Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
697 research outputs found
Sort by
K, The BENTHIC HABITAT CLASSIFICATION OF ATOL KELEDUPA WAKATOBI NATIONAL PARK USING SUPPORT VECTOR MACHINE ALGORITHM
Kaledupa Atoll is one of the areas designated as a marine protection zone and local use zone in Wakatobi National Park. Spatial information on the benthic habitat of Kaledupa Atoll is very limited so that this information is expected to be a support in strategies and efforts to conserve marine biodiversity. This study aims to map the benthic habitat of Kaledupa Atoll using a pixel-based and object-based guided classification method/OBIA with a support vector machine (SVM) algorithm. The data used is the Sentinel-2 satellite image with a spatial resolution of 10 x10 m which was acquired on November 4, 2019. Observations of benthic habitats were carried out directly at the study site by placing quadrant transects and taking points on the dominant or homogeneous habitat area. The transect used is 100 x 100 cm2. Image classification uses thematic layer input from field data. The results of the classification of benthic habitats are grouped into six classes. Based on the OBIA method, benthic habitats can be mapped with an accuracy rate of 78.1%, while the pixel-based classification has an overall accuracy of 61.8%. Classification of benthic habitats with the SVM algorithm using the OBIA method provides better information than the pixel-based method. Atol Kaledupa merupakan salah satu kawasan yang dijadikan sebagai zona perlindungan bahari dan zona pemanfaatan lokal di Taman Nasional Wakatobi. Informasi spasial habitat bentik sangat terbatas sehingga penelitian ini diharapkan menjadi pendukung dalam strategi dan upaya pelestarian keanekaragaman hayati laut Atol Kaledupa. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan habitat bentik Atol Kaledupa dengan menggunakan metode klasifikasi terbimbing berbasis piksel dan objek/OBIA dengan algoritma support vector machine (SVM). Data yang digunakan adalah citra satelit Sentinel-2 dengan resolusi spasial 10 x10 m yang diakuisisi pada tanggal 4 Nopember 2019. Pengamatan habitat bentik dilakukan secara langsung di lokasi penelitian dengan meletakkan transek kuadran dan mengambil titik pada area habitat yang dominan atau homogen. Transek yang digunakan berukuran 100 x 100 cm2. Klasifikasi citra menggunakan input themathic layer dari data lapangan. Hasil klasifikasi habitat bentik dikelompokan menjadi 6 kelas. Habitat bentik dapat dipetakan menggunakan metode OBIA dengan tingkat akurasi sebesar 78,1% sedangkan klasifikasi berbasis piksel memiliki akurasi keseluruhan 61,8%. Klasifikasi habitat bentik dengan algoritma SVM menggunakan metode OBIA memberikan informasi yang lebih baik dibandingkan dengan metode berbasis piksel
CONCENTRATION OF HEAVY METALS IN GREEN MUSSELS (Perna viridis) OF LAMPUNG BAY AND THEIR SYMBIONE BACTERIAL RESISTANCE
Kerang hijau merupakan organisme laut yang terancam karena kontaminasi logam berat seperti timbal dan tembaga yang ada pada perairan Teluk Lampung. Selain mengancam organisme kerang, logam berat juga menjadi ancaman bagi organisme simbion. Bakteri yang terpapar logam berat secara terus menerus nantinya akan bisa beradaptasi (resistansi) dengan cemaran logam berat. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui kemampuan bioakumulasi kerang hijau asal Teluk Lampung dan menguji kemampuan resistensi bakteri simbion terhadap logam berat timbal (Pb) dan tembaga (Cu) serta melakukan identifikasi molekular untuk mengetahui jenis dari bakteri simbion yang terpilih. Penelitian ini dilakukan dengan menganalisis kandungan logam berat pada sampel air dan kerang hijau kemudian diisolasi bakteri simbionnya dan diseleksi menggunakan media Luria Bertani agar dengan menambahkan konsentrasi logam berat, kemudian diuji tingkat ketahanannya terhadap logam berat Pb dan Cu yang ditambahkan terus menerus dari konsentrasi 100 ppm sampai 1000 ppm hingga bakteri tidak dapat tumbuh lagi secara maksimal. Setelah itu, dilakukan identifikasi molekular untuk mengetahui jenis bakteri dan direkonstruksi untuk melihat kedekatan molekular. Hasil penelitian menunjukkan bahwa air dan kerang hijau telah melebihi baku mutu dan isolat bakteri resisten terhadap logam berat Pb pada kisaran 100-1000 ppm dan logam berat Cu pada kisaran 100-700 ppm. Identifikasi molekular terhadap sampel terpilih yaitu STL09 dan STL11 menunjukkan bahwa bakteri simbion merupakan jenis dari spesies bakteri Bacillus sp.Green mussels are marine organisms that are threatened due to heavy metal pollution such as lead and copper in marine waters. In addition, to threatening shell organisms heavy metals are also a threat to symbiont organisms. Bacteria exposed to heavy metals continuously will later be able to adapt (resistance) to heavy metal contamination. This study aims to determine the concentration of heavy metals lead (Pb) and copper (Cu) in green mussels from Lampung Bay and to test the resistance of symbiotic bacteria to Pb and Cu as well as to conduct molecular identification to determine the type of selected symbiotic bacteria. This research was conducted by analyzing the content of heavy metals in water samples and green mussels then isolated the symbiotic bacteria and selected using Luria Bertani agar by adding heavy metal concentrations, then tested the level of resistance to Pb and Cu which were added continuously from concentrations of 100 ppm to 1000 ppm to bacteria can no longer grow optimally. After that, molecular identification was carried out to determine the type of bacteria and reconstructed to see the molecular proximity. The results showed that the water and green mussels had exceeded the quality standard and were classified as polluted. Bacterial isolates were resistant to Pb in the range of 100-1000 ppm and Cu in the range of 100-700 ppm. Molecular identification of the selected samples, namely STL09 and STL11, showed that the symbiont bacteria were a type of bacterial species Bacillus sp
Analisis Lingkungan Pengendapan dan Sistem Petroleum berdasarkan Integrasi Data Seismik dan Sumur di Pesisir Cekungan Sumatra Tengah: Analysis of Depositional Environment and Petroleum System based on Integration of Seismic and Well Data in the Coastal of Central Sumatra Basin
Cekungan Sumatra Tengah merupakan salah satu cekungan penghasil hidrokarbon di Indonesia, karena keterbatasan ekplorasi dan studi, perkembangan cekungan tersebut mengalami hambatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengidentifikasi lingkungan pengendapan dan sistem petroleum melalui studi stratigrafi seismik dan sumur. Penelitian ini menggunakan metode seismik dengan software Hampson Russell dan Petrel. Data log membantu pengolahan data seismik dengan software Interactive Petrophysic (IP) dan Techlog untuk pengolahan data sumur. Zona penelitian ini memiliki lima sekuen pengendapan yang sebagian besar terbentuk di lingkungan pengendapan alur bercabang dan estuari. Terdapat dua batuan induk potensial, yakni pada Formasi Pematang dan lapisan serpih pada TST-1 atas. Hasil analisis sekuen stratigrafi pada penampang seismik, sistem petroleum teridentifikasi pada Sumur Merak, Melibur, dan Garib di pesisir Cekungan Sumatra Tengah. Reservoar hidrokarbon terdapat di Formasi Bekasap, Bangko, Menggala, dan sebagian Formasi Pematang; batuan induk terdapat di sebagian Formasi Menggala dan Pematang. Penentuan lapisan reservoar dan batuan induk diperkuat oleh hasil analisis sumur yang terletak pada lintasan seismik. Patahan berguna sebagai jalur migrasi fluida hidrokarbon dari batuan induk hingga reservoar, sehingga terbentuk sistem petroleum pada daerah tersebut. Lapisan ini memiliki batuan induk yang belum matang dan matang. Karenanya dapat disimpulkan bahwa lingkungan pengendapan dan sistem petroleum pada sumur-sumur di daerah tersebut dapat diketahui.As one of the hydrocarbon-producing basins in Indonesia, the Central Sumatra Basin’s development had been hampered due to limited exploration and studies. This study aimed to identify depositional environments and petroleum systems through stratigraphic seismic and well studies. This study used a seismic method with Hampson Russell and Petrel software. Log data helped process seismic data with Interactive Petrophysic (IP) software and Techlog for well data processing. This research zone had five depositional sequences, most of which were formed in the depositional environment of branching channels and estuaries. There were two potential source rocks, namely in the Pematang Formation and shale layers in the upper TST-1. Based on stratigraphic sequence analysis on seismic sections, petroleum systems were identified in the Merak, Melibur, and Garib wells on the coast of the Central Sumatra Basin. Hydrocarbon reservoirs were found in the Bekasi, Bangko, and Menggala Formations and parts of the Pematang Formation; source rock was found in parts of the Menggala and Pematang Formations. The determination of reservoir layers and source rock was strengthened by the results of the analysis of wells located on seismic trajectories. Faults were useful as migration pathways for hydrocarbon fluids from source rock to reservoirs so that a petroleum system was formed in the area. This layer had immature and mature parent rocks. It was concluded that the depositional environment and the petroleum system in the wells in the area could be identified
Pemetaan Topografi Dasar Laut dan Jenis Sedimen di Perairan Banyuasin Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan: Mapping Topography of the Seabed and Types of Sediment in Banyuasin Waters, Banyuasin Regency, South Sumatera
Perairan Banyuasin terdiri dari beberapa wilayah seperti daerah pelayaran dan daerah konservasi. Topografi dasar laut di perairan ini dapat berubah akibat adanya pendangkalan oleh karena proses sedimentasi. Penelitian ini bertujuan untuk memetakan topografi dasar laut dan jenis sedimen di perairan Banyuasin. Penelitian ini dilaksanakan dari bulan Oktober 2020 sampai Februari 2021 di perairan Banyuasin, Kabupaten Banyuasin, Sumatera Selatan. Salah satu metode yang digunakan untuk mendeteksi objek bawah laut yaitu metode hidroakustik yang memanfaatkan gelombang suara dengan menggunakan alat single beam echosounder Simrad EK-15. Hasil penelitian menunjukkan kedalaman terendah (0,6 meter) terletak di perairan Tanjung Carat, sedangkan kedalaman tertinggi terletak di daerah yang mendekati perbatasan laut teritorial Banyuasin (33 meter). Rata-rata kedalaman perairan Banyuasin adalah 9 meter. Selain itu juga diperoleh tiga jenis sedimen yaitu lempung, lempung berpasir, dan pasir berlempung. Jenis sedimen yang mendominasi adalah lempung. Pengukuran pasang surut untuk nilai ketinggian muka air laut rata-rata (MSL) adalah 1,3 meter dan nilai jarak muka surutan (Z0) adalah 1,16 meter. Penelitian ini memberikan informasi terbaru dari sebaran jenis sedimen dan batimeteri untuk aktivitas pelayaran dan wilayah konservasi di daerah penelitian.Banyuasin waters consist of several areas such as shipping areas and conservation areas. The topography of the seabed in these waters can change due to silting due to sedimentation processes. This study aims to map the topography of the seabed and types of sediment in Banyuasin waters. This research was carried out from October 2020 to February 2021 in Banyuasin waters, Banyuasin Regency, South Sumatra. One of the methods used to detect underwater objects is the hydroacoustic method which utilizes sound waves using a single beam echosounder Simrad EK-15. The research results show that the lowest depth (0.6 meters) is located in the waters of Tanjung Carat, while the highest depth is located in the area approaching the Banyuasin territorial sea border (33 meters). The average depth of Banyuasin waters is 9 meters. Apart from that, three types of sediment were also obtained, namely clay, sandy clay and clayey sand. The dominant type of sediment is clay. Tidal measurements for the average sea level height (MSL) are 1.3 meters and the value of the tide front distance (Z0) is 1.16 meters. This study provides the latest information on the distribution of sediment types and bathymetry for shipping activities and conservation areas in the study area
Analisis Perubahan Garis Pantai dan Resiliensi Ekologis Pesisir Kabupaten Tangerang Provinsi Banten: Analysis of Coastline Changes and Ecological Resilience in Tangerang Coastal Area, Banten Province
Wilayah pesisir Kabupaten Tangerang mengalami perubahan secara terus-menerus yang disebabkan faktor alam maupun aktivitas manusia. Perubahan yang terus terjadi ini, dapat merubah tingkat resiliensi ekologi yang ada di pesisir. Tujuan dari penelitian ini adalah menilai tingkat resiliensi berdasarkan dinamika perubahan garis pantai dan kondisi ekologi, serta kaitannya dengan penggunaan dan penutupan lahan di pesisir Kabupaten Tangerang. Analisis data terdiri atas pengolahan citra satelit Landsat, analisis penggunaan/penutupan lahan (LULC), dan laju perubahan garis pantai menggunakan Digital Shoreline Analysis System (DSAS), pengolahan data oseanografi, dan penilaian resiliensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pesisir Kabupaten Tangerang memiliki tingkat resiliensi rendah dengan dinamika perubahan garis pantai lebih dominan erosi daripada akresi. Laju perubahan garis pantai berkorelasi positif dengan LULC. Erosi terjadi pada kawasan yang dominan lahan tambak dan sedikit mangrove, sedangkan akresi terjadi di daerah muara sungai dan kawasan industri.The coastal area of Tangerang Regency experiences continuous changes caused by natural factors and human activities. These ongoing changes can affect the level of resilience on the coast. This study aimed to assess the level of resilience based on the dynamics of coastline change and ecological conditions, as well as its relation to land use and land cover on the coast of Tangerang Regency. Data analysis consisted of processing Landsat satellite imagery, land use and land cover (LULC) analysis, and coastline change rate using Digital Shoreline Analysis System (DSAS), oceanographic data processing, and resilience assessment. The results showed that the coast of Tangerang Regency has a low level of resilience, with the dynamics of coastline change being more dominant in erosion than accretion. The rate of coastline change was positively correlated with LULC. Erosion occurred in areas where ponds were dominant, and few mangroves were present, while accretion occurred in estuaries and industrial areas
Population Dynamics of the Three-Spot Swimming Crab (Portunus sanguinolentus) in Pati Waters, Central Java
Saat ini Portunus sanguinolentus merupakan salah satu komoditas perikanan yang mengalami penurunan populasi akibat tekanan eksploitasi dan kerusakan habitat atau lingkungan. Hal ini berdampak pada perubahan struktur populasi dan strategi reproduksi P. sanguinolentus, dengan parameter yang dapat berubah antara lain ukuran gonad pertama yang mengecil, perubahan daerah dan musim pemijahan, serta perubahan keseimbangan rasio jenis kelamin. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dinamika populasi P. sanguinolentus di Kabupaten Pati Jawa Tengah dan bermanfaat bagi industri pengolahan untuk menghasilkan suatu produk baru. Data dan informasi diperoleh melalui observasi, wawancara, dan pencacahan yang dilakukan di setiap tempat pendaratan ikan. Pengumpulan data hasil tangkapan dilakukan di daerah penangkapan ikan kurang dari 12 mil dengan kedalaman maksimal 15 m selama 5 bulan. Perangkat lunak FISAT II digunakan untuk menganalisis parameter pertumbuhan, tingkat kematian, dan tingkat eksploitasi. Diperoleh data berat badan sebesar 7,72 kg dengan jumlah sampel sebanyak 107 ind yang terdiri dari 46 ekor betina dengan rata-rata lebar 106,24 mm dan 61 ekor jantan dengan lebar 103,95 mm, serta rata-rata berat seluruh sampel 74,26 g.Currently, Portunus sanguinolentus is one of the fishery commodities that has experienced a decline in population due to exploitation pressures and habitat or environmental damage. This has an impact on changes in the population structure and reproductive strategy of P. sanguinolentus, with parameters that can change, among others, the size of the first gonad becoming smaller, changes in spawning areas and seasons, and changes in the balance of the sex ratio. This study aims to determine the population dynamics of P. sanguinolentus in Pati Regency, Central Java, and whether it is useful for the processing industry to make a new product. Data and information were obtained through observation, interviews, and enumeration, which were carried out at each fish landing site. Collecting data from catches in fishing areas below 12 miles with a maximum depth of 15 m for 5 months. The FISAT II software was used to analyze the growth parameters, mortality rate, and exploitation rate. Obtained weight data of 7.72 kg with a total sample of 107 ind. Detailed data were obtained for 46 females with an average width of 106.24 mm and 61 males with a width of 103.95 mm, and the average weight of the entire sample was 74.26 g
Early Warning System (EWS) for Algal Blooms using Satellite Imagery in Jakarta Bay
Teluk Jakarta telah mengalami eutrofikasi, terutama disebabkan oleh masuknya nutrien dari sumber pertanian, industri, dan perkotaan. Kelimpahan nutrien ini telah menyebabkan terjadinya marak alga yang signifikan. Studi dengan menggunakan data satelit Terra dan Aqua MODIS dari tahun 2004 hingga 2007 telah memantau marak alga ini dengan mengukur tingkat klorofil-a. Selama periode ini, terjadi kematian massal ikan yang secara langsung terkait dengan peristiwa marak alga, seperti yang dibuktikan dengan tingginya konsentrasi klorofil-a dan marak alge yang menutupi lebih dari seperempat teluk. Menariknya, tidak semua marak alge yang intens mengakibatkan kematian ikan massal. Studi tersebut menunjukkan bahwa kematian ini terutama disebabkan oleh kekurangan oksigen setelah periode marak alge mencapai puncak, yang diperburuk oleh sirkulasi air yang lemah di teluk ini. Penggunaan citra satelit untuk memantau marak alga adalah alat yang praktis untuk menerapkan sistem peringatan dini (EWS) di Teluk Jakarta. Citra satelit telah terbukti efektif dalam memantau marak alga ini dan dapat membantu mengembangkan sistem peringatan dini di Teluk Jakarta meskipun terdapat keterbatasan seperti adanya penutupan awan.Jakarta Bay is experiencing eutrophication, primarily due to nutrient inflows from agriculture, industry, and urban sources. This abundance of nutrients has led to significant algae blooms. A study using Terra and Aqua MODIS satellite data from 2004 to 2007 monitored these blooms by measuring chlorophyll-a levels. During this period, large-scale fish kills were observed directly related to the algal blooms, as evidenced by high chlorophyll-a concentrations and blooms covering more than a quarter of the bay. Interestingly, not all intense blooms resulted in massive fish kills. The study suggests that this mortality is primarily due to oxygen depletion after peak bloom periods, compounded by poor water circulation in the bay. Using satellite imagery to monitor algal blooms is a practical tool for implementing an early warning system (EWS) in Jakarta Bay. Satellite imagery has proven effective in monitoring these blooms and could help develop an early warning system in Jakarta Bay despite limitations such as cloud cover
MERCURY (Hg) CONCENTRATION IN SEDIMENT WATERS OF CIREBON, WEST JAVA DURING EAST TRANSITIONAL MONSOON
Perairan Cirebon merupakan salah satu wilayah dengan aktivitas perikanan, industri, dan manusia yang padat, sehingga dapat menyebabkan pencemaran logam berat di perairan tersebut. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis kandungan Hg di sedimen dan hubungannya dengan karakteristik lingkungan di beberapa lokasi penelitian pada beberapa wilayah pesisir Cirebon: Bondet, Sukalila, dan Kejawanan. Sembilan titik penelitian dipilih pada setiap lokasi. Analisis in situ dilakukan untuk variabel suhu, salinitas, pH, dan DO. Selain itu, sampel sedimen permukaan diambil pada variasi kedalaman perairan antara 1-6 m. Fraksi butir, karbon organik, serta logam berat Hg dianalisis dari setiap sampel sedimen. Hasil yang diperoleh memperlihatkan bahwa suhu permukaan, salinitas, pH, dan DO Perairan Cirebon berkisar 31,09–32,30 oC; 26,4–30,10‰; 7,66–8,56; dan 4,50–6,87 mg/L. Sedimen Perairan Cirebon didominasi oleh lanau lempungan serta karbon organik sekitar 1%. Kandungan merkuri pada sedimen masih tergolong aman untuk kehidupan akuatik dengan konsentrasi 29,36–68,55 µg/kg–bk. Analisis komponen utama menunjukkan bahwa ketiga lokasi penelitian memiliki karakteristik perairan berbeda dan selanjutnya memengaruhi pola akumulasi Hg di sedimen. Secara keseluruhan, walaupun terdapat akumulasi Hg di sedimen, namun kondisi masih tergolong aman untuk kehidupan biota. Akumulasi diduga dipengaruhi oleh sumber dari daratan dan kondisi lingkungan pengendapan seperti aliran air sungai dan arus pantai.Cirebon waters are one of the areas with dense fishing, industrial and human activities can cause heavy metal pollution in these waters. This study aims to analyze the Hg content in sediments and their relationship with environmental characteristics in three research sites on the Cirebon coast: i.e., Bondet, Sukalila, and Kejawanan. Nine research points were selected at each location. In situ analysis was carried out for temperature, salinity, pH, and DO variables. In addition, surface sediment samples were taken at variations in water depth between 1–6 m. Grain fraction, organic carbon, and heavy metal Hg were analyzed from each of the sediment samples. The results showed that the surface temperature, salinity, pH, and DO of Cirebon waters ranged from 31.09–32.30 oC; 26.4–30.10‰; 7.66–8.56; and 4.50–6.87 mg/L. Cirebon waters are dominated by silt and clay about 1% organic carbon. Mercury in sediments is still considered safe for aquatic life with a concentration of 29.36–68.55 µg/kg-dw. Principal Component Analysis shows that the three study sites have different water characteristics and hence, influence the Hg deposition. Overall, although Hg accumulation occurs, it is ecologically safe for biota life. Sedimentary accumulation of Hg was probably due to the terrestrial input and the condition of environmental deposition such as riverine flow and coastal current
APLIKASI MODEL EVALUASI MULTIKRITERIA MENGGUNAKAN FUZZY AHP UNTUK PENENTUAN LOKASI BUDIDAYA IKAN KERAPU DI KEPULAUAN SERIBU
Perkembangan budidaya ikan kerapu di Kepulauan Seribu berkembang pesat namun terdapat sejumlah kendala seperti terbatasnya lokasi yang sesuai, dampak negatif terhadap lingkungan, dan konflik penggunaan lahan. Kurangnya informasi terkait karakteristik perairan yang sesuai untuk budidaya akan menyebabkan pemanfaatan lokasi yang kurang tepat. Mencegah masalah tersebut penelitian ini bertujuan mengidentifikasi dan menentukan lokasi yang sesuai untuk budidaya ikan Kerapu di Kepulauan Seribu dengan menggunakan metode model evaluasi multikriteria Fuzzy AHP berbasis sistem informasi geografis. Hasil pembobotan parameter menunjukkan jarak ketempat penduduk (40,54%), jarak ke pasar (17%), jarak ke jalan (10,65%), arus perairan (27,06%), dan kedalaman perairan (4,75%) dengan konsistensi rasio sebesar 0,0228. Perairan Pulau Tidung, Pulau Panggang, Pulau Pramuka, Pulau Karya, Pulau Kelapa, Pulau Kelapadua, Pulau Kaliage, dan Pulau Pari merupakan perairan yang ideal bagi kegiatan budidaya ikan kerapu karena memiliki kondisi perairan dan faktor sosial infrastruktur yang sesuai. Pemanfaatan model evaluasi multikriteria dengan Fuzzy AHP berbasis sistem informasi geografis memberikan hasil analisis yang relevan dalam pemberian skor pembobotan dan dalam penentuan kriteria yang paling dominan berdasarkan tingkat kepentingan setiap parameter terhadap parameter lainnya dalam memengaruhi kelas kesesuaian budidaya.The development of grouper\u27s cultivation in Kepulauan Seribu is growing rapidly but there were numerous problems with its cultivation such as limited suitable locations, negative environmental impacts, and land-use conflicts. Lack of information regarding the characteristics of water that suitable for aquaculture will lead to improper use of the location. To prevent this problem, this study aimed to identify and determine suitable locations for grouper\u27s cultivation in Kepulauan Seribu by using the Fuzzy AHP multi-criteria evaluation model based on geographic information systems. The weighting parameter results showed that the distance to the resident is 37.28%, the water current is 26%, the distance to the market is 17.21%, the distance to the road is 11.33%, the distance to the pier is 5.34%, and water depth is 2.84% with a consistency ratio of 0.0337. The waters of Tidung island, Panggang island, Pramuka island, Karya island, Kelapa island, Kelapadua island, Kaliage island, and Pari island are ideal waters for grouper aquaculture activities because they have suitable water conditions and social infrastructure factors. The use of a multi-criteria evaluation model with Fuzzy AHP based on geographic information systems provided relevant analytical results in assigning a weighted score and determining the most dominant criteria that build around the importance of each parameter to other parameters in influencing the cultivation suitability class
THE EFFECTS OF DIFFERENT SMOKING TEMPERATURE AND TIME ON THE CONTENT OF WATER, FAT AND SALT OF SMOKE TILAPIA (Oreochromis niloticus)
Smoking fish is a method of processing to extend the shelf life of the product. To overcome the decline in the quality of tilapia is through a cold smoking process. Cold smoking has a longer shelf life than fish smoked with hot smoking. This study aims to determine the effect of temperature and smoking time on the quality of smoked tilapia using the cold smoking method. The interaction of temperature treatment and smoking time in the smoking process affects the characteristics of the water, fat, and salt content of smoked tilapia. Smoked tilapia produced by a combination of temperature treatment and smoking time has a moisture content of 12.73-20.46%; fat with an average of 16.48-27.17%; and salt by 3.30-4.68%. Temperature treatment of 50-55oC for 48 hours gave a lower moisture content value of 12.73%. The results of this study indicate that differences in temperature and smoking duration affect the moisture, fat, and salt content of smoked tilapia.Pengasapan ikan merupakan salah satu metode pengolahan guna memperpanjang masa simpan produk. Salah satu cara pengolahan untuk mengatasi terjadinya penurunan mutu ikan nila yaitu melalui proses pengasapan dingin. Pengasapan dingin memiliki daya tahan yang lebih lama dibandingkan ikan yang diasapi dengan pengasapan panas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh suhu dan lama pengasapan terhadap kualitas ikan nila asap dengan menggunakan metode pengasapan dingin. Interaksi perlakuan suhu dan lama pengasapan pada proses pengasapan memengaruhi karakteristik kadar air, lemak, dan garam ikan nila asap. Ikan nila asap yang dihasilkan dengan kombinasi perlakuan suhu dan lama pengasapan memiliki kadar air sebesar 12,73-20,46%; lemak dengan rata-rata antara 16,48-27,17%; dan garam sebesar 3,30-4,68%. Perlakuan suhu 50-55oC selama 48 jam memberikan nilai kadar air yang lebih rendah sebesar 12,73%. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa perbedaan suhu dan lama pengasapan berpengaruh terhadap kadar air, lemak, dan garam ikan nila asap