Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
Variasi Genetik Anggrek Alam Phalaenopsis amabilis (L.) Blume Hasil Iradiasi Sinar Gamma
Untuk mendapatkan kultivar baru anggrek alam Phalaenopsis amabilis (L.)Blume telah dilaksanakan iradiasi sinar gamma Co-60. Hasil iradiasi menunjukkan keragamanfenotip, sehingga perlu dilakukan penelitian secara biologi molekuler untuk mengetahuiapakah keragaman fenotip tersebut memang disebabkan karena adanya perbedaan genotippada tanaman-tanaman hasil iradiasi tersebut. Dalam penelitian ini dilakukan analisiskeragaman genetic antar individu dalam populasi tanaman hasil iradiasi dengan menggunakan teknik RAPD (Random Amplified Polymorphic DNA). Bahan tanaman berupa hasil iradiasi sinargamma 0, 15, 20, 25, 20+20 dan 40 Gray. Masing-masing diisolasi DNA genom dari tanamantersebut dan diamplifikasi dengan 22 primer yang ditentukan secara random. Hasil PCR(Polymease Chain Reaction) dianalisis dengan elektrophoresis dengan 1.5 % agarose. AnalisisDNA dilakukan dengan teknik RAPD menggunakan 8 primer terseleksi dari 22 primer yangdigunakan analisis polimorfis dan keragaman molekuler dianalisis dengan metode Nei’s genediversity dengan program GenAlEx 6.1. Hasil penelitian menunjukkan Keragaman geneticdapat dianalisis pada awal pertumbuhan tanaman anggrek bulan alam Phalaenopsis amabilis(L.) Blume hasil iradiasi sinar gamma Co-60 dengan menggunakan teknik RAPD dan dosisiradiasi 15 dan 40 Gy memberikan variabilitas genetik tinggi dibandingkan tanpa perlakuan
 
SINTESIS HIDROGEL SUPERABSORBEN POLI (AKRILAMIDA-KOKALIUM AKRILAT) DENGAN TEKNIK RADIASI DAN KARAKTERISASINYA
Satu seri hidrogel superabsorben telah disintesis menggunakan teknik radiasi gamma pada suhu ruangan dari akrilamida (AAm) dan kalium akrilat (KA). Larutan yang mengandung 15% kalium akrilat dengan beragam konsentrasi AAm (10-16%) diiradiasi dengan sinar gamma pada dosis 20-40 kGy. Hidrogel hasil iradiasi dikarakterisasi dengan fourier transform infra red spectroscopy (FTIR). Pengaruh dosis iradiasi dan konsentrasi AAm terhadap fraksi gel, kinetika swelling dan equilibium degree of swelling (EDS) dievaluasi. Hasil evaluasi menunjukkan bahwa pada dosis 20 kGy dan konsentrasi AAm 10 % diperoleh fraksi gel optimum 99,08 % dan swelling maksimum 420 g/g. Pengujian kemampuan adsorpsi hidrogel terhadap ion logam Cu 2+ dan ion logam Fe3+ juga dilakukan. Hidrogel poli (AAm-ko-KA) dapat mengadsorpsi 95 % ion logam Cu 2+ dalam waktu 10 menit dan hingga 55 % ion Fe3+ dalam waktu 80 menit. Hidrogel tersebut sangat potensial untuk dipakai sebagai soil conditioner dan absorben ion logam.
 
UJI DAYA ANTIMIKROBA DAN SIFAT FISIKO-KIMIA PEMBALUT LUKA HIDROGEL STERIL RADIASI YANG MENGANDUNG EKSTRAK BUAH MENGKUDU (Morinda citrifolia L.)
Telah dilakukan studi terhadap daya antimikroba dan sifat fisiko-kimia pembalut luka hidrogel yang mengandung ekstrak buah mengkudu. Pembalut luka hidrogel dibuat dengan meradiasi campuran polivinil pirolidon (PVP), Agar, polietilen glikol (PEG) dan ekstrak mengkudu dengan komposisi tertentu menggunakan sinar gamma pada dosis 25 kGy. Konsentrasi ekstrak mengkudu yang digunakan adalah 0 sampai 4 % b/b. Sebagai mikroba uji digunakan Pseudomonas aeruginosa, Staphylococcus aureus dan mikroba udara yang diisolasi dari ruang laboratorium P3TIR-BATAN. Parameter sifat fisiko-kimia yang diamati adalah kandungan air, daya penyerapan air, penetrasi mikroba pada hidrogel, penguapan air dan tegangan putus hidrogel. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa hidrogel dengan konsentrasi ekstrak mengkudu minimum 2 % b/b mampu membunuh bakteri Pseudomonas aeruginosa, Stahylococcus aureus. Hasil uji daya tembus mikroba terhadap membran hidrogel menunjukkan bahwa tidak satupun mikroba uji mampu menembus membran hidrogel yang mengandung ekstrak mengkudu. Hal ini menunjukkan bahwa membran pembalut luka hidrogel mempunyai sifat penghalang yang baik terhadap kontaminasi mikroba. Kadar air hidrogel yang mengandung ekstrak mengkudu 0, 1, 2, dan 4 % b/b masing-masing adalah 87 %, 85 % dan 82 %. Hidrogel yang mengandung ekstrak mengkudu 4 % b/b menunjukkan daya absorsi air tertinggi. Tegangan putus hidrogel bergantung pada konsentrasi ekstrak mengkudu yang terkandung pada hidrogel tersebut
TANGGAP KEBAL SAPI TERHADAP FASCIOLOSIS AKIBAT INOKULASI METASERKARIA Fasciola gigantica IRADIASI
Suatu percobaantelah dilakukan untuk mempelajari tanggap kebal sapi terhadap fasciolosis setelah mendapatkan inokulasi metaserkaria F. gigantica iradiasi. Digunakan empat kelompok sapi dengan perlakuan sebagai berikut: kelompok pertama (Vp) diinoklasi dengan metaserkaria infektif sebagai kontrol positif, kelompok ke dua (Vi) diinokulasi satu kali dengan metaserkaria iradiasi dan diberi tantangan metaserkaria infektif dengan interval waktu masing-masing 3 (tiga) minggu, kelompok ke tiga (Vii) diinokulasi dua kali dengan metaserkaria iradiasi dan diberi tantangan metaserkaria infektif dengan interval waktu masing-masing 3 (tiga) minggu, kelompok ke empat (Vn) tanpa inokulasi metaserkaria sebagai kontrol negatif. Dosis iradiasi yang digunakan adalah 45 Gy, sedangkan dosis inokulasi untuk semua kelompok adalah 700 metaserkaria F. gigantica per ekor sapi. Tanggap kebal yang terjadi diamati dengan melihat pertambahan bobot badan, jumlah sel darah merah (RBC), jumlah sel darah putih (WBC), kadar haemoglobin (Hb), persentase PCV (Packed cell volume), persentase jumlah sel eosinofil, uji serologis secara ELISA, kondisi patologis anatomi hati, dan perkembangan cacing hati. Rataan pertambahan bobot badan yang diperoleh dari setiap pengukuran adalah Vp = 6 kg, Vi = 9 kg, Vii = 9 kg dan Vn = 10 kg. Hati tidak mengalami perubahan baik untuk Vi, Vii maupun Vn, sedangkan Vp hatinya mengalami perubahan patologi yang serius. Cacing dewasa negatif pada Vi, Vii dan Vn, sedang Vp banyak ditemukan cacing dewasa. Hasil ini menunjukkan bahwa inokulasi metaserkaria F. gigantica memberikan perlindungan yang cukup baik terhadap tantangan yang diberikan pada sapi.
 
PELUANG MUTASI INDUKSI PADA UPAYA PEMECAHAN HAMBATAN PENINGKATAN PRODUKSI PADI
Pada World Rice Research Conference yang diselenggarakan di Tsukuba, Jepang, 4-7 November 2004, ramai dibicarakan mengenai upaya peningkatan produksi padi. Umumnya para pemulia sepakat bahwa potensi produksi varietas padi sampai sekarang belum berhasil ditingkatkan secara nyata sejak dilepasnya varietas IR8. Pembentukan varietas baru hanya mampu mempertahankan potensi IR8 dengan memperbaiki umur, dan daya adaptasinya terhadap stres lingkungan. Peningkatan produksi padi bagi para pemulia adalah peningkatan potensi produksi dari suatu varietas. Ada dua pendekatan yang meskipun sudah cukup lama dilaksanakan, tetapi masih tetap belum mencapai sasaran yang diinginkan. Kedua pendekatan tersebut adalah pembuatan padi hibrida dan pembuatan padi tipe baru (new plant ideotype). Kedua pendekatan ini merupakan pendekatan utama saat ini yang dipandang mampu untuk meningkatkan potensi produksi varietas padi. Ide pembuatan padi hibrida muncul terdorong oleh keberhasilan tanaman hibrida jagung, sorghum, dan bawang merah dalam meningkatkan produksi. Di antara beberapa negara yang melakukan penelitian tentang padi hibrida, ternyata Cina yang lebih dahulu berhasil membuat varietas padi hibrida, dan telah ditanam secara luas sampai sekarang. Keberhasilan Cina tersebut telah memicu negara lain, termasuk Indonesia, untuk membuat padi hibrida. Sampai saat ini, Indonesia sudah melepas 11 varietas padi hibrida. Ide pembuatan padi tipe baru muncul dari kajian terhadap koleksi varietas padi yang ada dewasa ini yang mempunyai berbagai sifat yang bila digabungkan idealnya akan menjadi padi tipe baru. Sayang kedua cara pendekatan yang secara teori bisa diujudkan, masih ada hambatan, sehingga sampai sekarang sasaran kegiatannya belum sepenuhnya dapat dicapai. Dalam tulisan ini dibahas seberapa besar peluang mutasi induksi dapat menyumbang pada keberhasilan kedua cara pendekatan tersebut.
 
PEMULIAAN MUTASI DALAM PENINGKATAN MANFAAT GALUR-GALUR TERSELEKSI ASAL PERSILANGAN ANTAR SUB-SPESIES PADI
Sempitnya keragaman genetik dari varietas-varietas padi yang sudah dilepas memberi kontribusi besar terhadap terjadinya pelandaian peningkatan potensi hasil padi pada beberapa dekade terakhir. Pada penelitian ini telah dilakukan pembuatan galur-galur pemuliaan (breeding lines) yang mempunyai keragaman genetik luas melalui persilangan antar sub-spesies Indika dengan Japonika. Dari 100.000 tanaman F5 hasil persilangan varietas IR36 (sub-sp. Indika) dengan varietas Koshihikari (sub-sp. Japonika), terpilh 568 tanaman, selanjutnya 568 tanaman tersebut dimurnikan sampai generasi F8 hingga menjadi 568 galur murni. Galur-galur murni ini dilengkapi dengan data beberapa sifat agronomi seperti tinggi tanaman, umur tanaman, panjang malai, jumlah gabah per malai, panjang gabah, lebar gabah, dan lain-lain sehingga akan memberi kemudahan dalam penggunaannya pada program pemuliaan tanaman padi selanjutnya. Diantara galur-galur itu, 7 galur terbaik langsung masuk uji daya hasil, 23 galur disilangkan sesamanya untuk mengumpuilkan sebanyak mungkin sifat yang diinginkan pada satu tanaman, dan 2 galur berpotensi untuk dikembangkan tetapi masih punya sedikit kelemahan, yaitu batang terlalu tinggi sehingga mudah rebah untuk galur KI 237, dan umur terlalu panjang untuk galur KI 432. Peningkatan manfaat galur KI 237 dan KI 432 dilakukan dengan memperbaiki kelemahannya melalui pemuliaan mutasi. Setelah benih kedua galur tersebut diiradiasi dengan sinar gamma dosis 200 Gy, diperoleh sejumlah mutan pendek dan semi-pendek, serta mutan genjah pada populasi M2. Mutan-mutan tersebut akan sangat berguna untuk memperbaiki kelemahan galur asalnya baik secara langsung maupun melalui pemuliaan silang balik (backcross breeding).
 
GAMMA RADIATION PROCESSING ON TEMULAWAK (Curcuma xanthorrhiza Roxb) AND OTHER ZINGIBERACEAE
Indonesia, as tropical country has high ambient temperature and humidity which make raw materials and herbal medicines vulnerable to damage. Gamma irradiation processing offers a wide range of application to reduce post harvest losses of medicinal plants and it can also be used to improve the hygienic of raw materials as well as herbal medicine products. The research activities on radiation processing of zingiberaceae in Indonesia in 1980s were intended for: sprouting inhibition of fresh rhizome, microbiological reduction and elimination of pathogenic microbes in raw materials and herbal medicines. The samples used in this experiments were temu-lawak (Curcuma xanthorrhiza Roxb), temu-hitam (Curcuma aeruginosa), turmeric (Curcuma domestica) and galanga (Kaemferia galanga). Physico-chemicals characteristics of samples were studied to support the application of radiation processing as a preservation technique of medicinal plants as raw material or its products. The results indicated that gamma irradiation at dose of 10 kGy was sufficient to reduce microbes by 2 — 4 log cycles which contaminated the dried rhizome. Sprouting of fresh rhizome of 4 samples in the study could be retarded at dose range of 0.06-0.08 kGy. The effect of gamma irradiation at the maximum dose of 0.25 kGy (sprouting inhibition dose) and maximum dose of 10 kGy (pasteurization dose) on physicochemicalcharacteristics of four samples were studied and reported in this paper.
 
PENGARUH PUPUK FOSFAT ALAM PADA TANAH MASAM TERHADAP PERTUMBUHAN JAGUNG SERTA SERAPAN N-ZA DAN N-UREA
Sebuah percobaan pot telah dilakukan di rumah kaca IPB Darmaga, bertujuan untuk mempelajari pengaruh pupuk fosfat alam (FA) pada tanah masam terhadap pertumbuhan tanaman jagung dan serapan N berasal dari ZA (N-Z) dan Urea (N-U). Jenis tanah yang digunakana adalah Typic Dystrudepts yang mempunyai sifat kimia dan fisik antara lain pH rendah dan kandungan pasir cukup tinggi. Tanah ini memiliki daya fiksasi terhadap unsur P yang tinggi sehingga kurang tersedia bagi tanaman. Oleh karena sifat tanah yang masam, maka ketika pupuk fosfat alam diaplikasikan ke tanah tersebut akan lebih terlarut. Interaksinya dengan pupuk yang lain berpengaruh pada serapan N oleh tanaman. Tanaman percobaan yang digunakan adalah jagung varietas Pioneer. Tiga taraf pemupukan fosfat alam yaitu setara dengan 0, 50, dan 100 kg P2O5/ha dikombinasikan dengan pupuk ZA dan Urea masing-masing tiga taraf yaitu setara dengan 0, 50, dan 100 kg N/ha. ZA dan Urea bertanda 15N dengan atom ekses masing-masing sebesar 9,984 % dan 9,754 % diaplikasikan pada percobaan ini untuk mempelajari serapan N oleh tanaman jagung. Panen dilakukan pada saat pertumbuhan vegetatif maksimum yaitu 40 hari setelah tanam. Parameter yang diamati antara lain pertumbuhan tanaman dinyatakan dalam bobot kering (g), persentase N-total, serapan N-total (mg N/tanaman) serta persentase dan serapan N-berasal dari ZA dan Urea (% N-Z/U, serapan N-Z/U dinyatakan dalam mg N/tanaman). Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa baik pemberian N-ZA (NZ) maupun N-urea (N-U) dan P (FA) secara sendiri-sendiri maupun gabungan dapat mendorong pertumbuhan tanaman (bobot kering, g/tanaman) dan serapan N-total (mg N/tanaman) serta % atom ekses 15N. Dalam hal ini pupuk P (FA) memberikan pengaruh yang lebih dominan dibandingkan dengan pupuk N. Terdapat interaksi yang nyata antara pemberian N (pupuk ZA/Urea) dan P (fosfat alam) sehingga untuk memberikan kedua jenis pupuk tersebut secara bersamaan perlu dipertimbangkan adanya pemberian yang seimbang takarannya agar dapat diperoleh serapan N yang paling optimal.
 
RESPON GALUR MUTAN PADI SAWAH BERUMUR GENJAH TERHADAP BERBAGAI TAKARAN PUPUK NPK DAN PENGAIRAN
Permasalahan yang dihadapi pada program penanaman 4 kali setahun (IP400) adalahterkurasnya unsur hara tanah dan besarnya air yang dibutuhkan oleh tanaman padi. Untuk mengatasi masalah ini perlu dihasilkan varietas genjah yang hemat pupuk dan air dengan cara menguji galur-galur mutan genjah tersebut pada berbagai cara pengairan dan takaran pupuk NPK. Penelitian terhadap beberapa galur mutan harapan dan tanaman kontrol dilakukan di lapangan. Analisis unsur hara dilaksanakan di laboratorium Pemupukan dan Nutrisi Tanaman PATIR-BATAN. Untuk mengukur kelembapan tanah dalam perlakuan pengairan digunakan Neutron Probe. Perlakuan yang dicobakan adalah tiga cara pengairan (digenangi terus menerus, diairi kemudian dibiarkan selama 10 hari, dan dibiarkan selama 15 hari) serta empat taraf pemupukan NPK (0, 25, 50, dan 100%). Hasil yang diperoleh adalah rata-rata produksi per hektar untuk galur/varietas yang diujicobakan berturutturut galur OBS 1705 (9,3597 t), varietas Cimelati (8,9631 t), galur OBS 1700 (8,9192t), varietas Diah Suci (8,7706), galur OBS 1713 (8,2797 t), galur OBS 1703 (8,2733 t), galur 1718 (8,2489 t), dan galur 1704 (8,0019 t). Secara statistik produksi rata-ratayang diperoleh pada berbagai tingkat pemupukan NPK dan cara pengairan paling tinggi adalah galur OBS 1705 dan ini tidak berbeda nyata dengan varietas Cimelati, tetapi berbeda nyata dengan OBS 1700, varietas Diah Suci, OBS 1713, OBS 1703, OBS 1718 dan OBS 1718. Galur OBS 1704 sangat tanggap terhadap pemupukan NPK ditunjukkan oleh adanya produksi gabah kering yang meningkat secara tajam pada pemberian pupuk NPK yang sangat rendah (25%). Selain itu galur OBS 1704 memberikan respon yang baik pada pengairan berselang 15 hari. Semua galur mutan yang diujikan secara statistik mempunyai serapan N-total dalam gabah yang lebih tinggi secara nyata daripada varietas induknya.
 
Analisis Stabilitas dan Adaptabilitas Beberapa Galur Padi Dataran Tinggi Hasil Mutasi Induksi
Fenotipe tanaman ditentukan oleh faktor genetik, faktor lingkungan dan interaksi genetik x lingkungan. Dalam penelitian ini, dilakukan uji daya hasil dua puluh genotipe padi, lima belas diantaranya merupakan galur mutan. Pengujian dilakukan di lima lingkungan dengan tiga ketinggian yang berbeda. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui interaksi genotipe x lingkungan (GxE) genotipe padi yang adaptif terhadap suhu rendah. Tiga metode analisis stabilitas digunakan untuk melihat stabilitas galur harapan padi sawah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat interaksi G x E yang signifikan untuk semua karakter agronomi yang diamati. Galur mutan OS-30-199 memiliki produksi tertinggi (4,69 ton / ha) berbeda signifikan dengan genotipe lain yang diuji dan varietas pembanding, Sarinah (3,42 ton / ha). Galur IPB117-F-20, RB-10-95, C3-10-171, OS-30-199, KK-10-249 dan CM-20-251 diklasifikasikan sebagai galur yang stabil dengan metode analisis stabilitas Finlay-Wilkinson, Eberhart - Russel dan Francis - Kannenberg. Genotipe RB-30-82, KN-30-186, Kuning, dan IPB97-F-13 memiliki adaptasi baik pada lingkungan yang optimal. Sedangkan genotipe KN-10-111, PK-30-131, Randah Batu Hampa dan Sarinah dapat beradaptasi pada lingkungan marjinal. Secara keseluruhan galur mutan memiliki produksi yang lebih tinggi dibandingkan varietas pembanding dan dapat beradaptasi pada lingkungan dengan cekaman suhu rendah. Perbedaan ketinggian tempat telah mempengaruhi hasil pada musim kemarau sementara itu, tidak berpengaruh terhadap produksi pada musim hujan di tiga ketinggian tempat yang diuji.