 m dan spesifikasi lebar lebih dari 55,2m. Untuk kapal Straits Phoenix dibuat alur pelayaran dengan spesifikasi kedalaman lebih dari 5,128 m dan spesifikasi lebar lebih dari 112,7m. Berdasarkan peta batimetri yang dibuat, tidak terdapat alur yang aman untuk dilalui oleh kapal Katingan dan kapal Straits Phoenix

    LEAST SQUARE MATCHING 1 TO COMBINE THE TWO IMAGES OF NCU AREA

    No full text
     Least square matching technique is included in area-based digital matching method. Conceptually, least square matching is closely related to the correlation method, with the added advantage of being able to obtain the match location to a fraction of a pixel. Least square matching (LS1)1 has merit to minimize the sum of squares for grayscale differences, so the result will be more accurate. The images covering the National Central University (Taiwan) area are aerial images taken from digital camera with sensor ultracam-D. Interior orientation parameter consist of focal length in 101.400000mm, principal point offset (0.000000e+000, 0.000000e+000)mm, and principal point symmetry (-2.110000e-001, 0.000000e+000)mm. The experimental result shows that the best accuracy of x direction is reached when the rotation angle is 9 degree, then those of y direction is reached when the rotation angle is 3 degree. The accuracy of both directions is getting worse when the scale of image is less than 0.8. The success rate 100% is reached in all of window size except 51 and 101. Then, the best accuracy of x direction is showed in 3x3 window size, those of y direction is employed when the work used the window size 11x11. Based on the experimental result, it can be concluded that using different rotation and scale can get the different result that it will be worse or better. Thus, to get the better result in matching image and better accuracy, the work should use the orthorectified image as base image to do rotation scheme and use small window size to minimize the number iteration, but it will be not significant with RMSe

    IMPLEMENTASI KADASTER LAUT DALAM RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH (RPP) DAN RANCANGAN PERATURAN MENTERI (RAPERMEN) TENTANG IZIN LOKASI PEMANFAATAN RUANG LAUT BERBASIS WEBGIS (STUDI KASUS: PULAU MARATUA, BERAU, KALIMANTAN TIMUR)

    No full text
    Penerapan konsep kadaster kelautan diharapkan dapat menghasilkan data dan informasi yang lengkap, akurat, dan seragam sehingga  data daninformasi dapat digunakan untuk saling berbagi pakai dan dirubah secara cepat (Syarif 2012). Adagium abad ketujuhbelas yang menyatakan ruang laut adalah kepunyaan bersama, tersedia untuk semua tetapi tidak untuk dimiliki. Negara mengatur penguasaannya kepada pihak lain (baik itu perseorangan atau swasta) dalam bentuk izin. Saat ini proses pendaftaran izin lokasi oleh KKP dilaksanakan secara offline. Penelitian ini akan merancang sebuah Website Sistem Informasi Geografis (SIG) pendaftaran izin lokasi pemanfaatan ruang laut. Lokasi penelitian berada pada Pulau Maratua, Kecamatan Maratua, Kabupaten Berau, Kalimantan Timur yaitu pada koordinat 2 04’11,38” - 2 20’11,10”LU dan 118 31’48,93”-118 45’29,56”BT. Data spasial yang digunakan adalah peta dasar kadaster laut, rencana zonasi dan eksisting pemanfaatan ruang laut. RPP dan RAPERMEN izin lokasi digunakan untuk membangun sistem pendaftaran berbasis WebGIS. Implementasi basis data menggunakan PostgreSQL 9.0 dan Google Maps API sebagai penampil peta. Website dapat diakses secara online pada http://www.kadasterlautmaratua.com sehingga proses pendaftaran izin lokasi dapat dilaksanakan secara online. Dari hasil uji kebergunaan beerdasarkan 30 responden menunjukkan persentase 86.00 %. Berdasarkan hasil tersebut maka website termasuk kategori sangat layak sesuai dengan tabel Kategori Penilaian Usability dengan rentang nilai 81%-100%

    PEMETAAN AWAL POTENSI ENERGI LAUT DI PANTAI SELATAN PULAU JAWA DENGAN PEMODELAN HIDRODINAMIKA

    No full text
    Sumber energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan dari laut adalah arus laut, pasang surut, gradien temperatur laut (ocean thermal energy conversion), dan gelombang laut. Penelitian ini menganalisis kecepatan arus, ketinggian gelombang, dan rentang pasang surut yang dapat dikonversi menjadi energi potensial listrik di tiap ± 20 km segmen sepanjang garis pantai. Model hidrodinamika 3D penelitian ini menggunakan mesh berbentuk structured grid dari data garis pantai dan batimetri. Sedangakan, data pasang surut dan data angin sebagai input parameter pemodelan. Data pasang surut dari stasiun pasut BIG digunakan untuk memvalidasi hasil model. Berdasarkan pengolahan dan analisis data 43 titik pengamatan, pantai selatan Pulau Jawa tidak memiliki potensi energi gelombang laut dikarenakan ketinggian gelombang yang tidak memenuhi nilai minimum yang dibutuhkan. Namun, potensi energi pasang surut menghasilkan energi yang lebih besar dan lebih merata di sepanjang pesisir dibandingkan dengan potensi energi arus laut. Peninjauan akses jalan di sekitar wilayah pesisir menghasilkan 19 titik potensi energi laut di selatan Pulau Jawa. Nilai rata-rata estimasi energi pasang surut yang dihasilkan pada bulan Februari dan Oktober masing-masing sebesar 560468,327 kW dan 373867,1891 kW

    ANALISIS PEMODELAN 3 DIMENSI BANGUNAN BERSEJARAH MENGGUNAKAN FOTOGRAMETRI JARAK DEKAT (STUDI KASUS: MAUSOLEUM DINGER, JAWA TIMUR)

    No full text
    The Dinger Mausoleum is a tomb with a Dutch architectural style that was used to store the body of a Dutch national named Jan Dinger and has been designated as a cultural heritage building by the Batu City Government. This tomb with its status as a cultural heritage must be tried to preserve and preserve its original form in accordance with Law No. 11 of 2010 concerning Cultural Heritage. In this study, conservation efforts were carried out by documenting the tomb in the form of a 3D reconstruction model. Documentation activities are carried out by acquiring data and creating 3D models from Dinger Mausoleums both from the outside (exterior) and from inside (interior) considering that the tomb is in the form of a building which means it has space inside, using close-range photogrammetric methods. The 3D model that has been formed is then analyzed for the level of accuracy of the data acquisition and tomb modeling process. An analysis of the level of suitability in the 4th order class (LoD4) is also carried out because 3D modeling includes the interior of the tomb building. The results of the data acquisition took the form of exterior photos and photos of the interior of the Dinger Mausoleum, and the results of the analysis of the RMSE values were less than 0.2 m, thus fulfilling the Level of Detail 4 criteria (LOD 4)

    41

    full texts

    504

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Geoid (E-Journal)
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇