Jurnal Ilmiah Aplikasi Isotop dan Radiasi
Not a member yet
235 research outputs found
Sort by
Pengembangan Suplemen Pakan Urea Molases Multi-nutrien Blok (UMMB) Menggunakan Sumber Protein Tepung Kedelai dan Gliricidia sepium (Gs) Untuk Ternak Ruminansia
Penelitian ini bertujuan untuk mengembangkan formula suplemen pakan UMMB dengan sumber protein Gs untuk ternak ruminansia. Pengembangan dilakukan melalui uji skala laboratorium dan lapangan. Kegiatan skala laboratorium meliputi evaluasi biologis suplemen pakan tersebut dengan menggunakan teknik isotop P-32 untuk mengukur rasio bakteri dan protozoa serta laju pertumbuhan sel mikroba dalam cairan rumen secara in vitro. Suplemen pakan yang dikembangkan ada dua yaitu UMMB-tepung kedelai (UMMB-TK) dan UMMB Gliricidia sepium/Gs (UMMB-Gs). Untuk UMMB-TK diproduksi di pesantren Al Hikmah dan Famor Satwa. Tepung Gs yang dikombinasikan UMMB-bungkil kedelai (UMMB-BK) diuji cobakan pada kambing peranakan etawa (PE), kerbau dan sapi potong pada skala laboratorium secara in vitro untuk mengukur laju pertumbuhan sel mikroba dalam cairan rumen dengan isotop P-32. Tahapan kegiatan berikutnya adalah pengujian UMMB-Gs terhadap produksi dan kadar lemak susu dari sapi perah.Rancangan statistik yang digunakan masing-masing t test, 3x3 bujur sangkar latin dan rancangan acak kelompok. Hasil dari pengukuran rasio bakteri dan protozoa, masing-masing adalah UMMB-BK = 14 : 1, UMMB-TK1 = 19 : 1 dan UMMB-TK2 = 17 : 1 . Hasil ini lebih baik jika dibandingkan dengan ternak yang hanya diberi rumput saja yaitu 1 : 4. Hasil penelitian di laboratorium menunjukkan bahwa UMMB-BK yang dikombinasikan dengan Gs mampu meningkatkan laju pertumbuhan sel mikroba dalam cairan rumen kambing, kerbau dan sapi masing-masing sebesar 102,01%; 205,7% dan 73,7% jika dibanding dengan kontrol. Hasil pengujian UMMB-Gs pada sapi perah juga mampu meningkatkan produksi susu dan kadar lemaknya. Hal ini dapat memberikan harapan bahwa teknik nuklir mampu berperan serta dalam penemuan formula pakan baru dan secara tidak langsung berdampak positif terhadap penciptaan lapangan kerja yang berhubungan dengan pengrajin suplemen pakan UMMB berbasis bahan lokal
Pengaruh Iradiasi Gamma Pada Toksisitas Akut Oral Ekstrak Etanol Jahe Merah (Zingiber officinale)
Jahe merah banyak digunakan dalam pengobatan tradisional untuk mengobati berbagai jenis penyakit. Evaluasi sifat toksik jahe merah sangat penting untuk mengetahui dampak negatif (yang membahayakan) terhadap kesehatan pasien. Oleh karena itu, sebelum dikonsumsi oleh manusia, perlu dilakukan penelitian toksisitas akut oral jahe merah pada mencit. Rimpang tipis jahe merah dalam kemasan plastik poli etilen diiradiasi dengan sinar gamma pada dosis 10 kGy dengan laju dosis 10 kGy/jam. Ekstrak etanol dari jahe merah yang tidak diiradiasi maupun yang diiradiasi lalu diuji toksisitas akut oral menggunakan metode OECD Guideline test. Hasil yang diperoleh menunjukkan bahwa sepanjang 14 hari perlakuan terdapat perubahan pola perilaku, gejala klinis dan berat badan mencit kontrol dan perlakuan kelompok. Pemeriksaan histopatologi sampai dosis kurang dari 1250 mg/kg berat badan (bb) menunjukkan normal dan tidak ada efek samping yang signifikan diamati pada ginjal, jantung, hati, paru-paru dan limpa. Kerusakan vena central dan berkurangnya jumlah sel hepatosit pada mencit jantan terjadi pada kelompok dosis uji > 2000 mg/kg bb, sedangkan pada mencit betina terjadi pada kelompok uji dosis > 1250 mg/kg bb. Berdasarkan histologi ginjal mencit jantan dan betina pada dosis > 1250 mg/kg bb terjadi kerusakan pada kapsul bowman, glomerulus, pembuluh proksimal dan pembuluh distal. LD50 ekstrak etanol jahe merah yang tidak diiradiasi adalah 1887 mg/kg bb dan yang diiradiasi 10 kGy adalah 2639 mg/kg bb mencit dan dapat dikategorikan toksik sedang. Pemberian oral ekstrak etanol jahe merah dosis 1250 mg/kb bb pada mencit menunjukkan efek pada organ mencit. Dari hasil yang diperoleh dapat disimpulkan bahwa pemberian oral ekstrak etanol jahe merah yang tidak diradiasi (0 kGy) maupun yang diiradiasi 10 kGy dapat dinyatakan aman pada pemberian dosis kurang dari 1250 mg/kg bb
Karakterisasi Sifat Fisik dan Mekanik Hidrogel Metilselulosa Hasil Sintesis Menggunakan Iradiasi Berkas Elektron
Telah dilakukan sintesis hidrogel metilselulosa dari 5 tipe berat molekul menggunakan radiasi berkas elektron pada dosis 10 kGy hingga 100 kGy. Film hidrogel dengan ukuran 16cm × 16cm × 1,2mm dilakukan pengamatan terhadap sifat fisik dan mekanik yang meliputi; persen pengembangan, fraksi gel, kekuatan tarik dan perpanjangan putus. Pengukuran dengan viscometer ubbelohde, diperoleh berat molekul (Mv) metilselulosa berurutan dari rendah ke tinggi adalah sebagai SM-4<SM-100<SM-400<SM-4000<SM-8000. Pasca iradiasi, hidrogel metilselulosa SM-4 tidak terbentuk pada semua konsentrasi, karena semua gel larut dalam air. Fraksi-fraksi gel hidrogel SM-100, SM-400, SM-4000 dan SM-8000 naik dengan naiknya dosis iradiasi, dan turun pada konsentrasi yang meningkat. Persen pengembangan hidrogel SM-100, SM-400, SM-4000 dan SM-8000 turun dengan naiknya dosis, dan konsentrasi. Mv yang relatif tinggi pada; SM-400, SM-4000 dan SM-8000 menyebabkan tegangan putus cenderung naik dengan naiknya dosis khususnya pada konsentrasi 20% dan 30%. Perpanjangan putus hidrogel SM-400, SM-4000 dan SM-8000 meningkat dengan naiknya konsentrasi, dan turun seiring naiknya dosis radiasi. Penurunan sifat-sifat kekuatan tarik dan perpanjangan putus hidrogel, diduga kuat terjadi degradasi karena efek dosis radiasi di atas 40 kGy. Hidrogel dengan penampilan yang baik diperoleh dari metilselulosa dengan Mv menengah; SM-100, SM-400, dan SM-4000, konsentrasi 15% -20% dan dosis radiasi pada 20 kGy
Pengaruh Iradiasi Gamma dan Ethyl Methan Sulfonate Terhadap Pembentukan Embriosomatik Kedelai (Glycine max L.)
Kedelai merupakan salah satu sumber protein dan lemak nabati yang penting. Perubahan iklim global berpengaruh terhadap produktivitas kedelai, sehingga diperlukan kultivar-kultivar baru yang mempunyai sifat unggul tertentu agar produktivitas kedelai dapat ditingkatkan. Teknik in vitro dengan mutasi dan keragaman somaklonal merupakan meoda alternatif untuk memperoleh varietas baru apabila material genetik sebagai bahan seleksi tidak tersedia. Induksi mutasi dapat dilakukan pada populasi sel embriogenik dengan menggunakan iradiasi sinar gamma atau senyawa kimia, antara lain Ethyl Methan Sulfonate (EMS). Kedua metoda tersebut telah banyak digunakan untuk meningkatkan keragaman genetik tanaman dan telah dihasilkan galur-galur baru dengan sifat unggul. Salah satu masalah penting yang harus dikuasai dalam penerapan teknologi tersebut adalah meregenerasikan sel somatik hasil mutasi dan keragaman somaklonal agar dapat ditumbuhkan menjadi planlet (tunas in vitro). Beberapa faktor yang mempengaruhi regenerasi tanaman adalah jenis bahan tanaman, genotipe, komposisi media, dll. Perlakuan keragaman somaklonal dan mutasi yang diberikan dapat menyebabkan kerusakan pada sel sehingga diperlukan modifikasi pada metoda regenerasi yang sudah diketahui agar populasi sel yang hidup setelah perlakuan mutasi dapat tumbuh menjadi tunas-tunas mutan. Tujuan penelitian adalah untuk mendapatkan planlet mutan hasil perlakuan mutasi dengan iradiasi gamma dan EMS. Varietas kedelai yang digunakan adalah Wilis, Burangrang, Baluran dan aksesi No. B 3592. Eksplan yang digunakan adalah embriozigotik muda berasal dari polong yang berumur 12-20 hari setelah penyerbukan. Induksi kalus embriogenik dilakukan dengan menggunakan media MS + vitamin Gamborg (B5) dengan penambahan 2,4-D 20 mg/l dan sukrosa 3%. Kalus yang didapatkan diberi perlakuan mutasi menggunakan sinar gamma pada dosis 400 rad atau direndam dalam larutan EMS (0.1 %, 0.3 %, dan 0.5 %) selama 1, 2 dan 3 jam. Selanjutnya kalus dipindahkan pada media untuk menginduksi pembentukan benih somatik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pembentukan kalus dipengaruhi oleh genotipe tanaman. Pembentukan kalus tertinggi dihasilkan dari Baluran (93.40%) dan terendah Burangrang (75.90%). Perlakuan iradiasi gamma menurunkan pembentukan struktur torpedo, dimana struktur torpedo tertinggi diperoleh dari Burangrang (25.4-26.3/eksplan). Aksesi B 3592 mempunyai kemampuan membentuk struktur torpedo paling tinggi pada semua perlakuan EMS yang digunakan. Perendaman kalus dalam larutan EMS 0.5% selama 1, 2, dan 3 jam menurunkan regenerasinya membentuk struktur torpedo pada semua genotipe. Perlakuan EMS menyebabkan kerusakan sel yang lebih besar dibandingkan dengan iradiasi sinar gamma, ditunjukkan dengan persentase pembentukan struktur torpedo setelah perlakuan EMS (0-15/eksplan) lebih kecil dibanding dengan iradiasi sinar gamma (10.3-26.3/eksplan)
Karakteristik Degradasi dari Biomaterial Poli- (kaprolakton-kitosan-hidroksiapatit) Iradiasi Dalam Larutan Simulated Body Fluid
Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari karakteristik degradasi komposit poli-(kaprolakton-kitosan-hidroksiapatit) dalam larutan simulated body fluid (SBF). Membran komposit dibuat dengan metode pencampuran dan pengadukan sampai homogen menggunakan pelarut asam asetat kemudian dicetak menjadi membran tipis. Iradiasi dengan mesin berkas elektron pada dosis 0 kGy s/d 30 kGy dilakukan untuk melihat pengaruhnya terhadap karakteristik membran. Pengujian absorpsi dalam SBF dilakukan dengan variasi waktu perendaman, dan uji degradasi dilakukan selama 0 s/d 12 minggu, sedangkan identifikasi gugus fungsi menggunakan Fourier Transform Infra Red Spectroscopy (FTIR), serta analisis struktur mikro permukaan membran komposit sebelum dan setelah perendaman dalam SBF dilakukan dengan Scanning Electron Microscopy (SEM). Hasil evaluasi menunjukkan bahwa absorbsi membran dalam SBF menurun karena proses iradiasi yang menyebabkan gugus NH2 yang berkontribusi pada sifat hidrofilisitas pada kitosan mengalami pemutusan. Absorbsi maksimal pada komposit III (58,2% ± 2,22) disebabkan karena komposit III memiliki konsentrasi polikaprolakton paling kecil dan kitosan paling besar, sehingga sifat hidrofobisitasnya menurun. Uji degradasi menunjukkan bahwa degradasi optimal dicapai oleh komposit III (1,3% ± 0,98) setelah 8 minggu perendaman. Hasil uji spektrum FTIR menunjukkan gabungan puncak yang khas dari bahan penyusunnya dan terbentuk spektrum spesifik untuk CO3 2- dari apatit terkarbonasi akibat perendaman dalam SBF. Hal tersebut diperkuat dari hasil uji struktur mikro dengan SEM yang memperlihatkan adanya lapisan apatit atau endapan kalsium fosfat, berbentuk seperti jarum kecil merata pada seluruh permukaan membran. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa komposit poli-(kaprolakton-kitosan-hidroksiapatit) potensial digunakan sebagai biomaterial.
 
Aplikasi Iradiasi Gamma untuk Pemuliaan Mutasi Anggrek Bulan (Phalaenopsis amabilis Bl.) Umur Genjah.
Anggrek bulan merupakan puspa pesona yang populer di Indonesia. PATIR-BATAN menerapkan teknik mutasi sebagai alternatif terhadap metode persilangan untuk memperkaya keragaman genetik dalam rangka memperoleh varietas tanaman hias yang unggul. Penelitian ini dilakukan sejak bulan Januari 2011. Materi tanaman berupa plantlet kultur jaringan Phalaenopsis amabilis siap tanam dari Lab. Konservasi Tumbuhan, Kebun Raya Bogor, dan diiradiasi dengan sinar gamma masing-masing dengan dosis 0, 5, 10, 15, 20, dan 25 Gy. Plantlet diaklimatisasi pada media pakis cacah steril selama 3 minggu, kemudian dipindahkan ke pot individu dan dipelihara di rumah kaca Kebun Percobaan Pasar Jumat, Jakarta Selatan. Pada usia 13 bulan (Februari 2012) didapati satu tanaman dengan dosis iradiasi 25 Gy yang menunjukkan tanda-tanda pembungaan. Sekitar lima minggu kemudian, kuntum bunga mulai mekar. Warna dan bentuk bunga hampir sama dengan bunga tanaman induk dengan diameter bunga 8 cm. Mengingat tanaman anggrek bulan umumnya membutuhkan waktu lebih dari dua tahun sejak masa aklimatisasi hingga memasuki masa generatif, dan khususnya genus Phalaenopsis lebih rajin berbunga di dataran tinggi, maka temuan mutan anggrek bulan berumur genjah ini merupakan indikasi yang menjanjikan. Observasi lebih lanjut masih diperlukan terhadap kestabilan karakter mutan pada generasi berikutnya.
 
Kerusakan Morfologis dan Histologis Organ Reproduksi Lalat Buah Bactrocera carambolae (Drew & Hancock) (Diptera; Tephritidae) Jantan yang Dimandulkan dengan Iradiasi Gamma
Telah diketahui bahwa iradiasi gamma dosis 90 Gy pada kepompong lalat buah Bactrocera carambolae (Drew & Hancock) dapat menyebabkan kemandulan pada lalat jantan dewasa, namun belum banyak diinformasikan penyebab terjadinya kemandulan. Untuk mengetahui hal tersebut, telah diteliti perubahan morfologisdan histologis yang terjadi pada alat reproduksi jantan (testis) lalat mandul sebagai akibat iradiasi gamma. Kepompong umur 9 hari diradiasi dengan sinar gamma 90 Gy dan lalat jantan umur 7 hari dan 14 hari yang muncul dari kepompong dibedah, untuk diisolasi testisnya. Testis dari lalat iradiasi dan lalat normal kemudian diamati morfologinya, dan diukur panjang dan lebarnya di bawah mikroskup, masing-masing dengan 10 kali ulangan. Irisan testis kedua umur lalat tersebut diamati struktur histologinya dibawah mikroskup perbesaran 400 x.. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terjadi kerusakan pada jaringan alat reproduksi akibat iradiasi, sehingga pertumbuhannya terganggu terlihat dari ukuran testis lalat iradiasi mengecil sementara testis lalat normal membesar. Pada umur 7 hari panjang dan lebar testis lalat iradiasi masing-masing lebih kecil 25,9% dan 30,2%, dibandingkan testis lalat normal,sementara pada umur 14 hari perbedaannya menurun lebih besar, yaitu 39.20% dan 44.42%. Kemandulan pada lalat jantan iradiasi terjadi karena adanya kerusakan pada sel-sel germinal yang menyebabkan proses spermatogenesis terganggu. Selain ukuran testis yang lebih kecil, pengamatan menunjukkan bahwa pada preparat testis iradiasi ditemukan adanya sel-sel germinal yang mati. Perubahan morfologi dan ukuran testis ini juga merupakan ciri yang membedakan antara lalat normal dan lalat mandul iradiasi.
 
KARAKTERISTIKA KOPOLIMER LATEKS KARET ALAM-METIL METAKRILAT DALAM MINYAK LUMAS DASAR MINERAL
Kopolimer radiasi lateks karet alam-metil metakrilat (LKA-MMA) dilarutkan dalam xilena, kemudian dilarutkan dalam 4 macam minyak lumas dasar pada konsentrasi 0,25%; 1%; 5% dan 10%. Larutan campuran tersebut kemudian ditentukan viskositas kinematik, indeks viskositas, densitas, kadar abu, kadar logam, titik nyala, shear stability dan angka basa totalnya. Hasil yang diperoleh menunjukkan indeks viskositas contoh minyak lumas dasar meningkat dengan penambahan larutan kopolimer LKA-MMA. Semakin besar kopolimer yang ditambahkan pada minyak lumas dasar, indeks viskositasnya semakin meningkat. Minyak lumas dasar HVI 60 dan campuran HVI 60 : HVI 650 memberikan indeks viskositas optimal. Hasil uji shear stability menunjukan bahwa minyak lumas mengalami penurunan viskositas kinematik sebesar 6,5% setelah diberikan perlakuan selama 60 menit.
 
PENYELIDIKAN AIR TANAH DI KABUPTelah dilakukan survei untuk mengetahui proses salinisasi air tanah di kota Pasuruan dengan metode isotop alam dan hidrokimia. Penelitian dilakukan dengan mengkaji korelasi parameter isATEN PASURUAN DENGAN TEKNIK ISOTOP ALAM
Telah dilakukan survei untuk mengetahui proses salinisasi air tanah di kota Pasuruan dengan metode isotop alam dan hidrokimia. Penelitian dilakukan dengan mengkaji korelasi parameter isotop stabil dan unsur kimia utama dalam contoh air hujan, air tanah dangkal, air tanah-dalam dan air laut. Pengkajian ini dilakukan berdasarkan kaidah-kaidah sifat isotop stabil oksigen-18 dan deuterium dalam fenomena siklus hidrologi serta berdasarkan terjadinya perubahan kimia yang menyertai mekanisme proses hidrogeologi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa peningkatan kadar klorida yang menjadi indikator air payau di wilayah pantai kota Pasuruan bukan akibat dari intrusi air laut tetapi disebabkan oleh pelarutan aerosol garam yang meresap bersama air hujan lokal sebagai air tanah dangkal. Sedang air payau pada akuifer tertekan (air tanah-dalam) disebabkan terjadinya pelindian formasi akuifer yang berupa batuan sedimen pantai.
 
PENANDAAN SERANGGA HAMA DENGAN RADIOISOTOP UNTUK STUDI POLA PEMENCARAN, MIGRASI DAN ESTIMASI KEPADATAN POPULASI
Untuk mempelajari perilaku serangga di dalam habitatnya seperti pemencaran, migrasi dan jarak terbang diperlukan serangga bertanda agar dapat dilakukan perunutan pergerakannya. Salah satu metoda yang mempunyai prospek baik untuk penandaan internal adalah dengan penggunaan radioisotop. Radioisotop yang digunakan untuk penandaan serangga antara lain 3H, 32P, 14Ca, 45K, 35S, 59Fe, 60Co, dan 14C. Penandaan serangga dengan isotop lebih menguntungkan dibandingkan dengan zat warna karena isotop yang digunakan dapat terikat pada jaringan, misalnya 3H, 32P, 14Ca, K, 131I. Sebagai bahan pertimbangan dalam pemilihan jenis radioisotop perlu diperhatikan waktu berlangsungnya percobaan. Hal ini perlu dilakukan karena telah ditemukan beberapa jenis radioisotop ternyata toksik pada serangga walaupun mempunyai waktu paruh yang memadai yaitu 45Ca, 59Fe, 86Rb, 110Ag, 115Cd, dan 131J. Syarat yang harus dipenuhi untuk penandaan serangga dengan radioisotop ialah aman terhadap serangga, aman terhadap lingkungan, mudah diterapkan, materi mudah didapat dan diterima oleh masyarakat. Radioisotop 32P dengan dosis yang tepat memenuhi syarat untuk digunakan dalam penelitian ini karena mempunyai waktu paruh yang relatif pendek, yaitu 14,3 hari. Penandaan dengan isotop yang lain ialah penandaan serangga dengan isotop stabil seperti misalnya rubidium yang dapat dianalisis dengan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA) atau dapat pula diubah menjadi bentuk radioisotop agar dapat dideteksi. Bila yang digunakan adalah isotop stabil maka contoh hasil percobaan dapat disimpan dalam waktu yang lama, sehingga analisis sampel dapat dilakukan menurut waktu yang dikehendaki. Unsur stabil dapat diubah menjadi radioisotop melalui penembakan dengan netron di dalam reaktor nuklir atau akselerator. Selanjutnya unsur yang telah mengalami aktivasi tersebut dapat diidentifikasi dengan pencacah sintilasi padat, dengan sistem analisis salur banyak atau dapat pula dideteksi dengan autoradiogra