Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
Penandaan Kanamycin dengan Radionuklida Teknesium-99m Sebagai Sediaan Untuk Deteksi Dini Penyakit Infeksi
Penyakit infeksi masih menjadi penyebab utama kematian di dunia. Deteksi dini dan penentuan lokasi infeksi yang tepat dan akurat melalui pencitraan menggunakan teknik nuklir dapat mempermudah pengobatannya. Antibiotik bertanda radioaktif mampu menjadi solusi untuk membedakan antara infective inflammatory dan non-infective inflammatory. Kanamycin merupakan antibiotik yang digunakan untuk pengobatan infeksi dimana obat-obat infeksi lain seperti penisilin dan beberapa obat infeksi lain yang kurang ampuh tidak dapat digunakan. Penelitian ini bertujuan menentukan kondisi optimum penandaan 99mTc-kanamycin untuk memperoleh efisiensi penandaan yang tinggi. Dalam percobaan, kanamycin telah berhasil ditandai dengan teknesium-99m melalui metode penandaan tidak langsung dengan menggunakan pirofosfat sebagai co-ligand. Efisiensi penandaan dan penentuan kemurnian radiokimia senyawa tersebut secara simultan ditentukan dengan metode kromatografi kertas menaik menggunakan kertas Whatman 3 sebagai fase diam dan aseton sebagai fase gerak untuk memisahkan pengotor radiokimia dalam bentuk 99mTc-perteknetat; sedangkan pengotor dalam bentuk 99mTc-tereduksi dipisahkan dengan menggunakan fase diam ITLC-SG dan fase gerak NaOH 0,5 N. Kondisi penandaan optimal diperoleh pada penggunaan 6 mg kanamycin, 300 µg SnCl2, 1,5 mg Na-pirofosfat, dan pH=6. Waktu inkubasi selama 0-30 menit pada temperatur kamar, memberikan efisiensi penandaan 96,54 ± 0,36 %. Berhasilnya penandaan kanamycin dengan efisiensi yang tinggi ini menjadikan 99mTc-kanamycin berpeluang untuk dijadikan sebagai sediaan radiofarmasi untuk deteksi dini penyakit infeksi
Bioremediasi Lahan Tercemar Limbah Lumpur Minyak Menggunakan Campuran Bulking Agents yang Diperkaya Konsorsia Mikroba Berbasis Kompos Iradiasi
Campuran bulking agent diperkaya konsorsia inokulan mikroba berbasis kompos iradiasi digunakan untuk mendegradasi lahan tercemar hidrokarbon dalam skala mikrokosmos. Pengomposan selama 42 hari dilakukan dengan campuran bahan bulking agent (serbuk gergaji, sludge sisa biogas dan kompos) sebesar 30%, lumpur minyak bumi (oil sludge) sebesar 20% dan 50% tanah. Campuran 80% tanah dan 20% oil sludge digunakan sebagai kontrol. Kompos iradiasi digunakan sebagai carrier bagi konsorsia inokulan mikroba (F+B) pendegradasi hidrokarbon. Variasi perlakuan meliputi A1, A2, B1, B2, C1, C2, D1 dan D2. Parameter proses yang diamati meliputi : suhu, pH, kadar air, TPC (Total Plate Count) dan % degradasi TPH (Total Petroleum Hydrocarbon). Kondisi optimal dicapai pada remediasi cemaran oil sludge 20% menggunakan perlakuan B2 yakni dengan penambahan konsorsia inokulan mikroba berbasis kompos iradiasi dalam 30 % serbuk gergaji (Bulking agent) pada konsentrasi tanah 50% dengan efisiensi degradasi TPH optimal sebesar 81,32%. Hasil analisis GC-MS menunjukkan bahwa bioremediasi selama 42 hari menggunakan campuran bulking agents serbuk gergaji dan kompos iradiasi yang diperkaya dengan konsorsia mikroba dapat mendegradasi hidrokarbon awal dengan distribusi rantai karbon C-7 sampai C-54 menjadi hidrokarbon dengan distribusi rantai karbon C-6 sampai C-8
PRINSIP DASAR PENERAPAN TEKNIK SERANGGA MANDUL UNTUK PENGENDALIAN HAMA PADA KAWASAN YANG LUAS
Teknik Serangga Mandul (TSM) adalah suatu teknik pengendalian hama yang relatif baru, potensial, dan kompatibel dengan teknik lain. Teknik ini meliputi iradiasi koloni serangga di laboratorium dengan sinar γ, n atau x, kemudian secara periodik dilepas di lapang sehingga tingkat kebolehjadian perkawinan antara serangga mandul dan serangga fertil makin menjadi bertambah besar dari generasi pertama ke generasi berikutnya akibat makin menurunnya persentase fertilitas populasi serangga di lapang. Pengaruh penglepasan serangga mandul (dengan rasio 9:1 terhadap serangga jantan alami dan potensi reproduksi setiap ekor serangga betina induk pada tiap generasi menghasilkan keturunan 5 ekor serangga betina) terhadap model penurunan populasi serangga didiskusikan secara konseptual. Dari generasi induk sebanyak satu juta ekor serangga betina menurun menjadi 26.316 ekor, 1.907 ekor, 10 ekor, dan 0 (nihil) berturut-turut pada generasi keturunan ke pertama ,kedua, ketiga dan yang keempat .Selanjutnya apabila teknik jantan mandul dipadukan dengan teknik kimiawi (insektisida) dengan daya bunuh 90 % menjadi bertambah efektif dibandingkan hanya dengan penerapan teknik jantan mandul saja. Dari populasi serangga satu juta ekor pada generasi I menurun menjadi 2.632 , 189, dan 0 ekor berturut-turut untuk keturunan I,II, dan III. Pada Lepidoptera ditemukan adanya fenomena kemandulan yang diwariskan (inherited sterility). Kemandulan yang diwariskan kepada keturunan pertama, menurut Knipling (1970) disebabkan oleh terjadinya translokasi kromosom pada gamet. Pada individu yang heterozygot akan mati dan individu yang homozygot masih dapat hidup. Fenomena kemandulan bastar antar spesies pertama kali ditemukan oleh Laster (1972) pada perkawinan antara Heliothis virescens (F) jantan dan Heliothis subflexa Guenee betina. Ngengat jantan keturunan pertama dari hasil perkawinan antara H. virescens dan H. subflexa menjadi mandul dan yang betina tetap fertil. Bila ngengat betina keturunan pertama ini dikawinkan secara back cross dengan H. virescens jantan maka kejadian akan berulang kembali yaitu keturunan yang jantan mandul dan yang betina fertil (F2) jantan menjadi mandul dan yang betina fertil).
 
Orientasi Dosis Iradiasi Streptococcus agalactiae untuk Bahan Vaksin Mastitis Subklinis pada Sapi Perah
Telah dilakukan suatu penelitian untuk mengetahui pengaruh iradiasi sinar gamma dalam melemahkan Streptococcus agalactiae sebagai bahan vaksin untuk pencegahan penyakit Mastitis subklinis (radang ambing) pada sapi. Bakteri S. agalactiae yang telah diisolasi dari kasus Mastitis subklinis pada sapi perah di lapangan, kemudian diamati pertumbuhannya. Bakteri ini yang telah mencapai pertengahan fase log dari pertumbuhannya, dibagi menjadi 5 kelompok perlakuan, yang diiradiasi dengan dosis 0; 25; 50; 75; dan 100Gy. Bakteri yang telah diradiasi selanjutnya ditanam pada media agar Brain Heart Infusion (BHI), untuk dilakukan penghitungan koloni bakteri bagi penentuan LD50-nya. Dari perlakuan tersebut diperoleh kurva Pengaruh Iradiasi terhadap % Viabilitas bakteri dengan persamaan Y=95,414e-0,0371X ; R2=0.9979 (Y=%Viabilitas dan X= dosis iradiasi). Dari perhitungan ini diketahui dosis iradiasi sebesar 17,4 Gy untuk melemahkan bakteri S. agalactiae sampai taraf LD50.
 
RADIONUCLIDIC SEPARATION OF RADIOACTIVE INDIUM FOR MEDICAL AND BIOLOGICAL RESEARCH APPLICATIONS FROM TARGET MATRIX BASED ON NUCLEAR REACTION OF NATCd (n,γ) 115Cd → 115mIn
Radioisotope 115mIn has been considered to be a very potential radioisotope formedical purposes and biological researches. Its physical properties are comparable to those of the radioisotope 99mTc. Although 115mIn is very potential for application in nuclear medicine and biological researches, it is not widely explored for domestic use due to domestic limitations on its production technology. Accordingly, the objective of the present works is to master a production processing technology of 115mIn for medical and biological research applications. As the daughter of 115Cd, 115mIn is produced by neutron activation on cadmium target followed by separation in a radioisotope generator based on nuclear reaction of 114Cd (n,γ) 115Cd → 115mIn. In this study, natural CdO was used as a target while the irradiation was carried out in the G.A. Siwabessy reactor. The separation of radioisotope 115mIn from the irradiated target was carried out by means of solvent extraction and anion exchange column chromatography. In terms of solvent extraction, the post-irradiated target solution was extracted using two extractants namely 8-hydroxy-quinoline in chloroform and 2-ethylhexyl-phosphate in toluene. The resulting radioindium(III)-organo-complexwas then stripped from the organic phase to release the radioisotope 115mIn. Meanwhile in anion exchange column chromatography, the cadmium fraction in the post-irradiated target solution was conditioned to form anion complex, CdI4 2-, which was then bound on AG 1X8 (Cl¯, 100 — 200 mesh) resin column. The formed 115mIn, the daughter of 115Cd, in the form of 115mIn3+ was then eluted from the column using 0.05 M HCl. It was found that the radioactive indium obtained from the solvent
extraction using 8-hydroxyquinoline in chloroform was chemically contaminated by the extractant, while that obtained from the solvent extraction using 2-ethylhexylphosphate in toluene was significantly contaminated by 115Cd. The anion exchange column chromatography was found to be the best method for separation of 115mIn from post-irradiated target solution because this method produced pure 115mIn. This was indicated by the resulting 115mIn fraction that gave a mono-energetic γ-ray spectrum peaking at 336 keV and a half-life of 4.486 hours which were related to 115mIn. The quantitative aspect which was regarded as a radioactivity of the produced 115Cd was found to give a fluctuated result. This result was suspected to be inflicted by irradiation parameters such as inaccuracy in irradiation time, thechanges of reactor power and neutron flux as well as inter-irradiation-position load, which varied from one irradiation to another irradiation.
 
Pengaruh Iradiasi Gamma Terhadap Sitotoksisitas Daun Sirih Merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) pada Sel Leukemia L1210
Sirih merah (Piper crocatum Ruiz & Pav.) merupakan tanaman yang mengandung flavonoid, tanin, minyak atsiri dan secara empiris telah digunakan sebagai obat tradisional. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh iradiasi gamma pada aktivitas sitotoksisitas daun sirih merah terhadap sel leukemia L1210 dan profil kromatogramnya. Daun sirih merah kering (kadar air 8,03%) diiradiasi dengan sinar gamma pada dosis 5; 7,5; 10 dan 15 kGy dengan sumber kobalt-60. Kemudian masing-masing sampel dimaserasi dalam tiga jenis pelarut secara bertahap, yaitu n-heksan, etil asetat dan etanol, sehingga diperoleh tiga jenis ekstrak. Uji aktivitas sitotoksisitas ekstrak terhadap sel leukemia L1210 dilakukan dengan metode langsung dengan pewarnaan menggunakan tripan biru. Ekstrak etanol merupakan ekstrak yang paling aktif menghambat pertumbuhan sel leukemia L1210 (IC50 sebesar 13,12 mg/mL), selanjutnya difraksinasi dengan kolom kromatografi, diperoleh 7 fraksi. Fraksi 2 merupakan fraksi yang paling aktif menghambat sel leukemia L210 dengan IC50 4,12 mg/ml. Aktivitas sitotoksik fraksi 2 daun sirih merah sampai 7,5 kGy tidak mengalami perubahan bermakna dibandingkan dengan kontrol, tetapi pada dosis ≥ 10 kGy aktivitas sitotoksik fraksi 2 mengalami penurunan yang bermakna. Kromatogram KLT fraksi 2 dari daun sirih merah yang tidak dan yang diiradiasi sampai dosis 7,5 kGy tidak terlihat adanya perubahan, tetapi pada KLT-Densitometri dan spektrum GC-MS daun sirih merah terlihat adanya perubahan. Berdasarkan hasil aktivitas sitotoksik fraksi 2 terhadap sel leukemia L1210 dan profil KLT disimpulkan bahwa dosis 7,5 kGy merupakan dosis maksimum untuk iradiasi serbuk daun sirih merah tanpa mengubah bioaktivitasnya
Karakteristika dan Khasiat Daun Keladi Tikus (Typhonium divaricatum (L.) Decne) Iradiasi
Keladi Tikus (Typhonium divaricatum (L.) Decne), Araceae, is one ofIndonesia plants that can inhibit cancer cell growth. Preservation techniques of herbalmedicine using gamma irradiation has long been used to prolong shelf life, but only a littlescientific data that study the effect of irradiation on the properties of them. In this studyirradiation of keladi tikus leaves with a dose of 0, 5, 7.5, 10 and 15 kGy, followed bymaceration of each with n-hexane, ethyl acetate and ethanol, respectively. Effects of gammairradiation were studied by testing the inhibitory activity against the L1210 leukemia cell forthe extracts, fractionation by column chromatography, analysis by TLC, spectrophotometerand HPLC. The result of cytotoxicity test against L1210 leukemia cells showed that the ethylacetate extract of the most active potential as anticancer IC50 value respectively 11.81 μg/ml.Result of fractionation of ethyl acetate extract were obtained by column chromatography with6 fractions. Fraction 2 was the most active fraction with the lowest IC50 value of 4.14 μg/ml. Gamma irradiation dose of 15 kGy reduced the cytotoxic activity of fraction 2 against L1210leukemia cells, but still within the active potent (IC50 values ≤ 20 μg/ml) as an inhibitor to thegrowth of leukemia L1210. Based on the cytotoxicity data, profiles of TLC, UV-VIS spectrumand HPLC between control and irradiated samples showed that the maximum dose forirradiation of keladi tikus leaves was 7.5 kGy.
Studi Iklim dan Vegetasi Menggunakan Pengukuran Isotop Alam Stalaktit Goa Seropan, Gunung Kidul-Yogyakarta
Climate and vegetation study usingenvironmental isotopes (i.e., 13C, 14C and 18O) variations of stalactite has been conducted atSeropan cave, Gunung Kidul Karst area. The stalactite samples were collected from SeropanCave at Semanu, Gunung Kidul, Yogyakarta. The objective of study is to understand theclimate change, and vegetation types, temperature of atmosphere, age and stalactite growthrate through the interpretation of environmental isotopes (i.e., 13C, 14C and 18O) of stalactitesamples. The environmental isotope content of stalactite samples were analysed throughCaCO3 compound that was found at the stalactite samples. The 13C content of samples isimportant to understand climate undulation and also vegetation variation. On the other hand,the variation of 18O and 14C contents is important to predict past temperature of atmosphere,and the age as well as stalactite growth rate, respectively. The result of environmental 13Cisotope analysis showed that Gunung Kidul area in general can be classified as dry climate. Itis also indicated that almost 87.5 % of local vegetation can be classified as dry vegetation C4as can be seen from the variation of 13C content that is -6 o/oo to +2 o/oo vs PDB. This can also mean that only 12.5 % of the time that the vegetation in the area is wet in which the variationof 13C content is in the range -14 o/oo to -6 o/oo vs PDB. The variations of 18O contents of thesamples (carbonate stalactite, or drip water) showed that the average temperature since 1621to 2011 was around 19.5 oC. On the other hand, the variations of 14C contents of the samplesshowed that stalactite growth rate was around 0.1 mm/year or one mm in ten years. Theresult shows that the stalactite growth is very slow as generally expected in tropical area suchas Gunung Kidul.
Biosolubilisasi Batubara Hasil Iradiasi Gamma oleh Kapang Trichoderma sp.
Biosolubilisasi batubara adalah proses yang memiliki potensi untuk mengubah batubara padat menjadi bahan bakar cair dengan bantuan mikroorganisme. Penelitian ini bertujuan untuk mengamati kemampuan kapang Trichoderma sp. dalam mencairkan batubara dari jenis subbituminus hasil iradiasi gamma. Dosis iradiasi yang digunakan adalah 5, 10, dan 20 kGy dan sebagai pembanding adalah kontrol, yaitu batubara tidak diiradiasi. Metode yang digunakan adalah submerged culture dan inkubasi dilakukan pada suhu ruang dan agitasi 150 rpm selama 28 hari. Parameter yang diukur adalah kolonisasi, pH medium dan produk solubilisasi berdasarkan nilai absorbansi pada λ250nm dan λ450nm serta analisis GC/MS untuk perlakuan terbaik. Hasil percobaan menunjukkan bahwa biosolubilisasi batubara dapat ditingkatkan dengan iradiasi gamma. Kapang dapat tumbuh dengan baik dalam medium yang mengandung batubara hasil iradiasi dan pH medium menjadi lebih asam. Tingkat biosolubilisasi mengalami peningkatan tidak sebanding dengan dosis iradiasi. Dosis terbaik perlakuan adalah 20 kGy dengan produk biosolubilisasi berupa senyawa yang cenderung setara dengan bensin dan solar. Berdasarkan hasil penelitian ini, maka dapat disimpulkan bahwa pra perlakuan batubara dengan iradiasi gamma memiliki potensi untuk digunakan dalam meningkatkan biosolubilisasi.
 
STUDI HUBUNGAN KONSENTRASI HORMON PROGESTERON DENGAN JUMLAH KORPUS LUTEUM PADA KAMBING
Sebagai upaya untuk mengetahui akan adanya bunting kembar secara alami, studi hubungan antara jumlah sel telur (ova), yang digambarkan dengan jumlah korpora lutea (CL), dengan konsentrasi hormon progesteron pada 12 ekor ternak kambing betina dewasa telah dilakukan. Percobaan ini bertujuan melihat hubungan antara jumlah sel telur, yang digambarkan dengan jumlah korpora lutea, dengan konsentrasi hormon progesteron pada ternak kambing. Dalam percobaan, seluruh ternak (n=12) mendapatkan perlakuan sinkronisasi estrus (birahi) dengan mengijeksikan secara intra muskular (i.m.) Estrumate® sebanyak 2 kali dengan interval 10 hari. Observasi jumlah sel telur yang dilepaskan dari ovarium, yang digambarkan dengan jumlah CL terpantau, dilakukan dengan aplikasi teknik laparoskopi. Hewan percobaan dibagi menjadi dua kelompok pengamatan berdasarkan pada jumlah sel telur terobservasi, yaitu kelompok K ≤2CL dan K >2CL. Sampel darah diambil dari seluruh hewan percobaan saat dilakukan sinkronisasi birahi, yaitu: -10, -1, 0, 2, 11 dan 21 hari periode birahi untuk dianalisis konsentrasi hormon progesteron. Analisis dilakukan memakai teknik radioimmunoassay (RIA). Terdapat hubungan yang signifikan (P<0,01) antara jumlah sel telur terovulasi dengan konsentrasi progesteron dalam serum pada pertengahan siklus birahi (fase luteal). Rata—rata konsentrasi progesteron pada fase ini 4,00 ± 0,89 dan 5,95 ± 0,90 nMol/L masing—masing untuk kelompok K≤2CL dan K>2CL. Kegiatan pengamatan ini mengkonfirmasikan bahwa konsentrasi hormon progesteron dapat digunakan sebagai indikator untuk memprediksi jumlah sel telur terovulasi yang dapat digunakan dalam program twinning pada ternak ruminansia kecil.