Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
Toksisitas Akut Ekstrak Etanol dari Simplisia Daun Sirsak (Annona muricata L.) yang Diawetkan dengan Iradiasi Gamma
Daun sirsak (Annona muricata L.) banyak digunakan sebagai obat tradisional dan suplemen oleh masyarakat Indonesia. Daun sirsak mengandung banyak metabolit sekunder yang berkhasiat sebagai antioksidan, antiinflamasi, anti bakteri dan antikanker. Penanganan simplisia maupun sediaan obat herbal daun sirsak sangat penting agar terhindar dari kontaminasi jamur dan bakteri. Teknik iradiasi gamma dapat digunakan untuk memperpanjang masa simpan simplisia/sediaan obat herbal. Pada penelitian ini dilakukan iradiasi daun sirsak kering pada dosis 7,5 kGy dan pengujian toksisitas akut pada mencit untuk mengetahui efek toksisitas akut sediaan uji ekstrak etanol daun sirsak (Annona muricata L.) yang tidak diradiasi (0 kGy) dan yang diradiasi (7,5 kGy) pada laju dosis 7,0 kGy/jam. Pengujian toksisitas akut oral dilakukan sesuai prosedur menurut WHO dan OECD guideline 423 (Acute toxic class method) menggunakan mencit galur ddY jantan dan betina, umur 2-3 bulan, bobot badan antara 20-30 g. Ekstrak etanol daun sirsak merupakan bahan natural, sehingga starting dosis dimulai pada uji limit dosis 2000 mg/kg BB. Pengamatan dilakukan terhadap gejala-gejala toksik, kematian hewan uji, perubahan kenaikan berat badan (Average Daily Gain: ADG) dan manifestasi efek toksik sampai hari ke-14. Pada akhir uji, mencit dikorbankan dan diambil organ-organ vital dan dievaluasi adanya kelainan secara gross patologi (makroskopi) dan histopatologi. Hasil uji toksisitas akut menunjukkan bahwa pemberian sediaan uji ekstrak etanol daun sirsak yang tidak diradiasi (0 kGy) dan yang diradiasi (7,5 kGy) pada dosis ekstrak 2000 mg/kg BB dan 5000 mg/kg BB tidak menunjukkan gejala-gejala toksik maupun kematian mencit jantan dan betina. Pada pemeriksaan organ-organ vital secara gross patologi dan histopatologis juga tidak ditemukan adanya perubahan yang berarti pada organ organ vital hewan coba. Nilai LD50 sediaan uji ekstrak etanol daun sirsak adalah > 5000 mg/kg BB pada mencit, termasuk kategori 5 (tidak terklasifikasi= unclassified) atau minimal praktis tidak toksik
KERAGAMAN MORFOLOGI TIGA KLON LILI (Lilium spp.) PASCA IRADIASI SINAR GAMMA Co- 60 DALAM KULTUR IN VITRO
Keunikan morfologi menjadi daya tarik konsumen terhadap tanaman hias, termasuk tanaman lili. Upaya peningkatan keragaman morfologi tentu dikehendaki, salah satunya dengan induksi mutasi. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh dosis iradiasi sinar gamma terhadap variabel kuantitatif dan kualitatif tiga klon lili dan mengetahui klon lili yang responsif terhadap perlakuan iradiasi sinar gamma. Penelitian ini dilaksanakan di Laboratorium Kultur Jaringan, Badan Tenaga Nuklir Nasional, Jakarta Selatan pada bulan November 2018 - April 2019. Rancangan penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan dua faktor, yakni genotipe klon lili dan dosis iradiasi. Genotipe klon lili berupa klon 0 – O5, K, dan Fomolongi. Dosis iradiasi yang digunakan adalah 0 Gy (kontrol), 5 Gy; 7,5 Gy; dan 10 Gy. Variabel yang diamati dan diukur berupa data kuantitatif (persentase eksplan hidup, tinggi planlet, jumlah daun, panjang daun, dan jumlah sisik (scales)) dan kualitatif (warna daun, bentuk daun, dan warna tunas). Penelitian ini memberikan hasil bahwa Iradiasi pada tunas lili mampu memberikan keragaman yang terekspresi pada warna tunas, warna daun, bentuk daun pada generasi M1V1 yang dapat dijadikan mutan potensial pada penelitian selanjutnya. Klon K pada dosis 5 Gy mampu membentuk daun, begitu pula klon O – 05 dan klon Fomolongi pada dosis 10 Gy. Klon K merupakan klon paling responsif dalam pembentukan mutan lili berdasarkan jumlah keragaman morfologi yang muncul
Penentuan Laju Pertumbuhan Linier dan Lingkaran Tahun Karang Masif Porites Sp. dengan Sinar-X dan Sinar-UV
Laju pertumbuhan linier dan lingkaran tahun karang dipengaruhi oleh perubahan iklim dan faktor lingkungan. Pada penelitian ini digunakan sinar Ultra Violet (UV) dan sinar-X untuk menentukan laju pertumbuhan linier dan lingkaran tahun (annual band) karang serta kaitannya dengan perubahan iklim dan lingkungan. Terumbu karang Porites Sp. diambil dari lokasi penelitian di Pulau Penjaliran dan Pulau Pari di Kepulauan Seribu dengan cara dibor secara vertikal dengan alat bor pneumatik diameter 5 cm panjang 50 cm. Selanjutnya di laboratorium, sampel core karang dipotong menjadi bentuk lempeng (slab) setebal 5 mm, dicuci dengan aqua-bidest, dikeringkan dan dilakukan penyinaran dengan sinar-UV menggunakan lampu UV dan radiografi sinar-X. Hasil dari kedua teknik tersebut dianalisis dengan software Image-J. Hasil penelitian dengan sinar-UV dan sinar-X menunjukkan hasil yang hampir sama dalam besarnya laju pertumbuhan linier dan lingkaran tahun. Berdasarkan hasil analisis sinar-UV dan sinar-X teridentifikasi adanya perubahan iklim ekstrim El-Nino tahun 1997/1998 yang terlihat pada penurunan laju pertumbuhan yang signifikan dari kerangka karang yang kemungkinan diakibatkan oleh pemutihan karang (bleaching)
Dosimetry Characteristic of Co-60 Calibration Source in SSDL Jakarta Facility After Source Replacement
Secondary Standard Dosimetry Laboratory (SSDL) Jakarta's main task is to maintain the traceability of ionizing radiation units in Indonesia. One of their public services is calibration for nuclear instruments for therapy, consisting of dosimeter calibration and radiotherapy machine output. In the early of 2020, the dosimeter's calibration facilities have been out of date. The replacement of the Co-60 machine was done with a new one. However, the Co-60 machine re-used the Co-60 machine from Hospital radioactive nuclear waste. This paper discusses the dosimetric characteristic of the reusable Co-60 machine as a calibrator machine. Measurement data consisted of timer error, beam center and profile, dose rate in air Kerma and absorbed dose rate to water, and decaying stability. The reference used for measurement was IAEA Publication TRS No. 469. All measurement was taken by standard ionization chamber. The timer error result shows -2.52 seconds delayed after switching on the machine. The air Kerma rate was obtained at 230.15 µGy/min, meanwhile for absorbed dose rate to water was obtained 211.08 mGy/min. The source activity was monitored at 51.4 TBq on Dec 07, 2020. The decays of activity and dose rate were lies in the acceptable range. It should be lies on the 20 – 40 TBq for activity, meanwhile for dose rate should more than 100 mGy/min at 1 m distance. The stability was covered up in terms of dose rate and maintained in one percent deviation limit. Based on the result, this reusable Co-60 machine is ready to use as a calibrator source in gamma-ray facilities
Respon Fisiologi dan Agronomi Padi Mutan Situgintung pada Cekaman Kekeringan Fase Vegetatif
Perubahan iklim dapat menyebabkan gangguan tanaman pangan, seperti kekeringan yang dapat mengurangi produksi beras. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari respon fisiologi dan agronomi padi Gogo Situgintung pada kondisi cekaman kekeringan fase vegetatif. Percobaan ini dilakukan di rumah kaca menggunakan rancangan acak kelompok dua faktor (genotipe dan perlakuan kekeringan) dengan empat kali ulangan. Genotipe yang digunakan terdiri dari Situgintung, IR20 (cek peka) dan Salumpikit (cek toleran). Semua genotipe ditumbuhkan pada dua lingkungan, kontrol (tanpa kekeringan) dan kekeringan fase vegetatif. Setiap perlakuan terdiri dari 10 tanaman. Perlakuan kekeringan diberikan pada saat fase vegetatif yaitu 15 Hari Setelah Tanam (HST). Peubah yang diamati terdiri dari klorofil a, klorofil b, total klorofil, karoten, antosianin, konduktansi stomata, MDA, prolin, bobot kering tajuk, rasio akar tajuk, tinggi tanaman, jumlah anakan, jumlah gabah isi, jumlah gabah hampa, panjang malai, bobot 100 butir, dan bobot gabah per tanaman. Hasil penelitian menunjukkan jika dibandingkan dengan IR20, Situgintung mampu mengurangi dampak negatif dari kondisi kekurangan air dengan cara mengurangi kerusakan klorofil dan mengurangi penurunan jumlah anakan. Penurunan bobot gabah per malai Situgintung pada kondisi kekeringan lebih kecil daripada IR20. Salumpikit merupakan varietas cek toleran kekeringan mengalami penurunan bobot gabah yang paling kecil
Determination of the Optimum Gamma Ray Lethal Dosage for Mutation Breeding of Indonesian Cassava Genotype Mentega 2
This study aimed to determine the optimum lethal dosage (LD50) of gamma rays in cassava and to study the effect of gamma irradiation on the morphological characters. Gamma rays is one of the physical mutagens that has been widely used for mutation breeding to improve the genetic traits of several crops including cassava. A total of 72 plantlets of Indonesian cassava genotype (Mentega 2) were cultured on Murashige & Skoog (MS) medium containing 2% of sucrose and were exposed to 0, 5, 15, 30, 50, and 75 Gray (Gy) using a Cobalt-60 source at dose rate of 600 Gy/h. Morphological characters such as plant height, leaf number, leaf width and length, and root number and length were measured. The percentage of plant survival decreased with the increase of gamma rays dose. The lowest survival rate (17%) was shown by 75 Gy-treated samples. The morphological characters’ observation at 60 days of treatment showed the highest plant height was obtained from 15 Gy-treated samples (12.41±1.84 cm), while the lowest plant was from 75 Gy-treated samples (2.08±1.98 cm) compared to control (4.17+1.46 cm). The LD50 value was calculated to be 29.7 Gy which will be referred for further studies
Penentuan Dosis Iradiasi Gamma untuk Sterilisasi Baju Hazmat Bekas Pakai
Pandemi corona virus disease (COVID-19) mengakibatkan peningkatan kebutuhan terhadap Alat Pelindung Diri (APD) bagi para pekerja medis. Suatu teknologi yang dapat mensterilkan APD bekas pakai sangat dibutuhkan. Sterilisasi APD bekas pakai bertujuan untuk membuat APD layak digunakan kembali. Salah satu teknologi yang terbukti dapat mensterilkan produk kesehatan adalah radiasi gamma. Tujuan dari penelitian ini adalah penentuan dosis sterilisasi iradiasi gamma untuk APD berupa baju hazmat bekas pakai berdasarkan ISO 11137. Pengujian terdiri dari 4 tahap yaitu penetapan tingkat jaminan sterilitas (SAL) dan Standard Item Portion (SIP), penghitungan jumlah kontaminasi awal mikroba (bioburden), penentuan dosis verifikasi dan penetapan dosis sterilisasi. Hasil pengujian baju hazmat menunjukkan bahwa nilai bioburden rata-rata batch 1, 2, dan 3 adalah 3327, 5520 dan 3802 CFU, sehingga bioburden rata-rata keseluruhan batch adalah 4216 CFU. Berdasarkan Sterility Assurance Level (SAL) 10-2 maka diperoleh dosis verifikasi sebesar 13 kGy. Hasil pengujian pertumbuhan mikroba terhadap 100 sampel yang diiradiasi dengan dosis verifikasi menunjukkan bahwa hanya satu sampel yang terdeteksi pertumbuhan mikroba. Dari hasil tersebut, disimpulkan bahwa dosis radiasi gamma untuk sterilisasi baju hazmat bekas pakai pada tingkat SAL 10-6 adalah 27,2 kGy
Laju Sedimentasi Dataran Banjir Sungai Cisadane di Dusun Kranggan Berdasarkan Profil Pb-210 excess dan Cs-137
Laju sedimentasi di dataran banjir merupakan salah satu komponen untuk menghitung sedimen budget daerah aliran sungai. Penelitian ini dilakukan untuk mengetahui status perkembangan sedimentasi di dataran banjir Sungai Cisadane. Sampel sedimen diambil di dua tempat berdekatan di dataran banjir Sungai Cisadane di Dusun Kranggan dengan interval 10 cm sampai kedalaman 100 cm. Kedua sampel sedimen digabungkan menjadi satu sampel komposit profil sedimen. Sampel profil sedimen dipreparasi dan diukur aktivitas radionuklida jatuhan Pb-210 excess dan Cs-137 dengan detektor energi rendah yang terpasang pada alat multichannel analyzer. Analisis aktivitas Pb-210 excess diperoleh melalui pengukuran Pb-210 total pada energi 46,5 keV, Pb-210 supported pada energi 351 keV dan Cs-137 diukur melalui energi 661 keV, setelah sampel ditempatkan pada tempat tertutup rapat dalam wadah selama satu bulan. Data profil Pb-210 excess digunakan untuk estimasi umur sedimen dengan model constant rate of supply (CRS) dan data Cs-137 dipakai sebagai chronostratigrafi melalui pembanding puncak tertinggi Cs-137 pada tahun 1964. Berdasarkan hasil penelitian, telah terjadi kecenderungan perubahan laju sedimentasi dan dapat dibagi dalam tiga kurun waktu yaitu dari kurun waktu tahun 1941 sampai 1983 terjadi laju sedimentasi 4,09 kg/m2/tahun, dari tahun 1983 sampai 2002 terjadi laju sedimentasi 15,61 kg/m2/tahun dan dari tahun 2002 sampai 2019 terjadi laju sedimentasi 29,36 kg/m2/tahun. Dalam bentuk laju deposisi sedimen berturut-turut adalah 0,54 cm/tahun, 2,11 cm/tahun dan 3,11 cm/tahun
Short Communication : Studi Awal Efek Perlindungan Benalu Kakao (Dendrophthoe pentandra (L.) Miq.) terhadap Kerusakan Limfosit Akibat Radiasi Gamma: Analisis Sitogenetik
Efek paparan radiasi gamma terhadap pekerja radiasi dapat menghasilkan Reactive Oxygen Species (ROS) dan radikal bebas yang menyebabkan kerusakan biologis pada sel normal, terutama DNA dan kromosom. Antioksidan merupakan senyawa yang dapat mencegah terjadinya reaksi berantai radikal bebas, yaitu dengan sifatnya yang mudah teroksidasi. Beberapa tanaman telah terbukti memiliki senyawa antioksidan, salah satunya adalah benalu kakao (Dendrophthoe pentandra (L.) Miq.). Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui potensi ekstrak benalu kakao (EBK) dalam melindungi sel limfosit akibat radiasi gamma. Sampel darah diperoleh dari seorang responden laki-laki sehat, yang dibagi ke dalam enam perlakuan, yaitu tanpa radiasi (0 Gy); EBK; radiasi 1,5 Gy; EBK + 1,5 Gy; radiasi 3 Gy; dan EBK + 3 Gy. Kemudian dilakukan pengkulturan sel darah limfosit, pemanenan, pewarnaan dan pengamatan preparat. Frekuensi aberasi kromosom (ABK) disentrik dan fragmen dievaluasi setiap 100 sel, sedangkan frekuensi mikronuklei (MN), nuclear buds (NBUDs), dan 8-shaped dievaluasi setiap 1000 sel. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa frekuensi ABK disentrik, MN, NBUDs, dan 8-shaped pada perlakuan dengan EBK lebih kecil dibandingkan tanpa EBK. Akan tetapi, frekuensi fragmen pada perlakuan dengan EBK lebih besar dibandingkan tanpa EBK, baik pada 1,5 Gy maupun 3 Gy. Kesimpulan dari penelitian ini adalah EBK memiliki potensi dalam melindungi sel limfosit terhadap kerusakan akibat radiasi gamma
Keragaan dan Produksi Padi Gogo Lokal Aceh Kultivar Sileso Generasi M1 Hasil Iradiasi Sinar Gamma
Peningkatan keragaman dengan teknik mutasi melalui iradiasi sinar gamma merupakan salah satu metode dalam program pemuliaan tanaman. Penggunaan iradiasi sinar gamma telah banyak terbukti sebagai metode yang berhasil dalam upaya perakitan varietas. Perubahan keragaan dan produksi padi hasil iradiasi sinar gamma perlu diidentifikasi sebagai akibat dari mutasi yang bersifat acak pada genetik tanaman. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi keragaan karakter morfologi dan produksi padi gogo lokal Aceh kultivar Sileso hasil iradiasi sinar gamma pada dosis iradiasi 100-400 Gy. Penelitian disusun dengan menggunakan rancangan acak kelompok faktor tunggal dengan 5 ulangan menggunakan jarak tanam 30 cm x 30 cm dengan satu benih per lubang tanam. Faktor yang diteliti adalah mutan hasil iradiasi sinar gamma generasi M-1 yang terdiri atas 5 taraf, yaitu: 0, 100, 200, 300, dan 400 Gy. Masing-masing individu diamati karakter: tinggi tanaman (cm), panjang daun (cm), lebar daun (cm), panjang daun bendera (cm), kelengkungan daun, jumlah anakan (batang), umur berbunga (hari setelah tanam), jumlah anakan produktif (batang), umur panen (hari setelah tanam), panjang malai (cm), jumlah gabah total per malai (butir.malai-1), persentase gabah hampa per malai (%), dan produksi gabah per rumpun (g). Data yang diperoleh dianalis dengan menggunakan uji F pada taraf kepercayaan 95% dan dilanjutkan dengan uji Beda Nyata Jujur (BNJ) pada α=5%. Hasil penelitian menunjukkan penurunan tinggi tanaman dan lebar daun akibat perlakuan iradiasi tetapi tidak terjadi perubahan pada panjang daun, panjang daun bendera, dan kelengkungan daun. Terjadi penurunan umur berbunga dan umur panen akibat perlakuan iradiasi 200, 300, dan 400 Gy dari berumur dalam menjadi berumur sedang. Padi kultivar Sileso menunjukkan peningkatan produksi pada dosis iradiasi 100, 200, dan 300 Gy dan mengalami penurunan produksi pada dosis iradiasi 400 Gy