Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi
Not a member yet
    235 research outputs found

    Penentuan Dosis Iradiasi Sinar Gamma dalam Meningkatkan Keragaman untuk Perbaikan Karakter Kuantitatif Bawang Merah (Allium cepa var. aggregatum)

    Full text link
    Perbanyakan bawang merah (Allium cepa var. aggregatum) secara luas menggunakan umbi, oleh karena itu mutasi merupakan metode yang efektif untuk menginduksi keragaman genetik. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendapatkan informasi mengenai radiosensitivitas dan menginduksi keragaman genetik pada bawang merah varietas Bima Brebes menggunakan iradiasi sinar gamma. Bahan tanam dikelompokkan berdasarkan asal material tanaman, yaitu umbi dan biji. Dosis iradiasi biji adalah 0-1000 Gy dengan rentang 100 Gy, sedangkan pada umbi adalah 0, 1, 2, 4, 6, 8, dan 10 Gy. Radiosensitivitas umbi bawang merah lebih tinggi dibandingkan biji. Nilai LD50 bawang merah asal umbi adalah 7,55 Gy dan asal biji adalah 75,26 Gy. Iradiasi mampu menstimulasi pertumbuhan tanaman pada dosis yang mendekati LD20 pada umbi, yaitu pada nilai 2 Gy. Keragaman yang terbentuk tersebar secara acak pada berbagai dosis iradiasi dan karakter pengamatan

    Respon Kerapatan Stomata dan Kandungan Klorofil Padi (Oryza sativa L.) Mutan terhadap Toleransi Kekeringan

    Full text link
    Perakitan varietas padi toleran cekaman kekeringan dengan teknik pemuliaan mutasi mampu meningkatkan keragaman genetik tanaman sehingga memberi peluang untuk mendapatkan genotipe mutan yang toleran dengan mengetahui respon kerapatan stomata dan klorofil daun pada suatu tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk melihat hubungan antara kerapatan stomata dan kandungan klorofil dengan ketahanan terhadap kekeringan pada genotipe padi mutan. Sampel menggunakan salah satu genotipe, daun yang digunakan adalah daun kedua dari daun bendera, perhitungan jumlah stomata dilakukan pada luas bidang pandang 40x dengan perhitungan jumlah stomata dibagi dengan satuan luas bidang pandang dan untuk klorofil daun diamati menggunakan klorofil meter (SPAD). Hasil penelitian menunjukkan bahwa genotipe padi mutan menunjukkan ketahanan terhadap cekaman kekeringan dengan respon kerapatan stomata paling tinggi dan skor penggulungan daun terkecil

    Kopolimerisasi Cangkok Polivinilpirolidon dan Akrilamida pada Selulosa untuk Adsorben Ion Logam Cu

    Full text link
    Selulosa merupakan polimer alami yang berlimpah ketersediannya. Selulosa tidak memiliki rantai samping, sehingga molekul penyusunnya terstruktur dengan baik yang menyebabkan selulosa sulit untuk berinteraksi dengan senyawa lain. Pencangkokan menggunakan metode iradiasi simultan dalam penelitian ini dilakukan untuk mendapatkan adsorben ion logam berat berbahan dasar selulosa. Polivinilpirolidon (PVP) dan akrilamida (AAm) dicangkokkan pada selulosa menggunakan inisiator sinar gamma (γ) dari sumber kobalt-60. Hasil penelitian menunjukkan bahwa derajat kopolimerisasi cangkok selulosa-g-PVP-AAm tertinggi didapat pada dosis iradiasi 30 kGy, dengan komposi PVP-AAm sebesar 50% masing masing dari berat selulosa. Derajat pembengkakan sel-g-PVP-AAM menurun 127% dibandingkan dengan selulosa asli. Kapasitas adsorpsi maksimum sel-g-PVP-AAm terhadap ion logam Cu (II) adalah 25,58 mg/g, naik 82,71% lebih tinggi dibandingkan selulosa asli. Keberhasilan pencangkokan dibuktikan dengan adanya penyerapan bilangan gelombang pada 1655 cm-1 yang merupakan gugus C=O dari PVP dan AAm dan bilangan gelombang 1424 cm-1 yang merupakan gugus C-C dari PVP dan gugus C-N dari AAm. Adsorpsi  ion logam Cu (II) oleh  kopolimer sel-g g-PVP-AAm mengikuti mekanisme isoterm Langmuir

    Penentuan Kisaran Dosis Iradiasi Gamma Optimal dalam Pemuliaan Mutasi Nepenthes ampullaria Jack. secara In Vitro

    Full text link
    Nepenthes atau kantong semar menjadi tren saat ini sebagai tanaman hias komersial Indonesia karena memiliki kantong yang unik dengan berbagai bentuk, pola, dan warna. Seiring berjalannya waktu, permintaan variasi nepenthes oleh masyarakat terus meningkat sehingga perlu dilakukan peningkatan keragaman genetik melalui mutasi induksi untuk memperoleh varietas tanaman hias yang unggul. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan dosis iradiasi gamma yang optimal (Lethal Dose 50 atau LD50) dan mengetahui respon dua varian Nepenthes ampullaria terhadap iradiasi gamma. Penelitian menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL) dua faktor yaitu dua varian N. ampullaria (nam dan nam riau) dan 6 taraf dosis iradiasi (0, 5, 10, 15, 20, dan 25 Gy).  Planlet yang telah diiradiasi disubkultur ke media 1/2 MS dengan satu planlet per botol kultur dan diinkubasi di dalam ruang kultur. Hasil penelitian ini belum mendapatkan LD50 untuk kedua varian yang diradiasi. Selanjutnya berdasarkan pengolahan data menggunakan Curve-Fit Analysis diprediksi bahwa LD50 berada pada dosis 31,013 Gy untuk varian nam dan dosis 41,570 Gy untuk varian nam riau. Semakin tinggi dosis iradiasi, kemampuan tanaman untuk membentuk kantong pada varian nam riau menurun, sedangkan pada varian nam tidak menunjukkan perbedaan yang nyata. Pada karakter kualitatif, semakin tinggi dosis iradiasi, warna daun berubah dari hijau menjadi kuning hingga coklat dan mati pada varian nam, sedangkan pada varian nam riau warna daun masih didominasi warna hijau dan mulai berwarna kuning pada dosis iradiasi 25 Gy. Dari hasil penelitian ini juga didapatkan tanaman kerdil, daun kecil dan membentuk roset, dan daun bergelombang hingga keriting

    Rancang Bangun Monitor Gas Radon untuk Bahan Bangunan

    Full text link
    Pemantauan konsentrasi gas radon di udara dalam rumah (indoor) dan laju lepasannya dari berbagai jenis bahan bangunan penting dilakukan dalam rangka proteksi radiasi dan keselamatan. Telah dilakukan rancang bangun monitor gas radon menggunakan sistem deteksi partikel alfa dengan bahan detektor jenis sintilator ZnS (Ag). Prinsip pengukuran adalah dengan mengalirkan gas radon lepasan dari bahan bangunan ke dalam ruang detektor. Di dalam ruang detektor, gas radon dideteksi berdasarkan pulsa kelipan cahaya hasil interaksi partikel alfa dengan bahan detektor. Detektor yang dilengkapi tabung fotomultiplier mengubah kelipan cahaya menjadi muatan listrik dan selanjutnya dikonversi menjadi pulsa tegangan sekaligus diperkuat oleh penguat awal tipe peka muatan. Jumlah pulsa tegangan yang dihasilkan dihitung menggunakan rangkaian elektronik arduino dan ditampilkan secara grafis dengan LabView yang telah diinstal dalam sebuah komputer. Konsentrasi gas radon sebanding dengan pulsa tegangan yang dihasilkan dikalikan dengan efisiensi ruang detektor. Hasil uji respon pada sampel pasir zirkon menunjukkan bahwa monitor ini dapat digunakan dengan baik untuk mengukur gas radon lepasan dari bahan bangunan

    Uji Radiosensitivitas Sinar Gamma untuk Menginduksi Keragaman Genetik Sorgum Berkadar Lignin Tinggi

    Full text link
    Sorgum (Sorghum bicolor) merupakan tanaman serealia yang dapat ditanam di lahan kering dan cukup potensial untuk dikembangkan di Indonesia. Sorgum dapat dimanfaatkan sebagai bahan pangan, pakan dan industri. Salah satu kandungan dalam sorgum yang dimanfaatkan untuk bahan industri adalah lignin yaitu digunakan dalam pembuatan particle board sehingga dapat mengurangi pemakaian kayu (penebangan pohon). Dalam penelitian ini digunakan 2 genotipe sorgum dengan kandungan lignin tinggi yaitu Konawe Selatan (KS) dan Sorgum Malai Mekar (SMM) untuk ditingkatkan keragaman pada karakter biomasa melalui pemuliaan mutasi induksi. Keberhasilan mutasi iradiasi sinar gamma sangat ditentukan oleh sensitivitas genotipe tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan rentang dosis optimal yang dapat menginduksi variasi genetik untuk genotipe KS dan SMM. Benih sorgum KS dan SMM diiradiasi sinar gamma dosis 0  - 1000 Gy increment 100 Gy. Pengamatan dilakukan terhadap populasi tanaman M1 untuk persentase daya kecambah dan tinggi tanaman pada dua minggu setelah tanam (2 MST). Hasil penelitian menunjukkan bahwa dosis iradiasi menghambat pertumbuhan benih sorgum yang ditunjukkan oleh tanaman kerdil atau tidak berkembang. Rentang dosis optimum yang didapatkan untuk sorgum genotipe KS dan SMM adalah 300 – 500 Gy

    Evaluasi Fraksi Serat untuk Mengestimasi Relative Feed Value pada Tanaman Sorgum Galur Mutan

    Full text link
    Sorgum G5 dan G8 adalah dua sorgum galur mutan yang diproyeksikan sebagai sorgum khusus pakan ternak. Sampai saat ini, belum terdapat cukup informasi terkait profil serat yang terkandung dalam kedua galur mutan tersebut. Profil serat yang diasosiasikan dalam fraksi neutral detergent fiber (NDF) dan acid detergent fiber (ADF) akan mempengaruhi kecernaan tanaman sorgum. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk: 1) mengevaluasi profil fraksi serat dan mengestimasi relative feed value (RFV) pada tanaman sorgum galur mutan, 2) mengevaluasi profil serat pada fase generatif yang berbeda, dan 3) mengetahui profil serat sorgum secara kualitatif menggunakan fourier transform mid-infrared (FTIR). Rancangan yang digunakan adalah rancangan acak kelompok pola faktorial (4x3x3). Faktor pertama adalah varietas/galur mutan tanaman (varietas Numbu, Pahat, galur mutan G5 dan G8). Faktor kedua adalah waktu pemanenan (flowering, soft dough dan hard dough). Faktor ketiga adalah Bagian tanaman (batang, daun dan malai sorgum).  Parameter yang diamati adalah profil serat kuantitatif (NDF dan ADF), RFV dan profil serat secara kualitatif menggunakan FTIR. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat pengaruh perbedaan varietas/galur mutan, fase generatif dan bagian tanaman terhadap profil serat tanaman sorgum. Terdapat interaksi antara perbedaan varietas/galur mutan dengan fase generatif tanaman. Sorgum G5 fase hard dough menghasilkan kandungan NDF batang yang lebih rendah dibandingkan Numbu (54,23 % vs 60,41 %) (P<0,01). Sorgum G8 fase hard dough menghasilkan kandungan ADF daun yang lebih rendah dari Numbu (30,07 % vs 32,63 %) (P<0,01). Nilai RFV tertinggi pada bagian batang, daun dan malai berturut-turut dihasilkan oleh sorgum G5, G8 dan Pahat. Hasil pengukuran kualitatif menggunakan FTIR berasosiasi dengan pengukuran NDF dan ADF secara konvensional. Kesimpulan dari penelitian ini adalah: 1) galur mutan G5 dan G8 menghasilkan fraksi sera yang lebih mudah dicerna dibandingkan varietas Numbu. Hal tersebut ditunjukkan oleh nilai RFV yang tinggi pada bagian batang dan daun; 2) Fase hard dough adalah umur panen yang terbaik; dan 3) FTIR dapat digunakan untuk menggambarkan profil serat sorgum secara kualitatif

    Effect of Filter on Image Reconstruction using Filtered Back Projection Algorithm for Industrial Gamma-Ray Tomography Technique

    Full text link
    Gamma-ray tomography experiment has been carried out to detect the cross-sectional spatial patterns of test objects. The resulting image quality depends on the data collection and image reconstruction process. The images were built using filtered back projection algorithm. The filter in the algorithm affects the resulting image. It is necessary to know the proper filter when reconstructing image using the algorithm. Data were collected by scanning the object using the parallel beam method. Scanning configuration was set up to every 5 mm and 32 projections (rotational scans). The scanning system consists of mechanical parts, computerized control module, a gamma-ray source (2.96 GBq of Cs-137), a NaI(Tl) scintillation detector, data acquisition and computer. In this paper, the data were reconstructed into images using back projection and also filtered back projection algorithm to study effect of the filters. The filters discussed are Ramp filter, Shepp-Logan filter, Hann filter, Hamming filter, and Cosine filter. The reconstructed images results with filter were much better than without filter. The images with no filter did not represent the object cross-sectional spatial patterns and looked blurred. There were only solid objects represented by bright white and air represented by dark colors. The images using filter could distinguish object based on its density. Ramp filtered images looked like it was filled with freckles. Shepp-Logan filter produced smoother images than Ramp filter. Hann, Hamming, and Cosine filtered images were smoother than the others. Hann and Hamming filters produced higher resolution images regarding to recognizing density value. Hann filtered images also has the smallest standard deviation. Overall, Hann filter is recommended to be used to reconstruct images from projections

    Laju Erosi di Sub DAS Cianten Berdasarkan Cs-137 dan Pb-210 Excess dan Kontribusinya pada Sedimen Suspensi di Tamilung

    Full text link
    Erosi tanah merupakan bentuk degradasi lahan yang terus berlangsung di kebanyakan daerah Indonesia. Estimasi kuantitatif laju erosi diperlukan untuk mengkaji keefektifan usaha konservasi yang ada. Sampel tanah diambil melalui 7 transek dan 5 transek yang mewakili tata guna lahan kebun/perkebunan dan tata guna lahan ladang di sub DAS Cianten. Hasil estimasi laju erosi dari tata guna lahan kebun/perkebunan mempunyai rentang nilai -14,6 ton/ha/th sampai -32,20 ton/ha/th dan rata-rata laju erosinya adalah -23,20 ton/ha/th berdasarkan pada Cs-137, dan mempunyai nilai dari -13,50 ton/ha/th sampai -36,33 ton/ha/th, dengan rata-rata -24,74 ton/ha/th berdasarkan Pb-210 excess. Hasil estimasi laju erosi lahan ladang bervariasi dari -16,24 ton/ha/th sampai -37,33 ton/ha/th, dengan rata-rata -26,52 ton/ha/th berdasarkan Cs137; dan bervariasi dari -22,23 ton/ha/th sampai -33,83 ton/ha/th, dengan rata-rata -27,33 ton/ha/th berdasarkan Pb-210 excess. Laju erosi setiap titik dalam transek masih jauh lebih besar dari nilai erosi yang dapat ditoleransi menunjukkan usaha konservasi yang ada di sub DAS Cianten dirasakan belum cukup efektif untuk mencegah erosi. Lahan tanah di sub DAS Cianten mengkontribusi ke dalam suplai sedimen suspensi di Tamilung sebesar 24450 ton/th, dengan 6621,9 ton/th berasal dari perkebunan/lahan kebun dan 17828,1 ton/th berasal dari ladang

    Pengaruh Ukuran Partikel Zeolit dalam Pemisahan Cesium dari PEB U3Si2/Al Pasca Iradiasi Neutron Menggunakan Metode Penukar Kation

    Full text link
    Pemisahan cesium dari Pelat Elemen Bakar Nuklir (PEB) U3Si2/Al pasca iradiasi menggunakan metode penukar kation dengan variasi ukuran partikel zeolit telah dilakukan. Teknik pemisahan cesium dengan menerapkan metode absorbsi dan penukar kation menggunakan zeolit Lampung memberikan efisiensi yang besar. Pemisahan cesium dari hasil fisi lainnya seperti 235U, 89Kr, 144Ba, 90Sr, 134Xe, 96Rb perlu dilakukan karena isotop 137Cs digunakan sebagai monitor burn up. Dalam penelitian ini dipelajari aspek pengaruh ukuran partikel terhadap efisiensi pemisahan cesium pada waktu kontak dan jumlah zeolit yang optimum. Cuplikan larutan PEB U3Si2/Al densitas 2,96 gU/cm3 pasca iradiasi sebanyak 150 µL diencerkan menggunakan HCl 0,1N menjadi 2 mL. Pemisahan cesium dalam larutan cuplikan dilakukan menggunakan zeolit Lampung dengan variabel ukuran partikel -100+170 mesh, -170+270 mesh, -270+400 mesh dan -400 mesh. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa zeolit dengan ukuran partikel -270+400 mesh dengan berat 1 g dan waktu pengadukan selama 1 jam diperoleh kandungan isotop 137Cs dalam 150 µL larutan pasca iradiasi sebesar 0,0543 µg dengan recovery sebesar 99,1%

    224

    full texts

    235

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇