Refleksi
Not a member yet
390 research outputs found
Sort by
Ortodoksi dan Heterodoksi di Kalangan Muslim India
Artikel ini membahas dinamika ortodoksi dan heterodoksi di kalangan Muslim India, yang mencerminkan kompleksitas keagamaan dalam komunitas Muslim di subkontinen tersebut. Ortodoksi dalam Islam di India sering dikaitkan dengan aliran Sunni tradisional yang memegang teguh ajaran-ajaran yang dianggap murni dan sesuai dengan syariat. Namun, realitas sosial dan sejarah India yang kaya dan beragam telah memunculkan berbagai bentuk heterodoksi di kalangan Muslim, termasuk praktik-praktik keagamaan yang bercampur dengan tradisi lokal, budaya sufi, dan pengaruh Hindu. Heterodoksi ini sering kali berwujud dalam bentuk gerakan-gerakan sufi, yang menekankan mistisisme dan hubungan langsung dengan Tuhan, serta praktik-praktik ritual yang mungkin tidak sepenuhnya sejalan dengan ajaran ortodoks Islam. Contohnya, ziarah ke makam sufi, penggunaan musik dalam ibadah, dan kepercayaan pada kekuatan spiritual wali-wali sufi. Di sisi lain, pengaruh kolonialisme, modernisasi, dan kebangkitan gerakan reformis juga turut membentuk perdebatan mengenai ortodoksi dan heterodoksi di kalangan Muslim India. Gerakan seperti Deobandi dan Ahl-i Hadith menekankan pentingnya kembali kepada ajaran Islam yang murni dan menolak praktik-praktik yang dianggap bid\u27ah atau menyimpang. Konflik antara ortodoksi dan heterodoksi ini tidak hanya mempengaruhi praktik keagamaan, tetapi juga identitas sosial dan politik Muslim di India. Meskipun terdapat ketegangan, keduanya terus hidup berdampingan, mencerminkan keragaman dan dinamika Islam di India yang terus berkembang
Al-\u27Adl dalam Perspektif Al-Qur\u27an
Artikel ini mencoba mengungkap konsep al-\u27adl dari sisi pandang al-Qur\u27an dengan pendekatan tafsir tematik. Al-Qur\u27an cukup banyak mengungkap tema keadilan ini dalam berbagai ayat dan surat dengan versi yang beragam. Untuk memahami tema keadilan yang dibawa oleh al-Qur\u27an, maka dalam tulisan ini akan dibahas mengenai makna al-\u27adl, perlunya menegakkan keadilan dalam kehidupan, himbauan al-Qur\u27an terhadap keadilan, dan bidang-bidang keadilan
Kontroversi Ketokohan Imam al-Ghazali
Tulisan ini membahas kontroversi seputar ketokohan Imam Al-Ghazali, seorang ulama besar dalam sejarah Islam yang dikenal karena kontribusinya dalam bidang teologi, filsafat, dan tasawuf. Meskipun dihormati sebagai salah satu pemikir Islam paling berpengaruh, pandangannya juga menimbulkan berbagai perdebatan di kalangan sarjana, baik pada masanya maupun di era modern. Tulisan ini akan mengeksplorasi berbagai perspektif terkait posisi Al-Ghazali dalam dunia keilmuan Islam, menganalisis kritik serta pujian yang diarahkan kepadanya, dan menilai dampaknya terhadap perkembangan pemikiran Islam
Imperialism and the Rhetoric of the Threat: Islamic Fundamentalism in Western Scholarship
Tujuan utama dari esai ini adalah; pertama, untuk mengajukan penjelasan yang lebih akurat tentang fundamentalisme Islam berdasarkan penyebab, doktrin khusus, dan wacana yang melingkupinya. Kedua, esai ini berupaya mengeksplorasi fragmen dari wacana sosial Barat tentang agama yang diterapkan pada gerakan fundamentalis Islam, meskipun saya menyadari bahwa topik ini sangat sulit. Selain itu, mengingat banyaknya sumber akademis dan meningkatnya minat terhadap gerakan Islam modern, kita dapat menganalisis, setidaknya, narasi Barat yang mencatat hubungan antara penjajah dan terjajah. Oleh karena itu, dimungkinkan untuk merekonstruksi gambaran tentang fundamentalis Muslim dengan mendekode presentasi-presentasi ini, meskipun kita harus ingat bahwa hal ini lebih banyak mengungkapkan tentang mentalitas kolonial dan imperialis daripada tentang fundamentalis Muslim itu sendiri
Kiri Islam: Studi atas Gagasan Pembaharuan Pemikiran Islam Hasan Hanafi
Hassan Hanafi, setelah mempelajari kegagalan berbagai gerakan Islam sebelumnya, mengusulkan konsep "Kiri Islam" sebagai metode alternatif untuk pembaruan pemikiran Islam. "Kiri Islam" bertujuan untuk merekonstruksi dan memperbarui tradisi (al-Turath wa al-tajdid) melalui tiga dimensi utama: sikap terhadap khazanah klasik Islam, sikap terhadap khazanah Barat, dan sikap terhadap realitas kontemporer. Dimensi pertama mendorong revitalisasi warisan Islam klasik, dimensi kedua menghasilkan oksidentalisme sebagai kajian kritis terhadap tradisi Barat, dan dimensi ketiga mengembangkan teori penafsiran atau hermeneutika
Menelusuri Kemunculan, Perkembangan dan Kehancuran "Tradisi Yahudi Islam"
Tulisan ini membahas kemunculan, perkembangan, dan kehancuran “Tradisi Yahudi Islam” seperti yang dikaji dalam karya Bernard Lewis, The Jews of Islam. Buku ini mengeksplorasi hubungan historis dan budaya antara komunitas Yahudi dan Muslim sejak era awal Islam. Kemunculan tradisi ini dapat dilihat sebagai hasil dari interaksi intens antara kedua komunitas di dunia Islam, di mana Yahudi sering kali memainkan peran penting dalam bidang intelektual, ekonomi, dan administrasi. Perkembangan tradisi ini ditandai dengan kontribusi signifikan Yahudi dalam ilmu pengetahuan, filsafat, dan sastra dalam konteks peradaban Islam. Para cendekiawan Yahudi sering kali terlibat dalam terjemahan teks-teks klasik Yunani dan karya-karya ilmiah lainnya yang memperkaya pengetahuan dunia Islam. Hubungan ini menunjukkan adanya sinergi antara komunitas Yahudi dan Muslim, yang menghasilkan pertukaran budaya dan intelektual yang produktif. Namun, tradisi ini juga mengalami kehancuran akibat berbagai faktor, termasuk perubahan politik, sosial, dan ekonomi dalam dunia Islam. Ketegangan sosial dan pergeseran kekuasaan, serta pergeseran kebijakan pemerintah terhadap minoritas, turut menyumbang pada penurunan peran dan pengaruh komunitas Yahudi dalam masyarakat Islam. Buku ini menyoroti bagaimana dinamika hubungan ini mencerminkan perubahan yang lebih luas dalam sejarah dunia Islam dan memberikan wawasan mengenai interaksi lintas budaya dalam konteks sejarah. Bernard Lewis dengan cermat menganalisis perjalanan tradisi Yahudi-Islam dari kemunculannya hingga kehancurannya, menyajikan gambaran mendalam tentang interaksi yang membentuk sejarah sosial dan budaya di kawasan tersebut
Konsep Max Weber tentang Kepemimpinan Karismatik
Krisis kepemimpinan yang dihadapi Indonesia saat ini memunculkan keinginan masyarakat untuk menemukan sosok pemimpin yang dapat mengembalikan kepercayaan yang hilang. Dalam konteks ini, muncul pertanyaan mengenai perlunya pemimpin yang karismatik. Kepemimpinan karismatik mengandung unsur misterius yang memikat banyak orang, didasarkan pada kepercayaan intuitif dan hubungan emosional antara pemimpin dan pengikutnya. Ketaatan para pengikut terhadap pemimpin karismatik muncul karena penghargaan atas ketulusan hati dan misi pemimpin yang dianggap memiliki nilai spiritual tinggi. Hal ini menimbulkan sejumlah pertanyaan: Apa sebenarnya kharisma yang dianggap misterius dan memikat itu? Bisakah perilaku yang mencerminkan kepemimpinan karismatik diidentifikasi sehingga esensinya dapat dipahami? Apa yang membedakan kepemimpinan karismatik dari bentuk kepemimpinan lainnya? Dan, bisakah kharisma ditransformasikan atau dibentuk melalui pelatihan? Artikel ini bertujuan untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan tersebut dan memberikan pemahaman yang lebih mendalam tentang hakikat kepemimpinan karismatik serta relevansinya dalam situasi krisis kepemimpinan di Indonesia
Memahami Gagasan, Pikiran dan Peran "Kaum Terpelajar yang Mencerahkan" dalam Konteks Islam di Indonesia
Tulisan ini mengulas pikiran dan peran tokoh-tokoh di Indonesia, terutama dalam konteks sosial politik Indonesia. Dewasa ini, kemunculan para tokoh dari latarbelakang agama bukan lagi merupakan fenomena yang mengherankan. Munculnya mantan pemimpin ormas Islam terbesar di Indonesia, Nahdlatul Ulama (NU), KH, Abdurrahman Wahid atau Gus Dur, sebagai Presiden keempat RI semakin memperkokoh asumsi tersebut
Tauhid dalam Terminologi Sufisme
Tauhid adalah inti dari keyakinan dalam Islam dan menjadi dasar dari seluruh ajarannya. Tauhid mengoreksi kepercayaan manusia yang dianggap telah menyimpang dari jalan Allah. Rasulullah memulai dakwahnya dengan membawa ajaran ini, mengajak manusia kembali kepada Tuhannya. Karena pentingnya ajaran ini, para ulama banyak membahasnya dalam berbagai kesempatan dan disiplin ilmu keislaman. Dalam ilmu kalam, tauhid menjadi topik utama yang mendasari pengetahuan dalam ilmu tersebut, sehingga sering disebut ilmu tauhid. Selain itu, tasawuf atau sufisme juga membahas konsep tauhid secara mendalam sebagai bagian dari kajian Islamic Studies. Makalah ini bertujuan untuk menelaah konsep tauhid dalam terminologi sufisme, dengan mengarahkan pembicaraan pada pengkajian yang mendalam mengenai topik tersebut. Berbagai sumber literatur digunakan untuk mendukung analisis dan pembahasan dalam tulisan ini, sehingga menghasilkan pemahaman yang lebih komprehensif tentang tauhid dalam konteks sufisme
Tasawuf dan Gerakan Tarekat di Indonesia Abad ke-19
Artikel ini akan mengungkapkan dinamika yang terjadi pada dunia tasawuf dan tarekat di Indonesia pada abad ke-19. Oleh Clifford Geertz, abad ke-19 ini disebut sebaga abad universalisasi Islam di Indonesia. Fenomena yang tampak menonjol pada abad ini adalah maraknya berbagai pergolakan pada hampir seluruh lapisan sosial untuk menentang penetrasi kolonial Belanda; dan pada satu seginya, pergolakan-pergolakan tersebut mengindikasikan adanya kebangkitan agama Islam