Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi
Not a member yet
    235 research outputs found

    Pembuatan dan Karakterisasi Kopolimer c-PTFE-g-stirena dengan Metode Pencangkokan Prairadiasi

    Get PDF
    Kopolimer ikatan silang poli(tetrafluoroetilena) tercangkok stirena (c-PTFE-g-stirena) telah berhasil dibuat dengan metode pencangkokan prairadiasi. Iradiasi film c-PTFE dilakukan menggunakan sinar gamma pada dosis iradiasi 15, 30, dan 45 kGy dan temperatur ruang. Stirena selanjutnya dicangkokkan pada film c-PTFE dengan variasi temperatur 600 - 900C. Parameter yang diamati adalah derajat pencangkokan. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa derajat pencangkokan meningkat dengan semakin besarnya dosis iradiasi. Derajat pencangkokan tertinggi sebesar 25,44 % diperoleh pada temperatur 700C dan masih meningkat sampai 25,73 % dengan semakin lama waktu pencangkokan. Waktu optimum untuk proses pencangkokan adalah 2 jam. Film c-PTFE-g-stirena selanjutnya dianalisis sifat kimia dan fisiknya menggunakan spektrofotometer infra merah dan Scanning Electron Microscopy (SEM)

    PEMANFAATAN TEPUNG PREMIX BERBAHAN DASAR MUTAN SORGUM Zh-30 UNTUK INDUSTRI PEMBUATAN ADONAN DAN MIE KERING

    Get PDF
    Mutan sorghum Zh-30 adalah hasil penelitian pemuliaan tanaman denganteknik mutasi induksi yang dilakukan di Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi,BATAN. Mutan sorghum Zh-30 dikembangkan dari varietas Zhengzu yang berasal dari China yang diintroduksi ke BATAN melalui proyek RCA — IAEARAS/5/040. Induksi mutasi pada varietas Zhengzu dilakukan dengan irradiasi sinar Gamma dengan dosis 300 Gy. Melalui proses seleksi yang dimulai pada M2, telah dihasilkan sejumlah galur mutan pada M3 dan M4. Salah satu galur mutan harapan adalah Zh-30 yang berbatang semi pendek, genjah, tahan kekeringan, produksi tinggi, dan kualitas biji yang baik. Untuk tujuan tepung premix mutan sorghum dan pengembangan dalam industri pangan, telah dilakukan penelitian terhadap kualitas tepung premix berbahan dasar mutan sorghum Zh-30 dengan melakukan berbagai analisis pada berbagai kondisi. Penelitian ini terdiri dari dua kelompok percobaan, yaitu pengaruh kansui (garam alkalis Na2CO3 dan K2CO3) pada sifat reologi adonan, pengaruh penambahan telur pada sifat fisik adonan dan mie masak. Pengamatan dilakukan pada tiga jenis tepung premix berbahan dasar sorghum dengan kadar protein yang berbeda, yaitu tepung premix I kadar protein 10,2%, tepung premix II kadar protein 14,5%, dan tepung premix III kadar protein 17,4%. Dipelajari juga pengaruh masing-masing garam alkalis, dan campurannya terhadap reologi adonan, yaitu konsistensi adonan, daya tahan adonan, dan ekstensibilitas adonan. Konsentrasi kansui yang diberikan 0; 0,5; 1,0; dan 1,5%. Secara keseluruhan tepung premix I dengan penambahan 0,5% kansui memberikan nilai konsistensi, daya tahan adonan dan ekstensibilitas adonan yang optimal. Penambahan lima ml telur ayam dilakukan pada tepung premix I dengan penambahan 0,5% kansui memberikan hasil yang optimal. Peningkatan penambahan telur melembutkan adonan, dan meningkatkan sifat tekstural mie, serta mengurangi kelengketan. Penambahan lima ml sudah memberikan perbedaan kekenyalan sangat nyata, dan kekenyalan tertinggi pada 35 ml, namun antara 5 — 35 ml tidak ditemukan perbedaan nyata. &nbsp

    IRRADIATION EFFECTS ON INSECTICIDES AS A POLLUTANT MODEL IN AQUEOUS SOLUTION

    Get PDF
    Degradation of some insecticides i.e.: fenitrothion, prothiofos, and cypermetrin as a model pollutant was carried out using gamma irradiation of 60Co. Irradiation-induced of fenitrothion in solution acid medium gave the significant effect on the decrease of its concentration. The optimum condition for degradation of fenitrothion (55.5 mg/L) was irradiation at 6 kGy with aeration in initial pH 5.6. At this condition, the concentration of fenitrothion decreased up to 97%. Determination of organic acids in irradiated product by HPLC method showed that oxalic acid and formic acid were clarified as organic acid-degraded products of fenitrothion with the concentration of 23.0 mg/L and 2.5 mg/L respectively. The irradiation of prothiofos in aqueous solution (50 mg/L), showed that irradiation at a dose of 8 kGy and initial pH 7 gave the optimum degradation. At this condition, the concentration of prothiofos decreased up to 98%. Determination of irradiated product by HPLC method showed that oxalic acid (18 mg/L) was clarified as organic acid-degraded product of prothiofos. In the case of cypermetrin, the optimum condition for its degradation was irradiation with aeration of cypermetrin (40 mg/L) at a dose of 20 kGy, initial pH 11, and adding the catalyst 0.05% of FeCl3. At that condition, cypermetrin decreased up to 87% and COD of solution decreased up to 78%. The organic acid detected at optimum condition as degradation products were oxalic acid (1.1 g/L), maleic acid (9.0 g/L), formic acid (127.0 g/L), and acetic acid (286.0 g/L). From these results, it could be concluded that ionizing radiation can be used as a tool to degrade insecticides as organic pollutants. &nbsp

    PERBANDINGAN METODE SINTESIS BENZENA DAN ABSORPSI CO2 UNTUK PENANGGALAN RADIOISOTOP 14C

    Get PDF
    Telah dilakukan penelitian mengenai penentuan umur sampel karbon menggunakan metode absorpsi CO2. Metode ini merupakan alternatif terhadap metode sintesis benzena yang selama ini digunakan. Penerapan metode ini bertujuan untuk mendukung berbagai penelitian hidrologi khususnya penelitian umur air tanah menggunakan radioisotop alam 14C. Hasil-hasil yang diperoleh dari metode absorpsi CO2 kemudian dibandingkan dengan hasil-hasil metode sintesis benzena yang meliputi cacahan latar belakang, cacahan standar, aktivitas dan batas umur, hasil umur, dan biaya bahan serta komponen yang terlibat dalam analisis. Penelitian menunjukkan bahwa dibandingkan dengan metode sintesis benzena, preparasi sampel menggunakan metode absorpsi CO2 lebih sederhana, ekonomis dan praktis. Penggunaan metode absorpsi CO2 dapat menghemat biaya bahan hingga 75 %. Perbedaan yang nyata antara metode absorpsi CO2 dan sintesis benzena adalah kemampuan menentukan umur maksimum yang masing-masing menghasilkan 33.310 tahun dan 47.533 tahun. Sedangkan rata-rata hasil umur, baik dengan metode sintesis benzene maupun absorpsi CO2 untuk sampel yang sama hasilnya relatif sama. &nbsp

    TEKNOLOGI ISOTOP ALAM UNTUK MANAJEMEN EKSPLORASI DAN EKSPLOITASI AIR TANAH

    Get PDF
    Indonesia secara iklim dan kondisi hidrogeologi mempunyai banyak kantong akifer yang merupakan sumber air tanah. Pada berbagai daerah banyak muncul mata air mulai debit skala kecil hingga besar yang menandai adanya potensi air tanah. Air tanah merupakan cadangan air yang potensial untuk digunakan semaksimal mungkin bagi berbagai keperluan seperti air minum, industri dan pariwisata. Kota besar seperti Jakarta, Bandung dan lainnya sebagian besar mengandalkan air tanah untuk keperluan industri dan hotel. Eksploitasi pemanfaatan air tanah untuk hal tersebut perlu dikontrol dan dilakukan sistem manajemen monitoring. Penelitian eksplorasi secara geofisik dan hidrogeologi yang menunjukan besarnya cadangan air tanah belum cukup untuk dapat digunakan sebagai justifikasi untuk eksploitasi, masih perlu parameter lain yaitu tentang asal-usul dan umur air tanah. Kedua faktor tersebut merupakan bagian pertimbangan dari sistem konservasi dan kesetimbangan air. Teknologi alternatif yang sangat cepat untuk menentukan kedua parameter tersebut adalah tenik isotop alam 18O, 2H dan 14C yang telah dikembangkan lebih dari tiga dekade dan digunakan di banyak negara diberbagai belahan dunia. Teknik isotop 18O dan 2H digunakan sebagai sidik jari untuk menentukan asal usul air (origin) sedangkan isotop 14C digunakan untuk menentukan umur air tanah. Isotop 18O dan 2H merupakan isotop stabil dalam bentuk senyawa air dan ikut dalam siklus hidrologi. Konsentrasinya yang sangat spesifik dalam air hujan pada berbagai elevasi digunakan sebagai sidik jari untuk menentukan daerah imbuh air tanah dan asal usulnya. Isotop 14C merupakan isotop alam bersifat radioaktif dengan waktu paruh 5730 tahun ikut dalam siklus hidrologi dan masuk ke dalam sistem air tanah melalui senyawa gas CO2 terlarut. Isotop 14C dapat menentukan umur air tanah dan mengindikasikan potensi/jumlah air tanah. Studi eksplorasi dan monitoring eksploitasi air tanah terpadu secara geohidrologi, geofisik dan isotop merupakan solusi untuk manajemen pengelolaan air tanah yang berkelanjutan dan berwawasan lingkungan. Berbagai contoh studi terpadu tersebut telah dilakukan pada berbagai sumber air tanah seperti Jakarta, Bontang dll dan memberikan sumbangan yang berarti untuk sistem manajemen pengelolaan terpadu sistem akifer.     &nbsp

    PEMULIAAN MUTASI DALAM PENINGKATAN MANFAAT GALUR-GALUR TERSELEKSI ASAL PERSILANGAN ANTAR SUB-SPESIES PADI

    Get PDF
    Sempitnya keragaman genetik dari varietas-varietas padi yang sudah dilepas memberi kontribusi besar terhadap terjadinya pelandaian peningkatan potensi hasil padi pada beberapa dekade terakhir. Pada penelitian ini telah dilakukan pembuatan galur-galur pemuliaan (breeding lines) yang mempunyai keragaman genetik luas melalui persilangan antar sub-spesies Indika dengan Japonika. Dari 100.000 tanaman F5 hasil persilangan varietas IR36 (sub-sp. Indika) dengan varietas Koshihikari (sub-sp. Japonika), terpilh 568 tanaman, selanjutnya 568 tanaman tersebut dimurnikan sampai generasi F8 hingga menjadi 568 galur murni. Galur-galur murni ini dilengkapi dengan data beberapa sifat agronomi seperti tinggi tanaman, umur tanaman, panjang malai, jumlah gabah per malai, panjang gabah, lebar gabah, dan lain-lain sehingga akan memberi kemudahan dalam penggunaannya pada program pemuliaan tanaman padi selanjutnya. Diantara galur-galur itu, 7 galur terbaik langsung masuk uji daya hasil, 23 galur disilangkan sesamanya untuk mengumpuilkan sebanyak mungkin sifat yang diinginkan pada satu tanaman, dan 2 galur berpotensi untuk dikembangkan tetapi masih punya sedikit kelemahan, yaitu batang terlalu tinggi sehingga mudah rebah untuk galur KI 237, dan umur terlalu panjang untuk galur KI 432. Peningkatan manfaat galur KI 237 dan KI 432 dilakukan dengan memperbaiki kelemahannya melalui pemuliaan mutasi. Setelah benih kedua galur tersebut diiradiasi dengan sinar gamma dosis 200 Gy, diperoleh sejumlah mutan pendek dan semi-pendek, serta mutan genjah pada populasi M2. Mutan-mutan tersebut akan sangat berguna untuk memperbaiki kelemahan galur asalnya baik secara langsung maupun melalui pemuliaan silang balik (backcross breeding). &nbsp

    SINTESIS DAN KARAKTERISASI KOMPOSIT HIDROKSIAPATIT (HA) SEBAGAI GRAFT TULANG SINTETIK

    Get PDF
      Telah dilakukan pembuatan dan karakterisasi komposit hidroksiapatit/PVA/PVP/khitosan dengan teknik radiasi. Hidroksiapatit (HA) disintesis dari kalsium hidroksida dan asam fosfat pada suhu dan pH terkontrol menggunakan metode basah (wet method). Sedangkan komposit HA/PVA/PVP/khitosan dibuat dengan radiasi sinar gamma pada berbagai dosis. Untuk mengevaluasi HA yang terbentuk selama proses sintesis maka dilakukanlah karakterisasi beberapa parameter seperti rasio CA/P, pengukuran gugus fungsi menggunkan FTIR dan analisis ukuran kristal dengan SEM. Analisis terhadap komposit hasil iradiasi dilakukan terhadap fraksi gel. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa rata-rata rasio Ca/P dari 3 batch produksi adalah 1,69. Hasil pengukuran gugus fungsi dengan FTIR menunjukkan serapan pada bilangan gelombang (wave number) 1035, 603 dan 565 cm-1 yang merupakan gugus fosfat (PO4-3); bilangan gelombang 1421 cm-1 yang merupakan gugus karbonat (CO3-2); dan bilangan gelombang 3450 cm-1 yang merupakan gugus hidroksil (OH). Hasil ini menunjukkan bahwa sintesis dengan metode basah menghasilkan senyawa hidroksiapatit dengan tingkat kemurnian yang sangat baik. Komposit HA/PVA/PVP/ khitosan yang diiradiasi dengan sinar gamma pada dosis 5 hingga 30 kGy menghasilkan fraksi gel antara 80 - 90 %. Komposit dengan kandungan fraksi gel yang tinggi ini bersifat kaku dan mempunyai kendala dalam pemakaian klinis. Penambahan etanol 5 % pada komposit dan iradiasi pada dosis 25 kGy dapat menurunkan fraksi gel dari 90 % menjadi 30 % serta gel yang dihasilkan bersifat elastis dan mudah dibentuk sesuai keinginan. Sedangkan penambahan gliserin 6 % hanya menurunkan fraksi gel dari 90 % menjadi 80 %. Etanol 5 % merupakan scavenger yang lebih efektif dibandingkan dengan gliserin 6 %.   &nbsp

    Perkembangan Pemuliaan Mutasi Tanaman Hias di Indonesia

    Get PDF
      Seiring dengan kebutuhan tanaman hias dalam negeri yang terus meningkat dan selera konsumen yang cepat berubah, pemulia dalam negeri dalam 5 tahun terakhir telah melepas sekitar 102 varietas unggul baru. Namun, hasil tersebut belum dapat mensubsitusi varietas-varietas impor. Salah satu metode untuk merakit varietas baru adalah melalui teknik mutasi. Cukup banyak kegiatan penelitian teknik mutasi pada tanaman hias telah dilakukan di Indonesia, namun belum dirancang secara komprehensif sampai menghasilkan genotip-genotip harapan yang siap dilepas sebagai varietas unggul baru. Secara umum, kegiatan tersebut masih dalam tahapan penelitian dasar yang berkaitan dengan jenis, dosis yang paling efektif, LD50; sensitifitas bagian tanaman baik biakan in-vitro maupun in-vivo terhadap mutagen dan keragaman yang ditimbulkan pada tanaman akibat pemberian mutagen. Tanaman hias yang paling banyak diteliti adalah krisan dan mawar. Beberapa mutan telah dilepas sebagai varietas unggul nasional diantaranya Julikara, Rosanda dan Rosmarun (mawar mini); Rosma (mawar potong) dan Mustika Kania (krisan)   &nbsp

    Biosolubilisasi Lignit Mentah Hasil Iradiasi Gamma dan oleh Trichoderma asperellum

    Get PDF
      Biosolubilization is a promising technology for converting solid coal to liquid oilby addition of microorganism. Aim of this research is to compare between gamma irradiatedlignite (10 kGy) with raw lignite in biosolubilization by selected fungi Trichoderma asperellum.Treatments were A (MSS + gamma irradiated lignite 5% + T. asperellum) and B (MSS + rawlignite 5% + T. asperellum) with sub-merged culture. There were two parameters observed i.e.biosolubilization product based on absorbance value at 250nm and 450nm and metal analysis byneutron activation analysis (NAA). The highest biosolubilization will be analyzed by FTIR andGCMS. The results showed that biosolubilization of raw lignite (B) was higher than sterilizedlignite (A) based on absorbance value at 250nm and 450nm. The metal of lignite was decreasedafter incubation. FTIR analysis showed that both of treatment had similar spectra onbiosolubilization products. GCMS analysis showed that both of treatment had differentnumber of hydrocarbon, i.e. C6 — C35 (A) and C10 — C35 (B) and dominated by aromatic acids aliphatic and phenylethers. Both of treatment product had the potency as oil substituted butits recommended to deoxygenate for higher quality.

    Sintesis Hidrogel Campuran Poli (Vinil Alkohol) (PVA)— Natrium Alginat dengan Kombinasi Beku-Leleh dan Radiasi Gamma untuk Bahan Pembalut Luka

    Get PDF
    Penelitian ini bertujuan menaikkan sifat mekanik hidrogel campuran poli (vinil alkohol) (PVA) - natrium alginat (NaAlg) untuk aplikasi pembalut luka yang diproses dengan kombinasi beku-leleh dan iradiasi gamma serta dikarakterisasi menggunakan Fourier Transform Infra Red (FT-IR). Fraksi gel, rasio swelling dan persentase penguapan air hidrogel diuji secara gravimetri, perpanjangan putus hidrogel diuji dengan Instron meter. Spektra FT-IR secara jelas menunjukkan terjadinya ikatan silang antara PVA dengan NaAlg melalui ikatan hidrogen. Kombinasi proses beku-leleh dan iradiasi dapat meningkatkan fraksi gel dan perpanjangan putus hidrogel secara signifikan dibandingkan hanya proses beku-leleh. Hidrogel PVA-NaAlg hasil kombinasi beku-leleh dan iradiasi selayaknya dapat dimanfaatkan untuk pembalut luka.   &nbsp

    224

    full texts

    235

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇