Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi
Not a member yet
    235 research outputs found

    Pengukuran Scaling pada Pipa menggunakan Tomografi Gamma Parallel Beam

    Get PDF
    Pembentukan scale pada pipa maupun unit proses lainnya dapat terjadi di dalam proses produksi. Scaling pada pipa dapat mengurangi diameter pipa sehingga mengurangi laju alir dan bahkan mengakibatkan pipa tersumbat. Pengukuran diperlukan untuk mengetahui keberadaan dan persentase scaling pada pipa. Tomografi merupakan teknik yang digunakan untuk menginvestigasi struktur dalam suatu obyek secara non-intrusive dan non-invasive. Dalam penelitian ini sistem tomografi digunakan untuk pemindaian translasi dan rotasi secara otomatis. Sumber radiasi gamma 137Cs yang terkolimasi mentransmisikan foton gamma menembus obyek uji yang kemudian dideteksi dengan detektor sintilasi NaI(Tl). Kumpulan data proyeksi dibangun menjadi citra menggunakan perekonstruksi citra dengan metode filtered back projection (FBP). Citra hasil rekonstruksi dapat membedakan material dengan nilai densitas yang berdekatan seperti air (1 g/cm3), parafin (0,9 g/cm3), dan pertalite (0,72-0,77 g/cm3). Citra pipa dengan scale dianalisis untuk menghitung persentase area aliran setelah terjadi scaling terhadap pipa normal (pipa tanpa scale). Hasil analisis citra area aliran yang tersisa pada pipa geothermal plant adalah 10,06% dengan 16 proyeksi, 9,86% dengan 32 proyeksi, 9,75% dengan 64 proyeksi, dan 9,76% dengan 128 proyeksi, sedangkan 26,08% pada pipa furnace dengan 32 proyeksi. Sistem yang telah dibangun berhasil memindai obyek, mengakuisisi dan mengumpulkan data, serta membangun dan menganalisis citra untuk menginvestigasi scale di dalam pipa

    Evaluasi In Vitro Silase Sinambung Sorgum Varietas Samurai 2 yang Mengandung Probiotic BIOS K2 dalam Cairan Rumen Kerbau

    Get PDF
    Evaluasi In Vitro Silase Sinambung Sorgum Varietas Samurai 2 yang Mengandung Probiotik BIOS K2 dalam Cairan Rumen Kerbau. Kebutuhan pakan hijauan ternak ruminansia dapat ditingkatkan kualitasnya dengan pembuatan silase. Salah satu teknik silase yang dikembangkan adalah silase sinambung, yaitu suatu teknologi modifikasi pembuatan silase dengan waktu fermentasi yang lebih singkat akibat pemberian bibit silase pada saat awal pembuatannya. Peningkatan kualitas silase dapat dilakukan dengan menambah suplemen berupa probiotik seperti BIOS K2. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengevaluasi pakan silase sinambung hijauan sorghum varietas Samurai 2 yang mengandung probiotik BIOS K2. Evaluasi pakan dilakukan dengan metode in vitro Hohenheim gas test menggunakan inokulum cairan rumen dari kerbau berfistula yang diinkubasi selama 24 jam pada suhu 390C. Perlakuan terdiri dari pakan A (silase sorgum 21 hari), B (silase sinambung sorghum 3 hari), dan C (silase sinambung sorgum 7 hari). Parameter yang diuji adalah konsentrasi amonia, volatile fatty acids (VFA), sintesis protein mikroba (bakteri dan protozoa), degradasi bahan organik (%DBO), konsentrasi gas karbondioksida (CO2) dan metana (CH4). Data hasil perlakuan dianalisis dengan menggunakan rancangan acak lengkap. Hasil pengujian menunjukkan bahwa adanya pengaruh yang signifikan perlakuan pakan terhadap konsentrasi amonia, konsentrasi VFA, sintesis protein mikroba dan %DBO, sedangkan untuk konsentrasi gas CO2 dan CH4 tidak ada pengaruh. Perlakuan pakan C menghasilkan konsentrasi amonia, VFA dan sintesis protein bakteri berturut-turut sebesar 0,44 mg/ml; 0,89 mg/ml; dan 5,18 mg/ml/jam, lebih tinggi dibandingkan dengan perlakuan A dan B. %DBO tertinggi terjadi pada perlakuan A sebesar 47,30%, sedangkan B dan C sebesar 25,18 dan 37,15%. Sintesis protein mikroba protozoa tertinggi terjadi pada perlakuan A dan B sebesar 2,62 mg/ml/jam, sedangkan perlakuan C sebesar 2,55 mg/ml/jam. Disimpulkan dari percobaan ini bahwa pakan silase sinambung sorgum varitetas Samurai 2 dengan lama inkubasi selama 7 hari (C) memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan silase sorgum yang diinkubasi 21 hari (A)

    An Initiative the Used of Sterile Insect Technique (SIT) To Control Filariasis in Indonesia

    Get PDF
    Filariasis as part of the neglected tropical disease is one of the health problems in the world. Filariasis divided into onchocerciasis (river blindness) and lymphatic filariasis or elephantiasis. This disease caused by filarial nematode parasites Onchocerca volvulus, Wuchereria bancrofti, Brugia malayi and Brugia timori. Filariasis transmitted by several mosquito genera as the vector. Indonesia as endemic filariasis, agreed on plays a role on World Health Organization (WHO) global filariasis elimination in 2020. Sterile insect technique (SIT) is a potential method which can be applied to filariasis elimination program by controlling the mosquito population. Basic principles of SIT involve mass rearing of species target, sterilization process using gamma-rays and releasing sterile male insect into a target area. SIT combined with other methods under one management as Area-wide Integrated Pest Management (AW-IPM) to increasing effectiveness and successful filariasis elimination program in Indonesia. Filariasis elimination program in Indonesia has several challenges and needed public participation to achieve program goals

    Karakteristik beberapa Galur Mutan Sorgum dari Potensi Produksi Gas dan Degradabilitas secara In-vitro

    Get PDF
    Teknik produksi gas digunakan untuk mengetahui perbandingan beberapa jenis galur mutan sorgum yang dihasilkan oleh BATAN sebagai pakan ruminansia. 8 jenis daun galur mutan sorgum dan rancangan acak lengkap digunakan dalam pengujian ini. Untuk melihat perbandingan antara perlakuan dilakukan uji anova dan uji lanjut BNT bila pengaruh perlakuan signifikan. Sampel ditimbang 375 mg, dimasukkan ke dalam syringe glass 100 ml ditambah 30 ml media campuran cairan rumen dengan buffer bicarbonat dan diinkubasi pada suhu 39oC selama 24 jam. Variabel yang diukur adalah produksi gas setelah 0, 2, 4, 6, 8,19, 12, 24 dan 48 jam inkubasi, potensi produksi gas, degradabilitas bahan kering (DBK) dan organik (DBO). Hasil yang diperoleh menunjukkan produksi gas, potensi produksi gas dan degradabilitas yang dihasilkan berbeda nyata (P<0,05). Produksi gas tertinggi setelah 24 dan 48 jam adalah perlakuan H dan B yaitu 57,59 dan 71,75 ml/375 mg BK, sementara itu terendah adalah perlakuan I dan G yaitu 50,33 dan 54,92 ml/375 mg BK. Potensi produksi gas yang dihasilkan tertinggi adalah perlakuan B yaitu 85,46 ml/375 mg BK dan terendah adalah perlakuan G yaitu 56,74 ml/375 mg BK, sementara itu persentase produksi gas selama 24 jam tertinggi adalah perlakuan G yaitu 82,45% dan terendah perlakuan B yaitu 62,24%. Degradabilitas bahan kering (DBK) tertinggi setelah 24 dan 48 jam inkubasi adalah perlakuan D dan A yaitu 54,45 dan 67,31%, sementara itu terendah adalah perlakuan G yaitu 50,85 dan 58,93%. Degradabilitas bahan organik (DBO) tertinggi tertinggi setelah 24 dan 48 jam inkubasi adalah perlakuan D dan B yaitu 54,13 dan 69,13%, sementara itu terendah adalah perlakuan G yaitu 50,67 dan 58,93%. Secara umum ada dua jenis galur mutan sorgum hasil iradiasi yaitu mudah terdegradasi sebelum 24 jam dan setelah 24 jam, sehingga bisa digunakan untuk pedoman pemberian pakan untuk ruminansia

    Perbaikan Produksi Kapas (Gossypium hirsutum) Varietas Niab 999 dengan Teknik Mutasi Radiasi

    Get PDF
    Pemuliaan tanaman kapas perlu terus dilakukan untuk mendapatkan varietas kapas yang lebih unggul dari segi kuantitas dan kualitas. Kapas varietas NIAB 999 hasil pemuliaan yang berasal dari kultur jaringan embrio aksis kapas varietas NIAB-999 yang diradiasi dengan sinar gamma 60Co dengan dosis 20 gray. Benih kapas yang dihasilkan dari kultur jaringan Kj 1 dan Kj 2 dengan hasil yaitu percobaan dengan menggunakan rancangan Acak Kelompok dengan ulangan 4 kali luas plot yang berukuran 8 x 7 M2  dengan jarak tanam 10 x 100 cm dan menggunakan varietas Kanesia 2, Kanesia 8 dan Kanesia 9 sebagai pembanding. Pengujian jumlah buah yang terbanyak UDHP Kanesia 2 (91) dan UDHL Kanesia 2 (77). Produksi kg/ha yang tertinggi dari 6 uji multi lokasi di NTB1 Kj 2 (3740,00), Lamongan Kanesia 2 (829,20), Banyuwangi Kanesia 9 (982,4), NTB 2 Kanesia 9 (1470), Bulukumba Kanesia 9 (1565,4), Cinangka Kanesia 9 (1959,2) hasilnya tidak berbeda nyata, artinya sama antara kontrol nasional dan galur mutan. Penggunaan insektisida pada tanaman menyebabkan penurunan produksi kapas berbiji yaitu galur mutan Kj 1 dan Kj 2 sehingga galur ini lebih tinggi produktivitasnya Kj 2 (857 kg/ha) dari pada yang disemprot pembasmi hama, dari tanaman kapas tidak berbeda nyata antara galur dan varietas pembanding. Galur Kj 2 dilepas sebagai varietas baru oleh Menteri Pertanian masing masing dengan nama Karisma-1 pada tahun 2009

    Aplikasi Isotop Alam untuk Pendugaan Daerah Resapan Air Bagi Mataair Di Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor, Jawa Barat

    Get PDF
    Mataair sebagai sumber airtanah di Kecamatan Cijeruk dimanfaatkan oleh warga sekitar maupun perusahaan air. Pemanfaatan air yang berlebihan menyebabkan terjadinya kekeringan air selama musim kemarau. Perlu adanya konservasi pada daerah resapan air bagi mataair di Kecamatan Cijeruk untuk menjaga ketersediaan air di mataair agar mencukupi permintaan air. Penentuan titik lokasi daerah resapan dan analisis kimia airtanah perlu dilakukan untuk memberi informasi yang diperlukan dalam pelaksanaan konservasi pada daerah resapan mataair. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan: (1) menentukan asal usul dan genesis airtanah, (2) menentukan daerah resapan air bagi mataair, (3) mengetahui fasies airtanah, dan (4) mengetahui kualitas airtanah. Pengambilan sampel dilakukan di Kecamatan Cijeruk, dengan mengambil sampel airtanah yang berasal dari 10 lokasi sumber mataair yang digunakan oleh perusahaan air dan warga pada bulan Mei 2015. Rasio isotop D dan  pada sampel air diukur dengan liquid water stable isotope analyzer LGR DLT-100 untuk menentukan genesis airtanah dan daerah resapan mataair. Analisis hidrokimia untuk mengetahui fasies dan kualitas airtanah. Parameter kimia yang digunakan adalah pH, Daya Hantar Listrik (DHL), Total dissolved Solid (TDS), dan ion mayor. Hasil penelitian menunjukan: (a) mataair berasal dari beberapa sumber yaitu air hujan dan airtanah, (b) daerah resapan CJR01, CJR02, CJR03, dan CJR04 berada pada elevasi 1988 – 2055 m.dpl, (c) daerah resapan CJR06 dan CJR09 pada elevasi 1379 – 1430 m.dpl, (d) daerah resapan mataair CJR07 dan CJR08 pada elevasi 811 – 836 m.dpl, (e) daerah resapan CJR05, dan CJR10 masing – masing berada pada elevasi 1475 mdpl, dan 1932 m.dpl, (f) fasies airtanah tergolong dalam fasies Mg-HCO3 (magnesium bikarbonat), dan (g) kualitas airtanah merupakan air tawar segar (fresh water)

    Pemuliaan Mutasi Tanaman Nanas (Ananas comosus (L.) Merr.) Menggunakan Iradiasi Gamma untuk Perbaikan Varietas Nanas Smooth Cayenne

    Get PDF
    Pemuliaan Mutasi Tanaman Nanas (Ananas comosus (L.) Merr.) Menggunakan Iradiasi Gamma untuk Perbaikan Varietas Smooth Cayenne. Pada saat ini, jenis nanas yang paling banyak dibudidayakan dalam berbagai perdagangan dunia adalah jenis Smooth Cayenne. Banyak klon yang berasal dari kultivar ini seperti GP1, GP2, GP3, GP4, GP5, dan F180 ditanam oleh GGP baik untuk buahsegar dan olahan. GGPC mulai melakukan usaha perbaikan varietas nanas sejak tahun 1986, yaitu dengan tujuan meningkatkan kualitas dan produksi yang tinggi. Pemuliaan mutasi nanas dimulai pada tahun 2006, yaitu melalui kerjasama dengan Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi (PAIR), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Sejumlah 10 mahkota (crown) nanas berasal dari GP2, GP3 (A10) dan klon F180 diiradiasi sinar gamma bersumber Cobalt-60 terpasang pada iradiator gamma chamber 4000A dengan dosis 200 dan 300 Gy. Crown yang telah diradiasi kemudian ditanam di lahan percobaan dengan mengikuti budidaya standar komersial di PT. GGPC. Secara umum hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan yang signifikan antara kedua dosis iradiasi (200 dan 300 Gy) pada fenotipe tanaman. Namun, keragaman fenotipe yang sangat tinggi dijumpai pada klon turunan tanaman vegetatif (V1). Beberapa variasi tanaman yang muncul tercatat sebagai berikut: 47% tanaman normal, 15% Rosset, 11% berduri, 5% crown bercabang, 4% tanaman memiliki banyak daun dan 18% buah berbentuk abnormal. Variasi mutan yang signifikan juga diamati pada klon-lon turunan tanaman V2 dan beberapa mutan tampak lebih stabil pada generasi V3. Program pemuliaan nanas ini akan terus dilanjutkan untuk evaluasi yang berkaitan dengan perbaikan produktivitas, kualitas, dan ketahanan terhadap hama dan penyakit tertentu

    Pendugaan Ragam Genetik dan Heritabilitas Karakter Agronomi Gandum Hasil Tiga Perlakuan Teknik Iradiasi Sinar Gamma

    No full text
    Teknik iradiasi sinar gamma dapat meningkatkan frekuensi dan memperluas spektrum mutasi makro namun belum banyak dikaji pengaruhnya terhadap mutasi mikro pada karakter kuantitatif dalam populasi termutasi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh perlakuan teknik iradiasi terhadap keragaman genetik dan heritabilitas karakter agronomi gandum pada generasi M2. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Juli sampai November 2014 di kebun percobaan Cibadak, Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Bioteknologi dan Sumber Daya Genetik Pertanian, Kementerian Pertanian. Benih tiga galur gandum (F-44, K-95 dan WL-711) diberikan perlakuan tiga teknik iradiasi sinar gamma (akut, terbagi dan berulang). Generasi M1 ditanam secara bulk di lahan dan dipanen secara individu. Sebanyak 75 malai tiap kombinasi perlakuan ditanam satu baris per malai sebagai generasi M2 dan diamati karakter agronominya. Perlakuan teknik iradiasi sinar gamma menginduksi perluasan nilai kisaran semua karakter agronomi populasi M2. Teknik iradiasi terbagi mampu menginduksi nilai rataan yang lebih tinggi dengan kisaran yang lebih luas pada karakter panjang malai dan jumlah spikelet per malai dibanding teknik iradiasi yang lain. Teknik iradiasi terbagi dan berulang menghasilkan ragam yang lebih besar dibanding iradiasi akut pada karakter hasil biji per tanaman. Karakter agronomi jumlah anakan produktif, bobot malai, bobot biji per malai dan bobot biji per tanaman pada populasi M2 hasil induksi tiga teknik iradiasi memiliki heritabilitas yang tinggi. Tiga teknik iradiasi menginduksi perluasan keragaman genetik semua karakter agronomi populasi M2 yang diamati kecuali tinggi tanaman

    The Changes of Nutrient Composition and In Vitro Evaluation on Gamma Irradiated Sweet Sorghum Bagasse

    Get PDF
    In vitro rumen fermentation study was done to evaluate the effects of gamma irradiation on nutrient compound changes and rumen fermentation product of sweet sorghum bagasse (SSB). The level doses 0, 50, 100 and 150 kGy from cobalt-60 gamma rays irradiator was used to treate sweet sorghum bagasse (SSB). Variables measured were nutrient values, gas production, methane (CH4) production, total volatile fatty acid (TVFA), ammonia (NH3), in vitro dry matter digestibility (IVDMD) and in vitro organic matter digestibility (IVOMD) after 72 h in-vitro incubation times. Complete randomized design (CRD) (four treatments and four replications) was used to analyze data. The results showed that gamma irradiation doses of 50, 100 and 150 kGy were able to reduce neutral detergent fibre (NDF) (2.15; 3.29 and 5.44% respectively) and acid detergent fibre (ADF) (3.29; 4.58 and 4.58% respectively) and significantly different (P<0.05). Gamma irradiation was capable to increas total volatile fatty acid (TVFA), IVDMD and IVOMD (P<0.05). Irradiation doses of 100 and 150 kGy also increased protozoa population and CH4 production significantly (P<0.05). Gamma irradiation improved in vitro rumen performance represented in rumen fermentation products. Keywords : Gamma irradiation, In vitro fermentation, Nutrient composition, Sweet sorghum bagass

    Potensi Kombinasi Teknologi Mutan Padi Toleran Kekeringan dan Polimer Superabsorben: Peran IPTEK Nuklir dalam Peningkatan Produksi Padi Lahan Kering

    Get PDF
    Padi merupakan sumber bahan pangan pokok, yang dikonsumsi lebih dari 95% penduduk Indonesia. Kebutuhannya terus meningkat tiap tahun, namun belum berhasil dicukupi dari produksi sendiri, sehingga masih bergantung impor hingga 1.347.856 ton per tahun. Upaya yang dapat dilakukan selain impor, adalah peningkatan produksi padi melalui ekstensifikasi dan intensifikasi pertanian. Namun 72,98% daratan Indonesia yang sesuai untuk pertanian merupakan lahan kering, tentu akan menghambat peningkatan produksi padi. IPTEK Nuklir dapat berperan dalam optimalisasi pemanfaatan lahan kering, dimana keterbatasan keragaman alami dalam pemuliaan tanaman padi toleran kekeringan, dan polimerasi serta grafting polimer superabsorben, keduanya dapat diperbaiki melalui radiasi pengion. Kombinasi teknologi mutan padi toleran kekeringan dan polimer superabsorben sangat potensial sebagai satu diantara upaya-upaya untuk meningkatkan produksi padi. Namun, upaya penerapan teknologi tersebut tentu akan menimbukan masalah karena lemahnya diseminasi teknologi inovatif, dan lambatnya adopsi teknologi. Diperlukan  perhatian yang lebih besar dari peneliti, pengambil kebijakan, dan masyarakat pengguna

    224

    full texts

    235

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇