Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
Evaluation on The Supplementation of Fermented Garlic Extract in Protecting Human Lymphocytes In Vitro From The Negative Impact of Gamma-Rays
Garlic (Allium sativum) contains a wide range of phytocompounds that produce various responses in human body. However the knowledge on the potential of fermented form of garlic in protecting negative impacts of radiation is very limited. In this research in vitro efficacy of fermented garlic in protecting negative impact of gamma ray was studied using cytogenetic test. A set of culture of human lymphocytes was irradiated with 60Co gamma rays at dose of 2 Gy (dose rate of 2 Gy/min) and fermented garlic extract at four working concentrations of 0, 125, 250 and 500 mg/mL were added to these cells and then were incubated at 37oC for 48 hrs. Colcemid was added at 3 hr before harvest to collect metaphase cells and it was done by standard methodology for cytogenetic analysis. The fermented garlic extract significantly (p<0.05) did not exhibited antigenotoxic effect of gamma rays and its effectiveness was same as in control (without extract treatment) group. In contrary all concentration of chemicals (125, 250 and 500 mg/mL) were seemingly tend to induce higher number of dicentric and fragment chromosomes than control under microscopic observation. Mitotic index of the cell that was determined with programmed metaphase finder also did not influenced by garlic addition. It was concluded that aqueous garlic extract did not possesses its efficacy in protecting impact of ionizing radiation
Studi Karakteristik Air Tanah Daerah Nganjuk Jawa Timur Dengan Isotop Alam
Telah dilakukan penelitian air tanah di daerahNganjuk, Jawa Timur Dengan isotop alam 14C, 18O dan 2H. Penelitian ini dilakukan dengan mengambil sejumlah sampel air tanah yang berasal dari sumur bor milik PDAM Kabupaten Nganjuk di beberapa lokasi untuk kemudian dilakukan analisis konsentrasi isotop alamnya di lab Hidrologi – PAIR BATAN Jakarta. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik air tanah di daerah Nganjuk berdasarkan konsentrasi isotop alamnya.Berdasarkan hasil analisis isotop alam18O,2H dan 14C secara umum air tanah PDAM Kabupaten Nganjuk diklasifikasikan menjadi tiga, yaitu grup-1 (PDAM: Trunojoyo, Kutorejo, Godean), air tanah dengan konsentrasi isotop alamd18O dan d18H paling miskin, yaitu antara -7,60 o/oo hingga -6,67 o/oo untukd18O dan -45,0 o/oo hingga -44,3 o/oountuk d18H. Air tanah PDAM Godean mengindikasikanoxygen-shiftingdan menghasilkan umur air tanah paling tua, yaitu sekitar 5517 tahun BP. Ketiga air tanah ini diperkirakan berasal dari daerah resapan di lereng Gunung Wilisyang terletak di selatan. Grup-2, yaitu air tanah PDAM Rejoso, memiliki konsentrasi isotop alam d18O dan d2Hyang lebih kaya dibandingkan air tanah grup-1 yang mengindikasikan letak elevasi daerah resapannya lebih rendah dari grup-1 dan diperkirakan berasal dari lereng Gunung Pandan yang terletak di utara dengan hasil isotop alam 14C berumur lebih muda, yaitu sekitar 411 tahun BP. Grup-3, yaitu air tanahPDAM Gondang dengan karakter sebagai air tanah yang mengalami evaporasi atau interaksi dengan air permukaan dan indikasi ini diperkuat dengan data isotop alam 14C yang berumur Modern
Evaluation of Peripheral Blood Lymphocytes Proliferation in Botteng Village, Mamuju Inhabitants Using Binucleate Index
Botteng Village in Mamuju, West Sulawesi was known for the high natural background radiation exposure. Botteng Village inhabitants exposed to high natural radiation in their daily life. Radiation exposure can inhibit the mitosis mechanism at various phases. Our previous study revealed that mitotic and nuclear division indexes in Botteng Village inhabitants were lower compared to control samples. To validate our previous study results here we evaluate the binucleate index in peripheral blood lymphocytes of Botteng Village inhabitants. Blood samples were collected from thirteen healthy adult subjects in Botteng Village and thirteen healthy adult subjects in normal background radiation area. Binucleate index was calculated as the proportion of binucleated cell (BNC) in 500 cells for each sample. Our study showed that the BI in Botteng Village was higher compared to control group (23.58 ± 9.60 vs 23.47 ± 6.24). Statistical analysis revealed that the different was not significant (p=0.973). It is possible that the small sample numbers used in this study were not adequate to represent the BI value in Botteng Village inhabitants. This study also showed that there was insignificant difference of BI in respect to gender and age for all samples. Further study using larger sample number should be conducted to ensure the possibility of BI to evaluate the effect of chronic low radiation dose exposure on lymphocytes proliferation
Efek Pupuk Hayati Terhadap Serapan N (N-15) pada Fase Awal Pertumbuhan Tanaman Jagung
Efek Pupuk Hayati Terhadap Serapan N (N-15) pada Fase Awal Pertumbuhan Tanaman Jagung. Telah dipelajari dengan percobaan pot di rumah kaca PAIR BATAN. Inokulan mikrob Azotobacter vinelandii (A), Bacillus cereus (B), Bacillus megaterium (C), dan campuran dari ketiga jenis mikrob tersebut (ABC) digunakan sebagai pupuk hayati yang diaplikasikan pada tanaman jagung yang tumbuh dalam pot. Rancangan Acak Kelompok (RAK) dengan 4 kali ulangan digunakan dalam percobaan ini. Parameter yang diukur meliputi serapan Nitrogen (N) tanaman, N berasal dari tanah, N berasal dari pupuk hayati dan berat kering tanaman pada 20 HST. Kandungan N berasal dari pupuk hayati dan N berasal dari tanah ditentukan dengan menggunakan teknik isotop N-15. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara signifikan aplikasi pupuk hayati ABC meningkatkan total N tanaman (142,42 %) dan berat kering tanaman (129,03 %) dari kontrol. Berdasarkaan analisis dengan teknik isotop N - 15 menunjukkan bahwa kontribusi yang paling signifikan dalam meningkatkan N tanaman (67,92 %) ditemukan pada perlakuan pupuk hayati ABC
Bakteri Denitrifikasi Inaktif Sebagai Suplemen Untuk Mengurangi Gas Metana dari Cairan Rumen Sapi
Gas metana dari ternak ruminansia merupakan salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca terbesar di dunia, termasuk Indonesia. Gas metana yang bersumber dari peternakan berasal dari dua sumber emisi, yaitu pencernaan dan feses, sehingga produksinya dapat dikurangi melalui modifikasi pakan. Salah satu strategi untuk mengurangi produksi gas metana tersebut adalah dengan penambahan bakteri denitrifikasi, yang mengalihkan akseptor elektron untuk metanogenesis kepada denitrifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk menyelidiki potensi penambahan bakteri denitrifikasi yang diinaktivasi dengan iiradiasi sinar Gamma dalam menurunkan produksi gas metana dalam cairan rumen sapi, yang diuji secara in vitro. Pada penelitian ini diuji empat perlakuan, yaitu dengan penambahan bakteri denitrifikasi aktif, bakteri denitrifikasi yang diinaktivasi dengan iradiasi Gamma Cell 1000 Gy dan bakteri denitrifikasi yang diinaktivasi menggunakan autoklaf 1,5 tekanan atmosfir, 120°C selama 15 menit, seluruhnya pada cairan rumen sapi yang diberi substrat hijauan sorgum secara in vitro. Hasil pengukuran dari masing-masing parameter berupa nilai pH, amonia, volatile fatty acids total, asetat, propionat, butirat, biomassa bakteri, biomassa protozoa, produksi gas total dan produksi gas metana pada jam ke-24 dan 48 mendukung penurunan metanogenesis akibat penambahan bakteri denitrifikasi aktif dan inaktif. Pemberian bakteri denitrifikasi inaktif lebih besar menekan produksi gas metana dibandingkan dengan bakteri aktif. Penurunan produksi gas metana dari jam ke-24 sampai 48 dari perlakuan penambahan bakteri denitrifikasi inaktif-iradiasi, dan inaktif-autoklaf berturut-turut sebesar 41,5% dan 55,3%, yang lebih tinggi daripada dari bakteri denitrifikasi aktif dengan penurunan sebesar 13,6%
Karakterisasi Isotop dan Geokimia Area Panas Bumi Danau Toba, Sumatera Utara
Danau Toba merupakan danau vulkanik terbesar di dunia dan memiliki aktifitas panasbumi. Terdapat dua wilayah di Danau Toba dengan manifestasi panasbumi berupa mata air panas, fumarol dan steaming ground, yaitu di daerah Simbolon dan Pusuk Buhit. Penelitian isotop dan geokima terhadap fluida manifestasi lapangan panas bumi telah dilakukan untuk mengetahui karakter sistem panas bumi tersebut. Pengambilan sampel mata air panas dilakukan untuk analisis kandungan kimia, isotop 18O dan 2H(deuterium) serta isotop 222Rn. Sampel gas diambil dari fumarol untuk analisis komposisi kimia gas. Interpretasi hasil analisis tersebut dimaksudkan untuk mengetahui karakteristik sistem panas bumi seperti asal-usul dan evolusi fluida, temperatur reservoir hingga model konseptual reservoirdanau Toba.Hasil analisis data menunjukkan bahwa area panasbumi danau Toba memiliki estimasi potensi panasbumi dengan temperatur 265°C di Pusuk Buhit dan 235°C di Simbolon. Berdasarkan data isotop stabil (18O dan 2H) dan gas, fluida panas bumi Toba merupakan fluida meteorik dengan sedikit kontribusi sumber magmatik. Namun demikian, komposisi isotop 18O fluida panas bumi di Pusuk Buhit mengalami pergeseran akibat interaksi air-batuan yang lebih intens dibanding fluida daerah Simbolon. Kandungan 222Rn yang rendah dalam sampel air panas menunjukkan adanya pencampuran fluida reservoir dengan air permukaan yang tidak mengandung 222Rn atau air tanah lokal dengan kandungan 222Rn yang sangat rendah
Evaluasi Jerami Sorgum Varietas Samurai 2 Hasil Iradiasi Gamma secara In Sacco
Studi in sacco dilakukan untuk mengevaluasi pengaruh iradiasi gamma terhadap degradasi dan produk fermentasi rumen dari substrat jerami sorgum varietas Samurai 2. Dosis iradiasi yang digunakan sebesar 0, 100 dan 150 kGy bersumber dari cobalt-60. Metode yang digunakan adalah evaluasi secara in sacco dengan titik pengambilan parameter pada jam ke-0, 12, 24, 48 dan 72. Variabel yang diamati adalah degradasi Bahan Kering (BK), karakteristik degradasi BK, degradasi Bahan Organik (BO), karakteristik degradasi BO dan produk fermentasi rumen. Produk fermentasi rumen yang diamati meliputi kondisi pH, konsentrasi amoniak (NH3) dan produksi volatile fatty acid (VFA) total. Penelitian ini menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) dengan tiga perlakuan dan lima ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada periode inkubasi ke-72 jam, dosis iradiasi 150 kGy mampu meningkatkan degradasi BK sebesar 21,66% dibandingkan kontrol dan 12,09% dibandingkan dosis 100 kGy (P<0,05). Perlakuan iradiasi gamma dapat meningkatkan nilai degradasi maksimum (a+b) BK pada jerami sorgum varietas Samurai 2 (P<0,05). Perlakuan iradiasi gamma dosis 150 kGy juga mempengaruhi karakteristik degradasi BO yaitu peningkatan parameter degradasi efektif (DE) pada nilai k 0,02 (P<0,05). Perlakuan iradiasi gamma dapat meningkatkan kondisi pH dan konsentrasi NH3 (P<0,05). Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa Iradiasi gamma dosis 100 dan 150 kGy mampu meningkatkan degradasi BK dan BO. Dosis radiasi 150 kGy merupakan dosis terbaik untuk meningkatkan degradasi BK maksimum (a+b)
Keseragaman Dalam Galur dan Keragaman Antar Galur Padi Mutan M5 Berbasis Iradiasi Varietas Lokal Kalimantan Selatan
Keseragaman dalam Galur dan Keragaman antar Galur Padi Mutan M5 Berbasis Irradiasi Varietas Lokal Kalimantan Selatan. Preferensi petani lahan rawa terhadap padi varietas lokal tinggi, namun varietas lokal berumur panjang dan hasilnya rendah, sehingga perlu perbaikan varietas lokal. Penelitian ini merupakan bagian kegiatan perbaikan padi varietas lokal untuk menghasilkan galur-galur harapan berumur pendek-sedang, sedangkan butir gabah yang ramping dan pera tetap dipertahankan. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui keseragaman dalam galur dan keragaman antar galur M5. Penelitian dilaksanakan di Sawah Percobaan Fakultas Pertanian Universitas Lambung Mangkurat sejak Maret - September 2014. Penelitian menggunakan 300 galur terpilih tanpa ulangan. Keseragaman dalam galur dianalisis dengan membandingkan ragam masing-masing galur mutan dengan ragam tetuanya. Keragaman antar galur dilakukan dengan membandingkan ragam semua galur dengan tetuanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar galur M5 asal tetua Siam Harli dan Siam Kuatek sudah seragam, sedangkan ragam galur tetua Siam Harli dan Siam Kuatek tidak berbeda nyata dengan galur-galur M5, tetapi sebagian galur tetua asal Siam Harli maupun Siam Kuatek lebih baik daripada tetuanya, sehingga berpeluang untuk memilih galur-galur yang lebih baik daripada tetuanya
Analisis Interaksi Genotipe x Lingkungan dan Stabilitas Galur Mutan Harapan Kacang Hijau [Vigna radiata (L.)]
Analisis Interaksi Genotipe x Lingkungan dan Stabilitas Galur Mutan Harapan Kacang Hijau [Vigna radiata (L.)]. Analisis Interaksi genotipe × lingkungan merupakan salah satu langkah penting yang tepat untuk menduga kesesuaian genotipe galur mutan harapan kacang hijau dalam beradaptasi pada lingkungan yang beragam. Dalam penelitian ini, sembilan galur mutan harapan dan dua varietas kacang hijau di tanam di enam belas lokasi selama 2008- 2012 untuk menentukan stabilitas hasil biji dan kemampuan beradaptasi. Penelitian ini menggunakan rancangan acak kelompok dengan empat ulangan. Analisis gabungan untuk karakter hasil dilakukan mengikuti prosedur baku. Stabilitas hasil dan adaptasi hasil dianalisis dengan menggunakan koefisien regresi (bi), rata-rata hasil dan simpangan regresi oleh Finlay-Wilkinson dan metode Eberhart-Russell. Dari hasil penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa galur mutan harapan kacang hijau PsJ S-31 memperlihatkan hasil yang tinggi (2,47 ton/ha), dan diklasifikasikan sebagai galur yang stabil dengan metode analisis stabilitas Finlay-Wilkinson, Eberhart - Russel. PsJS-31 dapat direkomendasikan kepada petani berdasarkan pada keragaan stabilitas dan potensi hasil tinggi selama seleksi. Mutan PsJS-31 telah dirilis sebagai varietas baru pada tahun 2013 dengan nama Muri
Potensi Pemuliaan Mutasi untuk Perbaikan Varietas Padi Lokal Indonesia
Potensi Pemuliaan Mutasi untuk Perbaikan Varietas Padi Lokal Indonesia. Padi (Oryza sativa L.) merupakan tanaman sereal penting dalam memenuhi kebutuhan nutrisi manusia. Padi terbagi kedalam dua sub-spesies yaitu Indika dan Japonika. Sub-spesies Japonika terdiri dari Temprate dan Tropical Japonika (disebut dengan Javanika). Sebagian besar Javanika berasal dari Indonesia yaitu sebagai varietas lokal dengan jumlah lebih dari 8000 varietas. Tulisan ini bertujuan untuk membahas potensi pemuliaan mutasi, keberhasilan dan kegiatan yang sedang berjalan untuk perbaikan genetik varietas padi lokal Indonesia. Secara alami varietas lokal telah teruji ketahanannya terhadap berbagai cekaman biotik dan abiotik sehingga merupakan kumpulan sumberdaya genetik yang sangat bermanfaat. Varietas lokal biasanya beradaptasi baik pada daerah asalnya dengan rasa nasi dan aroma sesuai selera masyarakat setempat. Namun demikian padi lokal memiliki kekurangan seperti umur dalam, batang tinggi sehingga mudah rebah, tidak responsif terhadap pemupukan dan produksi rendah. Pengadaan benih biasanya dilakukan dengan menyisihkan dari hasil panen petani sendiri sehingga mutu benih, terutama tingkat kemurniannya sangat rendah. Perbaikan mutu benih diupayakan melalui pemurnian dan pelepasan varietas. Bahkan beberapa varietas diperbaiki terlebih dahulu melalui pemuliaan mutasi radiasi sebelum dilepas, seperti varietas Pandan Putri yang lebih genjah dibandingkan varietas asalnya Pandan Wangi dari Kabupaten Cianjur. Keberhasilan memperbaiki varietas Pandan Wangi telah memicu Pemerintah Daerah lainnya untuk ikut memperbaiki sifat-sifat agronomis padi lokal mereka melalui teknologi nuklir, karena diyakini pemuliaan mutasi radiasi mampu memperbaiki kelemahan varietas padi lokal tanpa merubah sifat lain yang disukai