Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
697 research outputs found
Sort by
CLASSIFICATION OF THREE GENERA OF CORAL FISH USING CONVOLUTIONAL NEURAL NETWORK
Ikan karang adalah salah satu organisme penting dalam kajian ekosistem terumbu karang, perlu dilakukan proses identifikasi untuk memahami pola, struktur dan distribusi keanekaragaman ikan karang. Selain itu, ikan karang memiliki jumlah yang sangat banyak dan hampir mirip satu sama lain. Oleh karena itu, untuk mempercepat proses identifikasi ikan dapat dilakukan secara komputerisasi. Salah satu teknik komputerisasi yang dapat dilakukan adalah pengolahan citra digital. Penelitian ini bertujuan untuk mengklasifikasikan citra genus Ikan (Epinephelus spp., Halichoeres spp., dan Lutjanus spp.) ekonomis penting. Data citra diperoleh dari situs https://www.kaggle.com/. Metode klasifikasi citra yang digunakan adalah Convolutional Neural Network (CNN) yang terdiri dari dua tahapan. Tahapan yang pertama adalah melakukan pelatihan dengan metode backpropagation, dan tahapan yang kedua adalah melakukan klasifikasi citra menggunakan feedforward. Hasil dari kombinasi dua metode tersebut diperoleh accuracy sebesar 85,31%. Selain itu, model yang dibangun cukup bagus karena selisih nilai rataan antara precision dan sensitivity tidak terlalu besar, precision sebesar 89,92% dan sensitivity sebesar 86,49%. Hasil analisis dan evaluasi yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa metode klasifikasi CNN dapat digunakan dengan baik dalam mengelompokkan citra Ikan berdasarkan genus.
Reef fish are one of the essential organisms in studying coral reef ecosystems, and it is necessary to carry out an identification process to understand the pattern, structure and distribution of reef fish diversity. In addition, reef fish have a vast number and are almost similar to each other. Therefore, to speed up the process of fish identification can be done computerized. One of the automated techniques that can be done is digital image processing. This study aims to classify the image of the genus Fish (Epinephelus spp., Halichoeres spp., and Lutjanus spp.) as economically significant. Image data was obtained from the site https://www.kaggle.com/. The image classification method used is Convolutional Neural Network (CNN) which consists of two stages. The first stage is training with the backpropagation method, and the second stage is image classification using feedforward—the results of the combination of the two methods obtained an accuracy of 85,31%. In addition, the model built is quite good because the average value between precision and sensitivity is not too significant; precision is 89,92%, and sensitivity is 86,49%. Based on the analysis and evaluation that has been done, it can be concluded that the CNN classification method can be appropriately used in classifying fish images by genus
SCREENING OF ENDOPHYTIC FUNGI FROM Thallasia hemprichii AS A ANTIMICROBIAL PRODUCTION
Resistensi antibiotik merupakan masalah kesehatan yang dialami oleh makhluk hidup, disebabkan oleh penggunaan antibiotik jangka panjang. Thallasia hemprichii memiliki kandungan senyawa metabolit yang berpotensi pada bidang farmasi. Banyak penelitian menunjukkan bahwa lamun memiliki aktivitas senyawa bioaktif alami sebagai antifouling, antibakteri, dan antikapang. Tujuan penelitian ini yaitu untuk mengetahui jumlah isolat, dan karakteristik morfologi kapang endofit serta mengetahui aktivitas antagonis yang dihasilkannya terhadap bakteri uji Staphylococcus aureus dan Escherichia coli. Penelitian dimulai bulan April-September 2021 menggunakan perairan Desa Malang Rapat. Jenis penelitian yang dilakukan yaitu deskriptif. Terdapat 4 tahap penelitian yaitu pengambilan dan preparasi akar serta daun lamun sebagai inang kapang endofit, isolasi kapang endofit lamun dengan metode isolasi tanam langsung, pengamatan morfologi kapang, dan uji antagonis kapang menggunakan metode uji antagonis oleh kapang terhadap bakteri uji. Hasil penelitian mendapatkan 3 isolat dari sampel akar dan 7 isolat asal daun, dengan isolat yang memiliki hifa septum dimiliki oleh D32.1, D32.2, A37, A35, A21, dan D45. Karakteristik pigmentasi putih dimiliki oleh isolat D32.2, D31, D21, D22, D18, dan A37. Uji antagonis terhadap bakteri E. coli dan S. aureus menunjukkan bahwa isolat D18 memiliki diameter zona hambat yang paling besar yaitu 27,7 mm, dan isolat D32.1 menunjukkan diameter zona hambat yang paling kecil yaitu 13,1 mm terhadap bakteri E. coli. Isolat D22 terhadap bakteri S. aureus memperlihatkan diameter zona hambat sebesar 5,9 mm.Antibiotic resistance is a health problem experienced by living things, caused by long-term use of antibiotics. Thallasia hemprichii contains metabolites that have potential in the pharmaceutical field. Many studies show that seagrass has the activity of natural bioactive compounds as antifouling, antibacterial, and anti-fungal. The purpose of this study was to determine the number of isolates, morphological characteristics of endophytic fungi and to determine the antagonistic activity they produce against Staphylococcus aureus and Escherichia coli test bacteria. The study began on April-September 2021 using samples from the waters of Malang Rapat Village. The type of research conducted is descriptive. There were 4 stages of research, namely taking and preparation of roots and leaves of seagrass as hosts for endophytic fungi, isolation of endophytic fungi using direct planting method, observation of fungal morphology, and fungal antagonist test using the method of antagonist by fungi against test bacteria. The results obtained 3 isolates from root samples and 7 isolates from leaves, with isolates with septal hyphae belonging to D32.1, D32.2, A37, A35, A21, and D45. The characteristics of white pigmentation were obtained by isolates D32.2, D31, D21, D22, D18, and A37. Antagonism test against E. coli and S. aureus showed that isolate D18 had the largest diameter of the inhibition zone, which was 27.7 mm, and isolate D32.1 showed the smallest diameter of the inhibition zone, which was 13.1 mm against E. coli bacteria. D22 isolate against S. aureus bacteria showed an inhibition zone diameter of 5.9 mm
DISTRIBUTION OF SALINITY AND TEMPERATURE IN MUSI ESTUARY: USING VERTICAL SALINITY GRADIENT FOR ESTUARY CLASSIFICATION ZONE : English
Muara Musi merupakan muara sungai Telang dan Musi yang berbatasan langsung dengan Selat Bangka. Pada saat pasang (surut) kita melihat distribusi salinitas meningkat (menurun) yang diketahui melalui distribusi vertikal menggunakan CTD (Conductivity Temperature Depth). Diagram TS (Temperature-Salinity) digunakan untuk melihat karakteristik massa air di daerah penelitian. Metode DIVA (Data-Interpolating Variational Analysis) digunakan untuk interpolasi dan visualisasi data dari data vertikal dan spasial temperatur, salinitas dan densitas. Klasifikasi zona muara Musi diidentifikasi berdasarkan nilai sebaran salinitas yang memperhitungkan pertukaran salinitas yang bersirkulasi pada saat pasang dan surut. Densitas massa air secara signifikan dipengaruhi oleh salinitas yang terbukti bergradasi. Sementara distribusi suhu tidak berubah secara signifikan dengan kedalaman, distribusi spasial menunjukkan bahwa suhu di estuari lebih rendah daripada di daerah hulu dan laut. Distribusi spasial salinitas menunjukkan bahwa salinitas tinggi memasuki muara menuju sungai lebih jauh pada saat pasang dari pada saat surut. Distribusi salinitas berkisar antara 0,5–30 psu dan suhu antara 29–33 ℃ dari bagian horizontal dan vertikal. Pola sebaran salinitas di muara sungai Musi diidentifikasi, terdiri dari tiga zona yang mewakili kondisi salinitas di daerah penelitian, yaitu zona Polyhaline, Mesohaline, dan Olygohaline.Musi estuary is the mouth of the Telang and Musi rivers directly adjacent to the Bangka Strait. During flood (ebb) we see the distribution of salinity increases (decreases) which is known through the vertical distribution using CTD. The TS diagram is used to see the water mass characteristics the study area. Data-Interpolating Variational Analysis (DIVA) method is used to interpolate and visualize data from vertical and spatial temperature, salinity and density data. The classification of the Musi estuary zone is identified based on the value of the distribution of salinity, which considers the exchange of circulating salinity at flood and ebb. The density of the water mass is significantly affected by the proven graded salinity. While the temperature distribution does not change significantly with depth, the spatial distribution indicates that the temperature in the estuary is lower than in the upstream and ocean areas. The spatial distribution of salinity indicates that high salinity enters the estuary towards the river further at flood than at ebb. Salinity distribution ranges from 0.5 to 30 psu and temperatures between 29 and 33 oC from horizontal and vertical sections. The pattern of salinity distribution in the Musi river estuary was identified, consisting of three zones representing salinity conditions in the study area, namely the Polyhaline, Mesohaline, and Olygohaline zones
IDENTIFIKASI POTENSI ARUS RABAK DI PERAIRAN PANTAI SEKUNYIT BENGKULU SELATAN
Arus rabak (rip current) merupakan salah satu penyebab terjadinya kecelakaan pantai, yaitu terseretnya pengunjung ke lepas pantai. Tujuan penelitian ini adalah menentukan karakteristik hidro-oseanografi pembangkit arus rabak, dan identifikasi zona potensi arus rabak di Pantai Sekunyit Bengkulu Selatan. Metode dalam penelitian ini adalah pengukuran secara in situ parameter hidro-oseanografi pembangkit arus rabak dan memetakan zona potensi arus rabak melalui visualisasi foto udara menggunakan drone. Hasil penelitian menunjukan bahwa di Pantai Sekunyit zona potensi sering terjadinya arus rabak berada di sebelah Tenggara, yaitu pada musim barat maupun musim timur. Zona ini memiliki tipe gelombang pecah yaitu tipe plunging, dengan morfologi pantai curam dengan kemiringan 19°. Ketinggian gelombang dan kecepatan arus yang lebih besar dibandingkan zona lain, yaitu rata-rata ketinggian gelombang 0,38 m dan kecepatan arus 0,88 m/s. Oleh sebab itu diharapkan pengunjung dapat lebih berhati-hati jika berada di zona tenggara Pantai Sekunyit, sehingga dapat mengurangi terjadinya kecelakaan pantai.Rip current is one of the causes of beach accidents, dragging visitors off the coast. The purpose of this research was to determine the hydro-oceanographic characteristics of rip current generator and identification the potential zone of rip current at Sekunyit Beach, south Bengkulu., The method in this research is in situ measurement of the hydro-oceanographic parameters of the rip current generators and the zone mapping of the potential return currents through the visualization of aerial photos using of drone. Based on the results, it was shown that the potential zone of frequent occurrence of rip current is southeast of the Sekunyit Beach in the west monsoon and the east monsoon. The surf type is plunging type, a steep beach morphology with a slope of 19°. The wave height and current speed are greater than other area with an average wave height of 0.38 m and current speed of 0.88 m/s. Therefore, visitors are expected to be more careful if in the southeast zone of Sekunyit Beach, so as to reduce the occurrence of beach accidents
MOLLUSCA DIVERSITY IN PAMEUNGPEUK BEACH, SOUTH OF GARUT, WEST JAVA
Moluska memiliki cara unik dalam mempertahankan dirinya pada daerah intertidal, selain itu moluska di daerah ini memiliki keanekaragaman yang berbeda dibandingkan zona lainnya. Oleh karena itu, perlu kajian mendalam terkait keanekaragaman dan cara adaptasi moluska pada daerah tersebut. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui jenis dan keanekaragaman moluska, cara adaptasi moluska pada gelombang tinggi, potensi ekonomis moluska, serta menentukan klaster komunitas moluska di Pantai Pamengpeuk, Jawa Barat. Penelitian ini berlokasi di Pantai Bubujung, Pantai Karang Paranje, Pantai Santolo Indah, Pantai Karang Papak, Pantai Taman Manalusu, Pantai Cicalobak, Pantai Karang Wangi, Pantai Ranca Buaya 2 dan Pantai Ranca Buaya 1 dengan menggunakan metode purposive sampling. Hasil pengamatan ditemukan 37 spesies moluska yang terdiri dari 33 jenis gastropoda dan 4 jenis bivalvia. Moluska di daerah ini beradaptasi dengan cara bersembunyi pada bebatuan dan mencari daerah yang lembab untuk mempertahankan kadar air di dalam tubuhnya. Famili dengan jumlah individu dan penyebaran tertinggi adalah Nodilittorina, Trochoides, dan Littorinidae. Indeks keanekaragaman (H\u27) moluska tertinggi yaitu Pantai Ranca Buaya 1 dengan indeks keanekaragaman 2,8, sedangkan indeks kemerataan tertinggi (e) yaitu Pantai Parenje (0,92). Moluska yang berpotensi ekonomis untuk dikembangkan di Pantai Pamengpeuk, Garut Selatan antara lain Planaxis sulcata, Nerita polita, Nerita picea, Cerithium eburneum, dan Turbo setosus. Pantai Pemengpeuk memiliki tingkat keanekaragaman yang tinggi sehingga berpotensi untuk dikembangkan dalam rangka meningkatkan kelestarian dan perekonomian masyarakat di wilayah tersebut.Mollusk in intertidal zone have a unique way for self-defend and have different spesies biodiversity than other zones. So we need to learn in-depth of the diversity and ways of their adaptation. The aim of this study were to determine the spesies and diversity of mollusk, to observe the adaptation and the economic benefits of mollusk, and determine of mollusk cluster community. This research were located in Pameungpeuk, Garut, West Java included Bubujung, Karang Paranje, Santolo Indah, Karang Papak, Taman Manalusu, Cicalobak, Karang Wangi, Ranca Buaya 2 and Ranca Buaya 1 Beach. The observation found 37 species of mollusks consist of 33 species gastropoda and 4 species bivalvia. Mollusks adapt by hiding in rocks and looking for moist areas to maintain water levels in their bodies. Species with a high number of individuals and distribution were Nodilittorina, Trochoides, and Littorinidae. The highest diversity index (H’) of mollusk is found in Ranca Buaya 1 (H’ 2.8) and the higest index of evenness (e) is found in Parenje beach (0.92). The mollusks that have potential economic to be developed in Pamengpeuk beach included Planaxis sulcata, Nerita polita, Nerita picea, Cerithium eburneum, and Turbo setosus. Pemengpeuk Beach has a high level of diversity and distribution of mollusks so that it potential to be developed in order to improve the sustainability and economy of the people in that region
ESTIMASI STOK KARBON MANGROVE REHABILITASI DI PULAU HARAPAN DAN KELAPA, TAMAN NASIONAL KEPULAUAN SERIBU, JAKARTA
Restorasi ekosistem karbon biru, seperti mangrove, semakin banyak digunakan untuk mitigasi perubahan iklim dengan menghilangkan dan menyerap karbon di atmosfer. Rehabilitasi penanaman mangrove yang dilakukan oleh Balai Taman Nasional Kepulauan Seribu (TNKpS) sejak tahun 2005 di Kepulauan Seribu merupakan salah satu upaya penurunan emisi secara nasional. Namun, pertumbuhan mangrove dan persebaran mangrove cenderung tidak optimal dikarenakan kondisi lingkungan yang tidak mendukung. Hal ini tentu berdampak pada jumlah stok karbon yang tersimpan dalam mangrove. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk 1) mengestimasi potensi stok karbon pada mangrove rehabilitasi baik tegakan dan substrat, dan 2) menghitung valuasi ekonomi mangrove sebagai penyimpan karbon. Perhitungan stok karbon mangrove pada tegakan dan bawah permukaan menggunakan metode non destruktif (rumus alometrik), sedangkan perhitungan karbon tanah dilakukan menggunakan perhitungan kadar C-Organik dengan metode Walkley & Black. Cadangan total karbon (aboveground, belowground, dan karbon tanah) pada mangrove Rhizophora stylosa adalah 634,54 tonC/ha dan serapan CO2 2328,75 tCO2/ha dengan nilai ekonomi jasa lingkungan dari mangrove rehabilitasi di Pulau Harapan dan Kelapa mencapai Rp375.202.308 untuk pasar bebas dan Rp980.528.697 untuk pasar wajib (Clean Development Mechanism). Hasil penelitian ini dapat dijadikan sebagai informasi awal perumusan kebijakan pengelolaan ekosistem mangrove sebagai penyimpan karbon agar ekosistem mangrove dapat berkelanjutan.Restoration of blue carbon ecosystems, such as mangroves, is increasingly being used as a management for climate change mitigation by removing and sequestering carbon in the atmosphere. Mangrove rehabilitation activity held by the National Park since 2005, is one of the efforts to reduce green house gas (GHG) emissions. However, the growth and distribution of mangroves are non-optimal due to unfavorable environmental conditions. This certainly has an impact on the amount of carbon stock stored in mangroves. Therefore, this research aims 1) to estimate the potential carbon stock in restored mangroves on above ground (ABG), below ground (BGB), and soil carbon, and 2) to estimate the economic valuation of mangrove services as carbon storage. We calculate the carbon stock in ABG and BGB mangrove using a non-destructive method (allometric formula), while the calculation of soil carbon is carried out by analyzing the C-Organic content using mangrove rehabilitation (ABG+BGB+soil carbon) is 634.54 tonC/ha and CO2 sequestration is 2328.75 tCO2/ha. The economic value of mangrove rehabilitation for environmental services in storing carbon reached 375,202,308 IDR for the voluntary market and 980,528,697 IDR for the regulatory compliance (Clean Development Mechanism). The results can be used as initial information on mangrove ecosystem management policies, specifically as carbon storage for sustainable mangrove rehabilitation
QUANTIFICATION OF SEABED ACOUSTIC BACKSCATTER STRENGTH USING SCIENTIFIC SINGLE BEAM ECHOSOUNDER
Teknologi hidroakustik mampu melakukan kuantifikasi terhadap substrat dasar laut dan dapat memperkirakan secara akurat dan mendekati real time terhadap karakter akustik yang dimiliki oleh masing-masing jenis substrat. Tujuan dari penelitian ini adalah melakukan kuantifikasi hambur balik akustik dasar laut dalam upaya pengembangan teknologi informasi kelautan. Akusisi data menggunakan instrumen akustik Single Beam Echosounder Simrad EK-15 pada frekuensi 200 kHz. Pengolahan dan analisis data meliputi hambur balik akustik, tipe sedimen, komputasi acoustics bottom backscattering substrat dasar laut dan analisis spasial acoustic backscattering dasar laut di perairan Pulau Lancang. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa nilai hambur balik akustik substrat dasar laut berdasarkan nilai SS dan ukuran partikel di setiap stasiun sampling yaitu tipe substrat pasir -21,08 dB sampai -24,55 dB, pasir halus -25,67 dB sampai -26,67 dB, dan pasir halus sekali berkisar antara -27,42 dB sampai -28,03 dB. Berdasarkan rentang nilai hambur balik akustik yang didapatkan dari stasiun sampling diperoleh klasifikasi jenis substrat dasar laut di sepanjang lajur survei yaitu pasir kasar sekali, pasir kasar, pasir sedang, pasir halus, pasir halus sekali, lanau kasar, lanau sedang, lanau halus, lempung kasar dan lempung halus pada rentang nilai -47,85 dB sampai -17,07 dB. Substrat pasir paling banyak ditemukan di lokasi penelitian dengan komposisi yang lebih besar dibandingkan dengan lanau dan lempung. Nilai hambur balik akustik sangat dipengaruhi oleh ukuran partikel, bentuk morfologi dan relief dasar laut.Hydroacoustic technology was able to quantify the seabed substrate and can be estimated accurately and near real time on the acoustic characters of each substrate. The purpose of research is to quantify the acoustic backscatters of the seabed substrate in an effort to devolop marine information technology. Data acquisition was using the Simrad EK-15 Single Beam Echosounder acoustic instrument set at a frequency of 200 kHz. Data processing and analysis includes acoustic backscatter strength, sediment type, acoustic bottom backscattering computation of seabed substrate and spatial analysis of seabed acoustic backscatter in the Lancang Island waters. The results of this study indicate that the acoustic backscatter values of the seabed substrate based on the SS value and particle size at each sampling station are -21.08 to -24.55 dB for type of substrate sands, fine sands are -25.67 to -26.67 dB, and very fine sands ranging from -27.42 to -28.03 dB. Based on the range of acoustic backscatter values obtained from the sampling stations, type of seabed substrates along the survey line are very coarse sand, coarse sand, medium sand, fine sand, very fine sand, coarse silt, medium silt, fine silt, coarse clay and fine clay in the range values of -47.85 to -17.07 dB. Sand substrates were dominant over silt and cly at the study site. Acoustic backscatter strength is strongly influenced by particle size, morphology and seabed relief
MONITORING KAWASAN EKOWISATA MANGROVE MENGGUNAKAN NDVI, NDWI, DAN CMRI DI PULAU DODOLA, KABUPATEN PULAU MOROTAI, INDONESIA
Pembangunan infrastruktur pariwisata menyebabkan alih fungsi lahan atau konversi lahan dari ruang terbuka hijau menjadi kawasan ekonomi pariwisata. Pemanfaatan kawasan mangrove sebagai daya tarik ekowisata perlu dimonitoring secara berkala agar pembangunan sarana dan prasarana tidak mengancam keberlanjutan vegetasi mangrove. Artikel ini bertujuan mengidentifikasi sebaran mangrove menggunakan model normalized difference vegetation index (NDVI), normalized difference water index (NDWI), combined mangrove recognize index (CMRI) di Kabupaten Pulau Morotai, Provinsi Maluku Utara, Indonesia. Perspektif ekowisata berkelanjutan digunakan untuk mendiskusikan konteks sosio-kultural masyarakat Morotai khususnya masyarakat Pulau Kolorai. Penelitian ini mengadopsi metode campuran. Pengolahan data terbagi menjadi dua tahap yakni: tahap pertama, pemetaan sebaran mangrove Pulau Dodola menggunakan citra satelit Landsat 8 Operational Land Imager (OLI) dari tahun 2013-2021 berdasarkan kalkulasi NDVI, NDWI, dan CMRI; tahap kedua, trianggulasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pada tahun 2017, terjadi penurunan nilai NDVI dan CMRI di Zona 1, Zona, 2, dan Zona 3 sebagai kawasan ekowisata mangrove Pulau Dodola.. Hal ini menunjukkan adanya ancaman ekosistem mangrove apabila pembangunan infrastruktur menyebabkan penurunan nilai indeks vegetasi secara signifikan dari tahun ke tahun. Dengan demikian, diperlukan program pengendalian terhadap program pembangunan infrastruktur dengan melibatkan masyarakat lokal dalam pemeliharaan ekosistem mangrove.The development of tourism infrastructure causes land-use change or land conversion from green open spaces into tourism economic areas. The utilization of mangrove areas as an ecotourism attraction needs to be monitored regularly so that facilities and infrastructure development do not threaten the sustainability of mangrove vegetation. This article aims to identify the distribution of mangroves using the Normalized Difference Vegetation Index (NDVI), Normalized Difference Water Index (NDWI), Combined Mangrove Recognize Index (CMRI) model in Morotai Island Regency, North Maluku Province, Indonesia. The perspective of sustainable ecotourism is used to discuss the socio-cultural context of the Morotai community, especially the people of Kolorai Island. This study adopted a mixed-method. Data processing is divided into two stages: the first stage, mapping the distribution of mangroves on Dodola Island using Landsat 8 Operational Land Imager (OLI) satellite imagery from 2013-2021 based on NDVI, NDWI, and CMRI calculations; the second stage, triangulation. The results of this study indicate that in 2017, there was a decrease in the value of NDVI and CMRI in Zone 1, Zone 2, and Zone 3 as a mangrove ecotourism area on Dodola Island. It indicates a threat to the mangrove ecosystem if infrastructure development causes a decrease in the value of the vegetation index significantly significant from year to year. Thus, it is necessary to control infrastructure development programs by involving local communities in the maintenance of mangrove ecosystems
DIVERSITY AND ABUNDANCE OF GREEN SEAWEED Caulerpa (Chlorophyta) ACROSS INDONESIAN COASTAL WATERS WITH DIFFERENT NUTRIENT LEVELS: Bintan Island, Jepara, and Osi Island
Rumput laut hijau Caulerpa dapat ditemukan di setiap daerah pesisir Indonesia, dan merupakan salah satu rumput laut dengan potensi besar untuk dikembangkan di masa depan. Parameter kimia, terutama konsentrasi nutrisi di kolom perairan (nitrat, nitrit, fosfat, dan amonia), memainkan peran penting dalam distribusi dan keanekaragaman rumput laut. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi kelimpahan, indeks ekologi, dan hubungan antara konsentrasi nutrisi di kolom perairan dengan keanekaragaman Caulerpa dari tiga lokasi yang berbeda (Pulau Bintan, Jepara, dan Pulau Osi). Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat korelasi antara kadar nutrisi di perairan dengan kelimpahan dan keanekaragaman Caulerpa di tiga lokasi. Kadar nitrat, amonia, dan rasio DIN:P berbeda secara signifikan berbeda di semua lokasi. Namun demikian, kadar nitrit dan fosfat tidak berbeda secara signifikan di ketiga lokasi. Kadar nitrat dan fosfat tertinggi ditemukan di Pulau Osi. Kadar nitrit dan amonia mencirikan kondisi yang ada di Pulau Bintan. Kadar nitrat merupakan karakteristik utama yang membedakan nutrisi perairan di semua lokasi. Spesies Caulerpa yang ditemukan pada penelitian ini adalah Caulerpa racemosa, Caulerpa lentilifera, Caulerpa serrulata, Caulerpa sertularoides, dan Caulerpa cupresoides. Faktor pertumbuhan rumput laut hijau Caulerpa lentilifera dipengaruhi oleh kadar nitrat dan fosfat. Di sisi lain, kadar amonia menentukan pertumbuhan Caulerpa racemosa dan Caulerpa serrulata. Keragaman dan kelimpahan Caulerpa cupresoides dipengaruhi oleh kadar nitrit. Hasil analisis korespondensi kanonik menunjukkan bahwa parameter nitrat, fosfat, dan amonia menjadi parameter dominan yang mempengaruhi distribusi Caulerpa di tiga lokasi.The green seaweed Caulerpa can be found in almost every coastal area of Indonesia, and it is one of the seaweeds with immense potential to be developed in the future. The chemical factors, especially water nutrients (nitrate, nitrite, phosphate, and ammonia), play an essential role in the distribution and diversity of seaweed. This study aimed to identify the abundance, ecological index, and relationship between the water column nutrients concentration and the biodiversity of Caulerpa from three different locations (Bintan Island, Jepara, and Osi Island). There were 12 points of observation at each site. The result showed a correlation between the nutrient levels and the abundance and diversity of Caulerpa in three locations. The nitrate, ammonia, and DIN:P ratio values were significantly different between areas. In contrast, there were insignificant differences in nitrite and phosphate concentrations between sites. The highest nitrate and phosphate concentrations were observed on Osi Island. The nitrite and ammonia values were identical for the condition on Bintan Island. The nitrate value was the main characteristic that distinguished the water nutrient at all sites. The Caulerpa species found in this research were Caulerpa racemosa, Caulerpa lentilifera, Caulerpa serrulata, Caulerpa sertularoides, and Caulerpa cupresoides. The nitrate and phosphate values influenced the growth factor of the green seaweed Caulerpa lentilifera. Caulerpa racemosa and Caulerpa serrulata, on the other hand, grew in response to ammonia levels. Caulerpa cupresoides diversity and abundance were impacted by the nitrite value. The results of the canonical correspondence analysis revealed that nitrate, phosphate, and ammonia were the most important factors influencing Caulerpa distribution in three locations