Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi
Not a member yet
    235 research outputs found

    Studi Penentuan Umur dan Laju Pertumbuhan Terumbu Karang terkait dengan Perubahan Iklim Ekstrim Menggunakan Sinar-X

    Get PDF
    Telah dilakukan penelitian untuk menentukan umur dan laju pertumbuhan terumbu karang dengan sinar-X dan kaitannya dengan kejadian El-nino serta perubahan iklim di daerah Kepulauan Seribu. Sampel karang massif jenis Porites Lutea diambil secara vertikal menggunakan alat bor pneumatic diameter 5 cm. Sampel terumbu karang dipreparasi dan disinari dengan sinar-X dan dianalisis dengan software Image-J untuk menentukan umur, arah dan laju pertumbuhan linier. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rata-rata laju pertumbuhan terumbu karang pada tiga lokasi penelitian tidak jauh berbeda, tetapi penurunan yang lebih besar terjadi di daerah yang lebih dekat dengan daratan Jakarta. Berdasarkan analisis laju pertumbuhan dapat diidentifikasi dua kejadian El-Nino terbesar yaitu tahun 1997-1998 dan 1982-1983. &nbsp

    Pengaruh Laju Dosis Iradiasi Gamma (60Co) terhadap Senyawa Antigizi Asam Fitat dan Antitripsin pada Kedelai (Glycine max L.).

    Get PDF
    Telah dilakukan penelitian terhadap pengaruh iradiasi gamma dengan berbagai laju dosis pada senyawa antigizi (asam fitat dan antitripsin) dan warna kedelai. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh laju dosis terhadap penurunan konsentrasi senyawa antigizi dan warna kedelai. Sampel diiradiasi dengan laju dosis 1,30; 3,17; 5,71 dan 8,82 kGy/jam dengan waktu iradiasi bervariasi dari 0,5 jam sampai 55 jam. Sampel dianalisis kadar asam fitat dan aktivitas antitripsin, serta nilai warna L a b kedelai. Hasil penelitian menunjukkan bahwa model kinetika sederhana dapat digunakan untuk menjelaskan perubahan konsentrasi senyawa antigizi dan warna kedelai selama proses radiasi. Data penelitian mengindikasikan bahwa proses radiasi pada laju dosis lebih tinggi (waktu lebih pendek) lebih efektif dalam menghancurkan senyawa antigizi dibandingkan dengan proses radiasi pada laju dosis lebih rendah (waktu lebih lama). Selanjutnya, proses radiasi pada laju dosis lebih tinggi (waktu lebih pendek) juga memiliki efek yang kurang merugikan pada warna biji dan tepung kedelai dibandingkan dengan proses radiasi dengan laju dosis lebih rendah (waktu lebih lama). Temuan ini menunjukkan bahwa proses radiasi pada dosis yang sama berpotensi dapat dioptimalkan dengan pemilihan kombinasi yang paling sesuai terhadap laju dosis dan waktu iradiasi &nbsp

    Studi Asal-Usul Air Lumpur Lapindo Periode 2007 — 2012 Menggunakan Isotop Alam

    Get PDF
    Telah dilakukan penelitian air tanah menggunakan isotop alam pada area semburan lumpur Lapindo Sidoarjo yang dilakukan dari tahun 2007 hingga 2012. Penelitian ini bertujuan mengetahui perkiraan asal-usul air pusat semburan berdasarkan pemantauan data isotop alam yang dilakukan hampir setiap tahun. Untuk analisis isotop 14C, pengambilan sampel yang berasal dari pusat semburan dilakukan dengan cara memisahkan lumpur dengan air selama semalam, sedangkan untuk analisis isotop 18O dan 2H sampel langsung diambil dari sekitar lokasi dan dimasukkan ke dalam botol 30 ml. Sebagai pembanding, dilakukan pula pengambilan dan analisis isotop terhadap sampel yang berasal dari luar pusat semburan, yaitu di sumur bor milik pabrik es di Porong yang berjarak sekitar 1 km dari pusat semburan. Hasil analisis isotop alam dan grafik hubungan δ2H terhadap δ18O dari tahun 2007 hingga 2012 menunjukkan bahwa air yang berasal dari pusat semburan merupakan air yang berinteraksi dengan magma atau bersifat magmatik dengan variasi isotop 18O dan 2H masing-masing bernilai antara 8,33 ‰ hingga 12,49 ‰ dan -8,9 ‰ hingga 1,8 ‰. Data isotop alam air tanah dan grafik hubungan δ2H terhadap δ18O yang berasal dari pabrik es masih menunjukkan air meteorik. Di samping itu, berdasarkan data isotop 18O dan 2H juga terlihat bahwa air tanah pabrik es memiliki kemiripan asal dengan air tanah daerah Pasuruan. Hasil analisis isotop 14C tahun 2007 diperoleh umur di atas 40.000 tahun yang menunjukkan bahwa air tersebut diduga merupakan air yang telah terjebak selama ribuan hingga jutaan tahun dan tergolong fosil air. Antara tahun 2008 hingga 2012, umur airnya bervariasi dari Modern hingga sekitar 20.000 tahun yang mengindikasikan adanya kontribusi dari air tanah atau air laut terhadap air yang keluar dari pusat semburan

    A SINGLE RECESSIVE MUTATED GENE (sd237-1) CONTROLING SEMI-DWARF PLANT STATURE OF RICE

    Get PDF
    Dwarfism is a valuable trait in crop breeding, because it increases lodging resistance and decreases damages due to wind and rain. During the course of this study, a semi-dwarf mutant was successfully induced through 200 Gy gamma ray irradiated KI 237 seeds. KI 237 is a pure line with high yield potency, developed through an Indica-Japonica cross of IR36 / Koshihikari. The selected semi-dwarf plant reached 60 — 62 % of plant height of original plant KI 237 at the mature stage. The length of internodes, panicle, and seed were also compared between these two plants. The retardation of the 1st (uppermost) internodes was 24 %, moreover, the retardation of panicle and seed length were only 10 % and 2 %, respectively. The elongation pattern of the internodes in this mutant was almost the same as sd1 (Dee-geo-woo-gen), the original parent of the first release modern rice variety, but their performances were different. Based on the segregation analysis in M2 and M3 generation it was concluded that this mutant was controlled by a single recessive mutated gene. This gene was designated as sd237-1. This mutant should be useful as a genetic resource for the improvement of KI237 line through back-cross breeding as well as be developed further in breeding program directly to be a new high yielding mutant variety.     &nbsp

    PERTUMBUHAN KHAMIR PADA TAPIOKA IRADIASI

    Get PDF
      Tapioka dapat digunakan sebagai medium pertumbuhan isolat khamir karena mengandung karbohidrat tinggi. Sterilisasi dengan iradiasi sinar gamma menghasilkan senyawa senyawa yang lebih sederhana dan bersifat toksik. Tujuan dari percobaan ini adalah untuk mengetahui pengaruh dosis iradiasi terhadap sifat fisik dan kimia serta pertumbuhan isolat khamir R1 dan R2 serta isolat mutan R110 dan R210. Dosis yang digunakan adalah 10, 20, dan 30 kGy. Hasil percobaan menunjukkan bahwa terjadi perubahan warna yang semakin gelap dan granula pati semakin kecil sebanding dengan meningkatnya dosis, sedangkan secara kimia terjadi penurunan pH dan kelarutan serta peningkatan kadar glukosa. Tapioka iradiasi tidak mempengaruhi pertumbuhan khamir dengan tidak terbentuknya zona hambat, sedangkan pertumbuhan isolat khamir dalam medium cair tapioka 1 % menunjukkan hasil yang berfluktuasi dan umumnya memiliki dua pola pertumbuhan   &nbsp

    REPRODUCTIVE DISORDER STUDIES USING RADIOIMMUNOASSAY (RIA) PROGESTERONE ON DAIRY CATTLE

    Get PDF
    Two intensive systems of husbandry practices, Garut West Java and Yogyakarta Central Java, were chosen for this study. Both areas have been voluntarily made into a pilot farm for the application of RIA progesterone to improve reproductive performance. Five dairy cattle from Garut West Java, which according to Health Extension and Artificial Insemination Technicians anamneses and according to farmers who own the animal, were showing reproductive failure and were selected from those cattle for the study. Other fifteen dairy cattle from Yogyakarta area, with anamneses of having low reproductive performance, were also selected for this study. Milk progesterone sample were collected twice a week for five consecutive weeks period of time to follow the biological reproductive status of every animal, while samples from dairy cattle at Yogyakarta were collected three times post Artificial Insemination (AI) services, as according to Artificial Insemination Database Application (AIDA) procedure, to monitor the failure of AI, success rate of AI, and ovarian activities of the cattle. Result of the study in Garut shows that RIA progesterone indicates that animals need special treatments and most AI failed due to lack of historical information of the dairy cows. RIA progesterone leads to a suggestion that it can be use as a tool to monitor the reproductive disorder, as the recommendation made for those cows to anticipate reproductive disorder overcome the problems. Similar result found in Yogyakarta, which almost 50% of the observed animals failed to AI due to miss-estrus detection. Furthermore, from the RIA for milk progesterone, information of the reproductive disorder figures can be drawn and early suggestion could be made to anticipate losses. Overall, beside the reproductive historical record, RIA progesterone is important tool to be applied in the animal husbandry system in Indonesia as to improve the herd productivity and has an economical value to reduce operational cost at waiting period for feeding animal up to INS Rp 224,000 — 336,000 per head animal.     &nbsp

    DISTRIBUTION OF NATURAL AND ANTHROPOGENIC RADIONUCLIDES IN SURFICIAL SEDIMENTS OF JAKARTA

    Get PDF
      The concentration and distribution of natural and anthropogenic radionuclide in surficial sediments of Jakarta Bay were investigated with the aim of evaluating its level and environmental radioactivity. Sediments were sampled in 30 locations using Smith-McIntyre Grab sampler. Sediments were dried, homogenized and sealed for 1 month for equilibration and for the detection, analysis and data acquisition, a high purity germanium (HPGe) detector coupled with a high resolution multichannel analyzer (MCA) was used. Additionally, the grain sizes were analyzed by means of hydrometer. The result shows that the specific activity of 238U, 226Ra, 232Th, 40K and 137Cs range from 6.71±1.01 Bq/kg to 28.63±4.29 Bq/kg, 6.46±0.97 Bq/kg to 28.21±4.23 Bq/kg, 16.62±2.49 Bq/kg to 40.46±6.07 Bq/kg, 115.80±12.16 Bq/kg to 358.69±30.49 Bq/kg, and 0.03±0.01 Bq/kg to 1.99±0.34 Bq/kg with the average value are 12.83±2.11 Bq/kg, 12.03±1.98 Bq/kg, 26.55±4.36 Bq/kg, 235.55±19.37 Bq/kg, and 0.77±0.13 Bq/g, respectively. It shows that the activity of radionuclides in the research area are in natural level and the variation may be influenced by the grain size distribution in the sample. The absorbed dose rate and radium equivalent of gamma radiation was estimated to be 32.06±7.72 nanoGrey/h and 68.14±11.20 Bq/kg, respectively.   &nbsp

    FLUKS DEPOSISI Zn DAN Cr DI MUARA CISADANE BERDASARKAN PROFIL 210Pb UNSUPPORTED DAN SIKLUS BANJIR 5 TAHUNAN

    Get PDF
    Pengukuran profil 210Pb unsupported dan logam berat Zn, Cr pada sedimen di Muara Cisadane telah dilakukan pada tahun 2002. Kedua sedimen core diambil masing-masing di Muara Tanjung Burung dan Muara Tiang Sampan. Profil 210Pb unsupported dapat digunakan untuk menghitung laju pengendapan dan untuk menghitung fluks deposisi Zn dan Cr berdasarkan siklus waktu 5 tahunan. Laju pengendapan sedimen kering di Muara Tanjung Burung adalah 4,142 gr/cm2/th, 2,518 gr/cm2/th dan 1,27 gr/cm2/th masing-masing untuk periode 1997- 2002, 1992-1997 dan 1987-1992. Laju pengendapan pada Muara Tiang Sampan sebesar 3,626 gr/cm2/th, 2,8 gr/cm2/th dan 1,41 gr/cm2/th masing-masing untuk periode 1997-2002, 1992-1997 dan 1987-1992. Fluks deposisi Zn : Cr di Muara Tanjung Burung adalah 4,867 gr/m2/th : 0,9 gr/m2/th, 3,515 gr/m2/th : 0,69 gr/m2/th dan 1,363 gr/m2/th : 0,2 gr/m2/th; masing-masing untuk periode 1997- 2002, 1992-1997 dan 1987-1992. Fluks deposisi Zn:Cr di Muara Tiang Sampan adalah 3,368 gr/m2/th : 0,703 gr/m2/th, 2,814 gr/m2/th : 0,574 gr/m2/th dan 1,593 gr/m2/th : 0,303 gr/m2/th; masing-masing untuk periode 1997- 2002, 1992-1997 dan 1987-1992. &nbsp

    PENGEMBANGAN TEKNOLOGI NUKLIR UNTUK MENINGKATKAN KEAMANAN DAN DAYA SIMPAN BAHAN PANGAN

    Get PDF
    Ketersediaan pangan yang aman, bergizi, dan tidak mengalami perubahan cita rasa saat dikonsumsi merupakan kebutuhan dasar manusia yang harus selalu tersedia dengan jumlah yang cukup dan dalam jangka panjang untuk dapat menjamin kelangsungan hidupnya. Radiasi pengion, apabila diterapkan secara tepat dan benar sesuai dengan ketentuan standar (Good Manufacturing Practices (GMP) dan Good Radiation Practices (GRP) dapat memenuhi kebutuhan tersebut, karena teknologi radiasi lebih efektif, efisien dan praktis dibandingkan dengan teknik konvensional. Meskipun demikian aplikasi teknik nuklir untuk tujuan keamanan dan pengawetan komoditi pangan memerlukan regulasi dan legalisasi dari pemerintah, sehingga dapat dikonsumsi oleh masyarakat luas. Komersialisasi bahan pangan iradiasi di Indonesia antara lain diatur dengan PERMENKES No. 826/MENKES /PER/XII/1987, No.152/MENKES/SK/II/1995 dan Undang Undang Pangan RI No.7/1996. Selain Indonesia, beberapa negara di kawasan Asia Pasifik seperti India, Thailand dan Vietnam juga telah mengimplementasikan teknologi nuklir pada komoditi pangan secara komersial untuk tujuan karantina, sanitasi dan sterilisasi baik untuk konsumsi lokal maupun untuk ekspor ke Eropa, Amerika dan Australia. Sosialisasi dan disimenasi pemanfaatan teknologi nuklir atau teknologi radiasi kepada publik yang tidak berkesinambungan dan kurang efektif dapat menimbulkan kesalah-pahaman tentang makna teknologi itu sendiri. &nbsp

    Sintesis Kopolimer Ikatan Silang Gelatin Sisik Ikan-Kitosan Menggunakan Iradiasi Gamma

    Get PDF
    Gelatin merupakan salah satu komponen yang penting dari limbah sisik ikan. Pada saat ini perhatian terhadap manfaat dan cara pengolahan gelatin sisik ikan meningkat. Penelitian ini dilakukan guna meningkatkan sifat fisik gelatin hasil olah sisik ikan yang selanjutnya diharapkan dapat meningkatkan pemanfaatannya. Gelatin (G) mudah terdegradasi atau larut dalam air pada suhu kamar, sehingga untuk memperpanjang umurnya perlu dimodifikasi, misalnya dengan kitosan. Kitosan (Ks) bersifat biodegradabel dan anti bakteri. Oleh karena itu, dalam penelitian ini larutan gelatin dicampurkan dengan larutan kitosan pada variasi perbandingan (100/0, 75/25, 50/50, 25/75, 0/100), dan dicetak pada suhu kamar menjadi film komposit, kemudian diuji efektifitas radiasi gamma pada dosis 10-40 kGy untuk pengikatan silang kedua polimer tersebut. Perubahan kimia film G-Ks diukur menggunakan Fourier Transform Infra Red (FTIR), fraksi gel ditentukan secara gravimetri, dan sifak mekanik tegangan putus dan perpanjangan putus diukur menggunakan Universal Testing Machine. Pada kondisi optimum (dosis 30 kGy dan konsentrasi kitosan 75%), fraksi gel, tegangan putus dan perpanjangan putus fmeningkat sehingga menyebabkan film komposit  lebih kuat dibandingkan film gelatin. Tetapi, sifat fisik tersebut menurun pada dosis 40 kGy. Spektrum FTIR menunjukkan terjadinya ikatan silang pada film G-Ks. Disimpulkan bahwa film G-Ks yang dibuat menggunakan iradiasi gamma dapat meningkatkan sifat mekaniknya dibandingkan film gelatin

    224

    full texts

    235

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇