Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
Efek Vaksinasi Berulang Plasmodium berghei Radiasi dalam Menginduksi Kekebalan Humoral dan Proteksi pada Mencit (Mus musculus) Swiss Webster
Radiasi gamma dapat digunakan untuk melemahkan parasit. Parasit yang lemah memberikan kesempatan bagi inangnya untuk mengembangkan respon imun yang mampu mengatasi penyakit paska infeksi. Antibodi merupakan komponen kekebalan tubuh yang berperan dalam respon imun humoral. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh imunisasi berulang dan uji tantang terhadap respon antibodi dan pertumbuhan parasit. Penelitian ini menggunakan rancang acak dengan 60 ekor mencit Swiss Webster yang dibagi menjadi 3 kelompok dan dilakukan selama 62 hari. Dosis radiasi yang digunakan adalah 150 Gy, 175 Gy, dan kontrol positif (0 Gy), dosis imunisasi dengan 1 x 107 parasit diradiasi per ml. Imunisasi ulang dilakukan 1 dan 2 minggu setelah imunisasi pertama. Uji tantang dilakukan satu bulan setelah imunisasi pertama. Pertumbuhan parasit diamati setiap dua hari dan pengamatan respon antibodi diamati pada hari ke - 8, 15, 40, 47, dan 62. Hasil yang diperoleh adalah, konsentrasi antibodi mencit diimunisasi dengan dosis 175 Gy meningkat hingga 3 kali setelah imunisasi kedua, pertumbuhan parasit relatif rendah, dan 60% mencit tetap sehat hingga hari ke 62. Dapat disimpulkan bahwa imunisasi ulangan P. berghei yang diradiasi 175 Gy dapat meningkatkan konsentrasi antibodi, menekan pertumbuhan parasit, mencegah manifestasi gejala klinis dan mencit tetap sehat sampai hari ke – 62
Efektifitas Kapang Trichoderma viride dalam Menghidrolisis Substrat Jerami Padi dan Batang Rumput Gajah dengan Variasi Perlakuan NaOH dan Sinar Gamma
Efisiensi delignifikasi substrat dapat ditingkatkan dengan perlakuan awal secara fisik yaitu dengan iradiasi gamma tinggi. Radiasi gamma akan memutuskan rantai molekul lignoselulosa menyebabkan pembentukan gugus karbonil selulosa yang membantu pemecahan selulosa. Perlakuan iradiasi gamma terhadap kapang dapat menstimulasi aktivitas enzim ekstraseluler.Tujuan penelitian untuk meningkatkan aktivitas enzim selulase dari kapang Trichoderma viride yang diiradiasi sinar gamma dari sumber radiasi Co-60 dan meningkatkan produksi glukosa pada substrat yang diberi perlakuan NaOH dan diiradiasi sinar gamma melalui hidrolisis enzimatik dan fermentasi padat. Substrat yang digunakan ialah jerami padi dan batang rumput gajah. Iradiasi terhadap kapang T. viride dilakukan pada dosis 0, 250, 500, 750 dan 1000 Gy. Penambahan NaOH dengan konsentrasi 0, 1, 2, 3 dan 4%, kapang T. viride yang diiradiasi dengan dosis 500 Gy memiliki aktivitas enzim tertinggi sebesar 3,74 U/mL dibandingkan T. viride 0 Gy sebesar 1,46 U/mL. Enzim kasar yang dihasilkan digunakan untuk menghidrolisis jerami padi dan batang rumput gajah yang diiradiasi gamma dengan dosis 0, 100 dan 200 kGy. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penambahan NaOH 3% dapat menghasilkan hidrolisis selulosa yang terbaik sebesar 7,91%. Kadar glukosa meningkat dengan meningkatnya dosis iradiasi substrat. Hidrolisis enzimatik substrat batang rumput gajah menghasilkan glukosa yang lebih banyak sebesar 2,96 mg/mL, sedangkan hidrolisis enzimatik dari jerami padi menghasilkan glukosa sebesar. 2,72 mg/mL, dan juga pada fermentasi padat dihasilkan glukosa 3,12 mg/mL pada batang rumput gajah dan 2,17 mg/mL pada jerami padi. Perlakuan sinar Gamma dengan dosis 500 Gy pada kapang T. viride mampu meningkatkan aktivitas enzim selulase sebesar 2,5 kali lebih besar dari kontrol. Penambahan NaOH sebesar 3% dan dosis iradiasi yang semakin tinggi pada jerami padi dan batang rumput gajah menghasilkan kadar glukosa yang semakin tinggi juga
Peningkatan Kemampuan Mikroba Pelarut Fosfat dan Kalium Melalui Teknik Mutasi Iradiasi Gamma
Iradiasi gamma merupakan salah satu alternatif untuk memicu mutasi yang dapat menginduksi peningkatan kemampuan mikroba pelarut fosfat dan kalium. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh iradiasi gamma terhadap mikroba pelarut fosfat dan kalium, mempelajari perubahan kemampuan mutan mikroba dalam melarutkan fosfat dan kalium, serta perubahan pada tingkat molekuler yang terjadi akibat mutasi iradiasi gamma Metode penelitian terdiri dari iradiasi mikroba menggunakan sinardengan dosis 0; 1; 2,5; 5; 7,5; 10; 15 kGy, uji kemampuan mikroba dalam melarutkan fosfat dan kalium setelah iradiasi serta pengujian pada tingkat molekuler. Hasil yang didapatkan pada penelitian ini adalah iradiasi gamma memberikan pengaruh terhadap jumlah populasi dan kemampuan mikroba dalam melarutkan fosfat dan kalium. Hal ini menunjukkan bahwa sinar gamma dengan dosis 1 kGy sampai 15 kGy menurunkan populasi bakteri dan fungi. Semakin tinggi dosis iradiasi gamma jumlah sel yang mati meningkat. Umumnya iradiasi dengan sinar gamma menghasilkan mutan dengan kemampuan melarutkan P dan K yang menurun. Akan tetapi beberapa dosis mampu meningkatkan kemampuan mutan dalam melarutkan fosfat dan kalium. Mutan BPK5 pada dosis 7,5 kGy mampu melarutkan fosfat (165,67 ppm) dan kalium (18,89 ppm) yang lebih tinggi dibandingkan kontrol. Mutan FPF 4 pada dosis 2,5 kGy mampu melarutkan fosfat (418,15 ppm) lebih tinggi dibandingkan kontrol, sedangkan mutan FPF 4 mampu melarutkan kalium (13,90 ppm) lebih tinggi dibandingkan kontrol pada dosis 15 kGy. Perubahan pada tingkat molekuler diindikasikan dengan terjadinya perubahan basa pada sekuen DNA antara isolat induk (tanpa iradiasi) dengan sekuen mutan. Pada bakteri mutasi tertinggi terjadi pada transisi adenin menjadi guanin dan transversi timin menjadi sitosin dengan persentase masing-masing terhadap total perubahan sebesar 23,91 %. Perubahan basa pada sekuen DNA isolat mutan fungi ditunjukkan dengan terjadinya insersi adenin dan timin dengan persentase masing-masing terhadap perubahan total sebesar 50 %
Serapan Nitrogen pada Kedelai Varietas Mutiara 3 Akibat Pemberian Rhizobium dan Mikroba Pelarut Fosfat
Varietas Mutiara 3 merupakan salah satu varietas unggul kedelai yang dihasilkan melalui teknik mutasi radiasi. Pengembangan varietas kedelai unggul nasional harus didukung oleh teknologi pemupukan seperti pemanfaatan teknologi pupuk hayati. Penggunaan pupuk hayati rhizobium perlu memperhitungkan aspek kesesuaian antara bakteri Rhizobium yang diaplikasikan dengan varietas tanaman kedelai. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui pengaruh kombinasi rhizobium dan mikroba pelarut fosfat terhadap tanaman kedelai varietas Mutiara 3. Seleksi isolat rhizobium dilakukan dengan melihat pola dan kecepatan tumbuh dalam media manitol ekstraks khamir, dan menguji secara invivo pada tanaman kedelai. Pengujian mikroba pelarut fosfat dilakukan dengan mengukur kelarutan P pada media cair Pikovskaya dengan metode fosfat biru molibdate. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari empat jenis isolat, bakteri Rhizobiumisolat R1 sesuai untuk kedelai varietas Mutiara 3, dan secara signifikan meningkatkan bobot kering tanaman sebesar 19.75% dan serapan N sebesar 25.88% dari kontrol. Mikroba pelarut fosfat FPF4 mampu meningkatkan kelarutan P paling tinggi dalam media cair Pikovskaya sebesar 51.13 kali dari kontrol. Kombinasi Rhizobium dan mikroba pelarut fosfat mampu mengurangi kebutuhan pupuk kimia sebesar 50%. Selain itu kombinasi rhizobium isolat R1 dan mikroba pelarut fosfat isolat FPF4 mampu meningkatkan bobot kering tanaman kedelai sebesar 41.67% dan serapan N sebesar 196.47% dari kontrol
Detection of the Resistance of Parasite to Sulfadoxine-pyrimethamine Drugs and msp-2 Genotyping as A Baseline in Developing Malaria Vaccine with Ionizing Radiation
Polymorphism or mutation in specific genes of P. falciparum and P. vivax is involved in the resistance to sulfadoxine-pyrimethamine (SP) antimalarial drug. On the other hand msp-2 gene plays an important role in drug resistance related genotyping. This study was undertaken as a basic information in assessing the urgent of development of malaria vaccine that can be created by ionizing radiation. Deoxy ribonucleic acid (DNA) of blood from malaria infected outpatients in Dok II Hospital of Jayapura for November 2014 period was amplified using nested polymerase chain reaction (PCR) and followed by restriction fragment length polymorphism (RFLP) analysis to determine the polymorphisms of SP resistance. Among 15 samples tested for dhfr gene, 9 (60%) and 8 (53%) samples showed positive result for polymorphisms in JR78/79 and F/108DH primers, respectively. For dhps gene by using JR84/85 and L/L primers 7 samples were positive mutant. These frequencies are lower compared to results of other research. Of these 15 samples examined, 3 had 3D7 alleles and 4 had FC27 alleles of the msp2 gene. No mutated S1105 and S1240 alleles and 6 mutant VDT alleles were found in P. vivax. It can be concluded that the resistance of parasites to SP was quite high, indicating the highly urgency to develop malaria vaccine
Perbaikan Genetik Padi Gogo Beras Merah Sumatera Utara melalui Pemuliaan Mutasi
Padi lokal masih banyak ditemukan dan merupakan aset sumber daya genetik dalam penyediaan varietas unggul yang adaptif, sehingga pengembangannya masih terus diupayakan. Salah satu jenis padi gogo lokal di Sumatera Utara yang banyak ditanam masyarakat adalah padi gogo beras merah, selain memiliki keunggulan baik sebagai makanan pokok maupun fungsi kesehatan bagi tubuh. Varietas lokal biasanya beradaptasi baik pada daerah asalnya dengan rasa nasi dan aroma sesuai selera masyarakat setempat. Namun demikian padi lokal memiliki kekurangan seperti umur dalam, batang tinggi sehingga mudah rebah, tidak responsif terhadap pemupukan dan produksi rendah. Penelitian ini dilaksanakan sejak April 2016 sampai Juni 2017 bertujuan untuk memperbaiki genetik padi beras merah lokal Sumatera Utara (Sigambiri merah) khususnya terkait umur tanaman agar lebih genjah dan postur pendek/semi pendek melalui pemuliaan mutasi (mutasi induksi). Untuk mendapatkan dosis optimum, benih padi diiradiasi dengan sinar gamma Co-60 dosis 0, 100, 200, 300, 400, 500, 600, 700, 800, 900, dan 1000 Gy di Pusat Aplikasi Isotop dan Radiasi-Badan Tenaga Nuklir Nasional (PAIR - BATAN), Jakarta. Penanaman M1 dan M2 dilaksanakan di BPTP Sumatera Utara. Dari hasil pengamatan persentase tumbuh bibit, tinggi tanaman dan panjang akar pada fase pembibitan, dan persentase kehampaan gabah pada tanaman M1 diperoleh dosis iradiasi 200 - 300 Gy merupakan dosis yang efektif dalam menghasilkan keragaman genetik. Hal ini juga terlihat pada populasi tanaman M2 hasil iradiasi 200 Gy menghasilkan jumlah mutasi klorofil yang tergolong luas dengan 8 macam tipe mutasi dari 8 tipe, yaitu albina, xhanta, viridis, tigrina, spotting leaf, alboviridis, marginata, dan striata. Juga menghasilkan keragaman genetik yang luas pada variabel karakter tinggi tanaman, jumlah anakan produktif dan umur panen. Hasil seleksi yang dilakukan pada populasi M2 diperoleh kandidat mutan genjah sebanyak 69 kandidat dengan frekuensi mutasi sebesar 1,09%. Tanaman genjah dan postur pendek (dwarf)/semi-pendek (semidwarf) terseleksi tentu akan sangat berguna sebagai bahan tanaman awal dalam perbaikan varietas padi beras merah dalam program pemuliaan tanaman ke depan
Estimasi Laju Akumulasi Sedimen di Perairan Laut Jawa Menggunakan Unsupported Pb-210
Akumulasi sedimen di perairan Laut Jawa terjadi cukup cepat karena banyaknya masukan material sedimen dari wilayah sekitar. Sejauh ini belum ada penelitian yang memberikan estimasi laju akumulasi di bagian tengah Laut Jawa dengan menggunakan Pb-210 sebagai tracer. Penelitian ini bertujuan untuk menghitung estimasi laju akumulasi sedimen Laut Jawa dengan menggunakan profil unsupported Pb-210. Sedimen core diambil dari dua lokasi di perairan Laut Jawa (bagian barat dan timur) menggunakan multicore pada saat cruise kapal riset Geomarin 3, MAJAFLOX 2015, Pusat Penelitian dan Pengembangan Geologi Kelautan (P3GL), Bandung. Diperoleh panjang sedimen core untuk bagian barat dan timur berturut-turut adalah 35 cm dan 37 cm. Contoh sedimen dipotong dengan interval yaitu 2 cm pada kisaran kedalaman (0-10 cm), 4 cm (kedalaman 10-22 cm) dan 6 cm (kedalaman >22 cm). Analisis aktivitas Pb-210 dilakukan menggunakan detektor Passiveted Implanted Planar Silicon (PIPS) Alpha Spektrometer. Model Constant Rate of Supply (CRS) digunakan untuk menghitung laju akumulasi dan umur sedimen. Hasil menunjukkan laju akumulasi sedimen di bagian barat bervariasi antara 0,002-0,014 kg/m2/th dalam kurun waktu tahun 126 tahun dan di bagian timur bervariasi antara 0,002-0,020 kg/m2/thdalam kurun waktu 128 tahun. Laju akumulasi sedimen mulai mengalami peningkatan pada tahun 1950 dengan laju 0,005 kg/m2/thhingga saat ini mencapai 0,020 kg/m2/th
Estimasi Laju Deposisi Sedimen di Muara Gembong Sungai Citarum
Telah dilakukan perhitungan estimasi laju deposisi sedimen melalui teknik analisis Pb-210 menggunakan alat spektrometer alpha di muara Gembong sungai Citarum.Muara Gembong sungai Citarum mengalami pendangkalan yang menganggu aliran sungai ke laut. Pendangkalan yang terjadi diduga karena rusaknya daerah hulu sungai. Dengan mengetahui profil Pb-210 excess pada sampel sedimen muara dapat diestimasi laju deposisi sedimen. Sampel sedimen muara diambil di dua lokasi, masing-masing satu di sebelah kanan dan kiri muara dengan menggunakan paralon berdiameter dalam 3,7 cm denganmetode gravitasi. Sedimen yang diperoleh diperlakukan sebagai sedimen undisturbed yang disimpan dan dibekukan dengan es campur garam di lapangan, yang selanjutnya disimpan dalam freezer di laboratorium. Sedimen yang telah beku dipotong-potong dalam interval yang diinginkan dan dimulai dari sedimen paling dalam. Sedimen yang telah dipotong dikeringkan dalam oven pada suhu 60oC selama 72 jam, dilakukan perlakuan kimia, dideposisikan dalam plat tembaga murni, dan diukur aktivitas Pb-210 dengan alat spektrometer alpha. Penanggalan umur sedimen dilakukan dengan metode constant of the rate of supply (CRS). Melalui penanggalan umur ini, lebih lanjut diketahui laju deposisi sedimen tiap kurun waktu di kedua lokasi.Laju deposisi rata-rata bulk sedimen cenderung semakin tinggi dari tahun ke tahun, yaitu sebelum tahun 1976 berkisar 0,58 cm/th dan 0,14 cm/th; antara tahun 1976 s/d 1998 berkisar 0,82 cm/th dan 0,89 cm/tahun; antara 1999 s/d 2016 berkisar 1,28 cm/tahun dan 1,28 cm/tahun, masing-masing untuk lokasi I dan lokasi II
Eliminasi Bakteri Patogen pada Sayur dan Buah sebagai Bahan Baku Salad Siap Santap dengan Iradiasi Gamma
Salad siap santap dikategorikan sebagai produk rentan kontaminasi mikroba, sehingga untuk dapat mengurangi risiko tersebut dibutuhkan usaha eliminasi, salah satunya dengan iradiasi gamma. Tujuan penelitian ini adalah membuktikan pemanfaatan iradiasi gamma mampu atau tidak meningkatkan kualitas salad siap santap dari sisi mikrobiologisnya, menjaga sifat fisik dan kimia produk, serta menguji sensitivitas bakteri patogen terhadap iradiasi dan antibiotik. Sampel penelitian adalah sayur selada keriting (Lactuca sativa L. var. crispa) dan buah mentimun Jepang (Cucumis sativus L. var. kyuri) dengan perlakuan iradiasi 0,5 dan 1 kGy (laju iradiasi 1 kGy/jam). Dilakukan uji mikrobiologi, sifat fisik, kadar air, dan kadar serat kasar. Iradiasi gamma pada sayur selada keriting dan buah mentimun Jepang dengan dosis 0,5 dan 1 kGy terbukti mampu meningkatkan kualitas salad siap santap dengan mereduksi kontaminasi hingga 3 siklus log mikroba, serta mempertahankan sifat fisik dan kimia produk. Sensitivitas bakteri E. coli sayur selada keriting terhadap iradiasi dan antibiotik lebih tinggi dibandingkan dengan buah mentimun Jepang
Pengaruh Iradiasi Gamma Terhadap Eliminasi Mikroorganisme dan Perubahan Kadar Protein Pada Ikan Bandeng (Chanos chanos)
Ikan bandeng merupakan salah satu sumber protein yang banyak dikonsumsi masyarakat Indonesia dan mudah ditemui di pasar-pasar di Indonesia. Kurangnya pemahaman akan pentingnya sanitasi menyebabkan ikan bandeng mudah terkontaminasi mikroorganisme. Teknik pengawetan makanan dengan iradiasi gamma dapat diaplikasikan untuk mengawetkan ikan bandeng karena mampu mengeliminasi mikroorganisme tanpa mengubah karakteristik dan kandungan nutrisi ikan bandeng. Pada penelitian ini, ikan bandeng yang diperoleh dari dua pasar berbeda diiradiasi pada laju dosis 1,0 kGy dengan dosis 0; 1,5; dan 3,0 kGy serta disimpan selama 0, 7, 14, 21, dan 28 hari. Pengujian ALT dan total bakteri koliform menunjukkan bahwa iradiasi gamma terbukti ampuh menurunkan jumlah cemaran mikroorganisme pada ikan bandeng. Escherichia coli (E. coli) yang diisolasi dari kedua ikan bandeng memiliki nilai D10 yang berbeda. Akan tetapi, pada pengujian ketahanan E. coli terhadap antibiotik diketahui bahwa kedua isolat E. coli memiliki sensitivitas tinggi terhadap tetrasiklin dibandingkan sefoksitin dan amoksisilin. Hasil pengukuran kadar protein dengan metode Kjeldahl menunjukkan bahwa tidak ada perubahan yang besar pada kadar protein secara signifikan antara ikan bandeng sebelum dan sesudah iradiasi