390 research outputs found

    Kritik Terhadap Pemahaman Ḥizb al-Taḥrīr Atas Hadis-Hadis Khilāfah

    No full text
    Tulisan ini menunjukkan kekeliruan Ḥizb al-Taḥrīr dalam memahami hadis-hadis Nabi saw yang diklaim memberikan legitimasi menyangkut keharusan menegakkan khilāfah. Tulisan ini juga sekaligus mengafirmasi kesimpulan beberapa sarjana Muslim, di antaranya adalah Alī‘Abd al-Rāziq, yang menyatakan tidak adanya teks-teks suci keagamaan yang mendasari keharusan menegakkan khilāfah.Secara referensial, tulisan ini berangkat dari kajian terhadap literatur hadis

    Etika Falsafah Islam Perspektif Kesetaraan Gender

    No full text
    Etika merupakan salah satu cabang kajian dari falsafah yang mengkaji secara mendalam tentang perilaku baik teori maupun praktek. Para failusuf muslim mengkaji tentang etika ini secara mendalam dengan tetap berpegang pada teks-teks al-Qur’an. Khazanah pengetahuan Islam klasik cukup banyak yang berbicara tentang etika di antaranya: Tafsir al-Qur’an, al-Hadis, Falsafah Islam, Tasawuf, Kalam.  Etika sebagai sebuah kajian filosofis belum mendapat tempat yang memadai dalam falsafah Islam, karena wacana syari’ah masih mendominasi. Sebagai akibatnya, literatur tentang etika falsafah Islam sangat minim. Pada saat ini, perkembangan pengetahuan dalam berbagai aspeknya, menuntut kesetaraan peran perempuan dengan laki-laki  di berbagai bidang kehidupan. Dalam teori gender melihat telah terjadi ketidakadilan, yang menempatkan perempuan dan laki-laki sebagai korban dari sistem tersebut. Dalam pandangan falsafah Islam masalah kesetaraan dan ketidakadilan perlu dilacak pada kajian nilai-nilai etis, baik yang bersumber dari al-Qur’an maupun rasional, sehingga dapat diketahui konsep manusia yang utuh dan adil baik perempuan maupun laki-laki

    Warisan Islam Lokal untuk Peradaban Islam Nusantara: Kontribusi Penafsiran al-Qur’ān di Tatar Sunda

    No full text
    Kajian ini berusaha memberikan sedikit gambaran tentangkontribusi tafsir lokal di tatar Sunda (Jawa Barat) sebagai warisankhasanah Islam Nusantara. Sedikitnya terdapat tiga hal yang menunjukkankarakter lokal dalam tafsir Sunda: penggunaan tingkatan bahasa (undakusuk basa), ungkapan tradisional dan metafor alam Sunda. Kajian inisangat signifikan tidak saja menegaskan identitas tafsir Sunda yang tidakbisa dipisahkan dari tradisi intelektual Islam Nusantara, tetapi pentingdalam rangka menjelaskan kreatifitas orang Sunda dalam memertemukantradisi tafsir dengan latar bahasa dan budayanya. Kajian ini signifikanuntuk menunjukkan bahwa ajaran Islam tidak lagi sekedar di permukaansebagaimana diasumsikan Geertz dan Wessing, tetapi sudah merasuk kedalam dan menjadi bagian dari identitas Islam di tatar Sunda. Ekspresilokalitas tafsir Sunda kiranya menjadi bagian dari pengukuhan identitasIslam lokal itu sebagai warisan peradaban Islam Nusantara

    Fundamentalisme dan Gerakan Radikal Islam Kontemporer di Indonesia (Menelisik Genealogi, Ideologi, dan Target Gerakan)

    No full text
    Kelompok Islam fundamentalis (seringkali) dianggap sebagaipihak yang paling bertanggungjawab atas beragam peristiwa berdarah diberbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Di negara-negara TimurTengah, gerakan radikalisme Islam telah berakar-urat dan memiliki sejarahyang cukup panjang. Akan tetapi, dalam hal genealoginya, ada yangmenegaskan bahwa Islam radikal berasal dari dua organisasi keagamaan,yakni kelompok al-Ikhwan al-Muslimin (Hasan al-Banna [1906-1949],Mesir) dan Jamaat-i Islami (Abū al-A‘lā al-Mawdūdī [1903-1979],Pakistan). Dari keduanyalah (kemudian) beranak-pinak menjadigerakan-gerakan Islam radikal di berbagai belahan dunia Muslim, meskiberbeda-beda bentuknya, dan tidak terkecuali Indonesia

    Membaca Kodrat Perempuan Dalam Perspektif Qaḍā’ dan Qadar M. Syaḥrūr

    No full text
    Pemahaman agama yang terkait perempuan dalam al-Qur’ān dan Ḥadīs cenderung bias dan misoginis oleh sebagian orang. Hal tersebut telah dianggap wajar dan sesuai dengan alasan sudah kodratnya, sudah menjadi ketentuan ‘ilmu Allāh yang azali, bahwa sosok perempuan sebagai ‘makhluk kedua’ setelah laki-laki. Bias gender tersebut menjadi masyhur dan tidak ditempatkan pada kajian kritis. Dari sini penulis ingin menarik dan mendiskusikan wacana kodrat perempuan ke dalam pemikiran konsepsi qaḍā’ dan qadar M. Syaḥrūr (lahir 1938 M.). Data-data tersebut dianalisa dengan menggunakan perspektif gender. Signifikansi kajian ini adalah untuk menunjukkan bahwa kodrat atau takdir (qadar) tidak berhubungan bahkan tidak mengatur status sosial perempuan menjadi makhluk kedua setelah laki-laki, sehingga perempuan menjadi stereotipe negatif. Oleh karenanya, teks-teks agama (al-Qur’ān dan Ḥadīs) yang bernuansa bias gender harus didudukkan pada kajian kritis. Seperti, perempuan adalah makhluk lemah, tidak cerdas, kurang akalnya, mayoritas penghuni neraka, hanya mengandalkan emosi dan rasa, tidak pantas menjadi pemimpin, karena akan terjadi keruntuhan dan ketidakmajuan, dan lain-lain. Sikap yang benar adalah, fenomena seperti ketidakmajuan, kemajuan, kekalahan, kemenanangan, kebodohan dan kecerdasan adalah ketentuan umum di Laūḥ Maḥfūẓ dengan tidak menunjuk pada subjek tertentu. Sehingga, QS. al-Ḥadid: 22 harus dipahami demikia

    Model Pemahaman Front Pembela Islam (FPI) Terhadap Al-Qur’an Dan Hadis

    No full text
    The Islamic Defenders Front (FPI) is very famous for the amar ma\u27ruf and nahi mungkar movement, and launched the national anti-immoral movement. However their movement always seems to use violence, so there is a presumption that FPI\u27s religious pattern shows the influence of petro Islam that rigidly and textually-dominated with a harsh understanding to the practice of violation on religious values. With the semantic approach to the Habib Riziq’s book entitled Dialog FPI-Amar Ma\u27ruf Nahi Munkar, this paper prove that the FPI\u27s interpretation to the Qur\u27an and hadiths which is the reference of their every action, has used a contextual approach, but seems that their understanding is less comprehensive

    Abū Bakr Ibn al-‘Arabī: The Defender of Ash‘arism

    No full text
    This paper deals with Abū Bakr Ibn al-‘Arabī’s Ash‘arite theological perspective. He chose to adopt Ash‘arism because he believes that God chose certain figures to safeguard religion and the most important one among them is Abu al-Hasan al-Ash‘arī from whom correct theology spread from one generation of disciples to another. His education at Nidhamiyya College and Abu Hamid al-Ghazali’s tutorship might also be responsible for his preference for Ash‘arism. However, even though he was al-Ghazali’s student, he was not attracted by Sufism, instead keeping his focus on theology. He objected to Sufism for two defects he perceived it to possess. First is Sufis’ references to fake Hadiths and second the Sufi practice of self-mortification. As a devoted Ash‘arite, he consistently opposes the anthropomorphic interpretation of God’s nature espoused by the Hanbalites and the Dhahirite

    Fenomena LGBT dalam Perspektif HAM dan Doktrin Agama (Solusi dan Pencegahan)

    No full text
    Lesbian, Gay, Bisexual and Transgender movements are now a mondial phenomenon. The LGBT community has dared to show itself to the surface. Not only in the Western world alone, but LGBT excitement also rife in the homeland. The emergence of LGBT community in the midst of people\u27s life raises pro and contra. Some people criticize the existence of the LGBT community, because it is considered a people with abnormal behavior and deviates from religious teachings. Others accept it as part of appreciating their exclusion in Human Rights. This study attempts to answer some key questions: What are the views of Islamic teachings and the Human Rights Charter on LGBT behavior? How can the human rights and religious doctrine match in solving this LGBT problem? What are the LGBT prevention solutions and solutions that can be done? To answer this question, research is done by studying religious texts be it the Qur\u27an or hadith, and the text of the Human Rights Charter. Both types of texts are examined in various approaches; theological, historical, philosophical, medical, tafsir, hermeneutical, jurisprudence and psychological. Content analisys method was initially performed on the text of the Qur\u27an and the hadith. Matan hadith explored by takhrij method and study of hadith text. From this study, it is concluded that LGBT behavior in religious doctrine is strictly prohibited. Likewise the Human Rights Charter can not justify LGBT behavior under the pretext of individual freedom. Because individual freedom is automatically limited by other individual freedoms and legislation. Treatment and prevention solutions can be done to LGBT behaviors. Because psychically, LGBT behavior is a psychiatric disease that can be treated and prevented

    Semangat Jihad Dan Kerukunan Antar Umat Beragama

    No full text
    Beberapa waktu lalu, sekitar tahun 2016 kita semua khususnya umat Islam dikejutkan dengan adanya kesalahan ucapan terhadap ayat suci al-Qur’an oleh gubernur DKI Jakarta “Basuki Tjahaya Purnama” alias Ahok. Ayat tersebut merupakan salah satu ayat dalam surah al-Maidah ayat 51. Karena kejadian tersebut membuat umat Islam bersama-sama bahu-membahu membela atas apa yang telah salah diucapkan oleh Ahok terhadap surah al-Maidah ayat 51. Dari kejadian tersebut, dapat diketahui bahwa perjuangan umat islam itu disebut dengan Jihad atas al-Qur’an surah al-Maidah ayat 51. Jihad sendiri merupakan sebuah perilaku yang dianjurkan, diwajibkan, bahkan disunnahkan oleh Rasulullah SAW. Istilah Jihad dalam umat Islam seringkali dipahami dengan dua pengertian. Pertama, dalam pengertian etimologis bahasa Arab yang artinya bersungguh-sungguh, dan Kedua dalam pengertian terminologis, yakni Jihad dalam konsep hukum Islam, baik didasarkan al-Qur‟an, al-sunnah, atau pun ijma’ para ulama. Makna Jihad Menurut Istilah : Dalam terminologi syar`i kata jihad mempunyai beberapa makna seperti :  Suatu usaha optimal untuk memerangi orang-orang kafir. Penelitian ini mengenai konsep Jihad dan Kerukunan Antar Umat Beragama yang dalam beberapa waktu lalu sempat ramai diperbincangkan. Kerukunan sendiri memiliki arti yang berbeda dengan Jihad. Kerukunan merupakan jalan hidup setiap manusia yang memiliki bagian-bagian dan tujuan tertentu yang harus dijaga bersama-sama, saling tolong menolong, toleransi, tidak saling bermusuhan dan saling menjaga satu sama lain. Penelitian ini bertujuan agar memahami Jihad tidak secara mutlak, karena jika Jihad diatrikan secara mutlak maka pengertian Jihad bisa sama dengan Qatl (membunuh). Dengan demikian penulis mengartikan Jihad  dengan berusaha bertahan dari cobaan yang Allah berikan

    Membumikan HAM Mengikis Perbudakan (Kajian Mawḍû’î Terhadap Ḥadîts-ḥadîts Perbudakan)

    No full text
    Tulisan ini ingin memperkuat beberapa tulisan sebelumnya seperti milik Abdul Hakim Wahid dan Ahmad Sayuti yang membuktikan bahwa Islam sama sekali tidak mendukung perbudakan. Islam justru berperan sebagai pionir dalam mengikis dan menghapus perbudakan secara perlahan. Hal ini berseberangan dengan sebagian orientalis yang mengatakan bahwa Islam adalah agama yang mendukung adanya perbudakan

    0

    full texts

    390

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Refleksi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇