Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
Tinjauan Hamburan Neutron Sudut Kecil untuk Mengukur Misibilitas Campuran Biner Polimer
Pencampuran polimer dimaksudkan untuk mencari bahan baru dengan sifat superior. Munculnya multifasa pada campuran polimer menuntut perlunya dicari hubungan mendasar antara struktur dan sifat dari polimer yang terkait untuk mengontrol struktur agar diperoleh sifat yang dikehendaki. Hubungan tersebut menyangkut parameter molekulernya seperti misibilitas, diagram fasa, dan fenomena kritis. Campuran dua macam polidien menjadi sistim yang ideal untuk mempelajari parameter-parameter tersebut dan Hamburan Neutron Sudut Kecil (HNSK) merupakan tehnik yang ampuh untuk mempelajari hal di atas. Sebagai contoh ditinjau pengukuran misibilitas campuran dua polimer yaitu polibutadien proton dan polibutadien terdeuterasi, PBH dan PBD dengan HNSK yang dikerjakan Sinichi Sakurai
 
Tinjauan Teknik Isotop dan Radiasi Dalam Penyelidikan Potensi Sumber Daya Air
Aplikasi teknik isotop dalam penyelidikan sumber daya air baik sumber air permukaan,air tanah, maupun interaksi antara air permukaan dengan air tanah telah berkembang baik khususnya pada empat dekade terakhir. Teknologi ini dalam perannya sebagai salah satu metode penyelidikan dalam masalah hidrologi secara bersama-sama dengan teknik hidrologi lainnya maupun secara independent sudah terbukti dapat menjawab beberapa masalah yang berkaitan dengan pengelolaan sumber daya air. Di Indonesia, teknologi isotop ini telah banyak diaplikasikan diantaranya untuk: penelitian daerah imbuh cekungan air tanah, umur air tanah, penyelidikan pola dynamika dan neraca air waduk atau danau, interaksi antara air tanah dan air permukaan, debit air permukaan, penelitian interkoneksi antara sistem sungai bawah tanah di daerah karst, dan keselamatan bendungan. Dalam dua studi kasus yang dibahas dalam makalah ini yaitu penyelidikan asal usul air keluaran ditubuh bendungan Wlingi, Jawa Timur, dan lokasi bocoran di Bendungan Ngancar, Jawa Tengah, menunjukkan bahwa teknik isotop ini terbukti mampu menjawab masalah yang dihadapi secara efektitif dan efisien.
 
Aplikasi Hidrogel Poli-(akrilamida) Hasil Iradiasi Gamma untuk Adsorpsi Zat Warna Biru Metilen dalam Larutan
The aim of theresearch is to study the capacity of poly(acrylamide)(PAAM) hydrogel to adsorp a syntheticdye of methylene blue (MB). PAAM hydrogel was synthesized by varying gamma radiationdoses (20-40 kGy), and was then processed to dried powder (120 mesh) and used to adsorbMB dye from the aqueous solution. The batch adsorption experiment was carried out byvarying contact time (0-120 min.), initial concentration of MB (2-10 mg/L), adsorbent dose (0-120 mg), and the chemical changes of hydrogels were characterized by Fourier Transforminfra red (FTIR). The adsorption process of MB was examined with Langmuir and Freundlichisotherm models. The results showed that the hydrogel prepared at 20 kGy had higheradsorption capacities onto MB compare to the hydrogel at 30 and 40 kGy. With increasinghydrogel doses, the MB adsorbed increase. The results of Langmuir and Freundlich isothermexamination obtained the coefficient correlation (R2) of 0,9914 and 0,9964 with maximumadsorption capacity 1.67 mg/g at a solution pH of 6.5. Modification of PAAM hydrogels willbe potentially as dyes adsorbent.
KARAKTERISTIK SIFAT FISIKA - KIMIA HIDROGEL PVP-MADU-GLISERIN HASIL IRADIASI GAMMA
yang mengandung madu dengan konsentrasi 6% dan gliserin dengan konsentrasi 0 sampai dengan 5%. Telah dibuat sebanyak 9 macam formula hidrogel PVP dengan berbagai komposisi yang kemudian diiradiasi dengan sinar gamma pada dosis 25 kGy. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa penambahan madu dengan konsentrasi 6% dan gliserin hingga konsentrasi 5% menghasilkan hidrogel yang bersifat steril, transparan, berwarna agak kuning, dapat meningkatkan kelenturan/fleksibilitas, kenyamanan pemakaian pada kulit, dan daya tahan terhadap jamur. Hidrogel PVP-madu gliserin juga mempunyai kemampuan penguapan air pada suhu 37 oC yang lebih rendah serta dapat mengabsorbsi air lebih banyak dibandingkan dengan formula basic (tanpa penambahan madu dan gliserin).
 
THE RATE OF 45Ca UPTAKE BY TWO CORALS SPECIES AT WATERS OF PULAU BURUNG, BANGKA-BELITUNG PROVINCE
Coral reefs transplantation is the most technique used for coral reefs rehabilitation, at the present. Recently the 45Ca technique has been using for determining growth appearances in corals because of its ability to calculate the calcification process. For this reason, the study on the rate of 45Ca uptake by natural corals Acropora formosa and Acropora nobilis was carried out between June and December 2009 at the waters of Pulau Burung Island, Bangka-Belitung Province. The coral fragments of about 5 cm were harvested and put into a PVC container filled with 2 liters of fresh sea water, then incubated with 45CaCl2 solutions with an activity of 11.04 μCi/ml for 8 hour under fluorescent light. After the incubation, the “labeled” coral fragments were transplanted to where they have been taken from, and after such period will be re-harvested to determine their 45Ca uptake content. The results showed that the 45Ca technique was a reliable method to calculate the rate 45Ca uptake by coral fragments, which were studied in different depths and time periods of light exposure. There was a significant difference in the 45Ca uptake by the two different coral species. A. formosa up took more 45Ca than A. nobilis did. The highest 45Ca uptake was shown by A. formosa at 5 m. This was true for all the lengths of time to light exposure (1, 3, 5 and 7 hours). Different pattern of 45Ca uptake showed by A. nobilis at 10 m depth, where it could be recognized that after a drop of 45Ca the uptake increase continuously until the end of the light exposure (7 hours). The difference in 45Ca uptake between the coral fragments is assumed to be influence by light and the algae species living symbiotically with the coral species that will further influence the CO2-fixation. This process will influence the calcification process, which is expressed in 45Ca uptake. Further studies should be carried out to exactly gathered data of all the factors which could influence the calcification process by coral reefs, the factors could be CO2-fixation, flow of sedimentation, etc.
 
DOSIS IRADIASI OPTIMUM PADA PENGAWETAN SIMPLISIA KULIT BATANG MAHKOTA DEWA (Phaleria macrocarpa (Scheff) Boerl.) SEBAGAI ANTIKANKER
Percobaan ini bertujuan untuk mendapatkan dosis radiasi yang optimum untuk pengawetan dan sekaligus tidak menyebabkan kerusakan pada senyawa anti kanker dalam simplisia kulit batang mahkota dewa. Simplisia kulit batang mahkota dewa diiradiasi dengan 60Co pada beberapa variasi dosis 0; 5; 7,5 ; 10; 15; dan 20 kGy dengan laju dosis 10 kGy/jam. Simplisia yang telah diiradiasi dan kontrol masing-masing dimaserasi secara bertingkat menggunakan n-heksan dan etil asetat, kemudian ekstrak etil asetat difraksinasi baik yang diiradiasi maupun kontrol, dilanjutkan dengan fraksinasi terhadap ekstrak etil asetat menggunakan kolom kromatografi sehingga diperoleh masing-masing 8 fraksi. Uji cemaran mikroba terhadap simplisia kulit batang mahkota dewa yang telah diiradiasi dan kontrol menunjukkan bahwa iradiasi dosis ≥ 5 kGy pada simplisia dapat menghambat pertumbuhan serta membunuh semua bakteri, kapang dan khamir yang ada. Uji aktivitas sitotoksik terhadap ekstrak etil asetat dari simplisia yang telah diiradiasi menunjukkan bahwa iradiasi sampai dengan 20 kGy dapat menurunkan aktivitas sitotoksik, meskipun nilai IC50 masih di bawah 50 μg/ml, yang merupakan nilai batas aktivitas sitotoksik suatu ekstrak. Demikian juga halnya pada uji aktivitas sitotoksik terhadap fraksi 6 yang merupakan fraksi paling aktif dalam simplisia kulit batang mahkota dewa menunjukkan bahwa iradiasi terhadap simplisia sampai dengan dosis 20 kGy menurunkan aktivitas sitotoksik fraksi 6, namun nilai IC50 tersebut masih di bawah 20 μg/ml, yang merupakan batas aktivitas sitotoksik suatu fraksi. Analisis senyawa 2,4’—dihidroksi—4 metoksi benzofenon—2—O—β—D— glukopiranosida menggunakan kromatografi cair kinerja tinggi (KCKT) dalam fraksi 6 dari sampel yang diiradiasi menunjukkan bahwa semua konsentrasi senyawa tersebut dalam sampel yang diiradiasi menurun secara signifikan dibandingkan kontrol. Penurunan konsentrasi senyawa 2,4’—dihidroksi—4 metoksi benzofenon—2—O—β—D—glukopiranosida tidak sebanding dengan penurunan nilai aktivitas sitotoksik dalam ekstrak etil asetat maupun dalam fraksi 6, karena itu senyawa tersebut tidak dapat digunakan sebagai marka efek irradiasi terhadap penurunan aktivitas sitotoksik simplisia kulit batang mahkota dewa. Iradiasi pada dosis 5 sampai dengan 7,5 kGy merupakan pilihan terbaik untuk menurunkan angka cemaran bakteri dan kapang/khamir pada simplisia kulit batang mahkota dewa tanpa menurunkan aktivitas sitotoksik. Dosis iradiasi sampai dengan 20 kGy masih dapat digunakan,karena sampai dengan dosis tersebut penurunan aktivitas sitotoksik belummelampaui batas suatu ekstrak dan fraksi dinyatakan tidak aktif.
 
PENELITIAN BOCORAN BENDUNGAN SENGGURUH, MALANG, DENGAN TEKNIK PERUNUT RADIOISOTOP
Penelitian bocoran bendungan Sengguruh, Malang, telah dilakukan dengan teknik perunut radioisotop. Penelitian ini dilakukan dengan menaburkan perunut radioisotop 198Au sekitar 20-30 meter di bagian hulu daerah yang diteliti dan dibiarkan 10 jam untuk bercampur dan bergerak mengikuti dinamika air waduk. Selama tahapan ini seluruh pintu keluar airharus tertutup rapat, sehingga pergerakan air diharapkan hanya disebabkan oleh bocoran yang terjadi. Posisi pergerakan radioisotop 198Au dapat dijejak dengan menggunakan detektor. Gambar isokontour cacahan hasil dari penjejakan ini dapat memberikan pola pergerakan sekaligus lokasi bocoran. Dari hasil interpretasi gambar isokontour cacahan yang dilakukan sebanyak enam kali dengan selang 1 hari antara penjejakan menunjukkan adanya konsistensi pola pergerakan perunut 198Au yang mengerucut dan terkonsentrasi di suatu titik di sekitar pintu pelimpah waduk. Hal ini menunjukkan adanya bocoran disekitar pintu pelimpah waduk.
 
PENAMPILAN SIFAT AGRONOMI GALUR MUTAN SORGUM (Sorghum bicolor L. Moench) DI KABUPATEN BOGOR
Sorgum memiliki potensi yang besar untuk ditanam dan dikembangkan di Indonesia, khsususnya pada musim kemarau karena memiliki daya adaptasi yang luas dan lebih tahan kekeringan dibanding tanaman pangan lain. Penelitian pemuliaan tanaman sorgum dengan teknik mutasi induksi menggunakan sinar gamma dilakukan di Pusat Aplikasi Teknologi Isotop dan Radiasi (PATIR), Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN). Penelitian bertujuan memperbaiki sifat agronomi dan kualitas sorgum sebagai alternatif sumber pangan, pakan ternak dan bahan baku industri, sebanyak tujuh galur harapan yang telah dihasilkan pada penelitian ini. Pada musim kemarau 2005 dan 2006, galur mutan harapan tersebut dievaluasi penampilan sifat agronominya di tiga lokasi percobaan yaitu Muara, Cikemeuh dan Citayam, Bogor. Sebagai pembanding digunakan tanaman induk (varietas Durra) serta varietas Unggul Nasional (UPCA-S1 dan Mandau). Hasil penelitian menunjukkan bahwa galur mutan B-100 dan Zh-30 memiliki produksi biji kering tinggi (7.233 dan 7.224 t/ha) signifikan dibandingkan tiga varietas kontrol (4.914 - 5.442 t/ha).
 
UJI PRAKLINIS PEMBALUT LUKA HIDROGEL BERBASIS PVP STERIL IRADIASI MENGGUNAKAN TIKUS PUTIH: EVALUASI IRITASI DAN SENSITISASI
Telah dilakukan penelitian untuk menentukan efek toksik yaitu iritasi kulit primer dan sensitisasi pada punggung tikus putih (Rattus norvegicus) galur wistar terhadap pemakaian pembalut luka hidrogel berbasis polimer polivinil pirolidon (PVP) hasil iradiasi gamma. Pada percobaan ini dilakukan pengujian terhadap dua formula hidrogel yaitu Formula I: hidrogel-madu (FI) dan formula II: hidrogel-karaginan (FII). hidrogel formula I dibuat dari campuran polimer (PVP) dan madu serta bahan tambahan lainnya, sedangkan hidrogel formula II (FII) dibuat dari campuran PVP dan karaginan. Selanjutnya FI dan FII masing-masing diiradiasi dengan sinar gamma pada dosis 25 kGy. Pengujian iritasi kulit primer dilakukan menggunakan metode Draize yang telah dimodifikasi, sedangkan pengujian sensitisasi dilakukan dengan metode Buhler. Hasil pengamatan iritasi menunjukkan bahwa hidrogel FI dan FII tidak menyebabkan eritema (skor eritema = 0) dan edema (skor edema = 0). Demikian juga dari hasil sensitisasi, baik pada periode induksi, periode istirahat maupun periode akhir, dan kedua jenis hidrogel tidak memberikan kemerahan (skor eritema = 0), edema (skor edema = 0) maupun tidak terlihat adanya eschar
 
MEMPELAJARI INTERKONEKSI ANTARA SUMUR PANTAU BENDUNGAN SENGGURUH DENGAN PERUNUT TRITIUM
Penelitian interkoneksi antara sumur pantau sekitar bendungan Sengguruh telah dilakukan dengan metode perunut radio isotop tritium. Penelitian ini dilakukan dengan pengambilan contoh air dari 16 titik (13 berupa sumur pantau dan 3 berupa air keluaran) yang berada di sekitar bendungan beberapa saat setelah injeksi perunut tritium. Pengambilan contoh dilakukan secara berkala dengan frekuensi pengambilan lebih rapat pada awal penelitian dan kemudian direnggangkan sebagai fungsi waktu. Untuk setiap contoh yang diambil dimasukkan dalam botol contoh untuk kemudian dinalisis di laboratorium PATIR-BATAN di Jakarta. Hasil interpretasi analisis aktifitas tritium dari contoh yang dikumpulkan dari 16 titik pengambilan contoh menunjukkan adanya interkoneksi antara beberapa sumur pantau. Disamping itu juga, hasil interpretasi menunjukkan bahwa beberapa sumur pantau tidak berada pada akifer yang sama.