Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Not a member yet
    697 research outputs found

    Analisis Longshore Current dan Longshore Sediment Transport pada Pantai Aeng, Galesong Utara, Kabupaten Takalar: Analysis of Longshore Current and Longshore Sediment Transport at Aeng Beach, North Galesong, Takalar Regency

    Full text link
    Pantai Aeng merupakan bagian dari wilayah pesisir Kabupaten Takalar yang berbatasan langsung dengan Kota Makassar dan memiliki potensi kegiatan industri, perikanan, rumput laut, dan pariwisata. Namun permasalahan abrasi di sepanjang pesisir Kabupaten Takalar akibat arus menyusur pantai terjadi hampir di semua wilayah pesisir. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis arah dan kecepatan arus menyusur pantai serta pengaruhnya terhadap angkutan sedimen menyusur pantai. Analisis data gelombang menggunakan metode peramalan gelombang berdasarkan data angin selama 10 tahun yang diperoleh dari BMKG Wilayah IV Kota Makassar. Kecepatan arus dan angkutan sedimen menyusur pantai dihitung menggunakan persamaan empiris. Hasil analisis menunjukkan bahwa tinggi gelombang pecah (Hb) berkisar antara 1,64 m - 2,00 m dengan kedalaman gelombang pecah (db) berkisar antara 2,1 m - 2,5 m. Kecepatan arus menyusur pantai berkisar antara 4,13 – 4,55 m/det, dengan arah arus dari barat menuju ke timur menyusuri pantai. Analisis distribusi sedimen di daerah Pantai Aeng menunjukkan bahwa sedimen didominasi oleh pasir halus hingga pasir kasar, dengan angkutan sedimen menyusur pantai berkisar antara 13.159,93 – 19.674,25 m3/hari atau 4.803.373 – 7.181.101 m3/tahun dari arah barat ke arah timur, sesuai dengan arah gelombang datang dominan. Hasil penelitian dapat digunakan sebagai data referensi untuk menentukan penanganan abrasi di pesisir Pantai Desa Aeng. Penanganan struktural yang dapat dilakukan antara lain pembangunan struktur groin permeable yang dapat mengendalikan besarnya angkutan sedimen menyusur pantai dan tetap menjaga kestabilan garis pantai. Located in the coastal region of Takalar Regency, Aeng Beach has possibilities for tourism, industrial, fishing, and seaweed industries. It shares a straight border with Makassar City. But practically all coastal regions have the issue of abrasion along the Takalar Regency\u27s shore as a result of coastal currents. Investigating the direction and speed of longshore currents and their impact on the movement of silt down the shore is the goal of this study. Based on ten years of wind data from BMKG Region IV Makassar City, wave data analysis employs a wave forecasting technique. Empirical equations are used to calculate longshore current speed and longshore sediment transport. Based on the analysis, it can be observed that the breaking wave depth (db) varies between 2.1 and 2.5 meters, while the breaking wave height (Hb) ranges from 1.64 to 2.00 meters. The longshore current direction of the coast is east to west, and the speed ranges from 4.13 to 4.55 m/sec. According to the direction of the dominant incoming waves, the longshore sediment transport ranges from 13,159.93 – 19,674.25 m3/day or 4,803,373 – 7,181,101 m3/year from west to east. This indicates that fine sand to coarse sand dominates the sediment in the Aeng Beach area. Aeng Village Beach\u27s abrasion management can be determined using the research findings as reference data. One of the structural treatments that can be implemented is the construction of permeable groin structures, which can regulate the quantity of sediment carried down the shore and preserve the stability of the coastline

    PERFORMANCE OF TUNA FISH EGGS (Thunnus albacares) IN POST TRANSPORTATION ON THE CLOSE SYSTEM

    Full text link
    Pasca transportasi telur ikan tuna pada umumnya menghasilkan tingkat penetasan dan kualitas larva yang belum optimal, oleh karena itu dilakukan penelitian untuk meningkatkan kualitas larva pada pemeliharaan selanjutnya. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui performa telur dan larva yang dihasilkan pada transportasi dengan sistem tertutup. Penelitian dilakukan di Balai Besar Riset Budidaya laut dan penyuluhan perikanan, Gondol-Bali. Perlakuan dalam kegiatan penelitian adalah kepadatan telur ikan tuna yaitu 25.000 butir/L (A), 50.000 butir/L dan 75.000 butir/L. Analisis data dilakukan dengan menggunakan analisis sidik ragam. Parameter yang diamati dalam penelitian ini adalah tingkat penetasan telur, kualitas prolarva dan parameter kulitas air (suhu, salinitas, DO, pH dan amoniak). Hasil penelitian menunjukkan bahwa tiap perlakuan kepadatan telur menunjukkan hasil yang tidak berbeda nyata (P>0,05). Perlakuan dengan kepadatan 75.000 butir/L menghasilkan persentase tingkat penetasan telur rata-rata tertinggi yaitu 69,33±3,78%, kemudian menyusul kepadatan 25.000 butir/L sebesar 68,33±3,33% dan 50.000 butir/L sebesar 63,33±3,56%. Penyerapan kuning telur terjadi pada hari ke 3 dan berakhir pada hari ke 5 dan 6. Pada hari ke 3 larva mulai membutuhkan makanan alami sebagai energi yang dibutuhkan untuk kelangsungan hidup embrio dan larva. Ketahanan pada larva yang baru menetas memiliki nilai sekitar 2,29 - 3,32, hal ini menunjukkan bahwa larva mampu tumbuh dan berkembang.Post-transportation of tuna eggs generally results in hatching rates and larval quality that are not optimal, therefore research is carried out to improve the quality of larvae in rearing. The purpose of this study was to determine the performance of eggs and larvae produced in closed transportation systems. The research was conducted at the Center for Marine Cultivation Research and Fisheries Extension, Gondol-Bali. The treatments in the research activity were the density of tuna eggs, namely 25,000 eggs/L (A), 50,000 eggs/L and 75,000 eggs/L. Data analysis was performed using analysis of variance. Parameters observed in this study were egg hatching rate, prolarvae quality and water quality parameters (Temperature, Salinity, DO, pH and Ammonia). The results showed that each treatment of egg density showed results that were not significantly different (P>0.05). The degree of hatching of tuna eggs after transportation from each treatment showed results that were not significantly different (P>0.05). Treatment with a density of 75,000 eggs/L resulted in the highest average percentage hatching rate of 69.33±3.78%, followed by a density of 25,000 eggs/L of 68.33±3.33% and 50,000 eggs/L of 63.33±3.56%. The development of egg yolk absorption begins on 3rd day and ends on the 5th and 6th day. On day 3rd the larvae begin to need natural food as the energy needed for the survival of the embryo and larvae with a survival activity index of newly hatched larvae of arround 2.29-3.32

    Front Matter

    No full text
    Front Matte

    Kajian Sumberdaya Kima dan Ekosistem Terumbu Karang untuk Pengelolaan Ekowisata Bahari di Perairan Morella, Maluku Tengah: Study of Giant Clams Resources and Coral Reef Ecosytem for Marine Ecoturism Management

    Full text link
    ABSTRACT Giant clams that protected by CITES Appendix II is important marine organism as a stock in and also has potential as a marine tourism. This study aims to analyze the potential of clams which are part of the coral reef ecosystem as an alternative ecotourism management of diving and snorkeling in Morella and analyzing appropriate management strategies for the development of tourism areas in Morella. The method used for the analysis of clams is 1) the density of clams Di = ni / A; 2) diversity index H \u27= - (∑ni (ln (ni / N)); 3) dominance index D = ∑ [Ni / N] 2, and Analysis Hierarchy Process (AHP) method. There are five types of clams such as Tridacna maxima, T. squamosa, T. gigas, T. crocea and Hippopus hippopus. The widest distribuiton was T. maxima, which was found at each research areas and the lowest was H. Hippopus. The population of clams was found at Lettang Beach with the most species being T. squamosa. The highest percentage of coral reef cover was found at Lubang Buaya Beach at 81.10% and the lowest at station I at 55.53%. The highest number of species of reef fish is found at Lettang Beach, which is 197 types. The management strategy that needs to be prioritized is integrated management, which takes into account all aspects of ecological, economic, social and institutional aspects.   &nbsp

    Back Matter

    No full text
    Back Matte

    Potensi dan Manfaat Ekosistem Mangrove untuk Pengembangan Mata Pencaharian Alternatif Desa Karangsong: Mangrove Ecosystem Potency and Benefits for Alternative Livelihoods Development in Karangsong Village

    Full text link
    Pengembangan Mata Pencaharian Alternatif yang berkelanjutan diperlukan untuk melestarikan ekosistem mangrove. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menentukan jenis mata pencaharian alternatif yang layak untuk dikembangkan. Metode pengumpulan data dilakukan dengan studi pustaka, observasi dan survei serta Participatory Rural Appraisal (PRA). Analisis data menggunakan metode Total Economic Valuation (TEV), analisis tingkat kesejahteraan, analisis kelayakan usaha, analisis SWOT, analisis pola hubungan pemangku kepentingan dan analisis skala penilaian. Hasil penelitian merekomendasikan delapan MPA yang layak untuk dikembangkan di wilayah pesisir Desa Karangsong. Mereka adalah sirup bakau, penyok bakau, kecap, kopi, wedang pantai, dodol, cokelat, dan minuman segar. Kedelapan MPA tersebut menunjukkan adanya kesamaan dalam hal penyediaan bahan baku dan ketersediaan tenaga kerja berdasarkan analisis Rating Scale. Nilai ekonomi total (TEV) menunjukkan bahwa manfaat langsung memiliki nilai ekonomi terbesar dibandingkan dengan manfaat tidak langsung. Hal ini dapat diartikan bahwa manfaat ekonomi dari ekosistem mangrove akan semakin besar jika ekosistem tersebut dapat dipelihara dengan baik, sehingga memberikan manfaat yang berkelanjutan. Hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa peningkatan kesejahteraan penduduk Desa Karangsong tidak dapat mengandalkan mata pencaharian mereka saat ini, tetapi perlu mengembangkan delapan MPA secara berkelanjutan untuk meningkatkan kesejahteraan setiap rumah tangga masyarakat pesisir.The sustainable development of alternative livelihoods is needed to preserve the mangrove ecosystem. Therefore, this study aims to determine the types of feasible alternative livelihoods to be developed. The method of data collection was carried out by literature studies, observations and surveys as well as participatory rural appraisal (PRA). The data were analyzed using the total economic valuation (TEV) method, welfare level analysis, business feasibility analysis, SWOT analysis, stakeholder relationship pattern analysis and rating scale analysis. The results recommend eight feasible MPAs to be developed in the coastal area of ​​Karangsong Village. They are mangrove syrup, mangrove dent, soy sauce, coffee, coastal wedang, lunkhead, chocolate, and fresh drinks. The eight MPAs shows that there are similarities in terms of providing raw materials and the availability of labor based on Rating Scale analysis. The total economic value (TEV) shows that direct benefits have the greatest economic value compared to indirect benefits. This can be interpreted that the economic benefits of the mangrove ecosystem will be greater if the ecosystem can be maintained properly, thus providing sustainable benefits. Based on the results of the study, it can be concluded that improving the welfare of the residents of Karangsong Village cannot rely on their current livelihood, but it is necessary to develop eight MPAs in a sustainable manner to improve the welfare of every coastal community household

    Nutritional Value and Heavy Metal Content of Crab Meat and its Byproduct White Mud Crab Scylla paramamosain

    Full text link
    Kepiting bakau merupakan komoditas perikanan yang memiliki nilai ekonomi tinggi dan kaya akan aspek gizi seperti asam amino esensial, vitamin, mineral, dan asam lemak. Tingginya konsentrasi logam berat di habitat alami kepiting bakau dapat terakumulasi dan membahayakan kesehatan apabila dikonsumsi.  Namun demikian, informasi mengenai kandungan nutrisi dan logam berat dari daging dan produk sampingan pada kepiting bakau masih terbatas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk membandingkan komponen bermanfaat dari daging dan produk sampingan Scylla paramamosain serta untuk menyelidiki keamanan pangan dari kontaminasi logam berat. Analisis kadar proksimat, Vitamin A, D, dan E menggunakan HPLC, kadar vitamin B1, B2, C, dan profil asam amino ditentukan dengan menggunakan UPLC, vitamin B12 ditentukan dengan menggunakan LC-MS, mineral dan logam berat ditentukan dengan metode standar AOAC. Selain itu, asam lemak dianalisis dengan kromatografi gas. Hasil penelitian menunjukkan bahwa protein per gram sebagai mayoritas kandungan masing-masing bentuk (10,24% dalam daging kepiting dan 12,47% dalam produk sampingan). Vitamin yang terdeteksi dari sampel adalah vitamin B2, B12, E. Sebaliknya, logam berat yang di analisis dalam penelitian ini tidak terdeteksi. Asam L-Glutamat adalah komposisi asam amino yang paling melimpah (11037,79 mg/kg daging kepiting dan 15993,22 mg/kg produk sampingan). Selain itu, asam lemak omega-3, asam lemak omega-6, dan omega- 9 asam lemak juga terkandung dalam spesies ini. Hal ini menunjukkan bahwa Scylla paramamosain merupakan sumber pangan yang bermanfaat dan aman untuk dikonsumsi.Mud crab is fishery commodity that has high economic value and rich of nutritional aspect such as essential amino acids, vitamins, minerals, and fatty acids. In addition, high concentrations of heavy metals in the natural habitat of crabs can accumulate in these organisms which can endanger health if consumed. However, there is little information regarding the nutritional and heavy metal content of meat and byproducts in mud crab. The objective of the study are to compare the beneficial component of the meat and byproduct of Scylla paramamosain and to investigate food safety from heavy metal contamination. Proximate, vitamin A, D, and E content were analyzed using HPLC, vitamin B1, B2, C, and amino acid profile was determined by using UPLC, vitamin B12 was determined by LC-MS, mineral and heavy metal were determined by standard method of AOAC. In addition, the determination of fatty acid was analyzed by gas chromatography. Result showed that protein per gram as the majority content of each form (10.24% in crab meat and 12.47% in byproduct). Vitamin B2, B12, and E were detected in sample. On contrary, heavy metals examined in this study were not detected. L-Glutamic acid was the most abundant of amino acids composition (11037.79 mg/kg of crab meat and 15993.22 mg/kg of byproduct), while omega-3 fatty acids, omega-6 fatty acids, and omega-9 fatty acids are also contained in this species. The result showed Scylla paramamosain as source of beneficial food and safe to consume

    Back Matter

    No full text
    Back Matte

    Fluktuasi Angin dan Curah Hujan Periode 2012-2020 dan Dampaknya terhadap Produksi Ikan di Pelabuhan Paotere Makassar: The Fluctuation of Wind and Rainfall Within the Period of 2012-2020 and its Impact on Fish Production in Paotere Fishing Port of Makassar

    Full text link
    Curah hujan yang sangat bervariasi membentuk pola musiman di berbagai wilayah di Indonesia. Angin dan curah hujan merupakan faktor cuaca yang menentukan pengambilan keputusan dalam melakukan kegiatan penangkapan ikan di sekitar Pelabuhan Paotere sebagai pelabuhan terbesar di Kota Makassar. Kegiatan penangkapan memberi peluang bagi nelayan penuh maupun nelayan sambilan untuk mendapatkan hasil tangkapan dan keuntungan, namun juga dapat menyebabkan kerugian karena besarnya biaya operasional. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh angin dan curah hujan terhadap produksi nelayan yang berbasis di Pelabuhan PPI Paotere Makassar. Penelitian ini dilaksanakan dengan metode pengumpulan data sekunder terkait angin serta curah hujan dari Stasiun Meteorologi Maritim Kelas II Paotere. Selain itu, data produksi ikan dikumpulkan dari UPTD PPI Paotere dan Dinas Kelautan dan Perikanan Kota Makassar. Hasil penelitian menunjukkan adanya perbedaan yang signifikan dalam produksi ikan di PPI Paotere Makassar yang dipengaruhi oleh curah hujan dan angin.The highly variable rainfall forms seasonal patterns in various regions in Indonesia. Wind and rainfall are two weather factors that determine decision making in fishing and other activities around the port, one of which is Paotere Port as the largest port in Makassar City. Fishing activities provide opportunities for fishermen to get catches and profits for fishermen, but can also cause losses due to high operational costs. This study aims to reveal whether seasonal fluctuations in wind and rainfall affect fish production for fishermen based in Pangkalan Landing Fish (PPI) Paotere, Makassar. This research was carried out using secondary data collection methods related to wind and rainfall from the Paotere Class II Maritime Meteorological Station. Fish production data were collected from the UPTD PPI Paotere and the Makassar City Marine and Fisheries Office. The research results indicate a significant difference in fish production at PPI Paotere Makassar influenced by rainfall and wind

    Back Matter

    No full text
    Back Matte

    639

    full texts

    697

    metadata records
    Updated in last 30 days.
    Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
    Access Repository Dashboard
    Do you manage Open Research Online? Become a CORE Member to access insider analytics, issue reports and manage access to outputs from your repository in the CORE Repository Dashboard! 👇