Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
MODEL ESTIMASI AKTIVITAS Cs-137 DALAM CONTOH TANAH MELALUI PERSENTASE ORGANIK KARBON DAN DEBU-LIAT
Estimasi aktifitas Cs-137 dalam contoh tanah telah dilakukan di daerah Nganjuk melalui parameter kualitas tanah. Sebanyak 26 contoh tanah yang diambil dari daerah Nganjuk telah digunakan untuk membangun hubungan antara aktifitas Cs-137 dengan parameter kualitas tanah menggunakan program SPSS (Statistical Product and Service Solutions). Parameter kimia contoh jauh lebih bervariasi dari parameter fisisnya. Aktifitas Cs-137 dalam tanah dapat dibangun melalui 2 parameter, yaitu persen total organik karbon dan persen kandungan debu-liat. Meskipun demikian, kedua parameter ini hanya dapat menerangkan 69,3 % aktifitas Cs-137, 30,7 % sisanya berkemungkinan besar disebabkan oleh 10 % dari kesalahan pengukuran, redistribusi tanah saat setelah hujan, sistim pertanian maupun cara olah tanah. Aktifitas Cs-137 di bawah limit deteksi juga dapat diestimasi melalui pendekatan parameter kualitas tanah, yang sangat berguna dalam estimasi kuantitatif laju erosi berdasarkan Model-Cs.
 
MUTASI INDUKSI UNTUK MEREDUKSI TINGGI TANAMAN PADI GALUR KI 237
Galur KI 237 merupakan galur murni yang berasal dari persilangan antar sub-spesies, yaitu sub-spesies Japonika var. Koshihikari dengan sub-spesiesIndika var. IR36. Galur ini memiliki potensi hasil tinggi, umur panen sedang, malai panjang, tetapi tinggi tanaman terlalu tinggi sehingga mudah rebah. Untuk mereduksi tinggi tanaman telah diiradiasi benih KI 237 sebanyak 50 gram dengan sinar gamma dosis 200 Gy. Hasil seleksi pada 6480 tanaman M2 diperoleh 3 tanaman mutan pendek dan 15 tanaman mutan semi-pendek dengan frekuensi mutan kearah pendek dan semi-pendek mencapai 0,26%. Pengurangan tinggi tanaman yang signifikan pada mutan pendek dan semi-pendek disebabkan oleh berkurangnya ukuran panjang masing-masing ruas batang tanaman mutan, sementara jumlah ruas batang mutan tetap sama dengan jumlah ruas batang tanaman asalnya KI 237. Begitu juga dengan panjang malai dan panjang gabah pada mutan tidak banyak mengalami perubahan. Dari 342 galur M2 yang diamati, dimana masing-masing galur terdiri dari 20 tanaman, terlihat satu galur bersegregasi antara tanaman normal dengan tanaman pendek dengan perbandingan 17 normal banding 3 pendek, dan empat galur bersegregasi antara tanaman normal dengan tanaman semi-pendek dengan perbandingan masing-masing 12 normal banding 8 semi-pendek, 17 normal banding 3 semi-pendek, 18 normal banding 2 semi-pendek, dan 18 normal banding 2 semipendek. Berhubung jumlah tanaman M2 untuk setiap galurnya sangat sedikit yaitu hanya 20 tanaman, maka perbandingan segregasi antara mutan dan tanaman normal tidak bisa menerangkan jumlah GEC (Geneically Efective Cell) yang termutasi. Sifat lain mutan-mutan semi-pendek yang terseleksi tidak jauh berbeda dengan sifat tanaman KI 237, oleh karena itu mutan-mutan semi-pendek ini sangat berpotensi untuk dikembangkan secara langsung menjadi varietas unggul baru setelah melalui berbagai pengujian, atau dapat juga digunakan sebagai sumber genetik pada perbaikan galur KI 237 melalui pemuliaan silang balik.
 
UJI TOKSISITAS TERHADAP KADAR MALONDIALDEHIDA DAN KAPASITAS ANTIOKSIDAN PADA RENDANG STERIL IRADIASI : IN VITRO
Keamanan pangan olahan siap saji tradisional yang diiradiasi dengan dosis tinggi masih mengundang pertanyaan dan keengganan sehingga dapat menghambat perkembangan komersialisasi pada umumnya. Masyarakat masih saja mengkawatirkan bahwa radiasi dapat menyebabkan terbentuknya zat radioaktif pada produk yang disinari akibat pembentukan radikal bebas dan turunannya. Oleh karena itu, perlu dipelajari tentang kemungkinan adanya pengaruh iradiasi pada bahan pangan terhadap sistem biologi tubuh manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk meyakinkan keamanan pangan olahan siap saji yang diiradiasi dengan dosis tinggi melalui uji toksisitas menggunakan limfosit dan eritrosit darah manusia, dan menentukan kapasitas antioksidan rendang yang disterilisasi dengan sinar gamma pada dosis 45 kGy. Metode penelitian yang digunakan adalah persiapanekstraksi sampel rendang, persiapan media biakan, isolasi limfosit, pengujian proliferasi limfosit menggunakan garam tetrazolium MTT, pengujian hemolisa eritrosit, menentukan kapasitas antioksidan, dan pengukuran kadar malonaldehida. Sampel rendang steril iradiasi yang diuji terdiri dari 4 macam yang berbeda waktu pembuatan dan sudah disimpan selama 6 — 18 bulan pada suhu 28-30oC. Sampel tersebut adalah sampel yang diiradiasi di PATIR BATAN pada tanggal 11 Nopember 2006 (sampel A), sampel yang diiradiasi tanggal 14 Juni 2007 (sampel B), “tanpa label” tanggal 14 Juni 2007 (sampel C), dan rendang yang tidak diiradiasi sebagai kontrol. Hasil yang diperoleh pada uji proliferasi menunjukkan bahwa baik pada kontrol, maupun pada seluruh sampel yang diiradiasi tidak menyebabkan terjadinya proliferasi secara nyata. Pada umumnya, laju hemolisa dari seluruh sampel yang diamati menunjukkan peningkatan dengan meningkatnya konsentrasi atau sebaliknya, pengenceran tidak menyebabkan peningkatan laju hemolisa ataupun hemolisa pada eritrosit secara nyata. Hasil pengujian kapasitas antioksidan sampel rendang yang diiradiasi lebih tinggi dibandingkan kontrol sedangkan perlakuan iradiasi tidak berpengaruh pada kadar malonaldehida rendang yang diteliti.
 
PENGARUH INFEKSI Fasciola gigantica (CACING HATI) IRADIASI TERHADAP GAMBARAN DARAH KAMBING (Capra hircus LINN.)
Penelitian dilaksanakan dengan tujuan untuk melihat pengaruh infeksi Fasciola gigantica yang diiradiasi menggunakan 60Co terhadap gambaran darah kambing. Dua puluh ekor kambing kacang (Capra hircus Linn.), jantan, berumur antara 10-12 bulan dengan berat badan sekitar 15-20 kg digunakan sebagai hewan percobaan. Hewanhewan tersebut dibagi kedalam lima kelompok perlakuan, masing-masing terdiri dari empat ekor. Tiga kelompok hewan masing-masing diinfeksi dengan metaserkaria Fasciola gigantica iradiasi dengan dosis 45, 55 dan 65 Gy. Dua kelompok hewan digunakan sebagai kelompok kontrol positif dan kelompok kontrol negatif. Dosis infeksi adalah 350 metaserkaria peroral untuk tiap ekor. Pengamatan dilakukan tiap minggu terhadap parameter bobot badan, jumlah eosinofil darah, nilai hematokrit (PCV) dan kadar hemoglobin (Hb). Penelitian ini menunjukkan bahwa iradiasi dapatmenurunkan infektivitas Fasciola gigantica. Dari seluruh parameter yang diamati, antara kelompok kontrol negatif dan kelompok iradiasi tidak menunjukkan perbedaan yang berarti (p>0,05).
 
Pengaruh Radiasi Gamma Terhadap Sifat HDPE untuk Tibial Tray
Telah dilakukan penelitian untuk HDPE sebagai tibial tray. yang merupakan bagian dari sendi lutut buatan total Penelitian ini bertujuan untuk mengkarakterisasi pengaruh radiasi gamma terhadap sifat fisik, kimia, dan mekanik HDPE serta mempelajari dosis optimum yang diperlukan HDPE agar diperoleh sifat fisik, kimia, dan mekanik yang baik sehingga dapat digunakan sebagai tibial tray. Film HDPE diradiasi dengan sinar gamma pada variasi dosis 0 kGy, 25 kGy, 50 kGy, 75 kGy, 100 kGy, 125 kGy, dan 150 kGy dan laju dosis 9 kGy/jam. HDPE yang telah diradiasi, diuji sifat kimia, dan mekaniknya. Uji sifat kimia, meliputi crosslinking dan radikal bebas. Uji sifat mekanik, meliputi kekerasan, kekuatan tarik, dan perpanjangan putus. Hasil yang diperoleh adalah radiasi gamma dari IRKA kategori IV mengubah sifat kimia HDPE dalam hal persentase crosslinking dan jumlah radikal, serta sifat mekanik HDPE dalam hal kekerasan, kekuatan tarik, dan perpanjangan putus dengan perubahan yang berbeda dari keadaan awal sebelum radiasi serta dosis optimum untuk memperoleh kimia, dan mekanik HDPE yang lebih baik, yaitu pada 75 kGy; persentase crosslinking sebesar 99,71%; tinggi kurva radikal peroksida sebesar 13 cm; kekerasan (shore A) sebesar 94,33; modulus elastisitas sebesar 1113,03 N/mm2; tegangan yield sebesar 26,38 N/mm2; kekuatan tarik sebesar 31,11 N/mm2; dan perpanjangan putus sebesar 440,37%, sehingga HDPE berpotensi sebagai tibial tray.
 
Studi Intervensi Pangan Olahan Siap Saji Steril Iradiasi pada Residen Rehabilitasi Narkoba.
Penurunan daya imun tubuh dapat terjadi akibat malnutrisi kurangnya unsur makro dan mikro nutrien yang berfungsi sebagai faktor primer dalam meregulasi respon imun seseorang. Fenomena tersebut banyak dijumpai pada pasien immunocompromised seperti penderita HIV yang dikenal sebagai Nutritionally Acquired Immune Deficiency Syndromes (NAIDS). Salah satu upaya untuk memperbaiki status gizi pada pasien immunocompromised adalah memberikan makanan bermutu tinggi yang dapat meningkatkan status imun, sehingga menurunkan angka morbiditas dan mortalitasnya. Jenis pangan olahan siap saji yang steril, aman dan bermutu tinggi dengan komposisi nutrisi lengkap dan citarasa yang cukup baik, merupakan produk pangan yang dapat diberikan. Proses sterilisasi dengan menggunakan teknologi radiasi pengion pada bahan pangan merupakan salah satu sarana untuk mengeliminasi bakteri patogen sekaligus mengawetkannya tanpa merusak kecukupan gizi yang terkandung di dalamnya. Lauk bermutu tinggi berbasis protein dan lemak yang berasal dari ikan, daging sapi dan daging ayam yang di i radia s i dengan dosis 45 kGy dalam bentuk pepes ikan mas, pepes ikan teri, semur daging sapi, rendang daging sapi, dan berbagai ayam olahan seperti bumbu kuning, bakar dan manis diberikan selama 21 hari kepada residen UPT Terapi dan Rehabilitasi (UPT T & R) Badan Narkotika Nasional (BNN). Kegiatan yang dilakukan pada penelitian ini meliputi seleksi responden yang terdiri dari evaluasi kesediaan untuk berpartisipasi, kriteria inklusi, dan uji darah responden di laboratorium yang dilakukan sebelum dan sesudah mengkonsumsi pangan olahan siap saji steril tersebut. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa berbagai jenis pangan olahan siap saji dalam kemasan laminasi yang di vakum kemudian diiradiasi dengan dosis 45 kGy pada suhu rendah dapat meningkatkan status gizi dan status imunitas residen terseleksi sebagai penderita immuno compromised.
 
Application of N-15 Technique for Quantification of N-Fertilizer and N-Soil Uptake in Difference Maize Varieties.
A pot study has been carried out, where thetreatments were N-fertilizers (N-F) : F0 = without N-fertilizer (F), F1 = 100% anorganic NF/ urea, F2 = 100% organic N-F, and 50% anorganic + 50% organic N-F and three maize varieties namely, var. Anoman (A), var. Lamuru (L) and var. Sukmaraga (S). An Anova was implemented to observe any difference among the treatments and their interaction (N x F) for each parameter. The parameters applied were, percentage (%) of N-F, N-soil (N-S) and N- total (N-to) the N-F, N-S, N-to uptake (mg N), and dry weight (g S for all three plant parts (stem, leaves, panicles) and the whole plant (stem + leaves + panicles). Data showed that for the percentage (%), total : N uptake, dry weight, the highest values was for F1 compared to F0, F1, F2.. Whenever differents were found in treatment and interaction ( VxF) by the parameters, it shown by the ANOVA that this was mainly due to the F treatment. The data also show that N-S uptake was much higher than the N-F uptake. It was found that although urea/anorganic fertilizer (F1) was found to give the highest values for nearly all the parameters, it used by plant expressed in percentage (%) was quite low, especially shown for the whole plant.
 
Karakteristika Tepung Galur Mutan Ubi Jalar
Penelitian perbaikan sifat tanaman dengan mutasi induksi telah dilakukan terhadap ubi jalar varietas Sari. Tepung galur mutan diperoleh dari hasil seleksi umbi M1V5 yang diiradiasi sinar gamma dosis 10 Gy. Pembuatan tepung dilakukan dengan cara merajang umbi yang telah dikupas, lalu dikeringkan, digiling dan diayak. Pengujian kualitas tepung dilakukan terhadap derajat putih, proksimat, amilosa, kadar air, nilai kelarutan air, daya mengembang, dan karakteristika tepung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tepung galur mutan C6.26.13 memiliki kadar protein lebih tinggi daripada tanaman induknya Sari dengan kadar 3,62 % dan galur tersebut juga mengandung amilosa lebih tinggi daripada galur lainnya. Nilai kelarutan air antara galur mutan berbeda nyata dengan tanaman induknya dengan variasi antara 1,82 sampai 2,25 % dengan daya mengembang 4,28 hingga 5,55 %. Bentuk granula tepung antara galur mutan berbeda dengan tanaman induknya.
 
Study of Interaction of Shallow Groundwater and River along the Cisadane and Ciliwung River of Jakarta Basin and Its Management using Environmental Isotopes
The environmental isotopes were employed to study the interaction of shallowgroundwater and river along the Cisadane River and Ciliwung River in Jakarta basin. Therapid growth and development of Jakarta and its surrounding cities, coupled with increasingindustrial and other business sectors have impacted on the demand of the water supply forthe area. These investigations have been conducted to determine the interaction betweenshallow groundwater and the river. The 14C results showed that the groundwater samples(above 40 m) which were close to the river influenced the iso-age contour of 14C, whichindicated the contributions of river water. The analysis of stable isotopes 18O and Deuteriumfrom the river implied that the river water from upstream to downstream was influenced bythe mixing of the river water with the human activities in the upstream (the isotopiccompositions becoming enriched). Further, the 18O and Deuterium data revealed that rivers ofCisadane and Ciliwung are contributing to recharge the shallow groundwater in Jakarta,especially in the nearby river bank. In general, the quality of the shallow groundwater alongthe rivers is good and is suitable as fresh water resource. Due to pollution and declining watertable problems in the Jakarta basin, the artificial recharge wells is shown to be a good wayout to delineate the problems as indicated by pilot project conducted at Kelurahan KramatJati, using infiltration basin method.
Toksisitas Akut Ekstrak Etanol Temulawak (Curcuma xanthorrizha Roxb.) Iradiasi yang Mempunyai Aktivitas Antikanker
Pasteurisasi simplisia dan produk obat herbal telah dilakukan oleh beberapa perusahaan obat herbal, namun informasi tentang keamanan obat herbal yang diradiasi masih sedikit, bahkan pengaruh iradiasi gamma untuk tujuan pasteurisasi terhadap toksisitas simplisia temulawak belum pernah diteliti. Ekstrak etanol temulawak mempunyai aktivitas berpotensi sebagai antikanker. Pada penelitian ini dilakukan uji toksisitas akut ekstrak etanol dari rimpang temulawak yang tidak dan yang diradiasi dengan dosis 5 dan 10 kGy. Uji toksisitas akut ekstrak etanol dilakukan pada mencit dengan mengamati pengaruh ekstrak terhadap perilaku hewan (profil farmakologi) setelah pemberian dosis tunggal bahan uji, perkembangan bobot badan hewan percobaan dan kematian setiap hari selama 14 hari serta pengamatan bobot beberapa organ pada hari ke-14.Hasil uji toksisitas akut setelah pemberian ekstrak pada mencit jantan dan betina menunjukkan bahwa sampai dosis 7500 mg/kg bobot badan (BB) tidak ada kematian dan efek toksik yang bermakna, maka ekstrak etanol dari rimpang temulawak yang tidak dan yang diradiasi dengan dosis 5 dan 10 kGy dapat dinyatakan aman. Dengan demikian DL50 dari ekstrak etanol dari rimpang temulawak yang tidak dan yang diradiasi (5 dan 10 kGy) pada mencit lebih besar dari 7500 mg/kg BB.